• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

4.2 Statistik Deskriptif

4.3.5 Analisis Regresi

4.3.5.1 Analisis Hasil Regresi

Berdasarkan hasil uji asumsi klasik yang telah dilakukan diatas, dapat disimpulkan bahwa model regresi yang dipakai dalam penelitian ini telah memenuhi model yang Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) dan layak untuk dilakukan analisis statistik selanjutnya. Yaitu melakukan pengujian hipotesis. Hasil pengolahan data dengan analisis regresi adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8 Hasil Analisis Regresi

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) -5.916 4.763 -1.242 .225

HPP .376 .609 .118 .617 .542 .622 1.608

H.Jual 2.999 1.059 .542 2.833 .009 .622 1.608

a. Dependent Variable: Ln VolumePenjualan

Berdasarkan tabel diatas pada kolom Unstandardized Coefficients diperoleh model persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Y = a + b1 X1 + b2 X2 + e

Y = -5,916 + 0,376 (X1) + 2,999 (X2) + e

Dimana:

Y = Volume Penjualan X1 = Harga Pokok Produksi X2 = Harga Jual

a. Nilai B Constant (a) = -5,916

Pada model regresi ini, nilai konstanta yang tercantum adalah sebesar -5,916 dapat diartikan jika variabel bebas dalam model diasumsikan sama dengan nol, secara rata – rata variabel diluar pada model dari nilai Y tetap sebesar -5,916.

b. Nilai b1 = 0,376 = harga pokok produksi

Koefisien regresi ini menunjukan bahwa setiap kenaikan harga pokok produksi sebesar Rp. 1, maka perubahan volume penjualan yang dilihat dari nilai Y akan bertambah sebesar Rp. 0,376 dengan asumsi variabel lain dianggap tetap.

c. Nilai b2 = 2,999 = harga jual

Koefisien regresi ini menunjukan bahwa setiap kenaikan harga jual sebesar Rp. 1, maka perubahan volume penjualan yang dilihat dari nilai Y akan bertambah sebesar Rp. 2,999 dengan asumsi variabel lain dianggap tetap.

4.3.5.2 Pengujian Hipotesis

Dalam melakukan pengujian hipotesis, digunakan analisis regresi berganda. Tabel 4.9 merupakan hasil yang diperoleh berdasarkan atas hasil pengolahan data dengan program statistik.

Tabel 4.9 Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .621a .386 .340 .22237 1.628

Pada tabel 4.9 nilai koefision korelasi R menunjukan seberapa besar hubungan antara variabel – variabel independen dengan variabel dependen. Korelasi dapat dikatakan kuat apabila nilai R berada lebih besar dari 0,5 dan mendekati.

Pada tabel 4.9 tersebut, terlihat hasil analisa regresi menunjukan nilai R sebesar 0,621, menunjukan bahwa hubungan yang kuat antara volume penjualan (dependen) dengan harga pokok produksi dan harga jual (variabel independen) yaitu sebesar 62,1%.

Adjusted R Square sebesar 0,340 atau 34% menjelaskan bahwa variasi dari kedua variabel independennya hanya dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 34%.

Dibawah ini merupakan uji yang digunakan dalam pengujian hipotesis secara statistik.

a. Uji Signifikansi Parsial (t-test)

Pengujian t-test dilakukan untuk melihat seberapa jauh pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen.

Kriteria penguji hipotesis:

1. Jika t hitung > t tabel maka H0 ditolak H1 diterima 2. Jika t hitung < t tabel maka H0 diterima H1 ditolak

Tabel 4.10 Uji Statistik t

Dibawah ini adalah penjelasan hasil pengujian parsial pada tabel diatas. 1) Pengaruh harga pokok produksi terhadap volume penjualan.

Nilai signifikansi 0,542 lebih besar dari 0,05. Variabel harga pokok produksi memiliki t hitung sebesar 0,617. Dengan nilai signifikansi 0,542 ( > 0,05). Dengan menggunakan tabel t, maka diperoleh t tabel sebesar 2,084. Hal tersebut menunjukan bahwa t hitung 0,617 < dari t tabel 2,084. Dimana H0 diterima dan Ha ditolak, artinya harga pokok produksi keripik singkong kreasi lutvi tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap volume penjualan pada industri keripik singkong kreasi lutvi.

