Rataan konsumsi dan nilai konversi ransum induk selama menyusui ditampilkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Konsumsi dan Konversi Ransum Induk Selama Menyusui
Konsumsi Ransum Induk (g/ekor/hari) 5,66±0,96 5,83±0,60 5,36±1,47 5,12±1,14 18,94 Konversi Ransum 6,50±2,76 4,73±2,31 4,27±0,99 5,65±2,32 41,33
Ransum yang diberikan selama pemeliharaan memiliki kandungan protein rata-rata diatas 17%. Batas minimal kandungan protein ransum mencit untuk menjamin siklus atau proses reproduksi dan laktasi yang baik adalah sebesar 13,6% (Goettsch, 1960). Ransum yang diberikan selama penelitian sudah cukup karena mampu memenuhi kebutuhan mencit selama bunting dan menyusui anak. Nafiu (1996), melaporkan bahwa ransum mencit dengan kandungan protein dibawah 12,6% akan menimbulkan cekaman dan dapat menurunkan persentase induk yang melahirkan menjadi hanya 56,67%.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa penambahan ampas kunyit dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum induk mencit selama menyusui. Suardi (2006), melaporkan bahwa pemberian ekstrak kunyit dalam air minum tidak memberikan pengaruh nyata terhadap konsunsi ransum. Meskipun tidak berbeda nyata namun terjadi peningkatan konsumsi sebesar 3% pada perlakuan dengan penambahan 3% ampas kunyit dalam ransum (R1) dibanding kontrol (R0).
Peningkatan konsumsi ransum induk selama menyusui hanya dipengaruhi oleh jumlah anak yang disusui oleh induk atau jumlah anak sapih (Tabel 5). Semakin banyak jumlah anak yang disapih maka konsumsi akan cenderung meningkat pula. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan ampas kunyit sampai taraf 9% dalam ransum tidak menurunkan atau menyebabkan gangguan terhadap reproduksi mencit sehingga dapat digunakan sebagai pakan tambahan pengganti karena harganya lebih murah
Ampas Kunyit (%) Peubah
19 jika dibanding dengan tepung kunyit. Rataan konsumsi ransum induk mencit selama menyusui ditampilkan pada Gambar 1.
5.66 5.83 5.36 5.12 4.6 4.8 5 5.2 5.4 5.6 5.8 6 RO R1 R2 R3 Perlakuan K ons um s i R a ns um ( g/ e k or /ha ri )
Gambar 1. Diagram Konsumsi Ransum Induk Selama Menyusui
Perlakuan penambahan 3% ampas kunyit dalam ransum (R1) menghasilkan konsumsi yang meningkat. Hal tersebut menujukkan bahwa ransum yang diberikan masih disukai atau palatabel namun terjadi perubahan komposisi nutrien dalam ransum dimana serat kasar yang semakin tinggi dibanding R0. Mencit adalah hewan monogastrik yang tidak mampu mencerna serat kasar yang tinggi sehingga dibutuhkan lebih banyak ransum yang dimakan untuk mencukupi seluruh asupan nutrien yang dibutuhkan. Ransum dengan taraf 6 dan 9% ampas kunyit justru menurunkan konsumsi pakan masing-masing sebanyak 5,30% dan 9,54%. Hal ini mungkin disebabkan oleh palatabilitas yang menurun dengan penambahan ampas kunyit yang semakin tinggi dalam ransum. Palatabilitas ransum menurun diduga karena rasa ampas kunyit yang pahit dan pedas jika diberikan dalam jumlah yang cukup banyak. Serat kasar juga bersifat bulky atau amba yang menimbulkan efek mudah kenyang sehingga semakin tinggi serat kasar dalam ransum menyebabkan penurunan konsumsi ransum tersebut.
