• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Utama

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 60-65)

HASIL DAN ANALISIS

4.3 Analisis Utama

Untuk mengetahui hubungan antara coping dan psychological distress pada istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, maka peneliti menggunakan teknik pearson correlation. Berikut hasil perhitungan korelasi antara coping dan psychological distress secara umum.

Tabel 4.3.1 Hubungan antara Coping dan Psychological Distress pada Istri Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga Secara Umum

Coping Distress

r p

- 0,464** 0,001

* p < 0,05 level. ; **p < 0,01 level

Dari tabel tersebut diketahui bahwa adanya hubungan coping yang berkorelasi negatif dan signifikan dengan psychological distress (p<0,05). Besar korelasi (r) antara kedua varibel tersebut adalah 0,464 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor coping, maka skor psychological distress akan semakin rendah. Hal ini membuat hipotesis nol (Ho) ditolak, hipotesis alternatif (Ha) diterima, dengan kata lain terdapat hubungan negatif yang signifikan antara coping dan psychological distress pada istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu, peneliti juga mencari hubungan antara masing-masing jenis

coping dan psychological distress pada istri yang mengalami kekerasan dalam

rumah tangga. Berikut akan ditampilkan pada tabel berikut.

Tabel 4.3.2 Hubungan antara Jenis Coping dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Jenis Coping Distress

r p

Problem-Focused Coping - 0,482** 0,001 Emotion-Focused Coping - 0,411** 0,004 * p < 0,05 level. ; **p < 0,01 level

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa dua jenis coping berkorelasi negatif dan signifikan dengan psychological distress, (p<0,05) yakni

focused coping dan emotion focused coping. Besar korelasi (r) antara problem-focused coping dan psychological distress adalah 0,482 (p<0,05) dengan arah

negatif. Artinya semakin tinggi skor problem-focused coping, maka skor

psychological distress akan semakin rendah. Besar korelasi (r) antara emotion-focused coping dan psychological distress adalah 0,411 (p<0,05) dengan arah

negatif. Artinya semakin tinggi skor emotion-focused coping maka akan semakin rendah pula skor psychological distress.

Hasil uji F-Test pada tabel 4.3.3 digunakan untuk mengetahui apakah model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksi psychological distress dengan menggunakan problem-focused coping dan emotion-focused coping.

Tabel 4.3.3 Uji F-test dan Perhitungan R2 Problem-Focused Coping, Emotion-Focused Coping dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan

Dalam Rumah Tangga

Uji F-test Mean

Square

F Sig

Regresi 437,955 6,80 0,003

Perhitungan R R2

Regresi 0,486 0,236

Berdasarkan tabel 4.3.3 dapat diketahui bahwa nilai F=6,80 signifikan dengan p<0,05. Hal ini berarti bahwa model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksi psychological distress dengan menggunakan variabel

problem-focused coping dan emotion-problem-focused coping. Selain itu diketahui pula nilai coefficient of determination yang dapat dilihat pada kolom R2 sebesar 0,236. Menurut Cohen dan Cohen (1983), nilai tersebut dapat memberikan kontribusi yang tergolong rendah. Nilai tersebut juga dapat menjelaskan bahwa 23,6% variabilitas psychological distress dapat dijelaskan oleh problem-focused coping dan emotion-focused coping. Sedangkan 76,4% variabilitas psychological distress dijelaskan oleh variabel-variabel di luar dari problem-focused coping dan

emotion-focused coping. Artinya adalah ada variabel-variabel lain sebesar 76,4%

yang dapat mempengaruhi psychological distress selain proble-focused dan

Setelah melihat hubungan yang signifikan antara problem-focused coping dan emotion-focused coping dengan psychological distress, maka peneliti ingin melihat mana yang lebih berkontribusi terhadap psychological distress.

Tabel 4.3.4 Koefisien RegresiProblem-Focused Coping, Emotion-Focused Coping

dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga B Standardized Coefficients Beta Sig (Constant) -5,029 0,553 Problem-focused Coping 0,095 0,406 0,056 Emotion-focused Coping 0,143 0,098 0,637

Dalam tabel 4.3.4 menjelaskan variabel mana yang lebih berkontribusi terhadap psychological distress. Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa kedua jenis coping tidak signifikan pada l.o.s 0,05. Hal ini berarti

problem-focused coping dan emotion-problem-focused coping tidak memberikan kontribusi dalam

memprediksi nilai psychological distress.