2) Pengaruh harga Jual terhadap volume penjualan.

Nilai signifikansi pada harga jual tersebut adalah 0,009. Menunjukan bahwa nilai signifikansi untuk uji t parsial tersebut lebih kecil dari 0,05 (0,009 < 0,05). Variabel harga jual memiliki t hitung 2,833 dengan nilai

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) -5.916 4.763 -1.242 .225

HPP .376 .609 .118 .617 .542 .622 1.608

H.Jual 2.999 1.059 .542 2.833 .009 .622 1.608

signifikansi 0,009 < 0,05. Dengan menggunakan tabel t, diperoleh t tabel sebesar 2,084 sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Artinya harga jual rata – rata keripik singkong tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap volume penjualan pada industri keripik singkong kreasi lutvi. b. Uji Signifikansi Simultan (test F)

Pada pengujian simultan atau uji F dilakukan untuk melihat pengaruh dari variabel independen secara bersama terhadap variabel dependen.

Tabel 4.11 Uji Statistik F

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression .839 2 .420 8.486 .001a

Residual 1.335 27 .049

Total 2.174 29

a. Predictors: (Constant), Ln H.Jual, Ln HPP b. Dependent Variable: Ln VolumePenjualan

Hasil uji F yang terdapat dalam tabel diatas tersebut menunjukan bahwa nilai F hitung 8,846 dimana tingkat Sig. 0,001 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan menggunakan tabel F maka diperoleh nilai F tabel sebesar 3,34. Hal ini menunjukan bahwa F hitung 8,486 lebih besar dari F tabel 3,34 (F hitung > F tabel) sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, dengan demikian maka variabel bebas yaitu harga pokok produksi dan harga jual keripik singkong kreasi lutvi. Secara simultan berpengaruh

terhadap volume penjualan pada Industri keripik singkong kreasi lutvi tersebut.

4.3.6 Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya dengan menggunakan software SPSS 16,0 for windows, maka dapat disimpulkan bahwa harga pokok produksi dan harga jual keripik singkong kreasi lutvi memiliki hubungan yang kuat terhadap volume penjualan. Hal tersebut didasarkan atas hasil analisis koefisien korelasi antara HPP dan Harga Jual terhadap volume penjualan dengan nilai R pada tabel 0,621. Artinya korelasi antar variabel dependen yaitu volume penjualan dengan variabel independen yaitu HPP dan Harga Jual memiliki hubungan yang kuat. Hal demikian yang menyatakan bahwa korelasi atas nilai R yang berada diatas 0,5.

Berdasarkan hasil analisis regresi maka diketahui bahwa persamaan regresi yang mencerminkan bentuk hubungan kedua variabel tersebut adalah Y = -5,916+ 0,376 (X1) + 2,999 + e. Koefisien regresi sebesar -5,916 dapat diartikan jika variabel bebas dalam model diasumsikan sama dengan nol. Secara rata – rata variabel dilluar pada model dari nilai Y tetap sebesar -5,916. Koefisien regresi sebesar 0,376 menunjukan bahwa kenaikan setiap satu kali pada harga pokok produksi akan menyebabkan kenaikan pada variabel volume penjualan. Koefisien regresi sebesar 2,999, berarti peningkatan satu kali pada harga jual yang akan menyebabkan kenaikan pada variabel dependen yaitu volume penjualan.

Berdasarkan hasil uji signifikansi parsial (t-test) didapati bahwa variabel (X1) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel (Y) yaitu volume

penjualan keripik singkong kreasi lutvi. Hal diatas dilihat dari hasil uji signifikansi parsial yang menunjukan bahwa t hitung < t tabel, yaitu 0,617 < 2,084. Dimana H0 diterima dan Ha ditolak dan nilai signifikansi adalah sebesar 0,5427 > 0,05.

Setelah melakukan pengujian variabel penelitian secara parsial, maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen (X2) dari industri keripik singkong tersebut disimpulkan bahwa harga jual (X2) memiliki pengaruh secara signifikan terhadap volume penjualan pada Industri pada kerpik singkong kreasi lutvi. Hal tersebut dilihat dari t hitung yang lebih besar dari t tabel (2,833 > 2,084), sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Nilai signifikansi dari pengujian parsial harga jual pada volume penjualan tersebut adalah 0,009 < (0,05).

