BAB 4. METODE PENELITIAN
4. Rotary microtome
5.2 Analisis Statistik Hasil Penelitian
Rerata dan simpang baku jumlah ekspresi sel makrofag yang didapat dianalisa dengan uji statistik Kolmogorov Smirnov menunjukkan bahwa semua data berdistribusi normal (p>0,05), yaitu p sebesar 0,076 sehingga memenuhi persyaratan menggunakan uji parametrik. Uji Levene menunjukkan nilai 0,253, probabilitas > 0,05, maka asumsi homogen terpenuhi, sehingga memenuhi persyaratan menggunakan uji parametri.
49 Taraf Signifikan Uji One way Anova Kelompok Kitosan dengan berat molekol rendah dan berat molekol tinggi
Hasil uji Homogenitas variabel dengan Lavene test dan Hasil uji one way Anova untuk data jumlah Ekspresi sel makrofag dapat dilihat pada tabel 5.2
Tabel 5.2.
Lavene test Harga p
Jumlah Ekspresi sel makrofag 0,08
Harga p> 0,05, berarti data homogen
Taraf signifikan jumlah Ekspresi sel makrofag pada kelompok perlakuan dengan berat molekol tinggi rendah pada pengamatan 3 dan 4 hari hari
Variabel Harga p
Kitosan berat molekol tinggi – Kitosan berat molekol rendah Jumlah Ekspresi sel makrofag 0,000*
keterangan: *= perbedaan bermakna
Hasil uji one way Anova test perbandingan antara kitosan dengan berat molekol tinggi dan rendah pada lama pengamatan 3 dan 4 hari setelah perlakuan menunjukkan jumlah Ekspresi sel makrofag terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) dengan harga p sebesar 0,000. Untuk mengetahui perbedaan significant masing – masing kelompok, dilakukan pengujian LSD ditunjukkan pada tabel 5.Pada tabel 5.3 Hasil Uji LSD
Multiple Comparisons Dependent Variable:
LSD
(I) KELOMPOK Sig.
kontrol 3 hari kontrol 4 hari ,581
perlakuan BM tinggi 3 hari ,000 perlakuan BM tinggi 4 hari ,000 perlakuan BM rendah 3 hari ,000
50 perlakuan BM rendah 4
hari ,000
kontrol 4 hari kontrol 3 hari ,581
perlakuan BM tinggi 3 hari ,000 perlakuan BM tinggi 4 hari ,000 perlakuan BM rendah 3 hari ,000 perlakuan BM rendah 4 hari ,000
perlakuan BM tinggi 3 hari kontrol 3 hari
,000 kontrol 4 hari ,000 perlakuan BM tinggi 4 hari ,000 perlakuan BM rendah 3 hari ,007 perlakuan BM rendah 4 hari ,030
perlakuan BM tinggi 4 hari kontrol 3 hari
,000 kontrol 4 hari ,000 perlakuan BM tinggi 3 hari ,000 perlakuan BM rendah 3 hari ,000 perlakuan BM rendah 4 hari ,000
perlakuan BM rendah 3 hari kontrol 3 hari
,000 kontrol 4 hari ,000 perlakuan BM tinggi 3 hari ,007 perlakuan BM tinggi 4 hari ,000 perlakuan BM rendah 4 hari ,448
perlakuan BM rendah 4 hari kontrol 3 hari
,000 kontrol 4 hari ,000 perlakuan BM tinggi 3 hari ,030 perlakuan BM tinggi 4 hari ,000 perlakuan BM rendah 3 hari ,448
51 BAB 5. PEMBAHASAN
Kehilangan gigi akan menyebabkan gangguan fungsi fonetik, mastikasi, dan estetik. Pencabutan gigi menginisiasi proses reparatif yang melibatkan jaringan keras (tulang alveolar) dan jaringan lunak (ligament periodontal dan gingiva) (Farina dan Trombeli, 2012). Proses penyembuhan luka terdiri dari empat fase terintegrasi yaitu fase hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling jaringan. Sel makrofag merupakan salah satu sel utama yang berperan pada fase inflamasi (Gosain dan DiPietro, 2004).
