• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Hasil Penelitian

3. Analisis Regresi

Berdasarkan hasil pengujian asumsi klasik disimpulkan bahwa model regresi yang dipakai dalam penelitian ini telah memenuhi model estimasi yang

Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) dan layak dilakukan analisis regresi.

Untuk menguji hipotesis, peneliti menggunakan analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan program SPSS 18, maka diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Persamaan Regresi

Dalam pengolahan data dengan menggunakan regresi linier, dilakukan beberapa tahapan untuk mencari hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, melalui pengaruh AKO, AKI, AKP, dan EPS terhadap HS. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan program SPSS Versi 18, maka diperoleh hasil sebagai berikut

Tabel 4.5 Hasil Analisis Regresi

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 280.127 55.396 5.057 .000 AKO 1.078 .906 .214 1.189 .240 AKI 1.471 1.163 .359 1.265 .212 AKP .987 .755 .400 1.307 .197 EPS 2.955 1.450 .298 2.038 .047

a. Dependent Variable: Harga_Saham Sumber: data diolah oleh penulis, 2010

Berdasarkan tabel diatas didapatlah persamaan regresi sebagai berikut HS = 280.127+1,078 AKO+1,4171AKI+0,987AKP+2,955EPS+µ Keterangan:

1) konstanta sebesar 280.127 menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel independen (X1 = 0, X2 = 0, X3 = 0, dan X4=0) maka harga saham sebesar 280.127,

2) β1 sebesar 1,078 menunjukkan bahwa setiap kenaikan arus kas dari aktivitas

operasi sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan harga saham sebesar 1,078 dengan asumsi variabel lain tetap,

3) β2 sebesar 1,4171 menunjukkan bahwa setiap kenaikan arus kas dari aktivitas

investasi sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan harga saham sebesar 1,4171 dengan asumsi variabel lain tetap,

4) β3 sebesar 0,987 menunjukkan bahwa setiap kenaikan arus kas dari aktivitas

pendanaan sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan harga saham sebesar 0,987 dengan asumsi variabel lain tetap,

5) β4 sebesar 2,955 menunjukkan bahwa setiap kenaikan earning per share

sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan harga saham sebesar 2,955 dengan asumsi variabel lain tetap,

b. Analisis koefisien determinasi

Nilai koefisien korelasi (R) menunjukkan seberapa besar korelasi atau hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel dependen. Koefisien korelasi dikatakan kuat apabila data nilai R berada diantara 0,5 dan mendekati 1. koefisien determinasi (R Square) menunjukkan seberapa besar

variabel independen menjelaskan variabel dependennya. Nilai R Square adalah 0 sampai dengan 1. Apabila nilai R Square semakin mendekati 1, maka variabel-variabel independen mendekati semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Sebaliknya, semakin kecil nilai R Square maka kemampuan variabel-variabel independen untuk menjelaskan variasi variabel dependen semakin terbatas. Nilai R Square memiliki kelemahan yaitu nilai R Square akan meningkat setiap ada penambahan satu variabel dependen meskipun variabel independen tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Tabel 4.6 Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .370a .137 .067 295.30053

a. Predictors: (Constant), TK, DAR, LOG_SIZE, NPM b. Dependent Variable: VD

Sumber : data diolah oleh penulis, 2010

Model Summary pada tabel diatas menunjukkan nilai koefisien (r) sebesar 0,370 yang berarti bahwa korelasi atau hubungan antara harga saham (HS) dengan variabel independennya (AKO, AKI, AKP, dan EPS) lemah karena kurang dari 0,5. Angka adjusted R Square atau koefisien determinasi adalah 0,067. Hal ini berarti 6,7% variasi atau perubahan dalam harga saham dapat dijelaskan oleh variasi dari arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, arus kas dari aktivitas pendanaan dan earning per share (EPS), sedangkan sisanya (93,3 %) dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Standar Error of Estimate (SEE) adalah 295,30053, yang mana

semakin besar SEE akan membuat model regresi kurang tepat dalam memprediksi variabel dependen.

c. Pengujian hipotesis

Untuk mengetahui apakah variabel independen dalam model regresi berpengaruh terhadap variabel dependen, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji t (t test) dan uji F (F test).

