3.4 Metode Analisa Data
3.4.3 Analisis selektivitas perangkap
Selektivitas alat tangkap adalah kemampuan alat tangkap untuk mengurangi atau menyeleksi hasil tangkapan dari ukuran yang tidak diinginkan dan hasil tangkapan yang tidak ditargetkan.
Pengukuran selektivitas perangkap kepiting bakau yang digunakan adalah metode tidak langsung yang dilakukan dengan menggunakan metode celah pelolosan. Celah pelolosanterbuat dari bahan plastik sold dengan ukuran (p x l) 4 cm x 6 cm dan 5 cm x 7 cm. Analisis selektivitasnya menggunakan pendekatan model logistik. Panjang 50% yang tertangkap dari kepiting bakau (L50) diestimasi
dari panjang karapas (CL) kepiting yang tertangkap. Fungsi logistik digunakan untuk memperoleh kurva selektivitas penangkapan (Holt, 1963) yang diacu dalam Jirapunpipat (2008) :
SL= 1 / 1 – ea-bL
Dimana : SL= presentase akumulatif kelas panjang karapas
L = nilai tengah kelas panjang karapas
a dan b adalah parameter yang menentukan kurva selektivitas
Panjang karapas ketika tertangkap 50% (CL50) dari kepiting bakau dihitung dari :
CL50= (a/b)
Ukuran rata-rata ketika pertama kali matang gonad seringkali digunakan sebgai ukuran legal untuk penangkapan spesies decapoda (Hilborn dan Walters, 1992) dan ukuran ketika pertama kali matang gonad kepiting bakau Scylla spp dalam penelitian ini diestimasi berdasarkan lebar karapas (jarak horisontal antara ujung-ujung dari anterolateral kesembilan).
Oleh karena itu CL50ditransformasikan ke CW50menggunakan persamaan
regresi linear : CW = a + b x CL. Sebagai akibat pertumbuhan hewan dalam tingkat yang sama pada semua dimensi linier, lebar dan berat adalah proporsional satu sama lain (King, 1995).
4.1 Keadaan Geografis dan Administrasi Kabupaten Subang
Wilayah Kabupaten Subang secara geografis terletak di bagian utara Provinsi Jawa Barat dengan batas koordinat yaitu 107°31’ – 107°54’ Bujur Timur dan 60°11’ – 60°30’ Lintang Selatan. Kabupaten Subang terdiri dari 22 kecamatan dan 243 desa (Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 1999). Dari 22 kecamatan yang ada di Kabupaten Subang, empat kecamatan terletak di wilayah pesisir yaitu Blanakan, Legonkulon, Pusakanegara, dan Pamanukan. Secara administratif, Kabupaten Subang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa
sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Indramayu dan Sumedang sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Karawang dan Purwakarta
Luas Wilayah Kabupaten Subang adalah 205.176,95 hektar atau sekitar 6,34% dari luas Propinsi Jawa Barat, sedangkan range ketinggian tempat antara 0–1500 m dpl (di atas permukaan laut). Dilihat dari topografinya, Kabupaten Subang dapat dibagi ke dalam tiga zona daerah yaitu (BPS Subang dalam angka, 2011) :
1) Daerah pegunungan dengan ketinggian 500-1500 m dpl di atas permukaan laut dengan luas wilayah 41.035,09 Ha atau 20% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang,
2) Daerah bergelombang atau berbukit dengan ketinggian 50-500 m dpl dengan luas wilayah 71.502,16 Ha atau 34,85% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang,
3) Daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0-50 m dpl dengan luas wilayah 92.639,7 Ha atau 45,15% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang.
Secara umum Kabupaten Subang beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata per tahun 2.117 mm dengan jumlah hari hujan 90 hari. Kondisi iklim tersebut ditunjang oleh adanya lahan yang subur dan banyaknya 52 aliran sungai, sehingga menjadikan sebagian besar luas tanah Kabupaten Subang digunakan
untuk pertanian. Wilayah Kabupaten Subang memiliki panjang garis pantai kurang lebih 68 km yang meliputi 4 (empat) wilayah kecamatan pesisir, yaitu Kecamatan Blanakan, Kecamatan Pamanukan, Kecamatan Legonkulon dan Kecamatan Pusakanagara.
