ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
D. Analisis Statistik Parametrik (ANOVA)
1. Analisis Deskriptif Data Penelitian
a. Variabel Considering the past & Fear and greed
Berdasarkan tabel 5.16, perilaku responden berdasarkan aspek considering the past & fear and greed dalam melakukan pemilihan jenis saham perusahaan paling tinggi berada pada sektor kedua sebesar 30,11.
Statistics socialinteractiondanemotion 50 0 26.06 .437 26.00 3.087 9.527 .245 .337 .221 .662 15 20 35 Valid Mis sing N Mean Std. Error of Mean Median Std. Deviation Variance Skewness Std. Error of Skewness Kurtosis Std. Error of Kurtosis Range Minimum Maximum
Hal ini menunjukkan bahwa responden yang dipengaruhi oleh aspek considering the past & fear and greed cenderung memilih saham perusahaan yang berada pada sektor kedua yang berupa sektor industri pengolahan/ manufaktur.
Tabel 5.16
Hasil Analisis Data Variabel Considering the past & Fear and greed
Sumber: data primer diolah
b. Variabel Overconfidence & Optimism
Berdasarkan tabel 5.17, perilaku responden berdasarkan aspek overconfidence & optimism dalam melakukan pemilihan jenis saham perusahaan paling tinggi berada pada sektor ketiga sebesar 27,48. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang dipengaruhi oleh aspek overconfidence & optimism cenderung memilih saham perusahaan yang berada pada sektor ketiga yang berupa sektor industri jasa.
Hasil Analisis Data Variabel Overconfidence & Optimism
Sumber: data primer diolah
c. Variabel Familiarity & Representativeness
Berdasarkan tabel 5.18, perilaku responden berdasarkan aspek familiarity & representativeness dalam melakukan pemilihan jenis saham perusahaan paling tinggi berada pada sektor kedua sebesar 30,56. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang dipengaruhi oleh aspek familiarity & representativeness cenderung memilih saham perusahaan yang berada pada sektor kedua yang berupa sektor industri pengolahan/ manufaktur.
Tabel 5.18
Hasil Analisis Data Variabel Familiarity & Representativeness
d. Variabel Social interaction & Emotion
Berdasarkan tabel 5.19, perilaku responden berdasarkan aspek social interaction & emotion dalam melakukan pemilihan jenis saham perusahaan paling tinggi berada pada sektor ketiga sebesar 26,40. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang dipengaruhi oleh aspek social interaction & emotion cenderung memilih saham perusahaan yang berada pada sektor ketiga yang berupa sektor industri jasa.
Tabel 5.19
Hasil Analisis Data Variabel Social interaction & Emotion
Sumber: data primer diolah 2. Analisis Uji Homogenitas
Kriteria pengujian untuk uji homogenitas dengan menggunakan uji satu sisi dengan tingkat signifikansi 5% dengan demikian: (Wiyono, 2011)
Jika P value (sig) > 0,05 maka H0 tidak ditolak artinya varians dari ketiga sektor saham perusahaan adalah sama.
Jika P value (sig) < 0,05 maka H0 ditolak artinya varians dari ketiga sektor saham perusahaan adalah tidak sama.
a. Variabel Considering the past & Fear and greed
Berdasarkan tabel 5.20, untuk aspek considering the past & fear and greed nilai (sig = 0,865) > 0,05, maka artinya varians dari ketiga sektor
Tabel 5.20
Hasil Uji Homogenitas Variabel Considering the past & Fear and
greed
Sumber: data primer diolah b. Variabel Overconfidence & Optimism
Berdasarkan tabel 5.21, untuk aspek overconfidence & optimism nilai (sig = 0,069) > 0,05, maka artinya varians dari ketiga sektor saham perusahaan adalah sama.
Tabel 5.21
Hasil Uji Homogenitas Variabel Overconfidence & Optimism
Sumber: data primer diolah
c. Variabel Familiarity & Representativeness
Berdasarkan tabel 5.22, untuk aspek familiarity & representativeness nilai (sig = 0,240) > 0,05, maka artinya varians dari ketiga sektor saham perusahaan adalah sama.
Tabel 5.22
Hasil Uji Homogenitas Variabel Familiarity & Representativeness
Sumber: data primer diolah d. Variabel Social interaction & Emotion
Berdasarkan tabel 5.23, untuk aspek social interaction & emotion nilai (sig = 0,401) > 0,05, maka artinya varians dari ketiga sektor saham perusahaan adalah sama.
