• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sumber Pendapatan Daerah Tahun Rencana

Dalam dokumen GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Halaman 151-156)

Bab III Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah Dan Kebijakan Keuangan

3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

3.2.3. Analisis Sumber Pendapatan Daerah Tahun Rencana

Sumber pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah. Rincian sumber pendapatan daerah tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pajak Daerah terdiri dari Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan.

b. Retribusi Daerah terdiri dari Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan Retribusi Perizinan Tertentu.

c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan terdiri dari Bagian Laba Atas Penyertaan Modal pada Perusahaan Milik Daerah, Bagian Laba Atas Penyertaan Modal pada Perusahaan Patungan/Milik Swasta, dan Bagian Laba Lembaga Keuangan Non Bank.

d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah terdiri dari Hasil Penjualan Aset Daerah yang tidak Dipisahkan, Penerimaan Jasa Giro, Penerimaan Bunga Deposito, Pendapatan Denda Retribusi, Pendapatan dari Kerjasama Penyelenggaraan Diklat, Pemakaian Barang Milik Daerah, Lain-lain, dan Pendapatan Usaha BLUD.

2. Dana Perimbangan, terdiri dari:

a. Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak merupakan bagian dana perimbangan untuk mengatasi masalah ketimpangan vertikal (antara Pusat dan Daerah) yang dilakukan melalui pembagian hasil antara Pemerintah Pusat dan Daerah penghasil, dari sebagian penerimaan perpajakan. Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Penghasilan Orang Pribadi dan Bagi Hasil Sumberdaya Alam.

b. Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana transfer yang bersifat umum (block grant) untuk mengatasi masalah ketimpangan horizontal (antar Daerah) dengan tujuan utama pemerataan kemampuan keuangan antar Daerah. Jumlah DAU setiap daerah propinsi dipengaruhi oleh jumlah keseluruhan DAU untuk daerah propinsi, bobot daerah propinsi yang bersangkutan dan jumlah bobot dari seluruh daerah propinsi. c. Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari

pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

3. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah, terdiri dari:

a. Hibah, terdiri dari Pendapatan Hibah dari Pemerintah, Pendapatan Hibah dari Badan/Lembaga/Organisasi Swasta Dalam Negeri seperti sumbangan dari Dealer/Main Dealer Otomotif, dan PT. Jasa Raharja. b. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus.

Analisis pendapatan daerah dilakukan melalui tahapan:

Di bawah ini tergambar proporsi dari setiap sumber pendapatan daerah yang paling dominan kontribusinya. Paling besar kontribusi terhadapat Pendapatan Daerah dari tiga tahun terakhir adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah. Secara rinci sumbangan PAD dari sector Pajak Daerah masih menjadi unggulan diikuti dengan penerimaan Dana Alokasi Umum (DAU) dari Pusat. Kondisi ini menggambarkan bahwa Pemerintah Provinsi DIY sudah mampu memenuhi kebutuhan pendapatannya secara mandiri melalui kinerja Pajak Daerah.

Tabel III.3.2.5

Prosentase Sumber Pendapatan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

No Uraian Tahun 2010 (%) 2011 (%) 2012 (%) 1 PENDAPATAN

1.1. Pendapatan Asli Daerah

53.86 53.93 42.74 1.1.1. Pajak Daerah

46.19 45.94 36.86 1.1.2. Retribusi Daerah

2.39 2.11 1.86 1.1.3. Hasil pengelolaan keuangan Daerah

Yang Dipisahkan

1.92 1.81 1.64 1.1.4. Lain-Lain PAD yang sah 3.37 4.06 2.38 1.2. Dana Perimbangan

45.60 45.14 42.87 1.2.1. Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan

Pajak

6.39 5.13 3.75 1.2.2. Dana Alokasi Umum

38.38 38.79 38.16 1.2.3. Dana Alokasi Khusus

0.83 1.22 0.96 1.3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah

0.53 0.93 14.40 1.3.1 Hibah

0.38 0.36 0.32 1.3.2 Dana Darurat 1.3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan

Pemerintah Daerah Lainnya 1.3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus

0.15 0.57 14.08 1.3.5 Bantuan Keuangan….. dari Provinsi atau

Pemerintah Daerah Lainnya

b. Analisis Kinerja Realisasi Pendapatan Daerah

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan realisasi setiap objek pendapatan daerah yaitu dengan membandingkan antara yang dianggarkan dalam perubahan APBD dengan realisasi pendapatan daerah pada tahun anggaran berkenaan. Analisis dilakukan dengan mengisi tabel kinerja realisasi pendapatan dibawah ini.

