• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Regresi Model Logistik Persepsi dan Kelembagaan

B. Biaya Transaksi oleh Pihak Perusahaan Pertambangan

7.2 Analisis Regresi Model Logistik Persepsi dan Kelembagaan

Untuk melihat lebih jernih mengenai aspek kelembagaan pada pendekatan yuridis, maka dilakukan analisis Logistik yang merupakan proksi dari hasil penelitian yang diawali dengan aspek profil rumah tangga responden kaitannya terhadap partisipasi pemanfaatan sumberdaya tambang. Kemudian tingkat partisipasi pada model advokasi, partisipasi pada persepsi responden terhadap sarana dan prasarana, serta partisipasi pemanfaatan sumberdaya tambang pada penambang tanpa izin (PETI). Hasil analisis ini dapat menjadi informasi bagi para pihak untuk memilah dan memilih aspek-aspek manakah yang menjadi prioritas dalam membangun dukungan masyarakat terutama terkait dengan konflik kelembagaan dan konflik pemanfaatan. Analisis ini akan sangat membantu melihat manakah variabel-variabel yang memiliki pengaruh kevariabel lain secara positif (signifikan) dan manakah variabel-variabel yang tidak segnifikan namun tetap memiliki hubungan atau pengaruh terhadap variabel-variabel yang diteliti.

Adapun aspek-aspek yang dianalisis dengan menggunakan model ini antara lain:

7.2.1 Regresi Partisipasi Versus Jenis Kelamin dan Umur dan Pekerjaan Terdapat 4 variabel yang akan di interpretasi pada uji logistik terhadap aspek demografi responden yang telah di paparkan pada halaman sebelumnya dan juga hasil uji statistik uji G serta hipotesis akan di deskripsikan sebagai berikut:

Statistik uji G, hasil analisis Logistik diperoleh model P Value 0.001 dengan nilai Log-Likelihood = -51.292 yang mengindikasikan model Fit, dan test that all slopes are zero: G = 22.457, DF = 6, P-Value = 0.001. secara umum hipotesis yaitu H0 : Model Tidak Fit ( semua variabel X tidak signifikan) dan H1 : Model Fit ( minimal ada satu variabel X yang signifikan ).

Dari semua variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah Jenis Kelamin, nilai-p) (0.008) < alpha 10 persen maka Jenis Kelamin berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 11.81 artinya pria untuk berpartisipasi 11.81 kalinya dibandingkan wanita untuk berpartisipasi, dengan kata lain kecenderungan pria lebih berperan dibandingkan wanita. Selanjutnya variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah umur, nilai-p) (0.038) < alpha 10 persen maka umur berpengaruh nyata terhadap

partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 0.90 artinya setiap kenaikan 1 tahun umur maka peluang untuk berpartisipasi adalah 0.9 kalinya dibanding tidak berpartisipasi. kecenderungan orang lebih muda lebih berpartisipasi diabndingkan dengan orang yang lebih tua.

Demikian juga pada variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah pendidikan SMA, nilai-p) (0.079) < alpha 10 persen maka pendidikan sma berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 2.56 peluang orang yang pendidikan SMA untuk berpartisipasi adalah 2.56 kalinya dibandingakan peluang seseorang yang pendidikannya SMP.

Komponen variabel X lain yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah pendidikan PT, nilai-p) (0.015) < alpha 10 persen maka pendidikan PT berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 15.19 peluang orang yang pendidikan PT untuk berpartisipasi adalah 15.19 kalinya dibandingakan peluang seseorang yang pendidikannya smp. Kesimpulan semakin tinggi pendidikan maka peluang untuk berpartisipasi semakin besar.

7.2.2 Regresi Partisipasi Versus Model Advokasi Pemanfaatan sumberdaya Tambang

Pada aspek model advokasi pemanfaatan sumberdaya tambang pengaruhnya terhadap partisipasi masyarakat nampaknya hanya 1 variabel yang memiliki hubungan, hal ini dipengaruhi antara lain dijumpai dilokasi penelitian program atau usaha para pihak untuk memberikan penyuluhan terhadap masyarakat terutama yang bermukim diwilahan yang berhimpitan langsung dengan dengan konsesi kontrak karya belum memperoleh penyuluhan atau advokasi secara khusus yang dikaitkan dengan konflik pemanfatan lahan.

