HASIL DAN ANALISIS
4.3 Analisis Utama
Untuk mengetahui hubungan antara coping dan psychological distress pada istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, maka peneliti menggunakan teknik pearson correlation. Berikut hasil perhitungan korelasi antara coping dan psychological distress secara umum.
Tabel 4.3.1 Hubungan antara Coping dan Psychological Distress pada Istri Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga Secara Umum
Coping Distress
r p
- 0,464** 0,001
* p < 0,05 level. ; **p < 0,01 level
Dari tabel tersebut diketahui bahwa adanya hubungan coping yang berkorelasi negatif dan signifikan dengan psychological distress (p<0,05). Besar korelasi (r) antara kedua varibel tersebut adalah 0,464 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor coping, maka skor psychological distress akan semakin rendah. Hal ini membuat hipotesis nol (Ho) ditolak, hipotesis alternatif (Ha) diterima, dengan kata lain terdapat hubungan negatif yang signifikan antara coping dan psychological distress pada istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Selain itu, peneliti juga mencari hubungan antara masing-masing jenis
coping dan psychological distress pada istri yang mengalami kekerasan dalam
rumah tangga. Berikut akan ditampilkan pada tabel berikut.
Tabel 4.3.2 Hubungan antara Jenis Coping dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Jenis Coping Distress
r p
Problem-Focused Coping - 0,482** 0,001 Emotion-Focused Coping - 0,411** 0,004 * p < 0,05 level. ; **p < 0,01 level
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa dua jenis coping berkorelasi negatif dan signifikan dengan psychological distress, (p<0,05) yakni
focused coping dan emotion focused coping. Besar korelasi (r) antara problem-focused coping dan psychological distress adalah 0,482 (p<0,05) dengan arah
negatif. Artinya semakin tinggi skor problem-focused coping, maka skor
psychological distress akan semakin rendah. Besar korelasi (r) antara emotion-focused coping dan psychological distress adalah 0,411 (p<0,05) dengan arah
negatif. Artinya semakin tinggi skor emotion-focused coping maka akan semakin rendah pula skor psychological distress.
Hasil uji F-Test pada tabel 4.3.3 digunakan untuk mengetahui apakah model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksi psychological distress dengan menggunakan problem-focused coping dan emotion-focused coping.
Tabel 4.3.3 Uji F-test dan Perhitungan R2 Problem-Focused Coping, Emotion-Focused Coping dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan
Dalam Rumah Tangga
Uji F-test Mean
Square
F Sig
Regresi 437,955 6,80 0,003
Perhitungan R R2
Regresi 0,486 0,236
Berdasarkan tabel 4.3.3 dapat diketahui bahwa nilai F=6,80 signifikan dengan p<0,05. Hal ini berarti bahwa model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksi psychological distress dengan menggunakan variabel
problem-focused coping dan emotion-problem-focused coping. Selain itu diketahui pula nilai coefficient of determination yang dapat dilihat pada kolom R2 sebesar 0,236. Menurut Cohen dan Cohen (1983), nilai tersebut dapat memberikan kontribusi yang tergolong rendah. Nilai tersebut juga dapat menjelaskan bahwa 23,6% variabilitas psychological distress dapat dijelaskan oleh problem-focused coping dan emotion-focused coping. Sedangkan 76,4% variabilitas psychological distress dijelaskan oleh variabel-variabel di luar dari problem-focused coping dan
emotion-focused coping. Artinya adalah ada variabel-variabel lain sebesar 76,4%
yang dapat mempengaruhi psychological distress selain proble-focused dan
Setelah melihat hubungan yang signifikan antara problem-focused coping dan emotion-focused coping dengan psychological distress, maka peneliti ingin melihat mana yang lebih berkontribusi terhadap psychological distress.
Tabel 4.3.4 Koefisien RegresiProblem-Focused Coping, Emotion-Focused Coping
dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga B Standardized Coefficients Beta Sig (Constant) -5,029 0,553 Problem-focused Coping 0,095 0,406 0,056 Emotion-focused Coping 0,143 0,098 0,637
Dalam tabel 4.3.4 menjelaskan variabel mana yang lebih berkontribusi terhadap psychological distress. Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa kedua jenis coping tidak signifikan pada l.o.s 0,05. Hal ini berarti
problem-focused coping dan emotion-problem-focused coping tidak memberikan kontribusi dalam
memprediksi nilai psychological distress.
Peneliti juga mencari hubungan antara subskala yang ada pada coping dengan psychological distress pada istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Berikut tabel penjelasannya.
