• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis teori belajar konstruktivisme dengan menggunakan

BAB III : IMPLEMENTASI TEORI BELAJAR

C. Analisis teori belajar konstruktivisme dengan menggunakan

IPS MI Nurul Islam

Pembelajaran pada sekarang ini menekankan akan keaktifan siswa dalam belajar, dan guru hanya sebagai fasilitator saja. Yang mana sesuai dengan

2

50 kurikulum yang diterapkan sekarang ini, yaitu Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP). Pada kurikulum ini siswa diajak untuk berfikir secara aktif dalam mengembangkan pengetahuannya. Maka dengan adanya kurikulum tersebut menghasilkan metode pembelajaran inquiry, yaitu metode yang mengajak siswa untuk aktif belajar dan pengetahuan tidak hanya dari guru saja melainkan juga dari pengalaman siswa itu sendiri.

Teori belajar konstruktivisme ini sebenarnya mengajak siswa untuk belajar lebih mandiri. Dengan adanya teori ini maka peneliti mempunyai fikiran untuk meneliti dengan menggunakan metode inquiry. Dengan metode inquiry ini tampak jelas adanya guru hanya sebagai fasilitator saja sedangkan murid aktif dengan materi belajarnya. Seperti yang dikemukakan Komarudin, salah satu perubahan dalam pembelajaran adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered), metode yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipatori dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan.3

Berdasarkan teori Gestalt tentang instingfull learning theory, belajar adalah hasil interaksi antara diri individu dengan lingkungan sekitarnya. Belajar tidak semata-mata sebagai suatu stimulus, tetapi lebih dari pada itu dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti mengalami yang disebut learning by process.4 kegiatan fisik seperti mengatur, menulis, merasakan, belajar menyetir, mengetik adalah contoh bahwa aktivitas fisik itu mempunyai peranan penting. Dengan begitu hasil belajar dapat diperoleh siswa bila mereka melakukan keaktifan yang tinggi dan adanya pengalaman dari diri siswa sendiri, baik memahami, mengalami, dalam berbuat sesuai dengan apa yang ingin mereka pelajari.

Pembelajaran inquiry merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki

3 Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Beorientasi Konstruktivistik, hlm. 2.

4 Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Ciputat Press : Jakarta : 2002), hlm. 27

51 sesuatu (benda, manusia, atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Berikut penulis akan menganalisis perencanaan pembelajaran yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran IPS di MI Nurul Islam. Mencermati rencana pembelajaran atau langkah-langkah pembelajaran IPS yang ditempuh di MI Nurul Islam sudah mendukung keberhasilan tercapainya pembelajaran dengan menggunakan teori belajar konstruktivisme dengan menggunakan metode inquiry. Pada apersepsi yang diawali dengan doa dan dilanjutkan dengan memberikan motivasi pada siswa, kemudian mengingat kembali yang pertemuan kemarin telah disampaikan. Yang terpenting adalah siswa memiliki kesadaran akan kewajibannya sebagai seorang siswa, yaitu rajin belajar. Hal ini akan mendukung prinsip pembelajaran konstruktivisme dengan menggunakan metode inquiry yang dikembangkan dalam mata pelajaran IPS.

Setelah melakukan apersepsi langkah selanjutnya adalah kegiatan pembelajaran. Pada langkah ini guru menerapkan model pembelajaran inquiry. Dalam hal ini seorang guru menggunakan metode inquiry terpimpin. Yang meliputi beberapa tahapan menyajikan pertanyaan, membuat hipotesis, mengumpulkan data dan menganalisis data, membuat kesimpulan.

Langkah terakhir dalam pembelajaran IPS adalah penutup. Dengan menyimpulkan materi pembelajaran serta memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah. Untuk pemberian tugas di MI Nurul Islam terutama dalam pembelajaran IPS sangatlah sering, karena untuk memberikan motivasi kepada siswa agar lebih semangat dalam belajar, seandainya tidak ada pekerjaan rumah siswa merasa malas untuk belajar.

Dalam proses pembelajaran evaluasi merupakan komponen terakhir yang ditempuh oleh guru sebagai upaya untuk mengetahui kemajuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran IPS, evaluasi diperlukan untuk mengetahui sejauh mana intensitas keaktifan siswa yang diperoleh melalui pelaksanaan metode inquiry yang telah dilaksanakan.

52 Selanjutnya penulis akan membahas analisis atas metode inquiry yang digunakan dalam pembelajaran IPS di MI Nurul Islam Semarang sebagai berikut. Bahwasanyya macam-macam pelaksanaan metode inquiry itu ada banyak akan tetapi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode inquiry terpimpin. Metode inquiry terpimpin ini maksudnya Siswa memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing.

Model ini digunakan terutama bagi siswa yang belum berpengalaman belajar dengan metode inquiry, dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Tahap awal pembelajaran, bimbingan lebih banyak diberikan , dan sedikit demi sedikit dikurangi sesuai dengan pengembangan pengalaman siswa. Pelaksanaannya, sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru. Siswa tidak merumuskan permasalahan. Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat data diberikan oleh guru.

Menurut penulis, metode inquiry terpimpinlah yang cocok untuk siswa ditingkat sekolah dasar. Karena walaupun siswa diminta untuk belajar mandiri akan tetapi siswa seumuran tingkat sekolah dasar masih perlu bimbingan dari gurunya, oleh karenanya disini guru berperan sebagai fasilitator tetapi dalam penyampaian materi di awal pertemuan lebih diperjelas baik dalam pemberian masalah, hipotesis dan lain sebagainya.

Penerapan teori belajar konstruktivisme dengan menggunakan model inquiry adalah untuk melatih siswa belajar mandiri dan aktif untuk mencari informasi baik dari pendidikan formal maupun non-formal. Jadi ilmu pengetahuan itu tidak hanya mereka dapatkan dari bangku sekolah saja, melainkan juga dari pengalaman yang mereka dapatkan dari aktivitas atau kegiatan mereka sehari-hari. Sesuai dengan hasil observasi yang penulis lakukan di MI Nurul Islam Semarang, model ini terbukti memberikan dampak positif bagi siswa. Terbukti ketika siswa mendapatkan tugas, mereka merasa tidak terbebani, karena semua pertanyaan yang telah diberikan berhubungan dengan lingkungan sekitar dan sesuai dengan pengalaman yang pernah dialami para siswa.

53

D. Faktor Penghambat dan Pendukung Implementasi Teori Pembelajaran

Dokumen terkait