• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5. Teknik Analisis Data

3.5.1. Analisis Shift Share

Analisis ini dapat membantu kita untuk mengetahui pertumbuhan relatif (perubahan dan pergeseran) sektor industri Sumatera Utara. Untuk mengetahui hal tersebut terdapat 7 langkah utama dalam menggunakan analisis Shift-Share

1. Menentukan indikator kegiatan ekonomi seperti pendapatan dan kesempatan kerja. Di Indonesia pendapatan di suatu wilayah dicerminkan oleh nilai PDRB (tingkat kabupaten, kota dan propinsi) dan PDB (tingkat nasional).

2. Menentukan sektor ekonomi yang akan dianalisis. Misalnya sektor industri atau semua sektor-sektor perekonomian di Sumatera Utara, seperti sektor pertanian, pertambangan dan galian, listrik, gas dan air bersih, perdagangan, hotel dan restauran serta sektor-sektor lainnya.

3. Menghitung perubahan indikator kegiatan ekonomi (PDRB/kesempatan kerja) dari sektor ekonomi di Sumatera Utara. Maka produksi/kesempatan kerja (propinsi) dari sektor ekonomi pada tahun dasar analisis dan tahun akhir analisis dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Perubahan produksi/kesempatan kerja sektor i di Sumatera Utara dapat dirumuskan sebagai berikut:

ΔYij = Y'ij – Yij dimana:

ΔYij = Perubahan produksi/kesempatan kerja sektor i di Sumatera Utara. Y'ij = Produksi/kesempatan kerja dari sektor i di Sumatera Utara pada tahun akhir analisis.

Yij = Produksi/kesempatan kerja dari sektor i di Sumatera Utara pada tahun dasar analisis.

b. Persentase perubahan PDRB adalah sebagai berikut: %ΔYij = ����−������� ∗ ���%

4. Menghitung Rasio Indikator Kegiatan Ekonomi (Produksi/kesempatan kerja). Rasio produksi/kesempatan kerja digunakan untuk melihat perbandingan produksi/kesempatan kerja sektor ekonomi di suatu wilayah tertentu. Rasio produksi/kesempatan kerja terbagi atas ri, Ri dan Ra.

a. ri

ri = ����−���� ��� dimana:

ri = Rasio produksi/kesempatan kerja sektor i di Sumatera Utara

Yij = Produksi/kesempatan kerja sektor i di Sumatera Utara pada tahun dasar analisis.

Y'ij = Produksi/kesempatan kerja pada sektor i di Sumatera Utara pada tahun akhir analisis

b. Ri

Ri = �−�� �� dimana:

Ri = Rasio produksi/kesempatan kerja (nasional) sektor i

Y'i = Produksi/kesempatan kerja (nasional) dari sektor i pada tahun akhir analisis

Yi = Produksi/kesempatan kerja (nasional) dari sektor i pada tahun dasar analisis. c. Ra Ra = dimana:

Ra = Rasio produksi/kesempatan kerja (nasional)

Y’ = Produksi/kesempatan kerja (nasional) pada akhir tahun analisis Y = Produksi/kesempatan kerja (nasional) pada dasar tahun analisis 5. Menghitung Komponen Pertumbuhan

Komponen pertumbuhan wilayah terdiri atas komponen pertumbuhan nasioanl (KPN), komponen pertumbuhan proposional (PP) dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW).

a. Komponen Pertumbuhan Nasional (KPN) KPNij = (Ra) Yij

dimana:

KPNij = Komponen pertumbuhan nasional sektor i di Sumatera Utara Yij = Produksi/kesempatan kerja dari sektor i di Sumatera Utara pada

tahun dasar analisis.

Ra = Rasio produksi/kesempatan kerja (nasional) b. Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP)

dimana:

PPij = Komponen pertumbuhan proporsional sektor i di Sumatera Utara Yij = Produksi/kesempatan kerja dari sektor i di Sumatera Utara pada

tahun dasar analisis.

Ri = Rasio produksi/kesempatan kerja (nasional) dari sektor i Ra = Rasio produksi/kesempatan kerja (nasional)

Apabila:

PPij < 0, Menunjukkan bahwa sektor i pada wilayah Sumatera Utara pertumbuhannya lambat.

PPij > 0, Menunjukkan bahwa sektor i pada wilayah Sumatera Utara pertumbuhannya cepat.

c. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW) PPWij = (ri – Ri) Yij

dimana:

PPWij = Komponen pertumbuhan pangsa wilayah sektor i pada wilayah Sumatera Utara.

