• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 ANALISIS PELAKSANAAN KOORDINASI STRATEGIS ASISTENSI PERCEPATAN

3.3. Koordinasi Program Pengembangan Ekonomi Lokal bagi Masyarakat Asli Papua

3.1.3. Analisis Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal

1) Hilirisasi industri berbasis komoditas unggulan lokal

Salah satu hal terpenting yang menjadi tujuan dari kebijakan pemberdayaan masyarakat asli Papua melalui pengembangan ekonomi lokal yaitu meningkatknya kesejahteraan masyarakat. Masyarakat memiliki pendapatan atau penghasilan tetap sebagai biaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebelumnya, masyarakat Papua menggunakan strategi meramu dan peladangan berpindah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, hasil yang tidak menentu menyebabkan masyarakat semakin jauh dari kehidupan yang layak. Untuk itu, strategi hilirisasi komoditas unggulan dapat menjadi sebuah alternatif menjawab tantangan pembangunan di Papua. Sektor agraris memang sudah dikembangkan di Papua, namun selama tidak ada proses hilirisasi yang dapat memberikan nilai tambah secara signifikan, masyarakat hanya menjual dalam bentuk bahan mentah.

Untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut, perlu dilakukan penyiapan masyarakat, terutama dalam peralihan antara pola berfikir subsisten menjadi pola sistem produksi berbasis

Laporan Koordinasi Strategis Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat, 2015 52 pasar. Bukan menjadi hal yang mudah untuk mengarahkan masyarakat dari pendekatan konvensional menjadi pendekatan lebih modern, dengan memadukan perkembangan teknologi untuk mengolah sumber daya alam yang tersedia. Peralihan menuju sistem produksi berbasis pasar pada dasarnya bertujuan untuk memberikan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan. Namun, lebih jauh dari itu, kegiatan produksi yang dilakukan oleh masyarakat asli Papua dapat menciptakan lapangan kerja sehingga masyarakat memiliki penghasilan tetap. Masyarakat menjadi aktor utama dalam pengembangan ekonomi di wilayahnya sendiri, dan dapat mengoptimalkan pengelolaan komoditas unggulan di daerah untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Kegiatan produksi yang dilakukan oleh masyarakat dapat dikatakan berhasil apabila diterima oleh pasar. Untuk itu, perlu dilakukan pemetaan pasar dalam arti produk seperti apa yang dapat diterima oleh pasar, siapa konsumennya, dan bagaimana konsumen bisa mendapatkan produk tersebut dengan mudah. Di samping itu, sasaran lokus pasar juga perlu diidentifikasi dengan baik. Untuk pasar domestik, bisa bekerja sama dengan distributor lokal, sehingga ada kejelasan target permintaan dalam rentang waktu tertentu. Sedangkan untuk pasar luar negeri, bisa menjangkau konsumen di negara tetangga misalnya PNG dan negara-negara lain di kawasan pasifik.

Pada beberapa kegiatan pengembangan lokal yang telah dilakukan sebelumnya, terbukti bahwa pola hilirisasi memberikan dampak yang cukup signifikan bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Dengan catatan, kegiatan dilakukan dengan komitmen penuh dari pemerintah melalui dukungan kebijakan dan pendanaan, serta pendampingan yang intensif.

2) Pemanfaatan Pengetahuan Lokal Masyarakat dalam Mengelola Sumber Daya Alam

Menghargai pengetahuan lokal menjadi sebuah substansi yang penting dilakukan oleh pemerintah pusat, daerah, maupun stakeholders pembangunan lainnya. Masyarakat Papua memiliki pemahaman tentang wilayahnya, tentang kebutuhan, peluang dan hambatan yang bersifat spesifik tetapi memiliki pengaruh yang besar bagi pelaksanaan pembangunan. Masyarakat lokallah yang memiliki pengetahuan, kearifan lokal dan keahlian, yang harus dipelajari dan diterapkan dalam penyelesaian masalah sosial yang terjadi. Saat ini, seringkali upaya pemberdayaan masyarakat di Wilayah Papua hanya dilakukan dengan menggunakan pendekatan secara top down, cenderung menggurui dan mengabaikan aspirasi masyarakat.

Laporan Koordinasi Strategis Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat, 2015 53 Pemerintah perlu menghargai dan yakin bahwa kapasitas lokal yang dimiliki masyarakat menjadi potensi tersendiri untuk mengoptimalkan sumber daya alam yang dimilikinya, di samping berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Namun, tentunya perlu dilanjutkan dengan pengembangan ke tingkat kegiatan ekonomi yang lebih kompleks dengan dukungan pemerintah. Keterbatasan SDM memang merupakan salah satu masalah utama di Papua. Akan tetapi, kurang tepat apabila keterbatasan SDM dianggap sebagai penghambat pembangunan atau setidaknya penyebab sulitnya melakukan pembangunan. Karena tugas pemerintah pada dasarnya yaitu mampu mengelola sumber daya yang memiliki berbagai keterbatasan, untuk mendatangkan sebesar mungkin kemanfaatan bagi masyarakatnya.

Operasionalisasi dari kebijakan ini salah satunya yaitu pada pengembangan obat-obatan tradisional. Namun, pemanfaatan pengetahuan lokal masyarakat juga perlu dilakukan secara selektif. Triangulasi dapat dilakukan untuk mengetahui seberapa besar validitas data yang bersumber dari masyarakat tersebut. Perlu dilakukan cross check, sehingga terhindar dari subjektifitas kelompok atau etnis tertentu yang dikhawatirkan menyebabkan kerugian pada kelompok lain.

3) Pendampingan masyarakat melalui kaderisasi tenaga pendamping lokal

Pendampingan menjadi sebuah prasyarat penting bagi keberhasilan upaya pemberdayaan masyarakat, terutama terkait bidang ekonomi. Pendampingan terutama dilakukan untuk mengawal pengelolaan/manajemen administrasi dan keuangan. Karena salah satu kelemahan yang dimiliki masyarakat asli Papua yaitu minimnya keahlian untuk mengelola keuangan dan tertib administrasi, sehingga jaminan untuk keberlanjutan program juga cukup minim. Belajar dari pengalaman pengembangan ekonomi lokal yang telah dilakukan, usaha masyarakat terhenti karena mereka tidak mampu menyediakan bahan baku, sedangkan modal sudah habis. Dalam hal ini lah peran pendamping sangat dibutuhkan.

Di samping itu, pendampingan dilakukan untuk memberikan solusi-solusi teknis ketika masyarakat kurang memahami, memberi motivasi ketika terjadi kegagalan, dan saling berbagi pengetahuan yang dimiliki untuk memecahkan persoalan yang terjadi di lapangan. Dalam pelaksanaan sebuah program pemberdayaan, seringkali pendamping berasal dari luar daerah yang notabene lebih maju, kemudian tinggal di daerah tersebut dalam kurun waktu yang ditetapkan,

Laporan Koordinasi Strategis Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat, 2015 54 kemudian kembali ke tempat asal. Pada posisi inilah program pemberdayaan seringkali mengalami ketidakstabilan. Untuk itu, perlu dilakukan kaderisasi tenaga pendamping lokal yang berasal dari masyarakat setempat. Sehingga, walaupun secra administratif program pemberdayaan tersebut berakhir, namun kegiatan pengembangan ekonomi lokal masih berkelanjutan. Hal ini menjadi sebuah outcome yang paling konkrit, karena terbentuk masyarakat yang mandiri dan mampu mengembangkan perekonomiannya secara berkelanjutan.

Dalam operasionalisasinya, sosok pendamping juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan, terutama kemampuannya dalam melakukan komunikasi publik, komunikasi politik, bahkan terkait latar belakang sukunya (untuk beberapa kelompok masyarakat yang fanatik kesukuannya tinggi). Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa seorang pendamping pemberdayaan masyarakat di Wilayah Papua perlu menerapkan konsep perubahan dari bawah, yaitu dengan menghargai pengetahuan lokal, kebudayaan lokal, sumber daya lokal, keterampilan lokal, dan proses-proses lokal.

