HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Analisis Statistik Desktiptif
Analisis statistik deskriptif akan memberikan gambaran atau deskripsi data yang dilihat dari nilai minimum, maksimum, rata-rata
(mean) dan standar devisiasi yang dihasilkan dari variabel penelitian.
Hasil analisis dengan statistic deskriptif menghasilkan data sebagai berikut:
Tabel 4.1 Analisis Statistif Deskriptif Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Deviation Std. Ukuran Perusahaan 40 14.60 27.81 20.1745 4.14320 Biaya Lingkungan 40 .00 1.00 .8750 .33493 Kinerja Lingkungan 40 2.00 5.00 3.4750 .93336 Profitabilitas 40 -6.40 4.64 .6421 2.28555 Valid N (listwise) 40
50
Berdasarkan tabel hasil statistik deskriptif diperoleh data sebayak 40 data observasi yang berasal dari perkalian peride 5 tahun penelitian dari 2015 sampai 2019 dengan jumlah sampel sebayak 8 perusahaan. Tabel 4.1 meggambarkan statistik deksriptif untuk variabel dependen profitabilitas (ROI) dan variabel indepeden (LN, Biaya Lingkungan, PROPER).
Hasil statistik deskriptif terhadap variabel independen Ukuran Perusahaan yang diproksikan LN = Total Aset menunjukkan nilai minimum 14,60 yaitu PT. Vale Indonesia Tbk, pada tahun 2017 dan nilai maksimum 27, 81 yaitu PT. Ifishdeco Tbk, di tahun 2019 dengan nilai rata-rata sebesar 20,1745 dan standar deviasi 4,14320.
Hasil statistik deskriptif terhadap variabel independen Biaya Lingkungan yang diproksikan oleh metode dummy dengan melihat ada atau tidaknya pengungkapan biaya lingkungan pada laporan keuangan perusahaan menunjukkan nilai minimum 0,00 dan maksimum 0,001. Hal ini dikarenakan hanya perusahaan PT. Ifishdeco Tbk, saja yang tidak mengungkapkan adanya laporan biaya lingkungan di setiap tahunnya, sedangkan ketujuh perusahaan sampel lain mengungkapkan dengan jelas yang masuk pada kategori kewajiban. Untuk nilai rata-rata pada variabel ini yaitu sebesar 0,8750 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,33493.
Hasil statistik deskriptif terhadap variabel independen Kinerja Lingkungan yang diproksikan oleh PROPER yaitu menunjukkan nilai minimum 2 dan untuk maksimum 5. Nilai 2 merupakan penilaian
51
PROPER yang didapat oleh perusahaan PT. Ifishdeco Tbk, pada tahun 2015-2019 sedangkan nilai 5 didapat dari penilaian beberapa perusahaan seperti PT. Medco Energi Internasional Tbk, di tahun 2015-2017, PT. Aneka Tambang Tbk, tahun 2016 dan 2017 juga PT. Adaro Energy Tbk, di tahun 2018 dan 2019. Pada uji variabel ini nilai rata-rata berada pada angka 3,4750 dengan standar deviasi sebesar 0,93336.
Hasil statistik deskriptif terhadap variabel dependen Profitabilitas yang diproksikan ROI menunjukkan nilai minimum -6,40 yaitu PT. Energi Mega Persada pada tahun 2016, nilai maksimum 4,64 untuk PT. Adaro Energy Tbk. Pada variabel ini nilai rata-ratanya sebesar 0,6421 dengan standar deviasi 2,28555.
Hasil analisis statistik deksriptif menghasilkan seluruh variabel independen memiliki nilai rata-rata yang lebih besar dibandingkan dengan nilai standar deviasinya, yang berarti data kurang bervariasi. Hal ini dikarenakan pada pengungkapan biaya lingkungan hanya satu perusahaan atau sampel yang tidak mengungkapkan laporan keuangan mengenai biaya lingkungannya, yaitu PT. Vale Indonesia, Tbk. Namun data tetap dapat dikatakan terdistribusi normal karena didukung oleh hasil dari uji
52 2. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Tujuan dilakukan uji normalitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi, residual memiliki distribusi normal. Cara yang dilakukan untuk melihat normalitas adalah menggunakan grafik histogram dan uji Kolmogorov smirnov (K-S). Grafik histogram membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal.
