BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA
C. Analisis Data
1. Penerimaan Pedagang terhadap Program Penyuluhan KPMS
Sebagai lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf), Dompet Dhuafa telah banyak dikenal oleh kalangan masyarakat atas maupun masyarakat bawah. Dengan salah satu programnya adalah KPMS yaitu memberikan bantuan kepada pedagang melalui program penyuluhan dan pendampingan agar mereka mandiri dan sejahtera.
Awalnya program ini tidak banyak diketahui oleh para pedagang di Pondok Cina. Hambatan yang dihadapi lebih pada adanya sikap penolakan dari para calon mitra yang merupakan pedagang disekitar Hypermart-Depok, penolakan disebabkan ekses negative sejumlah mikro-finance/kredit, baik yang menggunakan system konvensional maupun berbendera syariah sekalipun9. Ekses negatife adalah sikap yang kurang baik saat melakukan penagihan menimbulkan trauma tersendiri bagi
9
beberapa calon mitra program KPMS-Hypermart. Atas kondisi tersebut pihak Masyarakat Mandiri menempuh upaya sosialisasi dengan pengenalan tujuan program dan aktivitas yang akan dijalankan. Pertama calon mitra dikenalkan pada profil lebaga Masyarakat Mandiri, Dompet Dhuafa dan Hypermart. Peserta diberikan pemahaman tentang hak dan kewajiban menggunakan publikasi berupa: flayer, leafet, brosur dan buletin. Kedua calon peserta diberi informasi tentang keberhasilan KPMS serupa di beberapa wilayah perkotaan, seperti kisah sukses para mitra di daerah Jakarta dan Surabaya. Ketiga, setelah mitra mengetahui tujuan dan program ini yaitu untuk memandirikan dan mensejahterakan perekonomian para pedagang makanan bersekala kecil, maka calon peserta ditawarkan kemungkinan bergabung sebagai mitra kelompok KPMS.
Berdasarkan latar belakang di atas diakui oleh pihak Masyarakat Mandiri program ini tidak mudah diakui dalam masyarakat oleh karena itu pihak Masyarakat Mandiri membuat program-program dan langkah-langkah seperti menyebar flayer, leafet, brosur, buletin agar masyarakat mengenal program ini.
Program ini tidak akan berjalan jika tidak adanya kesadaran pada diri pedagang mengenai bahaya bahan tambahan pangan. Berbeda dengan pedangang lainnya (non pendampingan), pedagang di Pondok Cina memiliki kesadaran bahwasanya jika program ini berjalan maka banyak manfaat yang mereka dapatkan selama mengikuti program penyuluhan. Ungkapan ini terlihat pada saat penulis mewawancarai salah satu mitra yang bernama Pak Karso dia mengatakan bahwa banyak sekali manfaat
yang dia dapatkan selama mengikuti penyuluhan ini, bukan hanya bantuan modal yang dia dapatkan akan tetapi pengetahuan yang berharga yang didapat selama program penyuluhan berjalan. Berikut petikan wawancara:
“Banyak sekali mbak manfaat yang saya dapatkan selama
mengikuti penyuluhan ini terutama dalam masalah modal jualan saya terbantu banget. Kalau masalah makanannya kita dikasih pengarahan, dikasih tahu bahan-bahan apa yang boleh digunkan dalam makanan dan bahan apa saja yang tidak boleh dicampurkan kedalam makanan, misalnya jangan pakai bahan pengawet kaya formalin dan boraks soalnya itu bahaya banget buat tubuh manusia. Kan dari saya gak tahu jadi tahu masalah kaya gitu”10
.
