BAB II LANDASAN TEORI
5. Analisis Du Pont System
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan PT Mestika Sakti Medan beserta faktor-faktor penyebab turunnya penjualan, total aktiva, dan laba bersih perusahaan yang diukur menggunakan analisis Du Pont System. Du Pont System merupakan alat ukur kinerja keuangan yang mencakup rasio aktivitas yakni Total Assets Turnover dan rasio profitabilitas yakni Net Profit Margin untuk menentukan tingkat pengembalian atas aktiva yang dimiliki perusahaan (Return On Assets). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, dengan jenis data penelitian berupa data kuantitatif dan sumber data yakni data sekunder. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dokumentasi dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keuangan PT Mestika Sakti Medan yang dianalisis menggunakan Du Pont System berdasarkan laporan keuangan tahun 2012-2017 mengalami penurunan, terlihat dari nilai pengembalian atas aktiva atau ROA yang cenderung mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh penurunan NPM dan TATO yang mempengaruhi nilai ROA. Adapun penurunan laba bersih perusahaan disebabkan oleh kurang maksimalnya pemanfaatan aktiva perusahaan dalam melakukan penjualan serta kurangnya pengendalian biaya-biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan penjualan sehingga keuntungan yang dihasilkan dari perbandingan nilai laba bersih dengan total aktiva cenderung kecil.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya berupa kemudahan dan kelancaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dalam rangka memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Akuntansi pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Skripsi ini penulis beri judul “Analisis Du Pont System dalam Mengukur Kinerja Keuangan PT Mestika Sakti Medan”.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapat pengalaman berharga, juga suka duka serta kesulitan yang dihadapi. Namun semuanya dapat teratasi dengan baik dan dijadikan sebagai proses pembinan diri berkat banyak bantuan yang penulis terima dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua tercinta, Azwar dan Rosmawarni, serta adik semata wayang, Safira Nur Fadhilla, yang telah memberi motivasi, doa dan dukungan baik materiel maupun imateriel, serta pengorbanan yang sangat besar kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.
2. Bapak Dr. Agussani, M.AP selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
3. Bapak Januri, S.E., M.M., M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
4. Bapak Ade Gunawan, S.E., M.Si selaku Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara 5. Ibu Fitriani Saragih, S.E., M.Si selaku Ketua Program Studi Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
6. Ibu Zulia Hanum, S.E., M.Si selaku Sekretaris Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
7. Bapak Pandapotan Ritonga, S.E., M.Si selaku Dosen Penasihat Akademik sekaligus Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberi saran, bimbingan serta mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat tersusun dengan baik dan selesai tepat waktu.
8. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen, Pegawai serta Staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang telah mengajar dan membantu penulis hingga dapat menyelesaikan perkuliahan.
9. Bapak Sumitro Djoko, selaku Pemimpin PT Mestika Sakti Medan Medan yang memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di perusahaan terkait.
10. Seluruh Staf Keuangan PT Mestika Sakti Medan yang telah banyak membantu penulis selama melaksanakan penelitian.
11. Teman-teman seperjuangan di kelas A-Akuntansi Malam 2015 yang telah berbagi ilmu dan suka duka selama menjalani perkuliahan.