Gambar 4.1 Hasil Uji Normalitas
Berdasarkan hasil di atas, histogram cenderung lebih condong ke arah kanan ditunjukkan dengan nilai mean yang negatif. Maka dapat disimpulkan bahwa data memiliki distribusi residual yang tidak normal. Hal ini dikarenakan data yang kurang bervariasi dan nilai rasio kurtosis yang berada di angka di luar range +2 dan -2 pada data yang tidak bervariasi yaitu sebesar 3, 7407. Namun nilai
53
skewness berada pada nilai positif dengan tetap berada pada range +2 dan -2.
Tabel 4.2 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 40
Normal Parametersa,b Mean .0000000 Std. Deviation 1.98006837 Most Extreme Differences Absolute .159
Positive .083
Negative -.159
Test Statistic .159
Monte Carlo Sig. (2-tailed) Sig. .236d Sumber: data yang telah diolah
Untuk mengetahui apakah data normal atau tidak pada SPSS 25 dapat menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov (Ghozali, 2018), dan didapatkan hasil nilai uji Monte Carlo sebesar 0,236 sehingga dapat diartikan bahwa data terdistribusi normal. Karena nilai signifikan atas Monte Carlo ditentukan oleh nilai lebih besar dari 0,05 maka residual berdistribusi normal.
Akan tetapi untuk hasil pada asymptotic sig. belum menunjukkan nilai yang signifikan atau normal dikarenakan nilai akhir yang didapat kurang dari 0,05. Namun menurut Mehta & Patel (2012) persamaan asymptotic memiliki beberapa kelemahan yang membuat hasil data menjadi semakin tidak normal pada data atau sampel yang kecil. Sehingga hasil dari Monte Carlo dianggap lebih akurat digunakan pada sampel yang kecil atau sedikit.
b. Uji Autokorelasi
Uji statistik yang digunakan dalam penelitian yaitu uji run test. Jika nilai Durbin Watson mendekati nilai 2, maka tidak terjadi
54
autokorelasi (Gujarati & Econometrics, 2004). Hasil uji ini didapatkan Durbin Watson sebesar 1,906 yang menunjukkan bahwa angka tersebut mendekati dua, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada tiap variabel independen dalam penelitian.
Tabel 4.3 Hasil Uji Autokorelasi
c. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi pada penelitian ini ditemukan adanya korelasi antar variable bebas (independen).
Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolonieritas Collinearity Statistics Tolerance VIF Ukuran Perusahaan Biaya Lingkungan Kinerja Lingkungan .579 1.726 .403 2.482 .621 1.611 Sumber: Data yang telah diolah
Hasil uji multikolonieritas pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai dari tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10 untuk semua variable yaitu Ukuran Perusahaan, Biaya Lingkungan dan Kinerja Lingkungan. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolonieritas atau terbebas dari multikolonieritas.
55 c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan pada pengamatan lain. Pengujian heteroskedastisitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan grafik
Scatterplot.
Gambar 4.2 Uji Heteroskedastisitas
Sumber: Data yang sudah diolah
Berdasarkan hasil output uji heteroskedastisitas dapat diketahui bahwa titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0 dan tidak berkumpul hanya di atas atau di bawah saja. Kemudian penyebaran titik-titik data tidak berpola ataupun membentuk pola bergelombang, menyempit dan melebar. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas.
56 3. Uji Hipotesis
a. Uji Regresi Linier Berganda
Uji ini dilakukan untuk mengetahui arah dan besarnya pengaruh dari variabel bebas yang jumlahnya lebih dari satu terhadap variabel terikat (Gujarati, 2003). Pengujian analisis pada penelitian ini untuk melihat seberapa pengaruh ukuran perusahaan, biaya lingkungan dan kinerja lingkungan terhadap profitabilitas yang diukur oleh ROI.