Desa Mayangan dan Desa Legonwetan berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Legonkulon. Desa Mayangan terletak di bagian paling utara dari Kecamatan Legonkulon. Secara administratif Desa Mayangan berbatasan dengan Desa Tegal Urung di sebelah Barat, Desa Legon Wetan di sebelah Timur, Desa Legonkulon di sebelah Selatan, dan Laut Jawa di sebelah Utara. Desa Mayangan memiliki luas 678.37 Ha dan sebagian besar dari luas wilayahnya merupakan areal hutan mangrove yaitu seluas 290 Ha yang dimiliki oleh Perum Perhutani. Desa Mayangan memiliki dua buah sungai yaitu Sungai Citerusan di sebelah barat dan Sungai Cigadung di sebelah timur yang menjadikan perairan pantai Desa Mayangan cukup produktif. Sedangkan Desa Legonwetan terletak di bagian utara dari Kecamatan Legonkulon merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Legonkulon, yang memiliki luas 706 Ha. Dengan batas wilayah Sebelah Barat berbatasan dengan Tegal Urung, sebelah Selatan dengan Desa Mayangan, Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pengerengan dan sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa.
4.2 Faktor Klimatologi Perairan Pantai Kabupaten Subang
Perairan pantai Subang yang merupakan bagian dari sistem Laut Jawa sangat dipengaruhi oleh angin muson yang berkembang secara kuat di perairan ini. Di wilayah Laut Jawa munculnya periode musim Barat terjadi pada bulan Desember hingga Februari umumnya diikuti dengan adanya musim hujan. Adapun musim Timur terjadi pada bulan Juni - Agustus dengan adanya kemarau.
Dalam musim Timur penguapan yang terjadi di laut lebih besar daripada curah hujannya. Kecepatan angin yang tinggi dan kelembaban yang relatif rendah menyebabkan penguapan lebih dari 100 mm/bulan. Dari bulan Juni sampai Agustus energi yang diperlukan untuk penguapan tersebut melebihi dari energi yang tersedia dari radiasi matahari, sehingga menimbulkan defisit energi sekitar 5.700 cal/cm2, atau sebanding dengan pendinginan wilayah perairan sedalam 40 m
dengan penurunan suhu perairan sekitar 1,4 0C. Pendinginan perairan dalam
periode musim Barat bukan disebabkan oleh keseimbangan energi tersebut, tetapi dalam musim ini muson Barat berkembang sangat kuat dan dengan angin yang relatif kuat membawa massa udara dingin dan hujan ke wilayah Laut Jawa ini. Fluktuasi angin muson secara nyata berhubungan dengan fluktuasi suhu perairan. Hasil pengamatan angin di wilayah pantai Mayangan dalam periode musim Peralihan (Mei) menunjukkan pada siang hari (jam 06.00 – 18.00) kecepatan angin berkisar antara 0 – 7 m/det, dan pada malam hari (jam 18.00 – 06.00) antara 0 – 3.5 m/det dengan arah angin dominan dari Timur, Timur Laut dan Barat Laut.
4.3 Karakteristik Fisik Perairan 1) Suhu dan salinitas perairan
Suhu dan salinitas di wilayah perairan pantai Subang berfluktuasi secara musiman yang dipengaruhi oleh dinamika perairan Laut Jawa. Secara umum fluktuasi suhu bulanan di Laut Jawa menunjukkan adanya dua suhu tertinggi (sekitar 28,7 °C) dan dua suhu terendah (sekitar 27,5 °C). Suhu tertinggi terjadi dalam periode musim peralihan yakni bulan Mei dan November. Adapun suhu terendah terjadi bulan Agustus dan Februari (puncak musim Timur dan Barat). Rata-rata suhu bulanan bervariasi antara 27,5 °C sampai 28,7 °C.
Rata-rata salinitas bulanan di perairan Laut Jawa berkisar antara 31,5 ‰ – 33,7 ‰. Salinitas maksimum pertama (33,7 ‰) dan kedua (33,3 ‰) terjadi pada bulan September dan November. Adapun salinitas minimum pertama (31,8 ‰) dan kedua (31,3 ‰) terjadi masing-masing sekitar bulan Februari dan Mei. Hasil pengukuran distribusi salinitas di beberapa muara sungai di wilayah pantai Subang menunjukkan bahwa jangkauan pengaruh rambatan pasang surut yang membawa massa air laut ke arah hulu sungai berkisar antara 1 km sampai 3,5 km. Rambatan pasang surut sungai Mayangan dapat mencapai 1,5 – 2,5 km
Pengukuran Salinitas di daerah penangkapan, khususnya di perairan mangrove desa mayangan adalah berkisar dari 25‰ - 28‰ dengan rata-rata 26.5‰ . Salinitas ini rendah karena daerah penangkapan berada pada aliran sungai dimana terjadi percampuran antara air laut dan air tawar ketika terjadi pasang dan surut.
