• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.7 Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Pemasaran

Efisiensi operasional juga dapat ditunjukkan dengan membandingkan antara besarnya keuntungan dengan biaya pemasaran suatu lembaga pemasar. Indikator dikatakan efisien jika meratanya penyebaran nilai rasio keuntungan dan

25% 45 % 22,5 % 26,11 % 23,5%

Fs I Fs IIa Fs IIb Fs III Fs IV

FS I FS II FS III FS IV FS V I Harga di tingkat petani Rp 4.500,00/kg Harga di tingkat petani Rp 5.000,00/kg Harga di tingkat petani Rp 4.500,00/kg Harga di tingkat petani Rp 4.700,00/kg Harga di tingkat petani Rp 4.700,00/kg Harga jual di tingkat pengecer Rp 20.000,00/kg Total Biaya Rp 3.569,25/kg Total Keuntungan Rp 11.430,80/kg Total Marjin Rp 15.000,00 Harga di tingkat PB di Pasar Induk Cikajang Rp 10.000,00/kg Total Biaya /kg Rp 1.380,45 Total Keuntungan Rp 4.119,55/kg Total Marjin Rp 5.500,00 Harga di tingkat pengecer Rp 18.000,00/kg Total Biaya Rp 3.128,60/kg Total Keuntungan Rp 10.171,40/kg Total Marjin Rp 13.300,00 Harga di tingkat pengecer Rp 20.000,00/kg Total Biaya Rp 4.335,60/kg Total Keuntungan Rp 11.164,40/kg Total Marjin Rp 15.500,00 Harga di tingkat pengecer Rp 20.000,00/kg Total Biaya Rp 4.270,2/kg5 Total Keuntungan Rp 11.029,80/kg Total Marjin Rp 15.300,00

85 biaya di setiap lembaga pemasaran. Rasio keuntungan dan biaya cabai rawit merah di Desa Cigedug dapat dilihat pada Tabel 17. Pada saluran pemasaran I diperoleh nilai rasio keuntungan dan biaya sebesar 3,20, berbeda dengan nilai rasio keuntungan dan biaya pada penelitian yang dilakukan oleh Muslikh (1999) sebesar. Biaya yang dikeluarkan lembaga pemasaran pada saluran I sebesar Rp 3.569,25 per kilogram. Biaya terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 2179,50 per kilogram dan biaya pemasaran terendah ditanggung oleh pedagang pengumpul desa yaitu sebesar Rp 619,10 per kilogram

Tabel 17. Rasio Keuntungan dan Biaya Untuk Setiap Saluran Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug.

Lembaga Pemasaran

Saluran Pemasaran

I II III IV V

Pedagang Pengumpul Desa

Ci (Rp/kg) 619,10 763,15 763,15 616,78 619,10

Πi (Rp/kg) 2880,90 1736,85 1736,85 2183,23 2880,90

Rasio Πi /Ci 4,65 2,28 2,28 3,54 3,54

PB di Pasar Induk Cikajang Kabupaten Garut

Ci (Rp/kg) - 617,30 622,30 - -

Πi (Rp/kg) - 2382,70 1377,70 - -

Rasio Πi /Ci - 3,86 2,21 - -

PB di Pasar Induk Caringin Bandung

Ci (Rp/kg) - - - 699,80 703,30

Πi (Rp/kg) - - - 1800,20 796,70

Rasio Πi /Ci - - - 2,57 1,13

PB di PIKJ Jakarta

Ci (Rp/kg) 770,65 - 770,65 - 770,65

Πi (Rp/kg) 1229,35 - 729,35 - 729,35

Rasio Πi /Ci 1,59 - 0,95 - 0,95

Pedagang Pengecer

Ci (Rp/kg) 2179,50 - 2179,50 1812,00 2179,50

Πi (Rp/kg) 7320,50 - 7320,50 6188,00 7.320,50

Rasio Πi /Ci 3,36 - 3,36 3,42 3,36

Total

Ci (Rp/kg) 3569,25 1380,45 4335,60 3128,58 4270,23

86

Rasio Πi /Ci 3,20 2,98 2,56 3,25 2,58

Sumber : Data Primer 2012 (diolah)