Tabel 4.5 Koefisien Determinasi
Sumber: Data yang sudah diolah
Adjusted R menjelaskan seberapa besar kontribusi atau pengaruh perubahan variabel independen terhadap perubahan variabel dependen. Pada hasil uji ini dihasilkan nilai Adjusted R sebesar 0,187 yang menunjukkan bahwa 18,7% perubahan variabel dependen atau profitabilitas dikontribusikan oleh variabel independent seperti ukuran perusahaan, biaya lingkungan dan kinerja lingkungan dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
b. Uji Statistik F
Uji statistik F digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Selain itu
57
uji ini juga digunakan untuk menguji apakah model regresi dalam penelitian baik/signifikan atau tidak baik/non signifikan.
Tabel 4.6 Hasil Uji F ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 50.820 3 16.940 3.988 .015b
Residual 152.906 36 4.247
Total 203.726 39
Sumber: Data yang sudah diolah
Pada tabel 4.6 uji F dapat dilihat bahwa nilai F sebesar 3,988 dengan Sig. 0,015 yang merupakan lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa model penelitian signifikan, sehingga dapat digunakan untuk dilakukan hipotesa. Atau sama dengan Ukuran Perusahaan, Biaya Lingkungan dan Kinerja Lingkungan, secara bersama-sama berpengaruh terhadap Profitabilitas perusahaan pertambangan.
b. Uji Statistik t (T Test)
Uji t dilakukan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual atau parsial dalam menerangkan variasi variabel dependen pada tingkat signifikansi 0,05. Adapun hasil dari uji regresi secara parsial (uji t) dapat dilihat pada tabel 4.7
Tabel 4.7 Hasil Uji Statistik t Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.977 2.991 1.664 .105 UP -.268 .105 -.486 -2.564 .015 BL -3.315 1.552 -.486 -2.136 .040 KL 1.145 .449 .467 2.550 .015
58 Sumber: Data yang diolah
Hasil dari uji t menunjukkan tingkat signifikansi variabel Ukuran Perusahaan sebesar 0,015 dan lebih kecil dari 0,05 yang berarti bahwa Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Profitabilitas. Kemudian variabel Biaya Lingkungan signifikansinya sebesar 0,040 juga lebih kecil dari 0,05, artinya Biaya Lingkungan berpengaruh terhadap Profitabilitas. Dan signifikansi dari variabel Kinerja Lingkungan adalah 0,015 < 0,05 maka Kinerja lingkungan berpengaruh terhadap Profitabilitas.
59 B. Interpretasi Hasil
1. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas
Berdasarkan hasil pengujian variabel Ukuran Perusahaan memiliki nilai sig sebesar 0,015 atau lebih kecil dari 0,05 yang menunjukkan bahwa Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. Kemudian juga hasil dari uji F dapat disimpulkan variabel Ukuran Perusahaan mempengaruhi Profitabilitas secara simultan.
Walaupun berpengaruh secara signifikan, terdapat hasil negatif pada nilai t yaitu sebesar -2,564 yang berarti bahwa setiap kenaikan 1% total aset akan menurunkan profitabilitas perusahaan senilai -2,564 dengan asumsi variabel independen lain konstan. Dengan demikian secara parsial ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh (Juliana & Melisa, 2019)
Seperti yang dijelaskan oleh Nur’ainun & Lestari, (2017) bahwa meneurut teori kritikal, bahwa semakin besar skala perusahaan maka profitabilitas juga akan meningkat tetapi pada titik atau jumlah tertentu ukuran perusahaan akhirnya akan menurunkan profit perusahaan. Pengendalian terhadap sumber daya perusahaan seperti aset, teknologi yang digunakan dan kekayaan intelektual atau tenaga ahli mampu menjadi faktor yang memakan porsi besar dalam pengurangan nilai profitabilitas perusahaan.
