• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis ukuran droplet dilakukan dengan uji mikromeritik. Uji ini dilakukan untuk mengamati kejadian coalescence pada lotion sebagai salah satu faktor yang mengindikasikan terjadinya penurunan stabilitas sediaan. Analisis ukuran droplet dilakukan dengan mengamati sejumlah 500 partikel secara mikroskopik dengan menggunakan mikroskop OLYMPUS® Japan. Pengamatan dilakukan 24-48 jam setelah pembuatan dan setelah penyimpanan selama 4 minggu (28 hari). Rata-rata diameter droplet lotion yang tercantum pada Tabel 9.

Tabel 9. Rata-Rata Diameter Droplet (µm)

I II III IV V

24-48 jam 24,12 22,57 18,52 17,29 11,04

28 hari 25,18 23,48 21,97 19,30 11,91

Profil ukuran droplet dari setiap formula dapat dilihat pada Gambar 2.

Melalui Gambar 2 diketahui bahwa seiring dengan meningkatnya komposisi Tween 80 dalam formula terjadi penurunan diameter rata-rata ukuran droplet. Pada uji ini hasil pengamatan ukuran droplet 24-48 jam setelah pembuatan dan minggu ke-4 setelah pembuatan dihitung signifikansi-nya dengan uji T ANOVA dan dihasilkan p-value sebesar 0,014. Dengan demikian, perubahan ukuran droplet antara waktu

15

penyimpanan 24-48 jam dengan minggu ke-4 setelah formulasi dapat dikatakan signifikan (p < 0,05). Hal ini menunjukan bahwa tiap formula mengalami coalescence. Coalescence merupakan peristiwa menyatunya droplet emulsi disebabkan rusaknya lapisan film tipis pembatas antara droplet satu dengan yang lain (Kulshresta et al., 2010). Bergabungnya droplet emulsi ketika coalescence terjadi menyebabkan peningkatan ukuran droplet emulsi disertai dengan menurunnya viskositas (Tadros, 2013).

Gambar 2. Grafik Rata-Rata Diameter Droplet

Namun demikian, formula V dengan proporsi Tween 80:Span 80 1:0 menghasilkan selisih perubahan ukuran droplet yang terkecil. Tween 80 memiliki HLB 15 sehingga bersifat hidrofil. Surfaktan cenderung berinteraksi dengan molekul sejenisnya dikarenakan hanya sedikit energi yang dibutuhkan untuk berinteraksi dengan molekul sejenis (Myers, 2006). Dalam hal ini Tween 80 bersifat hidrofil sehingga memberikan pengaruh lebih besar. Kombinasi surfaktan yang digunakan bekerja dengan membentuk tolak-menolak sterik (steric repulsion), sehubungan dengan bentuk molekul surfaktan yaitu kepala hidrofobik dan ekor hidrofilik, pada antarmuka droplet minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal sehingga mampu mencegah terjadinya coalescence yang mengakibatkan peningkatan ukuran droplet (Cheng et al., 2002; Banker, Siepmann, 2002).

0

16 F. Uji Viskositas

Uji viskositas dilakukan untuk mengetahui konsistensi lotion minyak almond yang akan mempengaruhi daya sebar lotion saat diaplikasikan pada kulit.

Uji viskositas dilakukan dengan menggunakan Viscotester Rion® VT-04 sesaat setelah pembuatan dilanjutkan minggu ke-1, 2, 3, dan 4 setelah penyimpanan. Hasil pengukuran viskositas sesaat setelah pembuatan tertera pada Tabel 10.

Tabel 10. Rata-Rata Uji Viskositas (dPa.s)

I II III IV V

24-48 jam 34,33±0,94 36,67±0,94 38,33±2,36 39,33±0,94 42,67±2,05 28 hari 29,33±0,94 31,67±2,36 34,33±3,29 36,67±2,36 39,33±0,94

Data hasil uji viskositas yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk kurva seperti yang tertera pada Gambar 3.

