HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Analisis Tabel Silang
Analisis tabel silang akan memuat tentang penilaian data dalam tabel. Analisis tabel silang merupakan salah satu teknik yang dipergunakan untuk menganalisis dan mengetahui variabel yang satu memiliki hubungan dengan variabel lainnya sehingga dapat diketahui apakah variabel tersebut bersifat positif atau bernilai negatif. Namun analisis tabel silang ini tidak dapat dijadikan penentu utama untuk melihat bagaimana penelitian data yang satu dalam hubungannya dengan data lainnya.
Analisis tabel silang ini bertujuan untuk melihat hubungan antara Komunikasi Formal Dan Pengambilan Keputusan Di Kantor KPU Kota Pematang Siantar. Tidak seluruh item dalam pertanyaan variabel x dan y disilangkan dan
dianalisis dalam bentuk tabel silang. Peneliti hanya meneliti item-item penting dari variabel penelitian (x dan y) yang memiliki setiap bagian dari variabel. Hasil dari analisis tabel silang tersebut akan dipaparkan dalam tabel silang berikut ini:
Tabel 25
Hubungan antara Pemahaman Pesan mengenai ideologi dengan Kesetiaan dan integritas rekan kerja
Pemahaman Pesan Mengenai Ideologi
Kesetian Dan Integritas Rekan Kerja Total Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju
Tidak Setuju 0 1 0 1
Setuju 2 11 4 17
Sangat Setuju 2 3 2 7
Total 4 15 6 25
Sumber: P.08/FC.10 - Sumber: P.21/FC.23
Tabel 25 di atas menunjukkan hubungan antara pemahaman pesan mengenai ideologi dengan kesetiaan dan integritas rekan kerja. Dari 25 responden dalam penelitian ini memiliki tanggapan yang berbeda tentang pemahaman pesan mengenai ideologi yang disampaikan oleh atasannya. Dengan sebaran data diketahui bahwa 1 responden menyatakan tidak setuju tentang pemahaman pesan menganai ideologi, 17 responden menyatakan setuju tentang pemahaman pesan mengenai ideologi, dan 7 responden menyatakan sangat setuju tentang pemahaman pesan mengenai ideologi. Sedangkan untuk data tentang kesetian dan integritas rekan kerja, diketahui bahwa 4 responden tidak setuju dengan kesetiaan dan integritas rekan kerja, 15 responden setuju dengan kesetiaan dan integritas rekan kerja, dan 6 responden menyatakan sangat setuju dengan kesetiaan dan integritas rekan kerja.
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa 44% responden berpendapat bahwa mereka setuju tentang pemahaman pesan mengenai ideologi yang diberikan atasan kepada mereka. Dalam hal ini dapat kita disimpulkan bahwa secara mayoritas responden setuju dengan pemahaman pesan mengenai ideologi yang dampaknya adanya pemberian kesetiaan dan integritas tinggi yang diberikan
4.4 Hipotesis
Uji hipotesis adalah pengujian data statistik untk mengetahui data yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Sebelum melakukan uji hipotesa, terlebih dahulu menguji tingkat hubungan antara kedua variabel yang dikorelasikan dengan menggunakan rumus koefisien korelasi oleh Spearman, yaitu:
�ℎ�� = 1− � (6∑��2−12 ) = 1− 256 ( ×253402−1)
= 1− 156002040 �ℎ�� = 1−0,131
�ℎ�� = 0,869
Untuk mengetahui tingkat signifikasi hasil uji hipotesa tersebut maka dapat digunakan rumus ttest berikut dengan tingkat signifikansi 0,05 yaitu:
� =�1−��−2 �2 � = �1−(025−2,869) 2 � =�1−023,755 � = √93,877 � = 9,689
Tahap selanjutnya adalah membandingkan nilai thitung dan ttabel, oleh karena jumlah N (responden) dalam penelitian ini terdapat (terlampir) pada tabel distribusi t, dimana jumlah sampel adalah 25 maka ttabel adalah 2,060.