12. Yang tersayang, Juliyandi dan Elja Salwa atas segala saran, dukungan serta semangat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan senang hati penulis menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata, seraya berserah diri dengan memohon ridho Allah SWT, penulis persembahkan skripsi ini sebagai sumbangsih bagi kita semua. Semoga bermanfaat adanya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Medan, Februari 2019 Penulis ARIFA HANIM NPM: 1505170045
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... (1)
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Rumusan Masalah ... 6
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
1. Tujuan Penelitian ... 6
2. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II LANDASAN TEORI A. Uraian Teoritis ... 8
1. Kinerja Keuangan ... 8
a. Pengertian Kinerja Keuangan ... 8
b. Tujuan Kinerja Keuangan ... 9
c. Manfaat Kinerja Keuangan ... 9
2. Laporan Keuangan ... 10
a. Pengertian Laporan Keuangan ... 10
b. Tujuan Laporan Keuangan ... 10
c. Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan ... 11
d. Pengguna Laporan Keuangan ... 12
3. Analisis Laporan Keuangan ... 13
a. Pengertian Analisis Laporan Keuangan ... 13
b. Tujuan Analisis Laporan Keuangan ... 14
c. Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan ... 16
4. Analisis Rasio Keuangan ... 18
b. Macam-Macam Rasio Keuangan ... 20
c. Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan ... 23
5. Analisis Du Pont System ... 24
a. Pengertian Du Pont System ... 24
b. Kelebihan Du Pont System ... 26
c. Bagan Du Pont System ... 27
d. Return On Assets (ROA) ... 29
e. Net Profit Margin (NPM) ... 31
f. Total Assets Turnover (TATO) ... 32
B. Penelitian Terdahulu ... 34
C. Kerangka Berpikir ... 35
BAB III METODE PENLEITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 37
B. Definisi Operasional Variabel ... 37
C. Tempat dan Waktu Penelitian ... 38
1. Tempat Penelitian ... 38
2. Waktu Penelitian ... 39
D. Jenis dan Sumber Data ... 39
1. Jenis Data ... 39
2. Sumber Data ... 39
E. Teknik Pengumpulan Data ... 40
F. Teknik Analisis Data ... 40
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 42
1. Gambaran Umum PT. Mestika Sakti Medan ... 42
2. Analisis Du Pont System... 43
a. Analisis Net Profit Margin ... 44
b. Analisis Total Assets Turnover ... 46
c. Analisis Return On Assets ... 49
1. Kinerja Keuangan PT. Mestika Sakti Medan Diukur dengan Analisis Du Pont System ... 52 2. Faktor Penyebab Penurunan Total Aktiva, Penjualan, dan Laba Bersih
PT. Mestika Sakti Medan ... 52 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 55 B. Saran ... 56 DAFTAR PUSTAKA ... 58
DAFTAR TABEL
I-1 Tabulasi Total Aktiva, Penjualan, Laba Bersih PT. Mestika Sakti
Medan Tahun 2012-2017 ... 3
II-1 Penelitian Terdahulu ... 34
III-1 Waktu Penelitian ... 39
IV-1 Data Keuangan Terkait Analisis Du Pont pada PT. Mestika Sakti Medan Tahun 2012-2017 ... 43
IV-2 Data Net Profit Margin Tahun 2012-2017 ... 44
IV-3 Data Total Assets Turnover Tahun 2012-2017 ... 47
DAFTAR GAMBAR
II-1 Proses Akuntansi dan Analisis Laporan Keuangan ... 14
II-2 Hubungan ROA, Perputaran Aset, dan Margin Laba ... 25
II-3 Bagan Du Pont ... 28
II-4 Pemisahan Komponen ROA ... 30
II-5 Kerangka Berpikir ... 36
IV-1 Grafik Net Profit Margin Tahun 2012-2017 ... 45
IV-2 Grafik Total Assets Turnover Tahun 2012-2017 ... 48
IV-3 Grafik Return On Assets Tahun 2012-2017 ... 50
IV-4 Grafik NPM, TATO, dan ROA PT. Mestika Sakti Medan Tahun 2012-2017 ... 51
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kinerja keuangan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya dapat diukur dengan menganalisis dan mengevaluasi laporan keuangan untuk melihat kinerja keuangan perusahaan secara menyeluruh sehingga dapat dijadikan sebagai dasar penentuan strategi operasional perusahaan untuk masa yang akan datang. Melalui analisis laporan keuangan dapat diketahui keberhasilan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional serta sebagai penilaian prestasi kerja seluruh bagian yang ada di perusahaan.
Menurut Fahmi (2012) menyatakan “Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.”
Penilaian kinerja keuangan perusahaan sangat penting dilaksanakan untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan perusahaan karena dapat menggambarkan bagaimana penggunaan aktiva dalam menjalankan operasional guna meningkatkan pendapatan. Informasi tentang kinerja keuangan juga digunakan untuk menilai perubahan potensial sumber daya yang dimiliki perusahaan serta dapat dapat dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk meningkatkan nilai perusahaan di masa yang akan datang, sekaligus merupakan faktor penting dalam proses pengambilan keputusan.
