PORT PENGHUBUNG TERMOCOUPLE
4.3. Analisis Teknik
Perhitungan/analisis teknik dalam proses rancang bangun merupakan perhitungan terhadap penggunaan bahan yang baik digunakan, dan juga komponen penting yang diperlukan pada proses rancang bangun itu sendiri.
Dalam penelitian ini, analisis teknik diperlukan sebagai pengukuran kebutuhan tenaga yang diperlukan dalam proses dan juga ukuran bahan yang diperlukan pada kompen terpenting yakni batang poros ass. Poros ass pada silinder yang berfungsi menopang beban dari silinder dan beban proses memerlukan perhitungan dengan baik pada penentuan bahannya agar tidak menimbulkan masalah ketika proses pemisahannya. Hasil dari perhitungan analisis teknik digunakan sebagai pertimbangan perlu tidaknya penggunaan motor listrik dalam penggunaan alat dan juga ukuran poros yang sesuai. Perhitungan mengenai kebutuhan dan jenis bahan lain tidak dilakukan dikarenakan bahan disesuaikan dengan ketersedian bahan dan fungsional alat dalam proses pabrikasi.
Diketahui : a. Rpm : 30 rpm (putaran konstan)
31
b. Daya yang dibutuhkan (P) : F x v
: (13 Kg x 9.8 N/Kg) N x 0.5m/s
: 63.7 watt = 0.0637 Kw = 0.085 Hp (Alasan mengapa hanya menggunakan tenaga manusia).
c. Faktor koreksi (Fc) : 1.5 (Karena menggunakan daya yang dibutuhkan dan perkiraan adanya pembebanan akibat faktor gesekan yang ada pada alat).
: SF2 = 1.5 (Karena bahan tidak halus dan tidak ada faktor bertangga).
: α = 3.15 (Grafik faktor konsentrasi tegangan α, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, hal 9).
32
b. Nilai (β) : 1.96 / 25.4 = 0.0077 : 50 / 25.4 = 1.9
: β = 3.15 (Grafik faktor konsentrasi tegangan β, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, hal 11).
: α > β c. Tegangan Geser (τ) : 5.1 T / ds1/3
: 5.1 x 3101 / 25.41/3 : 0.965 Kg / mm2
d. τa x (SF2/ α atau β)..(1) : 5.78 Kg / mm2 x ( 1.5/ 3.15) = 2.752 Kg / mm2
e. τ x Cb x Kt… (2) : 0.965 x 1 x 1.5 = 1.4475 Kg / mm2 Analisis Bahan Mencukupi Karena (1) > (2)
Kesimpulan : a. Bahan Poros : Besi Baja SC35.
b. Diameter Poros : 25.4 mm = 1 inchi.
c. Diameter Bantalan : 50 mm.
d. Sumber Tenaga : Manusia.
33 V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil
Proses rancang bangun model pemisah bahan plastik dan bahan organik merupakan hasil dari kesinambungan proses. Identifikasi dan penanganan masalah dengan proses yang sistematis, dapat meningkatkan performansi dari pemisahan.
Dari hasil uji performansi, diketahui terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses pemisahan dengan penggunaan silinder panas. Lebih lengkap mengenai hasil uji performansi yang dilakukan dapat dilihat pada Lampiran 7, 8 dan 9.
Tabel 3. Effisiensi Plastik Terpisahkan
Variasi 70°C 80°C 90°C 100°C 110°C
I 13.33% 40.33% 49.33% 50.67% 42.67%
II 3.33% 42.00% 53.33% 54.33% 44.67%
III 6.67% 48.67% 54.67% 55.33% 47.67%
Gambar 28. Grafik Perbandingan Efisiensi Plastik Terpisahkan
Berdasarkan gambar grafik hasil uji performansi diatas, diketahui suhu optimal pemisahan adalah 1000C dengan effisiensi sebesar 50.67% (variasi bahan 1), 54.33 % (variasi bahan 2) dan 55.33% (variasi bahan 3). Hal lain yang juga diketahui dari hasil uji performansi, adalah pengunaan suhu tertentu berpengaruh terhadap adanya bahan plastik yang meleleh. Semakin meningkatnya suhu yang
0%
34 digunakan dalam proses pemisahan, semakin besar jumlah plastik yang meleleh.
Lebih lanjut dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel 4 dan gambar 29.
