BAB III: METODE PENELITIAN
B. Refleksi Pemahaman Jihad Pelaku Teror
5. Analisis Refleksi Jihad pada Keseluruhan Informan
Hal yang terjadi pada kesemua informan, baik pada AI, JL, YS, maupun UP adalah [REFLEKSI] pemahaman jihad yang selama ini pernah mereka yakini. Mereka dahulu meyakini bahwa jihad offensive dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun (dikenal dengan istilah jihad global). Namun saat ini keseluruhan informan menyatakan bahwa tidak ada jihad global.
Jihad hanya dapat dilakukan di negara konflik seperti di Afghanistan, Palestina, maupun Suriah. [REFLEKSI] tersebut lahir karena informan menyadari bahwa lebih banyak madhorot yang didapat ketika harus melakukan aksi jihad dengan cara kekerasan di wilayah damai seperti Indonesia. Madhorot tersebut diantaranya: jatuhnya korban yang tidak berdosa, dikucilkan dari lingkungan masyarakat, dan menyakiti hati keluarga.
Kesemua informan yang pada awalnya berpikir secara heuristic, akhirnya dapat berpikir lebih sistematis. Heuristic pada awalnya membuat mereka mengaplikasikan sejumlah informasi dengan jalan pintas untuk membuat keputusan yang dirasa masuk akal dengan upaya kognitif yang minimal dalam segala aspek kehidupan (Chaiken; S. Ledgerwood; A., 2012). Mereka berpikir bahwa penderitaan saudara seiman mereka di Palestina, Rohingya, dan negara-negara lain harus dibalas dengan cara yang sama di bumi Indonesia, salah satunya dengan melakukan aksi pengeboman dan penyerangan pada non muslim di tempat-tempat publik.
Perhitungan yang mereka lakukan terlalu over generalisasi. Mereka kurang memikirkan konsekuensi yang dapat terjadi dari aksi penyerangan yang dilakukan tersebut. Dash et.al. (2013) mengungkapkan bahwa orang yang berpikir heuristic cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri berlebihan
93
dan over estimasi terhadap frekuensi peristiwa. Akhirnya pengambilan keputusan secara heuristic ini mengantarkan mereka ke lembaga pemasyarakatan.
[REFLEKSI] aksi teror semakin intens dilakukan keseluruhan informan di lembaga pemasyarakatan. “Kan saya itu berprinsip seperti ini yah, ketika kami ditangkap berarti kekalahan. Ketika kekalahan pasti jihad itu ada kesalahan, itu prinsip saya” (D1-A1-116:106061-106502). AI merasa kekalahannya dalam berjihad merupakan indikasi bahwa terdapat kesalahan dalam jihadnya tersebut, yaitu melakukan jihad ini di wilayah damai dan pada akhirnya banyak orang yang tak berdosa menjadi korban bom. Sedikit berbeda dengan JL yang masih tergolong junior di kelompok teror. JL mendapatkan penguat dari mentor atau seniornya di lembaga pemasyarakatan
“Sebenarnya kita kan masuk penjara, kumpul dengan orang-orang yang lebih dulu lah. Senior lah. Kumpul misalnya ketemu ustad-ustad yang lebih dulu Yang dari JI ada Abu Tholud ada (membantu refleksi jihad global menjadi jihad defensive)” (D2-JL-39:1030-1037)
Menutut YS, syariat jihad yang mulia seharusnya tidak perlu menjadikan seorang muslim berbohong terutama ke keluarga dan orang terdekat. Jihad yang mulia juga tidak seharusnya menjadikan keluarga semakin menderita. Hal inilah yang menjadi bahan evaluasi YS untuk meninggalkan paham dan aksi yang selama ini diyakininya sebagai jihad.,
“Mungkin secara history karena itu bohongan. Ngga cocok neng aku. Ibuk takon bohong.. Ngga ada yang jujur memang. Ya jujur gimana… Wooo jujur pie? Gaiso!”
Berdasarkan hasil temuan ini, hal yang patut menjadi perhatian bersama, terutama bagi pemerintah dan pemangku kebijakan, terkait penuturan informan yang menyatakan bahwa saat ini JI ibarat macan yang sedang tidur dan mungkin akan bangun untuk melakukan mengkonfrontasi pada pemerintahan yang sah (D1-AI-49:20964-21299; 35-16451-16690;
150:133143-133686; D4:YS:85:107144-107551; D1-AI-148:131735-132195). Isu-isu politik seperti diksriminasi pada ulama menjadi topik
94
sensitif yang dapat membangunkan macan tidur tersebut. Kondisi sosial-politik perlu dijaga untuk mencegah hal tersebut terjadi.
Hal ini diperparah dengan hasil temuan yang membuktikan bahwa kesemua informan menyatakan bahwa jihad tetaplah hanya dapat dilakukan dengan perang (hanya terjadi pergeseran pemahaman terkait lokasi jihad). Bagi mereka, Islam hanya dapat ditegakkan dengan jihad dan pedang. Terlebih penuturan JL yang menganggap i’dad (persiapan perang) masih perlu dilakukan saat ini untuk berjaga-jaga (D2-JL-45:81768-81990). Hal ini sangat riskan dalam upaya deradikalisasi pelaku teror.
