• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

5. Analisis Spasial Distribusi Tutupan Lahan

Pendekatan spasial dinamik dilakukan dengan cara mengintegrasikan hasil analisis sistem dinamik dengan sistem informasi geografis sehingga mampu memperlihatkan distribusinya secara spasial (Rusdiana et al, 2012). Hal ini dilakukan dengan menggabungkan parameter-parameter hasil analisis model dinamik dengan analisis spasial (hibridisasi model dinamik dengan informasi spasial).

Dinamika perubahan tutupan lahan dihasilkan dari pola perubahan penutupan lahan hasil analisis penginderaan jauh. Satu bentuk penggunaan lahan akan berubah ke penggunaan lahan lain dengan pola yang spesifik. Pola perubahan spesifik tersebut juga harus mengacu kedalam titik geografis spasialnya. Kriteria perubahan dinamika tersebut seperti: 1) penambahan hutan akan dialokasikan pada lahan dengan kemiringan >40% dan lahan yang sangat peka erosi yang mempunyai kemiringan >15% serta lahan yang memiliki ketinggian diatas 2.000 mdpl, 2) penambahan lahan terbangun pada lahan-lahan pertanian yang memiliki aksesibilitas jalan dan dekat dengan lahan terbangun lainnya (ketetanggaan). Kriteria tersebut mengacu pada SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan hasil pengamatan dilapangan. Pada SK Menteri Pertanian tersebut disebutkan bahwa untuk penilaian kriteria kawasan lindung adalah kawasan dengan kemiringan lahan >40% dan tanah yang sangat rawan erosi. Jenis tanah yang rawan terhadap erosi adalah regosol, litosol, organosol dan renzima.

25

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

Kondisi Umum Fisik Wilayah Karakteristik Kemiringan Lahan

Kawasan DAS Ciliwung Hulu mencakup areal seluas 15.265 ha yang merupakan daerah pegunungan dengan elevasi 300 m hingga 3.000 m dpl. Di bagian hulu paling sedikit terdapat 7 Sub DAS, yaitu: Tugu, Cisarua, Cibogo, Cisukabirus, Ciesek, Ciseuseupan, dan Katulampa. Karakteristik daerah hulu DAS dicirikan oleh sungai pegunungan yang berarus deras dan variasi kemiringan lereng yang tinggi (Gambar 11).

Karakteristik Iklim

Berdasarkan iklim Koppen, DAS Ciliwung Hulu termasuk dalam iklim Af, yakni iklim hujan tropis lembab tanpa bulan kering nyata, dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 2.862 – 4.495 mm/tahun dengan rata-rata 3.587 mm/tahun. Berdasarkan zona agroklimat Oldeman, daerah ini termasuk dalam 2 tipe zona, yaitu: (1) zona A, daerah yang mempunyai periode bulan basah (bulan dengan curah hujan > 200 mm), selama 9 bulan dan bulan kering (bulan dengan curah hujan < 100 mm) kurang dari dua bulan secara berturut-turut, (2) zona B1, daerah yang mempunyai periode bulan basah selama 7-9 bulan dan bulan kering < 2 bulan berturut-turut. Data iklim curah hujan lokasi penelitian yang berasal dari beberapa stasiun pengamatan cuaca di DAS Ciliwung Hulu disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10 Sebaran rataan hujan perbulan di DAS Ciliwung Hulu

Kejadian banjir (banjir kiriman) pada daerah hilir tidak bisa dilepaskan dari curah hujan pada daerah hulunya (BPDAS Citarum Ciliwung 2003). Besarnya curah hujan yang turun pada daerah tropis umumnya bervariasi dari tahun ke tahun dan bahkan dari musim ke musim dalam kurun waktu satu tahun. Banjir kiriman yang hampir terjadi setiap 5 tahunnya memperlihatkan adanya pola yang berulang dari curah hujan yang menjadi penyebab banjir tersebut. Data curah hujan maksimum harian stasiun Gunung Mas (1983-2010) menghasilkan nilai

0 100 200 300 400 500 600 700

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

C u ra h H u ja n (m m )

Gadog Gn Mas Katulampa

1983 - 2010 1981 - 2010

26

curah hujan maksimum harian untuk periode ulang 5 tahunan sebesar 141 mm, 10 tahunan sebesar 157 mm, 15 tahunan 162 mm dan 30 tahunan sebesar 247 mm. Data debit Pintu Air Katulampa tercatat pada kejadian banjir di DKI Jakarta pada tahun 2002 adalah 247,6 m3/dtk dan tahun 2007 sebesar 278,5 m3/dtk.