1. Uji t (t-test)

Uji t digunakan untuk menguji signifikansi konstanta dan setiap variabel independennya. Berdasarkan hasil pengolahan SPSS versi 18, diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 4.7 Hasil Uji t Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 280.127 55.396 5.057 .000 AKO 1.078 .906 .214 1.189 .240 AKI 1.471 1.163 .359 1.265 .212 AKP .987 .755 .400 1.307 .197 EPS 2.955 1.450 .298 2.038 .047

a. Dependent Variable: Harga_Saham Sumber : diolah oleh penulis, 2010

Dari tabel regresi dapat dilihat besarnya thitung untuk variabel arus kas dari aktivitas operasi sebesar 1,189 dengan nilai signifikan 0,240, sedangkan ttabel adalah 2,01, sehingga thitung < ttabel (1,189 < 2,01), maka arus kas dari aktivitas investasi secara individual tidak mempengaruhi harga saham. Signifikansi penelitian juga menunjukkan angka > 0,05 (0,240 > 0,05), maka H0 diterima dan

Ha ditolak, artinya arus kas dari aktivitas operasi tidak berpengaruh signifikan positif terhadap harga saham.

Arus kas dari aktivitas investasi memiliki thitung sebesar 1,265 dengan nilai signifikan 0,212, sedangkan ttabel adalah 2,01, sehingga thitung < ttabel (1,265 < 2,01), maka arus kas dari aktivitas investasi secara individual tidak mempengaruhi harga saham. Signifikansi penelitian juga menunjukkan angka > 0,05 ((0,212 > 0,05), maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya arus kas investasi tidak berpengaruh terhadap harga saham.

Arus kas dari aktivitas pendanaan menunjukkan besarnya thitung untuk variabel arus kas dari aktivitas pendanaan sebesar 1,307 sedangkan ttabel adalah 2,01, sehingga thitung < ttabel (1,307 < 2,01), maka arus kas dari aktivitas pendanaan tidak berpengaruh terhadap harga saham secara individual. Signifikansi 0,197 menyimpulkan bahwa sig penelitian >0,05 (0,197 > 0,05), maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya arus kas dari aktivitas pendanaan tidak berpengaruh terhadap harga saham.

Tabel diatas juga menunjukkan besarnya thitung untuk variabel earning

per share sebesar 2,038 dengan nilai signifikan 0,047, sedangkan ttabel adalah

2,01, sehingga thitung > ttabel (2,038 > 2,01), maka earning per share secara individual mempengaruhi harga saham. Signifikansi penelitian juga menunjukkan angka <0,05 (0,047 < 0,05), maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya laba akuntansi berpengaruh signifikan positif terhadap harga saham.

2. Uji F (F-test)

Untuk melihat pengaruh arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, arus kas dari aktivitas pendanaan, dan earning per share

terhadap harga saham secara simultan dapat dihitung dengan menggunakan F test. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan program SPSS 18, maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.8 Hasil Uji F ANOVAb Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 678274.208 4 169568.552 1.945 .118a Residual 4272917.792 49 87202.404 Total 4951192.000 53 a. Predictors: (Constant), EPS, AKP, AKO, AKI b. Dependent Variable: Harga_Saham

Sumber : data diolah oleh peneliti, 2010

Dari uji ANOVA atau F test, diperoleh Fhitung sebesar 1,945 dengan tingkat signifikansi 0,118, sedangkan Ftabel sebesar 2,79 dengan signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, arus kas dari aktivitas pendanaan, dan

earning per share secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap harga

saham karena Fhitung < Ftabel (1,945 < 2,79) dan sig penelitian > 0,05 (0,118 > 0,05).

Dokumen terkait