Pada saluran I, pedagang pengecer mengeluarkan biaya pemasaran yang cukup besar karena besarnya biaya penyusutan yang harus ditanggung, dimana dari 10 kilogram cabai rawit merah yang dibeli terdapat 1 kilogram cabai rawit merah yang busuk sehingga biaya penyusutan yang harus ditanggung sebesar Rp 1.050,00 per kilogram. Oleh karena itu, keuntungan yang diambil oleh pedagang pengecer juga besar yaitu Rp 7.320,50 per kilogram, sedangkan besarnya keuntungan yang diperoleh pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati adalah Rp 1.229,35 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 770,65 per kilogram. Hal ini dikarenakan pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati melakukan perlakuan biaya yang lebih banyak dan cukup besar dibandingkan pedagang pengumpul desa seperti biaya pengangkutan, pengemasan, tenaga kerja, retribusi, penyusutan, bongkar muat, dan biaya sewa lapak. Biaya penyusutan merupakan biaya pemasaran yang paling tinggi yang harus ditanggung oleh pedagang besar dan pedagang pengumpul desa.

Saluran pemasaran II memiliki nilai rasio keuntungan dan biaya sebesar 2,98. Total biaya yang dikeluarkan pada saluran II adalah sebesar Rp 1380,45 per kilogram yang hanya dilakukan oleh pedagang pengumpul desa dan pedagang besar di Pasar Induk Cikajang, diantara kedua lembaga pemasaran yang terlibat pada saluran II, pedagang pengumpul desa yang lebih banyak mengeluarkan biaya yaitu sebesar Rp 763,15 per kilogram. Hal ini dikarenakan pedagang pengumpul desa melakukan perlakuan biaya yang lebih banyak dibandingkan pedagang besar di Pasar Induk Cikajang seperti adanya biaya pengangkutan yang harus ditanggung oleh pihak pedagang pengumpul desa dimana tidak dilakukan oleh pihak pedagang besar di Pasar Induk Cikajang pada saluran ini. Sementara itu keuntungan terbesar didapat oleh pedagang besar di Pasar Induk Cikajang yaitu sebesar Rp 2.382,70 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 617,30 per kilogram. Sedangkan pedagang pengumpul desa mendapatkan keuntungan pemasaran sebesar Rp 1.736,85 per kilogram.

Adapun saluran III memiliki nilai rasio keuntungan dan biaya sebesar 2,56 dengan total biaya pemasaran adalah Rp 4.335,60 per kilogram yang dilakukan

87 oleh pedagang pengumpul desa, pedagang besar di Pasar Induk Cikajang, pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati, dan pedagang pengecer. Biaya pemasaran terbesar dikeluarkan oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 2.179,50 per kilogram. Besarnya biaya pemasaran pada tingkat pedagang pengecer ini disebabkan oleh tingginya biaya penyusutan yang harus ditanggung sebesar Rp 1.050,00 per kilogram. Keuntungan terbesar juga diperoleh oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 7.320,50 per kilogram, dimana keuntungan pemasaran yang diperoleh pedagang pengecer ini dipengaruhi oleh harga jual yang tinggi untuk menghindari penurunan permintaan cabai rawit merah dari konsumen akhir yang dapat menyebabkan biaya penyusutan yang lebih besar. Pedagang pengumpul desa mendapat keuntungan pemasaran sebesar Rp 1.736,85 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 763,15 per kilogram. Keuntungan pemasaran terendah pada saluran ini terdapat pada pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati yaitu sebesar Rp 729,35 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 770,65 per kilogram. Keuntungan yang diperoleh ini dipengaruhi oleh harga beli yang tinggi akibat cabai rawit merah dibeli dari pihak pedagang besar di Pasar Induk Cikajang.