Tabel 5.23
Hasil Uji Homogenitas Variabel Social interaction & Emotion
Sumber: data primer diolah 3. Analisis Anova
a. Variabel Considering the past & Fear and greed
Berdasarkan tabel 5.24, dapat dilihat bahwa nilai sig pada variabel considering the past & fear and greed sebesar 0,511 lebih besar daripada 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek psikologi considering the past & fear and greed tidak ada perbedaan yang signifikan dalam pemilihan jenis saham perusahaan antara sektor utama, sektor kedua, dan sektor ketiga.
Hasil Uji Anova Variabel Considering the past & Fear and greed
Sumber: data primer diolah b. Variabel Overconfidence & Optimism
Berdasarkan tabel 5.25, dapat dilihat bahwa nilai sig pada variabel overconfidence & optimism sebesar 0,108 lebih besar daripada 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek psikologi overconfidence & optimism tidak ada perbedaan yang signifikan dalam pemilihan jenis saham perusahaan antara sektor utama, sektor kedua, dan sektor ketiga.
Tabel 5.25
Hasil Uji Anova Variabel Overconfidence & Optimism
Sumber: data primer diolah
c. Variabel Familiarity & Representativeness
Berdasarkan tabel 5.26, dapat dilihat bahwa nilai sig pada variabel familiarity & representativeness sebesar 0,592 lebih besar daripada 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek psikologi aspek psikologi familiarity & representativeness tidak ada perbedaan yang
signifikan dalam pemilihan jenis saham perusahaan antara sektor utama, sektor kedua, dan sektor ketiga.
Tabel 5.26
Hasil Uji Anova Variabel Familiarity & Representativeness
Sumber: data primer diolah d. Variabel Social interaction & Emotion
Berdasarkan tabel 5.27, dapat dilihat bahwa nilai sig pada variabel social interaction & emotion sebesar 0,571 lebih besar daripada 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek psikologi aspek psikologi aspek psikologi social interaction & emotion tidak ada perbedaan yang signifikan dalam pemilihan jenis saham perusahaan antara sektor utama, sektor kedua, dan sektor ketiga.
Tabel 5.27
Hasil Uji Anova Variabel Social interaction & Emotion
1. Variabel Considering the past & Fear and greed
Berdasarkan tabel 5.28, untuk aspek considering the past & fear and greed nilai (asymp. sig = 0,387) > 0,05, maka H0 tidak tolak artinya tidak ada perbedaan rating di antara sektor yang ada.
Tabel 5.28
Hasil Uji Kruskal Wallis Variabel Considering the past & Fear and
greed
Sumber: data primer diolah 2. Variabel Overconfidence & Optimism
Berdasarkan tabel 5.29, untuk aspek overconfidence & optimism nilai (asymp. sig = 0,337) > 0,05, maka H0 tidak tolak artinya tidak ada perbedaan rating di antara sektor yang ada.
Tabel 5.29
Hasil Uji Kruskal Wallis Variabel Overconfidence & Optimism
3. Variabel Familiarity & Representativeness
Berdasarkan tabel 5.30, untuk aspek familiarity & representativeness nilai (asymp. sig = 0,893) > 0,05, maka H0 tidak tolak artinya tidak ada perbedaan rating di antara sektor yang ada.
Tabel 5.30
Hasil Uji Kruskal Wallis Variabel Familiarity & Representativeness
Sumber: data primer diolah 4. Variabel Social Interaction & Emotion
Berdasarkan tabel 5.31, untuk aspek social interaction & emotion nilai (asymp. sig = 0,486) > 0,05, maka H0 tidak tolak artinya tidak ada perbedaan rating di antara sektor yang ada.
Tabel 5.31
Hasil Uji Kruskal Wallis Variabel Social Interaction & Emotion
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antara pemilihan jenis saham perusahaan pada sektor utama, sektor kedua, dan sektor ketiga dengan aspek-aspek psikologi yang mempengaruhi perilaku investor. Terdapat beberapa aspek psikologi pada penelitian ini yang dikelompokkan berdasarkan faktor-faktornya, seperti considering the past & fear and greed, overconfidence & optimism, familiarity & representativeness, social interaction & emotion.