Peneliti juga mencari hubungan antara subskala yang ada pada coping dengan psychological distress pada istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Berikut tabel penjelasannya.

Tabel 4.3.5 Hubungan antara Subskala Coping dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Subskala Coping Psychological Distress

r p

Active - 0,158 0,290

Use of instrumental support - 0,488** 0.001

Postive reframing - 0,050 0,739 Planning - 0,370 0,010 Behavioral Disengagement - 0,209 0,159 Emotional Support - 0,200 0,177 Humor - 0,222 0,133 Acceptance - 0,113 0,448 Venting - 0,298** 0,042 Religion - 0,018 0,903 Self distraction - 0,233 0,116 Denial - 0,805 0,569 Substance Use - 0,304** 0,038 Self blame - 0,532** 0,000 * p < 0,05 level. ; **p < 0,01 level

Dari keempat belas subskala yang ada, ada lima subskala yang berkorelasi negatif dan signifikan dengan psychological distress, (p<0,05) yakni use of

instrumental support, planning, venting, substance use, dan self blame. Besar

korelasi (r) antara subskala use of istrumental support adalah 0,488 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor use of instrumental support, maka skor psychological distress akan semakin rendah. Besar korelasi (r) antara subskala planning dan psychological distress adalah 0,370 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor planning maka skor psychological distress akan semakin rendah. Besar korelasi (r) antara subskala venting dan psychological

distress adalah 0,298 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor venting, maka skor psychological distress akan semakin rendah. Besar korelasi (r)

antara subskala substance use dan psychological distress adalah 0,304 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor substance use maka skor

psychological distress akan semakin rendah. Terakhir besar korelasi (r) antara

subskala self blame dan psychological distress adalah 0,532 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor self blame maka skor psychological distress akan semakin rendah.

Setelah meilihat adanya hubungan antara subskala coping dengan

psychological distress, selanjutnya peneliti ingin melihat apakah keempat belas

subskala dapat memprediksi psychological distress dengan menggunakan metode

mutliple regression.

Tabel 4.3.6 Uji F-test dan Perhitungan R2 Subskala Use of Instrumental Support,

Planning, Venting, Substance Use dan Self Blame Coping dan Psychological Distress

pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Uji F-test Mean

Square

F Sig

Regresi 315,456 6,067 0,000

Perhitungan R R2

Regresi 0,652 0,425

Berdasarkan tabel 4.3.5 dapat diketahui bahwa nilai F=6,067 signifikan dengan p<0,05. Hal ini berarti bahwa model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksi psychological distress dengan menggunakan 5 subskala coping.

Selain itu diketahui pula nilai coefficient of determination yang dapat dilihat pada kolom R2 sebesar 0,425. Menurut Cohen dan Cohen (1983), nilai tersebut dapat memberikan kontribusi yang tergolong medium atau cukup. Nilai tersebut juga dapat menjelaskan bahwa 42,5% variabilitas psychological distress dapat dijelaskan oleh kelima subskala coping. Sedangkan 57,5% variabilitas

psychological distress dijelaskan oleh variabel-variabel di luar dari lima subskala coping di atas. Artinya adalah ada variabel-variabel lain sebesar 57,5% yang dapat

mempengaruhi psychological distress selain 5 subskala coping tersebut.

Setelah melihat hubungan yang signifikan antara lima subskala coping dengan psychological distress, maka peneliti ingin melihat mana yang lebih berkontribusi terhadap psychological distress. Dalam tabel 4.3.6 menjelaskan variabel mana yang lebih berkontribusi terhadap psychological distress.

Tabel 4.3.7 Koefisien RegresiProblem-Focused Coping, Emotion-Focused Coping

dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga B Standardized Coefficients Beta Sig (Constant) -5,610 0,377 Instrumental Support 1,027 0,180 0,237 Planning 1,087 0,170 0,211 Venting -0,002 0,000 0,999 Substance Use 3,365 0,246** 0,049 Self Blame 2,460 0,376** 0,012 * p < 0,05 level. ; **p < 0,01 level

Berdasarkan standardized coefficients beta dapat diketahui bahwa ada dua subskala yang memiliki kontribusi terhadap psychological distress, yaitu

substance use dan self blame. Kedua jenis subskala coping tersebut signifikan

pada l.o.s 0,05. Self blame (0,376) memiliki nilai lebih besar dibanding substance

use (0,246), sehingga hal ini menunjukan self blame memiliki kontribusi lebih

BAB 5

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 60-65)

Dokumen terkait