• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

D. Analisis Kinerja Efisiensi Pemasaran

9) Analisis Total Marjin

Dari kelima saluran yang terbentuk marjin terbesar terdapat pada saluran III sebesar Rp 15.500,- kemudian saluran IV sebesar Rp 15.000,- sekaligus memiliki farmer’s share terkecil pada saluran III 18,42 % dan saluran IV 21,05

commit to user

mengalami perjalanan panjang sehingga membutuhkan biaya pemasaran yang besar hingga produk sampai kepada konsumen.

Marjin terkecil dan farmer’s share terbesar terdapat pada saluran V dengan nilai marjin total Rp 2.000,- dan farmer’s share sebesar 66,67 %. Saluran ini hanya melewati dua lembaga perantara yaitu koperasi dan pasar tradisional lokal sehingga biaya pemasaran tidak terlalu tinggi.

Terdapat perbedaan harga petani yang cukup tinggi antara saluran I Rp 2.000,- dengan saluran II dan III Rp 3.500,- pada pembelian oleh pedagang pengumpul. Hal ini karena lokasi yang berbeda dimana pada lokasi petani saluran I tidak ada koperasi sebagai penyeimbang harga serta jaraknya yang memang lebih jauh dari pusat kota sehingga pedagang pengumpul cenderung memberikan harga yang rendah. Sedangkan saluran II dan III terjadi pada lokasi dimana di tempat tersebut juga terdapat koperasi sebagai penyeimbang harga, sehingga pedagang pengumpul harus bersaing harga agar tetap mendapatkan pasokan. Dengan demikian harga yang terbentuk antara pedagang pengumpul dengan koperasi hampir seimbang. Sebenarnya saluran yang paling efisien adalah pemasaran melalui lembaga koperasi pada saluran IV atau V karena koperasi memberikan harga yang lebih tinggi dibanding pedagang pengumpul, namun hingga saat ini mayoritas petani masih memilih menjual produknya kepada pedagang pengumpul dengan alasan kemudahan untuk mendapatkan akses permodalan.

commit to user

b. Komoditas Jambu Biji

Besarnya marjin pemasaran dan penyebaran pola-pola pemasaran jambu biji dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Analisis Marjin Pemasaran Jambu Biji pada Masing-masing Lembaga Pemasaran

No Lembaga Pasar/ Unsur Marjin

Saluran I Saluran II Saluran III MS (Rp/Kg) (%) MS (Rp/Kg) (%) MS (Rp/Kg) (%) 1 Petani Harga Jual 1,500 25.00 2,500 35.71 1,500 30.00 2 Ped. Pengumpul Harga Beli 1,500 25.00 2,500 35.71 1,500 30.00 Biaya : Petik Jambu 200 3.33 200 2.86 200 4.00

Bersih & Kemas 150 2.50 150 2.14 150 3.00

Transportasi 100 1.67 200 2.86 100 2.00 Penyusutan 200 3.33 200 2.86 200 4.00 Laba 850 14.17 750 10.71 850 17.00 Marjin Pemasaran 1,500 25.00 1,500 21.43 1,500 30.00 Harga Jual 3,000 50.00 4,000 57.14 3,000 60.00 Benefit/Cost 1.40 1.23 1.40 3 Ped. Besar Harga Beli 3,000 50.00 4,000 57.14 3,000 60.00 Biaya : Retribusi 100 1.67 100 1.43 100 2.00 Transportasi 0 0.00 0 0.00 400 8.00 Penyimpanan 50 0.83 50 0.71 50 1.00 Penyusutan 100 1.67 100 1.43 100 2.00 Sortasi & Pengemasan 300 5.00 300 4.29 300 6.00 Laba 950 15.83 950 13.57 1,050 21.00 Marjin Pemasaran 1,500 25.00 1,500 21.43 2,000 40.00 Harga Jual 4,500 75 5,500 78.57 5,000 100 Benefit/Cost 1.27 1.21 1.27 4 Ped. Pengecer I Harga Beli 4,500 75.00 Biaya : Transportasi 200 3.33 Penyimpanan 100 1.67 Penyusutan 100 1.67

commit to user Tabel 24. (Lanjutan)

