• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.10 Analisis Statistik

Penelitian ini mengelolah data responden menjadi tiga analisis yaitu analisis univariat untuk melihat karakteristik responden, analisis bivariat untuk melihat korelasi usia dengan skor total kuesioner LittlEARS dan analisis multivariat untuk menguji variabel bebas terhadap variabel terikat skor kuesioner LittlEARS.

18 BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Karakteristik Responden

Setelah dilakukan pengolahan data dari hasil pengisian kuesioner yang diisi secara mandiri dan dikonfirmasi lewat wawancara, karakteristik responden digambarkan pada tabel berikut.

Tabel 4.1 Karakteristik responden

Karakteristik Jumlah (n = 40) Persentase (%)

Jenis Kelamin Anak

Laki-laki 21 52,5

Perempuan 19 47,5

Usia Anak

13 – 15 bulan 12 30,0

16 – 18 bulan 5 12,5

19 – 21 bulan 11 27,5

22 – 24 bulan 12 30,0

Pendidikan Terakhir Orang Tua

SD atau sederajat 5 12,5

SMP atau sederajat 12 30,0

SMA atau sederajat 23 57,5

Pekerjaan Orang Tua

Tidak bekerja 15 37,5

Wiraswasta 10 25,0

Pegawai 15 37,5

Lama Responden Menemani Anak

˂ 4 jam 1 2,5

≥ 4 jam 39 97,5

Usia anak pada penelitian ini memiliki median 20,05 bulan dengan jangkauan usia 12,33 – 24,93 bulan saat pengisian mandiri. Pada pengisian kuesioner melalui wawancara, usia anak memiliki median 21,05 bulan dengan rentang usia anak 13,33 – 26,13 bulan.

Jawaban lama responden menemani anak mereka didapat bahwa hampir seluruh responden memiliki waktu bermain bersama anak mereka yang cukup walaupun responden memiliki pekerjaan yang bervariasi.

4.2 Validitas dan Reliabilitas Kuesioner 4.2.1 Uji Validitas

Uji validitas dapat diukur dengan mencari korelasi antara skor butir pertanyaan dan total skor dengan uji Pearson Product Moment. Dikatakan valid bila koefisien korelasi minimal sebesar 0,30 (r hitung > r tabel).

Tabel 4.2 Validasi butir pertanyaan kuesioner

Butir Pertanyaan Pearson Product Moment

Mandiri Wawancara

20

Berdasarkan uji Pearson Product Moment pada penelitian ini didapatkan bahwa pengisian kuesioner dengan cara wawancara memiliki lebih banyak butir pertanyaan yang bervariasi kurang dibandingkan pengisian kuesioner dengan cara mandiri. Butir pertanyaan ‘Apakah anak Anda merespon dengan ketakutan (kegelisahan) ketika mendengar suara marah?’, ‘Apakah anak Anda mengenali tanda-tanda akustik?’, ‘Ketika anak Anda sedih atau murung, bisakah ia ditenangkan atau dipengaruhi oleh musik?’, dan ‘Apakah anak Anda merespon musik dengan gerakan ritmik?’

memiliki nilai yang tidak bervariasi baik saat pengisian mandiri maupun melalui wawancara. Uji ini juga menunjukkan lebih banyak butir pertanyaan yang tidak valid saat dilakukan pengisian kuesioner melalui wawancara.

4.2.2 Uji Konsistensi Internal

Suatu alat ukur yang valid maka dapat dipastikan bahwa alat ukur tersebut reliabel. Reliabilitas memiliki dua aspek yaitu konsistensi internal dan stabilitas. Oleh karena itu, dilakukan uji konsistensi internal dengan uji Cronbach’s Alpha. Alat ukur dikatakan reliabel bila nilainya lebih besar dari 0.60.

Tabel 4.3 Konsistensi internal kuesioner Cronbach’s Alpha Pengisian kuesioner mandiri 0,820

Pengisian kuesioner wawancara 0,814

Konsistensi internal kuesioner baik mandiri maupun wawancara dianggap baik karena memiliki nilai lebih dari 0.80. Hal ini menunjukkan bahwa kuesioner LittlEARS memiliki butir pertanyaan yang berhubungan satu dengan lainnya.