Setelah mendapatkan sosialisasi calon mitra menaruh minat pada program ini. Dengan keikutsertaannya bergabung dalam program sekaligus menjadi pedagang tangguh yang bebas dari bahan tambahan pangan berbahaya, sehat, halal dan higenis. Penilaian pedagang terhadap program ini atas memiliki kemauan besar dari pihak pedagang bergabung dalam program KPMS. Kemauan dimaksud adalah keinginan menjadi pedagang yang lebih baik dan mau mencoba hal baru yang didapatkan pedangang selama mengikuti program penyuluhan dan meninggalkan cara lama untuk menjadi lebih baik dan menggunakan serta menerapkan hal-hal positif yang lebih menguntungkan para pedagang dalam segi permodalan atau merubah cara berjualananya yang lebih sehat.11
Selain itu penerimaan mitra terhadap program KPMS dapat dihubungkan dengan bantuan modal usaha yang diberikan Masyarakat Mandiri secara langsung pada pedagang, modal usaha tersebut diangsur pengembaliannya dengan ketentuan tidak dikenakan bunga sedikitpun atau
10
Wawancara Pribadi dengan Karso, (Mitra Masyarakat Mandiri). 6 November 2012. 11
Wawancara pribadi dengan Amelia, Pendamping Program Penyuuhan KPMS. Bogor, 7 Desember 2007.
disebut dengan bunga 0 %. Dengan program pemberian modal usaha tersebut memudahkan pedagang memperbesar usahanya tanpa membayar bunga yang besar layaknya meminjam uang pada rentenir yang memberatkan pedagang kecil seperti mereka. Berikut petikan wawancara dengan mitra.
“alasan saya ikut program ini si awalnya saya terlibat hutang sama rentenir mbak, jadi saya mau coba ikut proram ini, selain saya dikasih modal tanpa bunga yang ngeberatin, murah ngangsur pinjamannya, diprogram ini saya banyak belajar bagaimana berdagang yang baik itu terutma cara menjual makanan tanpa bahan-bahan berbahaya”12
.
Konteks di atas hemat penulis yang menjadi alasan kenapa calon mitra menerima program ini yaitu karena alasan modal yang mudah, angsuran tidak memberatkan. Pendampingan cara berdagang yang sehat, halal dan higenis yakni mereka pedagang kaki lima yang dapat mengembangkan usahanya sebagai pedagang yang bersih. Pedagang tidak hanya mendapatkan modal saja yang terbantu. Tetapi mendapatkan pengetahuan, wawasan, keahlian mengoperasikan komputer dan pesan moral sebagai pedagang yang jujur dalam menjual makanan yang selama ini mereka geluti. Selain itu pedagang juga diberikan penyuluhan mengenai makanan sehat dan halal yang bebas dari bahan tambahan pangan seperti formalin, boraks, dan zat pewarna textil kepada para pedagang
Sementara hal yang sama dalam perspektif mitra diakui bahwa program ini tidak akan berjalan baik atau lancar jika tidak adanya
12
kesadaran pada diri pedagang. Artinya penyuluhan yang diberikan Masyaraakat Mandiri perlu ditindak lanjut dengan kemauan dan kesadaran pada diri mitra agar tujuan program tercapai.
2. Metode Penyuluhan makanan sehat dan halal pada KPMS
Kegiatan penyuluhan pada KPMS prinsipnya adalah usaha memberikan bantuan kepada pedangang yang dilakaukan oleh penyuluh untuk menghasilkan timbal balik agar mereka mampu memahami dirinya dan masalah-masalah hidup yang dihadpinya pada masa itu dan masa yang akan datang. Artinya melalui kegiatan penyuluhan pedagang diharapkan dapat lebih mandiri dan mampu mengenali berbagai persoalan terkait makanan sehat dan halal.
