BAB III. BAHAN DAN METODE
3.3. Pelaksanaan Penelitian
3.3.4. Analisis Tanah di Laboratorium
Analisis contoh tanah di Laboratorium meliputi : a. Penetapan tekstur tanah dengan metoda pipet
b. Analisis C-Organik tanah menggunakan metode Walkey and Black
c. Analisis kation- kation basa : Ca2+, Mg2+, K+, Na+dimana Ca2+, Mg2+
menggunakan AAS sementara K+ dan Na+ menggunakan Flamefotometer.
d. Penetapan KTK tanah dengan metoda pencucian dengan amonium asetat pH 7
e. Penetapan pH Tanah dengan metoda elektrometrik f. Penetapan P- tersedia dengan metoda Bray II g. Penetapan N-total dengan metoda kjeldahl h. Penetapan Salinitas dengan metoda elektrometrik 3.4. Pengolahan Data
Data yang diperoleh selanjutnya diinterpretasikan ke dalam kriteria tingkat kesuburan tanah dan diinterpretasikan ke dalam kelas kesesuaian lahan (Puslittanak, 1997).
Setelah data karakteristik lahan tersedia, maka proses selanjutnya adalah evaluasi lahan yang ditentukan dengan cara matching (mencocokkan) antara karakteristik lahan pada setiap lokasi dengan persyaratan tumbuh tanaman. Hasil penilaian berupa klas dan sub klas kesesuaian lahan dari tanaman yang dinilai ditentukan oleh faktor pembatas terberat, faktor pembatas tersebut dapat terdiri dari satu atau lebih tergantung dari karakteristik lahannya (Ritung et al., 2007).
Gambar 1. Uraian Subsistem-Subsistem GIS Sumber : (Prahasta, 2002)
Data-data hasil analisis tanah di atas dimasukkan ke dalam data base peta sebagai atribut yaitu sifat fisika tanah, sifat kimia tanah, komoditas tanaman yang paling sesuai, seperti yang disajikan pada gambar 1. Sehingga diperoleh peta kesesuaian lahan (S1, S2, S3, dan N). Peta kesesuaian lahan ini kemudian ditumpang tindihkan dengan peta administrasi, peta tutupan lahan, peta jenis tanah, peta topografi sehingga akan diperoleh peta kesesuaian lahan berdasarkan
Tabel
Laporan Pengukuran
lapangan Data digital lain
Peta (Tematik, Topografi, dll) Citra satelit
Foto udara Data lainnya
Tabel Peta
Laporan
Informasi digital (softcopy) Input
Storage (database)
Retrieval
Processing
Output
DATA INPUT DATA MANAGEMENT & OUT PUT
MANIPULATION
wilayah administrasi. Analisis kesesuaian lahan ini menggunakan software Arc GIS.
3.5. Kerangka Konseptual Penelitian
Gambar 2. Skema Kerangka Konseptual Penelitian Kesesuaian Lahan
Peta Tanah Peta APL
Peta dan Tabel Kesesuaian Lahan Aktual dan Potensial untuk komoditi unggulan
KESESUAIAN LAHAN BEBERAPA KOMODITI
Peta Topografi
Karakteristik lahan Temperatur rata-rata, Curah hujan, Drainase, Bahan kasar, Tekstur, Kedalaman efektif, KTK, pH, KB, Total N,Posfor, Kalium, Lereng, Singkapan batuan
TANAMAN Peta Land Unit
Persyaratan Tumbuh Tanaman (Ekologi)
Matching
Kelas Kesesuaian Lahan
Tidak Sesuai (N)
Sesuai (S):
1. Sangat sesuai (S1) 2. Cukup sesuai (S2) 3. Sesuai marginal (S3)
Kualitas lahan:
Rejim suhu, Ketersediaan air, Media Perakaran, Retensi hara, Hara tersedia,
kemudahan pengolahan, Terain/lereng, Tingkat Bahaya erosi
Overlay
Peta Lereng Peta Ketinggian Tempat
Peta Tututpan Lahan
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Karakteristik Lahan di Areal Penggunaan Lain di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu
Karakteristik lahan di Areal Penggunaan Lain (APL) di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat, yang sebelumnya merupakan kawasan berbagai jenis hutan dan lahan pertanian, yang paling luas terdapat di areal tersebut merupakan pertanian lahan kering dan yang lainnya, seperti hutan lahan kering sekunder, semak belukar, hutan produksi, dan persawahan. hasil survei lapangan dan analisis contoh tanah di laboratorium disajikan pada lampiran 1.