Temuan ini sejalan dengan pendapat Saloom (2015) bahwa pelaku teror menganggap bahwa ketika mereka menolak atau menegasikan jihad dengan cara berperang, berarti keluar dari Islam karena Rasulullahﷺ dan para sahabat dapat menjadikan Islam berjaya dengan perang.
Saat ini pemahaman jihad defensive yang diyakini kesemua informan menjadi nilai plus dalam upaya reintegrasi mereka. Terlebih adanya konflik intern dengan ingroup misalnya seperti penuturan AI dan YS yang menyatakan bahwa kelompok mereka (JI) dan ISIS merupakan kelompok yang berbeda dan tidak dapat bersatu (D1-AI-165:144225-144759; D4-YS-51:72905-73057; D2-JL-39:57472-57767l; D2-JL-39:57472-57767).
Ini menjadi hal yang perlu digarap bersama oleh pemerintah dan pemangku kebijakan agar mantan pelaku teror semakin jauh dengan ingroupnya. Semakin jauh mantan pelaku teror dengan kelompok lama (ingroup), maka semakin mudah mereka terderadikalisasi (Disley, Week, Reding, Clutterbuck, & Warnes, 2012).
95 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini tidak dibuat untuk generalisasi hasil penelitian, sehingga kesimpulan yang didapatkan dalam penelitian ini hanya berlaku bagi infoman dan kelompok sosial yang mereka sebutkan. Keterbatasan penggunaan istilah dalam penelitian ini seperti penggunaan istilah jihad, i’dad, amaliyah, dan ikhwan tidak dapat ditarik menjadi makna umum di kalangan kaum muslimin, dengan kata lain hanya terbatas untuk kelompok mereka saja. Hal yang perlu ditekankan adalah penggunaan istilah jihad dalam penelitian ini tidak berarti membuat istilah jihad identik dengan aksi teror. Pemahaman jihad pelaku teror tidak mewakili pemahaman jihad pada mayoritas kaum muslimin, khususnya di Indonesia. Para informan memiliki alasan spesifik ketika menggunakan metode teror dalam memperjuangkan ideologi mereka dan hal tersebut tidak dapat digeneralisasikan sebagai metode yang umumnya digunakan oleh mayoritas kelompok Islam.
Fokus kajian dalam penelitian ini adalah pemahaman tafsir dan refleksi pelaku atas aksi teror yang mereka lakukan. Refleksi mulai terjadi terutama saat informan berada di lembaga pemasyarakatan. Mereka tidak lagi meyakini jihad global (jihad yang dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun). Saat ini, bagi mereka walaupun jihad hanya terbatas dapat dilakukan di wilayah konflik (jihad hanya dapat dilakukan di medan perang, tidak meyakini definisi jihad dengan cara lain seperti bekerja), tetapi tidak ada niatan untuk kembali melakukan aksi tersebut, terutama di wilayah damai seperti Indonesia. Mereka lebih memilih jalan dakwah dalam memperjuangkan ideologi. Selain itu, saat ini keseluruhan informan hanya ingi berfokus untuk memperbaiki hubungan mereka dengan keluarga. Menjalin kontak kembali dengan keluarga dianggap sebagai upaya menebus kesalahan di masa lalu. Peneliti berharap, mereka tetap dapat konsisten menapaki jalan dakwah dan meninggalkan cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan ideologi.
96 B. Saran
Saran dalam penelitian ini dibuat berdasarkan hasil temuan di lapangan.
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi para akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan terkait dalam upaya reintegrasi pelaku teror.
1. Peneliti selanjutnya
Penelitian hanya dilakukan pada empat orang infomananya terdapat dua ragam informan dalam penelitian ini, yaitu teroris yang pernah menjadi mantan kombatan dan memperoleh pendidikan militer di Afghanistan (AI dan UP) dan MILF Filipina (YS) serta informan yang masih dikategorikan junior di dalam kelompok (JL). Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah keragaman informan agar data yang diperoleh lebih kaya. Selain itu, karena keterbatasan waktu, triangulasi tidak begitu nampak dilakukan dalam penelitian ini. Peneliti tidak dapat melakukan konfirmasi data pada significant others dari informan utama. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggali informasi pada significant others agar data lebih kaya dan mendalam. Keragaman data juga dapat diperoleh peneliti selanjutnya dengan melihat pemahaman tafsir kelompok Islam garis keras yang dianggap berpotensi melakukan aksi radikal.
2. Pemerintah
Pemerintah diharapkan untuk tetap menjaga suasana politik tetap terkendali agar hal yang dikhawatirkan oleh informan (oknum JI dianggap sebagai macan tidur) tidak benar-benar terjadi. Hal ini akan menjadi masalah karena Sebagian oknum JI pernah mendapatkan pelatihan militer dan cara merakit bom di Afghanistan dan MILF Filipina. Jika suasana sosial, ekonomi, dan politik Indonesia dirasa tidak kondusif dan banyak mendeskriminasi kaum muslimin, maka bukan tidak mungkin akan terjadi aksi terorisme dari sempalan JI. Selain itu, diharapkan pemerintah dapat membuat kebijakan dalam upaya reintegrasi pemahaman teroris mejadi lebih moderat.
Pembuatan kebijakan ini tentunya harus dengan tetap melihat karakteristik
97
dan kondisi sosial-budaya masyarakat Indonesia agar hasil yang diperoleh dapat diaplikasikan secara efektif untuk narapidana dan mantan narapidana terorisme di Indonesia.
98