• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Perusahaan

4.2 Hasil Penelitian

4.2.3 Analisis Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Persamaan regresinya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.11

Regresi Linear Sederhana Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardize d Coefficient s t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.030 3.111 1.295 .200 kepemimpinan situasionalsituasional .501 .065 .687 7.737 .000 a. Dependent Variable: kinerjakaryawan

Sumber : Hasil Penelitian 2011 (data diolah)

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa model persamaan regresi sederhana pada penelitian ini adalah Y= 4,030 + 0,501X + e, dimana kepemimpinan situasional mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel kinerja karyawan. Hal itu dapat dilihat dari persamaan regresi sederhana berikut ini:

1. Konstanta bernilai 4,030 menunjukkan bahwa jika tidak ada variabel kepemimpinan situasional situasional maka kinerja karyawan pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan akan tetap ada sebesar 4,030.

2. Kepemimpinan situasional situasional berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan, artinya setiap terjadi peningkatan variabel kepemimpinan situasional situasional sebesar satu satuan maka kinerja karyawan pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan akan meningkat sebesar 0,501 satuan.

Uji t pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel kepemimpinan situasional situasional (X) terhadap variabel kinerja karyawan (Y). Uji t dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut :

a) H0 : b1 = 0

Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kepemimpinan situasional (X) terhadap variabel kinerja karyawan (Y).

b) Ha : b1 ≠ 0

Artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kepemimpinan situasional (X) terhadap variabel kinerja karyawan (Y).

c) Ttabel diperoleh dengan derajat bebas = n – k

n = jumlah sampel yaitu 69 responden karyawan tetap PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan

k = jumlah variabel yang digunakan, k = 2 variabel derajat bebas = n – k = 69 – 2 = 67 Uji-t yang digunakan adalah uji satu arah dengan α = 0,025. Maka ttabel

0.025 (67) adalah 1,684.

d) H0 diterima jika thitung < ttabel dan Ha diterima jika thitung > ttabel. Output uji t dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.12 Hasil Uji thitung

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardize d Coefficient s t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) 4.030 3.111 1.295 .200 kepemimpinan

situasionalsituasional .501 .065 .687 7.737 .000 a. Dependent Variable: kinerjakaryawan

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa nilai thitung variabel kepemimpinan situasional 7,737 sedangkan ttabel bernilai 1,684. Hal ini berarti thitung > ttabel yaitu 7,737 > 1,684. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel kepemimpinan situasional secara uji t (uji parsial) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan karyawan pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan. Hal ini disebabkan karena mayoritas responden menyatakan bahwa mereka setuju dengan adanya kepemimpinan situasional baik sehingga kinerja karyawan tercapai dengan demikian target yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dengan kata lain mayoritas responden menyatakan bahwa kepemimpinan situasional berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan karyawan pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan.

2) Koefisien determinan (R2)

Determinan (R2) ini digunakan untuk melihat berapa besar variabel bebas (independent variable) mampu menjelaskan variabel terikat (dependent variable). Dengan kata lain koefisien determinan digunakan untuk mengukur kemampuan variabel kepemimpinan situasional mempengaruhi variabel kinerja karyawan karyawan pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan Besarnya nilai koefisien determinan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.13

Identifikasi Determinan Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .687a .472 .464 3.10701

a. Predictors: (Constant), kepemimpinansituasional

Sumber: Pengolahan Data Primer (kuesioner) dengan SPSS 16.00, Agustus 2011 Pada Tabel 4.13 dapat dilihat :

a. Nilai R sebesar 0.687 sama dengan 68,7 % yang menunjukkan bahwa hubungan antara seorang pemimpin harus memiliki kekuatan, stabilitas emosi, pengetahuan tentang relasi insani, jujur, objektif, adanya dorongan pribadi, terampil berkomunikasi, mampu mengajar, memiliki keterampilan sosial serta cakap secara tekhnis/manajerial pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan adalah erat.

b. Nilai R square (angka korelasi atau r yang dikuadratkan) sebesar 0.472. R square disebut juga sebagai identifikasi determinasi. Besarnya nilai identifikasi determinasi 0.472 atau sama dengan 47,2%. Nilai tersebut berarti bahwa sebesar 47,2% kinerja karyawan karyawan (Y) pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan dapat dijelaskan oleh kepemimpinan situasional. Serta sisanya 52,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini, seperti: kemampuan, lingkungan dan iklim kerja, kepastian harapan, peluang untuk berprestasi, dll.