Dari lampiran 1 dapat diketahui, bahwa lokasi pengamatan dan pengambilan sampel tanah tersebut dapat dikelompokkan ke dalam 6 (enam) unit lahan (land unit), dengan karakteristik lahan untuk kedalaman 0-30 cm dan 0-60 cm
masing-masing disajikan pada tabel 2 dan 3.
Jenis tanah yang terdapat di lahan APL ini didominasi Andisol dan terdapat juga jenis tanah inseptisol. Jenis tanah Andisol dengan greatgroup Hapludands dominan pada pertanian lahan kering. Hapludands adalah tanah yang
terbentuk dari bahan induk abu vulkanis. Berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman daerah ini termasuk ke dalam zone iklim D1, yaitu zone iklim yang mempunyai karakteristik 3-4 bulan basah dan < 2 bulan kering secara berturut-turut. Zona agroekosistem yang didominasi pertanian lahan kering dan kawasan hutan dengan bentuk wilayah berbukit, mempunyai kemiringan lereng 7-25 %. Karakteristik fisik tanah yang mempengaruhi perakaran tanaman seperti tekstur, drainase dan kedalaman perakaran termasuk cukup baik yaitu drainase tanah baik, tekstur
lempung berpasir, lempung liat berpasir, lempung berliat dan pasir berlempung, serta kedalaman efektif hingga > 100 cm.
Tabel 2. Karakteristik Lahan Untuk Unit Lahan 1-6 Pada Kedalaman 0-30 cm Di Areal Penggunaan Lain Di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat Untuk Evaluasi Kesesuaian Lahan Pertanian.
Karakteristik Lahan Unit Lahan
1 2 3 4 5 6
Sumber: Data Primer Hasil Analisis Laboratorium Riset Fakultas Pertanian USU (2016).
Keterangan: notasi di dalam tanda ( ): R = rendah, SR = sangat rendah, S = sedang, T = tinggi, ST = sangat tinggi, M = masam, AM = agak masam, N = netral (Kriteria Sifat Kimia Tanah berdasarkan Balai Penelitian Tanah Bogor, 2005).
Tabel 3. Karakteristik Lahan Untuk Unit Lahan 1-6 Pada Kedalaman 0-60 cm Di Areal Penggunaan Lain Di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat Untuk Evaluasi Kesesuaian Lahan Pertanian.
Karakteristik Lahan Unit Lahan
1 2 3 4 5 6
Sumber: Data Primer Hasil Analisis Laboratorium Riset Fakultas Pertanian USU (2016).
Keterangan: notasi di dalam tanda ( ): R = rendah, SR = sangat rendah, S = sedang, T = tinggi, ST = sangat tinggi, M = masam, AM = agak masam, N = netral (Kriteria Sifat Kimia Tanah berdasarkan Balai Penelitian Tanah Bogor, 2005).
Nilai pH tanah di lahan APL ini bervariasi dari 5.4 (agak masam) sampai 6,50 (netral), nilai N-total tanah di lahan APL bervariasi dari rendah sampai tinggi, nilai P2O5 tergolong sangat rendah sampai rendah, sedangkan K2O tanah pada lahan tersebut memiliki rata-rata tergolong tinggi.
C-Organik di lahan APL ini tergolong tinggi, sehingga sebahagian besar unit lahan tidak perlu penambahan bahan organik. Bahan organik tanah mengandung semua hara termasuk humus yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Peran bahan organik terhadap ketersediaan hara dalam tanah tidak terlepas dengan proses mineralisasi, yang merupakan tahap akhir dari proses perombakan bahan organik. Bahan organik memiliki peranan kimia dalam menyediakan N, P, dan K untuk tanaman.
Nilai KTK di lahan APL ini tergolong tinggi. Dengan nilai KTK yang tinggi maka tanah mampu menjerap dan menyediakan unsur hara yang lebih banyak, dari pada tanah dengan KTK yang lebih rendah. Nilai KTK suatu tanah dipengaruhi oleh sifat dan jumlah fraksi liat dan bahan organik disamping pH larutan pengekstrasinya.
