• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Regresi Berganda Faktor-faktor Yang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2.4. Analisis Regresi Berganda Faktor-faktor Yang

Analisis Regresi Berganda digunakan untuk mengetahui faktor -faktor yang

berpengaruh terhadap pendapatan yang dihasilkan dari penggunaan lahan untuk

usahatani kentang. Variabel yang digunakan dalam analisis regresi berganda ini

adalah seluruh input (variabel bebas) dan output (variabel terikat) usahatani

kentang. Variabel bebas yang digunakan meliputi bibit kentang, pupuk, pestisida,

tenaga kerja, sewa lahan, dan alat-alat produksi, sedangkan variabel terikat yang

Untuk mengetahui faktor -faktor yang mempengaruhi pendapatan peta ni

dalam usaha tani kentang, selanjutnya dilakukan analisis regresi berganda dengan

menggunakan metode forward stepwise. Analisis ini bertujuan untuk menentukan

model persamaan yang menjelaskan hubungan antara input yang digunakan dalam

kegiatan usahatani sebagai variabe l penjelas dengan pendapatan petani sebagai

variabel yang diduga. Variabel penduga yang digunakan dalam analisis multiple

regression ini antara lain: Pajak lahan (F1), angkut panen (F2), Pupuk kandang

(F3), KCl (F4), TSP (F5), Benih kentang (F6), susut sprayer (F7), dan luas tanam

(F8). Hasil analisis regresi berganda dari faktor -faktor yang mempengaruhi

produksi disajikan pada Tabel 4.

Dari analisis regresi berganda menunjukkan bahwa terdapat lima variabel

penduga yang berpengaruh nyata terhadap respon (pendapatan petani) pada taraf

nyata á sebesar 0,05. Variabel-variabel yang dimaksud adalah pajak lahan, biaya

angkut panen, pupuk kandang, TSP dan benih kentang. Variabel-variabel tersebut

berpengaruh nyata terhadap respon karena memiliki nilai p-level kurang dari nilai

taraf nyata (á = 0,05), sedangkan untuk F4, dan F8, variabel tersebut tidak

berpengaruh nyata terhadap respon karena nilai p-level yang dimilikinya kurang

Tabel 4. Hasil analisis regresi berganda faktor-faktor yang mempengaruhi

pendapatan

Beta Std.Err. B Std.Err. t(5) p-level

Intercept -771801 2835206 -0.27222 0.796336 Pajak lahan (Rp/ha) 0.554906 0.090076 3 0 6.16040 0.001640 angkut panen (rp/kg) 0.786102 0.079923 27 3 9.83569 0.000185 Pupuk kandang (krg) 0.812199 0.110020 8 1 7.38228 0.000717 KCl (kg) 0.099145 0.091070 8 7 1.08867 0.325966 TSP (kg) -0.489970 0.122239 -18 5 -4.00830 0.010239 Benih kentang (rp/Ha) -0.248831 0.086607 0 0 -2.87312 0.034867 susut sprayer 0.239442 0.102044 25 10 2.34645 0.065850 Luas tanam (ha) -0.093407 0.089383 -1934976 1851617 -1.04502 0.343881

Keterangan: R²= ,97935852 Std.Error of estimate: 2482E3

Huruf yang dicetak tebal berarti berbeda nyata pada taraf nyata 0,05

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa nilai R2 yang diperoleh adalah

sebesar 0,97935852. Hal ini dapat diartikan bahwa model persamaan tersebut

mampu menjelaskan keragaman data sebesar 97,94%. Dengan demikian,

persamaan yang dihasilkan dari analisis regresi berganda adalah sebagai berikut:

Y = 0.554906F1 + 0.786102F2 + 0.812199F3 + 0.099145F4 – 0.489970F5 – 0.248831+ 0.239442F7 - 0.093407F8

Dengan:

Y = Produksi kentang (Rp/Kg)

F1 = Pajak lahan (Rp/Ha)

F2 = Angkut panen (Rp/Kg)

F3 = Pupuk kandang (karung)

F4 = KCl (Kg)

F5 = TSP (Kg)

F7 = Susut sprayer ( Rp)

F8 = Luas tanam (Ha)

Pajak lahan

Pajak lahan dibayar oleh petani setiap tahun. Besarnya pajak lahan yang

dibayar oleh petani besarnya berbeda -beda tergantung dari letak lahan yang

dimiliki. Pajak lahan akan semakin mahal dengan semakin dekatnya jarak lahan

dengan jalan. Pajak lahan berpengaruh nyata terhadap produksi kentang karena

memiliki nilai p-level kurang dari 0,05. Koefisien regresi dari variabel ini adalah

0,554906 yang berarti bahwa setiap penambahan satu satuan pajak lahan akan

meningkatkan produksi sebesar 0,554906 satuan. Sehingga, penambahan pajak

lahan akan mendorong petani untuk meningkatkan pendapatan agar dapat

menutupi biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar pajak lahan. Dengan

demikian, penambahan pajak lahan akan menyebabkan penambahan produksi atau

pendapatan.

