BAB IV ANALISIS BIMBINGAN DAN KONSELING
C. Analisis Tingkat Keberhasilan Bimbingan dan Konseling
Islamic Storytellingdalam Menangani Perilaku Maladaptif Santri di TPA Fastabiqul Khairaat Siwalankerto Surabaya
Setelah konseli mendapatkan bimbingan dan konseling Islam melalui teknik Islamic storytelling, terjadi perubahan pada perilaku konseli. Berdasarkan tabel pada peyajian data, dapat diketahui bahwa konseli mengalami penurunan gejala perilaku maladaptif. Hal tersebut dilihat dari hasil observasi yang dilakukan peneliti terhadap aktivitas dan perilaku konseli sebelum, pada saat, dan sesudah dilakukan Islamic storytelling. Meskipun perubahan perilaku konseli tidak 100 %, namun telah membuahkan hasil adanya perubahan perilaku sesuai yang diharapkan peneliti. Dalam kesehariannya setelah dilaksanakan teknikIslamic storytelling, terlihat bahwa perilaku konseli ada yang stabil yakni masih dilakukan dan ada pula yang berkurang yakni konseli sudah mampu menunjukkan perlaku adaptif dari pada sebelumnya.
Konseli Veri sudah bisa mengikuti pembacaan do’a dengan tertib dan
tidak terdengar menyelewengkan do’a dan perilakunya terhadap ustadz ustadzahjuga lebih baik (hormat), seperti ketika ingin ke toilet, ia selalu izin. Veri masih tergolong sebagai anak yang mudah diarahkan. Ia sudah tidak terlihat mencari gara-gara kepada temannya apalagi sampai bertengkar
175
bertengkar. Namun, Veri masih sering bergurau dengan temannya pada saat mengerjakan tugas, terlebih ketika ia duduk di bangku barisan tengah maupun belakang. Veri terlihat tenang, jika ia selalu diperhatikan dan diawasi oleh
ustadzahnya.
Konseli Pras bisa mengikuti proses belajar dengan baik. Saat di kelas, sudah tidak terlihat aktivitas melempar-lempar kertas yang dilakukan oleh Pras, apalagi sampai bertengkar dan berkata kotor. Pras lebih memperhatikan
ustadzhahketika duduknya di bangku barisan depan.
Konseli Aan jarang mengucapkan kata-kata kotor, mengumpat, dan memanggil temannya dengan nama orang tua. Ia lebih sopan saat meminjam sesuatu kepada temannya. Ia selalu meminta izin kepada ustadz nya ketika keluar kelas dan tidak menunda maju saat mengaji privat. Akan tetapi Aan
masih terlihat mangganggu temannya saat berdo’a dan mengerjakan tugas
dengan mengajaknya berbicara. Aan lebih mudah dikendalikan pada saat
ustadznya bersifat tegas kepadanya tanpa harus membentak.
Konseli Trisna sudah bersedia duduk di barisan depan dan bisa mengerjakan tugas tepat waktu. Ia tidak pernah bertengkar dan berkata kotor kepada temannya. Trisna juga memperhatikan ustadzah nya ketika diberi nasihat, diminta untuk menulis, dan dipanggil untuk mengaji privat. Trisna adalah anak yang paling aktif bertanya pada saat penyampaian Islamic storytellingdan ia senang ketika diminta maju untuk me-retellisi cerita.
Konseli Rio bisa berbicara lebih sopan kepada temannya ketika meminjam barang. Ia tampak lebih tertib pada saat mengikuti proses
176
pembelajaran mengaji dan tidak berjalan-jalan ke kelas lain. Hampir tidak terdengar perkataan Rio yang kurang sopan, mengumpat, atau memanggil temannya dengan sebutan orang tua. Sifat Rio yang sering menguasai kelas juga berkurang sedikit demi sedikit dengan pembiasaan mengucapkan kata tolong dan terima kasih kepada temannya pada saat ia membutuhkan sesuatu.