Kejenuhan basa di lahan APL ini termasuk dalam golongan sangat rendah sampai rendah. Kejenuhan Basa merupakan salah satu indikator kesuburan kimia tanah. Tanah yang subur adalah tanah dengan kejenuhan basa tinggi, sebab belum terjadi pencucian tanah yang serius. Sebaliknya, tanah dengan kejenuhan basa rendah akan menghambat penyerapan unsur hara oleh akar tanaman (Indranada, 1986).
4.2. Kelas Kesesuaian Lahan Pertanian di Areal Penggunaan Lain di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu
Evaluasi kesesuaian lahan pada lahan APL di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian yang sudah ada saat ini, maupun untuk pengembangan lahan baru yang akan dijadikan
untuk budidaya pertanian nantinya, untuk itu dilakukan evaluasi kesesuaian lahan terhadap tanaman gambir, kopi arabika, padi sawah, padi gogo, nilam, nenas, kelapa sawit, karet, jeruk, cabai merah, durian, jagung, pisang, pada setiap unit lahan.
4.2.1. Kesesuaian lahan untuk tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Pada Tabel 4, faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman gambir yang harus diperbaiki pada unit lahan 1 adalah, ketersediaan air dan retensi hara kejenuhan basa.
Sesuai dengan hasil evaluasi kesesuaian lahan pada unit lahan 1, faktor pembatas curah hujan tahunan yang tinggi (2929 mm), dapat dilakukan pengelolaan tata airnya dengan tingkat pengelolaan sedang, yaitu dengan pembuatan saluran drainase sehingga dari kelas cukup sesuai (S2) pada kesesuaian lahan aktual, menjadi sangat sesuai (S1) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Faktor pembatas tekstur tanah tidak dapat di lakukan usaha perbaikan, sehingga dari kelas sesuai marginal (S3) pada kesesuaian lahan aktual, tetap menjadi sesuai marginal (S3) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial. Sesuai dengan pernyataan Rayes (2007), bahwasannya dalam evaluasi lahan dengan faktor pembatas media perakaran berupa tekstur, tidak dapat dilakukan usaha perbaikan. Hal ini dikarenakan tekstur tanah tidak akan berubah dalam waktu yang singkat, contohnya tekstur pasir sulit dirubah menjadi lempung atau tekstur liat sulit dirubah menjadi pasir.
Tabel 4. Penilaian Kesesuaian Lahan Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Pada Unit Lahan 1
Karakteristik lahan Nilai data Kesesuaian lahan aktual
Usaha perbaikan dengan tingkat pengolahan sedang, yang dapat dilakukan untuk faktor pembatas retensi hara kejenuhan basa, yaitu dengan pengapuran sesuai kebutuhan tanaman, kebutuhan kejenuhan basa tanaman gambir untuk kriteria cukup sesuai (S2) diperlukan 35%, sedangkan pada tanah saat penelitian adalah 13,60%, sehingga diperlukan penambahan 21% yang setara dengan 4,41 ton CaCO3/ha. Dengan demikian kesesuaian untuk kejenuhan basa menjadi cukup sesuai (S2) dari kelas sesuai marginal (S3). Bahwasanya pemberian CaCO3 akan meningkatkan Ca-dd dari 1,65 me/100 g pada tanah saat penelitian, menjadi 7,30 me/100 g, menurut yunus (2006) meningkatnya kejenuhan basa akibat dari meningkatnya Ca-dd tanah akibat dari residu kapur.
Keterangan : S1 = Sangat sesuai D = Drainase Inp = input
S2 = Cukup sesuai R = Rendah TP =Tingkat Pengelolaan S3 = Sesuai Marginal T = Tinggi K = Pemberian Kapur S = Sedang SR = Sangat Rendah ST = Sangat Tinggi AM = Agak Masam
Tabel 5. Penilaian Kesesuaian Lahan Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Pada Unit Lahan 2
Karakteristik lahan Nilai data Kesesuaian lahan aktual
Pada Tabel 5, faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman gambir yang harus diperbaiki pada unit lahan 2 adalah, ketersediaan air serta retensi hara KTK dan kejenuhan basa.