27

Karakteristik Hidrologi

Wilayah penelitian merupakan batas lanskap berdasarkan batas ekologi dari sistem DAS dengan sungai utamanya adalah Sungai Ciliwung. Bentuk DAS Ciliwung Hulu secara keseluruhan menyerupai kipas dengan anak-anak sungai mengalir ke sungai utama dari bagian kiri dan kanan. Anak-anak sungai tersebut mengalir terkonsentrasi ke satu titik disekitar Katulampa dengan bentuk outlet yang menyerupai leher botol. Sungai utama mengalir dari arah selatan ke utara. Mata air Sungai Ciliwung berasal dari Danau Telaga Warna yang terletak pada ketinggian 1433 mdpl. Intensitas curah hujan memiliki korelasi positif terhadap peningkatan aliran permukaan (surface runoff), yang dapat meingkatkan volume serta fluktuasi debit sungai. Debit sungai selama periode 2000-2010 dari DAS Ciliwung diukur dari Bendung Katulampa disajikan pada Gambar 12.

Gambar 12 Debit rataan Sungai Ciliwung di Pintu Air Katulampa

Tren debit maksimum Sungai Ciliwung semakin tinggi dan tren debit minimum relatif konstan (Gambar 1). Hal ini menjelaskan bahwa telah terjadi penurunan kualitas DAS Ciliwung Hulu. Berkurangnya kemampuan lahan dalam meresapkan air hujan yang jatuh telah membuat banyak air hujan berubah menjadi air larian. Kondisi debit maskimum yang semakin naik akan berpotensi terhadap peluang banjir di kawasan hilir yang semakin besar. Kondisi hidrologi pada DAS yang baik atau lestari adalah sedikitnya perbedaan antara debit maksimum dan debit minimum pada sungai utamanya (di titik outlet DAS).

Karakteristik Tanah

Kawasan DAS Ciliwung Hulu memiliki 5 jenis tanah (Gambar 13). Menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian No 837/Kpts/Um/11/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung, kepekaan tanah terhadap erosi dibagi menjadi 5 kelas tanah, secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4. Pada daerah penelitian, berdasarkan sifat erodibilitasnya (kepekaan suatu tanah untuk mengalami erosi), jenis tanah yang mendominasi adalah latosol, jenis tanah yang tergolong agak peka. Tanah jenis ini tersebar pada daerah yang relatif lebih landai, daerah yang mendekati atau berbatasan dengan daerah tengah DAS. Selain itu, jenis tanah lainnya yaitu jenis tanah regosol. Jenis tanah ini banyak tersebar pada tebing-tebing Gunung Gede Pangrango. Potensi erosi di DAS Ciliwung Hulu ini relative tinggi, sehingga limpasan air hujan yang masuk kedalam sungai akan mengakibatkan sedimentasi yang tinggi.

0 20,000 40,000 60,000 80,000 J F M A M J J A S O N D D ebi t (L tr /dtk )

28

Tabel 4 Kepekaan jenis tanah

Jenis Tanah Kepekaan Tanah

Aluvial, Tanah Glei Planosol Hidromorf Kelabu, Literita Air Tanah

Tidak peka

Latosol Agak peka

Brown Forest Soil, Non Calcis Brown, Mediteran

Kurang peka Andosol, Laterit, Grumosol, Podsol, Podsolik Peka

Regosol, Litosol, Organosol, Renzina Sangat peka Sumber: Surat Keputusan Menteri Pertanian No 837/Kpts/Um/11/1980

