• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil validasi suhu ditunjukkan dengan membandingkan suhu ukur dan suhu simulasi pada Gambar V-10. Perbedaan antara data suhu pengukuran dan suhu

VI. PEMBAHASAN UMUM 6.1. PERFORMANSI TEKNIS

6.2. ANALISIS BIAYA PENGERINGAN CENGKEH

6.2.6. Analisis Sensitifitas Biaya Pengering ERK

6.2.6.1. Pengaruh Perubahan Harga Produk terhadap Kelayakan Proyek

Harga cengkah di lapang sangat fluktuatif. Perubahan harga cengkeh basah dan cengkeh kering sangat berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh. Berdasarkan analisis titik impas untuk harga dan kapasitas lapang, maka dihasilkan nilai titik impas usaha pengolahan dan perkebunan cengkeh seperti pada Tabel VI-2.

Tabel VI-2. Hasil analisis titik impas harga cengkeh dan kapasitas lapang/produksi cengkeh

No Kelompok pengguna

Harga (Rp/kg cengkeh basah, kadar air 72.8% bb) Harga (Rp/kg cengkeh kering, kadar air 12% bb) Kapasitas lapang (ha) Kapasitas pengeringan (kg/operasi) 1 1 4000 14500 - 386 2 1 8000 27500 - 386 3 1 10000 33900 - 386 4 3 - 14500 2.0 8.0 5 3 - 27500 1.8 7.2 6 3 - 33900 1.7 6.8

7 Petani * 2000 - 20.0 -

8 Petani * 10000 - 2.5 -

Keterangan : * Petani yang menjual cengkeh basah (tidak melakukan usaha pengeringan)

Tabel IV-2 menyatakan bahwa:

1) Kelompok 1: Bagi pedagang pengumpul, jika harga cengkeh basah turun hingga Rp 4000,- maka usaha pengeringan cengkeh masih layak dilakukan menggunakan pengering ERK jika harga cengkeh kering di atas Rp 14.500,- per kg.

2) Kelompok 1: Pada saat harga cengkeh basah turun menjadi Rp 8000,- per kg, maka usaha pengeringan masih layak dilakukan jika pedagang masih dapat menjual cengkeh kering di atas Rp 27.500,- per kg.

3) Kelompok 1: Jika harga cengkeh basah naik mencapai Rp 10.000,- per kg, maka usaha pengeringan dengan pengering ERK masih layak jika harga jual cengkeh kering mencapai Rp 33.900,- per kg.

4) Kelompok 3: Pada saat harga cengkeh kering jatuh menjadi Rp 14.500,- per kg, petani yang menggunakan pengering ERK masih dapat melanjutkan usaha pengeringan jika memiliki luas kebun 2 Ha.

5) Kelompok 3: Pada saat harga cengkeh kering mencapai Rp 27.500, per kg, usaha pengeringan dengan pengering ERK masih dapat dilanjutkan jika luas lahan minimal yang dipunyai petani 1.8 Ha.

6) Kelompok 3: Pada saat harga cengkeh kering mencapai Rp 33.900, per kg, usaha pengeringan dengan pengering ERK masih dapat dilanjutkan jika luas lahan minimal yang dipunyai petani 1.7 Ha.

7) Bagi petani yang menjual cengkeh basah, maka titik impas terjadi pada harga jual cengkah basah Rp 2000,- per kg apabila petani mempunyai lahan seluas 20 ha.

8) Bagi petani yang tidak melakukan pengeringan cengkeh, tetapi menjual cengkeh basah, maka titik impas terjadi pada harga jual cengkeh basah Rp 10.000,- per kg apabila petani mempunyai lahan seluas 2.5 ha.

6.2.6.2. Pengaruh Perubahan Kecepatan Udara Pengering

Berdasarkan perhitungan optimisasi biaya konstruksi pengering ERK menggunakan data percobaan 3 Bab IV (Lampiran III-5), maka dilakukan analisis biaya untuk menentukan kelayakan usaha. Analisis biaya dengan metoda NPV menggunakan kecepatan udara pengeringan di atas rak sebesar 0.04 m/dt, 0.05 m/dt dan 0.06 m/dt. Perbandingan yang dilakukan adalah untuk kelompok 1 yaitu pedagang pengunpul cengkeh yang menggunakan pengering ERK dan untuk kelompok 3 yaitu petani yang menggunakan pengering ERK. Data dan hasil perhitungan dinyatakan pada Tabel VI-3.

Pada Tabel VI-3, baik pada kelompok pedagang maupun petani, peningkatan kecepatan pengeringan akan memberikan keuntungan yang lebih besar, meskipun bedanya tidak nyata. Perubahan penggunaan kecepatan udara pengering pada tingkat suhu yang sama, akan berdampak pada waktu efektif pengeringan, namun secara total, tidak mengubah jumlah hari pengeringan, sehingga kapasitas pengeringan relatif tetap.

Tabel VI-3. Pengaruh kecepatan terhadap keuntungan (pada suhu pengeringan 48oC) Kelompok

Pengguna Kecepatan udara pengering (m/dt) Luas pengering (m2) Biaya pokok pengeringan (Rp/kg cengkeh basah) NPV total (Rp) Tahun pengembalian modal 1 0.04 13 m2 373 49.910.100 2 1 0.05 13 m2 352 52.192.468 2 1 0.06 13 m2 342 52.877.609 2 3 0.04 13 m2 803 20.591.414 4 3 0.05 13 m2 782 22.916.327 4 3 0.06 13 m2 771 23.629.832 4

6.2.6.3. Pengaruh Perubahan Suhu Udara Pengering

Berdasarkan data pada percobaan 3 (Lampiran III-5), akan dilihat pengaruh perubahan suhu udara pengering terhadap keuntungan pada usaha pengeringan cengkeh. Pada analisis ini dibandingkan 3 operasi suhu pengeringan, yaitu 45oC, 48oC dan 50oC. Hasil analisis ini dirangkum pada Tabel IV-4. Bagi kelompok pedagang pengumpul, perubahan suhu pengeringan sangat berpengaruh terhadap keuntungan. Semakin besar suhu pengeringan yang digunakan, akan semakin menguntungkan. Suhu pengeringan yang diijinkan untuk pengeringan cengkeh tidak lebih dari 60oC, karena suhu tinggi menyebabkan kehilangan minyak atsiri.

