Identifikasi Sumber-Sumber Risiko Produksi
Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, identifikasi sumber- sumber risiko merupakan langkah pertama dalam proses manajemen risiko. Idetifikasi sumber risiko dibutuhkan untuk mengetahui penyebab dari terjadinya kejadian-kejadian yang menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Pada peternakan
ayam ras pedaging, risiko produksi ditandai dengan adanya perbedaan jumlah ekor DOC yang dipelihara dengan jumlah ekor yang dipanen atau sering disebut dengan mortalitas ayam. Mortalitas atau kematian ayam merupakan risiko yang dihadapi oleh peternakan ayam ras pedaging yang berlokasi di daerah desa Gunung Bundar I, desa Gunung Bundar II, desa Ciasmara dan desa Cemplang di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. Kematian ayam bisa terjadi pada saat ayam berumur satu hingga 30 hari. Risiko tersebut terjadi karena adanya beberapa sumber risiko. Identifikasi sumber-sumber risiko produksi pada peternakan ayam ras pedaging yang berlokasi di Kecamatan Pamijahan dilakukan dengan melakukan wawancara dengan karyawan dan juga pengamatan di 10 kandang peternakan ayam ras pedaging di daerah tersebut. Pengumpulan informasi tetang sumber-sumber risiko produksi dilakukan dengan pengamatan dan wawancara dengan pemilik ataupun karyawan peternakan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pengamatan langsung, serta wawancara dengan pihak peternakan di tempat penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa kematian atau mortalitas ayam ras pedaging di kecamatan Pamijahan disebabkan oleh beberapa faktor.
a. Cuaca
Cuaca merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam usaha peternakan ayam ras pedaging. Cuaca dapat mempengaruhi suhu pada kandang tempat budidaya ayam ras pedaging. Suhu ideal pada peternakan ayam ras pedaging adalah 23 sampai 29 derajat celsius. Akan tetapi pada saat ayam berumur satu hingga tujuh hari dibutuhkan suhu yang lebih panas. Cuaca yang berubah-ubah akan memberi dampak yang buruk bagi usaha peternakan ayam. Perubahan cuaca yang tidak menentu menyebabkan suhu pada kandang berubah- ubah dan peternak tidak siap dalam mengantisipasinya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pinto (2011) mortalitas ayam ras pedaging pada peternakan milik bapak Restu di Kecamatan Babakan Madang yang disebabkan oleh faktor cuaca adalah 1,2 persen dari total DOC yang dibudidayakan. Akan tetapi pada penelitan tersebut ditemukan bahwa pada beberapa peride produksi tidak terjadi kematian ayam yang disebabkan oleh cuaca yaitu pada bulan Juni, Agustus, Desember dan Februari.
Kusnadi dan Rachmat (2010) mengungkapkan bahwa tingginya suhu lingkungan dapat mengakibatkan ayam menderita cekaman panas. Cekaman panas dapat mengakibatkan konsumsi air menjadi meningkat sedangkan nafsu makan berkurang. Cekaman panas juga dapat menurunkan jumlah sel darah merah dan sel darah putih ayam.
Pada peternakan di daerah Kecamatan Pamijahan cuaca yang tidak menentu menyebabkan suhu pada siang hari sangat panas dan pada malam hari dingin. Perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan kematian ayam. Curah hujan yang tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ayam karena hujan dapat menyebabkan lantai yang dilapisi sekam padi menjadi lembab. Lantai yang lembab juga dapat menyebabkan bulu pada ayam rusak. Bulu ayam yang rusak menyebabkan ayam kedinginan dan lama kelamaan ayam mati. Air juga dapat merusak kaki ayam yang menyebabkan ayam susah bergerak.