Karakteristik Sosial Ekonomi dan Kependudukan

Kegiatan ekonomi masyarakat lokal pada daerah penelitian terus mengalami pergeseran. Pergeseran tersebut terlihat pada jenis pekerjaan yang dahulu disektor pertanian (onfarm) beralih ke sektor non-pertanian, seperti jasa dan perdagangan. Kegiatan ekonomi masyarakat pada sektor pertanian, dimana kegiatan usahanya tergantung pada lahan sudah semakin terbatas. Demikian pula jika melihat perkembangan tingginya alih fungsi (konversi) lahan dan alih pemilikan lahan pada wilayah ini ada kecenderungan yang sangat kuat bahwa kegiatan ekonomi berbasis lahan tidak dapat dipertahankan lagi.

Sebagaimana diketahui sejak 3 (tiga) dekade terakhir khususnya kawasan Puncak yang merupakan bagian dari wilayah hulu DAS Ciliwung telah berkembang begitu rupa karena faktor udara yang sejuk, kesuburan tanah yang baik serta lokasi yang strategis dilihat dari ibukota Jakarta, Bogor, dan Bandung, telah terjadi proses komersialisasi lahan yang agresif. Penguasaan lahan perorangan makin meningkat menggantikan status lahan yang semula adalah hak garap dari masyarakat petani lokal.

Semenjak timbulnya arus komersialisasi lahan yang semakin merebak, banyak masyarakat petani lokal yang tergiur melepaskan sebagian atau seluruh lahan miliknya kepada orang kota yang bermodal kuat. Pembelian lahan seperti itu jelas makin mempersempit lahan usahatani masyarakat petani lokal. Pada kondisi ini sebagian masyarakat mencari pekerjaan di sektor non-pertanian seperti menjadi tukang ojek sepeda motor, penjaga villa peristirahatan milik orang kota, karyawan rumah makan dan sebagainya. Sementara lahan yang telah mengalami perubahan kepemilikan (milik orang kota), biasanya akan segera mengalami konversi ke penggunaan lahan yang bersifat non-pertanian. Hal ini akan menyumbangkan pengurangan penutupan vegetasi pada permukaan lahan yang penting untuk pemeliharaan fungsi wilayah hulu DAS Ciliwung sebagai daerah tangkapan hujan (water catchment area).

29

30

Rendahnya tingkat pendidikan di kawasan ini mengakibatkan masyarakat lokal hanya menjadi pekerja dan buruh kasar. Berdasarkan data tahun 2009, di Kecamatan Cisarua jumlah penduduk yang belum sekolah-tidak tamat SD-tamat SD mencapai 54,6%, dan di Kecamatan Megamendung mencapai 67,4%. Sementara yang mampu tamat hingga jenjang perguruan tinggi hanya 1% untuk Kecamatan Cisarua dan 0,64% untuk Kecamatan Megamendung (Tabel 5). Pertambahan penduduk yang semakin meningkat juga akan mempengaruhi perubahan lahan yang terjadi. Penduduk akan membutuhkan lahan untuk tempat tinggal serta sarana penunjang lainnya dan ini akan merubah lahan-lahan terbuka menjadi lahan terbangun. Perubahan ini tentunya akan berakibat terhadap fungsi ekologi/lingkungan DAS yang akan semakin menurun.

Tabel 5 Tingkat pendidikan masyarakat di DAS Ciliwung Hulu tahun 2009

No Tingkat Pendidikan Cisarua Megamendung

jiwa % jiwa %

1 Belum sekolah-tidak tamat SD-tamat SD 60.585 54.6 61.532 67.4

2 Tamat SLTP 23.383 21.0 16.714 18.3

3 Tamat SMA 24.825 22.3 11.456 12.5

4 Tamat Akademi 999 0.9 896 0.9

5 Tamat Universitas 1.110 1.0 585 0.6

Total 110.902 100 91.183 100

Gambar 14 Jumlah penduduk di DAS Ciliwung Hulu

(sumber: Kecamatan Cisarua dan Megamendung Dalam Angka Tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012) 0 50000 100000 150000 200000 250000 2008 2009 2010 2011 Ji w a

31

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Penutupan Lahan dan Penguasaan Lahan

