BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Analisis Target dan Realisasi Bank Syari ’ ah
Apabila berbicara mengenai target dan realisasi pasti juga tidak akan terlepas dari performa laporan keuangan bank, karena bank sebagai lembaga kepercayaan, dalam operasionalnya juga berfungsi sebagai public service yang berusaha dengan dana masyarakat, sangat perlu memberikan informasi kepada masyarakat luas terutama mengenai keadaan keuangannya. Dari informasi tersebut akan dapat diketahui mengenai kondisi keuangan, kinerja
(performance) dan hasil usaha yang telah dicapai serta informasi keuangan lainnya. Disamping itu, dapat pula digunakan untuk menganalisis, apakah manajemen telah mengelola banknya secara efisien, produktif dan terencana.
Dari rencana kerja dan anggaran bank yang telah disusun setiap tahun akan dapat dibandingkan dengan realisasinya secara teratur baik setiap bulan/setiap kwartal atau setiap peiode tertentu yang diinginkan oleh pihak management bank yang bersangkutan. Suatu rencana kerja dan anggaran yang baik akan dihitung berdasarkan standard costing untuk unit kegiatan tertentu, hingga anggaran tersebut betul-betul akan dapat dipakai sebagai alat perencanaan dan pengendalian laba yang teliti, dan akan memenuhi konsep performance-budget
yang lebih sesuai dengan sifat bank sebagai badan usaha yang mengejar profit/laba.
Mengingat adanya perbedaan yang khusus antara industri perbankan dan
adalah dalam bentuk jasa yang beraneka ragam, maka hubungan fungsi-fungsi output dan input lebuh sulit untuk distandardisasikan. Oleh karena itu bentuk anggaran di beberapa bank banyak yang berupa appropriate budget yang sebetulnya lebih cocok untuk badan-badan pemerintah dan lembaga-lembaga sosial yang tidak bertujuan untuk mencari laba. Dalam dunia perbankan, dikenal salah satu teknik analisa yang erat kaitannya dengan target dan
realisasi, yaitu analisa variansi. Analisa variansi adalah “Suatu teknik analisa perbandingan antara target yang ditetapkan dalam anggaran dengan realisasi yang dicapai apakah menguntungkan atau terjadi penyimpangan yang
merugikan.”23
Berhubung sulitnya aplikasi standar costing di dunia perbankan maka teknik-teknik analisa varians yang lazim dimanfaatkan dalam dunia perbankan namun hanya sebatas pada single variance atau untuk bank yang telah mampu menciptakan standard costing dapat pula menggunakan two variance method.
1. Single Variance Method
Dalam metode ini “Analisa varians langsung diperbandingkan antara apa-apa yang dianggarkan dengan realisasi yang dicapai oleh masing-masing mata anggaran yang bersangkutan. Kemudian selisih yang ada dapat berupa favorable variance kalau hal tersebut sifatnya positif bagi bank yang bersangkutan dan sebaliknya akan berupa unfavorable variance
apabila sifatnya negatif bagi bank”24
. Sebagai misal :
23
Teguh Pudjo Muljono, Analisa Laporan Keuangan Untuk Perbankan, (Jakarta : Djambatan, 1987), h. 30
24
Teguh Pudjo Muljono, Analisa Laporan Keuangan Untuk Perbankan, (Jakarta : Djambatan, 1995) Ed. Rev.3, Cet.5, h. 64
a. Kalau pendapatan yang dicapai dilampaui/lebih besar dari anggaran yang telah ditetapkan maka penyimpangan tersebut bersifat favorable.
Hal ini ada beberapa kemungkinan yang perlu dianalisa mungkin karena anggarannya yang ditetapkan terlalu kecil dan lain-lain.
b. Kalau biaya yang dicapai dilampaui/lebih besar dari anggaran yang telah ditetapkan maka penyimpangan tersebut bersifat unfavorable. Hal ini terdapat kemungkinan anggarannya ditetapkan terlalu kecil dan lain-lain.
Cara dalam single variance method ini sangat sederhana dan sudah tentu hasilnya pun kurang memuaskan untuk pengambilan kesimpulan yang diandalkan.
2. Two Variance Method
Pada two variance method ini lebih mendekati pemakaian konsep
performance-budget bila dibandingkan dengan konsep yang pertama, dan kesimpulan yang dapat diambil pun mempunyai skala yang lebih luas. Jadi misalnya dalam jumlah biaya yang dikeluarkan telah terlampaui dari semula yang dianggarkan, tetapi karena volume usaha yang dicapai/lebih besar yang dianggarkan maka dalam metode kesimpulan tetap bersifat negatif, tetapi pada metode kedua akan memberikan kesimpulan yang positif.