Kepemimpinan situasional pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan memberikan pengaruh yang relatif besar terhadap kinerja karyawan. Sehingga dalam hal ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan situasional

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dalam meningkatnya kinerja karyawan karyawan.

4.3 Pembahasan

Kepemimpinan situasional pada PT. Bank Sumut Kantor Pusat Medan memberikan pengaruh yang relatif besar terhadap kinerja karyawan. Sehingga dalam hal ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan situasional yang baik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dalam meningkatnya kinerja karyawan karyawan.

Penelitian yang berjudul “Pengaruh Prilaku Kepemimpinan Situasional Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada PT. Bank Syariah Bukopin Cabang Medan Jalan S. Parman Nomor 77 Medan)” yang dilakukan oleh Nur (2010). Terdapat hubungan sebesar 0,830 atau sangat kuat antara perilaku kepemimpinan situasional terhadap kinerja. Dari hasil uji determinan maka pengaruh perilaku kepemimpinan situasional terhadap kinerja karyawan sebesar 68,89%, sehingga ada pengaruh antara perilaku kepemimpinan situasional terhadap kinerja karyawan dengan hipotesis (Ha) positif dapat diterima.

Sedangkan Penelitian yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Bank Central Asia, Tbk. KCP. Pulo Brayan Medan” yang dilakukan oleh Anbri (2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja berpengaruh secara serempak terhadap kinerja karyawan pada PT. Bank Central Asia, Tbk KCP Pulo Brayan Medan. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil uji simultan (Uji-t), dimana nilai thitung sebesar 22,985 lebih besar dari ttabel sebesar 3,31 pada tingkat signifikansi 5 %. Gaya kepemimpinan merupakan variabel yang paling dominan yakni sebesar 6,007 jika dibandingkan dengan

disimpulkan bahwa variabel gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT. Bank Central Asia, Tbk. KCP. Pulo Brayan Medan. Pada uji t, variabel gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

Berdasarkan hasil analisis dari penelitian ini dimana kepemimpinan situasional itu berpengaruh terhadap kinerja karyawan karyawan, hal ini disebabkan karena kepemimpinan situasional yang baik itu merupakan salah satu faktor penting dalam proses pendisiplinan kerja karyawan. Kepemimpinan situasional dapat mempengaruhi kinerja karyawan karyawan dan menghasilkan bentuk persyaratan pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh para karyawan. Bila pimpinan dalam perusahaan atau organisasi itu baik dan memiliki kemampuan dalam mempengaruhi ataupun mengendalikan karyawannya dalam melaksanakan tugas-tugas kantor maka kinerja karyawan akan lebih meningkat seperti yang diharapkan perusahaan.

Seorang pemimpin harus dapat bersikap ramah, terbuka, dan mudah menjalin persahabatan berdasarkan rasa saling percaya, dan menghargai pendapat orang lain untuk dapat memupuk kerja sama yang baik dalam suasana rukun dan damai.

Seorang pemimpin juga harus dapat menjadi pencipta (creator), pendorong (motivator) dan mengarahkan para bawahannya dengan menciptakan suasana dan budaya kerja yang dapat memacu rasa nyaman para karyawan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Bila karyawan sudah merasa nyaman di bawah arahan seorang pemimpin yang baik serta terdapat kerja sama yang solid atau kuat

karyawan yang baik akan menciptakan karyawan yang berkulitas, dimana akan mencerminkan suatu kinerja perusahaan secara keseluruhan.

BAB V

Dokumen terkait