Peneliti menyebarkan 55 kuesioner kepada mahasiswa yang telah bergabung dalam komunitas Pecinta Galeri Investasi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma. Namun, setelah kuesioner diisi dan dikembalikan ke peneliti, tidak semua kuesioner masuk dalam kriteria kuesioner yang layak sehingga kuesioner yang digunakan untuk diikutsertakan dalam penelitian ini hanya berjumlah 50.
Setelah melakukan pengolahan data mengunakan alat statistik, ditemukan bahwa pada aspek psikologi considering the past & fear and greed, overconfidence & optimism, familiarity & representativeness, social interaction & emotion tidak terdapat perbedaan dalam pemilihan jenis saham perusahaan. Hal tersebut didasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hipotesis nol tidak ditolak; yang berarti bias perilaku investor berdasarkan considering the past & fear and greed, overconfidence & optimism, familiarity & representativeness, social interaction & emotion tidak berpengaruh dalam pemilihan jenis saham perusahaan pada sektor tertentu.
Secara teoritis, aspek-aspek psikologi berpengaruh bagi investor, sehingga dalam melakukan pemilihan jenis saham tertentu investor akan melibatkan aspek psikologi tersebut. Namun, hasil penelitian yang didesain oleh peneliti dan dianalisis menggunakan uji beda (anova) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan. Jadi, pada penelitian dengan desain yang terbatas ini, tidak terdapat perbedaan bagi investor yang memiliki aspek-aspek psikologi dalam berperilaku untuk memilih jenis saham perusahaan tertentu.
Tidak ada perbedaan dari keempat variabel aspek psikologi dalam pemilihan jenis saham perusahaan tertentu dikarenakan seluruh responden yang menjadi partisipan memiliki karakteristik usia, tingkat pendidikan, dan tempat studi yang homogen sehingga meskipun mungkin dipengaruhi oleh aspek-aspek psikologi tetapi terdapat faktor usia, pendidikan, dan tempat studi yang sama yang menjadikan hasilnya tidak berbeda.
Usia investor mempengaruhi perilaku dalam mengambil keputusan berinvestasi (Limanjaya, 2014). Pada penelitian ini, usia investor cenderung homogen antara 18-30 tahun. Hal tersebut dapat berarti perilaku investor cenderung sama dalam memilih jenis saham perusahaan tertentu, sehingga tidak ditemukan ada perbedaan yang signifikan pada penelitian ini.
Selain faktor usia yang homogen, tingkat pendidikan dan tempat studi yang sama mungkin juga mempengaruhi perilaku investor memilih sektor saham perusahaan tertentu. Hal tersebut mungkin membuat investor memilih saham perusahaan berdasarkan lingkungan dan relasi di sekitarnya, sehingga dapat menyebabkan kecenderungan tidak adanya perbedaan.
jenis saham perusahaan tertentu, bias aspek psikologi tetap berpengaruh bagi investor. Hal tersebut dapat dilihat dari analisis deskriptif masing-masing aspek psikologi. Keempat aspek memiliki skor rata-rata yang menggambarkan kecenderungan investor menyetujui perilaku mereka dipengaruhi oleh aspek tersebut.
Aspek familiarity & representativeness memiliki rata-rata (mean) yang paling besar dibandingkan dengan aspek psikologi yang lain, yakni sebesar 30,26 dari skor maksimum 40. Artinya, aspek psikologi investor dalam berperilaku yang paling banyak muncul berdasarkan penelitian adalah aspek familiarity & representativeness. Hal tersebut dikarenakan responden yang diteliti merupakan mahasiswa yang perasaan emosionalnya masih mendominasi perilaku mereka, berbeda halnya dengan investor yang sudah profesional yang tidak mengikutsertakan perasaan emosional mereka dalam melakukan pemilihan jenis saham perusahaan. Oleh karena itu investor (mahasiswa) lebih memilih saham perusahaan yang mereka kenali karena mereka berasumsi bahwa ketika bertransaksi jual beli saham dan dihadapkan pada suatu pilihan yang berisiko maka investor akan memilih saham yang lebih akrab baginya. Sama halnya dengan aspek representativeness, karena investor merupakan mahasiswa, mereka akan berasumsi bahwa perusahaan yang mereka pilih dapat terwakilkan dilihat dari kinerja keuangan perusahaan tersebut sehingga seringkali mereka mengabaikan informasi yang tidak sesuai dengan asumsi tersebut yang menjadikan bias pada perilaku itu ada.