34,33

Gambar 3. Kurva Respon Viskositas

Gambar 3 menunjukan bahwa semakin tinggi level Tween 80 dalam formula maka semakin meningkat viskositas yang dihasilkan. Hal ini dapat dihubungkan juga dengan hasil pengamatan diameter droplet yang semakin kecil seiring dengan meningkatnya level Tween 80. Dalam penelitian Anisa dan Nour (2010) dikatakan bahwa semakin kecil ukuran droplet maka viskositas semakin tinggi. Hal ini dikarenakan ukuran droplet yang kecil menyebabkan jumlah droplet dalam sistem emulsi meningkat sehingga meningkatkan tahanan alir emulsi (Hill and Carrington

17

2006). Selain itu ukuran partikel yang kecil mencegah terjadinya coalescence yang menyebabkan menurunnya viskositas (Malvern, 2015).

Data viskositas yang diperoleh kemudian diolah dengan metode Simplex Lattice Design sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y = 42,67 (X1) + 34,33 (X2) + 2,02 (X1) (X2) Keterangan: X1 = Komposisi Tween 80

X2 = Komposisi Span 80 Y = Respon Viskositas

Persamaan Simplex Lattice yang dihasilkan memberikan koefisien dengan nilai positif pada Tween 80 sebesar 42,67 sedangkan Span 80 sebesar 34,33.

Dengan demikian, kombinasi surfaktan Tween 80 dan Span 80 dapat meningkatkan respon viskositas lotion. Pada persamaan, nilai Tween 80 lebih besar dibandingkan Span 80. Hal ini dikarenakan pengaruh fase air sebagai fase kontinyu membuat Tween 80 memiliki pengaruh lebih besar pada formula lotion.

Pada penelitian dilakukan juga pengujian terhadap persamaan Simplex Lattice yaitu dengan uji F ANOVA dan menggunakan formula II dan IV hasil respon uji. Melalui uji F ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh nilai Fhitung 3,85.

Fhitung lebih besar dari Ftabel (Ftabel=3,59) sehingga persamaan yang diperoleh dikatakan regresi. Selanjutnya, formula II dan IV hasil respon uji yang diperoleh digunakan untuk menguji persamaan Simplex Lattice. Melalui persamaan diperoleh nilai viskositas formula II sebesar 36,80 dPa.s dan formula IV sebesar 40,96 dPa.s.

Selisih yang tidak signifikan antara hasil yang diperoleh dari persamaan dengan hasil pengujian (p>0,05) menunjukan bahwa persamaan mampu menggambarkan respon sebenarnya sehingga dapat digunakan untuk memprediksi respon viskositas selanjutnya.

G. Uji Daya Sebar

Uji daya sebar ditujukan untuk melihat kemampuan sebar lotion saat diaplikasikan pada kulit. Daya sebar diukur sesaat setelah pembuatan dan dilanjutkan pada minggu ke-1, 2, 3, dan 4 setelah pembuatan. Pada uji daya sebar sesaat setelah pembuatan diperoleh data seperti tertera pada Tabel 11.

18

Tabel 11. Rata-Rata Uji Daya Sebar (cm)

I II III IV V

24-48 jam 7,56±0,043 7,45±0,041 7,31±0,012 7,22±0,041 6,50±0,023 28 hari 8,43±0,082 7,82±0,096 7,82±0,096 7,65±0,053 7,34±0,031

Data uji daya sebar yang diperoleh kemudian ditampilkan dalam bentuk kurva pada Gambar 4. Gambar 4 menunjukan bahwa semakin tinggi level Tween 80 dalam formula maka daya sebar yang dihasilkan semakin rendah. Hal ini sejalan dengan pengamatan viskositas yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya level Tween 80 dan diameter droplet formula yang semakin kecil seiring dengan meningkatnya level Tween 80. Semakin kecil ukuran partikel maka semakin kecil daya sebar. Hal ini dikarenakan ukuran partikel yang kecil sehingga tejadi lebih banyak interaksi antar-molekul sejenis yang menyebabkan penurunan daya sebar (Honary and Majidian, 2007).

