• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Teoritis

2.2.3. Analisis Rasio Keuangan

2.2.3.1. Pengertian Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio Keuangan artinya bahwa dengan analisis rasio keuangan dapat digunakan sebagai alat untuk meramalkan keadaan keuangan serta hasil usaha di masa yang akan datang. Analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis, pihak pemerintah, dan para pemakai laporan keuangan lainnya dalam

menilai kondisi keuangan suatu perusahaan. Analisis rasio dimaksudkan untuk mengetahui hubungan diantara akun-akun dalam laporan keuangan, baik dalam neraca maupun dalam laporan laba rugi. Analisis rasio keuangan mengambarkan suatu hubungan dan perbandingan antara jumlah satu akun dengan jumlah akun yang lain dalam laporan keuangan (Sujarweni, 2017).

2.2.3.2. Manfaat Analisis Rasio Keuangan

Adapun manfaat menurut Irham Fahmi (2017:47) yang bisa diambil dengan dipergunakannya rasio keuangan, yaitu:

1. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat menilai kinerja keuangan dan prestasi perusahaan;

2. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan, dengan cara menganalisa kinerja keuangan manajemen dapat memprediksi serta memberikan perencanaan terukur melihat kinerja perusahaan tahun sebelumnya;

3. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan;

4. Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditur dapat digunakan untuk memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dikaitakan dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman;

5. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak

18

2.2.3.3. Bentuk-bentuk Analisis rasio Keuangan

Menurut J. Fred Weston dalam buku Kasmir (2017:106), bentuk-bentuk rasio keuangan adalah sebagai berikut :

1. Likuiditas

a. Pengertian Likuiditas

Menurut Irham Fahmi (2017) likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Likuiditas dapat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahan memenuhi kewajiban jangka pendeknya, jika mampu maka perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang baik dalam memenuhi kewajibannya. Oleh karena itu pos-pos yang di hitung adalah neraca pada bagian asset lancar dan hutang lancar. b. Tujuan dan Manfaat Rasio Likuiditas

Berikut adalah tujuan dan manfaat rasio likuiditas secara keseluruhan (Hery, 2015) :

1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban atau utang yang akan segara jatuh tempo.

2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan mengunakkan total aset lancar.

3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aset sangat lancar (tanpa memperhitungkan persedian barang dagang dan aset lancar lainnya). 4. Untuk mengukur tingkat ketersediaan uang kas perusahaan dalam

5. Sebagai alat perencanaan keuangan di masa mendatang terutama yang berkaitan dengan perencanaan kas dan utang jangka pendek.

6. Untuk melihat kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu dengan membandingkannya selama beberapa periode.

c. Jenis-Jenis Rasio Likuiditas

Berikut adalah jenis-jenis rasio likuiditas antara lain (Kasmir, 2017): 1. Rasio Lancar (Current Ratio)

Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan (Kasmir, 2017:134).

Sumber: Kasmir (2017:134)

2. Rasio Cepat (Quick Ratio)

Merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai sediaan (inventory), (Kasmir, 2017:136).

Sumber: Kasmir (2017:136)

=

20

3. Rasio Kas (Cash Ratio)

Merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang (Kasmir, 2017:138).

Sumber: Kasmir (2017:138)

4. Rasio Perputaran Kas

Merupakan kemampuan untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan.

Sumber: Kasmir (2017:141)

5. Inventory to Net Working Capital

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah persediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan.

Sumber: Kasmir (2017:142)

Likuiditas yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah rasio lancar atau

current ratio (CR). Menurut Hanafi (2012) Current Ratio adalah kemampuan

perusahaan dalam mengukur untuk memenuhi utang jangka pendeknya dengan =

=

=

menggunakan aktiva lancarnya (aktiva yang akan berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun atau satu siklus bisnis).

Rumus Rasio Lancar (Current Ratio) menurut Kasmir (2017) :

2. Solvabilitas

a. Pengertian Solvabilitas

Solvabilitas atau leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam kategori

extereme leverage (utang ekstrem) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat

utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut (Irham Fahmi,2017).

b. Tujuan Solvabilitas

Menurut Kasmir (2013:153) ada 8 tujuan perusahaan dengan menggunakan solvabillitas, yaitu:

1. Untuk mengetahui posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya (kreditor).

2. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).

3. Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap dengan modal.

22

4. Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang. 5. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap

pengelolaan aktiva.

6. Untuk menilai atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.

7. Untuk menilai berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih, terdapat sekian kalinya modal sendiri yang dimiliki.

c. Jenis-Jenis Solvabilitas

Berikut adalah jenis-jenis rasio solvabilitas antara lain: 1. Rasio Utang terhadap Aset (Debt to Asset Ratio)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aset (Hery, 2015:166).

Sumber: Herry (2015)

2. Rasio Utang terhadap Modal (Debt to Equity Ratio)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya proporsi utang terhadap modal (Hery, 2015:168).

Sumber: Hery (2015)

=

3. Rasio Utang Jangka Panjang terhadap Modal (Long Term Debt to Equity

Ratio)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengkur besarnya proporsi utang jangka panjang terhadap modal (Hery, 2015:170).

Sumber: Hery (2015)

4. Rasio Kelipatan Bunga yang Dihasilkan (Times Interest Earned)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana perusahaan dalam membayar bunga (Hery, 2015:171).

Sumber: Hery (2015)

5. Rasio Laba operasional terhadap kewajiban (Operating Income to

Liabilities Ratio)

Merupakan rasio yang menunjukan (sejauh mana atau berapa kali) kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh kewajiban (Hery, 2015:173).

Sumber: Hery (2015)

Menurut Agus Sartono (2010:217) Debt to Equity Ratio (DER) merupakan imbangan antara utang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit dengan utangnya.

ℎ =

ℎ =

24

Rumus Debt to Equity Ratio menurut Kasmir (2017) :

3. Profitabilitas

a. Pengertian Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukan efisiensi perusahaan (Kasmir, 2017:196). b. Tujuan Profitabilitas

Sama seperti halnya dengaan rasio-rasio lain yang sudah dibahas, rasio profitabilitas juga memberikan banyak manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Rasio profitabilitas juga tidak hanya berguna bagi perusahaan saja, melainkan juga bagi pihak luar perusahaan. Berikut adalah tujuan dan manfaat Profitabilitas secara keseluruhan (Hery, 2015) :

1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam periode tertentu.

2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.

3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.

4. Untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset.

5. Untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total ekuitas.

6. Untuk mengkur marjin laba kotor atas penjualan bersih.

7. Untuk mengukur marjin laba operasional atas penjualan bersih. 8. Untuk mengukur marjin laba bersih atas penjualan bersih. c. Jenis-jenis profitabilitas

Jenis-jenis rasio profitbilitas yang lazim digunakan dalam praktek untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba:

1. Hasil Pengembalian atas Aset (Return On Assets)

Merupakan rasio yang menunjukan seberapa besar kontribusi aset dalam menciptakan laba bersih (Hery, 2015:193).

Sumber: Hery (2015)

2. Hasil Pengembalian atas Ekuitas (Return On Equity)

Merupakan rasio yang menunjukan seberapa besar kontribusi ekuitas dalam menciptakan laba bersih (Hery, 2015:194).

Sumber: Hery (2015)

=

26

3. Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya presentasi laba kotor atas penjualan bersih (Hery, 2015:195).

Sumber: Hery (2015)

4. Marjin Laba Operasional (Operating Profit Margin)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya presentase laba operasional atas penjualan bersih (Hery, 2015:197).

Sumber: Hery (2015)

5. Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya laba bersih atas penjualan bersih (Hery, 2015:198).

Sumber: Hery (2015)

Dalam Penelitian ini salah satu alternatif indikator yang dipakai pada profitabilitas yaitu hasil pengembalian atas ekuitas (Return On Equity). Karena lebih mudah dipahami oleh peneliti dan cocok untuk peneltian terhadap nilai perusahaan. Return On Equity itu sendiri Merupakan rasio yang menunjukan seberapa besar kontribusi Ekuitas dalam menciptakan laba bersih (Hery, 2015).

