• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

H. Uji Instrumen Penelitian

3. Analisis Regresi Berganda

Regresi berganda digunakan untuk menganalisa data yang bersifat

multivariate. Analisis ini digunakan untuk meramalkan nilai variabel dependen (Y), dengan variabel independen (X) yang lebih dari satu (Bawono, 2006: 85).

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh profesionalisme (X1), kedisiplinan (X2), motivasi kerja (X3), budaya kerja (X4) dan komunikasi (X5) terhadap kinerja pegawai Otoritas Jasa Keuangan (studi kasus Kantor Regional 3 Jawa Tengah dan DIY) (Y). Persamaan regresi linear berganda dicari dengan rumus:

Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + e Keterangan:

Y = Kinerja Pegawai β0 = Konstanta

β1-5 = Koefisien regresi X1 = Profesionalisme

X2 = Kedisiplinan X3 = Motivasi kerja X4 = Budaya Kerja X5 = Komunikasi

e = Kesalahan (error) 4. Uji Statistik

a. Uji ttest (Uji secara Individual)

Uji t Test merupakan alat uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel bila datanya berada pada skala interval atau rasio (Martono, 2011: 171).

Uji ini digunakan untuk melihat tingkat signifikansi variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara individu atau sendiri-sendiri. Pengujian ini dilakukan seraca parsial atau individu, dengan menggunakan uji t statistik untuk masing-masing variabel bebas, dengan tingkat kepercayaan tertentu (Bawono, 2006: 89). Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Ho : β1 = 0 artinya variabel independen (profesionalisme, kedisiplinan, motivasi kerja, budaya kerja dan komunikasi) tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel dependen (kinerja pegawai).

2) Ha : β1 = 0 artinya variabel independen (profesionalisme, kedisiplinan, motivasi kerja, budaya kerja dan komunikasi) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel dependen (kinerja pegawai).

a) Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima, artinya tidak ada pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel independen dan variabel dependen.

b) Jika t hitung > t tabel, maka Ha ditolak, artinya ada pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel independen dan variabel dependen.

Di samping membandingkan t hitung dengan t tabel agar bisa menentukan Ho diterima atau tidak, dapat pula melihat nilai signifikansinya apakah lebih atau kurang dari 5% (Bawono, 2006: 91).

b. Uji Ftest (Uji secara Serempak)

Uji F dilakukan dengan tujuan untuk seberapa jauh semua variabel independen secara bersama-sama dapat mempengaruhi variabel dependen (Bawono, 2006: 91).

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Ho : β1 = 0 artinya variabel independen (profesionalisme, kedisiplinan, motivasi kerja, budaya kerja dan komunikasi) tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (kinerja pegawai).

2) Ha : β1 = 0 artinya variabel independen (profefionalisme, kedisiplinan, motivasi kerja, budaya kerja dan komunikasi) berpengaruh terhadap variabel dependen (kinerja pegawai). Dasar pengambilan keputisan sebagai berikut:

a)Jika F hitung < F tabel, maka Ho diterima, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

b)Jika t hitung > t tabel, maka Ha ditolak, artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

Di samping membandingkan t hitung dengan t tabel agar bisa menentukan Ho diterima atau tidak, dapat pula melihat nilai signifikansinya apakah lebih atau kurang dari 5% (Bawono, 2006: 91).

c. Uji R2 (Koefisien Determinasi)

Menurut Bawono (2006: 92) koefisien determininasi (R2) menunjukkan sejauh mana tingakat hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen atau sejauh mana kontribusi variabel independen mempengarui variabel dependen. Menurut Gujarati dalam Bawono (2006: 92) analisis koefisien determinasi (R2) digunakan utuk mengetahui seberapa besar presentase (%) pengaruh keseluruhan variabel independen terhadap variabel dependen. Pengunian ini dilakukan dengan melihat (R2) pada hasil analisis persamaan regresi yang diperoleh. Apabila angka koefisien determinasi (R2) semakin mendekati 1 model regresi yang digunakan sudah semakin tepat sebagai model penduga terhadap variabel dependen (Bawono, 2006: 92-93)

5. Uji Asumsi Klasik

Asumsi klasik merupakan tahapan yang penting dilakukan dalam proses analisis regresi. Apabila tidak terdapat gejala asumsi klasik diharapkan dapat dihasilkan model regresi yang handal sesuai dengan kaidah BLUE (Best Linier Unbiased Estimator), yang menghasilkan model regresi yang tidak bisa dan handal sebagai penaksir (Bawono, 2006: 115).

a. Uji Multicollinearity

Multicollinearity adalah situasi dimana terdapat korelasi variabel-variabel bebas di anrara satu dengan yang lainya. Variabel yang bersifar Orthogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesamanya sama dengna nol (Bawono, 2006: 116).

Teknik pendeteksi multikolenieritas menurut Ghozali (2014: 105-106) ada beberapa cara yang bisa digunakan, antara lain:

1) Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.

2) Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika diantara variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 0,09), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolenieritas. Tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen tidak berarti bebas dari multikolenieritas. Multikolenieritas dapat dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih veriabel independen.

3) Multikolenieritas juga dapat dilihat dari (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation faktor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh varaibel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel manjadi variabel dependen (terikat) dan diregresi terhadap variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF =1/Tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolenieritas nilai Tolerance kurang dari 0,10 atau sama dengan nilai VIF lebih dari 10. Setiap peneliti harus menentukan tingkat kolonieritas 0.95. walaupun multikolenieritas dapat dideteksi dengan nilai Tolerance dan VIF, tetapi kita masih tetap tidak mengetahui variabel-variabel independen mana sajakah yang saling berkorelasi.

b. Uji Heteroscedasticity

Uji Heteroscedasticity bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka di sebut Homoskendastisitas jika berbeda di sebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah adalah Homoskendatisitas (Ghozali, 2014: 139).

Untuk mendeteksi ada tidaknya Heteroskedastisitas salah satunya dengan menggunakan metode Glejser yaitu meregresi nilai absolut tesidual terhadap variabel bebas (Gujarati dalam Ghozali, 2014: 142-143). Prosedur penyajiannya adalah dengan cara meregresi nilai

absolute residual terhadap variabel dependen atau undstandardized residual sebagai variabel dependen, sedangkan variabel independennya adalah variabel X1, X2, X3, X4 dan X5, sedangkan pengambilan keputusannya adalah jika nilai signifikan lebih dari nilai alpha (0,05) maka data tidak mengandung Heteroskedastisitas, jika nilai signifikansi kurang dari 0,05 maka terdapat gejala Heteroskedastisitas.

c. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regesi, data variabel dependen dan independen apakah berdistribusi normal atau tidak. Data penelitian yang baik adalah data yang berdistribusi normal (Bawono, 2006: 174). Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kolmogrov-Smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis (Ghozali, 2014: 164).

1) H0 = data residual berdistribusi normal 2) HA = data residual berdistribusi tidak normal d. Uji Linearitas

Uji linearitas digunakan untuk menguji apakah spesifikasi model yang digunakan sudah benar atau tidak. Apakah fungsi yang digunakan dalam suatu studi empiris sebaiknya berbentuk linier, kuadrat atau

kubik. Dengan uji linieritas akan diperoleh informasi apakah model empiris sebaiknya linear, kuadrat atau kubik. Penulis menggunkan uji Durbin Watson untuk melihat ada tidaknya autokorelasi dalam suatu model regresi (Ghozali, 2014: 166).

I. Alat Analisis

Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah SPSS statistik 23 merupakan sebuah program komputer statistik yang berfungsi untuk membantu dalam memproses data-data statistik secara cepat dan tepat, serta menghasilkan berbagai output yang dikehendaki oleh para pengambilan keputusan.

68 BAB IV ANALISIS DATA A.Deskripsi Obyek Penelitian

1. Visi dan Misi Otoritas Jasa Keuangan

Di dalam OJK Annual Report 2015 menerangakan tentang visi dan misi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu visi Otoritas Jasa Keuangan adalah menjadi lembaga pengawas industri jasa keuangan yang terpercaya, melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat, dan mampu mewujudkan industri jasa keuangan menjadi pilar perekonomian nasional yang berdaya saing global serta dapat memajukan kesejahteraan umum. Sedangkan Misi Otoritas Jasa Keuangan:

a) Mewujudkan terselenggaranya seluruh kegatan di dalam sektor jasa keuangan secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel.

b) Mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil dan

c) Melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat. 2. Tujuan, Fungsi dan Tugas Otoritas Jasa Keuangan

Menurut Pasal 4 Undang-Undang OJK, Tujuan Otoritas Jasa Keuangan dibentuk adalah agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan:

a) Terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel.

b) Mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil.

d) Tugas Otoritas Jasa Keuangan adalah melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan, sektor pasar modal, dan sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Menurut Laporan Kinerja OJK 2015 Fungsi OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan danpengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam Sektor Jasa Keuangan. Sedangkan OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap:

a) Kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan b) Kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal

c) Kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, LembagaPembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.

3. Wewenang Otoritas Jasa Keuangan

Menurut OJK Annual Report 2015 Otoritas Jasa Keuangan mempunyai beberapa wewenang, yaitu:

a) Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan.

b) Melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan konsumen, dan tindakan lain terhadap lembaga jasa keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

c) Memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak tertentu.

d) Melakukan penunjukkan dan menetapkan penggunaan pengelola

statuer.Menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

e) Memberikan dan/atau mencabut: 1) Izin usaha.

2) Izin orang perseorangan.

3) Efektifnya pernyataan pendaftaran. 4) Surat tanda terdaftar.

5) Persetujuan melakukan kegiatan usaha. 6) Pengesahan.

7) Persetujuan atau penetapan pembubaran dan

8) Penetapan lain. Sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

4. Nilai-nilai Strategis Otoritas Jasa Keuangan

Menurut Laporan Kinerja OJK 2015, adapun nilai-nilai strategis Otoritas Jasa Keuangan antara lain:

a) Integritas adalah bertindak objektif, adil dan konsisten sesuai dengan kode etik dan kebijakan organisasi dengan menjunjung tinggi kejujuran dan komitmen.

b) Profesionalisme adalah bekerja dengan penuh tanggung jawab berdasarkan kompetensi yang tinggi untuk mencapai kinerja terbaik.

c) Sinergi adalah berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal secara produktif dan berkualitas.

d) Inklusif adalah terbuka dan menerima keberagaman pemangku kepentingan serta memperluas kesempatan dan akses masyarakat terhadap industri keuangan.

e) Visioner adalah memiliki wawasan yang luas dan mampu melihat ke depan (Forward Looking) serta dapat berpikir di luar kebiasaan (Out of The Box Thinking).

5. Asas-asas Otoritas Jasa Keuangan

Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya Otoritas Jasa Keuangan berlandaskan asas-asas sebagai berikut:

a) Asas independensi, yakni independen dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang OJK, dengan tetap sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b) Asas kepastian hukum, yakni asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan.

c) Asas kepentingan umum, yakni asas yang membela dan melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat serta memajukan kesejahteraan umum.

d) Asas keterbukaan, yakni asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak

diskriminatif tentang penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan, dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi dan golongan. e) Asas profesionalitas, yakni asas yang mengutamakan keahlian dalam

pelaksanaan tugas dan wewenang Otoritas Jasa Keuangan, dengan tetap berlandaskan pada kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

f) Asas integritas, yakni asas yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil dalam penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan.

g) Asas akuntabilitas, yakni asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari setiap kegiatan penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

B.Analisis Data 1. Uji Validitas

Validitas menunjukkan ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurannya. Suatu skala pengukuran disebut valid bila ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan mengukur apa yang seharusnya dilakukan dan mengukur apa yang seharusnya diukur.

Adapun kriteria penilaian uji validitas menurut Ghozali (2014: 53) dengan taraf signifikan (α) = 0,05, jika r hitung > r tabel, maka kuesioner sebagai alat pengukur dikatakan valid atau ada korelasi yang nyata antara kedua variabel tersebut. Untuk mencari t tabel untuk degree of freedom (df) = 75, dan nilai alpha = 0,05 atau 5% di dapat angka r tabel = 0,224. Untuk

menguji apakah masing-masing indikator valid atau tidak bisa dilihat tampila tabel di bawah ini, jika r hitung lebih besar dari r tabel maka butir pernyataan maupun pertanyaan tersebut dinyatakan valid.

Tabel 4.1 Hasil Uji Validitas Variabel Item

pernyataan/pertanyaan

r hitung r tabel Keterangan Profesionalisme Profesionalisme 1 ,608 Valid

Profesionalisme 2 ,601 Valid

Profesionalisme 3 ,630 0,224 Valid

Profesionalisme 4 ,677 Valid

Profesionalisme 5 ,761 Valid

Kedisiplinan Kedisiplinan 1 ,723 Valid

Kedisiplinan2 ,694 Valid

Kedisiplinan 3 ,647 0,224 Valid

Kedisiplinan 4 ,855 Valid

Kedisiplinan 5 ,799 Valid

Motivasi Motivasi 1 ,609 Valid

Motivasi 2 ,709 Valid

Motivasi 3 ,771 0,224 Valid

Motivasi 4 ,753 Valid

Motivasi 5 ,551 Valid

Budaya Kerja Budaya Kerja 1 ,557 Valid

Budaya Kerja 2 ,708 Valid

Budaya Kerja 3 ,756 0,224 Valid

Budaya Kerja 4 ,783 Valid

Budaya Kerja 5 ,794 Valid

Komunikasi Komunikasi 1 ,695 Valid

Komunikasi 2 ,864 Valid

Komunikasi 3 ,833 0,224 Valid

Komunikasi 4 ,840 Valid

Komunikasi 5 ,833 Valid

Kinerja Kinerja 1 ,906 Valid

Kinerja 2 ,864 Valid

Kinerja 3 ,921 0,224 Valid

Kinerja 4 ,864 Valid

Kinerja 5 ,924 Valid

Sumber: Data primer yang diolah 2017

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa semua indikator yang digunakan untuk mengukur variabel profesionalisme, kedisiplinan, motivasi,

budaya kerja, komunikasi dan kinerja pegawai yang digunakan dalam penelitian ini r hitung > r tabel. Hal ini berarti bahwa semua indikator dan pernyataan maupun pertanyaan pada setiap variabel dalam penelitian ini adalah valid sehingga layak digunakan sebagai pengumpul data, dapat dianalisis selanjutnya.