Selain curah hujan, suhu yang panas juga dapat menjadi sumber terjadinya mortalitas ayam. Cuaca yang panas menyebabkan suhu udara meningkat terutama
di dalam kandang. Suhu yang terlalu panas di dalam kandang dapat menyebabkan meningkatnya kadar CO2 dan mengurangi O2 dalam kandang, dimana hal ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ayam. Selain itu suhu yang panas juga menyebabkan udara bercampur dengan amoniak yang berasal dari kotoran ayam yang ada di lantai kandang. Amoniak tersebut dapat menyebabkan kematian ayam karena keracunan. Selain menyebabkan kematian pada ayam, suhu yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan nafsu makan ayam berkurang sehingga berpengaruh pada pertumbuhan ayam. Hasil wawancara di lapangan menunjukkan bahwa perubahan cuaca juga mempengaruhi mortalitas pada peternakan ayam yang berada di Kecamatan Pamijahan. Setiap responden pada penelitian ini menginformasikan bahwa salah sari penyebab kematian ayam adalah perubahan cuaca. Kematian ayam pada masing-masing kandang dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Jumlah kematian ayam karena pengaruh cuaca pada peternakan ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan tahun 2013
Responden Kapasitas Produksi (Ekor)
Mortalitas (Ekor)
Kematian ayam Karena Cuaca (ekor) MR(%) 1 4 000 250 69 27,6 2 5 000 320 81 25,3 3 4 000 210 43 20,4 4 5 000 285 64 22,5 5 4 000 290 91 31,3 6 5 000 265 66 24,9 7 4 000 236 65 27,5 8 4 000 245 55 22,4 9 4 000 205 58 28,3 10 4 000 249 73 29,3
Berdasarkan Tabel 15 dapat dilihat bahwa pengaruh cuaca pada mortalitas ayam ras pedaging cukup besar. Pengamatan yang dilakukan pada sepuluh kandang menunjukkan bahwa kematian ayam ras pedaging yang disebabkan oleh cuaca adalah berkisar antara 20 persen hingga 32 persen. Data produksi pada penelitian ini adalah data pada periode produksi bulan April hingga bulan Mei. Cuaca kecamatan pamijahan pada bulan April hingga Mei tidak menentu, dimana cuaca pada siang hari sangat panas dan pada malam hari curah hujan cukup tinggi menyebabkan kematian pada ayam. Perubahan cuaca yang tidak menentu ini juga menyebabkan karyawan dari peternakan ayam tersebut kesulitan mengantisipasi. Antisipasi yang telah dilakukakan peternak dalam mengurangi kematian ayam yang diakibatkan oleh perubahan cuaca yang tidak menentu tersebut adalah dengan menggunakan pemanas dan tirai pada dinding kandang pada musim hujan. Selain itu untuk mengatasi penurunan suhu pada musim hujan digunakan pemanas dengan menggunakan tungku dan kayu sebagai bahan bakar. Suhu panas pada siang hari juga dapat mengakibatkan kematian pada ayam, oleh sebab itu peternak melakukan langkah antisipasi berupa penggunaan blower agar suhu pada kandang dapat dikurangi.
b. Hama dan Predator
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber data selama penelitian, hama dan predator merupakan salah satu kendala dalam budidaya ayam ras pedaging. Hama dan predator merupakan organisme yang dapat mengganggu atau bahkan memangsa ayam yang sedang dipelihara. Hama yang sering menyerang pada peternakan ayam ras pedaging di kecamatan pamijahan adalah kutu atau tungau. Tungau tidak menyebabkan kematian pada ayam akan tetapi dapat membuat ayam gelisah, nafsu makan menurun dan ayam menjadi kurus.
Selain hama, faktor lain yang dapat mengganggu proses budidaya ayam ras pedaging adalah predator. Pada peternakan yang berada di Kecamatan Pamijahan, predator atau pemangsa dalam peternakan ayam ras pedaging adalah musang dan kucing. Predator merupakan pemangsa yang dapat mengganggu dan memangsa ayam. Kondisi kandang yang berada di lahan terbuka dan dikelilingi oleh semak dan pohon yang menjadi habitat bagi pemangsa menyebabkan predator sebagai salah satu penyebab kematian ayam di Kecamatan Pamijahan. Ciri-ciri dari kematian ayam karena predator adalah ayam hilang pada malam hari. Ayam yang hilang pada malam hari terkadang meninggalkan bekas berupa bagian tubuh dari ayam tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pinto (2011) mortalitas ayam ras pedaging pada peternakan milik bapak Restu di Kecamatan Babakan Madang yang disebabkan oleh hama dan predator adalah 0,4 persen dari total DOC yang dibudidayakan. Kematian ayam yang disebabkan oleh hama dan predator terjadi pada setiap periode produksi.
Saadah dkk (2010) mengungkapkan bahwa tindakan untuk menghadapi serangan hama dan predator adalah dengan melakukan tindakan isolasi. Isolasi dilakukan untuk membasmi dan mencegah serangan hama dan predator. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa 53,7 persen peternak ayam ras pedaging tidak melakukan tindakan isolasi untuk mencegah serangan hama dan predator.
