• Tidak ada hasil yang ditemukan

Protection Value Protection EconomicSustainable Economic Economic Economic

5.7 Analisis Risiko

Untuk menentukan tingkat risiko perbankan dalam pemberian kredit perikanan dan kaitannya dengan pengembangan usaha perikanan maka dilakukan analisis risiko dua tahap. Tahap pertama adalah melakukan evaluasi analisis risiko yang dilakukan perbankan sendiri secara internal, dan pada tahap kedua dilakukan analisis risiko dengan mengaitkan dengan risiko inherent yang melekat pada sektor perikanan.

Dalam konteks analisis risiko perbankan, Bank BRI cabang Pekalongan sudah melakukan secara analisis risiko secara internal berdasarkan kaidah perbankan sebagaimana dituangkan dalam Surat Edaran NOSE: S.20-DIR/ADK/09/01 tentang Credit Risk Rating dan Klasifikasi Warna Kredit. Berdasarkan surat edaran ini, Bank BRI cabang Pekalongan melakukan assessment untuk nasabah perikanan di Pekalongan berdasarkan bobot dan kriteria

yang telah ditetapkan. Dari hasil analisis tersebut diperoleh bahwa sebagian besar memiliki rating risiko 1b yang dikatakan sebagai risiko rata-rata (Lampiran 2), bahkan untuk nasabah yang kondisi kreditnya macet sekalipun rating kreditnya masih dalam kategori 1b. Artinya bahwa meski perbankan selama ini menganggap usaha perikanan sebagai usaha yang berisiko tinggi, namun berdasarkan kriteria risiko yang dimiliki perbankan hal tersebut tidak terbukti.

Untuk membandingkan analisis risiko yang dilakukan oleh lembaga perbankan dan risiko internal yang dihadapi oleh perikanan maka dilakukan analisis delta-EVT sebagaimana dijelaskan pada Bab 2. Untuk keperluan tersebut diperlukan analisis terhadap variance (keragaman) dari tiga macam kredit yang diberikan, yakni kredit yang diberikan dalam skala mikro (dibawah 30 GT) kredit perikanan skala makro (di atas 30 GT ) dan kredit non perikanan yang diberikan oleh lembaga perbankan di BRI Pekalongan. Untuk itu data portofolio perkreditan sebagaimana tertera dalam lampiran digunakan untuk menghitung keragaman dari masing-masing komponen tersebut.

Gambar 45 berikut ini menggambarkan variance (keragaman) dari produksi perikanan di bawah 30 GT dengan dan tanpa kredit. Garis lurus dalam gambar tersebut menunjukan nilai mean (rataan) dari produksi sehingga dapat dilihat deviasi (penyimpangan) produksi dari setiap unit analisis terhadap nilai rataannya yang menunjukkan adanya keragaman dari setiap unit.

0

20

40

60

80

100

120

0 5 10

Unit

P

roduk

s

i

15

Produksi

mean

Gambar 45 Keragaman produksi nelayan di bawah 30 GT dengan kredit

0 100 200 300 400 500 600 0 2 4 6 8 10 12 1 unit P roduk s i 4 Produksi mean

Penentuan delta-EVT untuk kredit di bawah 30 GT baik dengan dan tanpa kredit digunakan formula berikut (Fauzi dan Fatchudin, 2006):

( )

( )

2 2 2 2 2 2 2 2 E v E v E v e v p c p c σ σ σ σ σ σ ∂ ⎛ ⎞ = ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ = − = − keterangan: 2 E

σ = volatility dari keuntungan produksi nelayan e v ∂ ⎛ ⎜ ∂ ⎝ ⎠ ⎞

⎟ = penerimaan marjinal produksi

v

σ = keragaman (variance) dari produksi p = harga per unit output

c = biaya per unit effort

Hasil analisis risiko untuk kapal di bawah 30 GT disajikan pada Tabel 20 berikut:

Tabel 20 Analisis risiko kapal di bawah 30 GT

Keterangan Dengan Kredit Tanpa kredit

Variance 1354.7 23761.8 Std error 11.1 46.5 P 5 5 C 0.15 0.15 Volatility1 53.835 225.525 Total Produksi 653 2230

