HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian
3. Analisis Tambahan
Analisis tambahan yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) terhadap kesehatan emosi pada masing-masing kelompok responden. Kelompok responden dibagi berdasarkan kategori skor mean pada pre test, kategori tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu : kategori tinggi, sedang, dan rendah.
a. Analisis tambahan pada kelompok responden kategori tinggi
Berdasarkan hasil uji t, pada responden kategori tinggi mengalami perubahan nilai mean sebelum mengikuti pelatihan sebesar 23.75 dan setelah mengikuti pelatihan sebesar 23.13. Pada uji t menunjukkan nilai t = 0.523 dengan nilai p = 0.617 (p>0.05). Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pre test dengan skor post tes pada responden kategori tinggi.
b. Analisis tambahan pada kelompok responden kategori sedang.
Berdasarkan hasil uji t, pada responden kategori sedang mengalami perubahan nilai mean sebelum mengikuti pelatihan sebesar 19.08 dan setelah mengikuti pelatihan sebesar 21.85. Pada uji t menunjukkan nilai t mutlak = 4.012 dengan nilai p = 0.002 (p>0.05). Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pre test dengan skor post tes pada responden kategori sedang.
c. Analisis tambahan pada kelompok responden kategori rendah
Berdasarkan hasil uji t, pada responden kategori sedang mengalami perubahan nilai mean sebelum mengikuti pelatihan sebesar 14.25 dan setelah mengikuti pelatihan sebesar 20.50. Pada uji t menunjukkan nilai t mutlak = 9.934 dengan nilai p = 0.002 (p>0.05). Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pre test dengan skor post tes pada responden kategori rendah.
B. Pembahasan
Hasil analisis dari data-data yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini terbukti melalui nilai mutlak t = 3.028 dengan nilai p = 0.006 (p<0,01). Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara selisih skor pre test dengan skor post test. Artinya Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) terbukti dapat meningkatkan kesehatan emosi pada responden.
Peningkatan kesehatan emosi responden dapat dilihat dari skor mean pre test yang lebih rendah (19.80) dibandingkan dengan skor mean post test yang lebih tinggi
(22.04). Perbedaan nilai skor mean pre test dengan skor mean post test menunjukkan bahwa kesehatan emosi responden setelah mengikuti pelatihan Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelum mengikuti pelatihan.
Schneiders (1964) mengatakan bahwa seseorang yang kontrol emosinya kurang menunjukkan perilaku emosional yang tidak terkontrol misalnya kemarahan yang meledak-ledak, berperilaku agresif, dan senang berkelahi. Hurlock (1973) berpendapat bahwa individu yang emosinya stabil dapat mengontrol ekspresi emosi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial, atau dapat melepaskan dirinya dari belenggu energi mental dan fisik yang terpendam dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sosialnya.
Responden yang belum menjalani sesi Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) pada umumnya memiliki tingkat kesehatan emosi yang rendah, hal ini ditunjukkan dengan munculnya perilaku agresif akibat kurangnya kontrol emosi pada responden. Masing-masing responden menunjukkan sikap mudah tersinggung dan gampang marah sehingga sering terjadi pertengkaran antara sesama responden yang diawali dengan masalah sepele. Setelah mengikuti Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) tingkat kesehatan emosi meningkat sehingga subjek menunjukkan perilaku yang lebih tenang dan tidak agresif, serta dapat mengendalikan emosinya.
Metode dzikir berkaitan erat dengan metode relaksasi yang merupakan perpaduan antara meditasi dan yoga. Dzikir dapat membuat hati seseorang menjadi
lebih tentram dan jiwanya menjadi lebih tenang (Hawari, 2004). Jiwa yang tenang akan membuat remaja pecandu napza dapat mengendalikan emosinya sehingga tidak memunculkan reaksi emosional yang berlebihan. Menurut Schneiders (1964) seseorang yang dapat menampilkan reaksi emosional yang sesuai dengan rangsangan yang diterima atau dengan kata lain tidak berlebihan berarti mempunyai kematangan emosi yang baik.
Schneiders (1964) mengatakan bahwa emosi yang tidak adekuat ditunjukkan dengan sikap apatis, tidak perduli terhadap orang lain, tidak suka menolong, tidak mau menerima bantuan, memiliki selera humor yang buruk, dan adanya perasaan bermusuhan yang kuat. Sebaliknya emosi yang adekuat ditunjukkan dengan sikap yang sesuai dengan harapan-harapan sosial, seperti sikap suka menolong, ramah, dan menghormati orang lain.
Shalat yang diterapkan dalam CBRT adalah shalat berjamaah yang dilaksanakan secara bersama-sama. Ancok (Haryanto, 1999) menjelaskan bahwa aspek kebersamaan ini mempunyai nilai terapeutik, yaitu akan menghindarkan seseorang dari rasa terisolir, terpencil, atau tidak tergabung dalam kelompok.
Pada awal pelatihan, masing-masing responden tidak bertegur sapa dan bersikap mengacuhkan orang lain. Sikap ketidakpedulian yang ditampilkan oleh responden menyebabkan tidak terciptanya interaksi sosial. Setelah mengikuti empat kali sesi pelatihan Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT), sebagian responden saling bertegur sapa dan mulai bercakap-cakap. Perubahan sikap responden sebelum dan setelah mengikuti pelatihan Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT)
menunjukkan bahwa reaksi emosional responden yang tidak adekuat dapat berubah menjadi reaksi emosional yang adekuat setelah mengikuti pelatihan Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT).
Hasil analisis tambahan pada masing-masing kelompok responden berdasarkan kategori skor mean pre test menunjukkan bahwa pada responden kategori tinggi tidak ada perbedaan antara selisih skor mean pre test dan post test, hal ini terlihat dari nilai t = 0.523 dengan nilai p = 0.617 (p>0.05). Hasil ini berarti bahwa pelatihan Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) tidak mempunyai pengaruh terhadap responden yang mempunyai tingkat kesehatan emosi tinggi sejak pelatihan belum dimulai.
Pada responden kategori sedang dan rendah pelatihan Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) memberikan hasil yang sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis tambahan diketahui bahwa ada perbedaan skor mean pre test dan skor mean post test pada kedua kategori responden, dengan nilai t mutlak = 4.012 dengan nilai p = 0.002 (p>0.05) untuk responden kategori sedang, dan nilai t mutlak = 9.934 dengan nilai p = 0.002 (p>0.05) untuk responden kategori rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) memberikan pengaruh yang signifikan bagi kesehatan emosi pada kedua kategori responden. Responden yang mempunyai tingkat kesehatan emosi sedang dan rendah sebelum mengikuti pelatihan, mengalami peningkatan pada kesehatan emosinya setelah mengikuti pelatihan.
Kelemahan pada penelitian ini terletak pada tidak terkontrolnya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi subyek, sehingga sulit untuk memastikan
apakah perubahan tingkah laku subyek adalah murni dari hasil pelatihan Cognitive Behavioral Religious Therapy (CBRT) atau disebabkan oleh faktor-faktor lain yang tidak dikontrol dalam penelitian.
PENUTUP