Setelah melakukan analisis diatas, peneliti juga melakukan penelitian secara simultan bahwa harga pokok produksi (X1) dan harga jual (X2) memiliki pengaruh terhadap volume penjualan pada industry keripik singkong kreasi lutvi di kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang. Hal ini didasarkan atas nilai signifikansi F sebesar 0,001 < 0,05, hal tersebut juga didasarkan atas pengujian yang menunjukan F hitung 8,486 > 3,34 yang mengartikan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan atas hasil penelitian yang dilakukan di Industri Keripik Singkong Kreasi Lutvi maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Secara Simultan variabel bebas yaitu harga pokok produksi (X1) memiliki pengaruh terhadap volume penjualan.

2. Secara Simultan variabel bebas yaitu harga jual (X2) memiliki pengaruh terhadap volume penjualan.

3. Secara parsial harga pokok produksi keripik singkong kreasi lutvi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap volume penjualan.

4. Secara parsial harga jual keripik singkong kreasi lutvi memiliki pengaruh secara signifikan terhadap volume penjualan pada industri keripik singkong tersebut. Hal ini dikarenakan tinggi rendahnya bahan baku mengakibatkan industri harus tetap menjual hasil dari kegiatan produksinya.

5. Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan sensus karena jumlah populasi sama besarnya dengan jumlah yang dijadikan sampel.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan dan hasil penelitian ini dapat dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Kepada Industri Keripik Singkong Kreasi Lutvi, diharapkan untuk membuat perincian biaya dengan lebih baik lagi untuk lebih memudahkan baik industri maupun pihak lain dapat mengukur tingkat keberhasilan dari pada industri tersebut.

2. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan referensi bagi penelitian selanjutnya dibidang yang sama yang akan datang untuk dikembangkan dan diperbaiki, misalnya dengan memperpanjang periode pengamatan sehingga dapat lebih mencerminkan hasil penelitian.

3. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti industri kecil lainnya sebab saat ini industri usaha kecil menengah merupakan penopang bagi kesejahteraan masyarakat khususnya Pancur Batu Sumatera Utara.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Harga Pokok Produksi

2.1.1.1 Pengertian Harga Pokok Produksi

Terlebih dahulu kita lihat pengertian dari biaya sebelum membahas mengenai harga pokok produksi. Menurut (Mulyadi, 1991:5) biaya dalam arti luas merupakan pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Terdapat empat unsur pokok dalam definisi biaya :

1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi, 2. Diukur dalam satuan uang,

3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi, 4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu

Secara sempit, definisi atau pengertian biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva jika tujuannya adalah pengorbanan untuk memperoleh barang dan jasa. Jika tujuannya untuk menghasilkan pendapatan, maka dianggap sebagai beban (expense) yang kemudian akan dilaporkan pada laporan laba rugi sebagai pengurang antara pendapatan dalam perhitungan laba. (Ikatan Akuntan Indonesia, 2007: 17.94) beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau bekurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan terjadinya penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada

penanam modal. Seluruh biaya yang menjadi pengorbanan dalam menghasilkan suatu produk jadi berpengaruh terhadap penentuan harga pokok produksi yang dihasilkan.

2.1.1.2 Unsur – Unsur Harga Pokok Produksi

Secara umum unsur dari harga pokok produksi dapat dibagi menjadi bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead.

1) Biaya bahan baku langsung (direct materiall cost)

Biaya bahan baku langsung yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan baku yang digunakan dalam proses untuk memproduksi suatu produk. Oleh karenanya jumlah total biaya bahan baku langsung ini sebanding dengan jumlah unit produk yang dihasilkan atau jumlah volume produksi. bahan baku langsung membentuk bagian integral dari produk jadi. Biaya ini meliputi biaya untuk memperoleh bahan baku dan menempatkannya dalam keadaan yang siap diolah. Kemudahan penelusuran item bahan baku ke produk jadi merupakan pertimbangan utama dalam pengklasifikasian biaya sebagai bahan baku langsung.

