• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Struktur Pasar a Pangsa Pasar

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

DAFTAR LAMPIRAN

III. METODE PENELITIAN

3.2. Metode Analisis

3.2.1. Analisis Struktur Pasar a Pangsa Pasar

Setiap perusahaan memiliki pangsa pasarnya sendiri, dan besarnya berkisar antara 0 hingga 100 persen dari total penjualan seluruh pasar. Peranan pangsa pasar adalah sebagai sumber keuntungan bagi perusahaan (Jaya, 2001).

Msi =

x 100%

dimana:

Msi : pangsa pasar perusahaan i (persen) Si : penjualan perusahaan i (juta rupiah)

b. Konsentrasi Pasar

Tingkat konsentrasi dapat dihitung dengan menggunakan Concentration Ratio (CR). Pemusatan merupakan kombinasi pangsa pasar dari perusahaan- perusahaan oligopolies dimana adanya saling ketergantungan. Kelompok perusahaan terdiri dari 2 sampai 8 perusahaan. Penerimaan (return) rata-rata industri yang terkonsentrasi adalah lebih tinggi daripada penghasilan jenis industri yang kurang terkonsentrasi (Jaya. 2001).

CRm =

dimana:

CRm : rasio konsentrasi sebanyak m perusahaan (persen) MSi : pangsa pasar perusahaan i (persen)

c. Hambatan Untuk Masuk (Barrier To Entry)

Hambatan masuk pasar dapat dilihat dari mudah atau tidaknya pesaing- pesaing potensial untuk masuk ke pasar. Semakin tinggi barrier to entry maka akan semakin lemah ancaman dari pendatang baru yang hendak masuk ke dalam suatu industri.

Beberapa hal mengenai hambatan memasuki suatu pasar. Pertama, hambatan-hambatan timbul dalam kondisi pasar yang mendasar, tidak hanya dalam bentuk perangkat yang legal ataupun dalam bentuk kondisi-kondisi yang berubah dengan cepat. Kedua, hambatan dibagi dalam tingkat mulai dari tanpa hambatan sama sekali, hambatan rendah, sedang sampai tingkatan tinggi di mana tidak ada lagi jalan masuk. Ketiga, hambatan merupakan sesuatu yang kompleks. Cara yang digunakan untuk melihat hambatan masuk adalah dengan menggunakan skala ekonomis yang didekati melalui output perusahaan yang menguasai pasar lebih dari 50 persen. Nilai output tersebut kemudian dibagi dengan total output industri. Data ini disebut sebagai Minimum Efficiency Scale

(MES) (Jaya, 2001).

3.2.2. Analisis Perilaku Industri

Perilaku pasar dianalisis secara deskriptif dengan tujuan untuk memperoleh informasi mengenai perilaku perusahaan dalam industri itu sendiri. Perilaku industri minuman ringan di Indonesia akan dijelaskan dengan melihat strategi melawan pesaing seperti strategi harga, strategi produk dan strategi promosi. a. Strategi Harga

Sebuah perusahaan memutuskan untuk memasuki dunia pemasaran global maka harus dapat membangun sebuah sistem dan kebijakan tertentu penetapan harga. Strategi penetapan harga suatu industri tergantung dari beberapa faktor produksi. Stategi ini digunakan untuk melihat apakah ada kesepakatan harga antar sesama pesaing yang menimbulkan persaingan yang tidak sehat.

b. Strategi Produk

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan. Pemimpin pasar umumnya menawarkan produk dan jasa yang bermutu superior.

c. Strategi promosi

Strategi promosi merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan dengan menginformasikan kepada konsumen tentang adanya suatu produk di pasar sehingga dapat menarik minat konsumen akan produk tersebut.

