• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Rasio Profitabilitas Bank Syariah

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Rasio Profitabilitas Bank Syariah

Rasio Keuangan Bank Syariah

Nama Bank ROA ROE NIM

2008 2009 2008 2008 2008 2009 BSM 1.83 2.23 46.21 44.2 6.73 6.62 BM I 2.6 0.45 33.14 8.03 7.42 5.15 BSM I 0.98 2.22 11.06 39.97 6.86 11.38 BSB -1.14 0.06 -8.02 0.87 -0.86 3.66 BRI SYARIAH -2.52 0.53 -8.24 3.35 11.2 7.8 Sumber:Bank Indonesia

1. Bank Syariah Mandiri (BSM)

Awal berdirinya Bank Syariah Mandiri adalah melalui Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/ 1999, BI menyetujui perubahan nama menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999.

Sampai dengan tahun 2009, asset yang dimiliki oleh BSM adalah Rp 22,03 triliun dan tahun 2008 sebesar Rp 17,06 triliun. Ekuitas yang dimiliki oleh BSM tahun 2009 adalah Rp 1,6 triliun dan tahun 2008 sebesar Rp 1,2 triliun. Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat tahun 2009 adalah Rp 1,5 trilun dan tahun 2008 Rp 1,3 triliun, laba (rugi) sebelum pajak tahun 2009 adalah Rp 418 miliar dan tahun 2008 adalah Rp 284 miliar. Sehingga diperoleh rasio ROA, ROE dan NIM sebagai berikut:

Tabel 4.6

Sumber: Bank Indonesia

a. Return On Assets (ROA)

Rasio Laba Sebelum Pajak terhadap Total Aset Ratarata (ROA) sebesar 2,23% di tahun 2009 lebih tinggi 0,40% dibanding ROA tahun 2008 sebesar 1,83%. Ini disebabkan karena naiknya total aset yang dimiliki oleh BSM sebesar Rp.22 triliun ditahun 2009 dibandingkan dengan Rp.17 triliun ditahun 2008. Karena naiknya total asset yang dimiliki oleh BSM, didukung juga oleh naiknya laba sebelum pajak dari Rp.284 miliar ditahun 2008 menjadi Rp.418 miliar ditahun 2009.

b. Return On Equity (ROE)

ROE BSM tahun 2009 mengalami penurunan dari 46,21% tahun 2008 menjadi 44,2% ditahun 2009. Total ekuitas yang dimiliki oleh BSM ditahun 2008 sebesar Rp. 1,2 triliun dan 1,6 triliun ditahun 2009. Penurunan ROE ini disebabkan karena kurang maksimalnya pengelolaan ekuitas.

c. Net Interest Margin (NIM)

NIM atau dalam syariah disebut dengan Net revenue BSM pada tahun 2008 adalah sebesar 6,73% dan tahun 2009 sebesar 6,62%. Penurunan pendapatan bagi hasil bersih ini disebabkan karena menurunnya penyaluran pembiayaan yang

NAM A

BANK ROA ROE NIM

2008 2009 2008 2009 2008 2009

disalurkan oleh BSM dan lebih banyak menyimpan dananya pada SBIS karena lebih aman. Penempatan dana pada BI yang dilakukan oleh BSM ini disebabkan karena masih belum stabilnya perekonomian Indonesia dari krisis global. Inilah yang menjadi salah satu penyebab banyaknya penempatan dana pada BI dan sedikitnya dana yang disalurkan kepada masyarakat sehingga pendapatan bagi hasil BSM menjadi menurun pada tahun 2009.

2. Bank Muamalat Indonesia (BMI)

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk didirikan pada 24 Rabius Tsani 1412 H atau 1 Nopember 1991, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia, dan memulai kegiatan operasinya pada 27 Syawwal 1412 H atau 1 Mei 1992. Dengan dukungan nyata dari eksponen Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha Muslim, pendirian Bank Muamalat juga menerima dukungan masyarakat, terbukti dari komitmen pembelian saham Perseroan senilai Rp 84 miliar pada saat penandatanganan akta pendirian Perseroan. Selanjutnya, pada acara silaturahmi peringatan pendirian tersebut di Istana Bogor, diperoleh tambahan komitmen dari masyarakat Jawa Barat yang turut menanam modal senilai Rp 106 miliar.