Penguasaan lahan di Kawasan DAS Ciliwung Hulu dapat dikelompokkan menjadi lahan negara, lahan hak guna usaha dan lahan hak milik. Lahan negara dalam bentuk kawasan hutan dikelola oleh pemerintah seperti Balai Taman Nasional Gede-Pangrango (Kawasan Taman Nasional), Balai Konservasi Sumberdaya Alam Departemen Kehutanan (Kawasan Hutan Cagar Alam Telaga Warna), dan Perum Perhutani (Kawasan Lindung dan Produksi). Lahan dalam bentuk situ dan badan sungai dikelola oleh Pemda dan pemerintah seperti Balai Pengelolaan Sumberdaya Air (BPSDA), Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. Lahan dalam bentuk hak guna usaha digunakan sebagai kebun teh (PT Gunung Mas dan PT Ciliwung). Lahan milik umumnya digunakan untuk kebun dan tegalan (pertanian lahan kering), sawah tadah hujan dan teknis, pemukiman, tempat peristirahatan, lahan komersil dan tempat rekreasi. Berdasarkan BPDAS Citarum Ciliwung (2011) dan survey lapang (2013), penguasaan lahan terutama lahan milik di DAS Ciliwung Hulu sebagian besar sudah dikuasai oleh orang diluar kawasan penelitian. Lahan-lahan milik ini banyak berubah menjadi lahan terbangun jika terdapat akses jalan terhadap lahan tersebut. Akses jalan menjadi faktor dalam pengkonversian lahan pada lahan milik.

Kondisi penggunaan lahan, dalam hal ini tingkat penutupan lahan (land cover) merupakan indikator penting dalam mengenali kondisi keseluruhan DAS. Hal ini berkaitan dengan terpeliharanya daerah resapan air, pengurangan aliran permukaan serta pengendalian erosi saat musim penghujan dan mencegah kekeringan saat musim kemarau. Berdasarkan hasil analisis Citra Landsat tahun 1999 dan 2010 serta survey lapang, tipe penutupan lahan pada DAS Ciliwung Hulu dapat dikelompokan menjadi 6 tipe penutupan lahan, yaitu:

1. Hutan.

Tipe penggunaan lahan ini banyak ditemui di kaki Gunung Gede dan daerah yang berbukit. Hutan pada kawasan penelitian terbagi menjadi dua tipe, yaitu hutan alami/lindung dan hutan produksi (hutan tanaman). Kepemilikan atau pengelola kawasan hutan terbagi menjadi dua, Balai Konservasi Sumberdaya Alam (Dephut) untuk hutan alami dan PT. Perhutani untuk hutan produksi (hutan tanaman). Menurut Syartinilia (2004), vegetasi yang mendominasi kawsan hutan alami/lindung merupakan hasil suksesi alami dengan kerapatan yang makin lama semakin berkurang sehingga kerapatan tanaman 190 pohon/ha dengan penyebaran vegetasi tidak merata sehingga terdapat kawasan hutan yang tidak memiliki penutupan vegetasi (terbuka) yang membutuhkan untuk dilakukannya kegiatan rehabilitasi dalam bentuk reboisasi. Sedangkan pada kawasan hutan produksi didominasi oleh tanamanan pinus (Pinus sp), rasamala (Altingia excelsa) dan sengon (Paraserianthes falcataria). Penggunaan lahan hutan ini relatif tetap karena status kepemilikannya dikuasai oleh negara.

32

2. Kebun Teh.

Tipe penggunaan lahan ini banyak ditemui di kaki Gunung Gede dan lahan yang langsung berbatasan dengan kawasan hutan. Kebun teh dikelola oleh PTPN VIII dan PT. Ciliwung. Khusus untuk tipe penggunaan lahan ini terjadi pergantian penggunaan lahan antara kebun teh dengan semak belukar. Semak belukar ini merupakan tipe penggunaan lahan yang dihasilkan oleh kebun teh disaat terjadi peremajaan atau pergantian tanaman baru.

