C. Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1. Hasil Pengamatan
VIII. ANALISIS SUBSISTEM TEGAL/TALUN A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada pengairan air hujan, ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian
Talun merupakan salah satu komponen yang umum ditemukan pada agroekosistem di Jawa Barat. Talun adalah suatu tata guna lahan, dimana vegetasi yang menutupinya didominasi oleh berbagai jenis tumbuhan/tanaman berumur panjang (perennial) Talun telah lama dikenal oleh masyarakat pedesaan dan mempunyai beragam fungsi ekologi, sosial, dan ekonomi.
Hampir sama dengan subsistem tegal. Perbedaan antara tegal dan talon hanya pada luasnya saja. Pekarangan itu sendiri adalah bentuk pertanian dengan memanfaatkan pekarangan halaman sekitar rumah. Biasanya lahan pertanian pekarangan diberi batas/pagar. Jenis tanaman yang diusahakan pada lahan ini antara lain jagung, kedelai, kacang tanah, sayur-sayuran, kelapa dan buah-buahan. Cara bertanam saja hanya memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah (biasanya dimiliki oleh penduduk desa). Namun memiliki tanaman yang jenis keanekaragaman tinggi
2. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum agroekologi acara analisis subsistem tegal/talun adalah untuk mempelajari dan menganalisis subsistem tegal/talun.
B. Tinjauan Pustaka
Talun juga bisa disebut tegal pekarangan karena tanamannya menyerupai tanaman yang berada di tegal yang hanya memperoleh sedikit
air. Namun perbedaannya hanya pada luasnya saja. Talun lebih sempit dikarenakan lahan keringnya hanya pada pekarangan di sekitar rumah (biasanya dimiliki oleh penduduk pedesaan yang masih memiliki pekarangan yang cukup luas). Cara bertaninya hanya memanfaatkan kebun atau pekarangan yang ada di sekeliling rumah. Biasanya talun ditanami tanaman rumahan (yang diperlukan untuk memasak dan kebutuhan sendiri sehari-hari) seperti sayur (cabai, terong, bayam, sawi), buah-buahan (mangga, jambu biji, jambu air, sawo, rambutan, nangka, durian), tanaman apotek hidup (jahe, kencur, kunci, temulawak, lengkuas, kunyit) dan bunga-bunga, biasanya ada juga yang diberi tanaman tahunan untuk peneduh (Anonima 2006).
Talun (tegal pekarangan) adalah salah satu sistem agroforestry yang khas, ditanami dengan campuran tanaman tahunan/kayu (perennial) dan tanaman musiman (annual), dimana strukturnya menyerupai hutan, secara umum ditemui di luar pemukiman dan hanya sedikit yang berada di dalam pemukiman (Yanto 2008).
Talun memiliki beberapa sistem, yaitu : a. Di lahan kering
b. Pengelolaan masih rendah
c. Terdapat tanaman campuran baika tahunan maupun musiman (Zulparmaidi 2009).
Tegal pekarangan juga hampir sama seperti tegal, namun perbedaannya hanya pada luasnya saja. Talun lebih sempit dikarenakan lahan keringnya hanya pada pekarangan di sekitar rumah (biasanya dimiliki oleh penduduk pedesaan yang masih memiliki pekarangan yang cukup luas). Cara bertaninya hanya memanfaatkan kebun atau pekarangan yang ada di sekeliling rumah. Biasanya talun ditanami tanaman rumahan (yang diperlukan untuk memasak dan kebutuhan sendiri sehari-hari) seperti sayur (cabai, terong, bayam), buah-buahan (mangga, jambu biji, jambu air, sawo, rambutan), tanaman apotek hidup (jahe, kencur, kunci, temulawak, lengkuas, kunyit) dan bunga-bunga (Sumardi 2007).
Tegal pekarangan merupakan lahan yang letaknya disekitar pemukiman. Di subsistem tegal ini sistem pengairan mengandalkan curah hujan namun sudah ada campur tangan dari manusia. Tanaman yang biasanya ditanam berupa padi gogo, tanaman palawija dan tanaman pangan. (Adi 2001).
Tegal merupakan suatu lahan yang kering (dry farming) tanpa adanya pengairan. Tegalan biasanya kering dan agak tandus. Pertanian tegalan dikerjakan secara tetap dan intensif dengan bermacam-macam tanaman secara bergantian (crop rotation) antara palawija (seperti jagung, kacang tanah, ketela pohon) dan padi gogorancah. Untuk menyuburkannya, biasanya tanah ditanami orok-orok (Crotalaria striata) sebagai pupuk hijau. Peningkatan pupuk hijau mampu menambah produktivitas lahan tegalan. Biasanya ditegalan penanamannya tumpangsari antara tanaman jenis satu dengan yang lainnya (Anonimb 2005)
C. Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1. Hasil Pengamatan
a. Subsistem tegal 1. Profil Tempat
a) Alamat : Ngrunten, Kuntukrejo, Ngargoyoso b) Longitude dan Latitude : 111˚ 06’ 43,2” BT 07˚ 37’ 14,9” LS c) Kemiringan lereng : 2 %
d) Tinggi tempat : 873 feet e) Intensitas Cahaya : 55600 lux
f) Luas : 0,15 Ha g) Batas : Utara : Jalan Timur : Tegal Selatan : Tegal Barat : Tegal h) Kelembaban Tanah : 60 % i) Suhu Udara : 300C j) Kelembaban Udara : 42 %
k) pH Tanah : 7 l) Denah pola tanam :
2. Pengelolaan tanah : Intensif , pola tanam (multikultur 10 x 25cm)
3. Input : Bibit sayuran, Pupuk (kandang, phonska, urea, NPK), Pestisida (fungisida ditanah, larutan)
4. Output : Sayuran 5. Siklus hara/rantai makanan : Terbuka b.Subsistem talun
1. Profil Tempat
a) Alamat : Depok, Bangsri, Karangpandan b) Longitude dan Latitude : 111˚ 01’ 16,2” BT 07˚ 37’ 08,2” LS c) Kemiringan lereng : 20 %
d) Tinggi tempat : 378 feet e) Intensitas Cahaya : 3710 lux
f) Luas : 0,2 Ha
g) Batas :
Utara : Sawah Timur : Kebun Tebu Selatan : Rumah Warga Barat : Jalan
h) Kelembaban Tanah : 40 % i) Suhu Udara : 300C
j) Kelembaban Udara : 44 % k) pH Tanah : 7 l) Denah pola tanam :
2. Pengelolaan tanah : Ekstensif, Pola tanam (multikultur),
3. Input :
4. Output : Buah, kayu, makanan ternak, seresah
5. Siklus hara/rantai makanan : Tertutup 2. Pembahasan
a. Sub Sistem Talun
Areal talun ini terletak di desa Depok, Bangsri, Karangpandan. Memiliki luas 2000m2. Areal ini berada pada posisi lintang 070 37’ 08,2” LS dan bujur 1110 0,1’ 16,2” BT. Memiliki kemiringan 20%. Ketinggian tempat 378 feet. Daerah ini memiliki kelembaban tanah serta udara berturut-turut sebesar 40% dan 44%. Memiliki suhu udara 300C dengan pH tanah 7. Memiliki intensitas cahaya sebesar 3710 lux.