Sampai dengan tahun 2009, asset yang dimiliki oleh Bank Muamalat adalah Rp 16.06 triliun dan tahun 2008 sebesar Rp 12,6 triliun. Ekuitas yang dimiliki oleh Bank Muamalat tahun 2009 adalah Rp 898 miliar dan tahun 2008 sebesar Rp 941 miliar. Pendapatan bunga bersih tahun 2009 adalah Rp 924 miliar dan tahun 2008 Rp 952 miliar, laba (rugi) sebelum pajak tahun 2009 adalah Rp

64,7 miliar dan tahun 2008 adalah Rp 294 miliar. Sehingga diperoleh rasio ROA, ROE dan NIM sebagai berikut:

Tabel 4.7

Sumber: Bank Indonesia

a. Return On Assets (ROA)

ROA Bank Muamalat tahun 2008 adalah 2,6% dan tahun 2009 adalah 0,45%. Pencapaian ROA ini menurun drastis sebesar 2,15%. Tahun 2008, ROA Bank Muamalat masih diatas standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sehingga masih cukup baik kinerjanya. Namun pada tahun 2009 ROA Bank Muamalat menjadi 0,45% yang berada dibawah standar Bank Indonesia. Rendahnya ROA tahun 2009 ini disebabkan karena banyaknya beban yang harus dikeluarkan oleh Bank Muamalat sedangkan pendapatan yang diterima semakin sedikit. Jadi, walaupun jumlah aktiva yang dimiliki oleh Bank muamalat naik dibandingkan dengan tahun 2008, tetapi laba sebelum pajak menurun drastis di tahun 2008. ROA Bank Muamalat sebesar 0,45% berada dibawa standar Bank Indonesia yang berarti kinerja ROA Bank Muamalat kurang sehat.

NAM A BANK ROA ROE NIM

2008 2009 2008 2009 2008 2009

b. Return On Equity (ROE)

ROE Bank Muamalat tahun 2008 adalah 33,14% dan tahun 2009 adalah 8,03%. Tidak jauh berbeda dengan ROA, pencapaian ROE Bank Muamalat tahun 2009 juga menurun. Ini menunjukkan bahwa kinerja Bank Muamalat sepanjang tahun 2009 kurang baik karena mengalami penurunan baik dari ROA maupun ROE. Penurunan ROE ini disebabkan karena menurunnya laba bersih yang diperoleh Bank Muamalat.

c. Net Interest Margin (NIM)

NIM Bank Muamalat tahun 2009 adalah 5,15% dan tahun 2008 7,42%. Pencapaian Net Interest Margin atau dalam Syariah disebut dengan Net Revenue juga mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena menurunnya pendapatan bagi hasil bank juga seiring dengan menurunnya ROA.

3. Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI)

Perjalanan PT Bank Mega Syariah diawali dari sebuah bank umum konvensional bernama PT Bank Umum Tugu yang berkedudukan di Jakarta. Pada tahun 2001, Para Group (sekarang berganti nama menjadi CT Corpora), kelompok usaha yang juga menaungi PT Bank Mega,Tbk., TransTV, dan beberapa perusahaan lainnya, mengakuisisi PT Bank Umum Tugu untuk dikembangkan menjadi bank syariah. Hasil konversi tersebut, pada tanggal 25 Agustus 2004 PT Bank Umum Tugu resmi beroperasi secara syariah dengan nama PT Bank Syariah Mega Indonesia. Dan terhitung tanggal 23 September

2010 nama badan hukum Bank ini secara resmi telah berubah menjadi PT. Bank Mega Syariah.

Sampai dengan tahun 2009, asset yang dimiliki oleh BSMI adalah Rp 4,3 triliun dan tahun 2008 sebesar Rp 3,09 triliun. Ekuitas yang dimiliki oleh BSMI tahun 2009 adalah Rp 318 miliar dan tahun 2008 sebesar Rp 238 miliar. Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat tahun 2009 adalah Rp 548 miliar dan tahun 2008 Rp 250 miliar, laba (rugi) sebelum pajak tahun 2009 adalah Rp 83,7 miliar dan tahun 2008 adalah Rp 23,7 miliar. Sehingga diperoleh rasio ROA, ROE dan NIM sebagai berikut:

Tabel 4.8

Sumber: Bank Indonesia

a. Return On Assets (ROA)

ROA Bank Syariah Mega Indonesia tahun 2009 sebesar 2,22% mengalami peningkatan dibanding tahun 2008 sebesar 0,98%. Ini disebabkan karena naiknya laba sebelum pajak dari Rp.7,4 miliar tahun 2008 menjadi Rp.23 miliar. Semakin tinggi tingkat ROA maka akan semakin baik.

NAMA

BANK ROA ROE NIM

2008 2009 2008 2009 2008 2009

b. ROE (Return On Equity)

ROE Bank Syariah Mega Indonesia mengalami kenaikan dari 11,06% ditahun 2008 menjadi 39,97% ditahun 2009. Ini disebabkan karena naiknya ekuitas bank dan naiknya laba bersih bank. Rasio ini berada jauh diatas standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Dengan meningkatnya ROE maka kinerja bank akan semakin baik.

c. Net Interest Margin (NIM)

NIM Bank Syariah Mega Indonesia tahun 2009 sebesar 11,38% naik dibandingkan tahun 2008 sebesar 6,86%. Kenaikan NIM ini disebabkan karena naiknya pendapatan dari penyaluran dana dari Rp. 367.313.000.000 tahun 2008 menjadi Rp. 764.195.000.000 ditahun 2009. Dan masih berada jauh diatas standar NIM yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

4. Bank Syariah Bukopin (BSB)

Perjalanan PT Bank Syariah Bukopin dimulai dari sebuah bank umum, PT Bank Persyarikatan Indonesia yang diakuisisi oleh PT Bank Bukopin Tbk untuk dikembangkan menjadi bank Syariah. Bank Syariah Bukopin mulai beroperasi dengan melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip Syariah setelah memperoleh izin operasi Syariah dari Bank Indonesia pada tanggal 27 Oktober 2008 dan pada tanggal 11 Desember 2008 telah diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia. Komitmen penuh dari PT Bank Bukopin Tbk sebagai pemegang saham mayoritas diwujudkan dengan menambah setoran modal dalam rangka untuk menjadikan PT Bank Syariah Bukopin sebagai bank syariah dengan

pelayanan terbaik. Dan pada tanggal 10 Juli 2009 melalui Surat Persetujuan Bank Indonesia, PT Bank Bukopin Tbk telah mengalihkan Hak dan Kewajiban Usaha Syariah-nya kedalam PT Bank Syariah Bukopin.

Sampai dengan tahun 2009, asset yang dimiliki oleh BSB adalah Rp 1,9 triliun dan tahun 2008 sebesar Rp 606 miliar. Ekuitas yang dimiliki oleh BSB tahun 2009 adalah Rp 133 miliar dan tahun 2008 sebesar Rp 132 miliar. Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat tahun 2009 adalah Rp 64,7 miliar dan tahun 2008 Rp -2,5 miliar, laba (rugi) sebelum pajak tahun 2009 adalah Rp 2,2 miliar dan tahun 2008 adalah Rp -10,2 miliar. Sehingga diperoleh rasio ROA, ROE dan NIM sebagai berikut:

Tabel 4.9

NAM A

BANK ROA ROE NIM

2008 2009 2008 2009 2008 2009

BSB -1.14 0.06 -8.02 0.87 -0.86 3.66

Sumber: Bank Indonesia

a. ROA (Return On Assets)

Bank Syariah Bukopin atau yang sering disingkat dengan BSB mempunyai ROA tahun 2009 sebesar 0,06% dan tahun 2008 sebesar -1,14%. Hal ini menunjukkan bahwa ROA BSB mengalami kenaikan pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008. Tahun 2009 merupakan tahun awal bagi BSB untuk beroperasi secara mandiri atau perubahan BSB dari Unit Usaha Syariah

