Pedagang Besar II
6.3. Analisis Struktur Pasar
Struktur pasar dapat juga didefinisikan sebagai karakteristik pasar. Selain itu struktur pasar di dalam proses tataniaga dianalisis berdasarkan jumlah produsen dan konsumen, sifat dari produk yang dipasarkan, kebebasan keluar-masuk pasar dan informasi harga pasar dari produk tersebut. Struktur pasar sangat mempengaruhi dalam terciptanya perilaku pasar dari masing-masing lembaga tataniaga yang terlibat dalam proses transaksi jual beli. Pada kasus tataniaga Biji Kakao produk yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu Biji Kakao kering. Selain itu petani dan lembaga tataniaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga Biji Kakao kering di Kecamatan Dagangan, Kare dan Gemarang menghadapi struktur pasar yang berbeda
59 6.3.1. Petani
Struktur pasar yang dihadapi oleh petani Biji Kakao yang berada di Kecamatan Dagangan, Kare dan Gemarang bersifat pasar persaingan sempurna karena jumlah petani yang banyak, tidak dapat mempengaruhi harga dan petani bebas untuk keluar masuk pasar. Produk petani bersifat homogen, hal ini terlihat melalui keseragaman kualitas dari produk Biji Kakao kering yang dihasilkan petani. Pada saat penelitian dilakukan jumlah petani responden Biji Kakao kering sebanyak 30 orang. Informasi harga yang dimiliki petani cukup baik. Petani tidak memerlukan biaya untuk mendapatkan informasi tentang harga. Petani mendapatkan informasi harga dari pedagang pengumpul ataupun dari petani lainnya. Sistem penentuan harga dilakukan oleh pedagang berdasarkan harga yang berlaku di pasar sehingga kedudukan petani dalam sistem tataniaga sangat lemah. Petani tidak memiliki posisi tawar yang memadai dan hanya bertindak sebagai price taker.
6.3.2. Pedagang Desa
Pedagang desa di Kecamatan Dagangan, Kare dan Gemarang dapat dikatakan memiliki jumlah sedikit dibandingkan jumlah petani. Struktur pasar pedagang desa ini termasuk ke dalam struktur pasar Oligopsoni. Karena dari segi karakteristiknya jumlah pembeli sedikit dibandingkan dengan petani
Pada umumnya pedagang pengumpul memiliki hubungan yang erat dengan petani. Setiap pedagang desa telah memiliki petani langganan,meskipun demikian petani mungkin saja menjual produk yang dihasilkannya ke pedagang desa yang bukan langganannya. Jumlah pedagang desa lebih sedikit jika dibandingkan jumlah petani. Informasi pasar diperoleh pedagang pengumpul melalui survei pasar dan dari pedagang lainnya.
6.3.3. Pedagang Kecamatan
Pedagang kecamatan memiliki karakteristik sama dengan pedagang desa, dimana jumlah pedagang kecamatan lebih sedikit sementara pedagang kecamatan sebagian membeli dari petani dan sebagian membeli dari pedagang desa. Dari struktur pasar pedagang kecamatan bisa disebut sebagai oligopsoni. Namun, pedagang kecamatan ini hanya sebagai penerima harga dari pedagang besar.
60 Sehingga untuk mempengaruhi harga pedagang kecamatan tidak mempunyai kekuatan.
6.3.4. Pedagang Kabupaten
Pedagang Kabupaten dapat disebut sebagai oligopsoni karena memiliki jumlah yang sedikit dibandingkan dengan jumlah konsumennya yang lebih banyak. Barang yang dijual sama dengan pedagang lain yaitu berupa Biji Kakao kering . Pedagang kabupaten juga sebagai penerima harga dan tidak punya kuasa dalam menentukan harga.
