ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Regresi Berganda
1.Uji Asumsi Klasik
a. Uji Multikolinearitas
Untuk menguji ada atau tidaknya multikolinearitas dalam model regresi dapat dilihat dari nilai tolerancedan lawannya yaitu VIF. Jika nilai toleranceyang rendah sama dengan VIF yang tinggi menunjukkan adanya kolinearitas tinggi. Nilai cut-off yang umum dipakai untuk menjelaskan adanya multikolinearitas adalah nilai
tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF < 10. Hasil nilai Variance Inflation Factor (VIF) dengan menggunakan SPSS yaitu
untuk variabel lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik yaitu sebesar 1,154.
Tabel V.9 Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standard ized Coefficie nts T Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) ,868 ,311 2,787 ,00 7 Ling. Kerja Fisik ,357 ,080 ,417 4,449 ,00 0 ,867 1,154 Ling. Kerja Non Fisik ,375 ,088 ,398 4,251 ,00 0 ,867 1,154
Dengan nilai VIF kurang dari 10 yaitu 1,154 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,1 yaitu 0,867, maka dapat dikatakan bahwa model regresi penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas.
a. Uji Heterokedastisitas
Uji Heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu analisis regresi tejadi ketidaksamaan varians dari residual, dari satu pengamatan ke pengamatan lain. Untuk mendeteksi heterokedastisitas, dapat dilihat pada grafik scatterplot diagram, dengan dasar mengambil keputusan adalah sebagai berikut:
Apabila sebaran data berpencar di sekitar angka 0 (nol) pada sumbu Y, baik di atas maupun di bawah, maka tidak terjadi heterokedastisitas.
Apabila sebaran tersebut membentuk pola atau trend garis tertentu maka telah terjadi heterokedastisitas.
Berikut ini adalah tabel hasil pengujian heterokedastisitas dapat dilihat di bawah ini:
Gambar V.1
Hasil Uji Heterokedastisitas
Dari gambar diatas, terlihat bahwa titik-titik menyebar disekitar angka 0 pada sumbu Y. Sesuai ketentuan diatas, bahwa apabila sebaran data berpencar di sekitar angka 0 (nol) pada sumbu Y, baik diatas maupun di bawah, maka tidak terjadi heterokedastisitas. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak terjadi gejala heterokedastisitas.
b. Uji Autokorelasi
Metode pengujian yang dilakukan untuk menguji autokorelasi adalah uji Durbin-Watson (DW test). Cara ini untuk menguji adanya autokorelasi adalah dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Pengambilan keputusan pada uji Durbin Watson adalah:
DU<dw<4-DU maka Ho diterima, artinya tidak terjadi
autokorelasi
DW<DL atau DW>4-DL maka Ho ditolak, artinya terjadi autokorelasi
DW<DW<DU atau 4-DU<DW<4-DL, artinya tidak ada kepastian atau kesimpulan yang pasti.
Tabel V.10
Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,673 ,453 ,438 ,23537 2,251
Dari hasil uji Autokorelasi terdapat nilai Durbin-Watson yaitu sebesar 2,251. Untuk mencari nilai DL dan DU lihat di tabel statistik Durbin-Watson. Dengan n = 75, k = 3 di dapat nilai DL = 1,5432 dan nilai DU = 1,7092. Jadi nilai 4-DL = 2,4568 dan nilai 4-DU = 2,2908.
Jadi dapat disimpulkan dalam model regresi tersebut tidak terjadi Autokorelasi.
c. Uji Normalitas
Dalam menguji normalitas, digunakan uji One Sample
Kolomogorov Smirnov, dalam hal ini untuk mengetahui apakah
residual terdistribusi normal, jika nilai signifikasi lebih dari 0,05. Berikut ini adalah tabel hasil pengujian normalitas, dapat dilihat di bawah ini:
Tabel V.11 Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 75
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation ,23216909 Most Extreme Differences Absolute ,135 Positive ,065 Negative -,135 Kolmogorov-Smirnov Z 1,168
Asymp. Sig. (2-tailed) ,131
a. Test distribution is Normal b. Calculated from data
Dapat dilihat dalam uji normalitas diatas dengan One Sample
Kolmogorov-Smirnov Test,didapatkan nilai signifikansi
(asyimp.Sig 2-tailed) sebesar 0,131. Karena nilai signifikansi lebih dari 0,05
(0,131 > 0,05), maka nilai residual tersebut telah normal.
2. Membuat Persamaan Regresi
Untuk menguji hipotesis atau menjawab rumusan masalah yaitu Apakah persepsi pegawai pada lingkungan fisik dan non fisik berpengaruh terhadap semangat kerja pegawai, baik secara simultan maupun secara parsial. Hasil analisis regresi linier berganda dapat di tunjukkan pada tabel di bawah ini:
Tabel V.12
Hasil Regresi Linier Berganda
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,868 ,311 2,787 ,007 Ling.Kerja Fisik ,357 ,080 ,417 4,449 ,000 Ling. Kerja non fisik ,375 ,088 ,398 4,251 ,000
a. Dependent Variable: Semangat Kerja
Dari hasil uji regresi linier berganda diatas, di dapat koefisien regresi yang dapat dibuat persamaan regresi berikut:
Y = 0,868 + 0,357X1 + 0,375 X2
3. Uji Hipotesis dan Koefisien a. Uji F (simultan) Tabel V.13 ANOVA Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 3,302 2 1,651 29,805 ,000 Residual 3,989 72 ,055 Total 7,291 74
Dependent Variable: Semangat Kerja
Melakukan uji signifikansi dengan menggunkan uji F dimana taraf signifikansi ( ) 5%, dan derajat kebebasan (df) n-3. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai sebesar 29,805 dan sebesar
3,13 yang berarti nilai > . Ini dapat diartikan bahwa hipotesis nol ( ) ditolak dan ( ) diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persepsi pegawai pada lingkungan kerja secara simultan berpengaruh terhadap semangat kerja pegawai.
b. Uji t (parsial) Tabel V.14 Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,868 ,311 2,787 ,007 Ling.Kerja Fisik ,357 ,080 ,417 4,449 ,000 Ling. Kerja non fisik ,375 ,088 ,398 4,251 ,000
Dependent Variable: Semangat Kerja
Langkah-langkah pengujian hipotesis t adalah sebagai berikut:
Rumusan hipotesis:
Ho : ; = 0, Persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik dan non fisik tidak berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja pegawai.
