HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Kriteria Untuk Mengukur Efektivitas Pengelolaan Piutang Usaha Perusahaan
2. Analisis Terhadap Rasio Penagihan
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa rasio penagihan perusahaan juga mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 terjadi peningkatan rasio penagihan sebesar 2,42% yakni dari 91,52% menjadi 93,93% pada tahun 2009. Hal ini terjadi karena perusahaan mampu meningkatkan kinerja bagian administrasi/ penatausahaan piutang sehingga jumlah piutang tertagih meningkat yakni dari Rp. 74.262.835.120,- pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp. 94.901.166.199,- pada tahun 2009,dimana jumlah total piutangnya meningkat yakni Rp. 81.146.187.181,- pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp. 101.30.751.400,-. Kinerja perusahaan yang terbaik dijumpai pada tahun 2012, dimana rasio penagihan mencapai titik tertinggi, yakni sebesar 97,20%.
Hal ini terjadi karena perusahaan dapat memaksimalkan divisi administrasi/
penatausahaan piutang sehingga jumlah piutang tertagihnya menjadi sebesar Rp. 123.705.612.770,- walaupun jumlah total piutangnya meningkat menjadi Rp. 127.268.919.479,- Namun, pada tahun 2011, terjadi penurunan rasio tagihan dari 97.20% pada tahun 2007 menjadi 92.62% atau naik turun 4,58%.
Hal ini disebabkan karena walaupun jumlah piutang tertagihnya meningkat yakni sebesar Rp. 146.251.894.149,- disisi lain terjadi peningkatan total piutang sebesar Rp. 157.898.099.968,-. Pada tahun 2013, terjadi peningkatan rasio penagihan menjadi sebesar 96.47% atau meningkat sebesar 3,84% dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena perusahaan dapat meningkatkan 60
76
kinerja bagian penagihan hingga jumlah piutang tertagih menjadi sebesar Rp.
136.641.860.757,-.
Pada tahun 2014, kinerja rasio penagihan mencapai titik terendah yakni sebesar 88.98% atau menurun sebesar 7,49% dari tahun 2009. Hal ini disebabkan karena jumlah total piutang yang sangat rendah yakni sebesar Rp.
59.615.233.755. pada tahun 2014, rasio tunggakan mengalami peningkatan yakni menjadi 94.41% atau meningkat sebesar 5,43% dari tahun sebelumnya.
Ini disebabkan terjadi peningkatan pada total piutangnya yakni sebesar Rp.69.088.441.402,- dan terjadi peningkatan pada bagian penagihan yakni sebesar Rp. 65.224.646.232,-.
Tabel 5.5
Piutang Usaha PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Cabang Makassar Tahun 2005 – 2011 (Dalam Rupiah)
Sumber : PT. Pelabuhan Indonesia IV Persero
Tahun Saldo Awal Piutang Penjualan Kredit Total Piutang Piutang Tertagih Piutang Tertunggak
2009 Rp 6.268.143.124 Rp 74.878.044.057 Rp 81.146.187.181 Rp 74.262.835.120 Rp 6.883.352.061 2010 Rp 6.883.352.061 Rp 94.147.399.339 Rp 101.030.751.400 Rp 94.901.166.199 Rp 6.129.585.201 2011 Rp 6.129.585.201 Rp 121.139.334.278 Rp 127.268.919.479 Rp 123.705.612.770 Rp 3.63.306.709 2012 Rp 3.563.306.709 Rp 154.334.793.259 Rp 157.898.099.968 Rp 146.251.894.149 Rp 11.646.205.819 2013 Rp 11.646.205.819 Rp 130.000.269.783 Rp 141.646.475.602 Rp 136.641.860.757 Rp 5.004.614.845 2014 Rp 5.004.614.845 Rp 54.610.618.910 Rp 59.615.233.755 Rp 53.045.041.496 Rp 6.570.192.259 2015 Rp 6.570.192.259 Rp 62.518.249.143 Rp 69.088.441.402 Rp 65.224.646.232 Rp 3.863.795.170
61
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa pitang usaha mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2009,di mana jumlah total piutang sebesar Rp. 81,146.187.181 dan piutang tertunggaknya sebesar Rp. 6.883.352061,- Pada tahun 2010, di mana jumlah total piutang sebesar Rp. 101,030,751,400 dan piutang tertunggaknya sebesar Rp. 6.129.585.,201,- Pada tahun 2011 di mana jumlah total piutang sebesar Rp. 127.268.919.479 dan piutang tertunggaknya sebesar Rp.
3,563,306,709,- Pada tahun 2012, di mana jumlah total piutang sebesar Rp.
157.898.099.968 dan piutang tertunggaknya sebesar Rp, 11.646.205.819,- Pada tahun 2013,di mana jumlah total piutang sebesar Rp. 141.646.475.,6002 dan .iutang tertunggaknya sebesar Rp. 5.004.614.845,- Pada tahun 2014, di mana jumlah total piutang sebesar Rp. 59.615.233.755 dan piutang tertunggaknya .sebesar Rp. 6.570.192.259,- Pada tahun 2015, di mana jumlah total piutang sebesar Rp. 69.088.441.402 dan piutang tertunggaknya sebesar Rp.
3.863.795.170.
Selain itu pula,tingginya total piutang karena manajemen kurang memperhatikan pentingnya piutang tertunggak dalam perusahaaan.