Pencegahan terhadap hama predator masih kurang dikarenakan semua kandang yang dimiliki oleh responden pada penelitian ini merupakan kandang yang dibangun di lahan terbuka. Kondisi kandang seperti ini menyebabkan Predator leluasa masuk ke dalam kandang tersebut. Serangan Predator pada umumnya terjadi pada malam hari sehingga tidak dapat dicegah oleh karyawan karena merupakan jam istirahat. Berdasarkan hasil wawancara dengan karyawan dari peternakan di Kecamatan Pamijahan, kematian ayam yang disebabkan oleh serangan predator dapat dilihat pada Tabel 16.
Mortalitasayam ras pedaging yang disebabkan oleh hama dan predator pada peternakan yang berada di Kecamatan Pamijahan adalah sebesar tujuh hingga 23 persen dari total mortalitas ayam. Predator utama pada peternakan tersebut adalah musang. Selain musang, predator lain pada peternakan di Kecamatan Pamijahan ini adalah kucing. Serangan predator pada umumnya terjadi pada malam hari. Kodisi lingkungan kandang yang dikelilingi oleh semak dan pepohonan yang merupakan habitat bagi musang menyebabkan jumlah predator di daerah Kecamatan Pamijahan cukup besar. Selain itu kondisi kandang yang jauh dari keramaian dan aktifitas musang juga terjadi pada malam hari menyebabkan predator ini sulit dikendalikan.
Tabel 16 Jumlah kematian ayam karena hama dan predator pada peternakan ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan tahun 2013
Responden Kapasitas Produksi (Ekor)
Mortalitas (Ekor)
Kematian ayam Karena Hama (Ekor) MR(%) 1 4 000 250 38 15,2 2 5 000 320 55 17,2 3 4 000 210 47 22,4 4 5 000 285 52 18,2 5 4 000 290 56 19,3 6 5 000 265 52 19,6 7 4 000 236 48 20,3 8 4 000 245 45 18,4 9 4 000 205 15 7,3 10 4 000 249 39 15,7 c. Penyakit
Penyebab utama mortalitas pada peternakan ayam ras pedaging adalah penyakit. Penyakit yang dapat menyerang ayam ras pedaging bermacam-macam. Jenis-jenis penyakit yang umum terjadi pada peternakan ayam adalah kotoran berdarah (coccidiosis), Tetelo (new casstle diseae), Gumboro (infectious bursal disease), dan penyakit ngorok (chronic respiratory disease). Penyakit-penyakit tersebut muncul karena adanya virus dan bakteri di kandang atau sarana budidaya lainnya. Kebersihan kandang, tabung pakan dan tempat minum merupakan faktor penyebab adanya penyakit. Penanganan penyakit harus segera dilakukan begitu ayam terjangkit penyakit, karena jika tidak maka akan menyebabkan kematian pada ayam. pengobatan pada ayam yang sudah terjangkit penyakit sebaiknya dilakukan di tempat yang terpisah dengan ayam lainnya karena penyakit pada ayam sangat mudah menular. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pinto (2011) mortalitas ayam ras pedaging pada peternakan milik bapak Restu di Kecamatan Babakan Madang yang disebabkan oleh penyakit adalah 6,1 persen dari total DOC yang dibudidayakan. Faktor penyakit merupakan sumber risiko yang menyebabkan kematian ayam terbesar pada penelitian tersebut.
Sama seperti penelitian Pinto (2011) penyebab utama kematian ayam pada peternakan di Kecamatan Pamijahan adalah karena penyakit. Jumlah kematian ayam yang disebabkan oleh penyakit pada masing-masing peternak dapat dilihat pada Tabel 17.
Persentase mortalitas ayam yang diakibatkan oleh penyakit pada peternakan ayam di Kecamatan Pamijahan sangat tinggi yaitu 39 persen hingga 52 persen. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para responden, penyakit yang menjadi penyebab utama kematian ayam adalah gumboro (infectious bursal disease). Gejala dari serangan penyakit gumboro adalah hilangnya nafsu makan ayam, peradangan di sekitar dubur, dan diare. Penyakit ini sulit untuk diobati sehingga jika sudah terkena penyakit ini maka ayam akan mati. Selain sulit diobati, penyakit gumboro juga dapat menular dengan cepat melalui kotoran, pakan, minuman dan peralatan lain yang sudah tercemar. Selain itu penyakit lain yang menyebabkan kematian ayam adalah penyakit ngorok (chronic respiratory disease). Penyakit ngorok adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan. Gejala dari ayam yang terserang
penyakti ngorok adalah ayam bersin-bersin, sayap terkulai, dan diare. Penyakit ngorok juga dapat menular dengan cepat melalui peralatan pakan dan juga minuman ayam.