Tabel 4. Plastik Meleleh Akibat Pengaruh Suhu
Variasi 70°C 80°C 90°C 100°C 110°C
I 0.00% 5.00% 6.67% 10.67% 12.67%
II 0.00% 4.67% 8.33% 11.67% 14.67%
III 0.00% 5.67% 9.33% 13.33% 14.67%
Gambar 29. Grafik Perbandingan Plastik Meleleh Akibat Pengaruh Suhu Lelehnya plastik menimbulkan dampak lain dalam proses pemisahan bahan plastik dan bahan organik, yakni ikut terpisahkannya bahan organik dalam proses pemisahan. Peningkatan Prosentase plastik yang meleleh akibat pengaruh suhu (tabel 4 dan gambar 29) juga menyebabkan peningkatan terhadap prosentase bahan organik yang ikut terpisahkan hal ini nampak pada tabel 5 dan gambar 30.
Tabel 5. Bahan Organik Terpisahkan.
Variasi 70°C 80°C 90°C 100°C 110°C
35 Gambar 30. Grafik Perbandingan Bahan Organik Terpisahkan.
Catatan : Hingga suhu maksimal (1100C) untuk plastik jenis keras seperti botol minuman(PE kerapatan tinggi) dan PVC belum dapat terpisahkan dengan silinder panas.
Dalam proses pemisahan dengan metode silinder panas, tidak terlepas dari penggunaan energi listrik untuk menyalakan heater sebagai sumber panas.
Kinerja heater yang dikontrol oleh thermokontrol membagi kebutuhan energi listrik tersebut menjadi dua sistem kebutuhan energi. Pertama adalah kebutuhan energi saat awal proses (pemanasan hingga suhu terkontrol tercapai) dan kedua kebutuhan energi saat pemisahan plastik tersebut berlangsung. Tingkat kebutuhan energi listrik dalam penelitian ini diperhatikan melalui korelasi fluktuasi suhu yang terjadi pada permukaan silinder terhadap waktu. Pada penelitian ini kebutuhan energi listrik diukur ketika suhu optimum pemisahan atau saat suhu 1000C. Untuk menjelaskan kebutuhan energi listrik saat awal proses dijelaskan melalui fluktuasi suhu yang terjadi saat awal proses tersebut seperti yang disajikan pada lampiran 10 dan gambar 31.
36 Gambar 31. Fluktuasi Suhu Silinder Ketika Awal Proses
Untuk menyederhanakan dalam mengukur kebutuhan energi listrik saat awal proses, digunakan grafik peningkatan suhu rata-rata hingga 500 detik dari gambar grafik diatas seperti yang disajikan pada gambar 32.
Gambar 32. Fluktuasi Suhu Rata-Rata Silinder Selang waktu 500 detik y = -0.000016x2 + 0.067557x + 38.963; R² = 0.9917
0 250 500 750 1000 1250 1500 1750 2000
Suhu (0C)
Keterangan : Garis Peningkatan suhu saat t = 500 detik Garis Linier Peningkatan suhu saat t = 500 detik
37 Dari gambar grafik tersebut didapat garis linier peningkatan suhu dengan persamaan peningkatan suhu yakni persamaan linier y = 0.055 x + 39.84 (taraf kepercayaan 99%). Maka besarnya kebutuhan energi listrik untuk mencapai suhu optimum (T = 1000C) dijelaskan sebagai berikut :
a. Suhu saat t = 0 : 0.055 x (0) + 39.84 : 39.840C
b. Suhu saat t = 500 : 0.055 x (500) + 39.84 : 67.340C
c. Jadi kecepatan peningkatan suhu yang terjadi sebesar :
: = 0.0550C/detik
d. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu optimum (T = 1000C) sebesar : : = 1818.182 detik
e. Jadi besarnya kebutuhan energi listrik saat awal proses (T = 1000C) sebesar : : 2000 watt x 1818.182 = 3636363.636 joule
: 3636.36 killojoule : 1.01 kwh
Kebutuhan energi listrik saat awal proses berbeda dengan ketika proses pemisahan berlangsung. Perbedaan ini dikarenakan saat proses pemisahan, heater tidak menyala secara terus menerus. Saat proses pemisahan, heater hanya menyala untuk menjaga kestabilan suhu yang dikontrol oleh thermokontrol. Sama dengan pengukuran kebutuhan energi saat awal proses, kebutuhan energi saat proses pemisahan dilakukan dengan melihat fluktuasi suhu yang terjadi seperti yang disajikan pada lampiran 11, gambar 33.