7,56 7,31

Gambar 4. Kurva Respon Daya Sebar

Data daya sebar yang diperoleh kemudian diolah dengan metode Simplex Lattice Design sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y = 6,50 (X1) + 7,56 (X2) + 1,12(X1) (X2) Keterangan: X1 = Komposisi Tween 80

X2 = Komposisi Span 80 Y = Respon Viskositas

19

Pada persamaan Simplex Lattice diperoleh koefisien dengan nilai positif yang dapat diartikan bahwa kombinsi surfaktan Tween 80 dan Span 80 dapat meningkatkan respon daya sebar. Nilai Tween 80 sebesar 6,50 sedangkan pada Span 80 sebesar 7,50. Pada persamaan nilai Span 80 lebih besar dibandingkan Tween 80 yang berarti Span 80 memiliki pengaruh lebih besar dalam meningkatkan respon daya sebar lotion. Hal ini dikarenakan Tween 80 sebagai surfaktan hidrofil bekerja pada fase air sebagai fase kontinyu pada lotion sehingga mampu meningkatkan respon daya sebar.

Selain itu, dilakukan juga pengujian terhadap persamaan Simplex Lattice yaitu dengan uji F ANOVA dan menggunakan formula II dan IV hasil pengukuran daya sebar. Melalui uji F ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh nilai Fhitung 758,24. Fhitung lebih besar dari Ftabel (Ftabel=3,59) sehingga persamaan yang diperoleh dikatakan regresi. Selanjutnya, formula II dan IV hasil respon uji yang diperoleh digunakan untuk menguji persamaan Simplex Lattice. Melalui persamaan, diperoleh nilai daya sebar formula II sebesar 7,50 cm dan formula IV sebesar 6,97 cm. Selisih yang tidak signifikan antara hasil yang diperoleh dari persamaan dengan hasil pengujian (p>0,05) menunjukan bahwa persamaan mampu menggambarkan kondisi nyata dalam penelitian sehingga dapat digunakan untuk memprediksi respon daya sebar selanjutnya.

H. Pergeseran Viskositas

Pergeseran viskositas merupakan uji stabilitas fisik yang dilakukan untuk mengetahui perubahan viskositas lotion selama waktu penyimpanan. Kriteria pergeseran viskositas sediaan lotion yang diinginkan yaitu ≤ 10%. Hasil pergeseran viskositas lotion minyak almond setelah penyimpanan selama 4 minggu kemudian dirangkum dalam Tabel 12.

Tabel 12. Rata-Rata Pergeseran Viskositas

I II III IV V

Pergeseran viskositas

(%)

14,46± 3,58 13,7±0,73 12,38±2,64 8,46±5,13 8,16±3,17

20

Data uji pergeseran viskositas yang diperoleh kemudian ditampilkan dalam bentuk kurva pada Gambar 5. Melalui Gambar 5 diketahui seiring dengan meningkatknya level Tween 80 dalam formula maka pergeseran viskositas semakin kecil. Menurut Myers (2006) surfaktan cenderung berinteraksi degan molekul sejenisnya, sehingga Tween 80 yang bersifat hidrofil mampu mempertahankan viskositas dengan baik pada lotion minyak almond dengan tipe M/A.

14,46

Gambar 5. Kurva Respon Pergeseran Viskositas

Kemudian data diolah dengan menggunakan metode Simplex Lattice sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y = 8,16 (X1) + 14,46 (X2) + 4,28 (X1) (X2) Keterangan: X1 = Komposisi Tween 80

X2 = Komposisi Span 80

Y = Respon pergeseran viskositas

Persamaan Simplex Lattice yang dihasilkan memberikan koefisien dengan nilai positif yang menandakan bahwa kombinasi Tween 80 dan Span 80 dapat meningkatkan respon pergeseran viskositas. Pergeseran viskositas yang terjadi dalam penelitian bergerak ke arah yang lebih kecil. Peningkatan respon pergeseran viskositas yang terjadi berdasarkan hasil pengujian yaitu pergeseran ke arah yang lebih kecil. Nilai Tween 80 sebesar 8,16 sedangkan Span 80 sebesar 14,46. Nilai

21

Tween 80 lebih kecil dibandingkan Span 80 sehingga dapat diartikan bahwa Tween 80 memiliki pengaruh yang lebih kecil dibandingkan Span 80 dalam meningkatkan respon pergeseran viskositas lotion. Tween 80 yang bersifat hidrofilik mampu mempertahankan stabilitas fisik lotion dengan lebih baik pada lotion M/A dibandingkan Span 80.

