A. Pendekatan Analisis SWOT terhadap Strategi Pengembangan Bisnis Waralaba Primagama
Analisis strategi pengembangan waralaba Primagama secara umum dapat ditinjau berdasarkan kekuatan dan peluang yang dimiliki perusahaan yang kemudian dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengurangi kelemahan dan ancaman yang dihadapi oleh Primagama. Di antara Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman yang dimiliki Primagama adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan (Strength) Lembaga Pendidikan Primagama a. Produk yang inovatif dan berkualitas
Di antara Lembaga Bimbel lainnya Primagama bisa dikatakan jauh lebih unggul dalam hal inovasi produk dan mengkreasikan terobosan-terobosan baru yang awalnya belum terpikirkan oleh Bimbel lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa Primagama senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa melalui terobosan-terobosan yang dikeluarkannya.
Inovasi produk yang diciptakannya antara lain berupa pengembangan test DMI (Dermathoglyphic Multiple Intelligent) untuk
melihat potensi bakat siswa, penciptaan metode smart solution untuk mempermudah menjawab soal bagi siswa, juga dengan penggunaan Opscan 3 dan Opscan 5 NCS untuk akurasi test standar dengan (OMR) Optikal Mark Reader.
Inovasi lain yang dikembangkan Primagama, khususnya dari segi waralabanya adalah formula baru waralaba Primagama dalam bentuk unit penyertaan yang dihargai Rp. 5.000.000,00/ unit untuk memudahkan kepemilikan waralaba Primagama bagi investor kecil.
Inovasi lain yang diciptakan Primagama adalah melalui pengembangan unit bisnis lain di luar bimbingan belajar, seperti Primagama English Course dan penerbitan produk suplemen Manajemen Matematika Dahsyat.
b. Manajemen yang profesional
Pengelolaan manajemen secara profesional dalam lingkungan Primagama menjadi salah satu faktor penunjang untuk kesuksesan Primagama. Diferensiasi job telah dilakukan untuk menempatkan masing-masing SDM sesuai dengan peranannya. Di antaranya dengan dibentuknya Tim Perumus Soal, Tim Lit.Bang, Tim Pendampingan dan Pemberdayaan Cabang serta Tim Auditing yang kesemuanya secara berkesinambungan menunjukkan keprofesionalitasan Primagama dalam mengelola bisnis Bimbel selama +/- 27 tahun dengan jumlah outlet yang telah mencapai 688 outlet pada tahun ajaran 2008/ 2009. Di sisi lain
Primagama juga menerapkan pengawasan/ kontrol secara berjenjang untuk cabang-cabang waralabanya melalui pembagian wilayah berdasarkan regional, sektor, dan area masing-masing outlet/ cabang.
c. Promosi yang berkesinambungan dan gencar
Primagama melakukan promosi antara lain melalui media massa (iklan koran dan majalah), elektronik (TV dan radio), dan internet (dengan pembuatan website Primagama dan aktif dengan berbagai link lain khususnya yang terkait dengan kewaralabaan). Promosi juga dilakukan melalui seminar dan talkshow serta keikutsertaan dalam event-event tertentu yang dibuat oleh link Primagama.
Metode promosi direct selling juga dilakukan Primagama melalui penyebaran spanduk, pamflet, brosur serta melalui penyelenggaraan try out akbar yang dilakukan secara berkala.
d. Financial yang kuat
Pertumbuhan Waralaba Primagama yang relatif pesat dan sudah mencapai 688 cabang pada periode tahun 2008/ 2009 menjadikan Primagama sebagai Bimbel yang memiliki potensi passive income terbesar di antara bimbel lainnya. Apabila dirata-ratakan satu cabang memberikan fee sebanyak Rp. 100.000.000,00/ 5 tahun, maka total passive income yang didapat adalah sebesar Rp. 68.8 M/ 5 tahun atau setara dengan Rp. 13,16 M/ thn. Dengan potensi sedemikian besar maka
tidak ada permasalahan berarti yang akan ditemui Primagama dalam hal keuangan.