38 Gambar 33. Fluktuasi Suhu Silinder Ketika Terjadinya Pembebanan
Dengan melihat fluktuasi suhu dan persamaan yang didapat, maka diketahui besarnya kebutuhan energi listrik selama satu jam proses. Pada perhitungan kebutuhan energi listrik saat proses pemisahan ini, selain pengamatan terhadap fluktuasi suhu yang terjadi dilakukan juga pengamatan terhadap kinerja thermokontrol dalam menghidup-matikan heater. Dari hasil uji performansi yang dilakukan diketahui bahwa thermokontrol akan menyalakan kembali heater saat terjadi penurunan suhu sebesar 10C, dan akan mematikannya saat suhu terkontrol telah tercapai. Dengan demikian kebuthan energi listrik selama satu jam saat proses pemisahan dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Waktu untuk menaikan 10C : 5 detik (lampiran 12)
b. Energi untuk menaikan 10C : 5 detik x 2000 watt = 10 000 joule c. Waktu satu fase (heater 1 kali menyala dan satu kali mati) : 203 detik d. Fase yang terjadi selama 1 jam :
: = 17.73 fase ≈ 18 fase
e. Kebutuhan energi saat proses pemisahan selama 1 jam adalah : : 18 x 10000 joule = 180 000 joulle = 180 killojoule
39 5.2. Pembahasan
Rancang bangun dan pengamatan mengenai hal-hal yang mempengaruhi proses pemisahan bahan plastik dan bahan organik dengan metode silinder panas merupakan tujuan utama dilakukannya penelitian ini. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan suatu rancangan pengembangan terbaik dalam membentuk suatu alat pemisah sampah plastik dan sampah organik. Berdasarkan hasil uji performansi yang dilakukan, diketahui bahwa proses pemanasan terhadap bahan plastik merupakan faktor utama yang mempengaruhi proses pemisahan dengan metode silinder panas tersebut. Proses pemanasan ini dipengaruhi oleh dua faktor yang saling terkait yakni suhu dan jenis bahan plastik itu sendiri. Pada proses pemisahan bahan plastik dan bahan organik secara prinsip kerja memiliki kesamaan dalam pembentukan plastik dengan metode molding. Prinsip proses ini adalah memberikan panas pada lembaran hingga melunak kemudian diberi tekanan hingga plastik berbentuk lawan dari mold (Amelia et al. 2008).
Proses Pemanasan
Bahan Plastik Suhu Pemisahan
Gambar 34. Faktor Penentu Proses Pemanasan
Suhu permukaan silinder merupakan faktor utama dari proses pemanasan dalam proses pemisahan dengan metode silinder panas. Adanya pengaruh suhu terhadap proses pemisahan, dapat terlihat dari adanya peningkatan bahan plastik yang terpisahkan pada masing-masing suhu terkontrol; 700C, 800C, 900C, dan 1000C. Berdasarkan hasil uji performansi terhadap masing-masing suhu terkontrol tersebut diketahui, effisiensi pemisahan tertinggi terjadi saat suhu 1000C, yakni 50.67% (variasi bahan 1). Penggunaan suhu lebih dari 1000C mengakibatkan plastik meleleh dan membuat plastik tersebut tidak dapat dipisahkan yang menurunakan effisiensi pemisahan menjadi 42.67% (variasi bahan 1). Plastik leleh tidak dapat terpisahkan dikarenakan plastik tersebut menyelimuti permukaan silinder dan berubah menjadi sesuatu yang tidak termanfaatkan (gambar 35). Plastik yang meleleh pada proses pemisahan ini disebabkan oleh pengunaan suhu yang melebihi sifat titik lelehnya plastik.
40 Kondisi ini karena temperatur pemanasan yang berlebih mengakibatkan plastik melebihi kondisi pelunakan (Amelia et al. 2008).
Gambar 35. Plastik Berubah dan Meleleh Akibat Suhu Tinggi
Dalam pengembangan menjadi sebuah alat pemisah sampah plastik dan sampah organik, penggunaan satu suhu saja (suhu optimal pemisahan,1000C) dalam proses pemisahan, bukan merupakan mekanisme terbaik dalam proses pemisahan dengan metode silinder panas tersebut. Hal ini dikarenakan, suhu optimal saat proses pemisahan tidak terlepas dari jenis plastik itu sendiri. Jenis-jenis plastik yang beragam baik dari Jenis-jenis polimer dan densitasnya memberikan perbedaan suhu optimal pemisahan dengan metode silinder panas tersebut.
