5.3 Strategi Pengembangan Ekowisata
5.3.1 Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan suatu analisis kualitatif yang digunakan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk memformulasikan strategi suatu kegiatan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang suatu kegiatan, yang secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman (Rangkuti 2006).
Dampak kegiatan ekowisata terhadap masyarakat lokal dan kawasan HLGL dapat dianalisa dengan analisis SWOT, dapat digolongkan kedalam faktor eksternal (peluang dan ancaman) atau dapat dikatakan dampak secara langsung. Sedangkan dampak secara tidak langsung digolongkan kedalam faktor internal (kekuatan dan kelemahan). Kedua faktor tersebut memberikan dampak positif yang berasal dari peluang dan kekuatan dan dampak negatif yang berasal dari ancaman dan kelemahan. Dengan menggunakan matrik internal dan esternal, maka dapat diberikan bobot dan rating pada parameter yang telah ditentukan, sehingga akan diperoleh nilai (skor). Nilai ini yang akan memberikan arahan tentang prospek kedepan untuk pengembangan ekowisata guna memperoleh konsep strategi pengembangan ekowisata di kawasan HLGL.
Hutan Lindung Gunung Lumut (HLGL) manajemen unit analisisnya adalah Hutan Lindung oleh Dinas Kehutanan. Gunung Lumut sebagai salah satu kawasan hutan lindung di Indonesia mempunyai fungsi pokok seperti yang tercantum pada Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 6 ayat 2 menyebutkan bahwa hutan di Indonesia berdasarkan fungsi pokoknya dimana hutan lindung adalah sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi dan memelihara kesuburan tanah.
Selanjutnya, Pasal 26 Ayat 1 dari Undang-Undang tersebut menyatakan bahwa, yang dimaksud dengan pemanfaatan hutan lindung dapat berupa pemanfaatan jasa lingkungan dan pemungutan hasil hutan bukan kayu. Salah satu bentuk pemanfaatan jasa lingkungan pada kawasan hutan lindung adalah pemanfaatan untuk wisata alam terutama minat khusus (ekowisata) yang harus dilakukan secara bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat lokal dan pelestarian lingkungan.
Saat ini HLGL sementara diusulkan oleh Dinas Kehutanan untuk perubahan status menjadi taman nasional. Namun sampai saat dilakukan penelitian masih tetap dengan status hutan lindung yang tetap berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 24 Kpts/UM/I/1983. Kebijakan pemerintah Kabupaten Paser untuk merubah HLGL menjadi Taman Nasional diharapkan akan
memberi dukungan yang signifikan dalam memanfaatkan potensi wisata di kawasan HLGL.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) merupakan lembaga pemerintah daerah yang bertugas mengumpulkan semua data dan program yang direncanakan oleh semua instansi-instansi pemerintah di wilayah Kabupaten Paser. Bappeda merencanakan pembangunan wilayah Kabupaten Paser dalam skala makro di semua bidang kerja Kabupaten Paser termasuk bidang kehutanan. Hasil yang didapat oleh Bappeda dituangkan dalam bentuk program perencanaan daerah (Propeda) dan juga dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten. Melalui Propeda dan RTRW, Bappeda menuangkan apa yang menjadi keinginan dari masing-masing instansi pemerintah kabupaten dengan tujuan untuk menciptakan kesinergian dan agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan masing-masing instansi.
Wewenang Bappeda berdasarkan Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) Bappeda No. 14 tahun 2002 tentang fungsi Bappeda Kabupaten Paser adalah sebagai lembaga koordinatif dengan perencanaan daerah pada seluruh sektor (Nooryashini et. Al., 2004).
Sebagai unit pelaksana teknis Departemen Kehutanan Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur yang mempunyai tugas pokok untuk mengelola kawasan hutan lindung. Struktur organisasi pengelolaan HLGL sampai saat ini masih berada di bawah Dinas Kehutanan yang berkedudukan di Kabupaten Paser dan secara langsung ditangani oleh Sub Dinas Perlindungan Hutan dan Pengendalian Kebakaran Hutan yang memiliki tugas membantu Kepala Dinas dalam melaksanakan sebagian tugas bidang perlindungan dan pengendalian kebakaran hutan sesuai dengan kebijaksanaan teknis yang telah ditetapkan. Dengan demikian pelaksanaan yang menjaga dalam mengelola HLGL untuk jaga wananya hanya dua orang.
Sementara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mempunyai tugas membuat program mempromosikan dan mengelola potensi ekowisata di kawasan HLGL serta budaya masyarakat lokal di sekitar HLGL. Dinas ini secara teknis juga mengkordinasikan pengelolaannya dengan berbagai stakeholder untuk mendukung program pengembangan ekowisata.