Sesuai dengan hasil evaluasi kesesuaian lahan pada unit lahan 2, faktor pembatas curah hujan tahunan yang tinggi (2929 mm), dapat dilakukan pengelolaan tata airnya dengan tingkat pengelolaan sedang, yaitu dengan pembuatan saluran drainase sehingga dari kelas cukup sesuai (S2) pada kesesuaian lahan aktual, menjadi sangat sesuai (S1) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Usaha perbaikan dengan tingkat pengolahan sedang, yang dapat dilakukan untuk faktor pembatas retensi hara KTK dan kejenuhan basa, yaitu dengan pengapuran sesuai kebutuhan tanaman, kebutuhan tanaman gambir untuk kriteria sangat sesuai (S1) untuk KTK diperlukan >16 me/100 g sedangkan untuk
Keterangan : S1 = Sangat sesuai D = Drainase Inp = input
S2 = Cukup sesuai R = Rendah TP =Tingkat Pengelolaan AM = Agak Masam S = Sedang K = Pemberian Kapur
kejenuhan basa >50 %, pada tanah saat penelitian adalah KTK 13,62 me/100 g dan kejenuhan basa 35,47%, sehingga diperlukan penambahan KTK 2,38 me/100 g dan kejenuhan basa 14,53% yang setara dengan 4,46 ton CaCO3/ha.
Dengan demikian kesesuaian untuk KTK dan kejenuhan basa, menjadi sangat sesuai (S1) dari kelas cukup sesuai (S2). Dimana pemberian CaCO3 akan meningkatkan Ca-dd dari 2,57 me/100 g pada tanah saat penelitian, menjadi 6,70 me/100 g.
Tabel 6. Penilaian Kesesuaian Lahan Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Pada Unit Lahan 3
Karakteristik lahan Nilai data Kesesuaian lahan aktual
Pada Tabel 6, faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman gambir yang harus diperbaiki pada unit lahan 3 adalah, ketersediaan air dan retensi hara kejenuhan basa.
Keterangan : S1 = Sangat sesuai D = Drainase Inp = input
S2 = Cukup sesuai R = Rendah TP =Tingkat Pengelolaan S3 = Sesuai Marginal T = Tinggi K = Pemberian Kapur S = Sedang SR = Sangat Rendah
AM = Agak Masam
Sesuai dengan hasil evaluasi kesesuaian lahan pada unit lahan 3, faktor pembatas curah hujan tahunan yang tinggi (2929 mm), dapat dilakukan pengelolaan tata airnya dengan tingkat pengelolaan sedang, yaitu dengan pembuatan saluran drainase, sehingga dari kelas cukup sesuai (S2) pada kesesuaian lahan aktual, menjadi sangat sesuai (S1) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Faktor pembatas tekstur tanah tidak dapat di lakukan usaha perbaikan, sehingga dari kelas sesuai marginal (S3) pada kesesuaian lahan aktual, tetap menjadi sesuai marginal (S3) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Usaha perbaikan dengan tingkat pengolahan sedang yang dapat dilakukan untuk faktor pembatas retensi hara kejenuhan basa, yaitu dengan pengapuran sesuai kebutuhan tanaman, kebutuhan kejenuhan basa tanaman gambir untuk kriteria cukup sesuai (S2) diperlukan 35%, sedangkan pada tanah saat penelitian adalah 18,44% sehingga diperlukan penambahan 16,56% yang setara dengan 4,78 ton CaCO3/ha. Dengan demikian kesesuaian untuk kejenuhan basa menjadi cukup sesuai (S2), dari kelas sesuai marginal (S3). Dimana pemberian CaCO3 akan meningkatkan Ca-dd dari 3,31 me/100 g pada tanah saat penelitian, menjadi 8,20 me/100 g.