Berdasarkan perhitungan di atas, maka hasil hipotesis komunikasi formal dan pengambilan keputusan kerja karyawan di KPU Kota Pematang Siantar sesuai dengan kaidah dalam Spearman rs koefisien bahwa jika rs>0 maka hipotesis diterima. Jika dimasukkan dalam skala Guilford, angka 0,869 berada pada skala 0,71 – 0,90. Hal ini menunjukkan hubungan yang tinggi dan kuat. Selanjutnya hasil perhitungan nilai thitung adalah 9,689 dan hasil perhitungan ttabel adalah 2,060. Berdasarkan hasil tersebut terdapat perbedaan terhadap thitung dan ttabel yaitu nilai thitung lebih besar dari ttabel oleh karena itu maka dapat dinyatakan hubungannya
signifikan dan Ho ditolak. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh komunikasi formal dan pengambilan keputusan kerja karyawan di KPU Kota Pematang Siantar digunakan rumus uji determinasi:
D = (rs)2 × 100% D = (0,869)2 ×100% D = 0,755 × 100% D = 75,5%
Nilai hasil perhitungan determinasi di atas menunjukkan bahwa komunikasi formal berpengaruh terhadap pengambilan keputusan kerja karyawan di KPU Kota Pematang Siantar sebesar 75,5%.
4.5 Pembahasan
Dalam konteks organisasi, arus komunikasi mengalir secara formal mengikuti saluran sesuai desain struktur organisasi dimaksud. Salah satu jaringan komunikasi formal dalam organisasi adalah arus komunikasi vertikal yang mencakup komunikasi ke atas (upward commucation) dan komunikasi ke bawah (downward communication).
Komunikasi vertikal melibatkan interaksi komunikasi antara pimpinan dan karyawan dalam suatu organisasi. Agar pimpinan dan karyawan dapat bekerja sama secara harmonis, dapat menempatkan diri secara tepat menurut peranan dan tanggung jawabnya masing-masing, maka kesadaran dan tingkat kepemahaman yang benar akan peran masing-masing dengan terus meningkatkan kualitas penghayatan hingga titik tertinggi adalah sangat penting.
Peranan komunikasi vertikal antara manajemen dan para karyawannya dan antara pimpinan manajemen dengan pemilik perusahaan dan sebaliknya menjadi hal yang sangat penting. Satu tanggapan penting manajemen dan kepemimpinan terhadap tuntutan perubahan dalam dunia bisnis adalah semakin diterima secara luas dan popular penerapan konsep partisipasi. Fungsi-fungsi manajemen yang dapat dilakukan oleh para karyawan maupun pimpinan dalam organisasi seperti
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), mengkomunikasikan (communicating), pengawasan (controlling), dan penilaian (evaluating).
Praktek manajemen partisipasi yang sukses ada efektif akan tercermin terutama pada kondisi komunikasi organisasi yang efektif dan efisien. Kesempatan yang tersedia bagi setiap karyawan relatif luas untuk mendiskusikan berbagai persoalan pekerjaan dan perusahaan. Juga manajemen mengembangkan sikap terbuka dengan memberikan informasi relevan, aktual, dan berharga mengenai posisi keuangan, operasi, kebijakan, dan rencana-rencana perusahaan.
Di dalam sebuah organisasi, komunikasi merupakan dasar yang menyatukan semua fungsi yang terwujud. Dengan adanya saluran komunikasi di dalam organisasi tersebut, setiap individu atau kelompok bukan saja dapat berinteraksi, memahami dan bertukar-tukar pesan antar satu dengan yang lain, tetapi juga dapat mewujudkan kerja sama yang berkesinambungan di kalangan anggota kelompok. Di dalam Kantor Komisi Pemilihan Umum Kota Pematang Siantar juga menerapkan bentuk komunkasi kelompok yang bersifat formal yakni kegiatan Rapat Pleno. Dalam kegiatan Rapat Pleno tersebut setiap karyawan diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan berbagai jalan pikirannya masing-masing. Selain itu karyawan juga membahas berbagai masalah pekerjaan, menyampaikan keluhan, memberikan saran dan pendapat, dan menyelesaikan konflik.
Suatu organisasi akan berhasil mencapai tujuan organisasinya apabila terdapat pengambilan keputusan yang tepat. Tanpa adanya pengambilan keputusan yang tepat maka kondisi kerja tidak akan terasa baik yang akan selanjutnya mengakibatkan kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi tersebut. Pengambilan keputusan diperlukan dalam setiap aktivitas kantor bila ingin mencapai tingkat produktivitas yang dapat menciptakan efektivitas dan efisiensi. Berdasarkan hal tersebutlah, komunikasi formal ini sangat perlu sebagai salah satu jembatan penghubung komunikasi yang efektif antara pimpinan dan karyawannya dalam menyampaikan pengambilan keputusan kerja.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN