• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Realisasi Moda 3 (Commercial Presence)

BAB IV PEMBAHASAN

Moda 2 (Consumption Abroad)

4.3 Analisis Realisasi Moda 3 (Commercial Presence)

Penanaman modal asing langsung (foreign direct investment) yang ditandai dengan masuknya jaringan hotel asing di Indonesia merupakan salah satu bentuk suplai sektor jasa pariwisata melalui moda 3. Masuknya

foreign direct investment (FDI) ke Indonesia tidak terlepas dari

keterbukaan akses pasar Indonesia. Keterbukaan akses pasar tersebut dapat dalam bentuk regulasi domestik dan liberalisasi perdagangan.

Tingkat liberalisasi sektor jasa Indonesia di moda 3 saat ini sudah cukup tinggi. Hal ini terlihat dari foreign equity partcipation (FEP) yang diperboleh pada jasa hotel dan restoran Indonesia antara 51-100 persen tergantung pada wilayah dan provinsi (Tabel 3). Dengan demikian, penyedia jasa hotel dan restoran asing dapat memiki saham mayoritas di

Puska KPI, BPPKP, Kementerian Perdagangan 22

(berdasarkan FEP yang diijinkan) dan periode. Periode dibagi menjadi

1995-2004 (pemberlakuan komitmen di WTO) dan 2005-2014

(pemberlakuan regional trade agreement/RTA).

4.3.1 Realisasi FDI Pada Periode Sebelum Penandatangan Beberapa RTA

Periode Sebelum penandatangan RTA (1995 – 2004) merupakan

periode-periode awal pemberlakuan komitmen perdagangan jasa Indonesia di tingkat Multilateral (WTO) dibawah kesepakatan yang disebut dengan General Agreement on Trade in Services (GATS). Pada periode ini, GATS merupakan salah satu kesepakan perdagangan jasa Indonesia

selain AFAS Paket 1 – Paket 3 yang komitmennya hampir sama dengan

GATS. Namun demikian, FDI masuk ke wilayah timur Indonesia (tingkat keterbukaan hotel sebesar 100 persen) sudah mulai ada. Realisasi FDI di ini ditunjukkan pada Tabel 7.

Tabel 7. Realisasi FDI di Jasa Hotel dan Restoran di Wilayah dengan FEP 100 Persen Sebelum Penandatanganan RTA

dalam ribu USD

Sumber: BKPM (2015)

Realisasi FDI di jasa hotel dan restoran pada wilayah Indonesia dengan FEP 100 persen sebelum penandatanganan RTA hanya pada beberapa provinsi dan tahun tertentu. Realisasi FDI di propinsi NTT hanya pada tahun 1996, Sulawesi Utara (1998 dan 2001), Sulawesi Tengah

1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Nusa Tenggara Timur - 772 - - - - - - -

-Kalimantan Barat - - - - - - - - - -Kalimantan Tengah - - - - - - - - - -Kalimantan Timur - - - - - - - - - -Sulawesi Utara - - - 775 - - 273 - - -Sulawesi Selatan - - - - - - - - - -Sulawesi Tenggara - - - - - 527 - - - -Gorontalo - - - - - - - - - -Maluku - - - - - - - - - -Papua Barat - - - - - - - - - -Papua - - - - - - - - - -Total realisasi - 772 - 775 579.199 527 273 - -

-Puska KPI, BPPKP, Kementerian Perdagangan 23

(1999), dan Sulawesi Tenggara (2000). Rata-rata nilai realisasi FDI di daerah ini pada periode tersebut adalah di bawah USD 1 juta.

Setelah periode 2005 – 2014 (periode RTA), FDI di jasa Hotel dan

Restoran sudah mulai teralisasi pada setiap tahunnya (kecuali 2006). Rata-rata nilai realisasi FDI pada periode ini sebesar USD 7,62 juta. Nilai FDI tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar USD 26,65 juta. Tingginya realisasi FDI di tahun 2012 ini disebabkan karena tingginya realisasi FDI di provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Kondisi setelah disepakatinya beberapa RTA seperti AFAS 4 sampai AFAS 8 dan ASEAN+1 (AANZFTA, AKFTA, dan ACFTA) ditunjukkan pada Tabel 8. Tabel 8. Realisasi Moda 3 di Jasa Hotel dan Restoran di Wilayah

dengan FEP 100 Periode Setelah Penandatanganan RTA dalam ribu

USD

Sumber: BKPM (2015)

Berdasarkan Tabel 8, daerah yang menjadi tujuan FDI jasa hotel dan restoran pada daerah dengan keterbukaan 100 persen di jasa hotel berada di Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Daerah-daerah tersebut yaitu Sulawesi Utara dengan FDI jasa hotel dan restoran rata-rata sebesar USD 3,32 juta kemudian Sulawesi Selatan (USD 1,38 juta) dan Kalimantan Timur USD 898 ribu. FDI hotel dan restoran di daerah lainnya (tingkat keterbukaan jasa hotel 100 persen) rata-rata sebesar USD 283 ribu.

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Nusa Tenggara Timur - - - - 121 30 156 510 447 3.526

Kalimantan Barat - - - - 4.546 - - - 611 293 Kalimantan Tengah - - - - - 1.370 - - - -Kalimantan Timur - - - 1.522 - 250 250 6.961 - -Sulawesi Utara 12.050 - 8.333 - - 932 25 10.071 1.170 652 Sulawesi Tengah - - - - - 3 - - - -Sulawesi Selatan - - - 1.979 - 220 125 7.736 1 1.318 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - 1 -Gorontalo - - - - - - - - 3.479 1.235 Maluku - - - - - 700 733 - 500 -Papua Barat - - - - - 165 497 1.347 472 191 Papua - - - - 580 200 - 22 100 815 Total realisasi 12.050 - 8.333 3.501 5.247 3.870 1.786 26.647 6.780 8.029

Puska KPI, BPPKP, Kementerian Perdagangan 24

Daerah yang kurang diminati oleh investor asing untuk menanamkan FDI di jasa hotel dan restoran adalah Sulawesi Tenggara.

4.3.2 Realisasi FDI pada Provinsi-provinsi dengan Komitmen FEP 51 Persen

Provinsi-provinsi Indonesia yang dibuka dengan pembatasan kepemilikan modal asing sebesar maksimum 51 persen adalah provinsi-provinsi tujuan pariwisata utama di Indonesia. Provinsi-provinsi-provinsi tersebut adalah Bali, D.I. Yogyakarta, DKI. Jakarta, dan NTB. Walaupun dibatasi maksimum 51 persen, realisasi FDI di provinsi-provinsi ini pada periode yang sama (1995-2014) lebih besar dari provinsi-provinsi dengan keterbukaan 100 persen. Tercatat hanya provinsi Aceh, Riau, dan Sumatra Selatan yang tidak mempunyai realisasi FDI pada priode ini. Rata-rata realisasi FDI pada periode ini yaitu sebesar USD 139,21 juta. Provinsi dengan rata-rata realisasi FDI di jasa hotel dan restoran tertinggi pada periode ini adalah Provinsi DKI. Jakarta (USD 37,4 juta), kemudia Provinsi Kepulauan Riau (USD 36,7 juta) dan Provinsi Bali di urutan ke tiga dengan rata-rata realisasi sebesar USD 31,24 juta. Realisasi FDI di jasa hotel dan restoran pada provinsi-provinsi dengan komitmen FEP 51 persen periode 1995-2004 disajikan pada Tabel 9.

Puska KPI, BPPKP, Kementerian Perdagangan 25

Tabel 9. Realisasi FDI di Jasa Hotel dan Restoran di Wilayah dengan FEP 51 Persen Sebelum Penandatanganan RTA

dalam ribu USD Sumber: BKPM (2015) Realisasi FDI jasa hotel dan restoran pada provinsi dengan FEP 51 persen pada periode 2005-2014 atau setelah penantangan beberapa RTA meningkat 126 persen dari periode sebelumnya (1995-2004) menjadi rata-rata USD 315,13 juta. Realiasi tertinggi terjadi pada tahun 2012 mencapai USD 741,51 juta yang disebabkan oleh tinggi ralisasi FDI jasa hotel dan restoran yang mencapai USD 380,94 juta. Kontribusi propinsi bali pada tahun 2012 sebesar 51,37 persen. Bali juga menjadi provinsi dengan rata-rata nilai FDI jasa hotel dan restoran pada periode ini. Realisasi rata-rata-rata-rata Provinsi Bali sebesar USD 148,95 juta, kemudian provinsi DKI. Jakarta (USD 76 juta) di urutan kedua dan kepulan Riau (USD 21,7 juta) diuratann ketiga. Realisasi FDI tersebut disajikan pada Tabel 10. 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Aceh - - - - - - - - - -Sumatera Utara - - - 7.495 - - - - - 1 Sumatera Barat - - - - - 570 - - - -Riau - - - - - - - - - -Sumatera Selatan - - - - - - - - - -Lampung - - - 53 - - - - - -Kepulauan Riau 61.083 - 71.417 101 4.815 221.054 8.535 - - -DKI. Jakarta - 107.293 - 2.167 30.381 137.883 - 14.200 78.816 3.566 Jawa Barat - 400 - 77.006 - - - - - -Jawa Tengah - - - 213 17.108 - 2.127 - - -D.I. Yogyakarta 500 45.600 - 53 - 4.070 - - - -Jawa Timur - 113.467 - 373 - - - - - -Banten 41.522 - - - - - - - - -Bali 5.500 213.859 10 11.965 15.237 37.360 24.536 1.939 968 1.047 Nusa Tenggara Barat - - 4.226 21.050 - - - 1.977 544

Puska KPI, BPPKP, Kementerian Perdagangan 26

Tabel 10. Realisasi FDI di Jasa Hotel dan Restoran di Wilayah dengan FEP 51 Persen Setelah Penandatanganan RTA

dalam ribu USD

Sumber: BKPM (2015)

4.4 Analisis Hubungan FDI dengan Kedatangan Wisatawan Asing

Dokumen terkait