No Lembaga Pasar/ Unsur Marjin

Saluran I Saluran II Saluran III MS (Rp/Kg) (%) MS (Rp/Kg) (%) MS (Rp/Kg) (%) Laba 1,000 16.67 Marjin Pemasaran 1,500 25.00 Harga Jual 6,000 100 Benefit/Cost 1.20 5 Ped. Pengecer II Harga Beli 5500 78.57 Biaya : Transportasi 300 4.286 Penyimpanan 100 1.429 Penyusutan 200 2.857 Retribusi 100 1.429 Laba 800 11 Marjin Pemasaran 1500 21.43 Harga Jual 7000 100 Benefit/Cost 1.13 Total Biaya 1,700 28.33 2,000 28.57 1,600 32.00 Total Laba 2,800 46.67 2,500 35.71 1,900 38.00 Total Marjin 4,500 75 4,500 64.29 3,500 70.00

Sumber : Analisis Data Primer, 2011

1) Marjin Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengumpul

Seluruh petani pada saluran I, II, dan III menjual produknya kepada pedagang pengumpul. Komponen biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul terdiri dari biaya petik jambu, pembersihan serta pengemasan, transportasi dan penyusutan. Biaya yang dikeluarkan pedagang pengumpul pada saluran I dan III relatif lebih kecil yaitu Rp 650,- dengan laba rata-rata Rp 850, /Kg sehingga besar marjin Rp 1.500,-. Hal ini karena jambu biji akan menuju pedagang besar di wilayah lokal Bogor sehingga biaya transportasi lebih efisien. Sedangkan biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul pada saluran II relatif lebih besar yaitu Rp 750,- dengan laba rata-rata Rp 750,-/Kg sehingga

besar marjin Rp 1.500,-. Hal ini karena jambu biji akan menuju pedagang besar di luar Bogor sehingga memerlukan biaya transportasi yang lebih besar.

Rasio B/C yang diterima oleh pedagang pengumpul pada saluran I dan III sebesar 1,40 dan pada saluran II sebesar 1,23.

2) Marjin Pemasaran di Tingkat Pedagang Besar

Seluruh pedagang pengumpul pada saluran I, II, dan III menjual produknya kepada pedagang besar. Komponen biaya yang dikeluarkan pedagang besar terdiri dari biaya retribusi, transportasi, penyimpanan, penyusutan, sortasi dan pengemasan. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang besar pada saluran I dan II relatif lebih kecil yaitu Rp 450,- dengan laba rata-rata Rp 950,-/Kg sehingga besar marjin Rp 1.500,-. Hal ini karena jambu biji akan dijual kepada pedagang pengecer dan pedagang pengecerlah yang datang mengambil jambu tersebut. Sedangkan biaya yang dikeluarkan pada saluran III relatif lebih besar yaitu Rp 950,- dengan laba yang ditetapkan rata-rata Rp 1.050,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 2.000,-. Hal ini karena jambu biji akan menuju pabrik pengolahan di luar kota sehingga memerlukan biaya transportasi yang cukup besar.

Rasio B/C yang diterima oleh pedagang besar pada saluran I dan III sebesar 1,27 dan pada saluran II sebesar 1,21. Pedagang besar lebih menanggung resiko penjualan pada saluran III dengan tujuan pabrik pengolahan.