Ha : ; ≠ 0, Persepsi pegawai pada lingkungan kerja
fisik dan non fisik berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja pegawai.
Menentukan taraf signifikansi
Probabilitas keyakinan yang digunakan adalah sebesar α =
5%
Menghitung Nilai dengan menggunakan rumus:
Nilai untuk persepsi pegawai pada lingkungan kerja
fisik adalah 4,449 dan nilai untuk persepsi pegawai
pada lingkungan kerja non fisik adalah 4,251.
Pengambilan Keputusan
Ho diterima apabila ≤
Ho ditolak apabila >
Kesimpulan
Jika Ho diterima berarti persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik dan non fisik tidak berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja pegawai.
Jika Ho ditolak berarti persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik dan non fisik berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja pegawai.
Dapat di ketahui bahwa persepsi pegawai pada
lingkungan kerja fisik dan non fisik sebesar 4,449 dan 4,251 > sebesar 1,993 jadi Ho di tolak, kesimpulannya yaitu
persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik dan non fisik berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja pegawai. Koefisien Determinasi Tabel V.15 Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,673 ,453 ,438 ,23537
Predictors: (Constant), Ling Kerja Non Fisik, Ling Kerja Fisik
Pada tabel V.14 terdapat nilai sebesar 0,453. Artinya variabel persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik (X1) dan persepsi pegawai pada lingkungan kerja non fisik (X2) mampu menjelaskan 45,3% variasi yang ada pada semangat kerja (Y) atau semangat kerja karyawan 45,3% dipengaruhi oleh variabel X1 dan X2. Sisanya yaitu 54,7% di pengaruhi oleh faktor lain.
D. Pembahasan
1. Pembahasan Deskripsi Variabel
a. Persepsi Pegawai Pada Lingkungan Kerja Fisik
Persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik berada pada kategori sangat baik, karena nilai rata- rata yang diperoleh dari rata-rata skor total persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik sebesar 3,33. Aspek yang paling tinggi yaitu pada aspek saranadan prasarana dengan rata-rata skor 3,52 dengan pernyataan di kuesioner Organisasi menyediakan sarana dan prasarana yang cukup dalam mendukung penyelesaian pekerjaan anda.
b. Persepsi Pegawai Pada Lingkungan Kerja Non Fisik
Persepsi pegawai pada lingkungan kerja non fisik berada dalam kategori baik, karena diperoleh rata-rata total skor persepsi pegawai pada lingkungan kerja non fisik sebesar 3,19. Terdapat aspek yang paling tinggi yaitu pada aspek hubungan pegawai dengan rekan kerja, dengan rata-rata skor 3,22.
c. Semangat Kerja
Semangat kerja pegawai berada pada kategori tinggi, karena diperoleh rata-rata total skor semangat kerja pegawai sebesar 3,25. Aspek yang paling tinggi yaitu aspek disiplin kerja, dengan rata-rata skor 3,36. Artinya pegawai di Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah mempunyai jiwa disiplin tinggi.
2. Pembahasan Hasil Analisis Pengujian Hipotesis
Hasil analisis uji F diperoleh angka X1dan X2 sebesar nilai
29,805 > 3,13 dengan uji signifikansi menggunakan uji F dimana taraf signifikansi (α) 5% ini berarti bahwa Ho ditolak Ha diterima.
Kemudian dapat disimpulkan bahwa kedua variabel bebas X1 (persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik) dan X2 (persepsi pegawai pada lingkungan kerja non fisik) berpengaruh secara simultan terhadap Y (semangat kerja pegawai). Pada variabel persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik dan non fisik mampu menjelaskan 45,3% variasi yang ada pada semangat kerja pegawai atau semangat kerja pegawai 45,3% dipengaruhi oleh variabel persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik dan non fisik menurut perhitungan koefisien determinasi.
Adanya pengaruh yang sangat kuat persepsi pengawai pada lingkungan kerja fisik dan non fisik terhadap semangat kerja pegawai akan mendorong pegawai untuk lebih giat lagi dalam bekerja. Instansi harus meningkatkan keadaan lingkungan kerja fisik dan non fisik menjadi lebih nyaman dan lebih baik lagi, Karena semakin baik persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik dan non fisik maka akan semakin tinggi pula semangat kerja pegawai di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Pematangsiantar.
Hasil anaslisis uji t diperoleh bahwa variabel bebas persepsi pegawai pada lingkungan kerja fisik (X1) dan persepsi pegawai pada
lingkungan kerja non fisik (X2) berpengaruh pada semangat kerja pegawai (Y) baik secara parsial maupun simultan.
Kemudian dari kedua variabel lingkungan kerja fisik dan non fisik, yang paling besar pengaruhnya terhadap semangat kerja yaitu lingkungan kerja fisik. Apabila instansi ingin meningkatkan semangat kerja pegawai, perusahaan harus mempertahankan atau membuat persepsi pegawai terhadap lingkungan kerja fisik dan non fisik lebih baik lagi.
BAB VI