Kelima konseli selalu hadir pada saat pelaksanaan Islamic storytelling. Mereka juga aktif ketika adanya tindakan dari storyteller setelah penyampaian Islamic storytelling, seperti: menyususn puzzle, permainan mencocokkan jawaban, menuangkan cerita dalam bentuk gambar, me-retell
isi cerita, dan menempelkan bintang keberhasilan. Dari kegiatan tersebut, Veri berhasil mendapatkan satu bintang, Pras mendapatkan dua bintang, Aan mendapatkan satu bintang, Trisna mendapatkan tiga bintang, dan Rio mendapatkan dua bintang. Dari perolehan bintang tersebut menunjukkan adanya keikutsertaan dan perhatian konseli selama pelaksanaan Islamic storytelling.
Dari hasil analisa terkait faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku maladaptif konseli, analisa proses pelaksanaan Islamic storytelling, serta analisa tingkat keberhasilan proses pelaksanaan Islamic storytelling, peneliti dapat menganalisa mekanisme perubahan yang terjadi pada kelima konseli setelah penyampaian Islamic storytelling berdasarkan aspek-aspek perkembangan anak, yaitu:
a. Konseli Veri, perubahan awal melalui afeksi berupa kasih sayang,
177
terpenuhi, emosi Veri bisa diubah dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang baik dan diterapkan atau dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari seperti sifat memaafakan. Ketika emosi baik sudah mulai terbentuk sedikit demi sedikit, Veri selalu diajarkan perilaku baik antar sesama melalui pengajaran di rumah, sekolah, maupun TPA. Karena usianya yang masih anak-anak awal, Veri akan cenderung menirukan apa yang dilihat dan didengarnya. Pentingnya orang tua dan ustadz ustadzah
dalam memaknai setiap perilaku yang diajarkan akan membuat kognitifnya mulai berperan. Ia selalu memperhatikan dan memikirkan
“bagaimana saya bertindak” dan “mengapa saya harus seperti itu”.
Dengan demikian, muncul perilaku (behavior) yang lebih baik dalam diri Veri.
b. Konseli Pras, perubahan awal melalui afeksi berupa kasih sayang,
perhatian, dan do’a dari orang tua dan ustadz ustadzah, serta melalui aspek sosial berupa pergaulan Pras dengan teman yang lebih baik. Setelah afeksi dan sosial terpenuhi, emosi Pras bisa diubah dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang baik dan diterapkan atau dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari seperti sifat menghargai sesama. Ketika emosi baik sudah mulai terbentuk sedikit demi sedikit, Pras selalu diajarkan perilaku menghargai orag tua dan teman melalui pengajaran di rumah, sekolah, maupun TPA. Karena usianya yang masih anak-anak awal, Pras akan cenderung menirukan apa yang dilihat dan didengarnya. Pentingnya orang tua dan ustadz ustadzah dalam memaknai setiap
178
perilaku yang diajarkan akan membuat peran kognitifnya mulai muncul.
Ia akan selalu memperhatikan dan memikirkan “bagaimana saya bertindak” dan “mengapa saya harus seperti itu”. Dengan demikian, terbentuk perilaku (behavior) yang lebih baik dalam diri Pras.
c. Konseli Aan. perubahan awal melalui afeksi berupa kasih sayang,
perhatian, dan do’a dari orang tua dan ustadz ustadzah. Setelah afeksi terpenuhi, emosi Aan bisa diubah dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang baik dan diterapkan atau dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari seperti menghormati orang tua dan guru, serta menghargai sesama. Ketika emosi baik sudah mulai terbentuk sedikit demi sedikit, Aan selalu diajarkan perilaku menghargai orag tua dan teman melalui pengajaran di rumah, sekolah, maupun TPA. Karena usianya yang sudah tergolong masa anak-anak akhir, Aan sudah mulai bisa berpikir secara logis. Pentingnya orang tua dan ustadz ustadzahdalam memaknai setiap perilaku yang diajarkan akan membuat peran kognitifnya mulai muncul.