= ℎ = ℎ ℎ = ℎ =

4. Nilai Perusahaan

a. Pengertian Nilai Perusahaan

Nilai Perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh investor apabila perusahaan tersebut dijual (Prasetyorini, 2013 dalam buku Hery, 2015:5). Sedangkan menurut Dewi dan Wirajaya (2013) dalam mengambil keputusan keuangan, manajer keuangan perlu menentukan tujuan yang harus dicapai. Keputusan keuangan yang tepat dapat memaksimumkan nilai perusahaan sehingga mampu meningkatkan kemakmuran pemilik perusahaan. Nilai perusahaan sendiri merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Nilai perusahaan ini seringkali dikaitkan dengan harga saham. Jika harga saham meningkat, maka nilai perusahaan itu juga akan meningkat.

b. Pengukuran Nilai Perusahaan

Menurut Weston dan Copelan (2004) dalam Kurniawan (2009) rasio penilaian perusahaan terdiri dari :

1. Price Earning Ratio (PER)

Menurut Tandelilin (2007) PER adalah perbandingan antara harga saham perusahaan dengan earning per share dalam saham. PER adalah fungsi dari perubahan kemampuan laba yang diharapkan di masa yang akan datang. Semakin besar PER, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

PER dapat dihitung dengan rumus (Tandelilin, 2007) :

PER = Harga perlembar saham Laba perlembar saham

28

2. Price to Book Value (PBV)

Menurut Prayitno dalam (Afzal, 2012) Price to Book Value (PBV) menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini, berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut. PBV juga menunjukkan seberapa jauh suatu perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan yang relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan.

Secara sistematis PBV dapat dihitung dengan rumus (Weston dan Brigham, 2001 dalam Sari, 2013)

3. Tobin’s Q

Tobin’s Q ini dikembangkan oleh professor James Tobin (Weston

dan Copeland, 2004 dalam Kurniawan, 2009). Rasio ini merupakan konsep yang sangat berharga karena menunjukkan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai hasil pengembalian dari setiap dolar investasi inkremental.

Tobin’s Q merupakan alat ukur kinerja dengan cara membandingkan

dua penilaian dari asset yang sama. Jika rasio Tobin’s Q bernilai di atas satu, maka menunjukkan bahwa investasi dalam aktiva telah menghasilkan laba yang memberikan nilai lebih tinggi daripada pengeluaran investasi. Hal ini memicu munculnya investasi yang baru, sehingga indikator Tobin’s Q adalah alat ukur yang akurat mengenai seberapa efektif pihak manajemen

PBV = Harga perlembar saham nilai buku saham

memanfaatkan sumber daya ekonomi dalam mengelola perusahaannya (Susilaningrum,Casimira:2016).

Menurut Zulfa (2012: 17) yang dikutip dari Susilaningrum,Casimira (2016) Tobin’s q dapat di hitung dengan formula seperti berikut :

Keterangan :

Q = Nilai Perusahaan

EMV = Nilai pasar ekuitas (EMV = closing price x jumlah saham beredar) EBV = Nilai buku total aset

D = Nilai buku total utang

Dalam Penelitian ini pengukuran nilai perusahaan yang dipakai adalah pengukuran Tobin’s Q. Karena pengukuran nilai perusahaan dengan menggunakan

Tobin’s Q tidak hanya memberikan gambaran pada aspek fundamental saja, tetapi

juga sejauh mana pasar menilai perusahaan dari berbagai aspek yang dilihat oleh pihak luar termasuk investor. Tobin’s Q mewakili sejumlah variabel yang penting dalam pengukuran kinerja, antara lain aktiva tercatat perusahaan, kecenderungan pasar yang memadai seperti pandangan-pandangan analis mengenai prospek perusahaan, dan variabel modal intelektual atau intangible asset.

Dokumen terkait