• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS TERHADAP PELIMPAHAN HAK ASUH ANAK KEPADA BAPAK

C. Analisis Terhadap Putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur

Dalam hal ini penulis melihat pertimbangan hukum yang diberikan majelis hakim dapat dilihat untuk kepentingan anak atau kemaslahatan anak, dalam perkara tersebut yang telah diputuskan hak pemeliharaan dan pengasuhan anak (hadhanah) diserahkan kepada penggugat yaitu selaku Bapak kandung.

Dalam kasus ini Majelis Hakim memberikan keputusan mengenai hak pemeliharaan dan pengasuhan anak yang dilimpahkan kepada penggugat dengan berdasarkan Pasal 41 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 yang berbunyi :1

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:

a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak Pengadilan memberi keputusannya.

b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan

1

R. Subekti dan R.Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hal. 549-550

62

tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.

Dan pasal 14 Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 anak berhak diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali ada hal yang menentukan yang lain.2 Kemudian berdasarkan pasal 105 huruf (a) KHI Inpres No. 1 Tahun 1991 yang berbunyi: apabila terjadi perceraian, maka pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.3

Pemeliharaan anak atau istilah dalam Islam disebut hadhanah,

pelaksanaannya tidak sebatas pada kegiatan formalitas yang begitu saja tanpa dibarengi dengan mendidik yang bertujuan untuk menjadikan anak sehat baik moril maupun pemikirannya.

Salah satu hal penting yang mungkin kurang dipertimbangkan oleh kedua orang tua ketika terjadi perceraian adalah tanggungjawab kedua orang tua, baik ketika orang tuanya masih hidup rukun dalam ikatan perkawinan maupun ketika mereka gagal karena terjadi perceraian. Pemeliharaan ini meliputi berbagai hal, diantaranya

2

Rika Saraswati, Hukum Perlindungan Anak di Indonesia, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2009), hal. 209

3

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta : Akademika Pressindo, 2007), hal. 138

masalah ekonomi, pendidikan dan masalah-masalah lain yang menjadi kebutuhan pokok anak.

Menurut Syaikh Hasan Ayyub bahwa pemeliharan dan pendidikan yang baik adalah menjaga memimpin dan mengatur segala hal yang anak-anak itu belum mampu dan sanggup mengaturnya sendiri, maka dalam pemeliharaan dan pengasuhan oleh kedua orang tuanya yakni bapak dan ibunya, sehingga anak akan dapat tumbuh sehat jasmani dan rohaninya.4 Akan tetapi seandainya kedua orang tua terpaksa untuk bercerai, sedangkan keduanya mempunyai anak yang belum mumayyiz (belum menguasai kemaslahatan dirinya), maka ibulah yang lebih berhak untuk mendidik dan merawat anak itu hingga ia mengerti akan kemaslahatan dirinya.5

Hak pemeliharaan didalam pasal 41 Undang-Undang No.1 Tahun 1974, sekalipun kedua orang tua anak tersebut sudah tidak bersama lagi dalam hal ini adalah bercerai, baik ibu ataupun ayah dari anak tersebut tetap berkewajiban mendidik dan memelihara anak tersebut, semata-mata demi kepentingan sianak.6 Jika terjadi sengketa mengenai hak pemeliharaan anak maka sudah jelas hakim Pengadilan Agama yang akan memberi putusannya, sesuai dengan bukti-bukti dan keterangan dari saksi-saksi yang diajukan ke Pengadilan Agama dalam Persidangan. Karena

4

Syaikh Hasan Ayyub, Fikih Keluarga, (Jakarta : Pustaka Kautsar, 1999), hal. 391

5

Huzaemah Tahido Yanggo, Fikih Perempuan Kontemporer, (Bogor : Ghalia Indonesia, tth), hal. 183

6

R. Subekti dan R.Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,( Jakarta: PT.Pradnya Paramita), hal. 549

64

dalam masalah hak asuh anak adalah persoalan yang menyangkut masa depan lahir dan batin, perkembangan moral dan akhlak, pendidikan agama seorang anak.