Bagi petani, penambahan tingkat suhu pengeringan tidak memberikan kecenderungan tertentu pada keuntungan. Hal ini disebabkan, petani tidak menggunakan kapasitas maksimum untuk mengeringkan cengkeh. Kapasitas cengkeh yang dikeringkan adalah cengkeh yang dihasilkan dari kebun dan jumlahnya sangat terbatas. Penambahan tingkat suhu akan menambah biaya pemakaian bahan bakar. Pada tingkat suhu 50oC, terjadi penurunan biaya penggunaan listrik, sehingga secara umum meningkatkan keuntungan, tetapi nilai keuntungannya masih lebih rendah dibandingkan dengan operasi pengeringan pada suhu 45oC. Pemakaian suhu lebih rendah menyebabkan waktu pengeringan lebih lama. Di tingkat petani disarankan mengoperasikan pengering pada suhu 45oC, untuk menghemat pemakaian bahan bakar. Penggunaan suhu 45oC, tentunya akan mengakibatkan mutu produk yang lebih rendah dibandingkan dengan operasi pada suhu 48oC, namun demikian perbedaan mutu ini tidak memberikan perbedaan harga jual cengkeh kering secara nyata. Pengeringan mempengaruhi kadar air dan kadar minyak atsiri cengkeh. Pada

percobaan pengeringan 1, 2 dan 3 (Bab IV desertasi ini), kadar minyak atsiri yang dihasilkan di atas nilai 20 % v/b, dimana nilai ini masuk ke dalam kriteria mutu I.

Tabel IV-4. Pengaruh suhu operasi pengeringan terhadap keuntungan

Pengguna Suhu udara pengering (m/dt) Luas pengering (m2) Biaya pokok pengeringan (Rp/kg cengkeh basah) NPV total (Rp) Tahun pengembalian modal 1 45 13 m2 463 19.458.661 4 1 48 13 m2 373 49.910.100 2 1 50 13 m2 362 51.433.699 2 3 45 13 m2 1123 29.778.135 3 3 48 13 m2 803 20.591.414 4 3 50 13 m2 791 22.175.544 4

6.2.6.4. Pengaruh Perubahan Kapasitas Pengering

Pada analisis biaya ini digunakan hasil optimisasi dengan data pada percobaan 3, dibandingkan untuk 3 kapasitas yang berbeda. Hasil analisis biaya dirangkum dalam Tabel VI-5. Bertambahnya kapasitas pengeringan, akan semakin memperbesar keuntungan usaha dan ditandai dengan mengecilnya biaya pokok pengeringan. Namun demikian modal yang dibutuhkan juga semakin besar. Penggunaan pengering berkapasitas besar harus disesuaikan dengan permintaan pasar. Di tingkat petani, luas lahan perkebunan cengkeh yang sangat menentukan besarnya kapasitas produksi cengkeh. Dengan asumsi bahwa, luas lahan yang dimiliki petani rata-rata 2 Ha, hanya dapat dihasilkan 0.5 ton per tahun. Nilai ini sangat kecil bila dibandingkan dengan kapasitas pengeringan menggunakan pengering ERK sebesar 23 ton per tahun. Dengan demikian perubahan kapasitas pengering ERK bagi petani, hanya akan menambah biaya tanpa menambah keuntungan.

Tabel IV-5. Pengaruh kapasitas pengering terhadap keuntungan (pada kondisi suhu pengeringan 48oC, kecepatan udara pengering 0.04 m/dt)

Pengguna Kapasitas pengering (kg/operasi) Luas pengering (m2) Biaya pokok pengeringan (Rp/kg cengkeh basah) Total NPV (Rp) Tahun pengembalian modal 1 140 6.3 m2 599 3.530.000 6 1 386 13 m2 433 40.500.000 2

1 1041 29 m2 402 132.560.000 1.5

Analisis biaya pengeringan cengkeh menggunakan ERK telah dilakukan yang ditujukan untuk pengguna petani dan pedagang pengumpul. Berdasarkan hasil analisis biaya, dapat disimpulkan bahwa pengering ERK layak digunakan oleh petani maupun pedagang pengumpul. Secara umum, baik bagi petani ataupun pedagang pengumpul, penggunaan pengering ERK akan memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan lamporan.

6.3. DAFTAR PUSTAKA

Ruhnayat A., dan A. Dhalimi. (1997). Flukstuasi hasil cengkeh. Monograf Cengkeh 2. Balitro. Bogor.

Ruhnayat, A., dan P. Wahid. 1997. Aspek iklim terhadap pertumbuhan, pembungaan dan produksi cengkeh. Monograf Cengkeh 2. Balitro. Bogor.

Rosmeilisa, P. dan Ermiati. 1997. Tataniaga cengkeh di Indonesia. Monograf Cengkeh 2. Balitro. Bogor.

Ruhnayat A. 2004. Hasil survei cengkeh di Sulawesi. Balitro. Tidak dipublikasikan.

Wahid, P. dan E. Surmaini. (1997). Pola tanam berbasis cengkeh. Monograf Cengkeh 2. Balitro. Bogor.

Dokumen terkait