2) Biaya Tenaga kerja Langsung (Direct Labor Costs)

Biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang ikut secara langsung dapat diidentifikasikan kepada suatu produk sebagai obyek biayanya. Seperti halnya bahan baku langsung, jumlah total biaya tersebut. Biaya tenaga kerja langsung merupakan bagian dari

konsisten ditugaskan atau berhubungan dengan proses pembuatan produk, urutan pekerjaan tertentu, atau penyediaan layanan juga, hal tersebut dapat dikatakan pula sebagai biaya pekerjaan yang dilakukan oleh para pekerja yang benar-benar membuat produk pada lini produksi. Tenaga kerja langsung adalah seluruh karyawan yang secara langsung ikut serta memproduksi produk jadi, yang jasanya dapat diusut secara langsung pada produk, dan upahnya merupakan bagian yang besar dalam memproduksi produk. Upah tenaga kerja langsung diperlakukan sebagai biaya tenaga kerja langsung serta diperhitungkan langsung sebagai unsur biaya produksi.

3) Biaya Overhead Pabrik

Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik juga merupakan komponen biaya produksi yang tidak memiliki hubungan langsung dengan suatu produk tertentu dengan dan tidak di identifikasi atau ditelusuri kepada produk tersebut dengan cara yang secara ekonomis memungkinkan. Dengan kata lain, biaya produksi tidak langsung ini adalah biaya yang berkaitan dengan proses produksi diluar biaya bahan baku langsung dan biaya upah langsung. Oleh karenanya biaya ini tidak dapat diperhitungkan atau dibebankan langsung kepada suatu produk tertentu sebagai obyek biayanya.

2.1.1.3 Tujuan Penentuan Harga Pokok Produksi

Penentuan harga pokok produksi bertujuan untuk mengetahui berapa besarnya biaya yang dikorbankan dalam hubungannya dengan pengolahan bahan baku menjadi barang jadi atau jasa yang siap untuk dijual. Penentuan harga pokok sangat penting bagi perusahaan, karena merupakan salah satu elemen yang dapat digunakan sebagai pedoman dan sumber informasi bagi pimpinan untuk mengambil keputusan.

Adapun tujuan penentuan harga pokok produksi yang lain diantaranya :

a. Sebagai dasar untuk menilai efesiensi perusahaan

b. Sebagai dasar dalam penentuan kebijakan pimpinan perusahaan

c. Sebagai dasar penilaian bagi penyusun neraca yang menyangkut penilaian terhadap aktiva

d. Sebagai dasar untuk menetapkan harga penawaran atau harga jual terhadap konsumen

e. Menentukan nilai persediaan dalam neraca,yaitu harga pokok persediaan produk jadi

f. Untuk menghitung harga pokok produksi dalam laporan laba rugi perusahaan

g. Sebagai evaluasi kerja

h. Pengawasan terhadap efesiensi biaya, terutama biaya produksi i. Sebagai dasar pengambilan keputusan

2.1.1.4 Metode Penentuan Harga Pokok Produksi

Metode penentuan harga pokok produksi adalah cara perhitungan unsur – unsur biaya kedalam harga pokok produksi. Terdapat dua pendekatan yaitu full costing dan variable costing.

1) Full Costing merupakan metode penentuan biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang berprilaku tetap maupun variable.

2) Variable Costing yaitu metode penentuan harga pokok yang hanya memasukan komponen biaya yang bersifat variable sebagai unsur harga pokok, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang variable.

2.1.1.5 Sistem Perhitungan Biaya Produksi

Perhitungan harga pokok produksi memerlukan suatu proses pengumpulan dari biaya – biaya yang telah dikeluarkan terhadap suatu produk. Ada pun sistem perhitungan biaya produksi terdiri dari :

1) Sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan (job order costing) Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan (job order costing at au job costing), biaya produksi dikumulasikan untuk setiap pesanan (job) yang terpisah. Suatu pesanan adalah output yang diidentifikasikan untuk memenuhi pesanan pelanggan tertentu atau untuk mengisi kembali suatu item persediaan. Hal ini berbeda dengan sistem perhitungan biaya berdasarkan proses, di mana biaya diakumulasikan untuk suatu operasi atau subdivisi dari perusahaan, seperti departemen. Dalam sistem

perhitungan biaya berdasarkan pesanan, biaya ditelusuri dan dialokasikan ke pekerjaan dan biaya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dibagi dengan jumlah unit yang dihasilkan untuk mendpatkan harga rata-rata perunit.