Dengan demikian penanaman aqidah, budi pekerti dan akhlak sejak dini menjadi penting untuk perkembangan jiwa si anak. Karena tentunya sebagai orang tua menginginkan anak hasil perkawinan mereka dapat terpelihara agama, jiwa, harta, serta keturunan dan kehormatannya. Hal ini tentunya sesuai denga tujuan dari hukum Islam.7 Karena pendidikan yang lebih penting adalah pendidikan anak dalam pengakuan ibu bapaknya, dengan adanya pengawasan dan perlakuan akan dapat menumbuhkan jasmani dan akalnya, membersihkan jiwanya, serta mempersiapkan diri anak dalam menghadapi kehidupannya di masa yang akan datang.8

Pertimbangan lain diberikannya hak asuh anak yang belum mumayyiz kepada bapaknya dikarenakan bahwa tergugat I (satu) karena kesibukannya dalam bekerja juga selalu berpindah-pindah tempat tinggal dan tidak banyak mempunyai waktu dan kesempatan untuk memperhatikan anak, karena tergugat I (satu) bekerja sebagai karyawati. Dengan demikian, waktu untuk mengurus anak sangat sedikit.

Bahwa dengan fakta menunjukan tergugat I tidak banyak waktu dan perhatian, kemudian anak tersebut sejak berumur 4 (empat) bulan pemeliharaan dan pengasuhan anak diserahkan kepada tergugat II (ibunya) yang menganut agama Kristen Protestan dan fungsi keibuanya terhadap anak telah berpindah kepada tergugat II. Karena anak

7 Munifah Djam’an, Hakim Pengadilan Agama Jakarta Timur, Wawancara Pribadi, Jakarta, 27 Januari 2011

8

Penggugat lahir dari seorang ayah dan ibu yang perkawinannya menurut Agama Islam, sehingga bila tinggal dan dipelihara dan diasuh oleh tergugat II yang memeluk Agama Kristen Protestan, penggugat selaku bapak kandung dari anak yang bernama Imtiyaz sangat mengkhawatirkan agama, aqidah dan dapat mempengaruhi akhlaknya yang tidak terjamin sesuai dengan fitrahnya, yakni yang lahir dari seorang ayah dan ibu yang beragama Islam dan menikah secara Islam.

Menurut Satria Effendi M. Zein hadhanah diperlukan beberapa syarat antara lain sebagai berikut:

1. Mempunyai kemampuan dan kemauan untuk memelihara dan mendidik 2. Seorang yang melakukan hadhanah hendaklah dapat dipercaya

memegang amanah.

3. Seorang yang melakukan hadhanah haruslah beragama Islam, seorang non muslim tidak berhak dan tidak boleh ditunjuk sebagai pengasuh/pemelihara anak.

Jelas didalam fiqih telah disebutkan bahwa salah satu dari persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa seseorang yang akan melakukan

hadhanah hendaklah orang tersebut dapat dipercaya, beragama Islam dan mempunyai kemauan dan kemampuan dalam memelihara dan mendidik.

Walaupun persyaratan harus beragama Islam bagi yang melakukan hadhanah

tidak semua Ulama berpendapat, tetapi Hakim lebih cenderung memperhatikan syarat Muslim dan Muslimah merupakan kemutlakan bagi yang mendapatkan hak hadhanah

66

kedalamnya usaha untuk mendidik dan mempunyai kewajiban untuk menanamkan ke jiwa anak-anak menjadi muslim yang baik sejak usia dini mendapatkan pendidikan agama yang baik. Membiarkan anak-anak tanpa pendidikan agama secara Islami adalah bertentangan dengan ajaran Islam. Selain itu juga hakim dalam mengambil keputusan merujuk pada aspek yuridis, filosofis, juga mempertimbangkan aspek sosiologis dan psikologis.9

Berdasarkan pada syarat-syarat tersebut diatas, sudah jelas bahwa hak asuh anak yang berada dibawah asuhan tergugat I tidak dapat memenuhi syarat-syarat tersebut terbukti bahwa tergugat I menyerahkan pemeliharaan dan pengasuhan anaknya kepada tergugat II yang beragama Kristen Protestan dan tidak memenuhi syarat ketentuan pemeliharaan dan pengasuhan anak dalam agama Islam, hal ini telah diperkuat oleh pendapat para Ulama Fiqh Imam Syafi’i dan mazhab Imamiyah yaitu seorang kafir tidak boleh mengasuh anak yang beragama Islam, karena tugas mengasuh termasuk ke dalam usaha mendidik anak menjadi muslim yang baik, dan hal itu menjadi kewajiban mutlak atas kedua orang tua.10

Didalam melaksanakan hadhanah bagi suami-istri yang bercerai jika anak tersebut belum mumayyiz maka ibulah yang lebih berhak dari pada ayah. Namun, dalam hal ini untuk mendapatkan atau melaksanakan hadhanah bukanlah suatu hal

9

Arskal Salim dkk, Demi Keadilan Dan Kesetaraan, (Jakarta : PUSKUMHAM, 2009), hal. 86

10

Satria Efendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, (Jakarta : Kencana, 2004), hal 172-173

yang mudah, karena walaupun hadhin adalah orang tua kandung si anak atau dari kalangan kaum Ibu secara berurutan dalam Islam bukan berarti ia bisa begitu saja mengusai atau dapat melaksanakan hadhanah tetapi ia juga harus amanah, mampu mendidik dan beragama Islam. Tidak hanya seorang hadhin harus mempunyai kemampuan secara materi saja.

Dalam kasus ini penulis telah melihat pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim yang sangat relevan tidak ada terjadinya Pluralisme dalam pengasuhan anak. Agar tidak terjadinya kekhawatiran tersebut hak pemeliharaan dan pengasuhan anak sebaiknya ditetapkan dan diserahkan kepada orang yang memenuhi syarat-syarat

pengasuhan anak yang sesuai dengan syari’at Islam.

Dan tidak selamanya hak hadhanah itu jatuh kepada Ibu, sang Bapak pun mempunyai hak yang sama dengan ibu, akan tetapi didalam Islam ibulah yang menjadi prioritas pertama dalam mengasuh anak dengan catatan ibu harus memenuhi persyaratan yang ada.11

Karena dalam hal pengasuhan anak ini yang pertama harus diperhatikan adalah kepentingan anak tersebut dan memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk memberikan rasa aman kepada anak yang menjadi korban perceraian, dalam hal ini Majelis Hakim mengutamakan bagaimana memberi perlindungan dan kebaikan bagi anak demi kemaslahatan dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan oleh orang tuanya.

11Munifah Djam’an, Hakim Pengadilan Agama Jakarta Timur, Wawancara Pribadi, Jakarta, 27 Januari 2011

68

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dalam perkara putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur Perkara No 1829/Pdt.G/2008/PAJT Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Timur melimpahkan Hak Asuh Anak yang bernama Imtiyaz Hamdy Bawazier anak dari hasil Pernikahan Penggugat dengan Tergugat, yang masing-masing bernama Hamdy bin Sulaiman Bawazier dan Inggriet Margarita Lasut, dengan adanya Putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur Hak Asuhnya dilimpahkan kepada Bapak kandungnya (penggugat) di karenakan :

a. Ibu dari anak tersebut tidak amanah, sibuk bekerja, keadaan ekonomi yang minim, tidak mempunyai kemauan dalam mendidik anak sehingga sejak umur 4 (empat) bulan anaknya diserahkan kepada tergugat II (ibu kandung) yang beragama non muslim.

b. Menjaga pertumbuhan , pendidikan dan aqidah c. Menjaga kemaslahatan dan kepentingan anak

2. Kewajiban Bapak setelah putusan hak asuh anak yang dilimpahkan kepadanya dan setelah putusnya perkawinan, kewajiban bapak selaku orang tuanya berkewajiban memelihara, merawat, serta memberikan pendidikan, pelajaran atau pengajaran sampai dewasa agar menjadi manusia yang mempunyai

kemampuan dan kecakapan dalam menatap masa depan dengan segala jiwa optimis serta berkreatifitas.

3. Dasar hukum yang digunakan oleh Majlis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Timur dalam perkara hak asuh anak adalah pasal 41 Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, pasal 14 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dan KHI inpres No. 1 Tahun 1991 dasar hukum ini sesuai dengan kepentingan anak yang belum mumayyiz.

4. Dalam perkara putusan ini Majlis Hakim mempertimbangkan dengan cara melihat kesenangan bathin secara lahiriyah dalam hal ini adalah nafkah dari bapak, dan juga demi kepentingan pertumbuhan, pendidikan dan aqidah anak semuanya itu untuk perlindungan dan kemaslahatan anak.

B. Saran-saran

1. Para Hakim Pengadilan, baik itu Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama, harus berhati-hati dalam memutuskan perkara sengketa hak asuh anak, demi menjaga kemaslahatan dan kepentingan anak.

2. Apabila perceraian tidak dapat terhindar, maka orang yang diberi kuasa hak asuh anak, menjalankan kewajiban sesuai amanah yang diberikan kepadanya. 3. Orang yang diberikan kuasa hak asuh anak harus bekerja untuk memenuhi

ekonomi keluarga sehingga tidak dapat menjalankan kewajibannya, maka pengasuhan terhadap anak tidak diberikan kepada orang-orang yang tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Islam.

70

4. Anak merupakan buah hati belahan jiwa sekaligus fitrah juga amanat, maka memelihara, membina serta mendidiknya merupakan kewajiban orang tua, sehingga ia akan menjadi anak yang berbudi luhur dan berakhlak mulia.