Temperatur dipengaruhi oleh jenis material plastik yang digunakan karena setiap jenis memiliki temperatur proses yang berbeda (Bordonaro et al. 1998).
Perbedaan suhu optimal pemisahan diketahui dari adanya perbedaan plastik yang terpisahkan pada masing-masing suhu terkontrol yang dilakukan pada penelitian kali ini. Sebagai contoh untuk memisahkan plastik PE dengan densitas tinggi (botol minuman) membutuhkan suhu lebih tinggi dibandingkan dengan PE dengan densitas rendah (kantong plastik).
Perbedaan suhu optimum untuk jenis dan densitas plastik yang berbeda, juga diketahui dari data mengenai jumlah plastik yang meleleh pada permukaan silinder (gambar 29). Dari data tersebut terlihat adanya peningkatan jumlah bahan plastik yang meleleh akibat peningkatan suhu. Titik leleh sangat dipengaruhi oleh jumlah atom karbon. Jumlah atom karbon makin besar, konsentrasi amida makin kecil, titik leleh pun menurun (Mujiarto, 2005). Penggunaan suhu yang melebihi sifat titik leleh plastik membuat plastik tersebut meleleh pada proses pemisahan.
Adanya plastik leleh akan membuat plastik tersebut tidak dapat dipisahkan dan
41 membuat terganggunya proses selanjutnya. Terganggunya proses selanjutnya terjadi dikarenakan plastik leleh yang menyelimuti permukaan silinder membuat bahan organik ikut menempel dan terpisahkan di dalam proses. Hal ini nampak dari gambar 30, adanya peningkatan bahan organik yang ikut terpisahkan seiring peningkatan bahan plastik yang meleleh akibat peningkatan suhu. Dengan melihat adanya peningkatan bahan plastik yang meleleh dan bahan organik yang ikut terpisahkan seiring peningkatan suhu, maka dalam pengembangan menjadi alat pemisah sampah plastik dan sampah organik pemisahan dengan suhu bertingkat dari suhu rendah hingga suhu tinggi sangat baik dilakukan. Suhu bertingkat dapat mengurangi dampak plastik meleleh dalam proses pemisahan. Hal ini dikarenakan plastik dengan titik leleh rendah dapat terlebih dahulu dipisahkan dari jenis plastik dengan titik leleh tinggi. Tidak adanya plastik leleh tentunya akan mengurangi bahan organik yang ikut terpisahkan.
Proses pemanasan dalam pemisahan bahan plastik dan bahan organik dengan metode silinder panas, tidak terlepas metode pengaliran bahan yang dilakukan. Hal ini dikarenakan faktor pengaliran bahan menentukan terhadap berlangsung atau tidaknya proses pemanasan pada bahan plastik tersebut.
Berdasarkan hasil uji performansi, faktor pengaliran bahan menentukan proses pemanasan diketahui dari perbedaan effisiensi pemisahan pada masing-masing variasi bahan yang diujikan pada penelitian kali ini. Faktor pengaliran bahan pada model pemisah ini terkait dengan sistem hopper yang dirancang. Pada perancangan hopper yang dibuat, pengaliran bahan yang tidak dilakukan pengaturan mengakibatkan adanya plastik yang tidak dapat terpisahkan. Hal ini dikarenakan panas pada silinder tidak mengenai bahan plastik, dikarenakan terhalang oleh bahan organik. Bahan plastik dan bahan organik yang bersifat acak dan tidak teratur memerlukan pengaturan, agar proses pemanasan dalam pemisahan dapat dilakukan dengan baik. Hal ini diduga karena temperatur lembaran plastik tidak merata atau panas pada lembaran dan tekanan vakum yang diberikan kurang (Amelia et al. 2008). Sistem pengaliran sampah yang merata, teratur dan berkelanjutan saat mengenai silinder panas baik dilakukan dalam pengembangan alat pemisahan sampah plastik dan bahan organik.
42 Penggunaan heater sebagai sumber panas dalam model pemisahan bahan plastik kali ini tidak terlepas dari kebutuhan energi listrik. Kebutuhan energi listrik dibedakan berdasarkan dua mekanisme yakni kebutuhan energi listrik saat awal proses dan saat proses pemisahan. Kebutuhan energi listrik saat awal proses adalah kebutuhan energi listrik yang diperlukan untuk mencapai suhu terkontrol.