2) Sistem perhitungan biaya berdasarkan proses (process costing)

perhitungan biaya berdasarkan proses (process costing) digunakan dalam perusahaan yang memproduksi satu jenis produk dalam jumlah besar dalam jangka panjang. Prinsip dasar dari perhitungan biaya berdasarkan proses adalah mengakumulasikan biaya dari operasi atau departemen tertentu selama satu periode penuh (bulanan, kuartalan, dan tahunan) dan kemudian membaginya dengan unit yang diproduksi selama periode tersebut.

3) Metode kalkulasi biaya lainnya

Metode kalkulasi biaya yaitu metode campuran antara metode biaya pesananan dan metode biaya proses. Beberapa perusahaan industry yang memiliki biaya bahan baku langsung yang secara signifikan berbeda namun melewati proses produksi dalam kapasitas yang besar.

2.2 Harga Jual Produk

2.2.1 Pengertian Harga Jual

Harga jual merupakan jumlah tertentu yang dibayarkan oleh konsumen terhadap barang atau jasa yang diterima. Harga dapat didefinisikan sebagai jumlah uang yang ditagih untuk suatu produk atau jasa, jumlah nilai ditukarkan konsumen untuk manfaat memiliki atau menggunakan barang atau jasa yang

diperlukan itu. Harga atau tarif adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Harga adalah nilai suatu barang dan jasa diukur dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut seseorang atau pengusaha bersedia melepaskan barang dan jasa yang dimiliki kepada pihak lain.

2.2.2 Sasaran Penetapan Harga Jual

Dalam pengambilan keputusan dalam menetapkan harga jual suatu produk atau jasa, perusahaan mempunyai tujuan dan sasaran tertentu, baik itu untuk tujan dan sasaran jangka panjang maupun pendek. Hal ini dimaksudkan agar berkelangsungan hidup suatu perusahaan dapat terjaga dan dapat ditingkatkan untuk masa – masa yang akan datang.

Berikut adalah empat kategori penetapan harga menurut (Boone dan Kurtz, 2002:70).

1) Sasaran profitabilitas

Sebagian besar perusahaan mengejar sejumlah sasaran profitabilitas dalam strategi penetapan harganya. Mereka mengerti bahwa laba merupakan hasil dari pendapatan dikurang beban dimana pendapatan merupakan harg jual dikalikan kuantitas yang terjual

2) Sasaran volume

Sasaran volume yang pertama dalam strategi penetapan harga adalah maksimalisasi penjualan (sales maximalization). Dan sasaran yang kedua mendasarkan keputusan penetapan harga pada pangsa pasar (market share)

yaitu persentase dari sebuah pasar yang dikontrol oleh perusahaan atau produk tertentu.

3) Tingkat kompetisi

Sasaran penetapan harga ini bertujuan untuk menyamai harga yang ditetapkan pesaing. Dalam banyak bisnis, perusahaan menetapkan harga mereka sendiri untuk menyamakan dengan harga yang telah ditetapkan oleh pemimpin industri dalam hal ini perusahaan yang telah mapan.

4) Sasaran prestise

Prestise membuat sebuah harga menjadi relatif tinggi untuk

mengembangkan, menjaga citra, kualitas dan eksklusivitas.

2.2.3 Faktor – Faktor Penentu Harga Jual

Keputusan penetapan harga jual sebuah perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut :

1) Tujuan Pemasaran

Sebelum menetapkan harga jual, perusahaan seharusnya menentukan strateginya atas produk tersebut, jika perusahaan telah memilih pasar sasarannya dan memposisikanya dengan baik, maka strategi bauran pemasaranya termasuk harga jual akan berjalan dengan baik.

2) Strategi Bauran Pemasaran

Harga jual adalah salah satu alat bauran pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaanya. Keputusan harga jual harus dihubungkan dengan keputusan rancangan pokok, distribusi dan promosi untuk membentuk program pemasaran yang efektif. Keputusan

yang dibuat untuk variabel – variabel bauran pemasaran lainnya mempengaruhi keputusan harga jual.

3) Biaya produksi

Perusahaan menjadikan biaya sebagai dasar untuk menetapkan harga suatu produk. Biaya – biaya tersebut termasuk biaya produksi, distribusi, promosi, biaya perpajakan, biaya penjualan, dan biaya – biaya operasional lainnya yang membebani perusahaan.