3) Marjin Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer

Saluran I melibatkan pedagang pengecer lokal dan saluran II melibatkan pedagang pengecer luar daerah. Komponen biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer terdiri dari biaya transportasi, penyimpanan, penyusutan, dan

commit to user

retribusi. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer I pada saluran I relatif lebih kecil yaitu Rp 500,- dengan laba yang ditetapkan rata-rata Rp 1.000,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 1.500,-. Hal ini karena jambu biji akan dijual ke pasar lokal sehingga biaya transportasi dan resiko penyusutan tidak terlalu besar. Sedangkan biaya yang dikeluarkan pada saluran II relatif lebih besar yaitu Rp 700,- dengan laba yang ditetapkan rata-rata Rp 800,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 1.500,-. Hal ini karena jambu biji akan menuju pedagang pengecer luar daerah sehingga memerlukan biaya transportasi dan resiko penyusutan yang lebih besar.

Rasio B/C yang diterima oleh pedagang pengecer pada saluran I sebesar 1,20 dan pada saluran II sebesar 1,13. Pedagang pengecer lebih menanggung resiko penjualan pada saluran II dengan tujuan luar daerah.

4) Analisis Farmer’s Share

Farmer’s share dari ketiga saluran dapat terlihat pada Tabel 25.

Tabel 25. Farmer’s share dari setiap saluran pemasaran jambu biji

Saluran Farmer’s Share

Saluran I 25 %

Saluran II 35,71 %

Saluran III 30 %

Sumber : Analisis Data Primer, 2011

Farmer’s share terbesar terdapat pada saluran II 35,71 % karena petani

mendapatkan harga dasar yang lebih tinggi dibanding saluran lain. Hal ini disebabkan karena lokasi saluran II adalah di Kecamatan Bojong Gede yang relatif dekat dengan pasar acuan dan daerah konsumen lain sehingga akses transportasi lebih mudah dan murah.

Sebaliknya, Farmer’s share terendah terdapat pada saluran I 25 % karena petani mendapatkan harga dasar yang lebih rendah. Hal ini disebabkan karena lokasi saluran I adalah di Kecamatan Leuwisadeng yang relatif jauh dengan pasar acuan dan daerah konsumen lain sehingga akses transportasi lebih sulit dan mahal.

5) Analisis Total Marjin

Dari ketiga saluran yang terbentuk marjin terbesar terdapat pada saluran I Rp 4.500,- (75 %) dengan farmer’s share terkecil 25 % karena jambu biji ini berasal dari wilayah yang cukup jauh dari pusat kota sehingga aksesnya lebih sulit dan biaya transportasi lebih besar.

Saluran II memiliki marjin terkecil 64,29 % sekaligus farmer’s share terbesar 35,71 %, hal ini karena jarak lokasi yang cukup dekat dengan pusat kota dan harga dasar yang diterima petani lebih besar yaitu Rp 2.500,-/Kg dibanding saluran I dan III yang hanya sebesar Rp 1.500,-. Hingga saat ini mayoritas petani masih memilih menjual produknya kepada pedagang pengumpul dengan alasan kemudahan untuk mendapatkan akses permodalan dan tidak perlu mengeluarkan biaya apapun pada saat panen.

Hingga saat ini saluran yang dianggap paling efisien adalah saluran II dengan melalui tiga lembaga perantara yaitu pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer, meskipun harga jambu biji menjadi sedikit tinggi ketika sampai di konsumen akhir yang jauh dari sentra produksi, namun petani menerima tawaran harga dasar yang lebih baik dan terjamin kestabilannya.

commit to user

c. Komoditas Belimbing

Besarnya marjin pemasaran dan penyebaran pola-pola pemasaran jambu biji dapat dilihat pada Tabel 26.

Tabel 26. Analisis Marjin Pemasaran Belimbing pada Masing-masing Lembaga Pemasaran