Berdasarkan pengamatan saat kondisi optimum (suhu 1000C) dibutuhkan energi sebesar 1.01 kwh. Kebutuhan energi listrik saat proses pemisahan dijelaskan melalui kebutuhan energi listrik yang dibutuhkan selama satu jam proses, dimana dari hasil perhitungan diketahui kebutuhan bahwa energi listrik yang dibutuhkan sebesar 0.05 kwh.
43 VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan.
1. Penelitian kali ini telah menghasilkan model pemisah bahan plastik dan bahan organik dengan metode silinder panas. Beberapa komponen yang diperlukan antara lain: hopper, scrubber, engkol dan media penampung akhir.
2. Proses pemanasan terhadap bahan plastik merupakan hal utama yang mempengaruhi proses pemisahan dengan menggunakan metode silinder panas. Proses pemanasan ini dipengaruhi oleh dua faktor yang saling terkait yakni suhu permukaan silinder yang ditentukan oleh jenis bahan plastik.
3. Pengembangan yang diperlukan dalam mendesain alat pemisah sampah plastik dan sampah organik meliputi :
a. Sistem pemisahan dengan suhu bertingkat dari suhu rendah hingga suhu tinggi. Penggunaan suhu bertingkat dapat memisahkan plastik dengan titik suhu perekatan rendah lebih awal, dengan demikian adanya plastik leleh dalam proses pemisahan dapat dikurangi.
b. Sistem hopper yang mampu mengalirkan bahan secara teratur dan merata. Sistem pengaliran yang teratur, dapat mengurangi pengaruh letak dan posisi jatuhnya plastik pada proses pemanasan.
6.2. Saran
1. Diperlukan perancangan yang lebih baik mengenai sistem hopper. Hopper dengan keluar teratur dan merata baik dilakukan. Sistem hopper tersebut dapat dilakukan dengan penggunaan belt koveyor atau sistem hembusan bahan menuju silinder panas.
2. Diperlukan penelitian pengembangan lebih lanjut untuk melihat pengaruh kecepatan putar silinder terhadap suhu optimal pemisahan bahan tersebut.
Pengembangan ini diperlukan ketika diperlukanya peningkatan kapasitas alat pemisahan bahan plastik tersebut.
3. Diperlukan penelitian mengenai metode pemisahan untuk jenis bahan plastik yang bersifat termoset.
4. Untuk kapasitas dan peningkatan performansi yang lebih besar perlu diiringi dengan peningkatan daya heater dan pengembangan mengenai luasan proses pemanasan pada silinder.
44 DAFTAR PUSTAKA
Bahar YH. 1986. Teknologi Penanganan Dan Pemanaatan Sampah. Jakarta:
Waca Utama Pramesti
Kartiadi E. 2009. Atasi Sampah dengan Sanitary Landfill. http:// www.
greenradio.fm/index.php?view=article&catid. [19 agustus 2009]
Ismoyo IH, Rijaluzzaman. 1994. Kamus istilah lingkungan. Jakarta: Bina Rena Pariwara.
Minah F, Kurniawansyah F, Sumarno. 2009. Pemrosesan Foam Plastik Mikrosellular Dari Plastik Amorf Polistirena Dengan Karbondioksida Superkritis. Di dalam: Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009. Bandung, 19-20 Oktober 2009. Bandung: Teknik Kimia ITB, TPL1-9
Mujiarto I. 2005. Sifat dan Karakteristik Material Plastik dan Bahan Aditif. Traksi Vol 3:65-75
Nurmianto E. 2004. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Ed ke-2 Kedua.
Surabaya: Guna Widya.
Nurminah M. 2002. Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan Plastik dan Kertas Serta Pengaruhnya Terhadap Bahan yang Dikemas [skripsi]. Medan:
Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Pakpahan D. 1982. Statika dan Dinamika. Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor
Richard A, Flinn, and Paul KJ. 1975. Engineering Material and Their Application. London : Houghton Mifflin Company.
Sugondo A, Jonoadji N, Abraham N. 2008. Studi Pengaruh Parameter Proses Terhadap Kualitas Pada Pembuatan Plastik Tray Dengan Proses Vacuum Forming. Di dalam: Seminar Nasional-VII, Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri. Bandung, 28-29 Oktober 2008. Bandung: ITENAS. hlm 6-9.