4) Penentuan harga jual berdasarkan harga pesaing

Semakin tinggi tingkat persaingan harga maka akan semakin sulit bagi perusahaan menetapkan harga yang menguntungkan. Ada beberapa strategi yang dipakai oleh perusahaan untuk menentukan harga jual dan termasuk cara untuk menghadapi harga pesaing. Penentuan harga berdasarkan harga pesaing terbagi menjadi tiga, yaitu :

a) Penentuan harga penetrasi

Penentuan harga penetrasi merupakan penentuan harga suatu produk standar. Metode ini dilakukan dengan cara menetapkan harga awal perdana yang rendah, dengan tujuan agar dapat diterima pasar secara luas. Salah satu tujuan dengan menetapkan tujuan ini adalah mendapatkan loyalitas pelanggan. Keberhasilan penentuan harga penetrasi tergantung pada seberapa besar tanggapan konsumen terhadap penurunan harga.

b) Penentuan harga defensif

Perusahaan menurunkan harga dengan tujuan untuk mempertahankan pasar. Sebagai respon atas penurunan harga produk pesaing

c) Penentuan harga prastise

Penggunaan harga yang lebih tinggi bagi sebuah produk yang dimaksudkan untuk memberikan citra yang mewah. Tujuan dari penetapan harga prastise yaitu untuk memberi kesan lini terbaik bagi produk perusahaan.

2.2.4 Metode Penetapan Harga

Metode penetapan harga (methods of price determination) Menurut (Herman, 2006:175) memiliki beberapa hal yang dapat dilakukan budgeter dalam perusahaan yaitu :

1) Metode Taksiran (judgemental method)

Perusahaan yang baru saja berdiri biasanya memakai metode ini. Pnetapan harga dilakukan dengan menggunakan instink saja walaupun market survey telah dilakukan. Biasanya metode ini digunakn oleh para pengusaha yang tidak terbiasa dengan data statistik. Penggunaan metode ini sangat murah karena perusahaan tidak memerlukan konsultan untuk surveyor. Akan tetapi tingkat kekuatan prediksi sangat rendah karena ditetapkan oleh instink. 2) Metode berbasis pasar (market-based pricing)

a. Harga pasar saat ini (current market price)

Metode ini dipakai apabila perusahaan mengeluarkan produk baru, yaitu hasil modifikasi dari produk yang lama. Perusahaan akan menetapkan

produk baru tersebut seharga dengan produk yang lama. Penggunaan metode ini murah dan cepat. Akan tetapi pangsa pasar yang didapat pada tahun pertama relatif kecil karena konsumen belum mengetahui profil produk baru perusahaan tersebut, seperti kualitas, rasa, dan sebagainya. b. Harga pesaing (competitor price)

Metode ini hampir sama dengan metode harga pasar saat ini. Perbedaannya menetapkan harga produknya dengan mereplikasi langsung harga produk perusahaan saingannya untuk produk yang sama atau berkaitan. Dengan metode perusahaan berpotensi mengalami kehilangan pangsa pasar karena dianggap sebagai pemalsu. Ini dapat terjadi apabila produk perusahaan tidak mampu menyaingi produk pesaing dalam hal kualitas, ketahanan, rasa, dan sebagainya.

c. Harga pasar yang disesuaikan (adjusted current marker price)

Penyesuaian dapat dilakukan berdasarkan pada faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal tersebut dapat berupa antisipasi terhadap inflasi, nilai tukar mata uang, suku bunga perbankan, tingkat keuntungan yang diharapkan (required rate of return), tingkat pertumbuhan ekonomi nasional atau internasional, perubahan dalam trend consumer spendling, siklus dalam trendi dan model, perubahan cuaca, dan sebagainya. Faktor internalnya yaitu kemungkinan kenaikan gaji dan upah, peningkatan efisiensi produk atau operasi, peluncuran produk baru, penarikan produk lama dari pasar, dan sebagainya. Dengan metode ini, perusahaan mengidentifikasi harga pasar yang berlaku pada saat penyiapan anggaran

dengan melakukan survey pasar atau memperoleh data sekunder. Harga

Dokumen terkait