Tabel 17 Jumlah kematian ayam karena penyakit pada peternakan ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan tahun 2013
Responden Kapasitas Produksi (Ekor)
Mortalitas (Ekor)
Kematian ayam Karena Penyakit (Ekor) MR(%) 1 4 000 250 113 45,2 2 5 000 320 135 42,2 3 4 000 210 101 48,1 4 5 000 285 146 51,2 5 4 000 290 127 43,8 6 5 000 265 123 46,4 7 4 000 236 93 39,4 8 4 000 245 103 42 9 4 000 205 91 44,4 10 4 000 249 110 44.2
Selain kedua penyakti diatas, kematian ayam di Kecamatan Pamijahan juga disebabkan oleh tetelo (new casstle diseae). Penyakit tetelo merupakan penyakit pada ayam dimana belum ditemukan pengobatannya. Penyakit tetelo disebabkan oleh virus yang menyerang sel darah ayam. Gejala dari penyakit tetelo adalah nafsu makan turun, kesulitan bernafas, dan ayam menyerang tidak menentu. Penyakit tetelo merupakan penyakit ayam yang sulit untuk diobati dan sampai saat ini masih jarang ditemukan obat-obatan untuk penyakit tetelo. Ayam yang sudah terserang penyakit tetelo sebaiknya segera dipisahkan dari ayam yang masih sehat karena penyakit ini menular dengan cepat melalui kotoran dan juga pernafasan.
d. Gangguan Lingkungan
Selain cuaca, hama, predator dan penyakit kematian ayam juga dapat disebabkan oleh stres pada ayam yang disebabkan oleh lingkungan. Menurut Saadah dkk (2010) kematian ayam dapat disebabkan oleh rendahnya pengawasan lalu lintas pada peternakan. Salah satu bentuk pengawasan lalu lintas pada peternakan ayam adalah larangan masuk bagi orang yang tidak berkepentingan.
Stres pada ayam pada umumnya terjadi pada saat DOC baru tiba. Perjalanan yang jauh dari supplier hingga ke lokasi kandang menyebabkan DOC stres. Selain itu, suasana baru di kandang juga dapat menyebabkan ayam stres.
Stres pada ayam juga dapat terjadi akibat suara-suara keras dari luar dan ketika masa pemanenan. Menurut peternak ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan suara keras, misalnya suara petir pernah menyebabkan kematian pada ayam. Sistim panen dapat menyebabkan kematian ayam karena panen di peternakan yang ada di daerah Kecamatan Pamijahan tidak dilakukan sekaligus. Panen dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembeli, dimana pembeli dapat memilih ayam yang mereka inginkan. Proses penangkapan ayam dapat menyebabkan ayam menjadi stres dan menyebabkan kematian pada ayam yang
tinggal di kandang. Jumlah kematian ayam yang disebabkan oleh faktor gangguan lingkungan pada peternakan ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18 Jumlah kematian ayam karena gangguan lingkungan pada peternakan ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan tahun 2013
Responden Kapasitas Produksi (Ekor)
Mortalitas Kematian Ayam Karena Ganguan Lingkungan (Ekor) MR(%) 1 4 000 250 30 12,0 2 5 000 320 49 15,3 3 4 000 210 19 9,0 4 5 000 285 23 8,1 5 4 000 290 16 5,5 6 5 000 265 24 9,1 7 4 000 236 30 12,7 8 4 000 245 42 17,1 9 4 000 205 41 20,0 10 4 000 249 27 10,8
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam peternakan ayam ras pedaging adalah pengawasan lalu lintas. Pengawasan lalu lintas adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi gangguan pada ayam seperti tidak terlalu sering keluar masuk kandang. Pada peternakan di Kecamatan Pamijahan pengawasan lalu lintas masih kurang diperhatikan sehingga tidak jarang menyebabkan kematian pada ayam. Kematian ayam yang diakibatkan gangguan dari luar adalah sebesar lima hingga 20 persen dari total mortalitas ayam ras pedaging dari masing-masing peternak. Sumber risiko gangguan lingkungan ini merupakan sumber risiko yang belum pernah muncul pada penelitian terdahulu tentang analisis risiko produksi ayam ras pedaging. Sumber risiko gangguan lingkungan merupakan faktor-faktor luar yang dapat menghambat pertumbuhan ayam atau bahkan dapat menyebabkan kematian ayam.