60
Perusahaan yang besar memiliki dampak yang besar pula terhadap lingkungan dan masyarakat sehingga akan mengungkapkan lebih banyak informasi dan kegiatan sosial. Apabila dikaitkan dengan teori legitimasi, hal tersebut dilakukan perusahaan untuk melegitimasi kegiatan operasional dan menurunkan tekanan dari para aktivis sosial dan masyarakat. Sehingga perlu dilakukan pengeluaran biaya eksternal atau sebagai bentuk tanggung jawab dan yang akan berakibat pada penurunan profitabilitas.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Isbanah, 2013) yang sama-sama menyatakan bahwa ukuran perusahaan secara parsial berpengaruh negatif secara signifikan terhadap profitabilitas. Namun berbanding terbalik dengan penelitian (Ladyve et al., 2020) dan (Ciriyani & Putra, 2016) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara ukuran perusahaan dan profitabilitas. 2. Pengaruh Biaya Lingkungan Terhadap Profitabilitas
Dilihat dari hasil pengujian uji t pada variabel Biaya Lingkungan, didapatkan hasil nilai signifikasi 0,040. Nilai signifikansi menunjukkan bahwa 0,040 < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Biaya Lingkungan memiliki pengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. Namun nilai t sebesar -2,136 menunjukkan hasil negatif, sehingga disimpulkan bahwa kenaikan biaya lingkungan menurunkan atau mempengaruhi profitabilitas. Dari perspektif analisis biaya, ketika biaya lingkungan dijadikan sebagai suatu bentuk kewajiban periodik maka beban perusahaan akan
61
meningkat. Akibatnya, laba akan menurun dan mempengaruhi tingkat profitabilitas perusahaan. Hal ini disebabkan meskipun biaya tanggung jawab sosial dan lingkungan telah dikeluarkan, manfaat ekonomis dari pengorbanan biaya tersebut tidak langsung dirasakan (Wardhana, n.d.)
Biaya lingkungan secara umum meliputi keseluruhan biaya internal dan eksternal dari langkah yang diambil atau harus diambil oleh perusahaan untuk mengelola dampak lingkungan yang disebabkan oleh aktifitas operasi perusahaan, dalam rangka pertanggung jawaban lingkungan serta upaya untuk mematuhi aturan dan regulasi lingkungan yang berlaku. Biaya ini diusahakan dengan mengoptimalkan pemakaian sumber daya yang berorientasikan untuk mencegah atau mengurangi barang sisa dan polusi. Biaya lingkungan yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah biaya reklamasi dan atau penutupan lahan pasca tambang yang berbentuk jaminan seperti rekening deposito berjangka, bank garansi, asuransi atau cadangan akuntansi.
Namun hingga saat ini realisasi reklamasi pada tahun 2019 baru mencapai target 44,07% dari luas 7.000 ha. Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan masih banyaknya lahan tambang yang belum direklamasi disebabkan berbagai faktor, seperti harga komoditas yang rendah yang mengakibatkan perusahaan menunda reklamasi dan kebanyakan memilih untuk mengubur atau meninggalkan saja karena dinilai lebih ekonomis (Bisnis.com, 7/10).
62
Dalam konteks penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hasanah & Destalia, 2018) bahwa biaya reklamasi penutupan tambang memiliki pengaruh negatif terhadap ROI. Perencanaan biaya yang dialokasikan untuk reklamasi penutupan tambang diperkirakan melebihi dari hitungan laba perusahaan. Pernyataan ini diperkuat dengan hasil penelitian dari (Dewata et al., 2018) bahwa biaya lingkungan berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja perusahaan. Karena biaya lingkungan yang dikeluarkan direncanakan dan dikeluarkan di awal belum dapat dirasakan langsung pada periode tersebut.
Tetapi terdapat perbedaan pendapat bahwa jika perusahaan mampu melakukan praktik operasional yang lebih efisien maka akan tercapai
sustainable corporate seperti hasil penelitian dari (Sulistiawati &
Dirgantari, 2017) yang menyatakan bahwa biaya lingkungan dengan penerapan green accounting memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Begitu juga penelitian (Putri et al., 2019) yang memproksikan green accounting dengan pengungkapan biaya lingkungan, bahwa green accounting dan kinerja lingkungan berpengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan.
63