71 Presindo, 2007.

Abidin, Slamet, Fikih Munakahat 2, Bandung : Pustaka Setia, 1999.

Alam, Andi Syamsu dan Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, Jakarta: Kencana, 2008.

Ali, Zainuddin, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika, 2006.

Al-Albani, Syaikh Nashiruddin, Sunan Abi Daud, Riyad: Maktabah al-Ma’arif li al-Nashir wa Tawzi Juz II. 1998.

Al-Imam Muhammad Ibnu Ismail San’ani, Subulussalam, Penerjemah : Abu Bakar Muhammad, Bandung : Dahlan, Juz 3, t.th.

Al-Hamdani H.S, Risalah Nikah, Jakarta : Pustaka Amani, 1989.

Al- Jaziry, Abdurrahman, Al-Fiqh Ala al-Mazahib Al-Arba’ah Jilid IV. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Ayyub, Syaikh Hasan, Fiqhul Asrotul Muslimah, Penerjemah M. Abdul Ghofar, dkk. Cet. V, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2006.

Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Acara Perdata, Jakarta : Djambatan, 2000.

Daud, Muhammad, dkk, Kompilasi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional, Ciputat : Logos, 1999.

Djamali, R. Abdul, Hukum Islam, Bandung : Penerbit Bandar Maju, 2002.

Djalil, Basiq, Peradilan Agama Di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Group, 2006.

Ghazali, Abd. Rahman, Fiqh Munakahat, Jakarta : Kencana, 2006. Husein, Muhammad, Perempuan, Yogyakarta : LKIS, 2001.

Imam Taqiyyudin Abi Bakr Ibn Muhammad al-Husaini, Kifayatul Akhyar. Penerjemah : Anas Thohir Sjamsuddin, Semarang : Al-Alawiyyah, t.th. Kusein, Abdur Rozak, Hak Anak Dalam Islam, Jakarta : Fikahati Aneska, 1995.

72

Laporan Tahunan Pengadilan Agama Jakarta Timur Tahun 2009.

Manan, R. Abdul, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, Jakarta: Prenada Media Group, 2005.

Muttaqien, Dadang, Dkk, Peradilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam Dalam Tata Hukum Indonesia, Yogyakarta: UI Press, 1999.

Muhammad Ibnu Al-Syarbaini, Al-Iqna Juz II, Beirut Lebanon: Darrul Fikr, 1995. Mughniyyah, Jawad. Fiqh Lima Mazhab, penerjemah Masykur A.B. dkk,Al-Fiqh

Ala Al-Madzahib Al-Khomsah, Jakarta : Lentera, 2006.

Mujib, M. Abdul,Mabruri Thalhah, Kamus Istilah Fiqih, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.

Nasir, Muhamammad, Hukum Acara Perdata, Jakarta : Djambatan, 2003. Sabiq, Al-Sayyid, Fiqh al-Sunnah Jilid 2, Darul Fattah: Kairo, t.th.

Saraswati, Rika, Hukum Perlindungan Anak di Indonesia, Bandung : PT.Citra Aditya Bakti, 2009.

Salim, Arskal dkk, Demi Keadilan Dan Kesetaraan, Jakarta : Puskumham, 2009. Soepomo,R, Sistem Hukum di Indonesia Sebelum Perang Dunia II, 1970.

Syarifudin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia antara Fiqih dan Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, Jakarta: Prenada Media, 2006.

Subekti, R. dan R.Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 2006.

Tihami dan Sahrani, Sohari, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Yanggo, Huzaimah Tahido, Fikih Perempuan Kontemporer, Bogor : Ghalia Indonesia, tth.

Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama Pasal 49.

Uwaidah, Syaikh Kamil Muhammad, Fiqh Wanita, penerjemah M. Abdul Ghoffar E.M, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 1998.

Zaini, Muderis, Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sysrem Hukum, Jakarta : Sinar Grafika, 1992.

Zein, M. Satria Efendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Jakarta : Kencana, 2004.

INTERNET

Aby Yazid. “Hadhanah-Hak Asuh Anak”, artikel ini diakses pada 09 Februari 2011dari http://Abyyazid woordpress com/2008

Ali Abdulloh,”hadhanah”, artikel diakses pada 09 Februari 2011 dari

http://aliabdulloh.blogspot.com/2010/01/hadhanah/html. www.pa-jakartatimur.net.diakses pada tanggal 09 Februari 2011

74

Dokumen terkait