• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. Teknik Analisis Data

2) Analisis Tahap Akhir

Apabila data berdistribusi tidak normal, pengujian hipotesis menggunakan statistik non parametrik.

a. Uji Ketuntasan Belajar

Ho: µo < 7,00, tidak ada perbedaan rata-rata hasil belajar matematika kelas model

pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya dengan kelas model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Ha: µo ≥ 7,00, ada perbedaan rata-rata hasil belajar matematika kelas model

pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya dengan kelas model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Sudjana (2005: 239) menguji hipotesis keberhasilan pembelajaran (kreteria ketuntasan belajar), dapat menggunakan rumus:

0)& = (111 − ( 23 14 +41

Keterangan:

n1 : banyak siswa yang telah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya

( : rata-rata hasil belajar siswa yang telah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya

n2 : banyak siswa yang telah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT

( : rata-rata hasil belajar siswa yang telah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT

2 : standar deviasi siswa siswa yang telah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya

2 : standar deviasi siswa siswa yang telah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe NHT

Dengan kriteria terima Ho jika −0 " 6 7)< t < 0 " 6 7). Selain itu Ho ditolak dimana −0 " 6 7) = nilai t dari distribusi siswa dengan peluang 0 " 6 7), dengan

* = taraf signifikan dan derajat kebahasaan (dk) = n1 + n2 – 2.

Dari hasil menguji hipotesis keberhasilan belajar dilihat dari KKM 0)& = 2,86.

Terima Ho jika −0 " 6 7)< t < 0 " 6 7) selain itu Ho ditolak jika untuk taraf nyata * − 0,05 0,-. = 2,00. Ho ditolak, jika 0)& > 0,-., dari perhitungan didapat 2,86 > 2,00 dengan demikian dapat disimpulkan ada perbedaan rata-rata hasil belajar matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya dengan kelas model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Lihat lampiran C.5.

b. Diskripsi Terhadap Aktivitas Siswa

Untuk mendiskripsikan aktivitas siswa, respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya digunakan analisis persentase (%) yakni banyaknya setiap aktivitas dibagi dengan seluruh frekuensi aktivitas dikali 100%. Hasil pencapaian aktivitas pembelajaran siswa setiap pertemuan dapat dilihat dalam lampiran C.2.

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan yaitu:

1. Pengembangan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya yang dilihat dari peningkatan komunikasi matematis dan aktivitas belajar. Pada pengembangan ini terdiri dari tiga tahap pembelajaran dan tujuh fase pengembangan pembelajaran, yaitu (1) tahap pembelajaran awal, terdiri dari fase persiapan. (2) tahap inti terdiri dari lima fase, yaitu fase pembentukan kelompok, fase buku paket dan panduan, fase diskusi masalah, fase memanggil nomor anggota dan memberi jawaban, dan fase memberi kesimpulan, dan (3) tahap penutup, terdiri dari fase memberi penghargaan. Tahap inti pada fase diskusi masalah peran tutor teman sebaya dimasukkan sebagai pengembangan model pembelajaran NHT. Pada fase diskusi masalah, peran tutor teman sebaya adalah memandu kelompok dari jalannya diskusi. Dalam hal ini tugas tutor membantu siswa/teman yang kurang faham akan materi yang dipelajari. LKS dibuat sebagai alat bantu yang memandu seorang tutor dalam membimbing temannya, berfikir bersama-sama dalam menemukan jawaban dari pertanyaan yang telah dimuat dalamnya. LKS memberikan kemudahan tutor membantu siswa/teman terutama dalam proses diskusi dan belajar berjalan dengan baik dan lancar.

2. Hasil kemampuan komunikasi matematis siswa pengembangan model pem-belajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya terlihat sangat baik. Terlihat pada kelas NHT dengan tutor sebaya lebih dari 92% siswa mencapai nilai KKM. Sedangkan pada kelas NHT hanya 32% saja siswa mencapai nilai KKM.

3. Berdasarkan hasil penilaian aktivitas pembelajaran secara keseluruhan didapat, indikator persentase rata-rata aktivitas belajar siswa kelas NHT dengan tutor sebaya lebih tinggi dari pada persentase indikator rata-rata aktivitas kelas NHT. Dengan demkian dapat disimpulkan berdasarkan persentase rata-rata hasil aktivitas pembelajaran siswa kelas NHT dengan tutor sebaya dapat lebih baik meningkatkan aktivitas pembelajaran dari pada kelas NHT.

B. Saran

Dari penelitian yang telah dilakukan ada beberapa saran, yaitu:

1. Bagi guru atau sekolah khususnya pada pembelajaran matematika dapat dijadikan referensi dan dapat dikembangkan. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya dapat digunakan pada materi pembelajaran yang lain. Hendaknya sebelum memulai pelajaran guru terlebih dulu mempersiapkan media pembelajaran yang baik dan tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

2. Bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan tutor sebaya, hendaknya peneliti lebih selektif dalam memilih tutor sebaya. Pemilihan tutor dapat dilakukan dengan tes kemampuan awal untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang materi pokok yang akan dipelajari. Penilaian indikator kemampuan aktivitas belajar siswa hendaknya

disetiap pertemuan dilakukan pengamatan secara keseluruhan bukan secara kelompok sebagai sampel, guna mencapai hasil yang diharapkan.

Abba, Nurhayati. 2000. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berorientasi Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction). Surabaya: Thesis PPs Unesa.

Ahmadi, A, & Supriono, W. 2004. Psikologi Belajar Edisi Revisi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ansari. 2003.Menumbuh Kembangkan Kemampuan Pemahaman dan Komunikasi Matematis Siswa SMU melalui Think-Talk Write. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung: PPs UPI

Anwar, Khairul. 2006. Mengembangkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Turnamen Belajar Untuk Meningkatkan Ketuntasan Belajar Matematika Pada Siswa SMA. Semarang: Thesis Unnes Press.

Arends, Richard. 1997.Classroom Instruction and Management. New York: Megrow-Hill.

Arikunto, Suharsimi. 2007. Prosedur Penelitian (edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Borg dan Gall. 2003. Educational Research an Introduction, Seventh Editions. University of Oregon. United State of America.

Brenner, M. E. 1998. Development of Matthematical Communication in Problem Olving Groups by Languange Minority Students. Bilingual Research Journal, 22:3, 3 & 4 Spiring, Summer & Fall 1998.

Budiyono. 2011. Penilaian Hasil Belajar. Program Pasca Sarjana. Surakarta: UNS Press

Cai, J, Lane, S, & Jacabscin, M.S. 1996. Assesing Student, Matematical Communication.Offical Jurnal of the science and matematiecs.

Cooke, Vassie Davis and Dilek Buchholz. 2005. Matehematical Communication in the Classroom: A Teacher Makes a Difference. Early Childhood Education Jurnal/Vol.32, No.6, June 2005, pp.365-369.

Cipta.

Effendi, O,U. 2007. Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Fersyhana. 2011. Metode Pembelajaran dan Model Pembelajaran Kontekstual dan Coopetative Learning Beserta Aplikasinya dalam Pembelajaran Sejarah. [Online]. Tersedia: https://fersyhana.wordpress.com

Haydon, T dkk. 2010. Effect of Number Head Togetheron the Daily Quiz Scores and On-Task Behavior of Students with Disabilities.Journal of Behavioral Education, 19(3): 222-23

H. Anwar Abu Bakar Lc. 2006.Al-Qur’an Al-Muyassar. Bandung: PT Sinar Baru Algesindo Offset.

Hulukati, E. 2005. Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematik Siswa SMP melalui Model Pembelajaran Generatif.

Disertasi Tidak Diterbitkan. Bandung: PPs UPI.

Huggins, B., & Maiste, T. 1999. Communication in Matehematics. Master’s

Action Research Project, St. Xavier University & IRI/Skylight.

Ibrahim. 2000.Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.Imran, Ali. 1996

Istiani, Novi. 2013. Perbedaan Pengaruh Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Dan Metode Ceramah Terhadap Hasil Belajar Pkn Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri I Pabelan Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang Semester Ganjil Tahun Ajaran 2012/2013.

ris.uksw.edu/download/jurnal /kode/J00827.

Lie, Anita. 2002.Cooperative Learning, Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang–ruang Kelas. Jakarta : Gramedia.

________. 2008.Cooperative Learning. Jakarta: PT Grasindo.

Lubiensky, S.T. 2000. Problem Solving as a Means Toward Matehematics for All: An Exploratory Look Though Class Lens. Makalah disajikan dalam

Journal for Reserch in Matematics Uducation Online, 31(4),454-482. Maryland state Departement of Education. 1991. Sample Activities Student

Response and Maryland Teachers’ Comments on a Sample Task.

Matematics Grade 8, Febuari 1991. Maltzer, D.E. 2002.

Mulyadi. 2008. Diagnosa Kesulitan Belajar dan Bimbingan terhadap Kesulitan Belajar Khusus. Malang: Nuha Litera.

Numbered Head Together (NHT) Dengan Assesmen For Learning (AfL) Melalui Penilaian Teman Sejawat Pada Materi Persamaan Garis Ditinjau dari Kreativitas Belajar Matematika Siswa MTsN Dikabupaten Seragen. Surakarta: Thesis Universitas Sebelas Maret.

Nasichah, Durrotun. 2009.Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Tgt (Teams Games Tournaments) terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Materi Persegi Panjang di Kelas VII SMP Buana Waru. Surabaya: Thesis UIN Sunan Ampel

NCTM. 2000. Principles and Standards for School Mathematics, Reston: Virginia.

Qohar, Abd. 2013.Pengembangan Instrumen Komunikasi Matematis Untuk Siswa SMP. [Online]. Tersedia: http://core.ac.uk/download/pdf/11064561. pdf. Rusefendi, E.T. 2001. Pengantar kepada membantu guru mengembangkan

kopetensi dalam pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito

Sanjaya, Wina. 2013. Penelitian Pendidikan, Jenis, Metode dan Prosedur. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Saragih, S. 2007. Pengembangan Kemampuan Berpikir Logis dan Komunikasi Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama melalui PMR. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung: PPS UPI.

Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sari, Ayu Intan. 2014. Tutor Sebaya Dalam Pembelajaran Matematika: Studi Kasus Siswa Diskalkulia di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Wringinanom Gersik. [Online]. Tersedia: http://d igilib.unsby.ac.id/825/ Sugiono. 2013.Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

dan R&D). Bandung: Alfabeta

Sudjana. 1996.Metode Statistik. Bandung: Tarsito. _______. 2005.Metode Statistik. Bandung: Tarsito.

Sumarmo, U. 2000. Pengembangan Model Pembelajaran Matemaika untuk Meningkatkan Kemampuan Intelektual Tingkat Tinggi Sekolah Dasar. Disertasi Tidak diterbitkan. Bandung: PPs FMIPA UPI.

Tamburaka, Apriadi. 2012. Agenda Setting Media Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Matematika Komporer. Bandung: JICA UPI Bandung.

Winataputra, U.S. 1999. Strategy Pembelajaran PPKn Pada Era Reformasi menuju Indonesia baru. Jakarta: Dep P dan K

Zubaedi. 2011. Desain pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Dokumen terkait