3.2.3. Analisis Kinerja Industri

Analisis kinerja industri minuman ringan dilakukan dengan menggunakan analisis Price Cost Margin (PCM) dan efisiensi internal (X-Eff). Efisiensi adalah menghasilkan suatu nilai output yang maksimum dengan menggunakan sejumlah input tertentu. Efisiensi digolongkan dalam dua kategori yaitu efisiensi internal dan efisiensi pengalokasian. Efisiensi internal menunjukan kemampuan perusahaan dalam suatu industri dalam menekan biaya produksi yang harus dikeluarkan. Sedangkan alokasi yang efisien yaitu pada saat ouput berada pada tingkat di mana marginal cost (MC) sama dengan harga (P) dari masing-masing produk setiap perusahaan di dalam perekonomian secra keseluruhan (Jaya, 2001).

XEF =

Nilai tambah diperoleh dari hasil pengurangan biaya input terhadap nilai outputnya. Sedangkan nilai output adalah nilai dari seluruh barang dan jasa juga sebagai produk yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi dengan memanfaatkan faktor produksi yang tersedia.

Variabel lain yang digunakan sebagai indikator kinerja adalah Price Cost Margin (PCM). PCM didefinisikan sebagai persentase keuntungan dari kelebihan penerimaan atas biaya langsung. Tingkat konsentrasi dengan penghasilan terdapat tingkat korelasi yang rendah. Penerimaan (return) rata-rata industri yang terkonsentrasi rendah adalah lebih tinggi daripada penghasilan jenis industri yang kurang terkonsentrasi. Selain itu adanya hubungan positif antara keuntungan (profit) dengan produk-produk konsentrasi tinggi. PCM diperoleh dengan membagi selisih antara nilai tambah dikurangi upah terhadap nilai output. Nilai tambah adalah nilai pengiriman dikurangi material, persediaan dan tempat penyimpanan bahan bakar, tenaga listrik dan kontrak kerja (Jaya, 2001).

PCM =

X 100%

Monopoli dapat memengaruhi pasar yang kemudian dapat memengaruhi kemajuan secara keseluruhan dengan penemuan-penemuan metode produksi maupun produk-produk baru. Variabel pertumbuhan output (growth) diduga dapat memengaruhi kinerja dari sebuah industri. Untuk mengukur pertumbuhan output (growth) adalah perbandingan antara pengurangan nilai output tahun sekarang dan tahun sebelumnya dengan setengah antara nilai output tahun sebelumnya ditambah nilai output tahun sekarang.

3.2.4. Hubungan Struktur dan Faktor-Faktor Lain yang Memengaruhi Kinerja

Metode analisis regresi linier berganda atau Ordinary Least Square (OLS) digunakan untuk menganalisis hubungan antara struktur pasar dan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kenerja. Metode ini digunakan karena dianggap lebih sederhana dibandingkan dengan metode lain serta adanya kemudahan dalam penggunaan serta pendeskripsian hasil regresi. Berikut adalah model dalam penelitian ini:

PCMt = β0 + β1CR4t + β2X-Efft + β3Growtht + β4 Produktivitas TK + Ut

dimana:

βo : intersep

t : tahun ke-t

PCM : keuntungan perusahaan pada tahun ke t (%)

CR4 : rasio konsentrasi empat perusahaan pada tahun t (%) X-eff : efisiensi internal perusahaan pada tahun ke t (%) Growth : pertumbuhan output perusahaan pada tahun ke t (%) Produktivitas TK : produktivitas tenaga kerja (rupiah)

Ut : error (β > 0)

β1, β2, β3, β4 : koefisien

3.3. Uji Hipotesis dan Uji Ekonometrika

Metode hipotesis akan digunakan dalam menganalisis hubungan-hubungan antar variabel dimana setelah menentukan parameter-parameter yang akan diestimasi maka dilakukan pengujian-pengujian agar suatu model tersebut dapat dikatakan baik. Uji hipotesis berguna untuk memeriksa atau menguji apakah variabel-variabel yang digunakan dalam model regresi signifikan atau tidak. Maksud dari signifikan ini adalah suatu nilai dari parameter regresi yang secara statistik tidak sama dengan nol. Pengujian tersebut dilakukan dengan uji statistik terhadap model penduga melalui uji F dan pengujian untuk parameter-parameter regresi malalui uji t serta melihat berapa persen variabel bebas (independent)

dapat dijelaskan oleh variabel terkait (dependent) melalui koefisien determinasi (R-squared).