e. SOP (Standar Operating Procedur) yang matang dan lengkap
SOP yang matang dan lengkap mempermudah Primagama dalam mengoperasikan sistem waralabanya. SOP ini juga menjadi acuan bagi franchisee untuk bertindak sesuai dengan hal-hal yang telah disepakati bersama dalam MoU.
f. Pertumbuhan outlet lebih cepat dibandingkan pesaingnya
Primagama menjadi pioneer di antara waralaba lembaga pendidikan lainnya terbukti dari banyaknya jumlah outlet yang tersebar di seluruh Indonesia +/ - 688 cabang dengan pertumbuhan rata-rata yang tidak kurang dari 35% setiap tahunnya.
2. Kelemahan (Weakness) Lembaga Pendidikan Primagama
a. Banyaknya cabang membuat pihak manajemen lebih sulit untuk mengontrol
Jumlah cabang yang mencapai 688 buah membuat Primagama sedikit kesulitan untuk terus mengawasi dan melakukan komunikasi yang intens dengan setiap cabang yang ada.
b. Kesulitan dalam pencarian tutor dan staf ahli untuk mengisi posisi di cabang-cabang yang ada.
Banyaknya cabang yang ada memberi konsekuensi bagi Primagama untuk menyediakan staf dan tutor yang handal secara cepat
dan tepat untuk menempati cabang-cabang yang ada, baik yang dilakukan oleh cabang sendiri ataupun yang dibantu dengan pusat. Kesulitan yang terkadang dihadapi adalah persebaran sumber daya manusia yang tidak merata karena menumpuk di beberapa wilayah.
c. Harga yang masih relatif mahal untuk kalangan pengusaha kecil
Franchisee Fee yang besarnya antara 75 juta – 175 juta dirasakan masih relatif mahal untuk dibayar oleh pengusaha kecil, belum lagi dengan biaya-biaya lain yang harus dibayarkan termasuk untuk fasilitas yang dipersiapkan per outletnya. Biaya yang mahal ini memberi implikasi bagi franchisee/ investor untuk mematok harga yang cukup tinggi di kalangan konsumen bawah (siswa) yang pada akhirnya akan mengurangi daya saing Primagama dengan bimbingan belajar lain yang lebih kompetitif dalam harga.
d. Adanya keluhan mengenai kurang diperhatikannya kesejahteraan tutor Pemberian honor dengan hitungan per jam menimbulkan keluhan bagi sebagian tutor perihal kesejahteraannya, terutama jika jumlah jam kerjanya hanya sedikit. Dengan demikian akan lebih sulit mengharapkan loyalitas dari tutor untuk Primagama padahal aset terbesar dalam sebuah bimbingan belajar adalah tutor/ instruktur smart itu sendiri.
3. Peluang (Opportunity) Lembaga Pendidikan Primagama
a. Paradigma masyarakat yang semakin memprioritaskan pendidikan bagi masa depan anaknya
Seiring dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, masyarakat juga semakin memahami arti penting dari pendidikan. Karena sejatinya warisan terbaik yang diberikan orangtua kepada anaknya bukan terletak pada harta kekayaan yang berlimpah melainkan dari luasnya ilmu dan ketinggian akal budi yang dimilikinya. b. Persaingan SPMB, UN dan US yang semakin ketat
Ada satu fenomena masyarakat yang tergambar akhir-akhir ini, yakni semakin banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke tempat les, bimbel, atau apapun namanya untuk membantu kesulitan belajar anak yang tidak bisa tertangani di rumah, terutama dalam menghadapi ujian akhir sekolah, UN, dan SPMB.
c. Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat akan dunia pendidikan formal (sekolah)
Agaknya masyarakat sudah mulai menganggap bahwa pendidikan yang berkualitas dan efektif tidak selalu bisa didapatkan di bangku sekolah. Untuk itu perlu ada upaya lain untuk membantu pembelajaran anak di luar sekolah, misalnya dengan mamasukkan anak-anak ke Lembaga Bimbel.
d. Kebijakan pemerintah untuk menggratiskan biaya sekolah negeri dan pemberian BOS melalui sekolah
Kebijakan pemerintah untuk menggratiskan biaya sekolah negri bagi siswanya dan pemberian dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah)
menyebabkan pendapatan masyarakat yang harus dialokasikan untuk dana pendidikan menjadi semakin rendah. Dengan kata lain, masyarakat memiliki kelebihan dana yang belum tersalurkan. Dalam hal ini, sebagian besar masyarakat berinisiatif untuk mengalihkan dana pendidikan tersebut dengan memasukkan anak-anaknya ke dalam Bimbingan Belajar ataupun Lembaga Kursus yang dapat menambah wawasan anaknya.
e. Tawaran pinjaman dari lembaga keuangan bagi investor yang ingin bekerjasama dengan Primagama
Melihat prospek Primagama yang cukup menggiurkan untuk pengembangan waralabanya maka tak heran jika beberapa Lembaga Keuangan mulai melirik untuk memberikan pinjaman bagi investor yang kekurangan dana untuk membeli waralaba Primagama.
f. Segmen pasar yang sangat luas, mulai dari SD-SMP-SMU
Besarnya pangsa pasar yang masih belum terjamah menjadi peluang tersendiri bagi Primagama untuk melebarkan sayapnya dan menampung segmen pasar yang ada melalui berbagai promosi yang dilakukannya.
g. Dukungan pemerintah untuk perkembangan waralaba
Dengan dukungan penuh dari pemerintah untuk regulasi waralaba di Indonesia, maka langkah Primagama juga akan semakin kokoh untuk mengembangkan bisnis melalui sistem waralaba.
a. Semakin menjamurnya perkembangan Bimbel yang ada
Banyaknya jumlah Bimbel yang terus berkembang saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi Primagama untuk terus mengasah sisi kompetitifnya dengan terus mengkreasikan produk-produk dan pelayanan yang berkualitas bagi pelanggannya, bukan hanya dengan mengusung konsep bimbingan belajar yang murah meriah namun kualitasnya meragukan.
b. Adanya sebagian Bimbel yang melakukan persaingan tidak sehat
Persaingan tidak sehat yang dilakukan beberapa Bimbel lainnya (seperti pembelian soal, kunci jawaban ataupun joki SPMB) justru semakin memotivasi Primagama untuk dapat memberikan pendidikan dengan kualitas terbaik bagi generasi muda Indonesia tanpa harus melakukan tindakan yang hanya akan ‘melecehkan’ dan ‘mencederai’ pendidikan tanah air .
c. Inovasi produk yang seringkali dicontek oleh pesaing
Keberadaan pesaing menjadi tantangan tersendiri bagi Primagama untuk terus melaju dalam bisnis Bimbel ini dan menjadi pioneer di antara Bimbel lainnya, untuk selalu menjadi yang terdepan dalam prestasi. Produk-produk yang dicontek oleh pesaing memberi bukti bahwa produk yang dihasilkan memang berkualitas dan bermanfaat serta memacu Primagama untuk terus melakukan inovasi tiada henti dalam penciptaan produknya
d. Adanya Franchisee yang lebih menitikberatkan pada unsur profit tanpa memperhatikan kepentingan usaha dan visi-misi perusahaan sendiri
Tidak sedikit Franchisee yang lebih mengedepankan profit dalam pengembangan bisnisnya sehingga melupakan hal-hal mendasar yang diperlukan untuk membangun sebuah Bimbel yang berkualitas dan dapat menghantarkan siswa-siswinya menuju kesuksesan. Antara lain franchisee yang berusaha memanipulasi biaya-biaya urgent yang harus dikeluarkan, namun ternyata tidak dikeluarkan sesuai ketentuan yang disyaratkan. Dan alhasil, hal demikian dapat mengurangi kualitas dan standar pelayanan Primagama sendiri terhadap pelanggannya.
Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah dengan penggunaan matriks SWOT yang menggambarkan bagaimana peluang dan kekuatan yang dimiliki Primagama dapat dimanfaatkan untuk mengurangi kelemahan yang dimiliki serta ancaman yang dihadapi Primagama dari external perusahaannya.