Manfaat dari analisa varians ini :25
a. Untuk mengetahui sejauh mana penggunaan anggaran.
b. Untuk mengetahui sejauh mana realisasi yang dicapai dibandingkan dengan target.
25
c. Untuk penyimpangan-penyimpangan yang besar jumlahnya (significance) akan segera dapat diambil tindakan-tindakan koreksi yang diperlukan.
d. Untuk pengukuran prestasi manager bank yang bertanggung jawab untuk pengelolaan masing-masing kegiatan dan lain-lain.
Namun dalam pemakain analisa varians ini tetap terdapat keterbatasan yaitu apabila anggaran yang disusun yang akan dipakai sebagai patokan/standard untuk mengadakan penilaian tidak cermat, maka akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga. Oleh karena itu, sebelum analisa varians ini dilakukan perlu diadakan review terlebih dahulu sampai sejauh mana anggaran tersebut dapat dipercaya.
Selanjutnya, dalam setiap pembiayaan tidak terlepas dari berbagai macam risiko yang berujung pada pembiayaan bermasalah, oleh karenanya lembaga keuangan syariah pun harus berusaha meminimalisir risiko tersebut. Dalam melakukan pembiayaan, pihak bank syariah harus memperhatikan beberapa prinsip utama yang berkaitan dengan kondisi secara keseluruhan calon peminjam (mudharib), prinsip ini dikenal 5 C, yaitu (character, capacity, capital, collateral, dan condition). Prinsip-prinsip berikut dijelaskan sebagai berikut :
1. Character, adalah “Penilaian dari karakter watak calon peminjam
merupakan salah satu pertimbangan yang terpenting dalam memutuskan
pemberian kredit”.26
26
Muhammad Syarif Surbakti, Analisis Faktor-faktor Penyebab Non Performing Financing, EKSIS, Jurnal Ekonomi Keuangan dan Bisnis Islami, Vol. 1 No.1 (Januari, 2007), h. 7
2. Capacity, adalah “Kemampuan nasabah dalam membayar pinjaman”.27
Penilaian tentang kemampuan peminjam untuk melakukan pembayaran dan kemampuan tersebut diukur dengan catatan prestasi peminjam di masa lalu dan juga didukung dengan pengamatan lapangan atas sarana usahanya.
3. Capital, adalah besarnya modal yang diperlukan oleh peminjam. modal penilaian terhadap kemampuan modal yang dimiliki oleh calon peminjam, diukur dengan posisi usaha secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh rasio keuangan dan penekanan pada komposisi modalnya.
4. Collateral, adalah jaminan yang dimiliki oleh calon peminjam. Penilaian ini untuk lebih meyakinkan bahwa jika suatu kegagalan pembiayaan terjadi, maka jaminan dapat dipakai sebagai pengganti dari kewajibannya. 5. Condition, yang dimaksud condition adalah kondisi ekonomi, sosial, dan
politik yang berkembang pada waktu tersebut. Bank syari’ah harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat secara spesifik melihat adanya keterkaitan dengan jenis usaha yang dilakukan oleh calon penerima pembiayaan. Hal tersebut karena kondisi eksternal berperan besar dalam proses berjalannya usaha calon penerima pembiayaan.
Prinsip 5 C ini terkadang ditambahkan dengan 1 C, yaitu Constraint yang merupakan hambatan-hambatan yang mungkin mengganggu kegiatan usaha. Untuk bank syariah dasar analisis 5 C belumlah cukup, sehingga perlu memperhatikan kondisi sifap amanah, kejujuran, dan kepercayaan dari masing-masing nasabah.
27
Selain menggunakan prinsip 5 C yang telah dijelaskan di atas, prinsip penilaian kredit yang sering dilakukan yaitu dengan analisis 7 P dan studi kelayakan 7 A. Menurut Kasmir (2004) Penilaian kredit dengan 7 P adalah sebagai berikut :
1. Personality yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa lalunya. Personality juga mencakup emosi, tingkah laku, dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu nasabah.
2. Party yaitu golongan mengklasifikasikan nasabah dalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakter nya.
3. Purpose yaitu mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit yang diinginkan nasabah.
4. Prospect yaitu menilai usaha nasabah di masa yang akan datang apakah menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. Hal ini penting mengingat jika status fasilitas kredit (pembiayaan) yang dibiayai tanpa menggunakan prospek, bukan hanya bank yang rugi akan tetapi juga nasabah.
5. Payment merupakan usuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit (pembiayaan) yang telah diambil atau dari mana saja sumber dana untuk pengembalian kredit (pembiayaan) yang diperolehnya.
6. Profitability untuk menganalisis kemampuan nasabah dalam mencari laba.
Profitability diukur dari periode ke periode apakah akan tetap sama atau semakin meningkat.