Kemudian dilakukan juga pengujian terhadap persamaan Simplex Lattice yang diperoleh yaitu dengan uji F ANOVA dan menggunakan formula II dan IV hasil respon uji. Pada uji F ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh nilai Fhitung 3,82. Fhitung lebih besar dari Ftabel (Ftabel = 3,59) sehingga persamaan Simplex Lattice yang diperoleh dikatakan regresi. Selanjutnya, formula II dan IV hasil respon uji yang diperoleh digunakan untuk menguji persamaan Simplex Lattice.

Melalui persamaan, diperoleh nilai pergeseran viskositas formula II sebesar 13,70%

dan formula IV sebesar 10,53%. Perbedaan tidak signifikan antara hasil yang diperoleh dari persamaan dengan hasil pengujian (p>0,05) menunjukan bahwa persamaan mampu menggambarkan respon pergeseran viskositas yang sesungguhnya dalam penelitian sehingga dapat digunakan untuk memprediksi respon pergeseran viskositas selanjutnya.

I. Optimasi Lotion Minyak Almond

Optimasi diawali dengan menentukan nilai yang diinginkan pada tiap respon seperti tertera pada Tabel 13.

Tabel 13. Rentang Respon yang Diinginkan Minimum Maksimum

Daya sebar 6,25 cm 7,5 cm

Viskositas 30 dPa.s 50 dPa.s Pergeseran viskositas 0 % 10 %

Kemudian diplotkan formula optimum lotion minyak almond berdasarkan respon daya sebar, viskositas, dan pergeseran viskositas sehingga diperoleh plot seperti yang ditampilkan pada Gambar 6.

22

Gambar 6. Plot Respon Area Optimum

Pada Gambar 6, garis merah menunjukan rentang area yang diinginkan sementara area berwarna biru merupakan area dimana Tween 80 dan Span 80 menghasilkan respon viskositas, daya sebar, dan pergeseran viskositas sesuai rentang yang diinginkan. Berdasarkan Gambar 6 diperoleh dua formula yang memenuhi persyaratan pada ketiga respon yaitu formula IV dan formula V.

23

Formula V dipilih sebagai formula optimum dengan pertimbangan pergeseran viskositas formula V (8,16%) lebih kecil dibandingkan formula IV (8,46%).

J. Pengukuran Transepidermal Water Loss

Setelah diperoleh formula V sebagai formula optimum, maka dilakukan uji moisturizer terhadap lotion minyak almond. Pengukuran Transepidermal Water Loss (TEWL) dilakukan dengan menggunakan Tewameter® TM 300.

Pada penelitian, subjek dikondisikan terlebih dahulu pada suhu ruang 19-22°C untuk menghindari hasil pengukuran yang bias akibat berkeringat. Lotion diaplikasikan pada bagian dalam lengan kanan. Data diambil 30 menit setelah lotion diaplikasikan. Pengolahan data antara subjek perempuan dan laki-laki tidak dipisah karena menurut penelitian Jacobi et al. (2005) mengenai pengaruh gender terhadap fisiologis stratum corneum tidak menunjukan adanya perbedaan signifikan pada hidrasi kulit dan TEWL. Berdasarkan hasil pengukuran, diperoleh rata-rata nilai TEWL keenam subjek seperti yang tercantum pada Tabel 14.