4.2.3 Uji Stabilitas

Untuk membuktikan bahwa alat ukur tersebut reliabel dapat didukung pula bahwa ia memiliki konsistensi internal dan stabilitas. Penelitian ini menilai stabilitas dengan Cohen’s Kappa untuk menilai konsistensi jawaban

responden pada dua kesempatan dengan variabel yang dikotom. Nilai kappa di atas 0,61 dianggap bahwa alat ukur tersebut memiliki stabilitas yang baik.

Dari 35 butir pertanyaan 8 butir pertanyaan yang memiliki stabilitas baik. Pengisian kuesioner LittlEARS secara mandiri dan wawancara pada penelitian ini menunjukkan reliabilitas yang kurang karena 8 butir pertanyaan yang dijawab konsisten pada saat mandiri maupun wawancara oleh seluruh responden.

Tabel 4.4 Stabilitas kuesioner

Butir Pertanyaan Nilai Kappa

1 1,000

2 1,000

3 - 0,026

4 1,000

5 - 0,034

6 1,000

7 1,000

8 1,000

9 - 0,081

10 - 0,071

11 1,000

12 1,000

13 1,000

14 0,448

15 1,000

16 1,000

17 - 0,026

18 1,000

19 - 0,046

20 1,000

21 1,000

22 1,000

23 - 0,034

24 1,000

25 0,231

26 - 0,081

27 - 0,053

28 - 0,047

22

Tabel 4.4. Stabilitas Kuesioner (lanjutan)

Butir Pertanyaan Nilai Kappa

29 0,149

30 0,043

31 0,120

32 - 0,084

33 0,220

34 0,152

35 0,222

4.3 Korelasi Usia Anak dengan Skor Kuesioner LittlEARS

Uji korelasi Pearson dilakukan untuk menganalisis korelasi usia dengan total skor kuesioner LittlEARS. Uji dikatakan berkorelasi signifikan apabila nilai p kurang dari 0,05. Semakin besar nilai koefisien korelasi semakin kuat korelasi kedua variabel tersebut.

Tabel 4.5 Korelasi usia anak dengan skor total Koefisien Korelasi

(r)

Signifikansi (p) Jumlah Data (n)

Mandiri 0,422 0,007 40

Wawancara 0,495 0,001 40

Hasil korelasi skor kuesioner LittlEARS saat pengisian mandiri memiliki nilai tidak jauh dari wawancara, nilai korelasi skor kuesioner saat pengisian melalui wawancara memang lebih tinggi tetapi tidak bermakna secara klinis karena perbedaan yang sangat kecil. Kedua metode pengisian kuesioner menunjukkan korelasi positif yang dengan kekuatan korelasi yang sedang terhadap skor kuesioner LittlEARS.

4.4 Uji Komparatif Z Score Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Dengan membagi responden ke dalam dua kategori yakni lulusan SMA dan di bawah SMA, dilakukan uji Mann-Whitney untuk melihat hubungan pendidikan dengan skor kuesioner LittlEARS.

Tabel 4.6 Hasil uji Mann-Whitney

Lulusan SMA Lulusan di Bawah SMA Z p

Mandiri 0,76 (- 1,39 – 1,19) 0,36 (-0,85 – 2,28) -1,984 0,047 Wawancara 0,44 (-1,37 – 2,00) 0,30 (-1,08 – 1,93) -1,300 0,201

Uji ini bertujuan untuk melihat Z score yaitu nilai yang menggambarkan jauhnya skor responden dibandingkan dengan skor yang seharusnya dimiliki pada usia responden pada dua kelompok. Dari hasil uji Mann-Whitney tidak terdapat perbedaan yang signifikan cara menjawab responden lulusan SMA maupun di bawah SMA saat pengisian kuesioner mandiri (Z = -1,984, p < 0,05).

Pada pengisian kuesioner melalui wawancara menunjukkan bahwa hasil uji Mann-Whitney terdapat perbedaan signifikan secara statistik tetapi tidak secara klinis cara menjawab responden lulusan SMA dan lulusan di bawah SMA saat mengisi kuesioner melalui wawancara (Z = -1,300, p < 0,201).