Konversi Ransum
Nilai dari suatu konversi ransum dapat menentukan keefisienan penggunaan ransum oleh ternak untuk menghasilkan suatu produksi, dimana semakin kecil nilai konversi ransum maka semakin efisien hewan atau ternak dalam menggunakan
20 ransum. Konversi ransum disini adalah ransum yang dikonsumsi oleh induk selama menyusui terhadap pertambahan bobot badan anak. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan ampas kunyit dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap konversi ransum induk. Hadian (2004), menyatakan bahwa penambahan tepung kunyit tidak mempengaruhi konversi ransum mencit. Meskipun pengaruh ampas kunyit tidak berbeda nyata dalam penelitian ini, namun terjadi penurunan nilai konversi sebesar 34,30% pada perlakuan penambahan 6% ampas kunyit dalam ransum (R2) dibanding kontrol (R0) (Tabel 5). Hal ini terjadi karena pertambahan bobot badan yang semakin meningkat dengan meningkatnya taraf ampas kunyit dalam ransum dengan konsumsi ransum yang relatif sama selama masa menyusui, kecuali pada perlakuan penambahan ampas kunyit 9% (R3) dengan nilai konversi ransum yang tinggi. Faktor utama yang mempengaruhi konversi ransum adalah temperatur, kualitas pakan, kualitas air, pengafkiran, penyakit, manajemen pemeliharaan, faktor pemberian pakan, penerangan dan faktor sosial (Anggorodi, 1984). Rataan konversi ransum induk selama menyusui diperlihatkan pada Gambar 2. 6.5 4.73 4.27 5.65 0 1 2 3 4 5 6 7 RO R1 R2 R3 Perlakuan K onv e rs i R a ns um
Gambar 2. Diagram Konversi Ransum Induk Mencit Selama Menyusui
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terjadi penurunan nilai konversi ransum dari kontrol kecuali pada perlakuan R3. Konversi ransum berkaitan dengan tingkat konsumsi dan pertambahan bobot badan (PBB). Hasil menunjukkan bahwa konsumsi yang rendah tidak selalu menghasilkan nilai konversi yang rendah pula. Faktor yang lebih mempengaruhi konversi adalah pertambahan bobot badan karena
21 berapapun jumlah konsumsi jika pertambahan bobot badan yang dihasilkan baik maka dapat dikatakan nilai konversi yang dihasilkan adalah baik.
Penampilan Reproduksi Mencit
Penampilan reproduksi mencit yang dimaksud dalam penelitian ini menyangkut litter size, bobot lahir, jumlah anak sapih, bobot sapih, pertambahan bobot badan, dan mortalitas selama penelitian yang ditampilkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Penampilan Reproduksi Mencit Putih (Mus musculus) selama Penelitian
Litter size (ekor) 8,40±2,07 7,60±1,67 7,00±1,00 7,20±1,92 22,60
Rataan Bobot Lahir (g/ekor) 1,42±0,09 1,57±0,17 1,72±0,17 1,53±0,29 13,07 Jumlah Anak sapih (ekor) 6,00±0,82 6,40±1,67 7,00±1,00 5,00±2,94 29,87 Rataan Bobot Sapih (g/ekor) 5,31±2,15 6,32±1,91 6,99±2,74 7,55±2,96 35,99 Rataan PBB Anak (g/ekor/hari) 0,19±0,09 0,23±0,08 0,25±0,12 0,29±0,15 45,83 Mortalitas Anak Pra Sapih (%) 37,78±37,30 13,89±20,22 0,00±0,00 37,14±51,11 163,35 Keterangan: PBB : Pertambahan Bobot Badan
KK : Koefisien Keragaman
Litter Size
Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan ampas kunyit tidak mem- berikan pengaruh nyata terhadap litter size. Meskipun pengaruh ampas kunyit tidak berbeda nyata dalam penelitian ini, namun terjadi penurunan litter size sebesar 16,67% pada perlakuan penambahan 6% ampas kunyit dalam ransum (R2) dibanding kontrol (R0) (Tabel 6). Penurunan tersebut disebabkan oleh semakin rendah jumlah kolestrol yang berfungsi sebagai prekursor hormon-hormon reproduksi sehingga dapat mengganggu proses pembentukan sel telur dalam ovarium mencit dan pembentukan sperma pada mencit jantan. Penelitian yang menggunakan ampas
Ampas Kunyit (%) Peubah
22 kunyit lainnya didapatkan bahwa penambahan ampas kunyit 3, 6, dan 9% dalam ransum mencit dapat menurunkan kolestrol baik pada yang jantan maupun betina. Terganggunya proses reproduksi tersebut diduga menurunkan jumlah sel telur dan sel sperma sehingga litter size yang didapatkan menjadi lebih rendah.