Percepatan penyembuhan luka setelah pencabutan gigi merupakan hal utama yang perlu diperhatikan pada pencabutan gigi Penyembuhan luka merupakan salah satu mekanisme yang melibatkan perbaikan dan regenerasi jaringan (Chandra, 2004). Faktor sistemik yang berpengaruh pada penyembuhan luka antara lain: umur, nutrisi dan faktor hormonal. Penyakit sistemik seperti kardiovaskuler, diabetes melitus, hipertensi dan gangguan perdarahan dapat menyebabkan penyembuhan luka pencabutan gigi menjadi lebih lama. Pada pasien dengan pemakain obat hormon Adrenocorticotropic hormone (ACTH) dan kortisol dapat menghambat proliferasi sel fibroblas baru dan pembuluh kapiler baru serta reaksi inflamasi sehingga menyebabkan penyembuhan luka terganggu dan menjadi lebih lama (Florman, 2004). Penderita diabetes melitus juga memiliki masalah dalam penyembuhan luka karena faktor vaskuler, berkurang fungsi dari sel radang, kehilangan sensasi dan perubahan pada metabolisme matrik ekstraseluler (Paterson et al., 1998)
Pada proses penyembuhan luka akan terjadi proses epitelisasi pada soket gigi, pembentukan jaringan ikat baru dan remodeling tulang alveolaris. Proses penyembuhan luka pencabutan gigi pada prinsipnya dibagi menjadi tiga tahap yaitu inflamasi, proliferasi dan remodeling (Topazian et al., 2002)
52 Pada penelitian ini dihasilkan bahwa ada perbedaan jumlah Ekspresi sel makrofag antara penggunaan kitosan gel dengan berat molekol tinggi dan rendah dalam penyembuhan luka pencabutan gigi Rattus Norvegicus pada lama pengamatan 3 dan 4 hari. Pada kelompok kontrol yaitu kelompok dengan pencabutan gigi yang tidak diberi aplikasi kitosan gel, menunjukkan jumlah ekspresi sel makrofag yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok perlakuan menggunakan kitosan gel baik berat molekul yang tinggi maupun rendah.Tahap inflamasi dimulai sejak terjadinya luka hingga hari kelima. Proses inflamasi terjadi setelah pembentukan bekuan darah. Sel radang yaitu sel PMN, sel makrofag dan sel neutrofil akan bermigrasi ke arah soket gigi. Sel makrofag akan muncul 48-96 jam setelah terjadi luka. Sel makrofag akan berumur lebih panjang dibanding sel PMN dan akan tetap ada di dalam luka sampai penyembuhan luka telah berjalan sempurna (Prabakti, 2005). Sel makrofag akan melepaskan sitokin berupa Tumor
necrosis factor α (TNF-α), Transforming growth factor betha (TGF-ß), Interleukin 6 (IL-6), Interleukin 8 (IL-8), proteinase yaitu diantaranya adalah enzim kolagenase Matriks
metalloproteinase (MMPs) dan mediator lain seperti prostaglandin E2 (PGE2) (Wang, 2006).
Pada proses penyembuhan luka pencabutan gigi terdiri dari 3 tahap yaitu inflamasi, proliferasi dan remodeling. Pada proses inflamasi, sel inflamasi akan melepaskan enzim lisozim (Topazian
et al., 2002). Kitosan akan terbiodegradasi oleh enzim lizosim yang akan memecah
N-acetyl-D-glucosamine bentuk polimer menjadi N-acetyl-D-N-acetyl-D-glucosamine bentuk dimer yang aktif yang
selanjutnya membentuk cross-linked dengan glycosaminoglycan dan glycoprotein yang merupakan makromolekul matrik ekstraseluler serta menstimulasi TNF-α, TGF-ß 1 dan FGF 2 (Chin & Halim, 2009).
Sel inflamasi yang bermigrasi ke arah luka didominasi oleh sel mononuklear seperti sel makrofag. Pemberian kitosan akan memicu sel makrofag untuk meningkatkan produksi sitokin
53 yang berupa TGF-ß1 (Ueno et al., 2001). Kitosan yang diaplikasikan pada luka pencabutan gigi dapat menstimulasi peningkatan TGF β1 dan FGFs. Growth factors ini akan memicu proliferasi fibroblas sehingga penggunaan kitosan dapat meningkatkan jumlah fibroblas pada penyembuhan luka pencabutan gigi (Chin & Halim, 2009).