Pada Tabel 7, faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman gambir yang harus diperbaiki pada unit lahan 4 adalah, ketersediaan air dan retensi hara kejenuhan basa. Sesuai dengan hasil evaluasi kesesuaian lahan pada unit lahan 4, faktor pembatas curah hujan tahunan yang tinggi (2929 mm), dapat dilakukan pengelolaan tata airnya dengan tingkat pengelolaan sedang, yaitu
dengan pembuatan saluran drainase, sehingga dari kelas cukup sesuai (S2) pada kesesuaian lahan aktual, menjadi sangat sesuai (S1) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Tabel 7. Penilaian Kesesuaian Lahan Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Pada Unit Lahan 4
Karakteristik lahan Nilai data Kesesuaian lahan aktual menjadi sesuai marginal (S3) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Usaha perbaikan dengan tingkat pengolahan sedang, yang dapat dilakukan untuk faktor pembatas retensi hara kejenuhan basa, yaitu dengan pengapuran sesuai kebutuhan tanaman, kebutuhan kejenuhan basa tanaman gambir untuk kriteria cukup sesuai (S2) diperlukan 35%, sedangkan pada tanah saat penelitian adalah 27,25%, sehingga diperlukan penambahan 7,75% yang setara dengan 1,23 ton CaCO3/ha. Dengan demikian kesesuaian untuk kejenuhan basa menjadi cukup
Keterangan : S1 = Sangat sesuai D = Drainase Inp = input
S2 = Cukup sesuai R = Rendah TP =Tingkat Pengelolaan
S3 = Sesuai Marginal N = Netral K = Pemberian Kapur
S = Sedang T = Tinggi
sesuai (S2), dari kelas sesuai marginal (S3). Dimana pemberian CaCO3 akan meningkatkan Ca-dd dari 3,23 me/100 g pada tanah saat penelitian, menjadi 5,00 me/100 g.
Tabel 8. Penilaian Kesesuaian Lahan Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Pada Unit Lahan 5
Karakteristik lahan Nilai data Kesesuaian lahan aktual
Pada Tabel 8, faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman gambir yang harus diperbaiki pada unit lahan 5 adalah, ketersediaan air dan retensi hara kejenuhan basa.
Sesuai dengan hasil evaluasi kesesuaian lahan pada unit lahan 5, faktor pembatas curah hujan tahunan yang tinggi (2929 mm), dapat dilakukan pengelolaan tata airnya dengan tingkat pengelolaan sedang, yaitu dengan pembuatan saluran drainase sehingga dari kelas cukup sesuai (S2) pada kesesuaian lahan aktual, menjadi sangat sesuai (S1) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Keterangan : S1 = Sangat sesuai D = Drainase Inp = input
S2 = Cukup sesuai R = Rendah TP =Tingkat Pengelolaan S3 = Sesuai Marginal T = Tinggi K = Pemberian Kapur S = Sedang SR = Sangat Rendah ST = Sangat Tinggi AM = Agak Masam
Faktor pembatas tekstur tanah tidak dapat di lakukan usaha perbaikan, sehingga dari kelas sesuai marginal (S3) pada kesesuaian lahan aktual, tetap menjadi sesuai marginal (S3) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Usaha perbaikan dengan tingkat pengolahan sedang, yang dapat dilakukan untuk faktor pembatas retensi hara kejenuhan basa, yaitu dengan pengapuran sesuai kebutuhan tanaman, kebutuhan kejenuhan basa tanaman gambir untuk kriteria cukup sesuai (S2) diperlukan 35%, sedangkan pada tanah saat penelitian adalah 17,55% sehingga diperlukan penambahan 17,45%, setara dengan 3,61 ton CaCO3/ha. Dengan demikian kesesuaian untuk kejenuhan basa menjadi cukup sesuai (S2), dari kelas sesuai marginal (S3). Dimana pemberian CaCO3 akan meningkatkan Ca-dd dari 2,65 me/100 g pada tanah saat penelitian, menjadi 8,20 me/100 g.
Pada Tabel 9, faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman gambir yang harus diperbaiki pada unit lahan 6 adalah, ketersediaan air dan retensi hara kejenuhan basa.
Sesuai dengan hasil evaluasi kesesuaian lahan pada unit lahan 6, faktor pembatas curah hujan tahunan yang tinggi (2929 mm), dapat dilakukan pengelolaan tata airnya dengan tingkat pengelolaan sedang, yaitu dengan pembuatan saluran drainase, sehingga dari kelas cukup sesuai (S2) pada kesesuaian lahan aktual menjadi sangat sesuai (S1) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Faktor pembatas tekstur tanah tidak dapat di lakukan usaha perbaikan, sehingga dari kelas sesuai marginal (S3) pada kesesuaian lahan aktual, tetap menjadi sesuai marginal (S3) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Tabel 9. Penilaian Kesesuaian Lahan Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Pada Unit Lahan 6
Karakteristik lahan Nilai data Kesesuaian lahan aktual
Usaha perbaikan dengan tingkat pengolahan sedang yang dapat dilakukan untuk faktor pembatas retensi hara kejenuhan basa, yaitu dengan pengapuran sesuai kebutuhan tanaman, kebutuhan kejenuhan basa tanaman gambir untuk kriteria cukup sesuai (S2) diperlukan 35%, sedangkan pada tanah saat penelitian adalah 18,92% sehingga diperlukan penambahan 16,08%, yang setara dengan 5,56 ton CaCO3/ha. Dengan demikian kesesuaian untuk kejenuhan basa menjadi cukup sesuai (S2), dari kelas sesuai marginal (S3). Dimana pemberian CaCO3 akan
meningkatkan Ca-dd dari 3,14 me/100 g pada saat penelitian, menjadi 9,60 me/100 g.
Dari hasil analisis yang di peroleh dapat dilihat pada Tabel rekapitulasi hasil penilaian lahan berikut ini :
Tabel 10. Rekapitulasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.)
Land Unit KLA Perkiraan Usaha Perbaikan KLP
Unit lahan 1 S3-rc,nr - Pembuatan drainase
- Pengapuran 4,41 ton CaCO3/ha
S3-rc Unit lahan 2 S2-wa,nr - Pembuatan drainase
- Pengapuran 4,46 ton CaCO3/ha
S1-wa, nr Unit lahan 3 S3-rc,nr - Pembuatan drainase
- Pengapuran 4,78 ton CaCO3/ha
S3-rc Unit lahan 4 S3-rc,nr - Pembuatan drainase
- Pengapuran 1,23 ton CaCO3/ha
S3-rc Unit lahan 5 S3-rc,nr - Pembuatan drainase
- Pengapuran 3,61 ton CaCO3/ha
S3-rc Unit lahan 6 S3-rc,nr - Pembuatan drainase
- Pengapuran 5,56 ton CaCO3/ha
S3-rc
Keterangan : KLA = Kesesuaian Lahan Aktual KLP = Kesesuaian Lahan Potensial
Dari Tabel 10. Karakteristik retensi hara kejenuhan basa tanah pada areal penggunaan lain di kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, untuk tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) tergolong sangat rendah. Faktor pembatas ketersediaan hara bukanlah menjadi faktor pembatas utama dalam menilai kesesuaian lahannya, karena masih bisa dilakukan pengelolaan dengan penambahan unsur hara ke dalam tanah. Sedangkan yang menjadi faktor pembatas utama dalam penilaian kelas kesesuaian lahan untuk tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.), pada areal penggunaan lain di kecamatan Sitellu Tali Urang Julu adalah media perakaran berupa tekstur tanah, dikarenakan tekstur tanah tidak akan berubah dalam waktu yang singkat, contohnya tekstur pasir sulit dirubah menjadi lempung atau tekstur liat sulit dirubah menjadi pasir. Hal ini didukung oleh Rayes (2007)
yang menyatakan bahwa dalam evaluasi lahan dengan faktor media perakaran berupa tekstur tidak dapat dilakukan usaha perbaikan.
Dari hasil analisis GIS, diperoleh luas kesesuaian lahan aktual dan potensial pada areal penggunaan lain Sitellu Tali Urang Julu, untuk tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) (tabel 11) dan peta kesesuaian lahannya disajikan pada Gambar 3 dan 4.
Tabel 11. Luas Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.)