Biaya angkut panen

Nilai p-level regresi dari angkut panen adalah sebesar 0,000185 sehingga

variabel ini berpengaruh nyata terhadap produksi. Nilai koefisien regresi dari

variabel angkut panen adalah sebesar 0,786102, se hingga setiap penambahan satu

satuan dari biaya angkut panen akan meningkatkan produksi sebesar 0,786102

satuan. Biaya angkut panen termasuk ke dalam biaya input yang harus

dikeluarkan petani setelah panen. Petani menjual hasil panennya langsung ke

pedagang pengumpul di pasar dengan menyewa kendaraan. Biaya angkut panen

untuk sekali angkut biasanya 100 kg. Lebih sedikitnya jumlah kentang yang

diangkut dalam satu rit tidak akan mengurangi biaya angkut panen yang harus

dibayar petani. Dengan demikian, untuk mengurangi biaya angkut panen maka

petani akan berusaha untuk mengoptimalkan jumlah kentang yang diangkut

dengan cara menambah jumlah produksi kentang.

Pupuk kandang

Pupuk kandang dipakai oleh petani untuk menambah kesuburan tanah.

Pupuk kandang yang diberikan petani berfungsi untuk menambah hara,

memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation, menambah

kemampuan tanah menahan air, dan meningkatkan kegiatan biologi tanah

(Hardjowigeno, 2003). Pupuk kandang yang dipakai oleh petani adalah pupuk

kandang yang berasal dari kotoran ayam karena mudah didapat. Selain mudah

didapat, kotoran ayam memiliki kandungan unsur hara lebih besar daripada pupuk

kandang yang lain (Hardjowigeno, 2003).

Pemberian puuk kandang dilakukan sekali yaitu pada saat pengolahan

tanah dengan cara disebarkan. Nilai p -level untuk variabel pupuk kandang adalah

sebesar 0,000717 yang membuat variabel ini memiliki pengaruh yang nyata

terhadap produksi kentang, sedangkan nilai koefisien regresi dari variabel pupuk

kandang adalah 0,812199. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap penambahan satu

satuan pupuk kandang akan meningkatkan produksi sebesar 0,812199 satuan

karena penambahan pupuk sampai batas tertentu akan meningkatkan produksi.

Pupuk kandang yang diberikan akan menambah kandungan hara dalam tanah

tanaman kentang yang ditanam akan meningkatkan produksi kentang sehingga

pendapatan petani juga akan meningkat.

TSP

Pemberian pupuk TSP dilakukan oleh petani pada saat pengolahan tanah

yang bertujuan untuk meningkatkan kadar P dalam tanah. Kadar P2O5 dalam TSP

sebesar 46-48% (Hardjowigeno, 2003). Sumber P selain TSP adalah pupuk

kandang dan juga pupuk majemuk NPK yang ditambahkan oleh petani.

Penambahan TSP berpengaruh negatif terhadap produksi karena setiap

penambahan jumlah pemakaian pupuk TSP sebesar satu satuan akan menurunkan

produksi sebesar -0.489970. Menurunnya produksi disebabkan oleh kelebihan P

yang diberikan petani melalui penambahan pupuk NPK dan juga pupuk kandang.

Penambahan dosis pupuk yang digunakan sampai batas tertentu akan

meningkatkan produksi, namun jika dosis yang ditambahkan melebihi dari jumlah

yang diperlukan tanaman justru akan menyebabkan levelling off sehingga

produksi akan menurun. Penyebab yang lain adalah karena retensi P pada tanah

andisol yang tinggi sehingga pupuk P yang ditambahkan tidak dapat diserap

tanaman. Penambahan pupuk TSP tersebut tentu saja akan menambah jumlah

biaya sehingga pendapatan petani akan menurun.

Benih kentang

Penggunaan benih kentang berpengaruh nyata terhadap produksi dengan

nilai p -level sebesar 0,034867. Koefisien regresi dari variabel ini bernilai negatif

sehingga setiap pe nambahan benih kentang yang ditanam sebesar satu satuan akan

mengurangi pendapatan petani karena menambah biaya input yang dikeluarkan.

Selain itu, penambahan benih kentang juga dapat menurunkan pendapatan petani

yang disebabkan oleh jarak tanam yang terlalu rapat akibat penambahan jumlah

benih yang ditanam. Jarak tanam yang terlalu rapat tidak menambah produksi

tetapi sebaliknya justru akan menyebabkan penurunan hasil panen karena ruang

tumbuh akar menjadi semakin sempit dan akar tidak berkembang. Akibatnya,

pembentukan umbi menjadi terhambat.

Dokumen terkait