Pada penelitian ini kitosan dengan perlakuan menggunakan kitosan gel dari berat molekul yang tinggi menunjukkan jumlah ekspresi sel makrofag yang lebih besar dibandingkan dnegan kelompok perlakuan dengan kitosan yang memiliki berat molekul yang rendah. Kitosan dapat menstimulasi migrasi dari sel makrofag (Ueno et al., 2001). Kitosan yang bermuatan positif akan bereaksi dengan permukaan muatan negatif dari anionic polymersehingga mampu memfasilitasi migrasi sel inflamasi, sehingga sel radang meningkat (Sularsih, 2011). Sel limfosit dan sel makrofag berinteraksi secara dua arah. Makrofag memproduksi sitokin seperti Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α) ,IL-12, IL-6, dan IL-23, mengenalkan antigen kepada limfosit T, sehingga menimbulkan respon dari limfosit (Kumar et al, 2011). Limfosit T yang teraktivasi akan memproduksi limfokin yang mengaktifkan lebih banyak monosit dan makrofag berupa
macrophage aggregating factor (MAF) / IFN-ϒdan macrophage chemotactic factor (MCF) (Mitchell et al, 2006; Djamaludin, 2009). Limfosit selanjutnya menghasilkan sitokin IL-2 dan
fibroblast activating factor yang mempengaruhi sel fibroblast sehingga menunjang tahap
penyembuhan luka berikutnya (Suryadi et al, 2013). Kitosan dengan berta molekul yang tinggi berikatan dengan reseptor utama pada makrofag untuk kitosan yaitu mannose receptor.Setelah berikatan dengan reseptor, kitosan di internalisasi oleh sel makrofag (Ueno et al., 2001). Kitosan tersebut akan terbiodegradasi oleh enzim lizosim yang akan memecah N-acetyl-D-glucosamine bentuk polimer menjadi N-acetyl-D-glucosamine bentuk dimer yang aktif yang selanjutnya membentuk cross-linked dengan glycosaminoglycan dan glycoprotein yang merupakan
54 makromolekul matrik ekstraseluler serta menstimulasi TNF-α. Pada kitosan dengan berat molekul yang tinggi mengandung N-asetil yang lebih banyak sehingga akan menstimulasi sel makrofag untuk melepas growth factor lebih banyak. makin banyak monomer N-asetil, makin tinggi efek percepatan penyembuhan luka (Alsarra, 2009). Dengan meningkatnya ekspresi sel makrofag pada pengamatan 3 dan 4 hari diharapkan setelah hari ke 5 segera turun jumlahnya agar tahapan proses penyembuhan luka pencabutan gigi selanjutnya yaitu tahap proliferasi segera berlanjut. Dari penelitian lain yang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa kitosan gel dengan berat molekul yang tinggi dapat meningkatkabn proliferasi sel fibroblas dan sel osteoblas pada penyembuhan luka pencabutang gigi Rattus Norvegicus dengan lama pengamatan 7 dan 14 hari (Sularsih, 2013). Pada kitosan berat molekul tinggi, ukuran partikel besar dan memiliki viskositas tinggi sehingga aplikasi kitosan gel lebih mudah juga penetrasi pada lapisan mucin juga meningkat sehingga mukoadhesi lebih kuat, mudah melekat pada jaringan dibanding berat molekul rendah (Aranaz, 2009; Budianto, 2013). Blood clot yang terbentuk lebih kuat pada soket bekas pencabutan gigi yang diberi kitosan berat molekul tinggi. Sedangkan pada kitosan berat molekul rendah, ukuran partikel lebih kecil dan memiliki viskositas yang rendah sehingga aplikasi kitosan gel lebih sulit dibanding kitosan gel berat molekul tinggi (Aranaz, 2009; Alemdaroglu et al, 2006; Budianto, 2013). Dari hasil penelitian ini, penggunaan kitosan gel dapat menstimulasi ekspresi sel makrofag sehingga dapat meningkatkan growth factor yang menunjang proses penyembuhan luka sehingga sehingga diharapkan mampu menunjang percepatan proses penyembuhan luka pencabutan gigi.
55 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
1. Ada perbedaan jumlah Ekspresi sel makrofag antara penggunaan kitosan gel dengan berat molekol tinggi dan rendah dalam penyembuhan luka pencabutan gigi Rattus Norvegicus pada lama pengamatan 3 dan 4 hari
2. Kelompok perlakuan dengan kitosan gel yang memiliki berat molekol yang tinggi memiliki jumlah Ekspresi sel makrofag paling banyak dibandingkan dengan kelompok perlakuan menggunakan kitosan yang memiliki berat molekol rendah dan kelompok kontrol
5.2 SARAN
1. Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang kemampuan kitosan dalam perannya pada proses inflamasi penyembuhan luka pencabutan gigi yang dapat menstimulasi
growth factor atau sitokin yaitu IL-12, IL-6, dan IL-23.
2.Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang kemampuan kitosan dalam menstimulasi TGF β1, TLR yang merupakan growth factor dan reseptor yang dapat menunjang penyembuhan luka pencabutan gigi
56 DAFTAR PUSTAKA
Dai T, et al, 2011. Chitosan Preparations for Wounds and Burns: antimicrobial and Wound Healing Effects. Expert Rev Anti Infect TherJuly 2011; 9(7):857-879.
Sularsih, 2011.Penggunaan Kitosan dalam Proses Penyembuhan Luka Pencabutan Gigi Rattus Norvegicus. Tesis. Surabaya: Universitas Airlangga. h42-48.
Alsarra IA, 2009. Chitosan Topical Gel Formulation in the Management of Burn Wounds.International Journal of Biological Macromolecules 2009; Vol 45: 16-21.
Maeda Y, Kimura Y. 2004. Antitumor Effects of Various Low-Molecular-Weight Chitosans Are Due to Increased Natural Killer Activity of Intestinal Intraepithelial Lymphocytes in Sarcoma 180–Bearing Mice. J. Nutr. 134: 945–950.
Velnar T, Bailey T, dan Smrkolj V, 2009. The Wound Healing Process: an Overview of the Cellular and Molecular Mechanism. The Journal of International Medical Research 2009; 37: 1528 – 1542.
Mitchell RN, Kumar V, Abbas AK, Fausto N. 2006. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit
Robbins & Cotran, Ed. 7 . Jakarta: EGC. h57.
Avery JK, 2002. Oral Development and Histology Third Edition. Thieme, p391-407. Available
from
http://books.google.co.id/books?id=A-27QEnmvwEC&lpg=PA375&pg=PA404#v=onepage&q&f=false. Accessed Juni 9, 2013. Corwin EJ, 2000. Buku Saku Patofisiologi .Jakarta: EGC. h22
Farina R, Trombelli L, 2011. Wound healing of extraction sockets. Endodontic Topics. Dentistry
& Oral Sciences Source, Ipswich, MA September 2011; 25(1):16-43.
Nanci A, 2008. Ten Cate’s Oral Histology, Development, Structure, and Function Seventh Edition. St Louis: Mosby Elsevier, p 380-383, 388-389.