Risk terhadap total 0.082443 0.101132287

Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa volatiliy dari kegiatan produksi perikanan (independen terhadap intervensi bank) berkisar antara 8 % sampai

dengan 10 %. Dengan kata lain risiko ketidakpastian yang diakibatkan oleh fluktuasi produksi perikanan berkisar antara 8 % sampai 10 % dari total produksi. Dari Tabel 19 dapat pula dilihat bahwa kisaran tersebut tidak berbeda nyata dengan kata lain bagi nelayan di bawah 30 GT baik menerima kredit atau tidak rata-rata volatility mereka sekitar 9 %. Angka ini menggambarkan faktor risiko internal yang tidak diperhitungkan dalam rating bank ketika lembaga tersebut menyalurkan kredit.

Untuk skala besar karena ditangani langsung oleh BRI cabang pekalongan, maka data nasabah kredit perikanan dari BRI Cabang Pekalongan (Lampiran 2) digunakan sebagai basis analisis dengan menggunakan formula delta-EVT sebagai berikut :

( )

2 2 2 1 (1 Pr( ) , L i r r r i i c c i c OV R D C R σ =⎢ ×σ δ× × − + ×σ × ⎥ ⎝ ⎠ ⎢ ⎥ ⎣

∑ ∑

c ⎦ keterangan: 2 L

σ = variance dari kredit yang diberikan

i

OV = nilai outstanding kredit saat terakhir

,

r c

σ = error dalam recovery rate

δ = perbedaan default rate (kredit bermasalah)

Pr(Di) = peluang terjadinya default untuk kredit oleh pihak ke i

c

Struktur pinjaman dan nilai jaminan dari nasabah kredit perikanan skala besar di Pekalongan tertera pada Tabel 21 berikut.

Tabel 21. Pinjaman kredit dan nilai agunan skala besar

Nasabah Rating Risiko Jumlah kredit

(Rp) Nilai Agunan (Rp) 1 1a 499.554.373 800.000.000 2 1a 6.074.945 80.000.000 3 1b 435.985.699 1.206.120.000 4 1b 99.753.563 162.875.000 5 1b 20.000.000 80.000.000 6 1b 82.010.318 382.750.000 7 1b 115.118.632 198.400.000 8 1b 2.573.413 164.000.000 9 1b 17.887.068 41.000.000 10 Ic 350.000.000 574.000.000 Jumlah 628.958.011 3.689.145.000

Dengan menggunakan data di atas dan informasi mengenai default rate dan nilai peluang kredit macet serta konstanta lainnya dari pihak BRI Pekalongan, maka dengan menggunakan formula delta-EVT di atas, diperoleh hasil volatility rate sebagaimana tertera pada Tabel 22 berikut ini. Kolom satu sampai tiga merangkum informasi dari Tabel 21 berdasarkan kelompok rating yang sudah ditentukan oleh BRI Pekalongan, sementara kolom empat dan kolom lima merupakan perhitungan formula EVT. Kolom empat menggambarkan bagian pertama dari formula di atas atau

( )

2

1 (1

i r r r

i

OV ×σ δ× × −R

sementara kolom

ke lima mewakili bagian kedua dari formula atau .

Perhitungan nilai volatility menunjukkan nilai sebesar 0,01 atau 1 %. Hal ini

2 , Pr( i) i c c c c D C σ R× × ⎞ ⎜ ⎟ ⎝

berarti bahwa risiko kerugian terhadap kredit untuk skala besar akibat keragaman masing-masing nasabah perikanan tersebut sekitar 1 %. Dengan kata lain kredit untuk nasabah skala besar menunjukan risiko yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan adanya agunan dalam bentuk aset yang bisa disita setiap saat dan nilai agunan tersebut di atas pagu kredit yan diberikan. Selain itu penerima kredit skala besar memiliki diversikasi usaha yang bisa menutup kerugian dari perikanan sehingga rating mereka masih dalam kategori rendah. Hasil perhitungan risiko berdasarkan delta-EVT ini juga sesuai dengan hasil perhitungan rating BRI Pekalongan yang mengklasifikasikan nasabah ini dalam kategori risiko rendah.