Alat ukur yang dapat digunakan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan dari sisi penggunaan aktiva dalam menjalankan operasional untuk meningkatkan pendapatan adalah analisis Du Pont System. Du Pont merupakan pengusaha sukses yang memiliki cara sendiri dalam menganalisis laporan keuangan perusahaannya. Cara tersebut sebenarnya hampir sama dengan analisis laporan keuangan biasa, namun pendekatannya lebih integratif dengan menggunakan komponen dari dua bagian laporan keuangan sebagai elemen analisisnya.
Du Pont System dinyatakan sebagai alat ukur kinerja keuangan yang
komprehensif karena mampu secara langsung menguraikan neraca dan laba rugi, serta bagaimana hubungan pos-pos laporan keuangan tersebut sampai mendetail dan menganggap penting angka Return On Assets (ROA). Analisis Du Pont bersifat menyeluruh karena mencakup penilaian terhadap peputararan total aktiva sekaligus dapat mengukur tingkat keuntungan atas penjualan perusahaan.
Menurut Hani (2014, hal. 81) “Analisis Du Pont System menguraikan ukuran kinerja perusahaan ditinjau dari kemampuan perusahaan pada tingkat pengembalian ROI dan ROE. ROI atau disebut juga Return On Assets merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja dilihat dari seberapa besar kemampuan perusahaan memberikan pengembalian atas investasi yang ditanamkan.”
Analisis Du Pont menggabungkan rasio aktivitas yakni perputaran aktiva atau disebut Total Assets Turn Over (TATO) dengan rasio profitabilitas yakni margin laba bersih atau disebut Net Profit Margin (NPM) untuk menunjukkan bagaimana keduanya berinteraksi dalam menentukan pengembalian aktiva yang
dimiliki perusahaan atau disebut Return On Assets (ROA). Dapat dikatakan bahwa analisis Du Pont System tidak hanya berfokus pada laba yang dicapai, tetapi juga pada seluruh aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba.
Perkembangan dunia usaha dan permasalahan ekonomi yang semakin kompleks berpengaruh pada persaingan di berbagai sektor industri, termasuk sektor industri farmasi baik produsen maupun para distributor yang mengalami penurunan pertumbuhan usaha. Salah satu di antaranya adalah PT. Mestika Sakti Medan sebagai perusahaan distributor farmasi yang berdasarkan laporan keuangan perusahaan memperlihatkan kondisi total aktiva mengalami fluktuasi, sedangkan penjualan dan laba bersih mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir.
Berikut ini adalah tabulasi total aktiva, penjualan, dan laba bersih PT. Mestika Sakti Medan berdasarkan laporan keuangan tahunan perusahaan tahun 2012-2017.
Tabel I-1. Tabulasi Total Aktiva, Penjualan, dan Laba Bersih PT. Mestika Sakti Medan Tahun 2012-2017
No Tahun Total Aktiva Penjualan Laba Bersih
1 2012 Rp 52,905,582,723 Rp 164,895,507,779 Rp 318,560,625 2 2013 Rp 50,991,424,888 Rp 157,804,927,320 Rp 250,561,866 3 2014 Rp 51,774,912,332 Rp 149,381,883,464 -Rp 23,514,151 4 2015 Rp 53,389,312,056 Rp 167,528,371,136 Rp 955,811,470 5 2016 Rp 51,739,686,570 Rp 159,162,457,650 Rp 518,699,769 6 2017 Rp 52,271,374,008 Rp 162,924,147,082 Rp 468,565,558 Sumber: PT. Mestika Sakti Medan
Tabel di atas menunjukkan terjadinya penurunan total aktiva perusahaan di tahun 2013 dan 2016. Pada tahun 2013 setiap Rp. 1 total aktiva menghasilkan
penjualan sebesar Rp. 3.09 dan laba bersih sebesar Rp. 0.005, sedangkan di tahun 2016 setiap Rp. 1 total aktiva menghasilkan penjualan sebesar Rp. 3.08 dan laba bersih sebesar Rp 0.01. Adapun di tahun 2014, total aktiva mengalami kenaikan, namun penjualan justru semakin mengalami penurunan bahkan perusahaan mengalami kerugian sehingga setiap Rp. 1 total aktiva hanya mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp. 2.89 dan rugi sebesar Rp. 0.0004. Sedangkan di tahun 2017, total aktiva dan penjualan mengalami kenaikan namun laba bersih yang dihasilkan semakin mengalami penurunan sehingga setiap Rp. 1 total aktiva hanya mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 0.009.