Menurut Verbeek (2000) ekonometrika adalah interaksi antara teori ekonomi, data dan metode statistika. Ordinary Least Squares merupakan teknik yang digunakan untuk mengestimasi garis regresi dengan prinsip meminumkan jumlah kuadrat dari residual. Penduga OLS dikatakan bersifat BLUE, yaitu Best, Linear, Unbiased estimator apabila penduga tersebut mempunyai varians yang minimum (terbaik atau efisien) serta untuk sampel yang berulang penduga (b2)

secara rata-rata sama dengan β2. Namun apabila Penduga OLS tidak bersifat

BLUE maka terdapat pelanggaran asumsi dalam model regresi yaitu terdapat kolinearitas ganda (multicollinearity), heteroskedastisitas dan serial correlation

(autokorelasi).

a. Multikolinearitas

Multikolinearitas didefinisikan sebagai adanya korelasi yang kuat antar variabel bebas pada model persamaan. Multikolinearitas dapat menyebabkan koefisien bebas cenderung tidak signifikan terhadap variabel respon. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor). Jika terdapatnilai VIF yang lebih besar dari 10 maka dapat disimpulkan terjadi multikolinearitas pada model persamaan yang digunakan. Teknik mengatasi multikolinearitas: (1) Membuang peubah bebas yang mempunyai multikolinearitas tinggi terhadap peubah bebas lainnya, (2) menambah data pengamatan/ contoh, dan (3) melakukan transformasi terhadap peubah-peubah bebas yang mempunyai kolinearitas atau menggabungkan menjadi peubah-peubah bebas baru yang mempunyai arti.

b. Heteroskedastisitas

Suatu fungsi dikatakan baik apabila memenuhi asumsi homoskedastisitas (tidak terjadi heteroskedastisitas) atau memiliki ragam error yang konstan. Heteroskedastisitas tidak merusak ketakbiasan dan konsistensi dari penaksiran OLS, tetapi penaksiran tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun besar (yaitu asimtotik) (Gujarati, 1987). Gejala adanya heteroskedastisitas dapat diyunjukkan oleh probability Obs*R-squared pada uji Heteroskedastisity Test: Breusch-Pagan-Godfrey. Jika nilai probabilitas Obs*R-squared lebih besar taraf

nyata (α) yang digunakan, maka persamaan tidak mengalami heteroskedastisitas. Jika nilai probabilitas Obs*R-squared lebih kecil taraf nyata (α) yang digunakan, maka persamaan mengalami heterskedastisitas. Teknik mengatasi heteroskedastisitas diantaranya dengan menggunakan Metode Generalized Least Squares (GLS).

c. Autokorelasi

Autokorelasi didefinisikan sebagai korelasi yang terjadi antar unsure gangguan (galat) pada tahun sekarang dengan galat tahun sebelumnya. Autokorelasi bisa terjadi pada deret waktu (time series). Pengujian autokorelasi dapat diketahui dengan menggunakan breusch-Godfrey serial Correlation LM Test, yang hasil kesimpulannya dapat diketahui dari nilai probability Obs*R-squared. Jika nilai

probability Obs*R-squared lebih kecil dari taraf nyata, maka terjadi autokorelasi didalam model persamaan. Begitu pula sebaliknya, jika nilai probability Obs*R- squared ternyata lebuh besar dari taraf nyata meka tidak terjadi autokorelasi pada model persamaan yang digunakan.

Teknik mengatasi autokorelasi diantaranya dengan menggunakan (1) evaluasi model, (2) metode pembedaan umum/Generalized Differences, (3) metode pembedaan pertama, (4) estimasi ρ berdasarkan Durbin Watson, dan (5) estimasi ρ berdasarkan residual.