Sularso dan Kiyokatsu S. 2004. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Jakarta.: Pradnya Paramita.
Ullman, and David G. 1992. The Mechanical Design Process. New York:
McGraw-Hill, Inc.
45 Lampiran 1. Jadwal Kegiatan Penelitian.
46 Lampiran 2. Gambar Keterangan Alat Pemisah Sampah Plastik dan Sampah
Organik.
47 Lampiran 3. Gambar Dimensi Rangka.
48 Lampiran 4. Gambar Dimensi Hopper.
49
Lampiran 5. Gambar Dimensi Silinder Panas.
50
Lampiran 6. Gambar Dimensi Engkol.
51 Lampiran 7. Hasil Uji performansi Pemisahan Plastik, Variasi Bahan 1.
ULANGAN PLASTIK TERANGKAT PLASTIK SISA PLASTIK HILANG NON PLASTIK TERANGKAT EFISIENSI (PLASTIK) RATA-RATA EFISIENSI (PLASTIK) BAHAN PLASTIK MELELEH RATA-RATA BAHAN PLASTIK MELEEH BAHAN ORGANIK TERPISAHKAN RATA-RATA BAHAN ORGANIK TERPISAHKAN
VARIASI I 70°C
52 Lampiran 8. Hasil Uji performansi Pemisahan Plastik, Variasi Bahan 2.
ULANGAN PLASTIK TERANGKAT PLASTIK SISA PLASTIK HILANG KERTAS TERANGKAT EFISIENSI (PLASTIK) RATA-RATA EFISIENSI (PLASTIK) BAHAN PLASTIK MELELEH RATA-RATA BAHAN PLASTIK MELEEH BAHAN ORGANIK TERPISAHKAN RATA-RATA BAHAN ORGANIK TERPISAHKAN
VARIASI II 70°C
53 Lampiran 9. Hasil Uji performansi Pemisahan Plastik, Variasi Bahan 3.
ULANGAN PLASTIK TERANGKAT PLASTIK SISA PLASTIK HILANG EFISIENSI (PLASTIK) RATA-RATA EFISIENSI (PLASTIK) BAHAN PLASTIK MELELEH RATA-RATA BAHAN PLASTIK MELEEH
VARIASI III 70°C
54 Lampiran 10. Tabel Fluktuasi Suhu yang Terjadi Pada Saat Awal Proses.
WAKTU 70°C 80°C 90°C 100°C 110°C
55
640 74 75 78 78 75 76.00 1540 111 111.00
650 74 76 78 78 76 76.40 1550 112 112.00
660 73 76 79 78 76 76.40 1560 112 112.00
670 72 76 80 78 77 76.60 1570 112 112.00
680 72 77 80 79 78 77.20 1580 113 113.00
690 72 77 80 79 77 77.00 1590 113 113.00
700 72 78 80 80 78 77.60 1600 113 113.00
710 72 78 80 81 78 77.80 1610 114 114.00
720 71 78 81 81 79 78.00 1620 114 114.00
730 71 80 83 82 80 79.20 1630 113 113.00
740 72 81 83 82 81 79.80 1640 113 113.00
750 72 81 83 82 82 80.00 1650 112 112.00
760 71 81 83 82 82 79.80 1660 112 112.00
770 71 82 84 82 83 80.40 1670 112 112.00
780 71 82 85 83 84 81.00 1680 112 112.00
790 71 82 86 83 84 81.20 1690 112 112.00
800 70 82 87 83 85 81.40 1700 111 111.00
810 69 82 87 83 86 81.40 1710 111 111.00
820 81 86 83 86 84.00 1720 110 110.00
830 81 87 83 86 84.25 1730 110 110.00
840 82 86 84 88 85.00 1740 110 110.00
850 81 86 84 87 84.50 1750 109 109.00
860 81 85 85 89 85.00 1760
870 80 85 85 90 85.00 1770
880 80 86 86 90 85.50 1780
890 80 85 87 91 85.75 1790
900 79 85 86 91 85.25 1800
56 Lampiran 11. Tabel Fluktuasi Suhu Akibat Pembebanan,Variasi Bahan 1.
SUHU 70 C
57 Lampiran 14. Kenaikan Suhu Saat Proses Pemisahan
Waktu Suhu Waktu Suhu Waktu Suhu Waktu Suhu Waktu Suhu