Tabel 14. Rata-rata TEWL (g/h/m2)

Subjek Sebelum diaplikasikan lotion Sesudah diaplikasikan lotion

1 5,37 4,96

Nilai tersebut kemudian dihitung taraf signifikansinya dengan menggunakan uji T one-sample dan diperoleh p-value sebesar 0,028. Nilai p <0,05 menunjukan bahwa hasil pengujian menunjukan perubahan signifikan pada kelembapan kulit subjek setelah lotion diaplikasikan. Nilai TEWL turun pada subjek ke-1, 3, 4, 5, dan 6 dengan nilai awal berkisar antara 5,37-15,53 g/h/m2 menjadi 3,57-11,86 g/h/m2. Dengan demikian lotion minyak almond yang diaplikasikan dianggap mampu meningkatkan hidrasi kulit dengan menurunkan nilai TEWL secara signifikan. Namun pada subjek ke-2 terjadi peningkatan nilai TEWL. Hal ini kemungkinan dikarenakan lotion belum menyerap secara sempurna.

24 KESIMPULAN

1. Diperoleh formula IV dan V berada pada area optimum Tween 80 dan Span 80 sebagai emulsifying agent dalam lotion minyak almond dengan pengolahan menggunakan metode Simplex Lattice Design yang memenuhi persyaratan ditinjau dari respon viskositas, daya sebar, dan pergeseran viskositas.

2. Formula optimum lotion moisturizer minyak almond mampu melembapkan kulit subjek secara signifikan (p < 0,05) dilihat dari menurunnya nilainya TEWL subjek dengan nilai awal berkisar antara 5,37-15,53 g/h/m2 menjadi 3,57-11,86 g/h/m2.

25 DAFTAR PUSTAKA

Ali, Saba, Yosipovitch, Gil, 2013. Skin pH: From Basic Science to Basic Skin Care.

Acta Derm Venerol ; 93: 261-267.

Angelova-Fischer, Irena, T., Stilla, S., Kezic, T.W., Fischer, D., Zilliken, 2016.

Barrier Function and Natural moisturizing Level After Cumulative Exposure to Short-chain Aliphatic Alcohols and Detergents: Result of Occlusion-modified Tandem Repeated Irritation Test, Acta Derm Venerol 2016 (96):880-884.

Anisa, A. N., Nour, Abdurahman H., 2010. Affect of Viscosity and roplet Diameter on Water-in-oil (W/O) mulsions: An Experimental Study, International Journal of Chemical and Molecular Engineering Vol. 4, No. 2: 213-216.

Banker, Gilbert S., Siepmann, Juergen, 2002. Modern Pharmaceutics, Fourth Edition, Taylor & Francis Group, pp. 378-379.

Block, L. H., 1996. Mixing, In: Lieberman, H. A., Lachman, L., and Schwartz, J.

B., Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse System, Vol. 2, Second Edition, Marcel Dekker, Inc., Newyork, pp. 79, 80.

Cheng, J., Xu, S., Wen, L., 2005. Steric repulsion between internal aqueous droplet and the external aqueous phase in double emulsion, Langmuir 2005, Vol.

21(25): 12047-12052.

Cornell, John, 2002. Experiments with Mixtures: Design, Models, and the Analysis of Mixture Data, John Wiley & Sons, Inc. New York.

Correa, M.C. and Nebus, J., 2012. Management of patients with atopic dermatitis:

The role of emollient therapy. Dermatology Research and Practice, 2012, 5.

Croda. (2008). Span and Tween. Croda Europe Ltd, 44(0), 6–11.

du Plesssis, Johan, Stefaniak, Aleksandr, Eloff, Fritz, 2013. International guidelines for the in vivo assessment of skin properties in non-clinical settings: Part 2.

Transepidermal water loss and skin hydration. Skin Research and Technology 2013; 19(3): 265-278.

Duangjit, S., Mehr, L. M., Kumpugdee-Vollrath, M., & Ngawhirunpat, T., 2014.

Role of simplex lattice statistical design in the formulation and optimization of microemulsions for transdermal delivery. Biological and Pharmaceutical

26

Bulletin, 37(12), 1948–1957. https://doi.org/10.1248/bpb.b14-00549.

Hill, Adrian, Carrington, Steve, 2006. Understanding the Links Between Rheology and Particle Parameters, American Laboratories Articles

Honary, Soheila, Majidian, M. Chaigani, 2007. The effect of partivle properties on the semisolid spreadability of pharmaceutical pastes, Indian Journal of Pharmaceutical Sciences, 2007, 69 (3): 423-426.