Berikut ini hasil identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal waralaba Primagama:
a. Analisis Faktor Internal
Keterangan Bobot Rating Skor
Kekuatan
Manajemen yang profesional
Promosi yang berkesinambungan dan gencar
SOP yang matang dan kuat Financial yang kuat
Pertumbuhan outlet lebih cepat dibandingkan pesaingnya
Kelemahan
Banyaknya cabang menimbulkan kesulitan dalam controlling
Kesulitan dalam pencarian tutor dan staff ahli untuk disebarkan secara merata di seluruh cabang yang ada
Franchisee fee yang masih tergolong mahal untuk pelaku usaha kecil Adanya keluhan tentang kesejahteraan
tutor yang kurang diperhatikan
0.15 0.10 0.10 0.10 0.15 0.05 0.10 0.05 0.05 4 3 3 4 4 1 2 2 2 0.60 0.30 0.30 0.40 0.60 0.05 0.20 0.10 0.10 Total 1.00 3.25
b. Analisis Faktor Eksternal
Keterangan Bobot Rating Skor
Peluang
Paradigma masyarakat yang semakin memprioritaskan pendidikan bagi masa depan anaknya
Persaingan SPMB, UN dan US yang semakin ketat
Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat akan dunia pendidikan formal (sekolah)
Kebijakan sekolah gratis dan pemberian BOS oleh negara
Tawaran pinjaman dari lembaga keuangan bagi investor yang ingin bekerjasama dengan Primagama
Segmen pasar yang sangat luas, mulai dari SD-SMP-SMU
Dukungan pemerintah untuk perkembangan waralaba Ancaman 0.05 0.15 0.05 0.10 0.15 0.15 0.05 2 4 2 3 3 4 3 0.10 0.60 0.10 0.30 0.45 0.60 0.15
Total Skor Faktor Eksternal
Semakin menjamurnya perkembangan Bimbel yang ada
Adanya sebagian Bimbel yang melakukan persaingan tidak sehat
Inovasi produk yang seringkali dicontek oleh pesaing
Adanya Franchisee yang lebih menitikberatkan pada unsur profit tanpa memperhatikan kepentingan usaha dan visi-misi perusahaan
0.10 0.05 0.05 0.10 1 2 2 1 0.10 0.10 0.10 0.10 Total 1.00 2.70
c. Analisis dengan menggunakan Matriks General Elektric Total Skor Faktor Internal
4,0 KUAT 3,0 RATA2 2,0 LEMAH 1,0
BESAR 3,0 RATA2 2,0 RENDAH 1,0
Melalui Matriks General Elektrik di atas dapat dilihat posisi waralaba Primagama berada pada wilayah Stabilitas dengan total skor faktor internal 3, 25 dan skor faktor eksternal 2, 70.
d. Analisis dengan menggunakan Matriks SWOT
Pertumbuhan melalui Integrasi Vertikal Pertumbuhan melalui Integrasi Horizontal Penciutan melalui ‘Turn Around” Stabilitas Pertumbuhan melalui Integrasi Horizontal Stabilitas Divestasi Pertumbuhan melalui Difersifikasi Konsentrik Pertumbuhan melalui Diversifikasi Konglomerat Likuidasi
Tabel 8
Matriks SWOT Waralaba Primagama
Kekuatan (Strength) Kelemahan
(Weakness)
IFAS
EFAS
1.Produk yang inovatif dan berkualitas
2.Manajemen yang profesional
3.Promosi yang kuat dan berkesinambungan
4.Financial yang kuat
5.SOP yang matang dan lengkap
6.Pertumbuhan outlet lebih cepat dibandingkan pesaingnya
1.Banyaknya cabang membuat pihak manajemen lebih sulit untuk mengontrol
2.Kesulitan dalam pencarian tutor dan staf ahli untuk mengisi posisi di cabang-cabang yang ada.