24 BAB 5 DISKUSI

5.1 Karakteristik Responden

Penelitian ini meneliti hasil jawaban responden yang memiliki anak berusia 12,33 – 24,93 bulan pada pengambilan data pertama yang dilakukan dengan pengisian kuesioner secara mandiri. Subjek yang diteliti terdiri dari 21 anak laki-laki dan 19 anak perempuan. Pekerjaan responden pada penelitian ini cukup bervariasi. Pekerjaan memengaruhi lama waktu orang tua berinteraksi dengan anak mereka, tetapi hasil pengisian data karakteristik responden menunjukkan hal lain. Hampir seluruh responden menjawab pertanyaan lama menemani anak lebih dari 4 jam sehingga mereka memiliki waktu yang cukup untuk berinteraksi. Anak dengan usia 13 – 24 bulan memiliki jam tidur sekitar 12 jam. Oleh karena itu, dengan memiliki lama waktu berinteraksi anak selama lebih dari 4 jam, orang tua dianggap memiliki waktu interaksi yang cukup karena anak menghabiskan lebih dari sepertiga waktu aktifnya bersama orang tua.20

Lama interaksi sebenarnya tidak menunjukkan kualitas interaksi orang tua dan anak. Oleh karena itu, untuk menanyakan kualitas orang tua berinteraksi dengan anaknya, peneliti menanyakan ‘Berapa lama waktu khusus Anda bermain dengan anak Anda?’. Kualitas interaksi dapat menggambarkan pemahaman orang tua terhadap kebutuhan anak dan upaya optimal orang tua untuk memenuhi kebutuhan tersebut.21 Variabel pekerjaan orang tua tidak dapat dianalisa lebih lanjut karena tidak terdapat variasi dari lama menemani anak walaupun pekerjaan responden bervariasi.

Pendidikan orang tua memengaruhi perhatian mereka terhadap tumbuh kembang anak. Dengan pendidikan yang baik, orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikan, dan sebagainya.21

5.2 Validitas dan Reliabilitas Kuesioner LittlEARS

Suatu alat ukur yang baik harus valid dan reliabel untuk digunakan.

Validitas pengukuran adalah derajat kesesuaian hasil pengukuran sebuah alat ukur dengan apa yang sesungguhnya ingin diukur oleh peneliti. Sebuah alat ukur yang

valid harus reliabel. Validitas dapat diukur dengan uji Pearson Product Moments yang menilai tiap butir pertanyaan terhadap skor total kuesioner. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa butir pertanyaan nomor 5, 9, 10, 14, dan 16 memiliki nilai yang sangat lemah (r < 0.30). Kuesioner ini adalah kuesioner valid yang diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pertanyaan tersebut tidak dapat dihilangkan maupun diubah, untuk meperbaikinya kita dapat memberikan contoh yang lebih sesuai di masyarakat Indonesia apabila pengisian kuesioner dilakukan secara mandiri atau memperbaiki cara bertanya kepada responden saat pengisian kuesioner melalui wawancara dengan mengonfirmasi kembali butir pertanyaan tersebut. Konfirmasi kembali butir pertanyaan tersebut dapat dilakukan dengan cara meminta responden memberi contoh perilaku anak yang berkaitan dengan butir tersebut apabila tidak sesuai jawaban responden dengan usia anak.

Butir pertanyaan yang menunjukkan nilai konstan (r = 1,000) mengindikasi bahwa seluruh responden memberi jawaban yang sama pada butir tersebut. Butir tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut sudah tepat diberikan pada tumbuh kembang anak pada usia tersebut. Butir pertanyaan dengan nilai r > 0,30 menunjukkan adanya variasi jawaban yang menunjukkan variasi tumbuh kembang pada anak.

Butir pertanyaan lain yang harus diperhatikan ialah nomor 19 saat pengisian kuesioner melalui wawancara. Nilai negatif pada pertanyaan ‘Apakah anak Anda merespon kata ‘jangan’ dengan menghentikan kegiatanya saat itu?’ menunjukkan bila responden memberi jawaban ‘ya’ pada butir tersebut, mereka cenderung mendapatkan total skor kuesioner LittlEARS yang lebih rendah dibandingkan dengan responden yang memberi jawaban ‘tidak’ pada butir tersebut. Hal ini bertolak belakang dengan teori yang mengatakan bahwa anak dengan usia 7 hingga 11 bulan tanpa gangguan penengaran telah memahami arti ‘jangan’.1 Dapat disimpulkan hampir seluruh responden tidak paham dengan pertanyaan tersebut dan memberi jawaban yang tidak sesuai dengan tumbuh kembang anak sehingga total skor tidak merepresentasikan tumbuh kembang anak seharusnya.

26

Reliabilitas diukur dengan konsistensi internal dan stabilitas. Konsistensi internal dapat diuji dengan uji Cronbach’s Alpha. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha yang baik artinya semua butir pertanyaan berhubungan satu dengan lainnya. Apabila dibandingkan nilai Cronbach’s Alpha (α = 0.96) validasi kuesioner LittlEARS oleh Coninx dkk16 (2009) nilai Cronbach’s Alpha penelitian ini termasuk baik. Nilai tersebut menunjukkan kuesioner yang telah diadaptasi ke bahasa Indonesia sama baiknya dengan kuesioner asli. Kuesioner adaptasi tetap konsisten menilai hal yang sama dengan kuesioner asli sehingga pemahaman responden seharusnya sama dengan pemahaman responden lain dengan bahasa kuesioner asli.

Tabel 5.1 Nilai kappa diurut dari yang terendah

Butir Pertanyaan Nilai Kappa

32 -0,084

Stabilitas secara umum menunjukkan jawaban responden yang berubah-ubah di dua pengukuran, sehingga nilai kappa yang didapat cenderung kurang.

Hal ini tidak dipengaruhi dengan perkembangan pendengaran anak karena responden yang memiliki anak dengan usia 13 – 24 bulan seharusnya memiliki butir pertanyaan yang stabil dari butir pertanyaan nomor 1 hingga 21. Contohnya anak dengan usia lebih dari 12 bulan seharusnya sudah dapat memberikan respon pada sebuah permintaan seperti yang ditanyakan pada soal nomor 21 yaitu

‘Apakah anak Anda menirukan suara ketika ditanya?’10,21, maka butir tersebut seharusnya dijawab ‘ya’ oleh responden yang memiliki anak dengan usia lebih dari 12 bulan.

Butir pertanyaan selanjutnya menilai tumbuh kembang pendengaran anak berusia lebih dari 12 bulan, sehingga variasi dan instabilitas jawaban pada penelitian ini seharusnya muncul pada butir pertanyaan nomor 22 sampai 35.

Oleh karena itu, pada penelitian ini menunjukkan bahwa responden tidak paham tujuan butir pertanyaan tersebut walaupun butir pertanyaan tersebut ditanyakan berulang kali.

5.3 Korelasi Usia Anak dengan Skor Kuesioner LittlEARS

Kuesioner LittlEARS adalah kuesioner yang telah terbukti valid dan reliabel dari negara asalnya yaitu Jerman. Penelitian Coninx dkk (2009) menguatkan validitas kuesioner yang diadaptasi ke dalam Bahasa Inggris dan lainnya di 31 negara sehingga isi, muka, konstruk, dan kriterianya tentu sudah valid. Maka, pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner ini dan urutannya sudah disusun sesuai dengan tumbuh kembang pendengaran anak berdasarkan usianya. Hal ini dibuktikan dengan nilai korelasi pada penelitian Coninx dkk. sebesar 0,89 yang dapat diinterpretasikan semakin besar usia anak maka seharusnya semakin besar juga total skor kuesioner LittlEARS.16

Korelasi usia anak dengan skor kuesioner LittlEARS pada penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif dengan kekuatan yang sedang dengan metode pengisian kuesioner secara mandiri (r = 0,422) maupun melalui wawancara (r = 0,495). Tetapi, korelasi usia dengan skor kuesioner LittlEARS

28

pada penelitian ini sangat rendah apabila dibandingkan dengan literatur dimana koefisien korelasi (r) ialah 0.89.16 Hal ini juga tidak membaik dengan menghilangkan outlayer baik mandiri maupun wawancara. Perbedaan nilai korelasi antara pengisian kuesioner secara mandiri dan wawancara tidak terlalu jauh, sehingga cara pengisian kuesioner tidak memengaruhi korelasi antara usia dan total skor.

Gambar 5.1 Grafik Kurva Total Skor Kuesioner LittlEARS

Responden cenderung menjawab butir pertanyaan tersebut dengan ‘ya’

sehingga skor total kuesioner responden melebihi nilai skor yang diinginkan seusai dengan umur anak, hal ini dapat dilihat dari Z score yaitu deviasi antara skor total sesuai usia dengan skor total responden. Z score penelitian ini menunjukkan bahwa responden cenderung mendekati nilai +1 SD yang artinya skor responden cenderung melampaui skor sesuai usia anak karena menjawab

‘ya’. Oleh karena itu, nilai korelasi penelitian ini tidak sekuat nilai korelasi skor kuesioner LittlEARS literatur karena ketidaksesuaian total skor responden dengan total skor kuesioner seharusnya dengan semakin meningkatnya usia.

Nilai korelasi yang rendah juga dapat diakibatkan pada usia 18 – 24 bulan terdapat ceilling effect. Anak-anak pada usia tersebut memiliki variasi tumbuh kembang yang mengakibatkan anak mencapai nilai maksimal di usia kurang dari 24 bulan. Efek ini dapat dilihat pada kurva normal nilai total skor kuesioner yang

sesuai usia (expected value) yang memiliki grafik cenderung stagnan di atas usia 18 bulan.

5.4 Komparasi Z ScoreBerdasarkan Pendidikan

Pada penelitian ini, sebagian besar orang tua merupakan lulusan SMA (57,5%). Oleh karena itu, peneliti membagi responden ke dalam dua kelompok untuk membandingkan hasil skor kuesioner yaitu lulusan SMA dan lulusan di bawah SMA.

Orang tua dengan pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMA dibandingkan dengan orang tua lulusan SD atau SMP tidak memberikan hasil skor kuesioner LittlEARS yang berbeda jauh baik melalui metode mandiri maupun wawancara.

Hal ini dapat dilihat melalui uji Mann-Whitney yang tidak memberikan hasil yang signifikan secara klinis. Uji ini melihat perbandingan median Z score, nilai deviasi total skor kuesioner responden dari skor total yang diharapkan pada usia tersebut, pada dua kelompok.

5.5 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini ialah kurangnya populasi dari responden dengan pendidikan terakhir di bawah SMA, sehingga peneliti tidak dapat membandingkan secara objektif korelasi usia dengan total skor pada pendidikan terakhir orang tua SD atau SMP.

Pada penelitian ini, faktor bias wawancara oleh peneliti hanya terdapat saat pengisian wawancara dengan menanyakan butir pertanyaan sesuai dengan apa yang tertulis di lembar kuesioner. Saat pengisian mandiri, peneliti sama sekali tidak melihat maupun mengarahkan responden dalam mengisi jawaban.

Wawancara dilakukan melalui telepon, hal ini dapat memengaruhi cara responden menjawab pertanyaan karena atensi responden dapat terbagi dengan melakukan hal lainnya dan gangguan lain seperti sinyal hilang juga mengganggu proses wawancara yang dapat memengaruhi konsentrasi responden.

30 BAB 6

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

1. Kuesioner LittlEARS berbahasa Indonesia dapat digunakan karena menunjukan validitas dan reliabilitas yang baik (α mandiri = 0,820, α wawancara = 0,814). Terdapat variasi jawaban (Pearson r < 0.30) dan mengubah jawaban di dua pengukuran (Kappa > 0.61).

2. Korelasi antara usia dengan skor kuesioner LittlEARS menunjukkan korelasi positif yang lemah saat pengisian mandiri (r = 0,422, p = 0,007) dan mandiri (r = 0,495, p = 0,001).

3. Ketidakpahaman orang tua ini tidak dipengaruhi oleh pendidikan karena responden dengan tingat pendidikan terakhir SMA dan di bawah SMA tidak menunjukkan perbedaan baik saat pengisian kuesioner secara mandiri (Z = -1,984, p < 0,05) maupun wawancara (Z = -1,300, p

< 0,201).

6.2 Saran

1. Memperbaiki kalimat contoh pada butir pertanyaan nomor 5, 9, 10, 13, 14, 16, dan 17 apabila kuesioner LittlEARS berbahasa Indonesia diisi oleh responden secara mandiri.

2. Melakukan wawancara terpimpin dengan meminta responden memberikan contoh apabila jawaban tidak sesuai dengan jawaban yang seharusnya pada usia anak responden.

3. Melakukan pelatihan kepada pewawancara untuk meningkatkan reliabilitas pengisian kuesioner saat pewawancara memimpin responden untuk menjawab pertanyaan.