Serat kasar memiliki sifat menarik atau mengikat segala macam lemak yang ada di saluran pencernaan sehingga mengurangi jumlah lemak (termasuk kolestrol) yang diserap oleh usus dari ransum yang diberikan. Hal tersebut mengakibatkan kadar lemak (termasuk kolestrol) didalam tubuh berkurang yang dapat mengganggu proses atau siklus reproduksi sehingga didapatkan litter size yang rendah. Toelihere (1979), menyatakan banyaknya jumlah anak per kelahiran dipengaruhi oleh bangsa ternak, umur induk, musim kelahiran, makanan, silang dalam, dan kondisi lingkungan. Umur yang terlalu tua atau muda menyebabkan penurunan jumlah anak per kelahiran karena berkaitan dengan kesiapan uterus menerima implantasi. Uterus pada mencit yang terlalu muda belum siap menerima implantasi rahim sehingga implantasi yang terjadi sedikit yang berakibat litter size yang didapatkan sedikit pula. Pada penelitian ini mencit yang digunakan baru beranak pertama. Rataan litter size
mencit selama penelitian diperlihatkan pada Gambar 3.
8.4 7.6 7 7.2 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 RO R1 R2 R3 Perlakuan L it te r si z e ( eko r)
Gambar 3. Diagram Litter Size Mencit Selama Penelitian
Selama penelitian terjadi mencit yang litter size sangat rendah yaitu pada perlakuan dengan penambahan 6% ampas kunyit dalam ransum (R2) ulangan pertama dan ulangan keempat dengan litter size masing-masing berjumlah dua dan empat ekor. Hal tersebut disebabkan oleh induk yang tidak subur dan sifat
23 kanibalisme induk pasca melahirkan (sebagian besar anak yang baru dilahirkan dimangsa oleh induk) sehingga jumlah total anak yang lahir tidak diketahui secara pasti karena sudah dimangsa terlebih dahulu. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Parindra (2007), melaporkan bahwa penambahan kunyit dalam pakan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap litter size. Hasil rataan litter size yang didapatkan selama penelitian berada dalam selang 5,4 sampai dengan 8,4 ekor. Hal ini didukung dengan hasil pengamatan Rahnefeld et al. (1966), mendapatkan litter
size rata-rata berkisar antara 5,25 sampai dengan 9,25 ekor.
Rataan Bobot Lahir
Hasil analisis memperlihatkan bahwa penambahan ampas kunyit dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap rataan bobot lahir anak mencit. Meskipun pengaruh ampas kunyit tidak berbeda nyata namun terjadi peningkatan rataan bobot lahir sebesar 21,13% pada perlakuan dengan penambahan 6% ampas kunyit dalam ransum (R2) dibanding kontrol (R0). Hasil rataan bobot lahir yang diperoleh memperlihatkan bahwa sangat erat kaitannya dengan litter size mengikuti persamaan y = 22,4 – 9,78x dimana y adalah litter size dan x adalah bobot lahir dengan nilai R2 = 87,30%. Perbandingan antara litter size dan rataan bobot lahir dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4 menunjukkan bahwa mencit yang memiliki litter size yang lebih tinggi akan memiliki bobot lahir yang lebih rendah, dan sebaliknya mencit yang memiliki litter size yang lebih rendah akan memiliki bobot lahir yang lebih tinggi.
Menurut Kon dan Cowie (1961), bahwa bobot litter secara keseluruhan akan meningkat seiring dengan meningkatnya litter size akan tetapi rataan bobot lahir tiap anak menjadi lebih rendah. Bobot lahir anak mencit dipengaruhi oleh pertumbuhan foetus selama dalam kandungan induknya. Pertumbuhan sebelum lahir dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya mutu genetik ternak, umur serta bobot badan induk yang melahirkan, pakan induk, dan suhu lingkungan selama kebuntingan (Toelihere, 1979).