Tabel 22 Perhitungan delta-EVT risiko untuk kredit skala besar Kelompok

Rating

Jumlah Kredit

Jumlah

Agunan Variance Loan

Variance Collateral (dalam juta) 1a 505.629.318 880.000.000 45098601674 1.355 1b 773.328.693 2.194.145.000 1.04202E+12 5.529 1c 350.000.000 574.000.000 3.969E+11 3.214 Sum 1.628.958.011 10.098 sigma kuadrat 101.986.678 Jumlah total 103.470.717.347 Akar total 10,17 Volatility 0,01

Jika risiko ini digabungkan dengan risiko internal yang dihadapi oleh nelayan sebesar 8 % tadi maka nilai ini sama dengan 9 % hal ini berarti sama dengan nilai rata-rata risiko antara kredit dan tanpa kredit. Dengan kata lain hasil ini menjungkirbalikkan asumsi selama ini yang mengganggap bahwa kredit sektor perikanan memiliki risiko lebih tinggi daripada kredit-kredit lainnya. Hasil ini juga menunjukkan perlunya mempertimbangkan risiko yang dihadapi oleh sektor perikanan berupa risiko internal sebab kalau tidak, risiko yang dianalisis oleh perbankan bisa menjadi undervalue (dalam kasus ini sebesar 1 %) terhadap risiko

yang sebenarnya dihadapi oleh sektor perikanan (sekitar 8 %). Untuk itu konsep Corporate Resource Responsibility (CRR) perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kebijakan kredit untuk perikanan di masa mendatang agar pengelolaan perikanan dapat berkelanjutan.

Dari beberapa hasil analisis yang telah di kemukakan pada dua bab sebelumnya maka dapat di tarik beberapa implikasi kebijakan menyangkut aspek kredit dalam konteks pembangunan perikanan yang berkelanjutan, termasuk di dalamnya dalam kaitan ketersediaan sumber daya dan risiko yang di hadapi.

Pertama, dalam konteks kebijakan makro, hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan perkreditan untuk sektor perikanan selama enam puluh tahun merdeka memang telah menunjukkan progress yang berarti dalam skala kredit yang diberikan (besaran rupiah dan jumlah nasabah yang diberi kredit), namun demikian implementasi kredit tersebut masih banyak menemui kendala karena belum adanya komitmen institusi seperti belum adanya lembaga perbankan yang khusus menangani perikanan serta sistem distribusi kredit itu sendiri yang masih berorientasi dengan cara konvensional. Hal ini berimplikasi pada kebijakan makro yang sifatnya masih parsial dan kurang terpadunya pengembangan aspek finansial dengan aspek pengelolaan perikanan lainnya seperti pengelolaan sumber daya dan pengendalian dampak overfishing dan overcapacity dibidang perikanan. Implikasi makro lainnya yang juga patut di perhatikan adalah menyangkut kebijakan fiskal dan moneter dalam konteks perkreditan perikanan. Artinya bisa saja kredit perikanan tidak harus di berikan secara masif asal saja di subtitusi oleh kebijakan fiskal yang kondusif seperti “tax – shifting “ (pergeseran pajak dari komponen yang sensitif terhadap usaha perikanan ke komponen yang kurang sensitif). Substitusi kebijakan fiskal juga dapat dilakukan dengan meningkatkan kebijakan subsidi infrastruktur pada daerah-daerah yang masih “underexploited”.

Dengan kata lain kebijakan perkreditan tipe K2 bisa lebih banyak di lakukan pada daerah-daerah dengan tipologi III dan tipologi IV. Untuk itu perlu disinergikan dengan kebijakan penanaman modal di daerah-daerah pesisir dengan kebijakan fiskal di tingkat pusat. Sinergi ini diperlukan untuk mengurangi “biaya transaksi” yang cukup tinggi yang umumnya terjadi di sektor perikanan.

Dari sisi moneter, penetapan suku bunga yang rendah terhadap kredit dan subsidi perikanan diperlukan untuk mendorong kemajuan pembangunan perikanan khususnya pada wilayah-wilayah dengan tipologi III dan tipologi IV. Untuk itu diperlukan kebijakan perbankan yang mendorong suku bunga rendah untuk sektor-sektor primer seperti perikanan tangkap tersebut.