Yij = Produksi/kesempatan kerja dari sektor i pada wilayah Sumatera Utara pada tahun dasar analisis.

ri = Rasio produksi/kesempatan kerja sektor i pada wilayah Sumatera Utara

Apabila:

PPWij > 0, berarti sektor/wilayah Sumatera Utara mempunyai daya saing yang baik dibandingkan dengan sektor/wilayah lainnya untuk sektor i. PPWij < 0, berarti sektor/wilayah Sumatera Utara tidak mempunyai daya saing yang baik dibandingkan dengan sektor/wilayah lainnya.

 Rumus-rumus penting lain yang dapat digunakan adalah:

a. Perubahan dalam PDRB sektor i (peningkatan nilai tambah sektor i) pada wilayah Sumatera Utara dirumuskan sebagai berikut:

ΔYij = KPNij + PPij + PPWij ... (1) ΔYij = Y'ij – Yij ... (2) b. Rumus ketiga komponen pertumbuhan wilayah adalah:

KPNij = Yij (Ra) ... (3) PPij = Yij (Ri − Ra) ... (4) PPWij = Yij (ri − Ri) ... (5) c. Apabila persamaan (2), (3), (4) dan (5) disubtitusikan kepersamaan (1),

maka didapatkan:

ΔYij = KPNij + PPij + PPWij

Y'ij − Yij = Yij (Ra) + Yij (Ri − Ra) + Yij (ri − Ri)

d. Persentase ketiga pertumbuhan wilayah tersebut dapat dirumuskan: % KPNij = Ra

% PPij = Ri – Ra % PPWij = ri – Ri

Atau

% KPNij =�������� x 100 %

% PPij =������� x 100 %

% PPWij =������� x 100 %

6. Mengevaluasi Profil Pertumbuhan Sektor Industri

Profil pertumbuhan sektor industri digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan sektor industri di wilayah yang bersangkutan pada kurun waktu yang telah ditentukan, dengan cara mengekspresikan persen perubahan komponen pertumbuhan proposional (PPij) dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPWij). Pada sumbu horizontal, terdapat PP sebagai absis sedangkan pada sumbu vertikal terdapat PPW sebagai ordinat.

Kuadran II Kuadran I

PP

Kuadran III Kuadran IV

PPW 45°

Gambar 2: Profil Pertumbuhan Sektor Industri

Kuadran-kuadran yang terdapat pada gambar 2 dapat dijelaskan sebagai berikut: (i) Kuadran I menunjukan bahwa sektor industri di wilayah yang bersangkutan

memiliki pertumbuhan yang cepat, demikian juga daya saing wilayah untuk sektor tersebut baik apabila dibandingkan dengan wilayah lain. Hal ini menunjukkan bahwa sektor/wilayah yang bersangkutan merupakan wilayah

progresif (maju).

(ii)Kuadran II menunjukkan bahwa sektor industri di wilayah yang bersangkutan pertumbuhannya cepat, tetapi daya saing untuk sektor tersebut dibandingkan dengan wilayah lainnya kurang baik.

(iii)Kuadran III menunjukkan bahwa sektor industri yang ada di wilayah yang bersangkutan memiliki pertumbuhan yang lambat, juga daya saing wilayah tersebut kurang baik jika dibandingkan dengan wilayah lainnya.

(iv)Pada kuadran II dan kuadran IV terdapat garis miring yang membentuk sudut 45° dan memotong kedua kuadran tersebut. Bagian atau garis tersebut menunjukkan bahwa sektor/wilayah yang bersangkutan merupakan sektor/wilayah yang

progresif (maju), sedangkan untuk kuadran IV diluar garis berarti sektor/wilayah yang bersangkutan menunjukkan sektor/wilayah lambat, namun daya saing baik. 7. Menghitung Pergeseran Bersih

Apabila komponen pertumbuhan proporsional dan pangsa wilayah dijumlahkan, maka akan diperoleh pergeseran bersih yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pertumbuhan sektor perekonomian.

Pergeseran bersih sektor i pada wilayah Sumatera Utara dapat dirumuskan sebagai berikut:

PBij = PPij + PPWij dimana:

PBij = Pergeseran bersih sektor i di Sumatera Utara

PPij = Komponen pertumbuhan proporsional sektor i di Sumatera Utara PPWij = Komponen pertumbuhan pangsa wilayah sektor i di Sumatera Utara. Apabila:

PBij > 0, maka pertumbuhan sektor i di wilayah Sumatera Utara termasuk kelompok progresif (maju).

PBij < 0, maka pertumbuhan sektor i di wilayah Sumatera Utara termasuk lambat.

Gambar 3. Model Analisis Shift Share

Dokumen terkait