Statistik uji G, hasil analisis diperoleh nilai P value 0.000 mengindikasikan model fit dengan Log-Likelihood = -37.511 dan Test that all slopes are zero: G = 50.019, DF = 10, P-Value = 0.000. untuk Hipotesis yaitu H0 : Model Tidak Fit ( semua variabel X tidak signifikan) dan H1 : Model Fit ( minimal ada satu variabel X yang signifikan ).

Dari semua variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah mengikuti, nilai-p) (0.035) < alpha 10persen maka mengikuti berpengaruh nyata

terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 12.78 artinya seseorang yang mengikuti penyuluhan peluang untuk berpartisipasi adalah 12.78 kalinya dibandingkan dengan yang tidak mengikuti penyuluhan. Kecenderungan orang yang mengikuti penyuluhan lebih berpartisipasi dibandingkan dengan yang tidak mengikuti penyuluhan.

7.2.3 Binary Logistic Regression Partisipasi versus Persepsi Responden Terhadap Sarana dan Prasarana di Wilayah Pemanfaatan Sumberdaya Tambang

Uji Statistik logistik pada persepsi responden terhadap kesiapan sarana dan prasarana hubungannya terhadap partisipasi yaitu terdapat 4 variabel yang memiliki hubungan signifikan terhapa partisipasi antara lain variabel infrastruktur jalan, variabel prasarana perhubungan, variabel sarana perekonomian seprti pasar, Pelelangan ikan dan juga variabel sarana olahraga. Deskripsi dari masing-masing variabel yaitu:

Statistik uji G, hasil analisis diperoleh Nilai-p (0.013) < alpha 10 persen tolak H0 artinya model fit dengan Log-Likelihood = -52.022 dan Test that all slopes are zero: G = 20.998, DF = 9, P-Value = 0.013. Untuk Hipotesis yaitu H0 : Model Tidak Fit ( semua variabel X tidak signifikan) H1 : Model Fit ( minimal ada satu variabel X yang signifikan ).

Komponen variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah infrastruktur jalan, nilai-p)(0.027)<alpha 10persen maka persepsi infrastruktur jalan berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 5.2 artinya setiap kenaikan persepsi kebaikan maka peluang berpartisipasi adalah 5.2 kalinya dibandingkan tidak berpartisipasi. Kemudian diikuti oleh variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah sarana perhubungan, nilai-p)(0.003)<alpha 10 persen maka persepsi perhubungan jalan berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 4.71 artinya setiap kenaikan persepsi kebaikan maka peluang perhubungan adalah 4.71 kalinya dibandingkan tidak berpartisipasi.

Aspek lain dalam variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah sarana perekonomian , nilai-p) (0.060) < alpha 10 persen maka persepsi perekonomian berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar

0.29 artinya setiap kenaikan persepsi kebaikan maka peluang perekonomian adalah 0.29 kalinya dibandingkan tidak berpartisipasi.

Selanjutnya variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah sarana olah raga, nilai-p) (0.066) < alpha 10persen maka persepsi olah raga berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 3.02 artinya setiap kenaikan persepsi kebaikan maka peluang olah raga adalah 3.02 kalinya dibandingkan tidak berpartisipasi.

7.2.4. Binary Logistic Regression Partisipasi versus Pertambangan Tanpa Izin

Pada uji statistik logistik dengan masyarakat penambang tanpa izin hubungan terdapa partisipasi terdapat 1 varibel yang memiliki hubungan signifikan yaitu variabel kepemilikan terhadap pertambangan tanpa izin. Deskripsi dari variabel tersebut sebagai berikut:

Statistik uji G adalah analisis diperoleh bahwa Nilai-p(0.006) < alpha 10persen tolak H0 artinya model fit dengan Log-Likelihood = -46.451 dan Test that all slopes are zero: G = 32.139, DF = 15, P-Value = 0.006. Untuk Hipotesis yaitu H0 : Model Tidak Fit ( semua variabel X tidak signifikan) dan H1 : Model Fit ( minimal ada satu variabel X yang signifikan ).