(UUS) menjadi Bank Umum Syariah (BUS). Jadi, walaupun BSB termasuk bank yang baru memisahkan diri dari induknya, namun sudah terlihat kemajuan yang cukup signifikan yang bisa dilihat dari perolehan laba sebelum pajak dan total aktivanya. ROA yang dicapai oleh BSB tahun 2009 masih berada dibawah standar ROA yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

b. ROE (Return On Equity)

ROE BSB tahun 2009 sebesar 0,87% mengalami kenaikan dibanding tahun 2008 sebesar -8,02%. Ini disebabkan karena naiknya laba bersih yang didapat oleh BSB tahun 2009 lebih besar daripada tahun 2008. Dari kenaikan laba bersih ini, maka akan menanamkan modalnya pada BSB karena dapat memperoleh ROE yang positif. ROE yang dicapai oleh BSB tahun 2009 masih dibawah standar ROE yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

c. NIM (Net Interest Margin)

NIM BSB tahun 2009 sebesar 3,66% naik dibandingkan tahun 2008 sebesar -0,86%. Kenaikan NIM ini disebabkan karena naiknya pendapatan dari penyaluran dana bersih tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008.

5. Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS)

Berawal dari akusisi Bank Jasa Arta oleh Bank Rakyat Indonesia, pada tanggal 19 Desember 2007 dan kemudian diikuti dengan perolehan ijin dari Bank Indonesia untuk mengubah kegiatan usaha Bank Jasa Arta dari bank umum konvensional menjadi bank umum yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah pada tanggal 16 Oktober 2008, maka lahirlah Bank umum syariah

yang diberi nama PT. Bank Syariah BRI ( yang kemudian disebut dengan nama BRISyariah) pada tanggal 17 November 2008. Peleburan unit usaha syariah Bank Rakyat Indonesia ke dalam BRISyariah ini berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2009. Adapun yang menjadi pemegang saham BRISyariah adalah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, sebesar 99,99967%, dan Yayasan kesejahteraan pekerja BRI sebesar 0,00033%.

Sampai dengan tahun 2009, asset yang dimiliki oleh BRI Syariah adalah Rp 3,1 triliun dan tahun 2008 sebesar Rp 1,46 triliun. Ekuitas yang dimiliki oleh BRI Syariah tahun 2009 adalah Rp 448 miliar dan tahun 2008 sebesar Rp 452 miliar. Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil untuk Dana Investasi Tidak Terikat tahun 2009 adalah Rp 180,2 miliar dan tahun 2008 Rp 180,8 miliar, laba (rugi) sebelum pajak tahun 2009 adalah Rp 10,6 miliar dan tahun 2008 adalah Rp -36 miliar. Sehingga diperoleh rasio ROA, ROE dan NIM sebagai berikut:

Tabel 4.10

NAM A

BANK ROA ROE NIM

2008 2009 2008 2009 2008 2009

BRISYARIAH -2.52 0.53 -8.24 3.35 11.2 7.8

Sumber: Bank Indonesia

a. Return On Assets (ROA)

Sama halnya dengan BSB, BRI Syariah merupakan bank yang baru memisahkan diri dari induknya pada tahun 2009. ROA yang dicapai oleh BRI

Syariah cukup membanggakan dari -2,52% tahun 2008 menjadi 0,53%. pencapaian ROA ini sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Peningkatan ini disebabkan karena naiknya laba sebelum pajak dan juga diiringi dengan naiknya total aktiva.

b. Return On Equity (ROE)

ROE BRI Syariah tahun 2009 adalah 3,35% lebih besar dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar -8,24%. Ini disebabkan karena meningkatnya laba bersih yang diperoleh oleh BRI Syariah. Namun peningkatan ROE ini belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

c. Net Interest Margin (NIM)

NIM BRI Syariah tahun 2009 mengalami penurunan dari 11,2% tahun 2008 menjadi 7,8% tahun 2009. Penurunan ini disebabkan karena menurunnya pendapatan operasional setelah bagi hasil kepada investor. Serta aktiva produktif yang disalurkan tahun 2009 banyak yang dalam keadaan macet jika dibandingkan dengan tahun 2008.

Dokumen terkait