Hasil rataan bobot lahir yang diperoleh juga sesuai dengan pernyataan Malole dan Pramono (1989), bahwa bobot lahir anak mencit berkisar antara 0,5 - 1,5 g/ekor. Rataan bobot lahir anak mencit selama penelitian ditampilkan pada Gambar 4.
24 1.42 1.57 1.72 1.53 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 RO R1 R2 R3 Perlakuan R a ta a n B obo t La hi r ( g/ e k o r)
Gambar 4. Diagram Rataan Bobot Lahir Anak Mencit Selama Penelitian Pengaruh ampas kunyit dalam ransum terhadap rataan bobot lahir tidak terlalu terlihat karena ransum yang diberikan sudah memenuhi kebutuhan reproduksi mencit. Malnutrisi pada induk menyebabkan kurang terpenuhinya nutrisi foetus sehingga dapat mengurangi bobot lahir anak (McDonald et al., 1995). Rataan bobot lahir per ekor anak mencit pada penelitian ini lebih dipengaruhi oleh litter size. Arrington (1972), menyatakan bahwa semakin banyak jumlah anak mencit lahir, maka bobot lahir anak cenderung semakin ringan.
Jumlah Anak Sapih
Sapih yaitu tahap pertumbuhan suatu hewan tidak lagi bergantung pada air susu induknya dan mulai mengkonsumsi pakan padat dan cair (Inglis, 1980). Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan ampas kunyit dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anak sapih. Meskipun pengaruh ampas kunyit tidak berbeda nyata namun terjadi peningkatan jumlah anak sapih sebesar 16,67% pada perlakuan penambahan 6% ampas kunyit dalam ransum (R2) dibanding dengan kontrol (R0). Rataan jumlah anak sapih dengan penambahan ampas kunyit 0; 3; 6; dan 9% berturut-turut menghasilkan sebesar 6,0; 6,4; 7,0; dan 5,0 ekor. Hasil ini menunjukkan bahwa litter size yang tinggi tidak selalu menghasilkan jumlah anak sapih yang tinggi pula. Hal tersebut terlihat pada induk dengan perlakuan R0 yang memiliki litter size tertinggi (8,4 ekor) ternyata menghasilkan jumlah anak sapih yang rendah (6 ekor), demikian juga dengan perlakuan R3 dimana litter sizenya 7,2 ekor menghasilkan jumlah anak sapih paling rendah yaitu 5,0 ekor. Jumlah anak
25 sapih sangat berhubungan dengan kematian anak selama menyusu yang secara tidak langsung berhubungan dengan kemampuan induk dalam merawat anaknya (mothering ability), dimana selama penelitian kematian anak lebih disebabkan sifat kanibalisme induk yang mengalami stres setelah beranak meskipun tingkat stresnya mungkin berbeda. Hal ini terlihat dari bangkai anak yang tersisa dan jumlah anak yang berkurang. Sifat kanibalisme pada induk muncul dimungkinkan karena adanya defisiensi nutrisi, faktor genetik, dan adanya stres (Harianto, 2006). Induk muda atau pertama kali beranak mengalami stres yang berat karena proses kelahiran dan belum memiliki sifat mengasuh anak (mothering ability) yang baik sehingga tingkat mortalitas anak mencit relatif tinggi. Rataan jumlah anak sapih mencit selama penelitian ditampilkan pada Gambar 5.
6 6.4 7 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 RO R1 R2 R3 Perlakuan Ju m lah A n a k S a p ih ( e k o r)
Gambar 5. Diagram Jumlah Anak Sapih Mencit Selama Penelitian
Menurut Wibowo (1984), jumlah anak sapih juga dipengaruhi oleh tingkat mortalitas anak. Mortalitas sangat mempengaruhi jumlah anak sapih yang dihasilkan, terlihat pada perlakuan R0 dan R3 masing-masing dengan taraf 0 dan 9% ampas kunyit kematian anak mencit adalah tinggi. Hal tersebut mengakibatkan pada kedua perlakuan terjadi penurunan jumlah anak yang hidup hingga disapih atau jumlah anaksapih meskipun kedua perlakuan memiliki litter size yang cukup tinggi.