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan uraian-uraian pada bab-bab sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Umur rata-rata pengumpulan piutang (Avarage collection period –
ACP) semakin meningkat terutama pada tahun 2011. Ini berarti perusahaan belum efektif dalam mengelola piutang usahanya, sebab standar pengumpulan piutang yang diterapkan oleh perusahaan adalah batas pelunasan atau tanggal jatuh tempo selambat-lambatnya 8 (delapan) hari kalender sejak nota tagihan diterima oleh pengguna jasa. Hal ini berarti hipotesis penulis tidak terbukti, disebabkan oleh hari rata-rata penagihan belum dapat ditekan sekecil mungkin, secara ideal waktu rata-rata pelunasan atau jatuh tempo adalah 2 sampai 3 hari.
2. PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Cabang Makassar masih kurang optimal dan efektif dalam mengelola dan mengendalikan piutang usahanya. Hal ini dapat dilihat pada jumlah presentase penunggakan yang semakin meningkat rata-rata penunggakan dari tahun ke tahun.
Terutama pada kondisi tahun 2011, dimana menurunnya jumlah penjualan kredit yang diikuti dengan meningkatnya piutang yang
63
tertunggak. Yaitu sebesar rata-rata Rasio Tunggakan dalam waktu 7 tahun adalah 6,41%.
3. Dengan melihat tingkat perputaran piutang (Receivable Turn Over-RTO) dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi, membuktikan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang cukup besar. Karena semakin kecil perputaran piutang, maka dibutuhkan jumlah modal yang lebih besar untuk diinvestasikan kedalam piutang.
B. Saran
1. Hendaknya piutang dikendalikan dan dikelola dengan sebaik mungkin oleh bagian administrasi/penatausahaan piutang agar tingkat perputaran piutang menjadi lebih baik, sehingga persentase penagihan dapat terus meningkat dan sebaliknya mengurangi jumlah piutang yang tertunggak untuk mencegah timbulnya risiko kerugian piutang.
2. Sebelum diterbitkan surat pengantar nota tagihan sebaliknya pihak pengguna jasa diberitahukan terlebih dahulu mengenai sanksi dan denda yang dikenakan apabila terjadi keterlambatan pembayaran nota tagihan sesuai dengan tanggal jatuh tempo yang telah ditentukan.
3. Sebalikya perusahaan membentuk tim khusus pengumpulan piutang atau penagihan piutang untuk mempercepat proses pelunasan piutang agar tingkat perputaran piutang dari tahun ke tahun semakin meningkat sehingga modal yang diinvestasikan dalam piutang tidak terlalu besar.
4. Jika hari rata-rata penagihan dapat ditekan hingga sekecil mungkin, maka presentase penagihan piutang akan terus meningkat sesuai dengan presentase penurunan hari rata-rata penagihan.
5. Sebaiknya perusahaan memperbaiki sistem penagihan piutang agar perusahaan lebih baik dan jumlah piutang dapat diminimalisir.
Arista, Fany dan Baldric Siregar, 2009. Jurnal Ekonomi & Bisnis Vol. 3, No. 1 Maret 2009. Yogyakarta : STIE.
Budiman, Simcesen dan Baldric Siregar, 2008. Jurnal Akuntansi & Manajemen Vol. 19, No. 2 Agustus 2008. Yogyakarta : STIE.
Gitusudarmono, Indriyo dan Basri H. 2004. Manajemen Keuangan Edisi Empat.
Yogyakarta : BPFE.
Husnan, Suad. 2004. Pembelanjaan Perusahaan, Dasar – dasar Manajemen Keuangan (Edisi Empat). Yogyakarta : Liberty.
___________. 2004. Manajemen Keuangan Teori dan Penerapannya. Yogyakarta : BPFE
Ikatan Akuntan Indonesia. 2005. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta : Salemba Empat.
Indriyo dan Basri. 2004. Pokok–pokok Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta : BPFE
Kasmir. 2008. Dasar – dasar Perbankan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada Martono dan Agus Harjito. 2008. Manajemen Keuangan (Cetakan Ketujuh).
Yogyakarta : EKONISIA
Munawir. 2004. Analisis Laporan Keuangan (Cetakan Kelima). Yogyakarta : Liberty.
Riyanto, Bambang. 2006. Dasar – dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta : Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada.
Samsul, M. 2007. Sistem Akuntansi, Pendekatan Manajerial. Yogyakarta : Liberty.
Syamsuddin, Lukman. 2007. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta : PT.
Raja Grafindo Persada.
1994, anak kedua dari empat bersaudara ,buah hati dari Andi Derismi S.E,. MM dan Andi wahidah. Penulis mengawali jenjang pendidikan formal di SD Inperes perumnas antang II . pada tahun 2000 dan selesai pada taun 2007. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan tngkat pertama di SMP Negeri 19 Makassar . pada tahun 2007 hingga tahun 2009 kemudian penulis melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan memasuki SMA Negri 13 Makassar pada tahun 2009 hingga 2012. Pada tahun yang sama 2012 penulis di terima di Jurusan Manajemen Strata 1 Febis Universitas Muhammadiyah Makassar, Selama terdaftar sebagai mahasiswa ,penulis juga aktif dalam organisasi internal maupun eksternal, yaitu pernah menjadi Anggota HMJ Manajemen periode 2015 - 2015.