Ia akan selalu memperhatikan dan memikirkan “apa yang harus saya lakuakan” dan “ternyata benar atau salah apa yang dikatakan oleh orang itu, berarti saya harus seperti ini”. Dengan demikian, terbentuk perilaku (behavior) yang lebih baik dalam diri Aan.
d. Konseli Trisna, perubahan awal melalui afeksi berupa kasih sayang,
perhatian, dan do’a dari orang tua dan ustadz ustadzah. Setelah afeksi terpenuhi, Trisna selalu diajarkan dan dicontohkan dengan perilaku yang baik. Trisna lebih suka diajarkan hal baru melalui praktik maupun tebak-
179
tebakan, sehingga memicu adanya dorongan untuk bisa berpikir secara logis. Ketika apa yang menjadi pertanyaan dalam dirinya tentang sesuatu yang baru tersebut sudah terjawab, ia akan bisa menyesuaikan dengan emosinya. Dan setelah emosi dalam dirinya bisa dikendalikan karena ia telah menerima dan memahami apa yang diajarkan oleh orang lain, maka terbentuk perilaku (behavior) yang lebih baik dalam diri Trisna.
e. Konseli Rio, perubahan awal melalui afeksi berupa kasih sayang,
perhatian, dan do’a dari orang tua dan ustadz ustadzah, serta melalui aspek sosial berupa pergaulan Rio dengan teman yang lebih baik. Setelah afeksi dan sosial terpenuhi, emosi Rio bisa diubah dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang baik dan diterapkan atau dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari seperti sifat menghargai sesama dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Ketika emosi baik sudah mulai terbentuk sedikit demi sedikit, Pras selalu diajarkan perilaku positif melalui pengajaran di rumah, sekolah, maupun TPA. Karena usianya yang sudah termasuk masa anak-anak akhir, Rio sudah mulai bisa berpikir secara logis. Pentingnya orang tua dan ustadz ustadzahdalam memaknai setiap perilaku yang diajarkan akan membuat peran kognitifnya mulai muncul.
Ia akan selalu memperhatikan dan memikirkan “apa yang harus saya lakuakan” dan “ternyata benar atau salah apa yang dikatakan oleh orang itu, berarti saya harus seperti ini”. Dengan demikian, terbentuk perilaku (behavior) yang lebih baik dalam diri Rio.
180
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan beserta data yang diperoleh terkait Bimbingan dan konseling Islam melalui teknik Islamic storytelling
dalam menangani perilaku maladaptif santri di TPA Fastabiqul Khairaat Siwalankerto Surabaya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Faktor-faktor yang menyebabkan perilaku maladaptif santri di TPA Fastabiqul Khairaat Sialankerto Surabaya terbagi menjadi dua, yakni faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intriksik adalah hal-hal yang berasal dari dalam diri konseli, yaitu faktor usia, jenis kelamin, dan kedudukan anak dalam keluarga. Sedangkan faktor ekstrinsik adalah hal- hal yang berpengaruh dari luar diri konseli, seperti: faktor keluarga, faktor pendidikan dan sekolah, pergaulan anak dan masyarakat, dan mass media.
2. Proses pelaksanaan bimbingan dan konseling Islam melalui teknik
Islamic storytelling dalam menangani perilaku maladaptif santri dilakukan dengan berbagai persiapan seperti: mengucapkan salam, mengatur posisi duduk santri, dan pengkondisian kelas. Agar Islamic storytelling terkesan lebih menari, peneliti menggunakan media pendukung seperti: boneka, kertas warna, dan papan. Pada setiap pelaksanaannya, peneliti memberikan peran aktif pada konseli melalui
181
penugasan dan beberapa pertanyaan. Dan tak lupa pula penyampaian hikmah cerita serta pemberian hadiah diberikan pada akhir pertemuan. 3. Adapun tingkat keberhasilan bimbingan dan konseling Islam melalui
teknikIslamic storytellingdalam menangani perilaku maladaptif santri di TPA Fastabiqul Khairaat Siwalankerto Surabaya dapat dibuktikan dengan adanya perubahan perilaku pada diri konseli yang tampak lebih baik serta adanya penurunan gejala perilaku maladaptif setelah dilaksanakan proses bimbingan dan konseling Islam melalui teknik
Islamic storytellingtersebut.