Jacobi, Ute et al., 2005. Gender-Related Differences in the Physiology of the Stratum Corneum. Center of Experimental and Applied Cutaneous Physiology, Department of Dermatology, DOI: 10.1159/000088499.

Khabibullae, Pulat K., Saidov, Abdula, 2003. Phase Separation on Soft Matter Physics: Micellar Solutions, Microemulsion, Critical Phenomena, Springer-Verlag Berlin Heidelberg, New York, p. 157.

Kim, Cherng-ju, 2005. Advanced Pharmaceutics: Physicochemical Principles, CRC Press LLC, Florida, pp.214-235.

Kulshreshta, Alok K., Singh, Onkar N., Wall, Michael G., 2010. Pharmaceutical Suspensions: From Formulation Development to Manufacturing, Springer, New York, p. 7.

Lin, Chang, He, Gaong, Li, Xiangcun, 2007. Freeze/thaw induced demulsification of water-in-oil emulsions with loosely packed droplets. Separation and Purification Technology 56 (2007): 175-183.

Malvern, 2015. Understanding the link between particle properties and rheology of suspensions, Fachmesse fur Pruftechnik, Malvern Instruments Limited.

Myers, Drew, 2006. Surfactant Science and Technology, Third Edition, John Wiley

& Sons, Inc., United States, p. 293.

Orafidiya, Lara O., Oladimeji, F. A., 2002. Determination of the required HLB values of some essential oils, International Journal of Pharmaceutics 237 (2002): 241-249.

Patzelt, A., Lademann, J., Richter, H., 2011. In vivo investigations on the penetration of various oils and their influence on the skin barrier, Skin Research Technology 2012; 18:364-369.

Peters, D. C., 1997. Dynamics of Emulsification. In: Nienow, A. W., Harnby, N.,

27

and Edwards, M. F., Mixing in the Process Industries, 2nd Ed., Butterworth, heinemann,

Rogiers, Vera, 2001. EEMCO Gouidance for the Assesssment of Transepidermal Water Loss in Cosmetic Science. Skin Pharmacology and Apllied Skin Physiology 2001; 14: 117-128.

Roncero J. M., et al., 2016. Virgin Almond Oil: Extraction Methods and Composition. International Journal of Fats and Oils, 67 (3).

Schmid-Wendtner, M. H., Korting H. C., 2006. The pH pf the Skin Surface and Its Impact on the Barrier Function, Skin Pharmacology and Physiology 2006; 19:

296-302.

Sheikh, S., Asghar, S., & Ahmad, S. (2013). Development of HPTLC Qualitative Finger Printing Profile of Almond Oil in Marketed Herbal Cream, 3, 85–92.

Sinko, Patrick, J, 2011. Martin's Physical Pharmacy and Pharmaceutical Science, Sixth Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, pp. 669, 767-768.

Sirikudta, W. et. al. (2013). Moisturizers for Patients with Atopic Dermatitis: An Overview. Journal of Allergy & Therapy, 4(4). https://doi.org/10.4172/2155-6121.1000143

Syamsuddin, A., Zulkarnain, I., Hasyim, N, 2016. Formulasi Losio Emolien dari Ekstrak Etanol Sarang Semut ( Myrmecodia pendens ) dengan Menggunakan Emulgator Anionik dan Nonionik. Journal of Pharmaceutical and Medicinal Science 1(2), 79–82.

Tadros, Tharwat F., 2013. Emulsion Formation and Stability, First Edition, Wiley-VCH Verlag GmbH & Co., p. 24.

Tricaesario, Christian, Widayati, Retno I., 2016. Efektivitas Krim Almond Oil 4%

Terhadap Tingkat Kelembapan Kulit, Jurnal Kedokteran Diponegoro, Vol. 5 (4): 599-610.

Voinovich, D., Campisi, B., Phan-Tan-Luu, R., 2009. Experimental Design of Mixture Studies. Elsevier: 408-413.