3. Kebun Teh Bera.

Tipe penggunaan lahan ini adalah keadaan dimana kebun teh sedang diremajakan. Tanaman teh yang sudah tidak produktif dicabut dan diberakan sebelum ditanam dengan tanaman teh baru. Lamanya peremajaan terjadi setiap 50 tahun sekali pada tiap bloknya. Waktu antara peremajaan dan penanaman kembali menghasilkan tipe penggunaan lahan semak belukar (lahan bera).

4. Pertanian Lahan Kering.

Tipe penggunaan lahan ini banyak mendominasi dan tersebar di daerah penelitian. Tanaman yang umumnya diusahakan adalah tanaman semusim (palawija). Palawija pada penggunaan lahan ini terbagi menjadi dua tipe, tipe yang mengalami pergiliran tanaman dan tidak terdapat pergiliran tanaman. Lahan palawija yang tidak mengalami pergiliran tanaman biasanya ditanami dengan komoditas singkong. Sementara yang mengalami dapat diurutkan antara lain: jagung-ubi jalar-talas-wortel- cabai-jagung. Kepemilikan lahan ini dimiliki oleh perorangan dan sebagian besar sudah dikuasai oleh orang Jakarta. Warga setempat hanya bekerja sebagai petani buruh dan penggarap.

5. Sawah.

Tipe penggunaan lahan ini banyak tersebar dekat dengan jalur irigasi atau sungai. Sistem pertanian pada lokasi penelitian sudah menggunakan sistem pengairan teknis (95%) dan tadah hujan (5%). Sawah ini mampu panen 3 kali dalam setahun (sawah teknis) karena ketersediaan air yang melimpah. Kepemilikan lahan sawah pada saat ini banyak dikuasai oleh orang Jakarta. Petani yang menggarap sawah tersebut hanya sebagai buruh tani dan penggarap.

6. Lahan Terbangun.

Tipe penggunaan lahan ini banyak didominasi oleh permukiman warga setempat dan rumah peristirahatan serta sedikit area komersial. Penyebaran lahan terbangun dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu: a) area komersial yang tersebar memanjang mengikuti jalur utama (jalan raya), b) permukiman warga setempat yang biasanya di belakang area komersial, dan c) rumah peristirahatan berada paling belakang karena mencari suasana yang masih asri. Penyebaran ini mengakibatkan permukiman warga setempat yang semakin padat karena perkembangannya terhimpit oleh area komersial dan rumah peristirahatan.

33

Hutan alami

Perkebunan teh dan teh bera

Pertanian Lahan Kering (tanaman cabai dan singkong)

Sawah

Lahan Terbangun

34

Pola Perubahan Penutupan Lahan

Data penutupan lahan DAS Ciliwung Hulu diperoleh melalui analisis data Citra landsat tahun 1999 dan 2010 melalui metode klasifikasi terbimbing. Berdasarkan analisis citra, sebaran penutupan lahan di DAS Ciliwung Hulu pada tahun 1999 dan 2010 disajikan pada Gambar 17 dan Gambar 18. Sedangkan luas masing-masing tipe penutupan lahan dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil analisis tersebut menunjukan bahwa pertanian lahan kering merupakan lahan yang banyak mengalami pengurangan, yaitu sebesar 9% dari luas 5303 ha pada tahun 1999 menjadi 4115 ha pada tahun 2010. Pengurangan yang cukup besar juga terjadi pada tutupan lahan sawah dan hutan yang masing-masing sebesar 2%. Seiring dengan pengurangan luas tutupan lahan tersebut maka terjadi penambahan luas lahan lainnya, yaitu pada lahan terbangun sebesar 11% dan kebun teh produktif sebesar 2%.

Tabel 6 Perubahan tutupan lahan DAS Ciliwung Hulu

Penggunaan lahan Tahun 1999 Tahun 2010 Perubahan *

ha % ha % ha %

Hutan 5038 33 4794 31 -243 -2

Kebun teh produktif 1413 9 1659 11 245 2

Kebun teh bera 282 2 235 2 -47 0

Pertanian lahan kering 5303 35 3946 26 -1312 -9

Sawah 2235 15 1885 12 -350 -2

Lahan terbangun 995 7 2702 18 1707 11

Total 15265 100 15265 100

Sumber: Interpretasi Citra Landsat 5 tahun 1999 dan Landsat 7 tahun 2010 Ket: * perubahan dari tahun 1999 hingga tahun 2010