Rataan Bobot Sapih
Bobot sapih adalah bobot badan anak saat dipisahkan dari induknya yang pada umumnya disapih pada umur 21-28 hari, namun pada penelitian ini anak mencit disapih pada umur 21 hari. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terjadi pengaruh
26 nyata terhadap bobot sapih dengan penambahan ampas kunyit. Meskipun tidak berbeda nyata namun terjadi peningkatan bobot sapih sebesar 29,67% pada perlakuan penambahan 9% ampas kunyit dalam ransum (R3) dibanding kontrol (R0). Bobot sapih sangat erat kaitannya dengan jumlah anak sapih dimana jumlah anak sapih yang rendah (R3) sejumlah 5 ekor menghasilkan bobot sapih yang tinggi sebesar 7,55 gram. Hasil penelitian ini didukung oleh Parindra (2007), melaporkan bahwa penambahan tepung kunyit dalam ransum mencit tidak memberikan pengaruh nyata terhadap bobot sapih anak mencit. Rataan bobot sapih anak mencit selama penelitian ditampilkan pada Gambar 6.
5.31 6.32 6.99 7.55 0 1 2 3 4 5 6 7 8 RO R1 R2 R3 Perlakuan R a ta a n B obo t S a pi h ( g /e k o r)
Gambar 6. Diagram Rataan Bobot Sapih Anak Mencit Selama Penelitian
Semakin banyak jumlah anak yang disusui maka jumlah air susu yang didapatkan tiap individu anak mencit akan menjadi lebih sedikit sehingga pertambahan bobot badan anak menjadi rendah dan akhirnya menurunkan bobot sapih anak mencit. Sebaliknya, semakin sedikit jumlah anak yang disusui maka kemungkinan anak yang dihasilkan lebih berat karena kebutuhan anak mencit tersebut terpenuhi dengan baik. Menurut Sumantri (1984), rataan bobot lahir dan sapih berkorelasi negatif dengan jumlah anak per induk per kelahiran (litter size), namun berkorelasi positif dengan total kelahiran. Faktor yang mempengaruhi bobot sapih antara lain jenis kelamin, bobot badan induk, umur induk, keadaan pada saat lahir, kemampuan induk untuk menyusui anak dan suhu lingkungan (Hafez dan Dyer, 1969).
27 Pertumbuhan Anak Mencit Pra Sapih
Pertumbuhan anak mencit pra sapih dimulai dari umur 0 hari atau lahir hingga hari ke-21 atau disapih. Selama penelitian didapatkan rataan bobot badan seluruh perlakuan per minggu dari minggu ke-0 sampai minggu ke-3. Rataan minggu ke-0, 1, 2, dan 3 masing-masing sebesar 1,56; 3,33; 5,32; dan 6,54. Pertumbuhan anak mencit pra sapih per perlakuan per minggu ditampilkan pada Gambar 7.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 1 2 3 Minggu B o bot B a da n (g /e k o r/ ha ri ) R0 R1 R2 R3
Gambar 7. Grafik Pertumbuhan Anak Mencit Pra Sapih
Pertumbuhan pada tujuh hari pertama dihasilkan rataan pertambahan bobot badan seluruh perlakuan sebesar 1,77 g. Kemudian pertumbuhan pada tujuh hari kedua dihasilkan rataan pertambahan bobot badan seluruh perlakuan sebesar 1,99 g dan pada tujuh hari terakhir sebesar 1,22 g (Lampiran 9). Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan optimal pra sapih adalah pada tujuh hari kedua atau antara minggu pertama dan kedua. Perlakuan tanpa penambahan ampas kunyit menampilkan pertumbuhan yang jelek karena sejak minggu ke-0 sampai minggu ke- 3 bobot badan yang dihasilkan selalu paling rendah dibanding perlakuan lainnya. Perlakuan penambahan 3% dan 6% ampas kunyit menampilkan pertumbuhan yang relatif tetap selama tiga minggu atau pra sapih. Perlakuan penambahan 9% ampas kunyit menampilkan pertumbuhan yang sangat baik karena pada minggu ke-0 dan ke-1 bobot badan yang dihasilkan masih rendah. Kemudian pada minggu ke-2 dan ke-3 menghasilkan bobot badan yang paling tinggi dibanding perlakuan lainnya.
