• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Laporan Keuangan

2.6.3 Analisis Rasio keuangan

Dari laporan keuangan yang terdiri dari laporan laba rugi dan neraca tersebut dapat disusun rasio keuangan sesuai dengan kepentingan investor. Menurut Samsul (2006:143) Analisis rasio adalah

Membandingkan antara unsur-unsur neraca, unsur-unsur laporan laba rugi, unsur-unsur neraca dan laporan laba rugi serta rasio keuangan emiten yang satu dan rasio keuangan emiten yang lain. Analisis rasio dan analisis trend selalu digunakan untuk mengetahui kesehatan keuangan dan kemajuan perusahaan setiap kali laporan keuangan diterbitkan.

Maksud dari pernyataan tersebut adalah dengan melakukan analisa terhadap rasio-rasio keuangan maka akan dapat memberikan pengetahuan mengenai bagaimana keadaan sebenarnya perusahaan yaitu mengetahui bagaimana tingkat kesehatan keuangan perusahaan, masalah-masalah yang sedang dihadapi dan penyebab-penyebabnya, serta hal-hal lain yang dapat dipengaruhi keadaan perusahaan tersebut. Dengan adanya pengetahuan tersebut maka akan dapat meningkatkan mutu maupun efektifitas manajemen dalam menjalankan perusahaan, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pengarahan, maupun pengendalian.

Menurut Djarwanto (2004:143), yang dimaksud dengan rasio dalam analisis laporan keuangan adalah “suatu angka yang menunjukkan hubungan

antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam laporan keuangan. Hubungan antara unsur-unsur laporan keuangan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana”.

Secara individual rasio itu kecil artinya, kecuali jika dibandingkan dengan suatu standar rasio yang layak dijadikan dasar pembanding. Bila tidak ada standar yang dipakai sebagai dasar pembandingan, dari penafsiran rasio-rasio suatu perusahaan, penganalisisan tidak dapat menyimpulkan apakah rasio-rasio itu menunjukkan kondisi yang menguntungkan atau tidak menguntungkan.

Dengan adanya pembandingan yang menggunakan standar rasio ini, maka akan dapat diketahui apakah rasio-rasio perusahaan yang bersangkutan terletak di atas standar rata-rata atau di bawah standar rata-rata. Standar rasio yang baik adalah standar rasio yang memberikan gambaran rata-rata mengenai keadaan perusahaan.

Namun perlu dipahami, oleh karena laporan keuangan suatu perusahaan merupakan kombinasi dari fakta yang telah dicatat, kesepakatan akuntansi, dan pertimbangan pribadi yang meyebabkan rasio itu bukan ukuran eksak, maka standar rasio jangan dianggap sebagai kondisi yang ideal. Penentuan standar rasio sebagai dasar pembanding tidak dapat digunakan sebagai ukuran yang pasti karena standar rasio untuk industri merupakan hasil rata-rata dari beberapa perusahaan yang sejenis yang mempunyai kondisi keuangan dan hasil usaha yang berbeda-beda. Ada yang

kondisi keuangannya baik, hasil usaha menguntungkan dan ada juga yang sebaliknya dimana kondisi keuangannya buruk, dan hasil usahanya rendah.

Pada dasarnya angka-angka rasio itu dapat dikelompokkan menjadi dua golongan. Golongan yang pertama adalah angka-angka rasio yang didasarkan pada sumber data keuangan di mana unsur-unsur angka rasio tersebut diperoleh. Sedangkan golongan kedua adalah angka-angka rasio yang disusun berdasarkan tujuan penganalisis dalam mengevaluasi suatu perusahaan.

Rasio-rasio keuangan yang lazim digunakan oleh masyarakat akuntansi pada umumnya terdiri dari enam rasio. Weston,dkk (1999:138) membuat kategori rasio berdasarkan pengalaman dan temuan di lapangan, yaitu:

a. Rasio likuiditas, bertujuan dalam mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

b. Rasio leverage, bertujuan dalam mengukur sejauh mana kebutuhan keuangan perusahaan dibelanjai dengan dana pinjaman. Misalnya rasio total utang dengan total aktiva (total debt to total assets ratio), kelipatan keuntungan terhadap beban bunga (time interest earned), kemampuan keuntungan dalam menutup beban tetap (fixed charge coverage), dan lain sebagainya.

c. Rasio aktivitas, berttujuan dalam mengukur efektivitas perusahaan dalam mengoperasikan dana. Misalnya inventory turnover, average collection period, total aset turnover, dan lain sebagainya.

d. Rasio profitabilitas, bertujuan dalam mengukur efektivitas manajemen yang tercermin pada imbalan hasil dari investasi melalui kegiatan penjualan. Misalnya profit margin on sales, return on total asset, return on net worth, dan lain sebagainya.

e. Rasio pertumbuhan, bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kedudukannya dalam pertumbuhan perekonomian dan dalam industri.

f. Rasio valuasi, bertujuan mengukur performance perusahaan secara keseluruhan, karena rasio ini merupakan pencerminan dari rasio risiko dan rasio imbalan.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis ratio keuangan sebagai alat untuk mengukur kinerja keuangan yang mempengaruhi harga saham. Rasio keuangan yang digunakan oleh penelti dalam penelitian ini terdiri dari tiga buah rasio yaitu :

a. Rasio Hutang terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio)

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan bagi hasil antara total kewajiban dengan kekayaan pemegang saham/pemilik modal.