7. Protection adalah bagaimana menjaga kredit (pembiayaan) yang disalurkan oleh bank namun melalui suatu perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau jaminan asuransi.
Adapun penilaian kredit dengan studi kelayakan 7 A menurut Kasmir (2004), sebagai berikut :
1. Aspek Hukum
Merupakan aspek untuk menilai keabsahan dan keaslian dokumen-dokumen atau surat-surat yang dimiliki oleh calon debitur, seperti akte notaris atau sertifikat tanah atau dokumen lainnya.
2. Aspek Pasar dan Pemasaran
Yaitu aspek untuk menilai prospek usaha nasabah sekarang dan di masa yang akan datang.
3. Aspek Keuangan
Merupakan aspek untuk menilai kemampuan calon nasabah dalam membiayai dan mengelola usahanya. Dan dari aspek ini akan tergambar berapa besar biaya dan pendapatan yang akan dikeluarkan dan diperolehnya.
4. Aspek Operasi/Teknis
Merupakan aspek untuk menilai letak ruangan, lokasi usaha, kapasitas produksi suatu usaha yang tercermin dari sarana dan prasarana yang dimilikinya.
5. Aspek Manajemen
Merupakan aspek untuk menilai sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas.
6. Aspek Ekonomi/Sosial
Merupakan aspek untuk menilai dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan dengan adanya suatu usaha terutama terhadap masyarakat , apakah lebih banyak cost atau sebaliknya.
7. Aspek AMDAL
Merupakan aspek yang menilai dampak lingkungan yang akan timbul dengan adanya suatu usaha, kemudian cara-cara pencegahannya terhadap dampak tersebut.
Analisa pembiayaan merupakan salah satu tahapan dalam pemberian pembiayaan. Adapun tahapannya sebagai berikut :
1. Persiapan pembiayaan (financing preparation) adalah kegiatan tahap permulaan dengan maksud saling mengetahui informasi antara calon debitur dengan bank, yang dilakukan melalui wawancara. Seperti syarat pengajuan pembiayaan serta keadaan usaha nasabah.
2. Analisa pembiayaan (financing analysis) merupakan langkah penting untuk realisasi pembiayaan yang bertujuan menilai kelayakan calon debitur, menekan risiko tidak terbayarnya pembiayaan dan menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak. Dapat dilakukan dengan pendekatan jaminan, karakter, kemampuan pelunasan nasabah, studi kelayakan dan fungsi bank.
3. Keputusan pembiayaan (financing decision) merupakan langkah dari pejabat bank untuk menerima atau menolak pembiayaan yang diajukan. Pemutus pembiayaan adalah seorang pejabat atau komite yang khusus diberi wewenang untuk memutuskan pembiayaan.
4. Pelaksanaan dan administrasi pembiayaan (financing realization and administration). Tahap pelaksanaan pembiayaan merupakan “Langkah
yang ditempuh setelah dilakukan keputusan pembiayaan. Hal ini dilakukan setelah calon debitur mempelajari dan menyetujui isi keputusan pembiayaan. Kemudian kedua belah pihak menandatangani perjanjian pembiayaan beserta lampirannya. Sedangkan administrasi dilakukan
dengan penerimaan keputusan dan penyampaian kepada debitur”.28
5. Supervisi pembiayaan dan pembinaan debitur (financing supervision and follow up) adalah upaya penanganan pembiayaan yang telah diberikan dengan memantau usaha yang dijalankan debitur dan memberikan saran agar pengembaliannya berjalan dengan baik.
Apabila analisa pembiayaan dilakukan dengan baik, maka akan meminimalisir risiko yang akan terjadi.
Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil seperti musyarakah dan
mudharabah diharapkan dapat lebih menggerakkan sektor riil karena dapat menutup kemungkinan disalurkannya dana pada kepentingan konsumtif dan hanya pada usaha produktif. Bila ditinjau dari konsep bagi hasil, maka harus ada return yang dibagi, hal tersebut hanya bisa terjadi bila uang digunakan untuk usaha produktif.
Dan satu hal yang diperhatikan oleh pihak manajemen bank syariah, dalam hal ini Account Officer, harus mengamati secara langsung calon peminjam dengan mendatangi tempat usahanya. Fungsi prinsip 5 C+S, studi
28
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Jakarta : Ekonosia, Kampus Fakultas Ekonomi UI, 2004), Edisi I, h.214
7P, dan analisis kelayakan 7A ini untuk menghindari terjadinya risiko-risiko yang tidak diinginkan dan dapat meminimalisir risiko kredit macet, kebangkrutan dan sebagainya terhadap pembiayaan-pembiayaan yang telah disepakati.
47