3.Harga yang masih relatif mahal untuk kalangan pengusaha kecil
4.Adanya keluhan tentang kesejahteraan tutor yang kurangdiperhatikan
Peluang (Opportunity) Strategi SO Strategi WO
1.Paradigma masyarakat yang semakin memprioritaskan
pendidikan bagi masa depan anaknya
2.Persaingan SPMB, UN dan US yang semakin ketat
3.Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat akan dunia pendidikan formal (sekolah)
4.Kebijakan sekolah gratis dan pemberian BOS oleh negara
5.Tawaran pinjaman dari lembaga keuangan bagi investor yang ingin bekerjasama dengan Primagama
6.Segmen pasar yang sangat luas, mulai dari SD-SMP-SMU
7.Dukungan pemerintah untuk perkembangan waralaba
1.Promosi yang gencar dari pusat ataupun cabang masing-masing untuk menarik simpati masyarakat 2.Memanfaatkan pinjaman
dari lembaga keuangan untuk pengembangan usaha dan bantuan permodalan bagi investor
3.Menjaga dan meningkatkan kualitas produk sesuai dengan standar kurikulum pendidikan yang berlaku 4.Meningkatkan pelayanan
terhadap pelanggan
5.Mempertahankan dan melebarkan jaringan kerja yang sudah ada, baik dengan masyarakat, pemerintah, ataupun swasta 6.Bekerjasama dengan pihak
sekolah untuk mengadakan bimbingan sesuai jadwal sekolah ataupun mengikuti event-event yang terkait. 7. Expansi pasar baru dekat
pemukiman
1.Memanfaatkan kebutuhan masyarakat akan dunia Bimbel melalui cabang-cabang Primagama yang tersebar luas di Indonesia 2.Memanfaatkan dana yang
ada untuk mendirikan tempat pelatihan untuk mencetak staff ahli/ tutor baik untuk keperluan internal atau eksternal 3.Kerjasama antara pusat
dan cabang untuk perekrutan staf dan tutor secara besar-besaran 5. Memanfaatkan dana yang
ada untuk pengembangan karyawan dan operasional manajemen
6.Penjualan saham kepemilikan outlet Primagama dengan harga/ tawaran khusus kepada karyawan
Ancaman
(Threatment) Strategi ST Strategi WT
1.Semakin menjamurnya perkembangan Bimbel yang ada
2.Adanya sebagian Bimbel yang melakukan persaingan tidak sehat 3.Inovasi produk yang
seringkali dicontek oleh pesaing
4.Adanya Franchisee yang lebih menitikberatkan pada unsur profit tanpa memperhatikan
kepentingan usaha dan visi-misi perusahaan sendiri
1. Selalu melakukan inovasi secara berkala untuk menjaga kualitas dan menghindari persaingan yang tidak sehat
2. Mempertahankan citra Primagama sebagai Lembaga Pendidikan yang terdepan dalam prestasi melalui peningkatan kualitas pelayanan dan produknya
3. Menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak franchisee (investor) untuk menjaga keharmonisan usaha
4.Memanfaatkan potensi dana yang ada untuk kepentingan bersama, misal pemberian kemudahan atau fasilitas tertentu bagi investor dan karyawan yang loyal atau mengadakan acara bersama sebagai forum musyawarah dan silaturrahim dengan sesama investor ataupun karyawan juga untuk pemanfaatan dana CSR. 5.Melakukan kontrol secara
intensif dan berkala atas setiap cabang yang ada dan selalu mengupayakan tercapainya keuntungan bagi masing-masing pihak.