B. Saran
Berdasarkan hasil yang disimpulkan di atas, terdapat beberapa hal yang menjadi catatan atau saran bagi pihak-pihak terkait antara lain:
1. Bagi Konseli
Hendaknya konseli mempunyai niat dan tekad yang kuat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Konseli yang sudah berubah, hendaknya tetap berperilaku adaptif agar proses belajar bisa berjalan dengan baik serta ilmu yang didapatkan menjadi bermanfaat dan barokah.Aamiin.
2. BagiUstadz Ustadzah
Metode pembelajaran di TPA sudah banyak jenisnya. Oleh karena itu, seyogyanya ustadz ustadzah dapat menggunakan berbagai metode atau teknik dalam menangani perilaku santri yang bermacam-macam, salah satunya melalui Islamic storytelling. Mengingat masa anak-anak
182
merupakan masa yang fundamental bagi tumbuh kembangnya. Anak lebih suka bermain, berimajinasi, meniru, dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan dunianya. Ketika anak selalu dibentak dan diberi hukuman saat melakukan kesalahan, kemungkinan anak tersebut menjadi pribadi yang minder atau justru semakin memberontak dan melawan. Begitupun sebaliknya, ketika anak selalu dituruti kemauannya, kemungkinan ia menjadi anak yang manja. Dan anak yang manja biasanya akan berbuat
delinquent(nakal) pada saat keinginannya tidak dipenuhi.
Ustadz ustadzah harus bersikap tegas saat di kelas, sehingga dapat mengatur santri bukan malah diatur santri. Selain itu ustadz ustadzah
juga sebisa mungkin menjadikan proses belajar di kelas lebih menarik dan lebih sering melibatkan santri agar mereka tidak mempunyai waktu luang terlalu banyak untuk bermain sendiri dan mengganggu kelas lain. 3. Bagi Orang Tua
Keluarga merupakan suatu unsur yang paling menentukan perkembangan diri anak. Ketika orang tua menginginkan buah hatinya menjadi anak yang baik dan sholeh, maka orang tua harus memberikan do’a, perhatian, kasih sayang, dan pengawasan kepada anak. Bukan hanya dilihat dari segi materi saja, melainkan dari segi psikologi dan spiritua anak. Orang tua juga harus bisa mengontrol waktu sang anak, seperti: waktu sekolah, mengaji, bermain, makan, istirahat, dan berkumpul dengan keluarga. Jangan sampai anak dibiarkan bermain atau
183
belajar terus tanpa batas, melainkan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Pada saat penelitian hendaknya lebih menguasai teknik yang digunakan. Bukan hanya dari segi pemahaman materi saja, melainkan dari segi penerapannya. Seperti halnya dalam penggunaan teknik-teknik yang lain, belajar teknik Islamic storytelling tidak cukup satu atau dua kali saja. Butuh evaluasi dan pembenahan, agar materi cerita yang disampaikan lebih mengena. Begitu pula pada saat penggalian datan konseli, peneliti hendaknya melakukan home visit lebih dari satu kali. Hal ini dimaksudkan agar mendapatkan hasil yang lebih baik.
Dan sebelum menentukan terapi apa yang akan diberikan pada konseli yang mempunyai permasalahan di kelas (seperti: perilaku maladaptif), peneliti hendaknya mengetahui lebih awal bagaiman gaya belajar konseli, sehingga ada kesesuaian antara teknik terapi yang diberikan dengan keadaan diri konseli.
184
DAFTAR PUSTAKA
A., Hallen. 2005.Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Quantum Teaching.
Adi, Kukuh Jumi. 2013. Esensial Konseling: Pendekatan Trait and Factor dan Client Centered. Yogyakarta: Garudhawaca.
Adz-Dzaky, Hamdani Bakran. 1998. Psikoterapi Konseling Islam. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Aisyah, Laili. 2013. Skripsi Bimbingan dan Konseling Islam dengan Pendekatan Dinamika Kelompok dalam Menangani perilaku Maladaptif Santri di TPA Baitul Hamid Wonocolo Surabaya. Surabaya: UIN Sunan Ampel.