28 Rataan Pertambahan Bobot Badan Anak Pra Sapih
Hasil rataan pertambahan bobot badan (PBB) anak mencit setelah dianalisis memperlihatkan bahwa penambahan ampas kunyit dalam ransum memberikan pengaruh yang tidak nyata. Hasil ini didukung oleh Parindra (2007), menyatakan bahwa penambahan kunyit dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan bobot badan anak selama menyusu atau pra sapih. Secara umum peningkatan penambahan ampas kunyit dalam ransum menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi diikuti dengan nilai konversi yang rendah kecuali pada perlakuan penambahan 9% ampas kunyit (R3) yang memiliki nilai konversi yang tinggi pula. Hal ini memperlihatkan bahwa pertambahan bobot badan sangat erat kaitannya dengan nilai konversi dimana konversi ransum yang baik akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang baik pula. Rataan pertambahan bobot badan anak pra sapih ditampilkan pada Gambar 8.
0.19 0.23 0.25 0.29 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 RO R1 R2 R3 Perlakuan R a ta an P B B A n ak ( g /e ko r/ h a ri )
Gambar 8. Diagram Rataan PBB Anak Mencit Pra Sapih
Meskipun tidak berbeda nyata namun terjadi peningkatan pertambahan bobot badan sebesar 34,48 % pada perlakuan penambahan 9% ampas kunyit dalam ransum (R3) dibanding kontrol (R0). Pertambahan bobot badan yang baik akan menghasilkan bobot sapih yang tinggi pula (Tabel 6). Jull (1972), menyatakan pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh potensi genetik, konsumsi ransum, dan kondisi lingkungan. Selain itu, PBB anak pra sapih sangat dipengaruhi oleh kemampuan induk untuk menyusui anaknya baik produksi susu maupun kemampuan merawat (mothering ability). Pertumbuhan anak sebelum sapih dipengaruhi oleh
29 genetik, bobot lahir, jumlah anak sekelahiran, produksi air susu induk, perawatan induk, dan umur induk (Hafez dan Dyer, 1969).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan juga dipengaruhi oleh litter size. Litter size yang tinggi akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang rendah dan litter size yang rendah akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi. Hal ini disebabkan induk memiliki batas maksimal dalam menghasilkan susu sehingga induk dengan jumlah anak yang banyak tidak dapat memenuhi kebutuhan susu seluruh anaknya dan menghasilkan pertambahan bobot badan yang rendah. Sebaliknya terjadi pada induk dengan anak yang sedikit dimana kebutuhan seluruh anaknya dapat terpenuhi dan menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi. Hasil pertambahan bobot badan pada penelitian ini (Gambar 7) masih rendah, karena menurut Arrington (1972), pertambahan bobot badan anak mencit sampai disapih adalah 0,43-0,50 g/ekor/hari.
Mortalitas
Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan ampas kunyit dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap mortalitas. Meskipun tidak berbeda nyata namun terjadi penurunan mortalitas sebesar 100% pada perlakuan penambahan 6% ampas kunyit dalam ransum (R2) dan sebesar 63,24% pada perlakuan penambahan 3% ampas kunyit dalam ransum (R1) dibanding kontrol (R0). Parindra (2007), melaporkan bahwa penambahan kunyit dalam ransum mencit tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap mortalitas.
Jumlah kematian atau persentase mortalitas merupakan salah satu pedoman yang digunakan untuk mengukur kemampuan induk dalam mengasuh anak (mothering ability). Selama penelitian kematian anak lebih disebabkan oleh sifat kanibalisme induk terutama pada perlakuan kontrol (R0) dimana pada setiap ulangan terjadi kematian yang disebabkan kanibalisme induk. Sifat tersebut sering muncul terutama pada hari pertama dan kedua setelah beranak. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh induk yang stres setelah beranak karena mengalami kesakitan sehingga membuat induk stres. Sifat kanibalisme pada induk muncul dimungkinkan karena adanya defisiensi nutrisi, faktor genetik, dan adanya stres (Harianto, 2006). Rataan mortalitas anak mencit selama penelitian ditampilkan pada Gambar 9.