Walters, Kenneth A., Roberts, Michael S., 2008. Dermatologic, Cosmeceutic, and Cosmetic Developement, Taylor & Francis Group, United States, pp. 141-142.

28

Yuliani, Sri Hartati, 2010. Optimasi kombinasi campuran sorbitol, gliserol, dan propilenglikol dalam gel sunscreen ekstrak etanol Curcuma mangga, Majalah Farmasi Indonesia, 2(2), 83-89.

29

LAMPIRAN

30

Lampiran 1. Certificate of Analysis Minyak Almond

31 Lampiran 2. Ethical Clearance

32

Lampiran 3. Uji Viskositas dan Daya Sebar Produk Pasaran

A B C

Daya Sebar (cm) 6,66 6,30 7,68

6,70 6,12 7,55

6,25 6,32 7,43

Rata-rata 6,54 6,25 7,5

SD 0,20 0,089 0,10

Viskositas (dPa.s) 40 50 30

35 50 30

40 50 30

Rata-rata 38,33 50 30

SD 2,35 0 0

33 Lampiran 4. Perhitungan HLB dan rHLB Formula I

34

Lampiran 5. Uji sifat fisik dan stabilitas lotion minyak almond Pengamatan Organoleptis

Pengamatan 24-48 jam setelah pembuatan

I II III IV V

Warna Putih Putih Putih Putih Putih

Bau Khas Khas Khas Khas Khas

Homognitas Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen

Pengamatan 28 hari setelah pembuatan

I II III IV V

Warna Putih Putih Putih Putih Putih

Bau Khas Khas Khas Khas Khas

Homognitas Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen

Uji pH

Pengamatan 24-48 jam setelah pembuatan

Replikasi I II III IV V

1 5 5 5 5 5

2 5 5 5 5 5

3 5 5 5 5 5

Rata-rata 5 5 5 5 5

SD 0 0 0 0 0

Pengamatan 28 hari setelah pembuatan

Replikasi I II III IV V

1 5 5 5 5 5

2 5 5 5 5 5

3 5 5 5 5 5

Rata-rata 5 5 5 5 5

SD 0 0 0 0 0

35 Daya sebar (cm)

Nilai yang diinginkan = 6,25-6,7 cm

Viskositas (d.Pa.s) Nilai yang diinginkan : 31-50 d.Pa.s

Pergeseran Viskositas

36 Lampiran 6. Perhitungan Simplex Lattice

Formula I II III IV V

37

38

39 Lampiran 7. Uji F Taraf Kepercayaan 95%

Daya Sebar Hipotesis

H1: persamaan regresi Ho : persamaan tidak regresi Ho ditolak jika Fhitung > Ftabel

Data

11692,09 779,47 11689,93 779,33

Formula

F tabel (3,11) taraf kepercayaan 95% = 3,59 F hitung = 758,24

F hitung > F tabel = Ho ditolak, persamaan yang dihasilkan regresi

40 Viskositas

Hipotesis

H1: persamaan regresi Ho : persamaan tidak regresi Ho ditolak jika Fhitung > Ftabel

Data

332929 22195,27 329464,52 21964,30

Formula

F tabel (3,11) taraf kepercayaan 95% = 3,59 F hitung = 3,85

F hitung > F tabel = Ho ditolak, persamaan yang dihasilkan regresi

41 Pergeseran Viskositas

Hipotesis

H1: persamaan regresi Ho : persamaan tidak regresi Ho ditolak jika Fhitung > Ftabel

Data

29391,67 1959.45 29395,10 1959,67

Formula

F tabel (3,11) taraf kepercayaan 95% = 3,59 F hitung = 3,82

F hitung > F tabel = Ho ditolak, persamaan yang dihasilkan regresi

42 Lampiran 8. Analisis Ukuran Droplet Analisis Ukuran Droplet Formula I

Respon : Diameter droplet (µm)

10 10 8 8 10 10 12 10 10 8

43 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (50-10)/10

= 4

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

10-14 12 120 24

44 Analisis Ukuran Droplet Formula II

Respon : Diameter droplet (µm)

5 5 5 12 10 10 15 5 10 5

45 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (62,5-12,5)/10

= 5

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

12,5-17,5 15 204 40,8

46 Analisis Ukuran Droplet Formula III

Respon : Diameter droplet (µm)

4 5 5 5 5 5 10 10 10 5

47 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (50-10)/10

= 4

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

10-14 12 266 53,2

48 Analisis Ukuran Droplet Formula IV

Respon : Diameter droplet (µm)

5 5 4 4 4 5 5 5 8 5

49 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (50-10)/10

= 4

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

10-14 12 321 64,2

50 Analisis Ukuran Droplet Formula V

Respon : Diameter droplet (µm)

5 5 5 3 3 3 2 2 3 2

51 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (50-5)/10

= 4,5 ≈ 5

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

5-10 7,5 241 48,2

52 Penyimpanan Minggu ke-4

Analisis Ukuran Droplet Formula I Respon : Diameter droplet (µm)

20 10 10 20 10 10 10 5 10 5

53 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (62,5-12,5)/10

= 5

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

12,5-17,5 15 155 31

54 Analisis Ukuran Droplet Formula II

Respon : Diameter droplet (µm)

12 10 10 5 8 8 8 12 10 10

55 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (50-10)/10

= 4

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

10-14 12 61 12,2

56 Analisis Ukuran Droplet Formula III

Respon : Diameter droplet (µm)

5 5 8 8 12 10 5 5 8 8

57 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (50-10)/10

= 4

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

10-14 12 137 27,4

58 Analisis Ukuran Droplet Formula IV

Respon : Diameter droplet (µm)

4 4 4 5 5 7 7 7 7 7

59 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (50-10)/10

= 4

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

10-14 12 236 47,2

60 Analisis Ukuran Droplet Formula V

Respon : Diameter droplet (µm)

5 4 15 4 3 5 5 7 8 5

61 Perhitungan kalibrasi mikroskop: =𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓

Skala okuler x 0,01 mm = =10 Perhitungan jumlah kelas dan interval

Jumlah kelas = 1 + 3,322 log n = 1 + 3,322 log 500 = 10 kelas

Interval kelas = (ukuran partikel terbesar – ukuran partikel terkecil) / jumlah kelas

= (45-5)/10

= 4

Interval Nilai tengah Frekuensi % Frekuensi

4-8 6 200 40

62 Lampiran 9. Dokumentasi

Penentuan Tipe Emulsi

Keterangan: Formula 1 – Formula 5 (dari kiri ke kanan)

Lotion Minyak Almond Sesaat Setelah Pembuatan

Formula I Formula II

63

Formula III Formula IV

Formula V

64 Tewameter® TM 300

65 Lampiran 10 : Informed Consent Uji TEWL

66

Lampiran 11 : Uji T ANOVA Orientasi terhadap Respon Daya Sebar dengan Microsoft Excel

67

Lampiran 12: Uji T ANOVA Orientasi terhadap Respon Viskositas dengan Microsoft Excel

68

Lampiran 13 : Uji T ANOVA terhadap TEWL dan Ukuran Partikel dengan Microsoft Excel

69 Lampiran 14 :Tampilan data TEWL pada software MPA

70

Penulis dengan nama lengkap Myisha Felicia Elisabet, dilahirkan di Jakarta, 18 November 1996. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Penulis mengenyam pendidikan formal di TK Permata Bunda (2000-2002), SD Permata Bunda (2002-2005), SD Strada Bhakti Utama (2005-2008), SMP Strada Bhakti Utama (2008-2011), dan SMA Negeri 63 Jakarta (2011-2014). Pada tahun 2014,

Penulis dengan nama lengkap Myisha Felicia Elisabet, dilahirkan di Jakarta, 18 November 1996. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Penulis mengenyam pendidikan formal di TK Permata Bunda (2000-2002), SD Permata Bunda (2002-2005), SD Strada Bhakti Utama (2005-2008), SMP Strada Bhakti Utama (2008-2011), dan SMA Negeri 63 Jakarta (2011-2014). Pada tahun 2014,

Dokumen terkait