Saluran pemasaran IV memiliki nilai rasio keuntungan dan biaya sebesar 3,25. Total biaya yang dikeluarkan pada saluran IV adalah sebesar Rp 3.128,58 per kilogram yang dilakukan oleh pedagang pengumpul desa, pedagang besar di Pasar Induk Caringin Bandung dan pedagang pengecer. Biaya pemasaran terbesar dikeluarkan oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 1.812,00 per kilogram. Besarnya biaya pemasaran pada tingkat pedagang pengecer ini disebabkan oleh tingginya biaya penyusutan. Selain itu pedagang pengecer juga harus mengeluarkan biaya pengangkutan, pengemasan, tenaga kerja, dan retribusi pasar. Keuntungan terbesar juga diperoleh oleh pedagang pengecer adalah sebesar Rp 6.188,00 per kilogram, yang mana keuntungan pemasaran yang diperoleh pedagang pengecer ini dipengaruhi oleh harga jual yang tinggi untuk menghindari penurunan permintaan cabai rawit merah dari konsumen akhir yang dapat menyebabkan biaya penyusutan yang lebih besar. Pedagang pengumpul desa mendapat keuntungan pemasaran sebesar Rp 2.183,23 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 616,78 per kilogram. Keuntungan

88 pemasaran terendah pada saluran ini terdapat pada pedagang besar Pasar Induk Caringin, yaitu sebesar Rp 110,00 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 1.800,20 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 699,80 per kilogram. Besarnya biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh pedagang besar di Pasar Induk Caringin ini disebabkan pedagang besar di Pasar Induk Caringin melakukan perlakuan biaya yang lebih banyak dan cukup besar dibandingkan pedagang pengumpul desa seperti biaya pengangkutan, pengemasan, tenaga kerja, retribusi, penyusutan, bongkar muat, dan biaya sewa lapak.

Adapun saluran pemasaran V, nilai rasio keuntungan dan biaya sebesar 2,58, total biaya pemasaran adalah Rp 4.270,23. Saluran V melibatkan pedagang pengumpul desa, pedagang besar di Pasar Induk Caringin, pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati, dan pedagang pengecer. Biaya pemasaran terbesar dikeluarkan oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 2.179,50 per kilogram. Besarnya biaya pemasaran pada tingkat pedagang pengecer ini disebabkan oleh tingginya biaya penyusutan yang harus ditanggung. Keuntungan terbesar juga diperoleh oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 7.320,50 per kilogram, dimana keuntungan pemasaran yang diperoleh pedagang pengecer ini dipengaruhi oleh harga jual yang tinggi untuk menghindari penurunan permintaan cabai rawit merah dari konsumen akhir yang dapat menyebabkan biaya penyusutan yang lebih besar. Pedagang pengumpul desa mendapat keuntungan pemasaran sebesar Rp 2.183,23 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 616,76 per kilogram. Keuntungan pemasaran terendah pada saluran ini terdapat pada pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati yaitu sebesar Rp 729,35 per kilogram dengan biaya pemasaran sebesar Rp 770,65 per kilogram. Keuntungan yang diperoleh ini dipengaruhi oleh harga beli yang tinggi akibat cabai rawit merah dibeli dari pihak pedagang besar di Pasar Induk Caringin.

Efisiensi merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam suatu aktivitas pemasaran. Suatu saluran dikatakan efisien apabila penyebaran nilai rasio keuntungan terhadap biaya pada masing-masing lembaga pemasaran merata. Artinya setiap satu satuan rupiah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran

89 akan memberikan keuntungan yang tidak jauh beda dengan lembaga pemasaran lainnya yang terdapat pada saluran tersebut.

Nilai total rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran cabai rawit merah terbesar terdapat pada saluran IV yaitu sebesar 3,25. Artinya untuk setiap 1 satuan rupiah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran akan menghasilkan keuntungan sebesar 3,25 rupiah. Rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran terbesar ditingkat lembaga pemasaran terjadi pada tingkat pedagang pengumpul desa pada saluran I sebesar 4,65. Hal ini dikarenakan harga jual cabai rawit merah pada saluran I lebih tinggi dibanding saluran lainnya. Adapun rasio terkecil terdapat pada pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati pada saluran III dan V sebesar 0,95.