Rasio utang terhadap ekuitas (DER) =

Total Hutang Total Ekuitas

Rasio hutang terhadap kekayaan menunjukkan sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang – hutang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini semakin baik. Rasio ini disebut juga rasio leverage.

Untuk keamanan pihak luar yang meminjamkan dana, rasio adalah baik jika jumlah modal lebih besr daripada jumlah hutang atau minimal sama. Namun bagi pemegang saham atau manajemen rasio leverage ini sebaiknya besar.

Debt to equity ratio merupakan rasio solvabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan modal sendiri perusahaan untuk dijadikan jaminan semua hutang perusahaan.

Perusahaan dengan debt to equity ratio rendah akan mempunyai resiko kerugian lebih kecil ketika keadaan ekonomi merosot, namun ketika kondisi ekonomi membaik, kesempatan memperoleh laba rendah. Sebaliknya perusahaan dengan rasio leverage tinggi, beresiko menanggung kerugian yang besar ketika keadaan ekonomi merosot, tetapi mempunyai kesempatan memperoleh laba besar saat ekonomi membaik.

Debt to equity ratio akan mempengaruhi kinerja perusahaan dan menyebabkan apresiasi dan depresiasi harga saham. Debt to equity ratio yang terlalu tinggi mempunyai dampak buruk terhadap kinerja perusahaan, karena tingkat hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga perusahaan akan semakin besar dan akan mengurangi keuntungan.

b. Price Earning Ratio (PER)

Price earning ratio merupakan rasio yang termasuk dalam market value ratios. Market value ratio merupakan ratio yang meningkatkan harga saham perusahaan dengan labanya dan dengan nilai buku perusahaan. Rasio ini memberi indikasi kepada manajemen mengenai apa pendapat investor tentang prestasi perusahaan di masa lalu dan prospeknya untuk masa mendatang. Price earning ratio menunjukkan seberapa banyak Rp/$ yang harus dibayar investor untuk setiap $1 laba periode berjalan.

Price Earning Ratio =

Market price per share Earning per share

Price earning ratio merupakan rasio pasar menghargai kinerja saham suatu perusahaan terhadap kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh earning per sharenya.

Price earning ratio ini merupakan salah satu segi memandang kinerja harga saham. Biasanya price earning ratio suatu saham dibandingkan dengan

price earning ratio industrinya untuk melihat kinerja saham tersebut terhadap kinerja saham rata-rata pada industri tersebut.

Kegunaan dari price earning ratio adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja saham suatu perusahaan terhadap kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh earning per sharenya.

Semakin tinggi price earning ratio menunjukkan prospektus harga saham dinilai semakin tinggi oleh investor terhadap pendapatan perlembar sahamnya, sehingga price earning ratio yang semakin tinggi juga menunjukkan semakin mahal saham tersebut terhadap pendapatannya. Jika harga saham semakin tinggi maka selisih harga saham periode sekarang dengan periode sebelumnya semakin besar, sehingga capital gain juga semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena capital gain dihitung dari selisih antara harga saham periode sekarang dengan harga saham periode sebelumnya.

c. Return on Equity (ROE)

Rasio Laba terhadap Modal (ROE) menghubungkan pendapatan bersih dengan jumlah investasi yang dilakukan pemegang saham. ROE

merupakan pengukuran bagaimana efisiensi pemegang saham mempertaruhkan penggunaan sahamnya didalam bisnis perusahaan.

ROE merupakan rasio yang populer dan penting diantara para investor dan manager senior. ROE sangat penting sebab merupakan ukuran atas efisiensi perusahaan yang menggunakan kapital dari para pemilik. ROE merupakan ukuran dari pendapatan per rupiah yang diinvestasikan sebagai modal/Ekuitas, atau sama dengan persentase pengembalian kepada para pemilik atas investasinya.

ROE mengukur pengembalian absolut yang akan diberikan perusahaan kepada para pemegang saham. Angka ROE yang tinggi akan membawa keberhasilan bagi perusahaan, yang selanjutnya meningkatkan harga saham dan membuat perusahaan dengan mudah memperoleh dana baru. Hal itu juga akan memungkinkan perusahaan untuk berkembang, menciptakan kondisi pasar yang sesuai, dan pada gilirannya akan memberikan laba yang lebih besar.

Berdasarkan uraian dan penjelasan tersebut, maka secara ringkas dapat disimpulkan bahwa rumus yang digunakan dalam menghitung nilai ROE suatu perusahaan adalah sebagai berikut:

Dokumen terkait