Metode yang diterapkan di program KPMS pondok Cina Depok yaitu menggunakan metode langsung (metode komunikasi langsung), dimana penyuluh bertatap langsung dan memberikan materi secara langsung kepada mitra Masyarakat Mandiri yaitu pedagang. Berikut beberapa metode penyuluhan yang digunakan pada program penyuluhan KPMS Pondok Cina Depok dalam pendekatan kepada mitra sebagai pedagang, yaitu:
1. Bimbingan Kelompok (group Guidance)
Bimbingan kelompok ini dilakukan dengan cara komunikasi langsung antara penyuluh dengan mitra dalam bentuk kelompok. Sebagaimana disebutkan diawal kelompok KPMS yang ada di Pondok Cina tergabung dalam serikat pedagang ISM kelompok ini dibentuk oleh Amel selaku pendamping agar memudahkan
pendampingan. Pertemuan kelompok dilakukan dua kali dalam seminggu. Adapun teknik yang digunakan oleh pendamping adalah sebagai berikut:
a. Metode ceramah
Pada metode ini seperti biasa Amel selaku pendamping memberikan materi kepada pedangang mengenai keamanan pangan, bahan tambahan panagan berbahaya. Pada ceramah ini hanya Amel saja yang berbicara, pedagang hanya mendengarkan apa yang disampaikannya.
Ceramah merupakan satu teknik pembinaan atau penyuluhan yang memberikan uraian atau penjelasan secara lisan yang diwarnai dengan karakteristik dan cara berbicara seorang da’i atau penyuluh.
Metode ceramah sama halnya dengan mau’idah hasanah (nasehat yang baik). Dari ceramah-ceramah yang sering diikuti dan didengarkan kemudian dipahami menjadikan kita tau hal-hal yang baik yang dilakukan seorang pedagang menjadi pedangang yang jujur dalam menjalankan usahanya terutama dalam menjual makanan sehat dan halal.
b. Dialog atau tanya jawab
Untuk menghindari sikap pasif pada Mitra masyarakat Mandiri dalam metode kelompok dilakukan teknik dialog atau tanya jawab. Teknik tanya jawab ini merupakan tindak lanjut dari teknik ceramah, teknik ini dilakukan setelah penyuluh
memberikan penjelasan terhadap materi yang disampaikan kemudian para mitra diberi kesempatan untuk bertanya mengenai materi yang telah dibahas, yang mereka anggap kurang jelas dan tidak dipahami. Ataupun sebaliknya penyuluh memberikan pertanyaan kepada mitra seputar materi yang telah dijelaskan sebelumnya, hal ini dilakukan untuk melatih mitra berani bebicara dan mengungkapkan pendapatnya di depan mitra lainnya.
c. Diskusi Kelompok
Dalam pertemuan kelompok,biasanya mbak amel sering melakukan diskusi mengenai masalah-masalah yang berkenaan dengan maknan sehat, misalnya membicarakan tentang keamanan pangan, bicara tentang contoh-contoh bahan tambahan pangan seperti boraks, formalin, rodamin, kemudian ciri-ciri bahan makana yang mengandung bahan-bahan itu atau tidak, bahayanya mengunakan boraks itu nanti akibatnya ditubuh itu akan terkena penyakit apa saja, diskusi ini umumnya menekankan pada makanan sehat dan halal.
Selain diskusi mengenai materi, pertemuan kelompok juga dilakukan untuk urun rembuk tentang kendala dan hambatan terkait mekanisme pembayaran angsuran yang rutin dilakukan untuk mengangsur pinjaman modal.
2. Metode Individual
Metode individual merupakan teknik pemberian bantuan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata) yang dilakukan antara penyuluh dan mitranya terkait maslah pribadi. Sehingga dalam proses penyuluhan ini pendamping dituntut untuk bersifat simpati (merasakan apa yang dirasakan oleh mitra) dan empati (berusaha menempatkan diri dalam situasi diri mitra). Pada metode ini biasanya pendamping mendatangi langsung rumah mitra yang jarang mengikuti pertemuan kelompok yang biasanya dilakukan 1 minggu sekali. Dalam menyelesaikan masalah ini biasanya pendamping mengunakan metode direktif ( yang bersifat mengarahkan), hal ini dilakukan apabila mitra tidak mau mengungkapkan permasalahannya. Sehingga seorang pendamping berperan aktif dalam pelaksanaan penyuluhan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Biasanya masalah-masalah yang ada pada mitra mengenai pengangsuran modal yang macet, mitra lebih sibuk berdagang sampai tidak bisa mengikuti petemuan kelompok.