Analisis Probabilitas Risiko Produksi
Pada sub bab sebelumnya ditemukan bahwa terdapat empat sumber risiko pada peternakan ayam ras pedaging di daerah Kecamatan Pamijahan. Setelah mengetahui sumber-sumber risiko tersebut maka tahapan selanjutnya adalah melakukan analisis probabilitas atau kemungkinan terjadi dari masing-masing sumber risiko tersebut. Analisis probablilitas ini diperlukan untuk mengetahui besar atau kecilnya probabilitas tejadinya kematian ayam diatas batas normal karena sumber-sumber risiko tersebut . Analisis probabilitas tersebut bermanfaat pada proses penanganan risiko.
a. Cuaca
Mortalitas merupakan hal yang pasti dialami oleh peternakan ayam ras pedaging. Mortalitas pada peternakan dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
Salah satu penyebab terjadinya kematian ayam adalah adanya perubahan cuaca. Perubahan cuaca menyebabkan suhu di dalam kandang tidak sesuai dengan suhu yang dibutuhkan oleh ayam. Peternak yang menjadi respoden dari penelitian ini sudah menetapkan batas normal kematian ayam yang dapat ditolerir pada masing- masing sumber risiko. Batas kematian ayam akibat cuaca yang dianggap normal oleh para peternak yang berada di Kecamatan Pamijahan diperoleh dari nilai rata- rata persentase mortalitas ayam ras pedaging akibat sumber risiko cuaca dikalikan dengan rata-rata jumlah ekor ayam yang mati pada setiap peternakan. Kematian ayam akibat cuaca yang dapat dianggap masih normal adalah 66 ekor pada setiap siklus produksi. Perhitungan probabilitas dapat dilakukan untuk melihat peluang terjadinya kematian ayam karena faktor cuaca yang melebihi atau kurang dari batas normal. Probabilitas terjadinya kematian ayam yang melebihi atau kurang dari batas normal dapat dihitung dengan metode nilai Z. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko cuaca dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19 Perhitungan probabilitas sumber risiko cuaca pada peternakan di Kecamatan Pamijahan (periode April-Mei 2013)
Peternak Kematian Ayam (Ekor)
1 69 2 81 3 43 4 64 5 91 6 66 7 65 8 55 9 58 10 73 Total 665 Rata-Rata 67 Standar Deviasi 13 X 66 Z -0,07
Nilai Pada Tabel Z 0,4721
Probabilitas Risiko <66 ekor 47,21%
Probabilitas Risiko >66 ekor 52,79%
Periode produksi yang diteliti pada penelitian ini adalah bulan April hingga Mei. Cuaca pada bulan April hingga Mei selalu berubah-ubah. Perubahan cuaca ini menyebabkan kematian ayam melebihi perkiraan peternak. Cuaca yang berubah-ubah antara siang dan malam menyebabkan ayam meriang, kehilangan nafsu makan sehingga mengakibatkan kematian ayam. Perubahan yang tidak menentu menyebabkan karyawan tidak dapat memberi penanganan dengan baik. Hasil perhitungan pada Tabel 19 menunjukkan bahwa kematian ayam yang disebabkan oleh cuaca dapat kurang atau lebih dari batas normal yaitu 66 ekor. Kemungkinan terjadinya kematian ayam yang disebabkan oleh cuaca kurang dari
66 ekor adalah 47,21 persen. Sedangkan peluang kematian ayam yang disebabkan oleh cuaca melebihi batas normal adalah 52,79 persen. Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa kematian ayam pada setiap peternakan yang disebabkan oleh cuaca kebanyakan masih melebihi batas normal yang telah ditetapkan yaitu 66 ekor.