IV. GAMBARAN UMUM

4.1. Definisi Minuman Ringan

Minuman ringan termasuk dakam kategori pangan. Adapun pengertian pangan menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 28 tahun 2004 pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku tambahan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman. Minuman ringan adalah minuman yang tidak mengandung alkohol, merupakan minuman olahan dalam bentuk bubuk atau cair yang mengandung bahan makanan dan atau bahan tambahan lainnya baik alami maupun sintetik yang dikemas dalam kemasan siap untuk dikonsumsi. Minuman ringan diperoleh tanpa melalui proses fermentasi dengan atau tanpa pengenceran sebelum diminum, tetapi tidak termasuk air, sari buah, susu, teh, kopi, cokelat, produk telur, produk daging, ekstrak sayur, sup, sari sayur dan minuman beralkohol.

Minuman ringan terdiri dari dua jenis, yaitu: minuman ringan dengan karbonasi (carbonated soft drink) dan minuman ringan tanpa karbonasi. Minuman ringan dengan karbonasi adalah minuman yang dibuat dengan mengabsorpsi karbondioksida ke dalam air minum, sedangkan minuman ringan tanpa karbonasi adalah minuman ringan selain minuman ringan dengan karbonasi. Fungsi minuman ringan yaitu sebagai minuman untuk melepas dahaga sedangkan dari segi harga, ternyata minuman ringan karbonasi relatif lebih mahal dibandingkan minuman non karbonasi. Hal ini disebabkan karena teknologi yang digunakan dalam proses dan kemasan lebih khas. Kemasan minuman ringan dibagi dua sesuai dengan jenis minuman ringan. Minuman berkarbonasi umumnya dikemas dalam botol (gelas/plastik) atau kaleng, sedangkan minuman tanpa karbonasi dikemas dalam kotak kardus sesuai dengan persyaratan umum sebagai berikut: a. Mempunyai kekuatan mekanis sehingga dapat menjaga mutu, penampilan

dan kandungan produk,

c. Steril pada setiap pemakaian,

d. Mudah dalam pengisian dan penyegelan.

Kemudian masing-masing jenis kemasan mempunyai kelebihan dan kekurangan yaitu:

a. Botol gelas dapat digunakan ulang (reuse) tanpa mengalami pengolahan atau perubahan bentuk, akan tetapi harus melalui proses pencucian dan strerilisasi dengan menggunakan detergen dan soda kaustik.

b. Botol plastik dapat didaur ulang (recycle) dengan pengolahan fisik atau kimiawi untuk mendapatkan produk sama atau produk yang lain.

c. Kaleng dapat melindungi produk dari cahaya, mencegah kandungan produk yang mudah teroksidasi karena cahaya maupun udara dalam kaleng, akan tetapi relatif lebih mahal karena dibuat dari bahan tahan korosi misalnya dari palt baja dengan lapisan timah atau dari aluminium.

d. Kotak kardus kekuatan mekanisnya relatif lebuh rendah, umur produk singkat.

4.2. Komposisi Minuman Ringan

Minuman ringan memiliki komposisi dasar yaitu air 90 persen dan selebihnya merupakan bahan tambahan seperti zat pewarna, zat pemanis, gas CO2

dan zat pengawet. Adapun rincian komposisi minuman ringan berkarbonasi secara umum dapat diuraikan sebagi berikut:

a. Air berkarbonasi merupakan kandungan terbesar didalam carbonated soft drink. Air yang digunakan harus mempunyai kualitas tinggi yaitu jernih, tidak berbau, tidak berwarna, bebas dari organisme yang hidup dalam air, alkalinitasnya kurang dari 50 ppm, total padatan terlarut kurang dari 500 ppm dan kandungan logam besi dan mangan kurang dari 0,1 ppm. Sederet proses dilakukan untuk mendapatkan kualitas air yang diinginkan, antara lain, klorinasi, penambahan kapur, koagulasi, sedimentasi, filtrasi pasir, penyaringan dengan karbon aktif, dan demineralisasi dengan ion exchanger. Karbondioksida yang digunakan juga harus murni dan tidak berbau. Air berkarbonasi harus dibuat dengan cara melewatkan es kering (dry ice) ke dalam air es.

b. Bahan pemanis yang digunakan dalam minuman ringan terbagi menjadi dua kategori yaitu:

• Bahan pemanis natural (nutritive) yang terdiri dari gula pasir, gula cair, gula invert cair, sirup jagung dengan kadar fruktosa tinggi dan dekstrosa. • Bahan pemanis sintetik (non nutritive), satu-satunya bahan pemanis

sintetik yang direkomendasikan oleh FDA (Food and Drugs Administration Standard, Amerika Serikat) adalah sakarin.

c. Zat asam (acidulants) biasanya ditambahkan dalam minuman ringan berkarbonasi dengan tujuan untuk memberikan rasa asam, memodifikasi manisnya gula dalam sirup atau minuman. Acidulant yang digunakan adalah asam sitrat, asam fosfat, asam malat, asam tartarat, asam fumarat, asam adipat dan lain-lain.

d. Pemberi aroma disiapkan oleh industri yang berkaitan dengan industri minuman dengan formula khusus, kadang-kadang telah ditambah dengan asam dan pewarna dalam bentuk:

• Ekstrak alkoholik (menyaring bahan kering dengan larutan alkoholik), misalnya jahe, anggur, lemon lime dan lai-lain.

• Larutan alkoholik (melarutkan bahan dengan larutan air-alkohol), misalnya strawbery, cherry, cream soda dan lain-lain.

• Emulsi (mencampur essential oil dengan bahan pengemulsi), misalnya vegetable gum, citrus flavor, rootbeer dan cola.

Fruit juices, misalnya orange, grapefruit, lemon, lime dan grape. • Kafein, sebagai pemberi rasa pahit (bukan sebagai stimulant) • Ekstrak biji kola

Sintetik flavor, misalnya ethyl acetate/amyl butyrate yang memberikan aroma grape.

e. Zat pewarna untuk meningkatkan daya tarik minuman terdiri dari:

• Zat pewarna natural, misalnya dari strawbery, cherry, grape dan lain- lain.

• Zat pewarna sintetik, hanya 5 zat pewarna sintetik dari 8 jenis pewarna yang diperkenankan oleh FDA yang digunakan sebagai pewarna dalam minuman ringan.

f. Zat pengawet, misalnya asam sitrat untuk mencegah fermentasi dan sodium benzonat.

4.3. Perkembangan Industri Minuman Ringan Indonesia

Industri minuman yang awalnya menghasilkan produk minuman penghilang rasa haus kemudian berkembang dan muncul dengan berbagai inovasi dan konsep baru tentang minuman. Konsep awal minuman dimodifikasi bukan hanya sebagai penghilang rasa haus namun juga menawarkan fitur fungsi lainnya seperti penambahan rasa dan warna, penambahan kandungan minuman seperti vitamin, mineral dan lain sebagainya, minuman yang mengandung karbon, minuman sari buah dan lain-lain. Perkembangan konsep tersebut berdampak pada berkembangnya minuman ringan yang memadukan fungsi dasar minuman. Selain itu industri minuman ringan juga menambahkan fungsi kepraktisan dalam berkonsumsi dengan cara mengemas berbagai produk minuman tersebut kedalam kemasan-kemasan yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Terjadinya krisis moneter pada tahun 1998 yang berkelanjutan menjadi krisis ekonomi, berdampak negatif terhadap hampir semua sektor perekonomian, termasuk pada sektor industri. Hal ini berakibat pula pada pertumbuhan produksi sektor industri semakin menurun. Menurut BPS (2012), pada tahun 1999 pertumbuhan produksi mengalami titik terendah, kemudian sejak tahun 2000 sampai 2008 mulai menunjukan indikasi kearah perbaikan. Namun pada tahun 2009 pertumbuhan produksi industri minuman ringan mengalami penurunan hal tersebut disebabkan kembali oleh krisis moneter yang memengaruhi nilai pertumbuhan industri minuman ringan. Peningkatan produksi dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan produk industri terutama permintaan dari dalam negeri yang diduga menjadi penyebab kenaikan usaha industri. Peningkatan tersebut menandakan ada optimisme yang cukup baik bagi dunia industri di Indonesia untuk pembangunan nasional. Pada tahun 2009 nilai pertumbuhan menurun. Hal