Berdasarkan Tabel 18 untuk mengetahui saluran pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug yang paling efisien dapat ditinjau dari beberapa poin analisis terhadap pola pemasaran cabai rawit merah diantaranya margin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan dan biaya. Selain itu dapat dilihat dari pola saluran pemasaran yang terbentuk, berjalannya fungsi- fungsi pemasaran, struktur pasar, dan perilaku pasar.

Tabel 18. Nilai Efisiensi Pemasaran pada masing – masing Pola Saluran Pemasaran Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug.

Saluran Pemasaran Harga (Rp/kg) Total Biaya (Rp/kilogram) Marjin (%) Farmer’s Share (%) Πi/Ci Volume (kilogram) Saluran I 5.000,00 3.569,30 75,00 25,00 3,20 1.490 Saluran II 4.500,00 1.380,50 55,00 45,00 2,98 20 Saluran III 4.500,00 4.335,60 77,50 22,50 2,56 215 Saluran IV 4.700,00 3.128,60 73,89 26,11 3,25 200 Saluran V 4.700,00 4.270,30 76,50 23,50 2,58 354

Sumber : Data Primer 2012 (diolah)

Berdasarkan Tabel 18 yang menyajikan data mengenai nilai efisiensi pemasaran pada setiap pola saluran pemasaran yang terbentuk, saluran I merupakan saluran yang paling efisien dibandingkan empat saluran yang lain. Jika dilihat dari harga jual cabai rawit merah di tingkat petani, saluran I memiliki harga jual yang paling tinggi dan volume penjualan terbesar sebanyak 1.490 kilogram dengan tujuan pemasaran yaitu wilayah Jakarta (Pasar Induk Kramat Jati Jakarta).

90 Nilai rasio πi/Ci pada saluran I lebih besar dari 1 yaitu 3,20 artinya setiap 1 satuan rupiah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran pada saluran ini akan menghasilkan keuntungan sebesar 3,20 rupiah.

Jika dilihat dari nilai marjin dan rasio keuntungan dan biaya maka saluran IV yang penyebarannya paling merata namun volume penjualan pada saluran IV berada kedua terkecil dari kelima saluran yang ada dengan tujuan pemasaran yaitu wilayah Bandung (Pasar Induk Caringin Bandung). Cabai rawit merah yang tidak laku terjual di Pasar Induk Caringin Bandung akan dijual ke Pasar Induk Kramat Jati sehingga pengangkutan terjadi dua kali yang mempunyai risiko kerusakan cabai rawit merah yang lebih besar dan akan berdampak pada harga jual cabai rawit merah. Tingginya volume penjualan cabai rawit merah pada saluran I menunjukkan tingginya kontinuitas pemasaran pada saluran I ini.

6.8 Analisis Keterpaduan Pasar

Keterpaduan pasar menunjukkan seberapa besar pembentukan harga suatu komoditas pada suatu tingkat lembaga atau pasar dipengarhi oleh harga di tingkat lembaga lainnya. Pada penelitian ini dilakukan analisis keterpaduan pasar secara vertikal antara pasar petani dengan Pasar Induk Kramat Jati. Data harga ini merupakan harga mingguan cabai rawit merah dari bulan Juni 2011 sampai bulan Mei 2012 (Lampiran 9). Pengolahan data dianalisis dengan menggunakan model Indeks of Market Connection (IMC) melalui pendekatan model Autoregressive Distributed Lag yang diduga dengan Metode Kuadrat Terkecil Biasa (Ordinary Least Square, OLS). Hasil estimasi persamaan regresi keterpaduan pasar pada tingkat petani di Desa Cigedug dengan Pasar Induk Kramat Jati sebagai berikut:

Pit = - 383 + 0,765 Pit-1 + 0,493 Pjt-Pjt-1 + 0,182 Pjt-1 Keterangan :

b1 = parameter variabel harga cabai rawit merah di tingkat petani pada waktu t-1

b2 = indikator keterpaduan pasar jangka panjang

b3 = parameter variabel harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada waktu t-1

Hasil estimasi parameter koefisien penduga b1 (harga di tingkat petani minggu lalu) adalah sebesar 0,765 dengan nilai P-value adalah 0,000 (Lampiran

91 10). Model akan signifikan jika nilai P-value lebih kecil dari nilai taraf nyata lima persen. Hal ini berarti berapapun harga yang terjadi di tingkat petani pada minggu lalu berpengaruh nyata pada penentuan harga minggu ini, dimana peningkatan perubahan harga pada minggu lalu sebesar 100 persen, cateris paribus, akan meningkatkan harga pada minggu ini sebesar 76,5 persen pada taraf nyata lima persen.