4. Mengurus surat persetujuan etik sebelum melakukan pengambilan data agar proses penelitian memenuhi aturan yang berlaku.

31

1. Lassman FM, Levine SC, Donna G. Greenfield. Audiologi. In: Boies: buku ajar penyakit THT. 6 ed. Jakarta: EGC; hal. 46–74.

2. WHO | Estimates [Internet]. WHO. [dikutip 28 Februari 2017]. Tersedia pada:

http://www.who.int/pbd/deafness/estimates/en/

3. Tati Hernawati. Perkembangan Kemampuan Berbahasa dan Berbicara Anak Tunarungu. Juni 2007;7(1):101–10.

4. Primary ear and hearing care training resource. World Health Organization;

2006.

5. Birgit May-Mederake, Heike Kuehn, Arno Vogel, Annerose Keilmann, Andrea Bohnert, Sabine Mueller, et al. Evaluation of Auditory Development in Infants and Toddlers Who Received Cochlear Implants Unter The Age of 24 Months with The LittlEARS Auditory Questionnaire. Elsevier. Agustus 2010;74(10):1149–55.

6. Marlene P. Bagatto, Sheila T. Moodie, Richard C. Seewald, Doreen J. Barlett, Susan D. Scollie. A Critical Review of Audiological Outcome Measures for Infants and Children. SAGE Publ. Agustus 2011;XX(X):1–11.

7. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung. Kabupaten Bandung dalam Angka 2016. Soreang; 2016 Sep hal. 31, 35, 72.

8. Suwento R, Zizlavsky S, Hendarmin H. Gangguan Pendengaran pada Bayi dan Anak. In: Buku ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. 7 ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2015. hal. 30–5.

9. Hepper PG, Shahidullah BS. Developmental of Fetal Hearing. 1994;71:F81–

7.

10. Nicolosi L, Harryman E, Kresheck J. Terminology of communication

disorders: speech-language-hearing. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams

& Wilkins; 2004. 261 hal.

11. American Academy of Pediatric Dentistry. Speech and Language Milestone [Internet]. Tersedia pada:

www.aapd.org/media/policies_guidelines/rs_hearingunderstanding.pdf 12. Barrett KE, Ganong WF, editor. Hearing & Equilibrium. In: Ganong’s review

of medical physiology. 23rd ed. New York: McGraw-Hill Medical; 2010. hal.

199–216. (A LANGE medical book).

32

13. World Health Organization, Christoffel-Blindenmission. Primary ear and hearing care: training resource. Geneva: World Health Organization; 2006.

11, hal. 32-39.

14. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. In Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2015. hal. 1–20.

15. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemeterian Kesehatan RI.

Riset Kesahatan Dasar [Internet]. Kementerian Kesehatan RI; 2013 [dikutip 3 Maret 2017] hal. 231–46. Tersedia pada:

www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.

pdf

16. Health Tecnology Assessment Indonesia. Skrining Bayi Baru Lahir. In: Buku Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kemetrian Kesehatan RI; 2010. hal. 20–34.

17. Coninx F, Weichbold V, Tsiakpini L, Autrique E, Bescond G, Tamas L, et al.

Validation of the LittlEARS((R)) Auditory Questionnaire in children with normal hearing. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2009;73(12):1761–8.

18. Swarjana IK. Pengumpulan Data. In: Metodelogi Penelitian Kesehatan (Edisi Revisi): Tuntutan Praktis Pembuatan Proposal Penelitian untuk Mahasiswa Keperawatan, Kebidanan, dan Profesi Bidang Kesehatan Lainnya. II.

Yogyakarta: ANDI; 2015. hal. 107–39.

19. Gillham B. The Pros and Cons of Questionnaires. In: Developing a

Questionnaire [Internet]. London: Bloomsbury Publishing; 2008 [dikutip 22 April 2017]. hal. 1–14. Tersedia pada:

http://public.eblib.com/choice/publicfullrecord.aspx?p=1644312 20. Allyson L. H. Introduction to Questionnaire Design [Internet]. Survey

Research Laboratory 50 Years; 2015; University of Illnois at Chicago.