ini disebabkan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak pada tahun 2009 yang menyebabkan angka pertumbuhan menurun menjadi 13,28.

Sumber: BPS, 1995-2009 (diolah)

Gambar 4.1. Pertumbuhan Nilai Produksi Industri Minuman Ringan Indonesia Tahun 1995-2009

Industri minuman ringan Indonesia dikategorikan sebagai industri skala besar dan menengah. Perkembangan jumlah perusahaan minuman ringan Indonesia tersebut mengalami perubahan setiap tahunnya.

Tahun Jumlah Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja

2005 263 29646 2006 332 32717 2007 340 35109 2008 302 33147 2009 303 37179 Sumber: BPS (2012)

Tabel 4.1. Perkembangan Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Minuman Ringan di Indonesia

Berdasarkan data pada Tabel 4.1. pada tahun 2008 jumlah perusahaan minuman ringan di Indonesia mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2007. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2008 terjadi krisis moneter karena meningkatnya harga minyak.

‐20 ‐10 0 10 20 30 40 50 Persen Growth

4.4. Profil Beberapa Perusahaan Industri Minuman Ringan

Industri minuman ringan terdiri dari beberapa perusahaan yang memproduksi berbagai merek dan jenis minuman ringan. Tiga diantara perusahaan produsen minuman ringan adalah PT Aqua Golden Mississipi, PT Coca-Cola Bottling Indonesia yang menguasai pangsa pasar minuman ringan dengan spesifikasi minuman berkarbon dan PT Sinar Sosro yang menguasai pangsa pasar minuman ringan berjenis teh kemasan.

a. PT Aqua Golden Mississippi

PT. AQUA Golden Mississippi didirikan pada tahun 1973 oleh Bapak Tirto Utomo, sebagai produsen pelopor air minum dalam kemasan di Indonesia. Pabrik pertama didirikan di Bekasi. Setelah beroperasi selama 30 tahun, kini AQUA memiliki 14 pabrik di seluruh Indonesia. Pada tahun 1998, AQUA (yang berada di bawah naungan PT Tirta Investama) melakukan langkah strategis untuk bergabung dengan Group DANONE, yang merupakan salah satu kelompok perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di dunia dan ahli dalam nutrisi. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk, market share, dan penerapan teknologi pengemasan air terkini. Di bawah bendera DANONE- AQUA, kini AQUA memiliki lebih dari 1.000.000 titik distribusi yang dapat diakses oleh pelanggannya di seluruh Indonesia.

Serangkaian penghargaan internasional yang telah diterima Aqua. Pabrik Aqua merupakan yang pertama kali di kawasan Asia yang mendapatkan sertifikan ISO 9002. Selanjutnya survey pembaca Readers Digest di Singapura menempatkan Aqua sebagai Super Brand tahun 1999 dan 2000. Aqua merupakan perusahaan pertama yang mendorong perkembangan proses daur ulang botol- botol bekas.