3. Perubahan Perilaku Berdagang Setelah Mengikuti Program
Penyuluhan
Keberhasilan penyuluh dan program pendampingan yang dilakukan Masyarakat Mandiri adalah adanya perubahan prilaku berdagang dari mitra. Sekurangnya dapat dilihat dari pemahaman mereka tentang makanan sehat dan halal, mengenai bahan tambahan berbahaya,
menjaga kebersihan tidak menjual makanan yang menggunakan bahan tambahan pangan berbahaya.
Adapun perubahan prilaku yang ditemukan penulis dilapangan adalah: 1. Adanya perubahan dari cara berdagang mereka yang terlihat selama
pendampingan seperti mereka tidak menggunakan bahan tambahan pangan pada makanannya, dan menggunakan bahan-bahan yang baik seperti pedagang bubur ayam yang tidak mengunakan bahan campuran seperti MSG yang berlebihan.
2. Perubahan terjadi juga pada prilaku mereka yang menjaga kebersihan dengan selalu mencuci piring gelas, mengganti air cucian piring, mencuci lap yang digunakan untuk membersihkan meja dan lain sebagainya agar selalu bersih dan higienis. Selain itu menjaga kebersihan diri mereka sendiri seperti mecuci tangan pada saat melayani konsumen dan tidak meroko pada saat melayani, karena meroko dapat menggangu kesehatan pedagang dan konsumen juga. Para pedagang tidak semberono lagi dalam menyajikan makanan kepada konsumen.
Berikut petikan wawancara:
“Kalau dilihat kepada perubahannya saya melihat perubahannya sepeti katua ISM yaitu Pak Karso, Bu Wini dan beberapa orang lainnya memang sedikit sudah ada prubahan sikap dan perilaku karena memang dari hasil pengamatan saya dan juga mungkin dari pendampingan dan pelatihan yang diberikan itu pengetahunnya lebih bertambah, jadi sikap dan perilakunya bisa berubah selama ini mereka suka semberono kan yah dari berjualannya, yang tidak mengunakan alas, berserakan dilantai tetapi sekarang sudah terbiasa menggunakan alas, mencuci tanggan sebelum menyiapkan makanan, melayani konsumen tidak merokok
saat melayani konsumen, mencuci lap, mengganti air dan lain sebagainya”.13
3. Selain berubahnya prilaku pedagang, masalah modal juga mempengaruhi mereka untuk berubah, dengan pemberian modal itu sendiri pedagang berusaha memutar modal agar bisa berkepanjangan berdagangnya mereka diberi amanah untuk menjalankan usahanya agar lebih lancar. Ungkapan ini dikutip dari perkataan mitra Masyarakat Mandiri yang mengatakan bahwa banyak manfaat dan pengetahuan yang mereka dapatkan selama mengikuti progam, selain pengetahuan bantuan modal pun diberikan agar usaha kami menjadi lebih maju.
Berikut petikan wawancara mitra:
“Banyak mbak yang sudah saya dapatkan selama ikut
penyuluhan 2 tahun ini, dari bantuan modal yang alhamdulilah sekali saya terbantu, lebih lancar. Dari ilmu pengetahun juga saya dapatkan, dari saya yang tidak tahu apa-apa jadi tahu, apalagi seputar makanan sehat yang pernah disampaikan waktu penyuluhan, disini kan saya menjual makanan jadi saya belajar banyak mbak, kalau bahan-bahan berbahaya kaya formalin, boraxs, pewarna tektil jangan dipakai kedalam bahan makanan. Tapi alhamdulilah saya selama jualan ini tidak pernah pake bahan-bahan seperti itu mbak, kalau dagangan mie ayam saya tidak habis, paling saya bagi-bagikan pada tetangga, dari pada terbuang mubazir, kan tidak mungkin saya jual lagi buat hari besoknya”.14
13
Hasil wawancara dengan Amelia (Pendamping). 7 Desember 2012.
14