Tersedia pada:

www.srl.uic.edu/.../Qdesign/Questionnaire%20Design%20Fall,%202015-6slides.pdf

21. Murti B. Validitas dan Reliabilitas Pengukuran [Internet]. 2011 [dikutip 16 Mei 2017]. Tersedia pada: fk.uns.ac.id/index.php/download/file/61

22. Tanjung MC, Sekartini R. Masalah Tidur pada Anak. Sari Pediatri. Desember 2004;6(3):138–42.

23. Soetjiningsih. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang. In:

Tumbuh Kembang Anak. 2 ed. Jakarta: EGC; 2013. hal. 61–72.

24. CDC. Milestone Moments [Internet]. 2009. Tersedia pada:

https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/pdf/parents_pdfs/milestonemomentseng 508.pdf

33

Lembar Persetujuan (Informed Consent) Responden Validasi Kuesioner LittlEARS Berbahasa Indonesia untuk Mendeteksi

Gangguan Pendengaran Anak 13 – 24 Bulan

Assalamualaikum wr. wb.

Saya, Harningtyas Alifin Jasmin, mahasiswi S1 Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bermaksud mengadakan penelitian untuk validasi kuesioner LittlEARS berbahasa Indonesia dalam mendeteksi gangguan pendengaran anak usia 13 – 24 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelesaikan studi saya di Program Studi Pendidikan Dokter, FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kuesioner ini bertujuan untuk mengadaptasi kuesioner perkembangan pendengaran anak usia 13 – 24 bulan di Indonesia. Semua informasi dari hasil kuesioner ini kami jamin kerahasiaannya. Oleh karena itu, kami harap Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dapat mengisi kuesioner ini dengan lengkap dan bersedia untuk mengisi kuesioner ini lagi melalui telepon dalam rentang waktu 2 minggu sampai 1 bulan.

Jika Bapak/Ibu/Saudara/Saudari bersedia untuk mengisi kuesioner ini, silahkan mengisi identitas dan tanda tangan di bawah ini. Terima kasih atas waktu yang telah Bapak/Ibu/Saudara/Saudari berikan untuk mengisi kuesioner ini.

Wassalamualaikum wr. wb.

Yang menyetujui,

Peneliti Responden

_______________ __________________

34

(lanjutan)

KETERANGAN RESPONDEN PENELITIAN

Tanggal:___________________

Nama anak : _________________________________________

Tanggal lahir anak : _________________________________________

Usia : _________________________________________

Nama orang tua/wali : _________________________________________

Nomor yang bisa dihubungi :

Rumah : _________________________________________

HP : _________________________________________

Pekerjaan orang tua/wali : _________________________________________

Pendidikan orang tua/wali : _________________________________________

Lama menemani anak (dalam jam per hari) : _____________________________

Anak ke : _____________________________

Bahasa yang digunakan sehari-hari : _____________________________

Riwayat selama kehamilan :

Rutin cek ke dokter : (ya/tidak) Konsumsi obat/jamu : (ya/tidak) Sakit selama kehamilan : (ada/tidak ada) Riwayat infeksi selama kehamilan : (ada/tidak ada)

Riwayat kelahiran :

Lahir cukup bulan, ≥ 37 minggu : (ya/tidak) Berat lahir > 2 kg : (ya/tidak)

Normal/tidak : (ya/tidak)

Perlu alat bantu nafas : (ya/tidak)

Riwayat kuning : (ya/tidak)

Riwayat anak

Imunisasi rutin sesuai jadwal : (ya/tidak) Anak sering pilek : (ya/tidak)

35

Lampiran 2 Kuesioner LittlEARS Berbahasa Indonesia

KUESIONER PERKEMBANGAN PENDENGARAN ANAK LittlEARS

No Respon Auditori Jawaban Contoh

1 Apakah anak Anda

3 Ketika seseorang berbicara, apakah anak Anda menoleh ke arah pembicara?

( ) Ya ( ) Tidak 4 Apakah anak Anda tertarik

dengan mainan yang

5 Apakah anak Anda mencari orang yang berbicara yang

8 Apakan anak Anda berhenti menangis ketika Anda suara lembut atau lagu tanpa adanya kontak mata

36 11 Apakah anak Anda mencari

sumber suara yang berada di kiri, kanan, atau

12 Apakah anak Anda bereaksi ketika nama dipanggil?

( ) Ya ( ) Tidak 13 Apakah anak Anda mencari

sumber suara yang berada di atas atau bawahnya?

sumber suara yang berada di atas atau bawahnya?

Dokumen terkait