Unit Lahan Kesesuaian lahan aktual
Kesesuaian lahan
potensial Luas (Ha) Persentase (%)
1 S3-rc,nr S3-rc 939.11 28,4
2 S2-wa,nr S1-wa,nr 258.38 7,8
3 S3-rc,nr S3-rc 327.84 9,9
4 S3-rc,nr S3-rc 567.80 17,2
5 S3-rc,nr S3-rc 423.17 12,8
6 S3-rc,nr S3-rc 787.11 23,8
Total 3303,42 100
Sumber : Hasil Analisis GIS
Gambar 3. Peta Kesesuaian Lahan Aktual Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Di Lahan Areal Penggunaan Lain Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat
Gambar 4. Peta Kesesuaian Lahan Potensial Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Di Lahan Areal Penggunaan Lain Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat
2.6.2. Kopi arabika
Tabel 12. Penilaian Kesesuaian Lahan Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L.) Pada Unit Lahan 1
Karakteristik lahan Nilai data Kesesuaian lahan aktual
Ketinggian tempat dpl (m)
20,09 Lama bulan kering (bln)
2920 Batuan dipermukaan (%) Singkapan batuan
Pada Tabel 12, faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman kopi arabika yang harus diperbaiki pada unit lahan 1 adalah, curah hujan, retensi hara kejenuhan basa dan ketersediaan hara P2O5 tanah. Faktor pembatas tekstur tanah tidak dapat di lakukan usaha perbaikan, sehingga dari kelas sesuai marginal (S3) pada kesesuaian lahan aktual, tetap menjadi sesuai marginal (S3) ditinjau dari
Keterangan : S1 = Sangat sesuai D = Drainase Inp = input
S2 = Cukup sesuai R = Rendah TP =Tingkat Pengelolaan S3 = Sesuai Marginal T = Tinggi K = Pemberian Kapur S = Sedang SR = Sangat Ringan ST = Sangat Tinggi AM = Agak Masam P = Pemupukan SR = Sangat Rendah
kesesuaian lahan potensial. Sesuai dengan pernyataan Rayes (2007), bahwasannya dalam evaluasi lahan dengan faktor pembatas media perakaran berupa tekstur tidak dapat dilakukan usaha perbaikan. Hal ini dikarenakan tekstur tanah tidak akan berubah dalam waktu yang singkat, contohnya tekstur pasir sulit dirubah menjadi lempung atau tekstur liat sulit dirubah menjadi pasir.
Faktor pembatas curah hujan tahunan yang tinggi (2920 mm), dapat dilakukan pengelolaan tata airnya dengan tingkat pengelolaan sedang sampai tinggi, yaitu dengan pembuatan saluran drainase sehingga dari kelas sesuai marginal (S3), pada kesesuaian lahan aktual menjadi cukup sesuai (S2) ditinjau dari kesesuaian lahan potensial.
Usaha perbaikan dengan tingkat pengolahan sedang yang dapat dilakukan untuk faktor pembatas retensi hara kejenuhan basa, yaitu dengan pengapuran sesuai kebutuhan tanaman, kebutuhan kejenuhan basa tanaman kopi arabika untuk kriteria cukup sesuai (S2) diperlukan 35%, sedangkan pada tanah saat penelitian adalah 13,60%, sehingga diperlukan penambahan 21% yang setara dengan 4,41 ton CaCO3/ha. Dengan demikian kesesuaian untuk kejenuhan basa menjadi cukup sesuai (S2) dari kelas sesuai marginal (S3). Dimana pemberian CaCO3 akan meningkatkan Ca-dd dari 1,65 me/100 g pada tanah saat penelitian, menjadi 7,30 me/100 g, menurut yunus (2006) meningkatnya kejenuhan basa akibat dari meningkatnya Ca-dd tanah akibat dari residu kapur.
Usaha perbaikan dengan tingkat pengolahan sedang yang dapat dilakukan untuk faktor pembatas ketersediaan hara P2O5, yaitu dengan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman, kebutuhan P2O5 tanaman kopi arabika untuk kriteria cukup
sesuai (S2) diperlukan 26 ppm, sedangkan pada tanah saat penelitian adalah 9,54 ppm sehingga diperlukan penambahan 16,46 ppm, setara dengan 25,69 kg P2O5/ha atau setara dengan 71,35 kg SP36/ha. Dengan demikian kesesuaian untuk P2O5 menjadi cukup sesuai (S2) dari kelas sesuai marginal (S3).
Tabel 13. Penilaian Kesesuaian Lahan Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L.) Pada Unit Lahan 2
Karakteristik lahan Nilai data Kesesuaian lahan aktual
Ketinggian tempat dpl (m)
19,62 Lama bulan kering (bln)
2920 Batuan dipermukaan (%) Singkapan batuan
Pada Tabel 13, faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman kopi arabika yang harus diperbaiki pada unit lahan 2 adalah, curah hujan, retensi
Keterangan : S1 = Sangat sesuai D = Drainase Inp = input
Keterangan : S1 = Sangat sesuai D = Drainase Inp = input