No Lembaga Pasar/ Unsur Marjin

Saluran I Saluran II Saluran III MS (Rp/Kg) (%) MS (Rp/Kg) (%) MS (Rp/Kg) (%) 1 Petani Harga Jual 5,000 50 5,000 62.5 6,000 40 2 Ped. Pengumpul Harga Beli 5,000 50 Biaya : Panen 200 2.00 Transportasi 200 2.00 Penyusutan 100 1.00 Laba 1,000 10.00 Marjin Pemasaran 1,500 15.00 Harga Jual 6,500 65.00 Benefit/Cost 1.18 3 Ped. Besar Harga Beli 6,500 65.00 Biaya : Pengemasan 100 1.00 Retribusi 50 0.50 Sortasi 100 1.00 Transportasi 100 1.00 Penyimpanan 50 0.50 Penyusutan 100 1.00 Laba 1,000 10.00 Marjin Pemasaran 1,500 15.00 Harga Jual 8,000 80.00 Benefit/Cost 1.14 5 Pemasok Harga Beli 6,000 40 Biaya : Penyimpanan 300 2.00 Sortasi 500 3.33 Kemasan 500 3.33

Tabel 26. (Lanjutan) No Lembaga Pasar/

Unsur Marjin

Saluran I Saluran II Saluran III MS (Rp/Kg) (%) MS (Rp/Kg) (%) MS (Rp/Kg) (%) Transportasi 500 3.33 Retribusi 300 2.00 Penyusutan 200 1.33 Laba 1,700 11.33 Marjin Pemasaran 4,000 26.67 Harga Jual 10,000 66.67 Benefit/Cost 1.20 6 Swalayan Harga Beli 10,000 66.67 Biaya : Upah TK 500 3.33 Penyimpanan 400 2.67 Penyusutan 300 2.00 Pengemasan 500 3.33 Retribusi 300 2.00 Laba 3,000 20 Marjin Pemasaran 5,000 33.33 Harga Jual 15,000 100 Benefit/Cost 1.25 7 Ped. Pengecer Harga Beli 8,000 80.00 5000 62.5 Biaya : Transportasi 150 1.50 200 2.5 Retribusi 50 0.50 100 1.25 Sortasi 100 1.00 200 2.5 Penyimpanan 50 0.50 100 1.25 Penyusutan 100 1.00 200 2.5 Pengemasan 100 1.00 200 2.5 Laba 1,450 14.50 2000 25 Marjin Pemasaran 2,000 20.00 3,000 37.5 Harga Jual 10,000 100 8,000 100 Benefit/Cost 1.17 1.33 Total Biaya 1,550 15.5 1,000 12.50 4,300 29 Total Laba 3,450 34.5 2,000 25 4,700 31 Total Marjin 5,000 50 3,000 37.5 9,000 60

commit to user

1) Marjin Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengumpul

Terdapat satu saluran yang melibatkan pedagang pengumpul yaitu pada saluran I. Komponen biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul terdiri dari biaya panen, transportasi dan penyusutan dengan total biaya Rp 500,- dan laba yang ditetapkan Rp 1.000,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 1.500,-.

Rasio B/C yang diterima pedagang pengumpul pada saluran I sebesar 1,18.

2) Marjin Pemasaran di Tingkat Pedagang Besar

Terdapat satu saluran yang melibatkan pedagang besar yaitu saluran I. Komponen biaya yang dikeluarkan oleh pedagang besar terdiri dari biaya pengemasan, retribusi, sortasi, bongkar muat, penyimpanan, dan sewa tempat dengan total biaya Rp 500,- dan laba yang ditetapkan Rp 1.000,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 1.500,-.

Rasio B/C yang diterima oleh pedagang besar pada saluran I sebesar 1,14.

3) Marjin Pemasaran di Tingkat Pemasok

Terdapat satu saluran yang melibatkan pemasok yaitu saluran III. Komponen biaya yang dikeluarkan oleh pemasok terdiri dari biaya penyimpanan, sortasi, kemasan, transportasi, retribusi, dan penyusutan dengan total biaya Rp 2.300,- dan laba yang ditetapkan Rp 1.700,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 4.000,-. Besarnya biaya pemasaran ini karena belimbing akan dipasok ke pasar-pasar swalayan yang membutuhkan perlakukan dan syarat yang rumit serta resiko yang lebih besar.

4) Marjin Pemasaran di Tingkat Swalayan

Saluran yang melibatkan swalayan yaitu saluran III yaitu petani – pemasok – swalayan. Komponen biaya yang dikeluarkan swalayan terdiri dari biaya upah tenaga kerja, penyimpanan, penyusutan, pengemasan, dan retribusi dengan total biaya Rp 2.000,- dan laba yang ditetapkan Rp 3.000,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 5.000,-. Rasio B/C yang diterima oleh swalayan pada saluran III sebesar 1,25.

5) Marjin Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer

Saluran I melibatkan pedagang pengecer non lokal dengan melewati perantara pedagang pengumpul dan pedagang besar, sedangkan saluran II melibatkan pedagang pengecer lokal yang biasanya sebagian dari mereka membeli langsung di kebun petani. Komponen biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer terdiri dari biaya transportasi, retribusi, sewa tempat, penyimpanan, penyusutan, dan pengemasan. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer pada saluran I relatif lebih kecil yaitu Rp 550,- dengan laba yang ditetapkan rata-rata Rp 1.450,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 2.000,-, namun harga yang di terima konsumen lebih tinggi mencapai Rp 10.000,-. Hal ini karena belimbing telah melewati dua lembaga perantara yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar serta jarak yang relatif jauh dari sentra produksi sehingga biaya pemasaran jauh lebih besar. Sedangkan biaya yang dikeluarkan pedagang pengecer pada saluran II justru relatif lebih besar yaitu Rp 1.000,- dengan laba yang ditetapkan rata-rata Rp 2.000,-/Kg sehingga besar marjin adalah Rp 3.000,-. Hal ini karena pedagang pengecer mengambil sendiri belimbing dari

commit to user

kebun petani sehingga memerlukan biaya yang lebih tinggi, namun harga yang diterima konsumen lebih rendah yaitu Rp 8.000,-. Hal ini karena belimbing tidak melewati lembaga pemasaran tetapi langsung dari petani dan penjualan dilakukan hanya di pasar lokal.

Rasio B/C yang diterima oleh pedagang pengecer pada saluran I sebesar 1,17 dan pada saluran II sebesar 1,33.

6) Analisis Farmer’s Share

Farmer’s share dari ketiga saluran dapat terlihat pada Tabel 27.

Tabel 27. Farmer’s share dari setiap saluran pemasaran belimbing

Saluran Farmer’s Share

Saluran I 50 %

Saluran II 62,5 %

Saluran III 40 %

Sumber : Analisis Data Primer, 2011

Farmer’s share terbesar terdapat pada saluran II 62,5 % karena petani

langsung menjual produknya kepada pedagang pengecer yang datang ke kebun petani. Dengan rantai yang pendek, maka biaya pemasaran dapat lebih efisien karena tidak banyak fungsi yang dilakukan.

Sebaliknya, Farmer’s share terendah terdapat pada saluran III 40 % karena produk belimbing diambil oleh pemasok yang datang ke kebun untuk ditujukan ke pasar swalayan. Pemasok melakukan banyak fungsi sesuai standar yang ditetapkan oleh pihak swalayan. Hal ini membuat biaya pemasaran tinggi sehingga produk sampai ke tangan konsumen dengan harga yang relatif tinggi.

7) Analisis Total Marjin

Dari ketiga saluran yang terbentuk marjin terbesar terdapat pada saluran III sebesar Rp 9.000,- sekaligus memiliki farmer’s share terkecil 40 %. Hal ini

karena produk pada saluran III ditujukan untuk pasar swalayan yang membutuhkan perlakuan dan syarat-syarat tertentu sehingga membutuhkan biaya pemasaran yang lebih besar.

Marjin terkecil terdapat pada saluran II sebesar Rp 3.000,- dengan

farmer’s share terbesar yaitu 62,5 %, hal ini karena belimbing hanya untuk tujuan

pedagang pengecer pasar lokal dan tidak melalui lembaga perantara sebelumnya sehingga tidak membutuhkan biaya pemasaran yang terlalu besar. Beberapa petani berlahan luas, lebih memilih menjual produknya langsung kepada pemasok karena mereka mendapat tawaran harga yang lebih tinggi, stabil dan juga kemudahan untuk mendapatkan akses permodalan serta tidak perlu mengeluarkan biaya apapun pada saat panen.