Pada talun tidak diperbanyak tanaman musiman. Pola tanamnya campuran terdapat tanaman jati, sengon laut, ketela pohon, akasia dll. Tanaman musiman hanya terdapat beberapa saja seperti kacang panjang. Talun didominasi oleh sengon laut, pisang, dan jati. Jarak tanam ada yang teratur dan tidak beraturan. Pengolahan tanah di talun adalah secara ekstensif, karena setelah tanam tanamanya tidak dirawat setiap hari. Di
dalam sebuah talu terdapat diversitasnya tanaman yang beragam atau tinggi sehingga stabilitas dan resiliensinya pun tinggi, maksudnya tidak mudah terserang hama atau penyakit, meskipun tidak dirawat secara intensif.
Siklus hara berdasarkan rantai makanan tergolong alami/ tertutup karena tanah dibiarkan tidak diolah secara teknis, pupuk dari seresah pohon-pohon besar yang terdekomposisi menjadi bahan organik. Outputnya adalah buah, kayu, daun, yang dipakai sendir dan juga untuk pakan ternak.
b. Sub Sistem Tegal
Areal tegal yang terletak di desa Ngrunten, Kuntukrejo, Ngargoyoso. Areal ini memiliki luas 1500 m2. Berada pada posisi lintang 070 37’14,9” LS dan bujur 1110 06’43,2” BT. Mempunyai kemiringan 2%, ketinggian tempat 873 feet, tanah memiliki pH 7. Tegal ini memiliki kelembaban udara serta tanah bertutut-turut sebesar 42% dan 60%. Memiliki suhu udara 300C, dan intensitas cahayanya sebesar 55600 lux.
Tegal adalah suatu lahan yang kering (dry farming) yang pengairannya tidak teratur dan terkadang mengandalkan air hujan sehingga tingkat kelembabannya rendah. Penerapan pola tanam pada tegalan ini adalah monokultur dengan jenis tanaman yang diusahakan (dominasi) adalah tanaman musiman yaitu tanaman sayuran seperti seledri, buncis, bayam, wortel dll. Jarak tanam teratur sekitar 10x 25 cm. pH tanahnya juga cukup netral sehingga cocok untuk lahan pertanian. Meskipun pada subsistem tegalan, pola tanamnya monokultur tetapi diversitas/keanekaragaman di sekitar tegalan tidak terlalu rendah. Dalam subsistem tegalan ini memiliki diversitas/keanekaragaman yang cukup tinggi dan sudah dapat dipastikan stabilitas dan resiliensi juga tinggi (tidak rentan terhadap gangguan hama atau penyakit). Sehingga tidak ada penggunaan pestisida berlebih.
Siklus haranya siklik atau terbuka masih menggunakan pupuk dan fungisida dari luar. Hasil outputnya berupa sayuran yang bisa dikonsumsi sendiri dan dijual. Sisa tanamanya bisa digunakan untuk pakan ternak.
Perbedaan tegal dan pekarangan selain dari jarak tegal yang sedikit lebih jauh dari rumah pemiliknya, juga pada pemanfaatan outputnya. Pada tegal hasilnya dijual, karena pada umumnya tegal lebih luas daripada pekarangan. Sedangkan pada pekarangan hasilnya lebih variatif dan digunakan untuk kebutuhan sehari – hari.
DAFTAR PUSTAKA
Adi. 2001. Pekarangan. www.pustaka-deptan.go.id. Diakses pada tanggal 3 November 2011
Anonima. 2006. Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering. Jurnal Lingkungan. 25 (4):17-23.
______b. 2005. Sumber Daya Lahan Pertanian. Jurnal Agrosains 1(1) : 66-67. Balitbang. Bogor
Sumardi dan Satino, 2007. Keragaman dan Analisis Pengkajian Sistem Usaha Tani Berbasis Padi di Kabupaten Lamongan.Jurnal Teknologi dan Informasi. 3(1): 43-47
Zulparmaidi, T. 2009. Bahan Kuliah Mata Ajaran Ekologi Umum. Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Program Pascasarjana IPB. Bogor.
IX. ANALISIS SUBSISTEM PEKARANGAN