Keberhasilan suatu perusahaan dapat dilihat melalui tingkat laba yang diperoleh. Upaya untuk menghasilkan laba yang maksimal tidak terlepas dari bagaimana penggunaan aktiva perusahaan, karena penggunaan aktiva pada suatu perusahaan terkait erat dengan kemampuannya menghasilkan laba. Menurut Assofi dan Hani (2017) menyatakan “Semakin baik kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya atau aktivanya akan menentukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Aset yang dimiliki perusahaan digunakan semaksimal mungkin dalam menghasilkan keuntungan. Hal ini menjelaskan adanya keterkaitan yang erat antara kemampuan perusahaan dalam mengelola aktivanya dengan kemampuannya menghasilkan laba (profitabilitas).” Sedangkan menurut Maisyarah (2015) menyatakan “Total aktiva dapat memperbesar volume penjualan apabila perputaran aktivanya diperbesar. Perputaran total aktiva akan memengaruhi besar kecilnya keuntungan yang diperoleh perusahaan. Hal ini juga secara tidak langsung akan memengaruhi operasi perusahaan yang berdampak pada tingkat perolehan laba perusahaan.”
Ketidakmampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui penjualan yang terus berlanjut akan berdampak pada kondisi perusahaan yang tidak dapat bertahan dalam persaingan di pangsa pasar. Menurut Rahardjon (dalam Butar-Butar, 2018) menyatakan “Ada hubungan yang erat mengenai penjualan dan peningkatan laba bersih perusahaan.” Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan laba bersih harus disertai dengan peningkatan penjualan.
Menurut Swasta (dalam Utami, 2018) menyatakan “Penurunan penjualan mengindikasikan adanya penurunan kinerja perusahaan.” Sedangkan Gill dalam buku Kasmir (2012, hal. 122) menyatakan “Suatu perusahaan dikatakan dalam kondisi tidak aman jika memiliki pendapatan yang cenderung fluktuatif.” Ukuran laba menjadi lebih diperhatikan karena menggambarkan kinerja perusahaan dalam menghasilkan profit. Informasi laba dipakai untuk mengestimasi kemampuan perusahaan menghasilkan laba di masa yang akan datang juga dapat menilai hasil kinerja keuangan dari waktu ke waktu, apakah meningkat atau justru menurun (Hery, 2012, hal. 5).
Fenomena di atas menunjukkan perlu dilakukan pengukuran terhadap kinerja keuangan pada PT. Mestika Sakti Medan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan menggunakan aktiva yang dimiliki dalam melakukan penjualan dan menghasilkan laba bersih. Hal tersebut menjadi penting karena apabila perusahaan memiliki aktiva yang besar namun kemampuan menghasilkan labanya kecil maka dapat diindikasikan bahwa perusahaan tidak memiliki kemampuan menghasilkan profit.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam bentuk karya ilmiah yang berjudul “ANALISIS DU PONT
SYSTEM DALAM MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PT. MESTIKA
SAKTI MEDAN”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Terjadinya penurunan total aktiva tahun 2013 dan 2016. 2. Terjadinya penurunan penjualan tahun 2013, 2014, dan 2016.
3. Terjadinya penurunan laba bersih tahun 2013, 2014, 2016, dan 2017.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diungkapkan atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kinerja keuangan PT. Mestika Sakti Medan yang diukur menggunakan analisis Du Pont System?
2. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya penurunan total aktiva, penjualan, dan laba bersih di PT. Mestika Sakti Medan?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diketahui tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui kinerja keuangan PT. Mestika Sakti Medan yang diukur menggunakan Du Pont System.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan total aktiva, penjualan, dan laba bersih selama beberapa tahun di PT. Mestika Sakti Medan.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi saran pemikiran yang positif dan sarana informasi serta pengetahuan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan, khususnya bagi PT. Mestika Sakti Medan.
Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang penilaian kinerja keuangan perusahaan menggunakan alat ukur Du Pont System.
2. Bagi Perusahaan
Diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan guna mencapai tujuan perusahaan yang optimal di masa akan datang.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Dapat dijadikan sebagai referensi dan bahan masukan bagi peneliti yang tertarik untuk melakukan penelitian tentang analisis kinerja keuangan menggunakan alat ukur Du Pont System.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Uraian Teoritis
1. Kinerja Keuangan
a. Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan pada dasarnya diperlukan sebagai alat ukur terhadap kesehatan perusahaan karena dapat menggambarkan efektivitas penggunaan aset dalam menjalankan operasional guna meningkatkan pendapatan. Informasi tentang kinerja keuangan juga digunakan untuk menilai perubahan potensial sumber daya yang ada di perusahaan.
Fahmi (2012) menyatakan “Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.”
Sedangkan Fidhayatin, dkk (2012) menyatakan “Kinerja keuangan yang dapat dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu merupakan gambaran sehat atau tidaknya suatu perusahaan.” Adapun Classyane, dkk (2013) menyatakan “Kinerja keuangan perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan menggunakan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu.”
Berdasarkan uraian pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan merupakan suatu tingkat keberhasilan yang dicapai perusahan dalam mengelola keuangannya menggunakan alat-alat analisis keuangan sesuai dengan aturan pelaksanaan yang baik dan benar sehingga dapat
diketahui keadaan keuangan perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam suatu periode.
b. Tujuan Kinerja Keuangan
Tujuan dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan menurut Munawir (2012, dalam Siregar, 2017) sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui tingkat likuditas, yaitu kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan.
2) Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuntungannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun keuangan jangka panjang.
3) Untuk mengetahui tingkat profitabilitas, yaitu suatu kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada periode tertentu.
4) Untuk mengetahui stabilitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil dan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar deviden secara teratur.
c. Manfaat Kinerja Keuangan
Manfaat pengukuran kinerja menurut Ermayanti (2009) adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengukur prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatannya.
2) Selain digunakan untuk melihat kinerja organisasi secara keseluruhan, maka pengukuran kinerja juga dapat digunakan untuk menilai kontribusi suatu bagian dalam pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan.
3) Dapat digunakan sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk masa yang akan datang.
4) Memberi petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan organisasi pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada khususnya.
5) Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan.
2. Laporan Keuangan
a. Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan disiapkan perusahaan sebagai alat komunikasi serta dasar pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan data keuangan perusahaan.
Menurut Jumingan (2009, hal. 4) menyatakan “Laporan keuangan merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.” Sedangkan menurut Harahap (2009, hal. 105) menyatakan “Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan posisi keuangan.”
Adapun menurut Hery (2012, hal. 3) menyatakan “Laporan keuangan merupakan produk akhir dari serangkaian proses pencatatan dan pengikhtisaran data transaksi bisnis.”
Berdasarkan uraian pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan alat informasi yang digunakan untuk mengkomunikasikan kondisi keuangan dan kinerja perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan data keuangan perusahaan.
b. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan adalah sebagai berikut (Hani, 2014, hal. 15):
1) Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2) Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh sebagian besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu. 3) Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan
manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Adapun Ikatan Akuntan Indonesia dalam PSAK No. 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan (revisi 2009) menyatakan “Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.”
Berdasarkan uraian pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan laporan keuangan yaitu menyediakan informasi tentang kinerja keuangan yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan serta sebagai alat pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
c. Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2009, hal. 9) menyatakan laporan keuangan memiliki sifat dan keterbatasan sebagai berikut:
1) Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat bukan masa kini. Karenanya, laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi apalagi untuk meramalkan masa depan atau menemukan nilai perusahaan saat ini.
2) Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutusan pihak tertentu atau pihak khusus saja seperti untuk pihak yang akan membeli perusahaan.
3) Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.
5) Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian.
6) Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu transaksi daripada bentuk hukumnya. Misalnya jika perusahaan memiliki plafon kredit 1 miliar, artinya perusahaan memiliki dana yang dapat ditarik setiap saat sebesar jumlah itu, namun jika belum ditarik tidak boleh kita catat sebagai unsur kas di neraca.
7) Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa