• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Aspek Teknis

4. Pelaksanaan GERHAN Tahun 2007

5.2 Aspek Sosial Ekonomi .1 Aspek Sosial

5.2.1 Aspek Ekonomi

5.2.2.5 Analisis Sensitivitas (Analisis Kepekaan)

Selain menggunakan parameter IRR, menilai ketahanan suatu usaha dapat pula didekati dengan menggunakan analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas usaha merupakan analisis melalui perhitungan ulang nilai kemanfaatan usaha menggunakan skenario-skenario baru terhadap komponen biaya dan atau hasil sebagai upaya untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar.

Dalam analisis ini, akan dinilai kesensitivan pengusahaan hutan rakyat di lokasi penelitian apabila menghadapi 3 skenario pasar yaitu: (skenario 1) penambahan biaya produksi sebesar 5%, pengurangan penghasilan tetap sebesar 5%, dan penambahan biaya dan pengurangan penghasilan tetap sebesar 5%, (skenario 2) penambahan biaya sebesar 10%, pengurangan penghasilan tetap sebesar 10%, dan penambahan biaya dan pengurangan penghasilan tetap sebesar

10%, (skenario 3) penambahan biaya sebesar 15%, pengurangan

pengahasilantetap sebesar 15%, dan penambahan biaya dan pengurangan penghasilan tetap sebesar 15%.

Analisis sensitivitas tidak dilakukan untuk luasan 1 ha (tipologi 1), karena secara finansial pengusahaan hutan rakyat pada tipologi 1 tidak layak. Respon usahatani hutan rakyat responden terhadap 3 skenario tersebut disajikan pada Tabel 17 di bawah ini.

Tabel 17 Respon usahatani hutan rakyat GERHAN per hektar di lokasi penelitian terhadap 1 skenario pasar.

Luasan

Skenario1 Penambahan Biaya 5% Pengurangan Penghasilan

5%

Penambahan Biaya dan Pengurangan Penghasilan 5% BCR NPV BCR NPV BCR NPV 1,5 1,04 2.105.957 1,04 1.880.560 0,99 -521.429 2 1,27 14.540.024 1,27 13.684.970 1,33 16.246.023 2,5 1,94 51.700.315 1,93 48.983.811 1,84 46.354.042 3 1,76 44.249.352 1,76 41.898.692 1,67 39.134.837 5 2,54 104.230.931 2,54 98.858.459 2,42 95.639.954

Sumber : Hasil analisis data

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan terhadap skenario 1 dengan luasan 2 ha hingga 5 ha (tipologi 3 sampai dengan 6) relatif tidak sensitif terhadap perubahan yang terjadi. Namun untuk tipologi 2 sensitif terhadap perubahan biaya dan penghasilan sekaligus. Selanjutnya respon usahatani hutan rakyat responden terhadap skenario 2 tersebut disajikan pada Tabel 18 di bawah ini.

Tabel 18 Respon usahatani hutan rakyat GERHAN per hektar di lokasi penelitian terhadap 2 skenario pasar.

Luasan

Skenario 2

Penambahan Biaya 10% Pengurangan

Penghasilan 10%

Penambahan Biaya dan Pengurangan Penghasilan 10% BCR NPV BCR NPV BCR NPV 1,5 0,99 -296.031 0,98 -746.826 0,89 -5.550.806 2 1,21 11.978.971 1,21 10.268.863 1,09 5.146.756 2,5 1,85 49.070.546 1,83 43.637.538 1,66 38.378.000 3 2,11 67.362.292 1,67 36.787.177 1,51 31.256.469 5 2,43 101.012.426 2,40 90.267.428 2,18 83.830.472

Sumber : Hasil analisis data

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan terhadap skenario 2 dengan luasan 2 ha hingga 5 ha (tipologi 3 sampai dengan 6) menunjukan kondisi yang sama dengan skenario 1 yaitu relatif tidak sensitif terhadap perubahan yang terjadi. Namun untuk tipologi 2 sensitif terhadap perubahan biaya dan penghasilan sekaligus. Selanjutnya respon usahatani hutan rakyat responden terhadap skenario 3 tersebut disajikan pada Tabel 19 di bawah ini.

Tabel 19 Respon usahatani hutan rakyat GERHAN per hektar di lokasi penelitian terhadap 3 skenario pasar.

Luasan

Skenario 3

Penambahan Biaya 15% Pengurangan Penghasilan 15%

Penambahan Biaya dan Pengurangan Penghasilan 15% BCR NPV BCR NPV BCR NPV 1,5 0,95 -2.689.021 1,09 -4.507.947 0,8 -10.580.183 2 1,16 9.417.917 1,13 6.852.755 0,99 -830.404 2,5 1,77 46.440.777 1,73 38.291.265 1,50 30.401.958 3 2,02 64.598.438 1,57 31.669.662 1,37 23.378.100 5 2,32 97.793.921 2,27 81.676.506 1,97 72..020.992

Sumber : Hasil analisis data

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan terhadap skenario 3 dengan luasan 2,5 ha hingga 5 ha (tipologi 4 sampai dengan 6) relatif tidak sensitif terhadap perubahan yang terjadi. Namun untuk tipologi 2 dan 3 sensitif terhadap perubahan biaya dan penghasilan sekaligus.

Dari respon yang terbentuk, dapat disimpulkan bahwa usahatani hutan rakyat di lokasi penelitian akan menunjukkan tingkat kepekaan pada luasan 1 hingga 2 ha, ketika menghadapi fenomena pasar berupa peningkatan biaya, pengurangan penghasilan dan peningkatan biaya dan pengurangan pengahsilan tetap. Agar usahatani hutan rakyat memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi secara finansial, maka temuan ini harus disikapi dengan upaya-upaya untuk

mempertahankan harga tanaman kayu-kayuan seperti jati, mahoni, lenggua dan MPTS di pasar. Persentase penurunan keuntungan bersih usahatani hutan rakyat GERHAN per hektar di lokasi penelitian, ketika menghadapi 3 skenario pasar disajikan pada Tabel 20.

Tabel 20 Persentase penurunan keuntungan bersih usahatani hutan rakyat GERHAN per hektar di lokasi penelitian, ketika menghadapi 3 skenario pasar. Luasan (ha) NPV Kondisi Normal Skenario 1 Penambahan biaya 5% Pengurangan penghasilan

5%

Penambahan biaya dan pengurangan penghasilan

5%

NPV IRR NPV IRR NPV IRR

1,5 4.507.946 2.105.957 16 1.880.560 16 -521.429 15 2 17.101.078 14.540.024 19 13.684.970 19 16.246.023 20 2,5 54.330.085 51.700.315 25 48.983.811 25 46.354.042 24 3 47.013.207 44.249.352 24 41.898.692 24 39.134.837 23 5 107.449.336 104.230.931 29 98.858.459 29 95.639.954 28 Luasan

(ha) Penambahan biaya 10%

Pengurangan penghasilan 10%

Penambahan biaya dan pengurangan penghasilan

10%

NPV IRR NPV IRR NPV IRR

1,5 4.507.946 -296.031 15 -746.826 15 -5.550.806 13 2 17.101.078 11.978.971 18 10.268.863 18 5.146.756 16 2,5 54.330.085 49.070.546 24 43.637.538 24 38.378.000 23 3 47.013.207 67.362.292 27 36.787.177 23 31.256.469 22 5 107.449.336 101.012.426 28 90.267.428 7,23 83.830.472 18 Luasan (ha) NPV Kondisi Normal Skenario 3 Penambahan biaya 15% Pengurangan pengahsilan

15%

Penambahan biaya dan pengurangan penghasilan

15%

NPV IRR NPV IRR NPV IRR

1,5 4.507.946 -2.689.021 14 -4.507.947 17 -10.580.183 11 2 17.101.078 9.417.917 17 6.852.755 17 -830.404 15 2,5 54.330.085 46.440.777 24 38.291.265 23 30.401.958 21 3 47.013.207 64.598.438 27 31.669.662 22 23.378.100 20 5 107.449.336 97.793.921 28 81.676.506 27 72..020.992 20,39

Sumber : Hasil analisis data

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan akan berpengaruh terhadap ketahanan suatu usaha terhadap fenomena pasar yang terjadi. Dengan melihat persen tumbuh yang terjadi dilokasi penelitian yaitu 25,9% sampai dengan 78,51%, maka dapat disimpulkan bahwa ketertarikan masyarakat pada program GERHAN rendah.

5.3 Aspek Kelembagaan

Dalam program GERHAN ketiga hal yang tercakup dalam komponen kelembagaan diatas sudah diatur dan disebutkan secara jelas. Setiap tingkatan (pemerintah pusat, daerah dan masyarakat) sudah difasilitasi peranannya sebagai kelembagaan penyelenggaraan GERHAN. Tugas pokok, fungsi dan peranan masing-masing lembaga terperinci dengan jelas, yang juga sekaligus menggambarkan kepemilikan, kewenangan dan representasi dari tiap-tiap lembaga. Pada pihak masyarakat diperlukan penguatan kelembagaan baik dari pihak pemerintah sebagai pelaksana maupun LSM sebagai pendamping serta penyuluh sebagai pembimbing teknis. Penguatan kelembagaan masyarakat (kelompok tani) meliputi partisipasi petani dalam penyusunan rencana GERHAN. Model pelaksanaan GERHAN, berupa hutan rakyat, hutan kemasyarakatan ataupun model lain. Bimbingan/penyuluhan proses produksi tanaman kehutanan/pertanian yang baik berupa pelatihan, pendampingan, kursus maupun fasilitas lainnya. Fasilitas penguatan kelompok tani/masyarakat seperti pembuatan rencana kerja, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga kelompok tani.

Proses-proses dalam meningkatkan fungsi pada kelembagaan dalam GERHAN tersebut diatas memerlukan keterlibatan dan niat yang baik dari semua lembaga yang terkait. Dengan demikian diharapkan tujuan GERHAN untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di Pulau Ambon dapat tercapai. Sebagai organisasi, kelembagaan diartikan sebagai wujud konkrit yang membungkus aturan main tersebut seperti organisasi pemerintah, bank, koperasi, pendidikan dan sebagainya. Batasan tersebut menunjukkan bahwa organisasi dapat dipandang sebagai perangkat keras dari kelembagaan sedangkan aturan main merupakan perangkat lunaknya. Karena itu, masih banyak hal yang perlu dipelajari untuk membangun kelembagaan secara utuh, termasuk mengidentifikasi kemitraan yang terjadi, kontrak yang melandasi kemitraan,

principal – agents relationship, property rights, collective action dan lain-lain