Ditingkat makro, perlu juga dipertimbangkan kebijakan menyangkut institusi atau lembaga keuangan yang menangani khusus sektor perikanan karena sifatnya yang khas dengan karakteristik yang sedikit berbeda dengan sektor ekonomi lainnya. Untuk itu diperlukan kebijakan dalam bentuk perundang-undangan dan peraturan lainnya baik di tingkat pusat maupun lokal yang di rancang untuk mengakomodasi karakteristik perikanan tersebut.

Kedua, dalam konteks kebijakan mikro, tampak bahwa kredit perikanan memang bisa menjadi “double edge sward” (pisau bermata dua) dimana kredit perikanan nampaknya mengikuti kurva – U – terbalik (Inverted-U-Curve) dimana efektivitas kredit sering terjadi dalam jangka pendek seperti tertera pada gambar berikut ini.

waktu Efektifitas kredit waktu Efektifitas kredit

Gambar 47 Kurva efektivitas kredit terhadap waktu

Implikasi dari situasi ini adalah bahwa kebijakan perkreditan perikanan tidak bisa secara terus menerus di berlakukan pada tempat yang sama, armada perikanan yang sama dengan target spesies yang sama. Hal ini karena adanya fakta “ stock effect” sebagaiman diuraikan pada bab sebelumnya. Selain itu, kurva U-terbalik juga berlaku kalau kita plotkan antara besaran kredit dengan efisiensi usaha perikanan sebagaimana gambar berikut.

Besaran kredit Efisiensi

Perikanan

Kmax Besaran kredit

Efisiensi Perikanan

Kmax

Gambar 48 di atas menunjukkan bahwa jumlah kredit yang besar tidak akan berkorelasi linier terhadap efisiensi usaha perikanan, sebagaimana di tunjukkan dari studi ini. Oleh karenanya, diperlukan kombinasi kebijakan antara kebijakan finansial di satu sisi dengan kebijakan pengendalian input disisi lain. Kebijakan ini kita sebut “Two – Tier – Policy” atau kebijakan jalur ganda dimana pengendalian input hendaknya, memperhatikan kendala finansial yang dihadapi oleh nelayan. Dalam kebijakan yang konvensional, jika di suatu wilayah mengalami over fishing atau overcapacity (kapasitas yang berlebihan) maka kebijakan yang dijalankan biasanya mengembangkan instrumen pasar seperti penerapan kuota, pajak baik input maupun output serta pembatasan (limited entry). Sebagaimana dikemukakan oleh Fauzi (2005) kebijakan yang mengandalkan instrumen ini semata, tidak efektif manakala perikanan memiliki kendala lain menyangkut kendala finansial dan sempitnya lapangan pekerjaan di sektor perikanan. Di sisi lain, kendala finansial ini justru sering diatasi dengan memberikan subsidi dan kredit tanpa melihat kondisi perikanan itu sendiri. Pada akhirnya malah akan memperburuk situasi perikanan karena justru malah akan memicu peningkatan input maupun pengurasan sumber daya perikanan. Dengan kata lain jika instrumen kebijakan konvensional tersebut diterapkan masing-masing secara independen hasilnya tidak akan efektif untuk mengendalikan perikanan ke arah pengelolaan yang efisien dan berkelanjutan. Two-Tier Policy

berupaya menjembatani kendala tersebut dengan cara mengkombinasikan secara sinergis antara kebijakan perkreditan dengan kebijakan pengendalian input. Misalnya saja jika rasionalisasi atau instrumen ekonomi (seperti pajak) harus diberlakukan maka hendaknya ini tidak diberlakukan pada perikanan dengan

beban kredit yang besar karena mereka mungkin sudah berada di sebelah kanan kurva- U- terbalik.

Secara diagramatis, sinergi dalam two-tier policy tersebut dapat dijelaskan pada Gambar 49 berikut ini.