4) Pengembangan kelembagaan melalui pembangunan mini pabrik/ home industry/ koperasi, dan menjalin kemitraan dengan sektor swasta

Pembentukan sebuah kelembagaan untuk menaungi kegiatan pengembangan ekonomi lokal masyarakat sangat dibutuhkan untuk strategi pengembangan usaha. Keberadaan lembaga formal dan memiliki kekuatan hukum menjadi sarana untuk mempermudah dalam mengakses lembaga ekonomi/perbankan. Di samping itu, dengan adanya kelembagaan yang jelas, maka kegiatan manajemen dan administrasi akan dapat dilakukan dengan lebih tertib dan teratur. Masyarakat juga dapat belajar untuk melakukan kegiatan investasi, di samping hanya melakukan konsumsi dan produksi.

Dalam pelaksanaannya, faktor modal sosial memiliki peran penting dalam pembentukan lembaga pengembangan ekonomi lokal. Unsur-unsur modal sosial seperti rasa saling percaya, kerja sama, dan saling berbagi kebaikan dapat menjadi trigger yang kuat untuk membentuk masyarakat yang lebih berdaya. Walaupun bersifat intangible, modal sosial menjadi aset yang sangat berharga untuk mendukung eksistensi dari sebuah lembaga.

Dengan terbentuknya kelembagaan, maka kegiatan akan lebih terkonsolidasi dibandingkan dengan kegiatan yang dilakukan secara perorangan atau per-kelompok. Untuk

Laporan Koordinasi Strategis Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat, 2015 55 memperluas jaringan distribusi dapat dilakukan kemitraan dengan pihak swasta yang ada di daerah tersebut, misalnya dengan distributor, toko, dan swalayan. Selain itu, dapat dilakukan kerjasama dengan pihak-pihak penyedia jasa wisata dan hotel untuk mempromosikan produk, dengan segmen para wisatawan baik domestik maupun luar negeri.

5) Pembangunan sarpras infrastruktur transportasi untuk membuka keterisolasian dan menyediakan akses menuju pusat-pusat perekonomian

Sarana prasarana infrastruktur transportasi menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, baik untuk mengakses pelayanan pendidikan dan kesehatan, maupun untuk mengembangkan kegiatan perekonomian. Untuk mendukung pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat, penyediaan transportasi yang memadai diharapkan dapat mengurangi biaya logistik dalam mendistribusikan hasil produksi. Kendala saat ini, disamping biaya produksi yang mahal karena sebagian besar sarana produksi didatangkan dari wilayah luar Papua, juga mengalami kesulitan dalam memasarkan produk ke wilayah luar Papua.

Operasionalisasi pembangunan infrastruktur di Wilayah Papua perlu diintegrasikan antara infrastruktur di wilayah kampung untuk memberikan akses ke pelayanan publik dasar dengan infrastruktur dari wilayah kampung menuju pusat-pusat kegiatan perekonomian. Moda transportasi yang disediakan harus disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik daerah.

6) Dukungan regulasi dan pendanaan dari pemerintah daerah untuk mengembangkan ekonomi lokal

Kebijakan pengembangan ekonomi lokal di Wilayah Papua telah sejalan dengan program pemerintah daerah terutama di Provinsi Papua yaitu program Gerbangmas Hasrat Papua (Gerakan Bangkit, Mandiri dan Sejahtera Harapan Masyarakat Papua). Pengembangan ekonomi di kampung-kampung menjadi salah satu prioritas programnya dengan tujuan memperkuat ekonomi berbasis kampung berdasarkan pada keunggulan wilayah. Papua Barat juga mempunyai program terkait pengembangan ekonomi lokal. Dalam operasionalisasinya, pemerintah daerah dapat memberikan dukungan kebijakan yang bersifat afirmatif untuk barang-barang produksi masyarakat lokal, misalnya dengan mengeluarkan peraturan bupati yang mewajibkan masyarakatnya menggunakan barang-barang produksi masyarakat lokal.

Laporan Koordinasi Strategis Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat, 2015 56 Di samping dukungan melalui kebijakan, dukungan pemerintah daerah melalui alokasi anggaran untuk program pengembangan ekonomi lokal juga menjadi sebuah langkah yang strategis. Namun, pola penyaluran anggaran ke masyarakat perlu dilakukan melalui strategi yang tepat, dengan menggunakan prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparansi, serta pendampingan dalam penggunaan anggaran. Permasalahan yang seringkali terjadi pada program pemberdayaan masyarakat yang berbasis pengembangan ekonomi lokal yaitu kurangnya manajemen dalam penggunaan anggaran.

Dokumen terkait