1.Diferensiasi wilayah dan diferensiasi job di sisi internal menejemen 2.Menetapkan pola karir
bagi karyawan dan tutor 3.Evaluasi secara berkala
terhadap produk yang dihasilkan agar tetap kompetitif di antara pesaing yang ada 4.Perkuat lembaga
Research and Development
5.Pengadaan pelatihan secara berkala bagi tutor dan staf Primagama dan mengadakan perekrutan SDM secara global untuk ditempatkan pada cabang yang ada secara merata dan tidak hanya ditempatkan pada satu outlet namun juga pada outlet lain yang berdekatan
6.Membuat model unit penyertaan waralaba yang nominalnya terjangkau masyarakat
B. Analisis kesyariahan terhadap Strategi Pengembangan Bisnis Waralaba Primagama
Secara garis besar, tinjauan keislaman terhadap strategi pengembangan bisnis waralaba Primagama dalam pelaksanannya lebih menitikberatkan pada dua masalah pokok, yakni dari sisi pemanfaatan hak cipta dan sisi kemitraan usaha. 1. Aspek Pemanfaatan Hak Cipta
Apabila kita amati lebih lanjut, unsur yang terpenting yang menjadi sebab timbulnya konsep bisnis waralaba adalah masalah hak cipta. Hak cipta dalam sistem waralaba meliputi logo, merk, buku petunjuk pengoperasian bisnis, brosur atau pamflet serta arsitektur tertentu yang berciri khas dari usahanya. Adapun imbalan dari penggunaan hak cipta ini adalah pembayaran fee awal dari pihak terwaralaba (franchisee) kepada pihak pewaralaba (franchisor).
Seorang ahli hukum Islam, Fathi Daroini menyebut hak cipta ini sebagai haqqul ibtikar, sebagaimana dikutip oleh Darmawan, yakni Haqqul Ibtikar adalah sebagai karya cipta yang bersumber dari hasil pemikiran manusia dan merupakan jalan bagi perkembangan dan kemajuan kebudayaan, hasil pemikiran tersebut jika dilihat dari kacamata fikih dapat dikategorikan sebagai manfaat.71
Dikarenakan bahwa hasil karya cipta adalah pekerjaan akal dan merupakan karya, maka ia adalah juga disebut harta. (Al-Daraini,
71
Darmawan Budi Suseno, Waralaba Syariah, Yogyakarta, Cakrawala Publishing, 2008, h. 84.
sebagaimana dikutip oleh Darmawan).72 Sesuatu yang asalnya belum merupakan harta, apabila di kemudian hari tampak manfaatnya, ia akan menjadi harta selama memberikan manfaat bagi manusia secara umum.
Oleh karena itu, sebagaimana sebuah harta, maka setiap pemanfaatan hak cipta pun dapat diukur nilainya dengan materi. Dalam hal ini akad yang paling tepat untuk digunakan adalah ijaroh (menyewa hak cipta sebuah usaha waralaba selama seberapa periode disertai dengan timbal balik berupa materi). Dalam hal penggunaan manfaat hak cipta tersebut, maka bagi pihak pewaralaba berhak atas balas jasa yang berupa fee atau franchisee fee yang merupakan bagian dari pemanfaatan hak cipta tersebut. Dan apabila fee atau franchisee fee itu tidak dibayarkan sesuai dengan kesepakatan dalam perjanjian, maka bisa disebut dengan pelanggaran atas hak orang lain, yang hal ini tentunya bertentangan dengan syariat Islam.73
Perjanjian waralaba yang disepakati oleh kedua belah pihak dalam penggunaan hak cipta, tidak bertentangan dengan hukum Islam, karena isi perjanjian maupun pelaksanaannya sudah melalui kesepakatan kedua pihak dan selanjutnya kedua pihak tersebut diminta untuk saling menjaga kesetiaan dan kejujuran selama masa perjanjian tersebut. Dan dalam hal ini pemanfaatan hak cipta tersebut sama halnya dengan transaksi ijaroh (sewa-menyewa) yang ada dalam syariat Islam. Dalam transaksi ijaroh, setiap persewaan yang
72Ibid.,
h. 87.