Walaupun aspek psikologi familiarity & representativeness cenderung mendominasi perilaku investor muda dibandingkan dengan aspek yang lain, tetapi aspek psikologi yang lain juga berpengaruh terhadap perilaku investor. Aspek considering the past & fear and greed memiliki rata-rata sebesar 28,98 dari skor maksimum 40. Artinya perilaku investor dalam bertransaksi jual beli saham dipengaruhi oleh aspek tersebut karena investor merupakan mahasiswa yang tergolong masih pemula sehingga masih ada keraguan di dalam diri mereka untuk melakukan transaksi jual beli dengan banyak melakukan pertimbangan dan tidak berani mengambil tindakan yang terlalu berisiko.
Selain itu, aspek overconfidence & optimism dan aspek social interaction & emotion mempengaruhi perilaku investor dengan rata-rata berturut-turut sebesar 26,36 dari skor maksimum 36 dan 26,06 dari skor maksimum 35. Hal itu dikarenakan investor berstatus mahasiswa, sehingga masih belum memiliki kepercayaan diri dan optimisme yang tinggi dibandingkan dengan investor profesional yang sudah banyak berpengalaman dalam dunia pasar modal. Sama halnya dengan aspek social interaction & emotion karena investor yang masih tergolong pemula belum banyak memiliki relasi dengan lingkungan di dunia pasar modal dan juga emosi yang dimiliki dalam mengambil keputusan bertransaksi masih dapat dikatakan labil.
94
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah perilaku investor berdasarkan aspek-aspek psikologi berpengaruh terhadap pemilihan jenis saham perusahaan tertentu. Setelah dilakukan penelitian dengan menyebarkan kuesioner pada mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Pecinta Galeri Investasi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma serta melakukan pengolahan dan analisis data menggunakan Uji Validitas, Reliabilitas, Anova , dan Kruskal Wallis maka kesimpulannya sebagai berikut:
1. Tidak terdapat perbedaan faktor psikologi dalam pemilihan jenis saham perusahaan tertentu. Dari keempat variabel aspek psikologi yaitu considering the past & fear and greed, overconfidence & optimism, familiarity & representativeness, social interaction & emotion tidak ada perbedaan yang signifikan dalam memilih jenis saham perusahaan tertentu. Namun aspek-aspek tersebut berpengaruh dalam berperilaku seorang investor.
2. Walaupun tidak ada perbedaan aspek psikologi considering the past & fear and greed, overconfidence & optimism, familiarity & representativeness, social interaction & emotion dalam pemilihan jenis saham perusahaan tertentu, tetapi bias perilaku tersebut tetap ada pada investor yang merupakan seorang mahasiswa. Aspek psikologi yang
cenderung paling besar dalam perilaku investor terdapat pada aspek familiarity & representativeness karena memiliki rata-rata yang paling besar dari aspek psikologi yang lainnya.
3. Saham perusahaan yang tergolong dalam sektor ketiga sangat banyak dipilih oleh responden karena saham-saham perusahaan pada sektor ketiga memiliki prospek yang bagus dalam jangka panjang, sehingga responden tidak akan mengalami kerugian apabila melakukan perdagangan pada saham-saham dalam kategori sektor ketiga tersebut. 4. Karakteristik usia, tingkat pendidikan, dan tempat studi yang homogen
membuat perilaku investor cenderung sama dalam memilih jenis saham perusahaan tertentu untuk dilakukan transaksi jual beli.
B. Saran
Berdasarkan analisis dan pembahasan mengenai perilaku investor terhadap pemilihan jenis saham perusahaan tertentu, sehingga peneliti ingin mengajukan saran dengan harapan dapat dijadikan sebagai acuan dalam pemilihan jenis saham perusahaan, yaitu:
1. Bagi komunitas Pecinta Galeri Investasi, sebagai generasi penerus mahasiswa harus mengetahui peluang-peluang investasi dengan baik sehingga tidak salah melakukan perdagangan jual beli saham perusahaan tertentu yang berdampak bagi investor itu sendiri dan sebagai investor muda mahasiswa perlu mengetahui perilaku apa yang mempengaruhi mereka melakukan perdagangan saham, serta mereka
yang terdaftar pada BEI sehingga tidak melakukan perdagangan pada saham perusahaan yang mereka kenali saja.
2. Bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya peneliti selanjutnya memperluas penelitian dengan sampel yang lebih banyak sehingga dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai perilaku investor dalam melakukan pemilihan jenis saham perusahaan tertentu dan juga mengurangi variabel penelitian, sehingga dapat berfokus pada salah satu faktor psikologi saja agar memperoleh lebih banyak informasi mengenai topik tersebut.
C. Keterbatasan
Dalam melakukan sebuah penelitian tidaklah ada kata kesempurnaan, sama halnya pada penelitian ini juga ada memiliki beberapa kendala yang menjadi keterbatasan bagi peneliti. Berikut merupakan beberapa kendala yang diamali oleh peneliti:
1. Sulitnya memperoleh responden untuk dilakukan uji coba (pilot testing) kuesioner sehingga peneliti hanya memperoleh responden dalam jumlah yang sedikit.
2. Untuk penelitian selanjutnya dengan topik yang sama sebaiknya peneliti memperluas lagi sampel yang akan diteliti dengan menambahkan jumlah sampelnya atau dengan status yang lebih tinggi jenjangan dari penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Barberis, N., dan Richard, T. 2003. “Handbook of the Economics of Finance: A
Survey of Behavioral Finance”, University of Chicago.
Bodie, Zvi, Alex Kane dan Alan J. Marcus. 2014. Manajemen Portofolio dan Investasi. Edisi 9. Jilid 1. Jakarta: Salemba Empat.
Daniel, K. 1998. “Investor Psychology and Security Market Under and Over
Reaction”, Journal of Asset Finance, Vol. 53, hal. 1839-1896.
Darmadji, Tjiptono dan Hendi M. Fakhrudin. 2006. Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta: Salemba Empat.
Fabozzi, Frank J. 2008. Handbook of Finance, Vol. II, Chapter 9 (Eds.), Hoboken: John Wiley & Sons, Inc.
Fahmi, Irham. 2015. Manajemen Investasi: Teori dan Soal Jawab Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.
Grou, B., dan Tabak, Benjamin. M. 2008. “Ambiguity Aversion and Illusion of
Control: Experimental Evidence in an Emerging Market”, Journal of
Behavioral Finance.
Gulo, W. 2007. Metode Penelitian. Jakarta: Grasindo.
Halim, Abdul. 2005. Analisis Investasi Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.
Hartono, Jogiyanto. 2014. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Hendra. 2014.”Pengaruh Faktor Demografi Dan Overconfidence Terhadap Spending Habits”. Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universirtas Kristen Satya Wacana. Salatiga.
Modal. Yogyakarta: AMP YKPN.
Iramani, Rr. 2011. “Model Perilaku Pemodal Terhadap Risiko dan Jenis Investasi pada Sektor Perbankan (Studi Perilaku Keuangan Berbasis Psikologi)”, Jurnal Aplikasi Manajemen, Vol. 9, No.1, hal. 76-86.
Jones, Charles P. 2014. Investments: Analysis And Management. 9th Edition. Limanjaya, Stefanus Rivan. 2014. “Perilaku Investor Saham, Reksadana, dan
Deposito: Suatu Studi Deskriptif”, Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, Vol. 3, No.1, hal. 1-10.
Hartono, Jogianto. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta. Hartono, Jogianto. 2013. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. Edisi Keenam. Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta. Manurung, Alder Haymans. 2012. Teori Investasi: Konsep dan Empiris. PT Alder
Manurung Press.
Natapura, Cecilia. 2009. “Analisis Perilaku Investor Institusional dengan Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP)”, Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Vol. 16, No.3, hal. 180-187. Natawiria, H. Asep Suryana, Riduwan. 2010. Statistika Bisnis. Bandung: Alfabeta. Nofsinger, J.R. 2001. Investment Madness:How psychology affetcs your investing
and what to do about it. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Nofsinger, J.R. 2005. Psychology of Investing. Second Edition. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Noor, Juliansyah. 2014. Analisis Data Penelitian Ekonomi dan Manajemen. Jakarta: PT Grasindo.
Pompian, Michael. M. 2006. Behavioral Finance And Wealth Management: How to Build Optimal Portfolios That Account for investor Biases. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Ps, Djarwanto. 2004. Statistik Nonparametrik. BPFE, Yogyakarta.