Al-Qaththan, Manna’ Khalil. tt.Mabahits fi Ulumul Qur’an.Masyurah al-Asyr. Amin, Samsul Munir. 2010.Bimbingan dan Konseling Islam. Jakarta: Amzah. An-Naisaburi, Abu Ishaq Ahmad Bin Muhammad Ibn Ibrahim. tt. Qisas Anbiya’.
Beirut: Dar al-Fikr.
Anwar, Rosihon. 2006.Ilmu Tafsir.Bandung: Pustaka Setia.
Arikunto, Suharismi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arikunto, Suharismi. 2013.Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Asfandiyar, Andi Yudha. 2012.Creative Parenting Today.Bandung: Kaifa. Aswadi. 2009. Iyadah dan Ta’ziyah Perspektif Bimbingan Konseling Islam.
Surabaya: Dakwah Digital Press.
Az-Zahrani, Musfir bin Said. 2005.Konseling Terapi. Jakarta: Gema Insani Press. Bungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Sosial. Surabaya: Airlangga University
Press.
Chirjin, Muhammad. 1998. Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa.
Christina, Ani. 2013.Sekolah menjadi Orang Tua.Sidoarjo: Filla Press.
Delphie, Bandi. 2005. Bimbingan Konseling untuk Perilaku Non-Adaptif. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
185
Departemen Agama RI. 2002. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: CV Darus Sunnah.
Departemen Agama RI. 2006. Qur’an Tajwid Maghfirah. Jakarta: Maghfirah Pustaka.
Departemen Agama RI. 2007. Al-Hikmah Al-Quran dan Terjemahannya. Bandung: Diponegoro.
Departemen Agama RI. 2008. Al-Huda: Al-Qur’an Terjemah dengan
Transliterasi.Jakarta: PT. Krisna Daya Dinamika.
Departemen Agama RI. 2010. Mushaf Wardah: Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir
untuk Wanita. Bandung: Jabal.
Doe, Mimi dan Marsha Walch. 2001. 10 Prinsip Spiritual Parenting. Bandung: Kaifa.
DS, Agus. 2009.Tips Jitu Mendongeng. Yogyakarta: Kanisius.
Faizah dan Lalu Muchsin Effendi. 2006. Psikologi Dakwah. Jakarta: Prenada Media.
Faqih, Aunur Rahim. 2001. Bimbingan dan Konseling dalam Islam. Yogyakarta: UII Press.
Fauzi, Muhammad. 1997. Bersikap terhadap Anak. Yogyakarta: Titihan Ilahi Press.
Gunarsa, Singgih D. 2001. Psikologi Praktis Anak, Remaja, dan Keluarga.
Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Hapsari, Iriani Indri. 2016.Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Indeks.
Hendri, Novi. 2012. Psikologi dan Konseing Keluarga. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis.
Hurlock, Elizabeth B. 2011. Psikologi Perkembangan: suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan ed.5. Jakarta: Erlangga.
Hurlock, Elizabeth B. 2012.Perkembangan Anak ed.6 jilid 1. Jakarta: Erlangga. http://www.aaronshep.com/storytelling/tips2.html
186
http://tzakaria.blogspot.com/2012/08/hukum-perlindungan-anak-dan- perempuan.html
Jumantoro, Totok. 2001. Psikologi Dakwah dengan Aspek-aspek Kejiwaan yang
Qur’ani. Jakarta: Amzah.
Kementerian Agama RI. 2010. Mushaf Aisyah: Al-Qur’an dan Terjemah untuk
Wanita.Bandung: Jabal.
Kementerian Agama RI. 2010. Ummul Mukminin: Al-Qur’an dan Terjemahan
untuk Wanita. Jakarta; Wali.
Kementerian Agama RI. 2013. Al-Qur’an dan Terjemahnya: Al-Mufid. Solo: PT. Tiga Serangkai.
Koki, Stan. 1998. Storytelling: The Heart and Soul Education. Hawai: Press Pacific Resources for Education and Learning.
Latif, Muhamad Abdul. 2012. The Miracle of Story Telling, Mencerdaskan Anak dengan Dongeng dan Cerita. Jakarta: Bestari Buana Murni.