Kondisi Input, output Dan sumber Daya ikan Instrumen Rasionalisasi (pajak, fee, etc) Proses dan Regulasi Institusi finansial Kebutuhan Dan kendala finansial Kebijakan Rasionalisasi Kebijakan perkreditas Kondisi Input, output Dan sumber Daya ikan Instrumen Rasionalisasi (pajak, fee, etc) Proses dan Regulasi Institusi finansial Kebutuhan Dan kendala finansial Kebijakan Rasionalisasi Kebijakan perkreditas Kebijakan Perkreditan

Gambar 49 Two-tier policy kebijakan perkreditan dengan rasionalisasi

Sebagaimana terlihat pada Gambar 49, komponen kebijakan perkreditan meliputi assessment terhadap kebutuhan dan kendala finansial yang dihadapi oleh sektor perikanan. Assessment ini kemudian diikuti dengan proses dan regulasi institusi yang menangani perkreditan perikanan seperti perbankan atau lembaga keuangan lainnya. Di sisi lain, kebijakan rasionalisasi yang meliputi assessment

terhadap kondisi input (effort, dsb) dan output (produksi aktual, produksi lestari) serta kondisi sumber daya (overfishing atau tidak) harus disesuaikan dengan instrumen kebijakan yang akan digunakan seperti instrumen pajak, kuota, fee dan sebagainya. Kedua kebijakan ini kemudian disinergikan sebagaimana terlihat dari arah panah timbal balik antara empat komponen dari masing-masing sisi kebijakan (Fatchudin et al., 2006).

Ketiga, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil bioekonomi dan analisis sistem dinamis, keberlanjutan perikanan (terutama dari aspek sumber daya atau

supply dan aspek produksi atau demand) akan sangat tergantung dari kredit yang diberikan kepada perikanan. Keberlanjutan sumber daya memang akan menurun jika kredit terus menerus di berikan kepada perikanan. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan “off-set mechanism” (mekanisme yang menggantikan penurunan tersebut) melalui kebijakan perkreditan yang ditujukan untuk pengkayaan stok (stock enhancement). Jadi kredit tidak hanya diberikan namun juga bisa di berikan kepada “stake holder” lain yang berusaha melakukan kegiatan konservasi dan pengkayaan stok. Dengan demikian dampak penurunan sumber daya karena “stock effect” dari kredit dapat di “off set” (digantikan) oleh kredit yang meningkatkan ketersediaan sumber daya.

Dari analisis risiko didapat hasil bahwa risiko rata-rata kredit perikanan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan risiko tanpa kredit atau kredit sektor lain. Artinya bahwa tidak benar perikanan memiliki risiko yang lebih tinggi. Dengan demikian implikasi kebijakannya adalah bahwa ke depan lembaga perbankan hendaknya tidak semata-mata melihat risiko finansial dari sisi perbankan semata namun juga harus melihat risiko internal yang dimiliki oleh nelayan (penerima

kredit) melalui kebijakan yang disebut sebagai ”Double F Resource Credit Risk Assessment” atau DF Rescra. Kebijakan ini di dalamnya sudah mengandung perhitungan risiko perikanan dengan menginternalkan risiko yang dihadapi oleh nelayan dengan risiko perbankan. Penggabungan kedua analisis risiko ini memudahkan sektor perbankan menganalisis risiko yang sebenarnya (true risk) dari kredit yang diberikan kepada perbankan.

Secara operasional kebijakan penyaluran kredit dengan model Resource Credit Risk Assessment dapat dilihat pada Gambar 50. Pengembangan dan pengelolaan kredit di bidang perikanan di bawah naungan payung hukum Undang-Undang Perikanan, Undang-Undang Perbankan dan peraturan Bank Indonesia. Payung hukum tersebut berkaitan dengan usaha pemberdayaan nelayan, keberlanjutan sumber daya perikanan dan efektivitas dari kredit yang diberikan sehingga memberikan tipologi kredit yang diberikan pada sektor perikanan.

Tipologi kredit yang telah diberikan tersebut dilakukan assessment

keragaan oleh nelayan atau kelompok nelayan, pakar, NGO dan lembaga riset.