6.3.5. Pedagang Besar
Pedagang besar ini bisa dikatakan sebagai pembuat harga. Dimana harga yang diacu pedagang besar adalah harga yang berada di New York. Dapat dikatakan pedagang besar dalam struktur pasar termasuk oligopsoni karena jumlah pedagang lebih sedikit. Posisi pedagang besar dalam pemasaran Biji Kakao merupakan posisi tertingi di Kecamatan Dagangan, Kare dan Gemarang. Pedagang besar dalam saluran tataniaga ini ada dua macam yaitu pedagang besar yang berasal dari Blitar dan pedagang besar yang berasal dari PT. Pagilaran.
6.4. Perilaku Pasar
Perilaku pasar adalah pola tingkah laku lembaga-lembaga tataniaga yang menyesuaikan dengan struktur pasar dimana lembaga tersebut melakukan kegiatan penjualan dan pembelian serta bentuk-bentuk keputusan yang diambil dalam menghadapi struktur pasar tersebut. Perilaku pasar meliputi kegiatan pembelian dan penjualan, penentuan harga, dan kerjasama antar lembaga tataniaga
6.4.1. Paraktek Pembelian dan Penjualan
Saluran tataniaga Biji Kakao di Kecamatan Dagangan, Kare dan Gemarang diawali dari petani sebagai penghasil Biji Kakao kering. Untuk selanjutnya petani melakukan proses penjualan Biji Kakao kering ke lembaga tataniaga seperti pedagang desa, pedagang kecamatan,pedagang kabupaten dan pedagang besar. Berdasar analisis yang dilakukan petani, dapat dilihat bahwa dalam memasarkan Biji Kakao kering petani sudah berlangganan dalam memasarkan Biji Kakao kering. Sehingga dalam pembentukan saluran yang
61 terjadi di Kecamatan Dagangan, Kare dan Gemarang lebih menggambarkan hubungan berkelanjutan yang erat. Hal tersebut dapat dilihat dari hubungan petani dan pedagang, karena walaupun ada pedagang lain yang menawarkan harga yang lebih tinggi petani lebih memilih dengan harga pedagang langganannya. Namun, ada juga beberapa petani yang tidak sesuai dengan hal tersebut dimana ada petani yang memilih tawaran harga tertinggi di pedagang, hal tersebut lebih beralasan karena untuk memenuhu kebutuhan sehari-hari.
6.4.2. Sistem Penentuan Harga
Dalam penentuan harga erat kaitannya dengan permintaan dan penawaran yang terjadi pada suatu komoditas. Penentuan harga pada Biji Kakao kering dilakukan berdasarkan harga pasar yang sedang berlaku. Dimana harga tersebut berdasarka harga pasar yang berada di Blitar yang mengacu dari harga pasar berjangka. Harga Biji Kakao kering lebih cenderung stabil yaitu berada di kisaran Rp 12.000 per kilogram di tingkat petani dan Rp 20.500 per kilogramnya harga di konsumen akhir. Sehingga di lembaga tataniaga dari petani sampai dengan pedagang kabupaten disebut penerima harga dan di tingkat pedagang besar disebut sebagai penentu harga karena harga dijadikan patokan oleh pedagang berdasarkan harga dari pedagang besar.
Dalam penetapan harga beli dan harga jual Biji Kakao kering antara pedagang satu dan lainnya (yang setingkat) tidak ada kesepakatan, artinya setiap pedagang menetapkan harga jual dan harga belinya masing-masing berdasar pada nota pasar. Harga-harga tersebut tidak akan jauh berbeda, perbedaan harga hanya berkisar antara Rp 100 hingga Rp 300.
6.4.3. Sistem Pembayaran
Sistem pembayaran lima saluran tataniaga dilakukan secara tunai dengan cara petani langsung mendatangi rumah pedagang tetapi ada juga beberapa pedagang yang mendatangi petani. Namun, ditingkat pedagang kabupaten ketika menjual Biji Kakao kering ke pedagang besar tidak jarang pembayaran dilakukan dalam dua tahap yaitu pembayaran dengan sistem pembayaran setengah terlebih dahulu dari harga sejumlah banyak Kakao dan setelah tiga hari akan dibayar lunas melalui transfer ke rekening pedagang kabupaten. Sedangkan tipe pembayaran