b. PT Coca-Cola Bottling

Coca-Cola Bottling Indonesia merupakan salah satu produsen dan distributor minuman ringan terkemuka di Indonesia. Coca-cola Bottling memproduksi dan mendistribusikan produk-produk berlisensi dari The Coca-Cola Company. Coca-Cola Bottling Indonesia merupakan nama dagang yang terdiri

dari perusahaan-perusahaan patungan (joint venture) antara perusahaan- perusahaan lokal yang dimiliki oleh pengusaha-pengusaha independen dan Coca- Cola Amatil Limited, yang merupakan salah satu produsen dan distributor terbesar produk-produk Coca-Cola di dunia. Coca-Cola Amatil pertama kali berinvestasi di Indonesia pada tahun 1992. Mitra usaha Coca-Cola saat ini merupakan pengusaha Indonesia yang juga adalah mitra usaha saat perusahaan ini memulai kegiatan usahanya di Indonesia. Produksi pertama Coca-Cola di Indonesia dimulai pada tahun 1932 di satu pabrik yang berlokasi di Jakarta. Produksi tahunan pada saat tersebut hanya sekitar 10.000 krat dengan memperkerjakan 25 karyawan. Sejak tahun 1932 hingga tahun 1980-an, telah berdiri 11 perusahaan independen di seluruh Indonesia untuk memproduksi dan mendistribusikan produk-produk The Coca-Cola Company. Pada awal tahun 1990-an, beberapa diantara perusahaan-perusahaan tersebut mulai bergabung menjadi satu. Tepat pada tanggal 1 Januari 2000, sepuluh dari perusahaan-perusahaan tersebut bergabung dalam perusahaan-perusahaan yang kini dikenal sebagai Coca-Cola Bottling Indonesia.

Coca-Cola Bottling Indonesia memproduksi merek-merek inti seperti Coca- Cola, Sprite, Fanta, dan Frestea di dalam pabrik-pabriknya yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk menjaga agar mutu minuman yang dihasilkan sesuai dengan standar, maka PT Coca-cola Bottling menerapkan dengan ketat proses produksi yang diakui secara internasional. Pemberian kode-kode pada setiap produk merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses. Dengan pemberian kode-kode tersebut bertujuan untuk menjaga agar para pelanggan mendapatkan minuman dengan rasa yang terbaik.

c. PT Sinar Sosro

PT. Sinar Sosro adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teh. PT Sinar Sosro berdiri pada tahun 1974 merupakan perusahaan minuman teh siap minum dalam kemasan botol yang pertama di Indonesia dan di dunia. Perusahaan ini memproduksi minuman teh dalam botol yang bernama Teh Botol, Fruit Tea, Joy Tea dan lain-lain. Keterangan untuk produk-produk tersebut adalah sebagai berikut:

a. Teh botol Sosro menggunakan bahan baku: air, gula industri dan teh hijau yang dicampur dengan bunga melati dan bunga gambir (dikenal dengan teh wangi).

b. Fruit Tea menggunakan bahan baku yakni: air, gula industri, teh hitam dan konsentrat sari buah asli.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Struktur Pasar Industri Minuman Ringan di Indonesia

Analisis struktur industri minuman ringan di Indonesia dapat diketahui dengan melihat pangsa pasar dari perkembangan penjualan masing-masing perusahaan, konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4) dan besarnya

hambatan masuk pasar. Namun, untuk pangsa pasar dari masing-masing perusahaan minuman ringan tidak dapat ditentukan, karena adanya keterbatasan data penjualan. Untuk itu langsung melihat faktor CR4, karena CR4 diasumsikan

sebagai langkah penting pertama dalam upaya melakukan analisis persaingan. Ketiga faktor tersebut memperlihatkan bagaimana ukuran persaingan antara perusahaan-perusahaan minuman ringan Indonesia suatu pasar.

5.1.1. Analisis Rasio Konsentrasi

Konsentrasi merupakan kombinasi pangsa pasar dari perusahaan- perusahaan oligopolis dimana mereka menyadari adanya saling ketergantungan. Untuk menganalisis struktur pasar pada pembahasan ini adalah dengan menggunakan rasio konsentrasi. Pengukuran rasio konsentrasi dilakukan pada

Dokumen terkait