30 37.78 13.89 0 37.14 0 5 10 15 20 25 30 35 40 RO R1 R2 R3 Perlakuan M o rt al it as ( % )
Gambar 9. Diagram Mortalitas Anak Mencit Selama Penelitian
Pada perlakuan tanpa penambahan ampas kunyit (R0) pernah terjadi kematian dalam satu kandang yang mungkin disebabkan oleh penyakit. Penyakit yang menyerang mencit tersebut kemungkinan adalah Salmonellosis yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypimurium atau Salmonella enteritis. Hal tersebut terlihat dari gejala-gejala yang diperlihatkan selama mencit sakit antara lain mencret, bulu kasar, bobot badan turun atau badan kurus, lemah dan mortalitas yang tinggi. Dijelaskan oleh Smith dan Mangkoewidjojo (1988), bahwa gejala-gejala seperti pada penelitian ini merupakan ciri-ciri mencit tersebut terkena penyakit Salmonellosis. Winarto (2003), menyatakan bahwa kunyit tidak beracun, selain itu memiliki efek farmakologis melancarkan darah, menurunkan kadar lemak yang tinggi, antiradang, dan antibakteri.
Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien keragaman yang tinggi (160%) dari total semua perlakuan. Hal ini menunjukkan kemampuan induk dalam memelihara dan membesarkan anak (mothering ability) sangat bervariasi. Tingginya nilai koefisien keragaman diduga karena respon induk yang berbeda terhadap suhu dan keadaan lingkungan sekitar, karena selama penelitian berlangsung suhu lingkungan cukup ekstrim, yakni dapat mencapai 35oC pada siang hari. Tingginya suhu ini dapat menyebabkan induk stress, sehingga menimbulkan sifat kanibalisme dari induk mencit tersebut. Faktor yang mempengaruhi tingkat mortalitas antara lain jumlah anak per kelahiran, kondisi induk setelah beranak, kondisi lingkungan, dan sistem perkawinan (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
31 Pembahasan Umum
Semua perlakuan yang diberikan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh peubah reproduksi yang diamati. Hasil penelitian yang didapatkan kemudian dilakukan perangkingan terhadap semua peubah. Kriteria yang digunakan antara lain peubah litter size dicari yang berjumlah tinggi, peubah rataan bobot lahir dicari yang berbobot tinggi, peubah jumlah anak sapih dicari yang berjumlah banyak, peubah rataan bobot sapih dicari yang berbobot tinggi, peubah rataan pertambahan bobot badan anak dicari yang pertambahan bobot badannya tertinggi, dan peubah mortalitas anak pra sapih dicari yang kematiannya paling rendah.
Berdasarkan kriteria diatas didapatkan bahwa perlakuan R0 memberikan hasil optimum pada peubah litter size; perlakuan R1 tidak memberikan hasil optimum pada salah satu peubah pun; perlakuan R2 memberikan hasil optimum pada peubah rataan bobot lahir, jumlah anak sapih, dan mortalitas anak pra sapih; dan R3 memberikan hasil optimum pada peubah rataan bobot sapih dan rataan pertambahan bobot badan anak. Hasil perangkingan menunjukkan bahwa perlakuan R2 memberikan hasil optimum terbanyak. Penggunaan ampas kunyit yang direkomendasikan adalah pada taraf 6% dari ransum.
32 KESIMPULAN
Penambahan ampas kunyit sampai dengan 9% dalam pakan tidak memberikan pengaruh terhadap konsumsi pakan dan konversi pakan serta parameter reproduksi mencit seperti litter size, bobot lahir, jumlah anak sapih, bobot sapih, pertambahan bobot badan anak dan mortalitas. Meskipun tidak berbeda nyata,