2) Bathimetri perairan
Perairan pantai Subang memiliki kedalaman yang relatif dangkal (kurang dari 20 m) dengan gradien kedalaman yang relatif landai. Perairan dengan kedalaman kurang dari 5 m (disekitar Blanakan) memiliki gradien kedalaman sekitar 2,0027 dan 0,0054 yang berada di sekitar Pusakanagara. Adapun di perairan dengan kedalaman 5 - 10 m memiliki gradient kedalaman berkisar 0,00006 terdapat di sekitar Blanakan. Morfologi daratan pantainya terdiri dari pasir bercampur lumpur dan bahan organik, dengan jenis tanah gleisol hidrik. Pada pantai terdapat rawa-rawa dan vegetasi mangrove. Umumnya kawasan pantai dipergunakan oleh masyarakat sebagai kawasan pemukiman, pertambakan, dan sebagainya. Pesisir pantai Kabupaten Subang banyak yang mempunyai muara sungai kecil, sehingga terdapat kemungkinan banyaknya jumlah pengendapan di muara sungai besar dan jenis substrat dasar berupa pasir.
3) Pasang surut
Pasang surut merupakan gerakan naik-turun dari muka air laut secara periodik yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik benda angkasa seperti bulan dan matahari. Jenis pasang surut yang terjadi di wilayah pantai Subang mengikuti pola pasang surut di Laut Jawa. Tipe pasang surut (pasut) Pantai Utara Jawa Barat sebagian besar termasuk dalam kategori campuran mengarah ke semidiurnal. Kategori pasut campuran adalah daerah pantai yang mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dengan ketinggian yang berbeda. Adapun pasut kategori semidiurnal adalah daerah pantai yang mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dengan ketinggian yang sama. Pasang dan surut terbesar adalah 1 m dan kisaran tinggi pasang dan surut kedua adalah 0,5 – 0,7 m.
4) Arus perairan pantai
Pola arus perairan di pantai Subang yang secara umum mengikuti pola arus Laut Jawa menunjukkan bahwa arus musiman sangat dominan di wilayah perairan ini. Periode musim Timur terjadi antara bulan Mei dan September, arus musim bergerak ke arah barat dengan kecepatan maksimum sekitar 25 cm/det. Dari bulan
November sampai Maret arus musim mengalir ke arah timur dengan kecepatan maksimum sekitar 30 cm/det. Pada bulan April dan Oktober arah arus musim berubah. Pengukuran arus di wilayah pantai Subang menunjukkan bahwa di perairan pantai Mayangan arus pasang berkisar 1,4 – 31,5 cm/det mengalir dominan ke arah barat, dan arus surut berkisar antara 0,7 – 28,1 cm/det yang dominan mengalir ke arah barat.
5) Kualitas air perairan Subang
Berdasarkan topografinya, perairan kabupaten Subang terdiri dari: (1) perairan pesisir dan laut, (2) perairan sungai dan situ. Kondisi perairan Kabupaten Subang banyak dipengaruhi oleh kondisi alam di dataran tinggi, serta pengaruh sifat oseanografi perairan dangkal Laut Jawa. Kondisi umum perairan Kabupaten Subang relatif baik. Beberapa lokasi di perairan payau dan laut mempunyai sifat kekeruhan yang cukup tinggi seperti di Pondok Bali, Mayangan dan Blanakan. Kondisi ini merupakan karakteristik perairan Laut Jawa yang banyak dipengaruhi oleh sedimen yang dibawa oleh beberapa sungai yang bermuara ke Pantai Utara Jawa. Selain itu, sifat oseanografi di daerah pasang surut (intertidal) Subang memungkinkan terjadi sedimentasi dan penggerusan pantai (abrasi). Kondisi ini merupakan suatu hal yang menguntungkan karena perairan pesisir Subang menjadi subur karena mendapat suplai nutrient dari daratan.