Komponen pada variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah posisi (pemilik PETI), nilai-p) (0.062) < alpha 10persen maka posisi berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 0.062 artinya kecenderungan yang bukan pemilik untuk berpartisipasi lebih tinggi dibandingkan yang pemilik.

7.2.5 Binary Logistic Regression Partisipasi versus Kelembagaan yang Efektif dalam Penyelesaian Konflik

Pada aspek kelembagaan yang efektif dalam penyelesaian konflik hubungannya dengan partisipasi responden pada penelitian ini, terdapat 1 variabel berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Variabel tersebut dapat dibaca setelah statistik uji G dibawah ini.

Statistik uji G yaitu hasil analisis diperoleh bahwa Nilai-p (0.010) < alpha 10persen tolak H0 artinya model fit dengan Log-Likelihood = -55.917 dan Test that all slopes are zero: G = 13.208, DF = 4, P-Value = 0.010. Untuk Hipotesis yaitu H0 : Model Tidak Fit ( semua variabel X tidak signifikan) dan H1 : Model Fit ( minimal ada satu variabel X yang signifikan ). Dari semua variabel X yang berpengaruh nyata terhadap partisipasi adalah aktivitas sosial ekonomi, nilai-p) (0.056) < alpha 10 persen maka aktivitas sosial ekonomi berpengaruh nyata terhadap partisipasi. Nilai odds ratio sebesar 0.40 artinya aktivitas ekonomi untuk berpartisipasi 0.4 kalinya dibandingkan aktivitas sosial untuk berpartisipasi, dengan kata lain kecenderungan orang yang beraktivitas sosial lebih berperan dibandingkan yang beraktivitas ekonomi.

Apabila hasil uji logistik diatas di telaah dengan jumlah responden yang telah diwawancarai dikaitkan dengan variabel yang cukup banyak untuk diwawancarai maka potret output dari olehan data ini dengan jumlah responden cukup memadai cukup mempengaruhi alat uji yang kita gunakan. Uji statistik logistic yang dapat diinput dalam model ini memiliki keterbatasan kapasitas input juga. Hal ini hanya dapat dilakukan, apabila jumlah responden yang menjadi sampel ini cukup banyak .

Namun di sisi lain faktor geografis sampel lokasi menjadi penentu untuk dapat memperoleh jumlah responden, dimana lokasi pengambilan sampel ini berada di pegunungan dan jauh dari jankauan sarana jalan, dan juga karakter penambang tanpa izin yang sulit untuk diwawancarai dapat menjadi faktor penentu dalam pengambilan data ini. Oleh karena itu faktor-faktor tersebut yang diluar dari logika yang telah terbangun namun memilki hubungan yang signifikan juga. Perspektif ruang dan kepemilikan serta penguasaan lahan yang diarahkan pada konflik hukum telah mengawali penelitian ini dan dilanjutkan pada perspektif ekonomi yang berbasis sumberdaya dan lingkungan sebagi rona awal dari aspek pembangunan wilayah, nampak belum memberikan suatu makna dari adanya ketidak pastian yang telah berjalan selama 40 tahun di wilayah ini. Oleh karena itu model kelembagaan yang menjadi terobosan hukum namun tidak menghilangkan makna sosial ekonomi jangka panjang menjadi salah satu resolusi konflik pada penelitian ini. Model kelembagaan ini terilhami oleh pernyataan

seorang penggagas wilayah ini menjadi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yaitu:

“Silahkan diambil emas, tembaga, dan perak di wilayah ini karena barang ini di ciptakan Allah untuk kesejahteraan manusia bukan untuk tumbuhan, monyet, dan burung yang ada di dalamnya, akan tetapi jangan diusir mereka dari wilayah ini” (Muh. Suryani 2009).

Pernyataan ini mengandung makna bahwa perlu adanya resolusi yang berbanding lurus antara kepentingan ekonomi jangka panjang dan lingkungan yang seimbang dan dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran universal. Selanjutnya untuk mengartikulasi pernyataan diatas, penelitian mengadopsi dua mashab kelembagaan ekonomi yang baru (Hand Book New

Institutional Economics) dalam (Minerd and Shirley 2005) yang dipadukan

dengan data primer di lokasi penelitian terkait dengan pengembangan model kelembagaan yaitu:

Dokumen terkait