Puspitaningtyas, Zarah. 2011. “Perilaku Investor Dalan Pengambilan Keputusan Investasi Di Pasar Modal”, Universitas Jember, 1-19.
Putri, Berlian A. S. 2012. “Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi Kasus di Toko Dannis Collection Pati)”. Skripsi. Fakultas Syari’ah, Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang.
Ritter, Jay R. 2003. “Behavioral Finance”, Pacific-Basin Finance Journal, Vol. 11, No.4, hal. 429-437.
Roth, Allan. S. 2007. Behavioral Finance. Article Wealth Logic, LLC (http://daretobedull.com/behavioral-finance/ diakses 9 September 2016 pukul 19.56 WIB)
Santoso, Singgih. 2015. Menguasai Statistik NonParametrik. Jakarta: Gramedia. Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta: Selemba Empat Shefrin, H. 2000. Beyond Greed and Fear: Undestanding Behavioral Finance and The psychology of Investing. Boston. USA: Harvard Business School Press. Shefrin, H. 2007. Behavioral Corporate Finance: Decision That Create Value.
Boston: McGraw-Hill Irwin.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta.
Tandelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi 1. Yogyakarta: BPFE-Yofyakarta.
Usman, Hardius, Nurdin Sobari. 2013. Aplikasi Teknik Multivariate Untuk Riset Pemasaran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Utami, Sri. 2005. Manajemen Psikologi Dalam Investasi Saham. Edisi 1. Yogyakarta: ANDI.
Wijayanthi, Isnawatie M. 2015. “Studi Deskriptif: Perilaku Investor Saham Di Surabaya Berdasarkan Aspek Psikologis, Demografis Dan Rasionalitas”, Universitas Surabaya, Vo. 4, No.2, hal. 1-17.
Wira, Desmond. 2016. Psikologi Trading. Exceed.
Wiyono, Gendro. 2011. Merancang Penelitian Bisnis dengan Alat Analisis SPSS 17.0 & SmartPLS 2.0. Yogyakarta: STIM YKPN.
Sumber online
http://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/ActivityDetail/52 (tanggal akses 13 Nov 2016 jam 19:14 WIB)
http://www.beritasatu.com/pasar-modal/150246-banyak-mahasiswa-yogyakarta-jadi-investor-pasar-modal.html (tanggal akses 1 Nov 2016 jam 19:35 WIB)
http://www.idx.co.id/id-id/beranda/informasi/bagiinvestor/saham.aspx (tanggal askses 26 Mei 2017 jam 09:55 WIB)
http://www.investopedia.com/university/behavioral_finance/behavioral2.asp
https://en.wikipedia.org/wiki/Greed_and_fear (tanggal akses 8 Juni 2017 jam 16:25 WIB)
https://www.usd.ac.id/ (tanggal akses 23 Maret 2017 jam 13:32 WIB) Surat Kabar kontan tanggal 29 Maret 2017 halaman 8.
KUESIONER
A. KATA PENGANTAR
Dengan hormat,
Dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan dalam penyelesaian studi pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, sebagai bahan penulisan skripsi saya maka saya melakukan penelitian dengan judul “ANALISIS PERILAKU INVESTOR TERHADAP PEMILIHAN JENIS SAHAM PERUSAHAAN BERDASARKAN ASPEK PSIKOLOGI.”
Seperti yang kita ketahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh data adalah dengan menyebarkan kuesioner kepada responden. Sehubungan dengan itu, saya memohon kesediaan Anda untuk membantu saya mengisi kuesioner ini sesuai dengan petunjuk pengisiannya. Atas kesediaan dan kerjasama Anda, saya ucapkan terima kasih.
Peneliti
Crisye Natalia Limpo NIM: 132214031 B. DATA RESPONDEN
Sebelum menjawab pertanyaan dalam kuesioner ini, mohon Saudara mengisi data berikut terlebih dahulu. (Jawaban yang Saudara berikan akan
diperlakukan secara rahasia).
Petunjuk: Lingkari untuk jawaban pilihan saudara yang sesuai dengan diri responden
1. Nama (boleh diabaikan) :
2. Jenis Kelamin : (1) Laki-laki (2) Perempuan
3. Tanggal Lahir :
5. Berapa lama Anda telah melakukan trading saham (baik beli maupun jual)? ……tahun
6. Jumlah total investasi untuk saham sampai dengan sekarang? Rp