Lesmana, Jeanette Murad. 2005.Dasar-dasar Konseling. Jakarta: UI Press.
Lubis, Lahmuddin. 2006. Konsep-konsep Dasar Bimbingan dan Konseling.
Bandung: Cita Pustaka Media.
Lubis, Namora Lumongga. 2001.Memahami Dasar-dasar Konseling dalam Teori dan Praktik.Jakarta: Kencana.
Lubis, Namora Lumongga. 2011. Memahami Dasar-dasar Konseling. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Lubis, Saiful Akhyar. 2007.Konseling Islami. Yogyakarta: Elsaq.
Luddin, Abu Bakar M. 2011. Dasar-dasar Konseling. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis.
Majid, Abdul Aziz Abdul. 2013. Al-Qissah fi al-Tarbiyah (Mendidik dengan Cerita). penerjemah: Neneng Yanti Kh dan Dzulkifli Yahya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Moleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
187
Mubarok, Ahmad. 2002. Al-Irsyad, An-Nafsi Konseling Agama Teori dan Kasus. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Mulyana, Dedy. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyanto. 2004. Kisah-Kisah Teladan untuk Keluarga Pengasah Kecerdasan Spiritual. Jakarta: Gema Insani Press.
Munawar, Tohari, dkk. 1996. Dasar-dasar Konseptual Bimbingan Konseling Islam. Yogyakarta: UII Press.
Munawir, Fajrul, dkk. 2005.Al-Qur’an.Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
Mustaqim dan Abdul Wahib. 1991.Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Nasution, S. tt.Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif.
Nawawi, Hadari dkk. 1996. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nawawi, Ismail. 2012. Metoda Penelitian Kualitatif: Teori dan Aplikasi Interdisipliner untuk Ilmu Sosial, Ekonomi/ Ekonomi Islam, Agama, Manajemen, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: CV. Dwiputra Pustaka Jaya. Partowisastro, Koestoer. 1983. Dinamika dalam Psikologi Pendidikan jilid 1.
Jakarta: Erlangga.
Poermadarminta, Wjs. 2002. Kamus umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Bali Pustaka.
Prayitno, dkk. 2008. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Qaththan, Manna’ Khalil. tt.Mabahits fi Ulumul Qur’an.Masyurah al-Asyr. Qutb, Sayyid. 1981. Seni Penggambaran dlam Al-Qur’an. Yogyakarta: Nur
Cahaya.
Qutb, Sayyid. 2013.Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan Al-Qur’an Jilid
7.Jakarta: Gema Insani Press.
Rauf, Yusuf. tt.Materi Perkuliahan Teori-teori Konseling.
188
Soekadji, Soetarlinah. 1983. Modifikasi Perilaku: Penerapan Sehari-hari dan Penerapan Profesional. Yogyakarta: Liberty.
Soekanto, Soerjono. 1986.Metodologi Penelitan Hukum. Jakarta: UI Press.
Somantri, T. Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika Aditama.
Sugiyono. 2009.Memahami Penelitian Kualitatif. Bandungl: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi, Dewa Ketut. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional.
Sunarto dan Agung Hartono. 2002.Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Supratiknya. 2002.Mengenal Perilaku Abnormal.Yogyakarta: Kanisius.
Surya, Mohammad. 1998. Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Sutoyo, Anwar. 2013. Bimbingan dan Konseling Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tarmizi. 2011.Pengantar Bimbingan Konseling.Jakarta: Perdana Publishing. Tim Pena Cendekia. 2013.Panduan Mendongeng.Surakarta: Gazzamedia.
Ucon, Kak. 2013. Panen Pepaya: Membangun Karakter melalui Dongeng. Sidoarjo: Filla Press.
Winkel, WS. 1994. Bimbingan dan Konseling di Instansi Pendidkan. Jakarta: Grasindo
Wiramihardja, Sutardjo A. 2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Refika Aditama.
WS., Wuntat, dkk. 2008. Mendidik Anak dengan Memanfaatkan metode Bermain cerita dan Menyanyi. Yogyakarta: Pustaka Syahida.