Gambar 16 Kecenderungan perubahan penutupan lahan DAS Ciliwung Hulu 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% 1999 2005 2010 Lahan terbangun Sawah

Pertanian lahan kering Kebun teh bera Kebun teh produktif Hutan

35

36

37 Hasil analisis tumpang tindih menghasilkan 8 pola perubahan penutupan lahan pada Kawasan DAS Ciliwung Hulu. Pola perubahan yang dihasilkan dibagi menjadi dua sifat, yaitu bersifat satu arah dan dua arah. Pola perubahan yang sifatnya satu arah berarti perubahan lahan tersebut tidak berubah kembali pada penggunaan semula. Sebaliknya yang memiliki sifat dua arah akan kembali menjadi penggunaan semula. Dari hasil analisis, pola perubahan yang bersifat satu arah terjadi pada: (1) hutan – pertanian lahan kering, (2) pertanian lahan kering – kebun teh produktif, (3) pertanian lahan kering – lahan terbangun, dan (4) sawah – lahan terbangun. Sementara yang bersifat dua arah yaitu: (1) kebun teh produktif – kebun teh bera, (2) kebun teh bera – kebun teh produktif, (3) sawah – pertanian lahan kering, dan (4) pertanian lahan kering – sawah.

Perubahan pola penutupan lahan yang terjadi di DAS Ciliwung Hulu mempunyai kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun kearah penggunaan yang karakteristik resapannya lebih kecil dan mengakibatkan berkurangnya fungsi konservasi dari areal Ciliwung bagian hulu. Berkurangnya luasan hutan menjadi pertanian lahan kering menyebabkan fungsi hidrologis terganggu.

Tabel 7 Pola dan laju perubahan penutupan lahan DAS Ciliwung Hulu

No Perubahan lahan Laju perubahan

pertahun (%)

Dari Menjadi

1 Hutan Pertanian lahan kering 0.4

2 Kebun teh produktif Kebun teh bera 0.3

3 Kebun teh bera Kebun teh produktif 2,9

4 Sawah Pertanian lahan kering 3,6

5 Pertanian lahan kering Sawah 1,3

6 Pertanian lahan kering Kebun teh produktif 0.3 7 Pertanian lahan kering Lahan terbangun 2,4

8 Sawah Lahan terbangun 1,0

Sumber: Interpretasi dan overlay data Cita Landsat tahun 1999 dan 2010

Hutan – pertanian lahan kering

Bertambahnya jumlah petani palawija dan berkurangnya lahan pertanian. Lahan pertanian pada daerah penelitian sudah banyak yang beralih status kepemilikan sejak tahun 1970-an. Banyak dari lahan pertanian tersebut pada saat ini sudah beralih fungsi menjadi lahan terbangun. Sementara disisi lain, pertambahan jumlah petani palawija semakin meningkat sehingga banyak petani yang kehilangan lahan garapan mencari lahan-lahan baru untuk dibuka menjadi lahan pertanian lahan kering, terutama hutan.

Kebun teh produktif – kebun teh bera – kebun teh produktif

Tanaman teh yang sudah kurang produktif (kurang menghasilkan) akan dilakukan pergantian/replanting dengan cara pembongkaran tanaman teh tua yang telah berumur 50 tahun. Besarnya area pembongkaran berkisar 2% pertahun dari luas tanaman teh. Terdapat jeda waktu sedikit antara proses pembongkaran dan penanaman kembali (waktu bera) tergantung dari kebijakan pengelola.

38

Gambar 19 Peta pola perubahan penutupan lahan DAS Ciliwung Hulu tahun 1999 – 2010

HTN: hutan, LB: lahan terbangun, PLK: pertanian lahan kering,

39

Pertanian lahan kering – kebun teh produktif

Perkebunan teh terutama PTPN VIII memiliki lahan hak guna usaha (HGU) yang sangat luas, pada saat ini masih banyak lahan yang belum terpakai menjadi kebun teh. Lahan yang belum terpakai ini banya digunakan (digarap) masyarakat lokal sebagai pertanian lahan kering. Perubahan penggunaan lahan yang belum terpakai ini didorong oleh rencana pengembangan dari pihak pengelola.