Tabel 4.3.5 Hubungan antara Subskala Coping dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Subskala Coping Psychological Distress
r p
Active - 0,158 0,290
Use of instrumental support - 0,488** 0.001
Postive reframing - 0,050 0,739 Planning - 0,370 0,010 Behavioral Disengagement - 0,209 0,159 Emotional Support - 0,200 0,177 Humor - 0,222 0,133 Acceptance - 0,113 0,448 Venting - 0,298** 0,042 Religion - 0,018 0,903 Self distraction - 0,233 0,116 Denial - 0,805 0,569 Substance Use - 0,304** 0,038 Self blame - 0,532** 0,000 * p < 0,05 level. ; **p < 0,01 level
Dari keempat belas subskala yang ada, ada lima subskala yang berkorelasi negatif dan signifikan dengan psychological distress, (p<0,05) yakni use of
instrumental support, planning, venting, substance use, dan self blame. Besar
korelasi (r) antara subskala use of istrumental support adalah 0,488 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor use of instrumental support, maka skor psychological distress akan semakin rendah. Besar korelasi (r) antara subskala planning dan psychological distress adalah 0,370 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor planning maka skor psychological distress akan semakin rendah. Besar korelasi (r) antara subskala venting dan psychological
distress adalah 0,298 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor venting, maka skor psychological distress akan semakin rendah. Besar korelasi (r)
antara subskala substance use dan psychological distress adalah 0,304 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor substance use maka skor
psychological distress akan semakin rendah. Terakhir besar korelasi (r) antara
subskala self blame dan psychological distress adalah 0,532 (p<0,05) dengan arah negatif. Artinya semakin tinggi skor self blame maka skor psychological distress akan semakin rendah.
Setelah meilihat adanya hubungan antara subskala coping dengan
psychological distress, selanjutnya peneliti ingin melihat apakah keempat belas
subskala dapat memprediksi psychological distress dengan menggunakan metode
mutliple regression.
Tabel 4.3.6 Uji F-test dan Perhitungan R2 Subskala Use of Instrumental Support,
Planning, Venting, Substance Use dan Self Blame Coping dan Psychological Distress
pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Uji F-test Mean
Square
F Sig
Regresi 315,456 6,067 0,000
Perhitungan R R2
Regresi 0,652 0,425
Berdasarkan tabel 4.3.5 dapat diketahui bahwa nilai F=6,067 signifikan dengan p<0,05. Hal ini berarti bahwa model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksi psychological distress dengan menggunakan 5 subskala coping.
Selain itu diketahui pula nilai coefficient of determination yang dapat dilihat pada kolom R2 sebesar 0,425. Menurut Cohen dan Cohen (1983), nilai tersebut dapat memberikan kontribusi yang tergolong medium atau cukup. Nilai tersebut juga dapat menjelaskan bahwa 42,5% variabilitas psychological distress dapat dijelaskan oleh kelima subskala coping. Sedangkan 57,5% variabilitas
psychological distress dijelaskan oleh variabel-variabel di luar dari lima subskala coping di atas. Artinya adalah ada variabel-variabel lain sebesar 57,5% yang dapat
mempengaruhi psychological distress selain 5 subskala coping tersebut.
Setelah melihat hubungan yang signifikan antara lima subskala coping dengan psychological distress, maka peneliti ingin melihat mana yang lebih berkontribusi terhadap psychological distress. Dalam tabel 4.3.6 menjelaskan variabel mana yang lebih berkontribusi terhadap psychological distress.
Tabel 4.3.7 Koefisien RegresiProblem-Focused Coping, Emotion-Focused Coping
dan Psychological Distress pada Istri yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga B Standardized Coefficients Beta Sig (Constant) -5,610 0,377 Instrumental Support 1,027 0,180 0,237 Planning 1,087 0,170 0,211 Venting -0,002 0,000 0,999 Substance Use 3,365 0,246** 0,049 Self Blame 2,460 0,376** 0,012 * p < 0,05 level. ; **p < 0,01 level
Berdasarkan standardized coefficients beta dapat diketahui bahwa ada dua subskala yang memiliki kontribusi terhadap psychological distress, yaitu
substance use dan self blame. Kedua jenis subskala coping tersebut signifikan
pada l.o.s 0,05. Self blame (0,376) memiliki nilai lebih besar dibanding substance
use (0,246), sehingga hal ini menunjukan self blame memiliki kontribusi lebih
BAB 5