Suryadi IA, Asmarajaya AAGN, Maliawan S, 2013. Proses Penyembuhan dan Penanganan Luka. Bagian/SMF Ilmu Penyakit Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit
Umum Pusat Sanglah Denpasar. Available link:
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/download/4885/3671. Accessed Juni 26, 2013. Kumar V, Abbas AK, dan Aster JC. 2011. Robbins Basic Pathology. 9th Ed. Philadelphia: Elsevier Saunders, p 29-72
Prabakti Y, 2005. Perbedaan Jumlah Fibroblas di Sekitar Luka Insisi pada Tikus yang Diberi Levobupivakain dan yang Tidak Diberi Levobupuvakain. Tesis, Universitas Diponegoro
Semarang, Indonesia, p. 20-24. Available from
57 Topazian RG, Goldberg MH. Hupp JR, 2002. Oral and maxillofacial infections 4ed. United States of America: Elsevier Saunders. pp. 2-157
Wang G, 2006. Dual effects of soluble chitosan on inflammatory proteins expression and matrix mettaloproteinases expression. Dissertation submitted to the department of chemical and biomedical engineering, Taiwan University. pp. 5-45
Alemdaroglu C, Degim Z, Celebi N, Zor F, Ozturk S, Erdogan D, 2006. An investigation on burn wound healing in rats with chitosan gel formulation containing epidermal growth factor. Burns, 32: 319-327
Senel S, McClure SJ, 2004. Potential applications of chitosan in veterinary medicine. Advanced Drug Delivery Reviews, 56: 1467-1480
Guyton and Hall. 1997. Human physiology and mechanisms of disease 7ed. United States of America: Elsevier Saunders. pp. 634 – 647
Matsunaga S, Yanagiguchi K, Yamada S, Ohara H, 2005. Chitosan Monomer Promotes Tissue Regeneration on Dental Pulp Wounds. J. Biomed. Mater. Res. Vol 76A. pp. 711-720.
Pedlar J, 2007. Oral and maxillofacial surgery 2ed. United States of America: Elsevier Saunders. pp. 24-45
Muthoharoh SP, 2012. Sintesis Polimer Superabsorben Dari Hidrogel Kitosan Terikat Silang. Skripsi. Program S1 Reguler Kimia, FMIPA, Universitas Indonesia, Depok, hal 6-9
Garant PR, 2003. Oral cells and tissue. Quintessence books Co Inc. pp. 153-173, 195-227
Yilgor P, Tuzlaklogu K, Reis R, 2009. Incorporation of a sequential BMP-2/ BMP-7 delivery system into chitosan-based scaffolds for bone tissue engineering. J. Biomaterials. Vol 10. pp. 1-9 Kaban J. 2009. Modifikasi Kimia dari Kitosan dan Aplikasi Produk yang Dihasilkan. Medan: Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Kimia Oraganik Sintesis Universitas Sumatera Utara. h4.
Olczyk P, Komosinska-Vassev K, Winsa-Szczotka K, Kozma EM, Wisowski G, Stojko J, Klimek K, Olczyk K, 2012. Propolis Modulates Vitronectin, Laminin, and Heparan Sulfate/Heparin Expression during Experimental Burn Healing. Journal of Zhejiang University, 13(11): 932-41
Saleh MR, 2013. Perbandingan Kadar Glikosaminoglikan dan Triterpene Glycoside pada Ekstrak Teripang Emas (Stichopus hermanii) dengan Pelarut Etanol (Polar) dan Heksana (Non Polar). Skripsi, Universitas Hang Tuah Surabaya, Indonesia, p. 39-43
Nield J, Willman D, 2003. Foundation of periodontics for dental hygienist, 1st ed., Philadelphia: Lippincott William & Walkins, pp 1-81
58 Florman M, 2004. Etiology, prevention and management of post-extraction complications, Available from http://www.whittieroralsurgery.com/_media/publications/Post-extraction_Complication_Course.pdf. Accessed August 14, 2012
Boddupalli BM, Mohammed ZNK, Nath RA, Banji D, 2010. Mucoadhesive drug delivery system: An overview. J Adv Pharm Technol Res, 1(4): 381-387
Mori T, Murakami M, Okumura M, Kadosawa T, Uede T, Fujinaga T, 2005. Mechanism of Macrophage Activation by Chitin Derivates. J. Vet. Med. Sci. 67(1): 51—56, 2005.
Aranaz I, Mengíbar M, Harris R, Paños I, Miralles B, Acosta N, Galed G dan Heras Á. 2009. Functional Characterization of Chitin and Chitosan.Current Chemical Biology, 2009, 3, 203-230. Mappa T, Edy HJ, Kojong N, 2013. Formulasi Gel Ekstrak Daun Sasaladahan (Peperomia pellucida (L.) H.B.K.) dan Uji Efektivitasnya Terhadap Luka Bakar pada Kelinci (Oryctolagus Cuniculus). Jurnal Ilmiah Farmasi , UNSRAT Vol. 2
No. 02. Available from
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/pharmacon/article/view/1606. Accessed July 28, 2013 Dwiartyani NG, 2012. Efek Xyilitol dan Propilen Glikol Terhadap Stabilitas Fisik Gel Imunnoglobulin Kuning Telur (Ig Y) (Eksperimental Laboratorik). Tesis. Program Spesialis Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia, Jakarta. h. 2-3, 13-4
Dharmawan D, 2013. Peningkatan Kolagen Akibat Induksi Gel Kombinasi Spirulina dan Kitosan pada Soket Pencabutan Gigi Marmut (Cavia cobaya). Skripsi. Surabaya: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. h.11-12, 14, 45.
Putrianti NAR, 2013. Efek Ekstrak Air Teripang Emas (Stichopus hermanii) Terhadap Peningkatan Angiogenesis pada Proses Penyembuhan Luka Ulkus Traumatikus Mukosa Rongga Mulut Tikus Wistar. Skripsi. Universitas Airlangga: Surabaya. h: 24-31.
Chandra. S. 2004. Repair and regeneration of dental tissues textbook of dental and oral
histology with embryology. Jaypee Brothers medical publisher (P) LTD, pp 300 – 301, 306 – 309
Dorri M, Shahrahbi S, 2010. Comparing the effects of chlorhexidine and persica on alveolar
bone healing following tooth extraction in rats, a randomised controlled trial. J Clin Oral Invest.
Vol 10. No 10. pp. 467-475
Schultz et al, 2005. Extracellular matrix; Review of the roles on acute and chronic wound. Avalaible from http://www.worldwidewounds.com/2005/august/Schultz/extrace matrix acut chronic wound.html. Accessed april 4,2015
Cotran dkk, 2007. Pathology basic of disease 7 th ed. Philadelphia. W.B. Saunders. P 21-201 Hardiono IK, 2012. Pengaruh pemberian ekstrak ganggang coklat jenis Saragassum sp terhadap jumlah limfosit pada ulkus traumatikus. Skripsi. Universitas Hang Tuah, Surabaya. P 60-62
59 Ambriyani, 2013. Pemberian salep ekstrak daun mengkudu meningkatkan proses regenerasi jaringan lunak pada tikus putih galur wistar jantan. Tesis. Universitas udayana. Denpasar. P 17 Guo S, Dipietro LA, 2010. Factors affecting Wound Healing. J Dent Res 2010; 89(3): 219-229. Peterson et al. 2003. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery 3rd ed. St. Louis: Mosby Year Book Inc; p57-68
Chin L, Halim AS, 2009. In vitro models in biocompability assessment for biomedical-grade chitosan [derivatives in wound management. J. Molecular Science. Vol 10. No 3. pp. 1300-1313 Ueno H, Nakamura F, Mukarami M, Okumura M, Kadosawa T, Fujinaga T, 2001. Evaluatione effects of chitosan for the extracellular matrix production by fibroblasts
Mitchell RN, Kumar V, Abbas AK, Fausto N. 2006. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit
Robbins & Cotran, Ed. 7 . Jakarta: EGC. h57.
Djamaluddin AM, 2009. Pemanfaatan Khitosan dari Limbah Krustasea untuk Penyembuhan Luka pada Mencit (Mus musculus albinus). Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor. h8.
Aranaz I, Mengíbar M, Harris R, Paños I, Miralles B, Acosta N, Galed G dan Heras Á. 2009. Functional Characterization of Chitin and Chitosan. Current Chemical Biology, 2009, 3, 203-230 Alemdaroglu C, Degim Z, Celebi N, Zor F, Ozturk S, Erdogan D, 2006. An investigation on burn wound healing in rats with chitosan gel formulation containing epidermal growth factor. Burns, 32: 319-327.
Budianto B, 2013. Pengaruh Kitosan Gel 1% yang Memiliki Berat Molekul Tinggi dan Rendah Terhadap Jumlah Sel Osteoblas pada Proses Penyembuhan Luka Pencabutan Gigi. Skirpsi. Universitas Hang Tuah, Surabaya. h22,38
Sularsih, Type 1 Collagen on wound healing process of dental extraction with different weight molecular of chitosan, Proseding dentisphere, FKG UHT, 2013
60