Sawah – pertanian lahan kering – sawah

Pola perubahan ini terjadi karena adanya rotasi tanaman. Rotasi tanaman dilakukan untuk mengembalikan unsur hara yang telah hilang karena tanaman padi. Sawah yang sudah dipanen akan dibiarkan mengering sehingga dapat ditanami dengan tanaman semusim (palawija). Selain itu, rotasi tanaman juga terjadi karena adanya kenaikan salah satu komoditas tanaman. Jika salah satu harga komoditas palawija naik maka petani sawah akan banyak beralih menanam menjadi tanaman palawija yang memiliki harga jual yang tinggi.

Pertanian lahan kering – lahan terbangun dan sawah – lahan terbangun

Tingginya harga lahan (permintaan terhadap lahan) mendorong pemilik lahan untuk menjual lahan-lahan tersebut kepada pemilik modal besar. Menurut Astuti DI (2011), harga lahan pada daerah puncak (DAS Ciliwung Hulu) berkolerasi positif terhadap konversi lahan. Laju konversi semakin tinggi karena kenaikan harga lahan pada daerah puncak masih lebih murah dibandingkan daerah asal pembeli (Jakarta) dimana pembeli tersebut memiliki keinginan untuk berinvestasi. Lahan-lahan pertanian (pertanian lahan kering dan lahan sawah) yang ada pada saat ini sudah banyak beralih kepemilikan, sebagian besar sudah dimiliki oleh orang luar kawasan. Perubahan menjadi lahan terbangun banyak terjadi karena keinginan dari pemilik lahan untuk menjadikan lahan tersebut sebagai lahan peristirahatan maupun area komersil. Disamping itu, pertambahan jumlah penduduk lokal juga mendorong laju pengkonversian lahan pertanian menjadi lahan terbangun. Perubahan lahan pertanian menjadi lahan terbangun dipercepat oleh adanya akses jalan, kemudahan aksesibiltas kendaraan terhadap lahan tersebut.

Hubungan Penutupan Lahan dan Curah Hujan terhadap Debit Maksimum

Variabel penutupan lahan yang digunakan dalam analisis ini adalah penutupan lahan yang dihasilkan dari analisis penutupan lahan, yaitu hutan, kebun teh produktif, kebun teh bera, pertanian lahan kering, sawah dan lahan terbangun. Sementara variabel curah hujan menggunakan curah hujan maksimum harian. Data debit aliran sungai yang digunakan adalah debit maksimum aliran Sungai Ciliwung pada Pintu Air Katulampa. Debit maksimum ini merupakan debit yang berpotensi menyebabkan banjir pada kawasan hilir.

Pada uji statistik hasil analisis regresi berganda ditemukan adanya korelasi kuat antar variabel bebas tutupan lahan (multikolenearitas) dan menghasilkan nilai-nilai koefesien determinasi yang tinggi, namun koefesien regresi yang dihasilkan tidak bersifat nyata secara statistik, sehingga perlu dilakukan

40

orthogonalisasi peubah dengan menggunakan analisis antara berupa analisis komponen utama (principle component analysis).

Hasil analisis regresi berganda antara penutupan lahan dan curah hujan terhadap debit maksimum diperoleh persamaan sebagai berikut:

7 6 5 4 3 2 1 18 . 1 00537 . 0 001654 . 0 00231 . 0 03233 . 0 009483 . 0 01674 . 0 61231 . 69 x x x x x x x y Dimana:

Keberagaman data yang dihasilkan model persamaan regresi berganda pada penelitian ini mampu menjelaskan koefesien determinasi atau variasi aktual sebesar 50.3% (R-sq = 50.3%). Dengan hasil ini, terdapat 50% faktor lain yang berpengaruh diluar model yang tidak digunakan, seperti faktor topografi, jenis tanah, dll. Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel curah hujan merupakan variabel yang paling berpengaruh dibandingkan dengan variabel penutupan lahan.

Dokumen terkait