Nilai koefisien b2 adalah 0,493 dengan nilai P-value adalah 0,000 (Lampiran 10) yang menunjukkan bahwa peningkatan perubahan harga di pasar acuan, Pasar Induk Kramat Jati sebesar 100 persen, cateris paribus, akan meningkatkan harga di tingkat petani sebesar 49,3 persen. Keseimbangan jangka panjang (b2) ditunjukkan oleh nilai b = 1. Semakin dekat nilai parameter dugaan b2 dengan satu, maka keterpaduan jangka panjang akan semakin baik. Nilai b2 = 1 juga dapat diartikan bahwa pasar berada dalam kondisi persaingan sempurna, sedangkan apabila nilai b2 kurang dari satu menunjukkan pasar dalam kondisi tidak bersaing sempurna. Namun, apabila nilai b2 lebih besar dari satu maka perubahan harga pada pasar acuan akan sangat berpengaruh terhadap pembentukkan harga di pasar lokal, dengan kata lain akan terjadi keterpaduan jangka panjang antara harga di pasar acuan dengan harga dipasar lokal. Pasar cabai rawit merah di Desa Cigedug berada dalam kondisi tidak bersaing sempurna karena memiliki nilai b2 yang lebih kecil dari satu.

Koefisien penduga b3 (harga di Pasar Induk Kramat Jati minggu lalu) sebesar 0,182 dengan P-value 0,044 (Lampiran 10). Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf nyata lima persen peningkatan perubahan harga di Pasar Induk Kramat Jati berpengaruh nyata pada peningkatan harga di tingkat petani dimana peningkatan perubahan harga pada minggu lalu sebesar 100 persen, cateris paribus, akan meningkatkan harga pada minggu ini sebesar 18,2 persen pada taraf nyata lima persen. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan jarak Pasar Induk Kramat Jati dengan pasar lokal (petani di Desa Cigedug) memberikan pengaruh terhadap besar kecilnya perubahan harga minggu lalu di pasar acuan terhadap minggu ini di pasar lokal. Perbedaan jarak ini akan menimbulkan biaya transportasi bagi pedagang sehingga pedagang tidak meneruskan perubahan harga tersebut kepada petani seutuhnya.

92 IMC

=

=

=

4,2

Berdasarkan hipotesis uji-t, maka dapat diukur tingkat keterpaduan jangka pendek dan jangka panjang. Hipotesis uji-t untuk koefisien b1 memiliki t- hitung lebih besar dari t-tabel sehingga hipotesis nol ditolak pada taraf nyata lima persen (Lampiran 11). Artinya tidak terdapat keterpaduan jangka pendek antara perubahan harga di Pasar Induk Kramat Jati dengan perubahan harga di tingkat petani di Desa Cigedug. Indikator keterpaduan jangka pendek dapat dilihat dari nilai IMC sebesar 4,2, artinya tidak terdapat keterpaduan jangka pendek karena nilai IMC lebih besar dari satu. Keterpaduan jangka pendek akan terjadi jika nilai IMC lebih kecil dari satu.

Adapun keterpaduan jangka panjang berdasarkan uji-t dengan melihat indikator dari variabel bebas b2 menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak karena nilai t-hitung lebih besar dari nilai t-tabel pada taraf nyata lima persen. Artinya harga di pasar lokal tidak terpadu dengan harga di pasar acuan dalam jangka panjang (Lampiran 11). Indikator tidak adanya keterpaduan jangka panjang dapat dilihat dari nilai koefisien b2 yang lebih kecil dari satu, yaitu sebesar 0,493. Keterpaduan jangka panjang akan terjadi apabila nilai koefisien b2 sama dengan satu.