Selanjutnya stakeholder seperti litbang, perguruan tinggi dan LSM seperti TBI-Indonesia dan Cifor mendukung pengembangan program dalam aspek penelitian dan pengembangan serta pendanaan dan manajemen pengelolaan. Dengan demikian, program pengembangan ekowisata di kawasan HLGL dapat lebih tepat sasaran terutama bagi wisatawan manca negara.
Personil yang ikut dilibatkan dalam jalinan kemitraan tersebut yang terkait dengan HLGL dalam menggali potensi sumberdaya hutan (SDH) di dalam HLGL untuk pengembangan sumberdaya masyarakat (SDM). Dinas kebudayaan dan pariwisata memberikan informasi kepada khalayak. Bappeda dalam hal perencanaan program untuk mendukung ekowisata. Lembaga penelitian dan pengembangan (Litbang), Unmul, CIFOR dan TBI (Tropenbos International Indonesia), merupakan stakeholder yang dijadikan mitra kelembagaan untuk mendukung pengembangan ekowisata baik dalam hal penelitian, pengembangan, sosialisasi maupun dukungan pendaanaan dan manajemen.
Berdasarkan uraian sebelumnya, faktor supply, demand, dan faktor penunjang maka faktor-faktor tersebut dapat di identifikasi dari faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) dalam pengelolaan dan pengembangan ekowisata HLGL maka:
a. Kekuatan (Strengths)
1. Tingginya nilai potensi ekologis dan estetika karena Hutan Lindung Gunung Lumut mempunyai keanekaragaman hayati berupa lumut yang tidak dimiliki di tempat lain dan mempunyai keindahan yang sangat luar biasa.
2. Terjalinnya kerjasama dengan mitra seperti lembaga penelitian dan pengembangan (Litbang), Unmul, CIFOR dan TBI (Tropenbos International Indonesia), merupakan stakeholder yang dijadikan mitra kelembagaan untuk mendukung pengembangan ekowisata baik dalam hal penelitian, pengembangan, sosialisasi maupun dukungan pendanaan dan manajemen.
3. Kebijakan Pemda terhadap konservasi didukung oleh peraturan perundang- undangan di tingkat nasional seperti undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi alam hayati dan ekosistemnya; Undang-undang nomor
41 tahun 1999 tentang kehutanan. Kemudian dijabarkan di dalam kebijakan pemerintah daerah yang dijabarkan oleh instansi terkait.
b. Kelemahan (Weaknesses)
1. Jumlah dan kualitas SDM Belum memadai karena keterampilan masyarakat sekitarnya masih kurang sehingga pengendalian potensi belum
dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
2. Terbatasnya sumber dana karena alokasi baik dari pusat maupun di daerah belum ada karena masih dalam tahap perencanaan.
3. Sarana dan prasarana kurang memadai berupa ketersediaan fasilitas dan pelayanan yang belum ada/masih sangat minim (toilet, tempat sampah, papan penunjuk arah, tempat informasih, tempat parkir, hotel dan restoran). 4. Data dan informasi potensi belum bisa diakses, dimana masih sulit untuk
memperoleh informasi secara detail mengenai potensi yang dimiliki HLGL untuk promosi wisata.
c. Peluang (Opportunities)
1. Adanya dukungan masyarakat berupa pemahaman, persepsi dan keinginan untuk berpartisipasi terhadap pengembangan ekowisata pada kawasan HLGL serta dukungan stakeholders lainnya seperti Litbang, LSM, Perguruan Tinggi, dan lembaga donor.
2. Peluang peningkatan PAD yang berasal dari pajak dan retribusi yang bersumber dari kegiatan ekowisata bagi pemerintah setempat.
3. Minat masyarakat sudah mulai ada.
4. Program Disbudpar Kabupaten Paser memperkenalkan budaya masyarakat lokal.
5. Kesediaan mitra untuk membantu dalam pemasaran melalui pameran, forum seminar dan melalui biro perjalanan wisata baik tingkat lokal, nasional dan internasional.
d. Ancaman (Threats)
1. Degradasi hutan yang menyebabkan kualitas dan daya tarik obyek wisata berkurang yang diakibatkan berbagai kegiatan manusia yang sifatnya negatif terhadap alam sekitarnya.
2. Krisis ekonomi yang mempengaruhi pendapatan masyarakat, sehingga sumberdaya hutan menjadi tempat eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
3. Pemahaman masyarakat terhadap ekowisata masih sangat rendah tetapi dengan tidak mengurangi dukungan mereka terhadap pengembangan ekowisata tersebut.
4. Aksesibilitas jalan menuju ke dalam lokasi kawasan HLGL masih sulit, karena ketersediaan sarana transportasi kurang serta kondisi jalan yang sebagian kurang baik.