2. Uji Reliabilitas

Menurut Hadi dalam Indrayati (2014: 54) reliabilitas adalah derajat ketepatan atau akurasi yang ditunjukkan oleh instrumen penelitian. Hasilnya ditunjukan oleh sebuah indeks yang menunjukan seberapa jauh sebuah alat ukur dapat diandalkan. Alat ukur dapat dikatakan reliable (dapat dipercaya), bila hasil pengukuranya tetap atau nilai yang diperoleh konsisten, walaupun dilakukan pengukuran ulang pada subyek yang sama.

Menurut Nunnally dalam Ghozali (2006: 68) suatu variabel dikatakan

reliable jika nilai Cronbach Alpha > 0,70. Sehingga data tersebut bisa dikatakan reliable untuk pengukuran dan meneliti selanjutnya.

Tabel 4.2 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Nilai Cronbach Alpha Keterangan

Profesionalisme (X1) 0,900 Reliable

Kedisiplinan (X2) 0,878 Reliable

Motivasi (X3) 0,875 Reliable

Budaya Kerja (X4) 0,867 Reliable

Komunikasi (X5) 0,879 Reliable

Kinerja Pegawai (Y) 0,872 Reliable

Sumber: Data primer yang diolah 2017

Hasil pengujian reliabilitas pada tabel 4.2 konstuk variabel yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh nilai Cronbach Alpha yang lebih besar dari 0,70. Hal ini berarti bahwa seluruh instrumen dalam penelitian ini

reliable. Sehingga semua butir pernyataan maupun pertanyaan dapat dipercaya dan dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.

3. Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda digunakan untuk menganalisis nilai variabel dependen (Kinerja Pegawai), terhadap variabel dependen (Profesionalisme, Kedisiplinan, Motivasi, Budaya Kerja dan Komunikasi).

Tabel 4.3 Ringkasan Hasil Uji Analisis Regresi Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -2,195 2,400 -,915 ,364 Profesionalism e ,460 ,113 ,366 4,064 ,000 Kedisiplinan ,200 ,122 ,177 1,635 ,107 Motivasi ,069 ,144 ,057 ,481 ,632 Budaya_kerja ,166 ,145 ,149 1,147 ,255 Komunikasi ,232 ,118 ,237 1,959 ,054

a. Dependent Variable: Kinerja

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dibuat model persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Y = -2,2195 + 0,460X1 + 0,200X2 + 0,069X3 + 0,166X4 + 0,232X5 + e

Yang artinya:

a. Nilai konstan (β0) = -2,195 diartikan bahwa ketika variabel X1, X2, X3,

X4, dan X5 konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka Y akan mengalami penurunan sebesar 2,195 dengan asumsi ceteris paribus. b. Nilai koefisien (X1) = 0,460 diartikan bahwa ketika variable X1

konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka Y akan mengalami peningkatan sebesar 0,460 dengan asumsi ceteris paribus.

c. Nilai koefisien (X2) = 0,200 diartikan bahwa ketika variable X2

mengalami peningkatan satu satuan sedangkan X1, X3, X4, dan X5

konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka Y akan mengalami peningkatan sebesar 0,200 dengan asumsi ceteris paribus.

d. Nilai koefisien (X3) = 0,069 diartikan bahwa ketika variable X3

mengalami peningkatan satu satuan sedangkan X1, X2, X4, dan X5

konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka Y akan mengalami peningkatan sebesar 0,069 dengan asumsi ceteris paribus.

e. Nilai koefisien (X4) = 0,166 diartikan bahwa ketika variable X4

mengalami peningkatan satu satuan sedangkan X1, X2, X3, dan X5

konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka Y akan mengalami peningkatan sebesar 0,166 dengan asumsi ceteris paribus.

f. Nilai koefisien (X5) = 0,232 diartikan bahwa ketika variable X5

mengalami peningkatan satu satuan sedangkan X1, X2, X3, dan X4

konstan atau tidak ada atau sebesar 0, maka Y akan mengalami peningkatan sebesar 0,232 dengan asumsi ceteris paribus.

Dokumen terkait