Uji F-hitung digunakan untuk uji hipotesis model dugaan secara bersama- sama yang menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya ada satu dari peubah bebas pada persamaan berpengaruh nyata terhadap peubah tak bebas pada taraf nyata lima persen. Hal ini dapat dilihat dari nilai P-value model yang lebih kecil dari taraf nyata lima persen. Pengujian autokorelasi hasil uji Durbin-Watson bernilai 1,57, hal ini berarti secara statistik terima Ho pada taraf nyata lima persen. Dari hasil tersebut menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat autokorelasi (error yang berpola) pada pengujian tingkat pertama. Uji multikolinearitas yang dilakukan terhadap model yang diduga dengan melihat Varian Inflation Factor (VIF). Hasil VIF menunjukkan bahwa semua variabel yang memiliki nilai VIF < 10, menunjukkan tidak adanya gejala multikolinearitas antar masing-masing variabel bebas.

93 Berdasarkan hasil analisis keterpaduan pasar melalui pendekatan analisis harga di tingkat petani yang berperan sebagai pasar lokal selaku pengikut harga dan Pasar Induk Kramat Jati yang berperan sebagai pasar acuan selaku penentu harga, dapat diketahui bahwa pasar di tingkat petani cabai rawit merah di Desa Cigedug dengan Pasar Induk Kramat Jati tidak terpadu baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa informasi mengenai perubahan harga di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta tidak diteruskan atau diterima di tingkat petani secara proporsional. Artinya perubahan harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada kurun waktu sebelumnya tidak ditrasmisikan ke harga saat ini di tingkat petani.

Tidak adanya keterpaduan pasar ini menunjukkan tidak lancarnya arus informasi dan komunikasi diantara lembaga pemasaran sehingga harga yang terjadi pada pasar yang dihadapi oleh petani tidak dipengaruhi oleh Pasar Induk Kramat Jati. Arus informasi tidak berjalan dengan lancar dan seimbang, petani tidak mengetahui informasi yang dihadapi oleh pedagang besar di Pasar Induk Kramat jati, sehingga petani di Desa Cigedug tidak dapat menentukan posisi tawarnya dalam pembentukan harga. Tidak lancarnya arus informasi harga ini sesuai dengan struktur pasar yang terjadi dimana pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati memiliki kekuatan oligopsoni, dapat mengendalikan harga beli dari petani sehingga walaupun harga di tingkat konsumen relatif tetap tetapi pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati dapat menekan harga beli dari petani untuk memaksimumkan keuntungannya. Begitupun jika terjadi kenaikan harga di tingkat konsumen maka pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati dapat meneruskan kenaikan harga tersebut secara tidak sempurna. Komunikasi yang terjadi tidak transparan sehingga menyulitkan terjadinya integrasi harga dengan baik.

Laping (1997), menyatakan respon harga dengan segera dapat terjadi jika infrastruktur trasportasi, fasilitas pasar desa yang paling mendasar, sistem informasi harga dan pasar yang transparan sudah terbangun dengan baik. Selama faktor-faktor ini belum terbangun dan tersedia maka respon harga dengan segera tersebut sukar untuk dapat terwujud. Di Desa Cigedug, infrastruktur transportasi, sistem informasi harga, dan fasilitas pasar desa dan pasar yang transparan relatif

94 belum tersedia secara memadai. Infrastruktur transportasi dari lahan petani cabai rawit merah ke pasar induk relatif buruk dimana kondisi lahan di Desa Cigedug yang berbukit-bukit sehingga aksesibilitas ke dan dari sentra produksi petani relatif sulit. Demikian juga dengan fasilitas-fasilitas dasar seperti pasar desa belum tersedia. Sistem informasi harga yang mestinya dibangun oleh pemerintah juga belum tersedia. Struktur pasar yang oligopsoni pada lembaga pemasaran cabai rawit merah di Desa Cigedug juga menjadi penyebab tidak terpadunya harga di tingkat petani dengan pedagang besar di pasar induk Kramat Jati.

95

Dokumen terkait