73
dilakukan akan mendapatkan kompensasi atas manfaat yang diberikan. Seperti disebutkan dalam hadits Rasulullah sebagai berikut:
!"#" $% &
!ﻡ (ﻝ
*+ " , $%
-$. / 0 1 $%
2 "
-,3 ﻝ 2ﻡ / 4 / % % 4 $%
5 %
6
7ﻡ 5
748
Artinya :“Dari Abu Hurairoh r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Tiga orang yang Aku menjadi musuhnya pada hari Kiamat adalah: Orang yang memberi perjanjian dengan nama-Ku kemudian berkhianat, orang yang menjual orang merdeka lalu memakan harganya, dan orang yang mempekerjakan seorang pekerja, lalu ia bekerja dengan baik, namun orang itu tidak memberi upahnya.” (H.R. Muslim)
Ada beberapa persyaratan yang diperlukan dalam transaksi sewa-menyewa berdasarkan fatwa DSN,75 yang dalam hal ini dapat diaplikasikan dalam pola bisnis waralaba sehubungan dengan penentuan franchisee fee pada waralaba Primagama, antara lain:
a. Pernyataan ijab qabul, dilihat dari penandatanganan MoU
b. Pihak-pihak yang berakad, terdiri atas pihak yang menyewakan (franchisor) dan penyewa (franchisee)
c. Objek kontrak, berupa pembayaran sewa (franchisee fee) dan manfaat dari penggunaan asset (merk, logo, konsep bisnis, SOP, dll.)
74
Ibnu Hajar Atsqolaani, Bulughul Maroom, (Al-Haromain, T.tp., 1957), Bab Ijaroh, Hadits no. 6.
75
d. Ada kejelasan waktu (masa) dalam penyewaan (5 tahun/ kontrak)
Dalam hal ini Primagama juga menetapkan fee tersendiri bagi franchiseenya yang akan memanfaatkan merk dan operasional waralaba Primagama untuk cabang yang dimilikinya.
Adapun franchisee fee yang ditentukan oleh Primagama berdasarkan perjanjian yang telah disepakati adalah sebesar Rp. 75.000.000 – Rp. 175.000.000 untuk jangka waktu 5 tahun tiap 1 outlet yang harus dibayarkan pada saat penandatanganan perjanjian kontrak franchise (MoU).
Franchisee fee tersebut sudah mencakup pemanfaatan merk dan SOP Bimbingan Belajar Primagama selama 5 tahun, juga termasuk di dalamnya pembekalan dan pelatihan manajerial untuk tutor dan staf di awal perjalanan usaha sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati bersama dalam MoU. 2. Aspek Kemitraan Usaha
Secara garis besar konsep waralaba tidak bertentangan dengan hukum Islam. Karena pada dasarnya pola kemitraan yang digunakan sama dengan syirkah yang biasa dilakukan di zaman Rasulullah, hanya saja mekanisme operasional pada waralaba lebih kompleks dan terinci. Aplikasi tentang bentuk persekutuan (syirkah) ini telah diterangkan oleh Allah SWT dalam Q.S. Sod (38): 24 berikut:
9ﻡ 9 :. ; 9% 3 ﻝ <4=3 >7 < ? *(ﻝ
99924/ 999 G G 999? 999ﻡ $999 HI 999ﻝ
J 3. KC4 /
6
L
M
NO
PQ
8
Artinya: “Daud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zholim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhan-Nya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.”
Unsur-unsur yang lazim ada dalam persekutuan bentuk waralaba yang juga diaplikasikan dalam Lembaga Pendidikan Primagama adalah: 6. Kesepakatan (Perjanjian Waralaba), yang dalam hukum Islam biasa
diistilahkan dengan ijab dan qabul
Dalam hal ini kesepakatan antara franchisor dengan franchisee tertuang dalam bentuk penandatanganan MoU yang di dalamnya tercantum ketentuan-ketentuan mengenai kewaralabaan Primagama sendiri, mulai dari penentuan franchisee fee, royalty fee, lama perjanjian, hak dan kewajiban kedua pihak secara umum sampai dengan prosedur penyelesaian masalah yang terjadi..
7. Pelaku (Pewaralaba dan Terwaralaba)
Kedua pihak, baik pewaralaba maupun terwaralaba mendapatkan bagian dari modal yang dimasukkannya dengan bagian tertentu sesuai dengan konsekuensi kerugian yang diterima, baik moral maupun materiil.
Dalam hal ini, Primagama (sebagai pewaralaba) bertindak sebagai pihak yang menanamkan ide, merk, dan konsep usahanya yang berupa hak