b. Hama dan Predator
Sama halnya seperti cuaca, serangan hama dan predator dapat menjadi penyebab terjadinya kematian ayam. Predator utama pada lingkungan terbuka seperti yang ada di Kecamatan Pamijahan adalah musang dan kucing. Batas kematian ayam akibat hama dan predator yang dianggap normal oleh para peternak yang berada di Kecamatan Pamijahan diperoleh dari nilai rata-rata persentase mortalitas ayam ras pedaging akibat sumber risiko cuaca dikalikan dengan rata-rata jumlah ekor ayam yang mati pada setiap peternakan. Kematian ayam akibat hama dan predator yang dapat dianggap masih normal adalah 44 ekor pada setiap siklus produksi. Akan tetapi pada kenyataannya ada saat dimana jumlah kematian ayam yang disebabkan oleh hama dan predator kurang dari 44 ekor dan ada juga kemungkinan diatas 44 ekor. Probabilitas terjadinya kematian ayam yang melebihi atau kurang dari batas normal dapat dihitung dengan metode nilai Z. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko hama dan predator dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20 Perhitungan probabilitas sumber risiko hama dan predator pada peternakan di Kecamatan Pamijahan (periode April-Mei 2013)
Peternakan Kematian Ayam (Ekor)
1 38 2 55 3 47 4 52 5 56 6 52 7 48 8 45 9 15 10 39 Total 447 Rata-Rata 45 Standar Deviasi 12 X 44 Z -0,08
Nilai Pada Tabel Z 0,4681
Probabilitas Risiko < 44 ekor 46,81%
Probabilitas Risiko > 44 Ekor 53,19%
Predator yang menyebabkan kematian ayam pada peternakan yang berada di Kecamatan Pamijahan adalah musang dan kucing. Musang merupakan predator
utama karena kandang berada dilingkungan terbuka dan dikelilingi lingkungan yang masih alami yang merupakan habitat bagi musang. Selain musang kematian ayam juga disebabkan oleh serangan kucing. Kematian ayam karena serangan predator ditandai dengan hilangnya ayam atau bahkan sebagian tubuh ayam tertinggal di kandang. Sampai saat ini belum ada pencegahan yang dilakukan terhadap serangan predator pada peternakan yang berada di Kecamatan Pamijahan. Hasil perhitungan pada Tabel 20 diatas menunjukkan bahwa kematian ayam karena hama dan predator dapat kurang atau melebihi batas normal yaitu 44 ekor. Probabilitas kematian ayam yang diakibatkan oleh hama dan predator kurang dari 44 ekor adalah 46,81 persen. Kemungkinan kematian ayam lebih besar dari batas normal lebih sangat besar yaitu sebesar 53,19 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan peternakan yang merupakan responden pada penelitian ini mengalami kematian ayam yang disebabkan oleh hama dan predator melebihi batas normal yaitu 44 ekor.
c. Penyakit
Penyakit merupakan faktor utama penyebab terjadinya kematian ayam. oleh karena itu batas normal yang untuk kematian ayam yang disebabkan oleh penyakit cukup tinggi. Batas kematian ayam akibat penyakit yang dianggap normal oleh para peternak yang berada di Kecamatan Pamijahan diperoleh dari nilai rata-rata persentase mortalitas ayam ras pedaging akibat sumber risiko penyakit dikalikan dengan rata-rata jumlah ekor ayam yang mati pada setiap peternakan. Kematian ayam akibat penyakit yang dapat dianggap masih normal adalah 114 ekor pada setiap siklus produksi. Akan tetapi pada kenyataannya ada saat dimana jumlah kematian ayam yang disebabkan oleh penyakit kurang dari 114 ekor dan ada juga kemungkinan diatas 114 ekor. Probabilitas terjadinya kematian ayam yang melebihi atau kurang dari batas normal dapat dihitung dengan metode nilai Z. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko penyakit dapat dilihat pada Tabel 21.
Menurut hasil wawancara dengan para responden, penyakit yang sering menyerang ayam pada peternakan di Kecamatan Pamijahan adalah penyakit gumboro (infectious bursal disease). Penyakit gumboro merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh ayam. Selain gumboro, penyakit lain yang menyerang ayam di Kecamatan Pamijahan adalah tetelo (new casstle diseae), dan penyakit ngorok (chronic respiratory disease). Penyakit tetelo merupakan penyakit ayam yang masih sangat sulit dicari pengobatannya. Sampai saat ini penanganan penyakit hanya dilakukan oleh karyawan peternakan tanpa melibatkan ahli kesehatan ayam. Selain itu terkadang penanganan terhadap penyakit juga dilakukan dengan tradisional, misalnya dalam penanganan penyakit diare pada ayam dilakukan dengan pemberian kunyit. Penanganan penyakit pada ayam juga terlambat dilaksanakan sehingga dapat