Assessment stok sumber daya perikanan dilakukan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan selaku pengelola sumber daya perikanan. Assessment stok sumber daya ini berkaitan dengan mengetahui dan memelihara tingkat keberlanjutan pemanfaatan sumber daya perikanan. Assessment risiko baik yang berasal dari internal maupun eksternal dilakukan oleh perbankan selaku lembaga yang memberikan kredit dan universitas atau pakar selaku pendamping dalam penyaluran kredit. Assessment bioekonomi dilakukan oleh praktisi atau pakar di

perguruan tinggi dengan menggunakan berbagai metode yang telah dikembangkan. Payung Hukum UU Perikanan No 31 /2004 UU Perbankan No 7/1992 jo UU No 10/1998 Peraturan BI No 7/2/BI/2005

Pemberdayaan Keberlanjutan Keefektifitasan Tipologi Kredit Perikanan

Assessment Keragaan Assessment Stok Sumber daya (Keberlanjutan) Assessment Risiko Internal/ eksternal Assessment Bioekonomi Nelayan/Kelompok, Pakar, NGO, Lembaga Riset DKP Perbankan Universitas/ Pakar Resources Credit Risk Assessment (RESCRA) Mekanisme Penyaluran Kredit “Two-Tier” Pengawasan Internal/ eksternal Pengawasan Internal/ eksternal Pengawasan Internal Payung Hukum UU Perikanan No 31 /2004 UU Perbankan No 7/1992 jo UU No 10/1998 Peraturan BI No 7/2/BI/2005

Pemberdayaan Keberlanjutan Keefektifitasan Tipologi Kredit Perikanan

Assessment Keragaan Assessment Stok Sumber daya (Keberlanjutan) Assessment Risiko Internal/ eksternal Assessment Bioekonomi Nelayan/Kelompok, Pakar, NGO, Lembaga Riset DKP Perbankan Universitas/ Pakar Resources Credit Risk Assessment (RESCRA) Mekanisme Penyaluran Kredit “Two-Tier” Pengawasan Internal/ eksternal Pengawasan Internal/ eksternal Pengawasan Internal

Gambar 50 Pengembangan dan pengelolaan kredit perikanan model RESCRA

Dengan dilakukannya sejumlah assessment di atas terhadap tipologi kredit yang diberikan di sektor perikanan, maka dapat dikatakan bahwa penyaluran kredit tersebut dilakukan dengan model Resource Credit Risk Assessment,

penyaluran kredit yang dikenal dengan “Two-Tier”. Mekanisme penyaluran kredit dari perbankan sampai kepada debitur dilakukan pengawasan baik internal maupun eksternal. Pengawasan mekanisme penyaluran kredit ini dilakukan oleh nelayan atau kelompok nelayan, NGO, lembaga riset, Departemen Kelautan dan Perikanan dan perguruan tinggi. Nelayan atau kelompok nelayan, NGO dan lembaga riset hanya dapat melakukan pengawasan internal terhadap mekanisme penyaluran kredit sedangkan untuk pengawasan internal dan juga eksternal dilakukan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan dan pakar di perguruan tinggi.

Keseluruhan kebijakan di atas tidak akan efektif berjalan tanpa dukungan kuat instrumen kebijakan lain seperti “Command and control” dan “public engagement” (keterlibatan publik). Keduanya diperlukan sebagai pelengkap dari kebijakan-kebijakan di atas. Tanpa keterbatasan publik misalnya implementasi “Two-Tier-Policy” tidak mungkin berjalan karena itu memerlukan “voluntary involvement” (keterlibatan sukarela) dari para pelaku perikanan, demikian juga pengendalian dan pengawasan agar keberlanjutan usaha perikanan tetap berjalan.

Dari berbagai analisis yang dilakukan pada penelitian ini dapat diuraikan beberapa kesimpulan yang merupakan hasil inti dari keseluruhan kajian yang telah dilakukan dalam kaitan menjawab berbagai permasalahan yang telah diuraikan pada bab awal disertasi ini. Beberapa kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut: (1) Analisis tipologi pada kebijakan makro perkreditan pada daerah penelitian

menunjukkan bahwa kondisi perkreditan berada pada kategori I (K1, L1). Sebagian besar kredit diberikan di wilayah Pantura berdasarkan jumlah nelayan dan keberadaan infrastruktur pembangunan di daerah tersebut.

(2) Dengan mengembangkan model RESCRA berbasis bioekonomi F2, model perkreditan perikanan dapat dikembangkan berbasis sumber daya perikanan dan karakteristik usaha perikanan.