Tabel III.3.2.6

Kinerja Realisasi Pendapatan Daerah

No Uraian Kinerja (%) 2010 (%) 2011 (%) 2012 (%) 1 PENDAPATAN 7.76 9.49 0.43 1.1. Pendapatan Asli Daerah 15.86 16.74 1.00 1.1.1. Pajak Daerah 17.61 15.20 1.00 1.1.2. Retribusi Daerah 4.05 4.23 1.00 1.1.3. Hasil pengelolaan keuangan Daerah Yang Dipisahkan (2.30) (0.82) 1.00 1.1.4. Lain-Lain PAD yang sah 13.76 64.87 1.00 1.2. Dana Perimbangan (0.20) 1.00 0.00 1.2.1. Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak (1.43) 9.58 0.00 1.2.2. Dana Alokasi Umum 0.00 0.00 0.00 1.2.3. Dana Alokasi Khusus 0.00 0.00 0.00 1.3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah (12.71) 109.90 0.02 1.3.1 Hibah 16.24 15.45 1.00 1.3.2 Dana Darurat 1.3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah

Daerah Lainnya 1.3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus (46.20) 337.69 0.00 1.3.5 Bantuan Keuangan….. dari Provinsi atau Pemerintah

Daerah Lainnya

Tabel di atas menunjukkan bahwa kinerja realisasi pendapatan daerah yang terburuk adalah dari sisi pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. Hal ini dikarenakan optimalisasi terhadapat pengelolaan

BUMD belum sepenuhnya dapat berjalan dengan baik. Oleh karenanya kebijakan dalam pembenahan BUMD yang termasuk di dalamnya kemungkinan adanya penyuntikan modal perlu diperhatikan dengan lebih seksama. Agar ke depan BUMD dapat mandiri dan perlahan mengurangi ketergantungan dari APBD.

c. Analisis proyeksi pendapatan daerah

Dalam analisis ini dilakukan berdasarkan pada data dan informasi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan pendapatan daerah, antara lain:

1. Angka rata-rata pertumbuhan pendapatan daerah masa lalu.

2. Asumsi indikator makro ekonomi (PDRB/laju pertumbuhan ekonomi,

inflasi dan lain-lain)

3. Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah, khususnya

untuk masing-masing komponen PAD.

4. Kebijakan dibidang keuangan negara.

Proyeksi pendapatan terlihat dalam tabel sebagai berikut. Tabel III.3.2.7

Proyeksi Pendapatan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

No Uraian Proyeksi Tahun 2013 (Rp)

1 PENDAPATAN 1,942,887,646,347 1.1. Pendapatan Asli Daerah

807,342,534,373 1.1.1. Pajak Daerah

705,943,350,213 1.1.2. Retribusi Daerah

32,295,589,500 1.1.3. Hasil pengelolaan keuangan Daerah Yang Dipisahkan

31,785,000,000 1.1.4. Lain-Lain PAD yang sah

37,318,594,660 1.2. Dana Perimbangan

850,513,085,724 1.2.1. Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak

74,403,649,724 1.2.2. Dana Alokasi Umum

757,056,696,000 1.2.3. Dana Alokasi Khusus

19,052,740,000 1.3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah

No Uraian Proyeksi Tahun 2013 (Rp) 1.3.1 Hibah 5,750,086,250 1.3.2 Dana Darurat - 1.3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya

- 1.3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus

279,281,940,000 1.3.5 Bantuan Keuangan….. dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya

-

Dalam dokumen GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Halaman 151-156)

Dokumen terkait