Hingga saat ini saluran yang dianggap paling efisien bagi petani adalah saluran III dengan melalui satu lembaga perantara pemasok, meskipun harga belimbing menjadi tinggi ketika sampai di swalayan, namun petani menerima tawaran harga dasar yang lebih baik dan terjamin kestabilannya.

d. Pembahasan

Secara teori biaya pemasaran komoditi pertanian pada umumnya meliputi lima komponen yaitu, biaya pengangkutan, biaya penyimpanan, biaya sortasi dan grading, biaya risiko usaha dan keuntungan pedagang. Di antara kelima komponen biaya tersebut biaya pengangkutan biasanya paling besar karena produk pertanian umumnya bersifat bulky. Biaya pengangkutan tersebut dapat bervariasi menurut jenis komoditi dan tergantung pada sifat bulky komoditi yang dipasarkan dan jarak pengangkutan dari daerah produsen ke daerah konsumen.

commit to user

Variasi jarak pengangkutan biasanya tidak hanya berpengaruh terhadap besarnya biaya sewa alat pengangkutan saja tetapi juga memiliki pengaruh terhadap komponen biaya pengangkutan lainnya seperti biaya pengepakan, retribusi pengangkutan, risiko kerusakan dan penyusutan volume selama proses pengangkutan.

Dalam penelitian ini, produksi buah terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu, sedangkan daerah konsumennya relatif tersebar. Pada wilayah konsumen yang dekat dengan wilayah produksi biaya pengangkutan relatif lebih murah. Ada pula wilayah yang jarak pemasaran buah dari daerah produsen ke daerah konsumen relatif jauh terutama komoditas manggis tujuan ekspor yang diangkut menuju pelabuhan. Konsekuensinya adalah biaya pengangkutan, biaya pengepakan, dan risiko kerusakan selama pengangkutan relatif tinggi. Hal tersebut membuat nilai margin pemasaran menjadi tinggi. Marjin yang tinggi berakibat pada nilai farmer’s share yang rendah. Pada komoditas belimbing tujuan swalayan juga memerlukan banyak perlakuan guna memenuhi standar permintaan swalayan, hal ini juga menyebabkan harga belimbing menjadi tinggi di konsumen sementara petani tetap menerima bagian harga yang rendah dan ini dikarenakan fungsi-fungsi tataniaga lebih banyak dilakukan oleh pedagang besar atau pemasok sementara petani hanya menjual produk dan menerima harga.

Perlu digarisbawahi bahwa marjin pemasaran yang tinggi tidak selalu mencerminkan adanya kekuatan monopsoni yang secara teoritis ditunjukkan oleh adanya keuntungan pedagang yang berlebihan (non zero profit). Hal ini karena besarnya marjin pemasaran tersebut pada dasarnya merupakan total biaya

commit to user

pemasaran yang meliputi biaya operasional pemasaran yang dikeluarkan pedagang (biaya pengangkutan, penyimpanan, sortasi, grading) dan keuntungan pedagang. Sementara biaya operasional yang dikeluarkan pedagang dapat bervariasi menurut komoditi dan tergantung pada sifat voluminous komoditi yang dipasarkan, resiko kerusakan dan penyusutan selama proses pemasaran, resiko modal pedagang, dan fungsi pemasaran lain yang harus dilakukan pedagang untuk memenuhi preferensi konsumen. Dalam kaitan ini jarak pemasaran antara daerah produsen dan daerah konsumen biasanya memiliki pengaruh signifikan karena akan mempengaruhi besarnya biaya pengangkutan, biaya pengepakan, dan tingkat kerusakan selama proses pengangkutan.

2. Analisis Integrasi Pasar a. Komoditas Manggis

Dokumen terkait