(3) Dampak kebijakan mikro finansial perkreditan perikanan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara nelayan penerima kredit dengan non penerima kredit.

(4) Hasil analisis DEA menunjukkan bahwa pemberian kredit tidak meningkatkan efisiensi kegiatan perikanan. Hasil analisis DEA belum dapat menunjukkan pengaruh kredit terhadap produktifitas yang dihasilkan, terutama dengan penggunaan kapal yang berbeda.

(5) Analisis bioekonomi menunjukkan bahwa kredit berpengaruh terhadap perubahan sustainable yield yang ditunjukkan oleh adanya perubahan produksi lestari, effort dan rente ekonomi dengan dan tanpa kredit. Selain itu dengan memasukkan analisis risiko diketahui pula bahwa risiko internal dan

eksternal akan sangat berpengaruh pada pola pemberian kredit dan kaitannya dengan aspek sumber daya ikan.

(6) Jika perikanan dikendalikan melalui MEY (Maximum Economic Yield), maka baik dengan maupun tanpa kredit terdapat surplus ekonomi sebesar lebih dari Rp 47 milyar. Dalam kondisi MEY, kredit juga akan menurunkan produksi lestari, dari 9,9 ribu ton menjadi 8,2 ribu ton, namun tidak mengubah tingkat upaya optimal. Dalam kondisi ini kredit perikanan mungkin baik untuk jangka panjang.

(7) Nilai volatilitas yang merupakan indikator risiko kredit jika diukur dari sisi perbankan saja bernilai 1 %, sementara risiko internal sektor perikanan berkisar pada nilai 8 %. Nilai volatilitas bagi nelayan tanpa kredit adalah 10 %. Berdasarkan analisis risiko dapat disimpulkan pula bahwa jika analisis risiko dilakukan dari sisi perbankan maka risiko kredit perikanan akan

undervalue. Jika digabungkan dengan risiko yang dihadapi oleh sektor perikanan, maka pemberian kredit perikanan tidak berbeda dengan perhitungan tanpa kredit.

(8) Keterkaitan antara financial capital, natural capital dan man made capital

menentukan perilaku dinamis antara stok (sumber daya ikan), effort dan produksi dimana terjadi kecenderungan bahwa kredit akan menurunkan produksi dan stok dalam waktu yang relatif lebih cepat.

(9) Berdasarkan analisis komprehensif disimpulkan bahwa hubungan antara besaran kredit dan efisiensi akan menghasilkan bentuk kurva U yang terbalik. Jumlah kredit tidak berkorelasi linear terhadap efisiensi, bahkan semakin besar kredit akan semakin menurunkan tingkat efisiensi.

Walaupun tujuan penelitian telah dapat dicapai, namun bagaimanapun hasil penelitian ini tentu saja masih belum sempurna sebagaimana kita semua inginkan karena adanya berbagai keterbatasan baik yang berkaitan dengan kondisi data yang ada, maupun keterbatasan dalam pengembangan model yang sebenarnya masih bisa jauh lebih komprehensif lagi. Dari penelitian dapat disampaikan beberapa saran baik yang menyangkut operasional maupun saran teknis berkaitan dengan pengembangan penelitian lanjutan yang dapat diuraikan sebagai berikut:

(1) Kebijakan makro perkreditan perikanan memang harus di kembangkan namun diperlukan ”soft strategy” yang lebih tegas yang merupakan penjabaran lebih jauh dari pasal 60 UU No.31/2004 tentang pemberian kredit.

(2) “Soft Strategy” ini dapat dijabarkan baik dalam bentuk “blue print” strategi perkreditan perikanan maupun peraturan pemerintah yang harus mengakomodasi keunikan karakteristik usaha perikanan.

(3) Pada tingkat mikro operasional, penyaluran kredit perikanan sebaiknya dilakukan melalui mekanisme tipologi dengan melihat ketersediaan sumberdaya ikan, keragaan usaha perikanan dan besaran kredit yang akan disalurkan.

(4) Kredit untuk sektor perikanan sangat bersifat time dependend sehingga disarankan bahwa kredit tidak diberikan pada lokasi yang sama, perikanan yang sama, target spesies yang sama. Disarankan untuk dilakukan substitusi