• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Wacana Kritis (AWK) Model Norman Fairclough

KERANGKA TEORI A. Dakwah

E. Analisis Wacana Kritis (AWK) Model Norman Fairclough

Menurut Haryatmoko analisis wacana kritis merupakan penerapan analisis kritis terhadap bahasa yang dipengaruhi oleh Marxisme.Aliran yang menentang melawan dominasi dan ketidakadilan untuk emansipasi. Teori kritis bertujuan untuk menghilangkan berbagai bentuk dominasi, mendorong kebebasan, keadilan dan persamaan. Teori kritik menggunakan metode reflektif dengan melakukan kritik secara terus-menerus terhadap tatanan atau institusi sosial, politik, atau ekonomi yang cenderung tidak kondusif.36

35 Ibid, . 65-66

43

Madzab Frankfurt Jerman yang di ketuai oleh Max Hockheimer mencetuskan teori kritis beranggapan bahwa proses budaya berdampak pada kehidupan sosial, sehingga banyak penelitian sosial dengan tema mengkritisi ketidakadilan, ketidaksetaraan, diskriminasi, ketidakbebasan dengan mencari sumber dan sebabnya serta bentuk-bentuk perlawanan yang mungkin.37

Menurut Haryatmoko wacana merupakan praktek sosial dalam bentuk interaksi simbolis yang dapat dilihat dalam tulisan, pidato, gambar, diagram dan lain sebagainya. Analisis Wacana Kritis (AWK) sangat focus pada bahasan bagaimana bahasa dan wacana digunakan untuk praktek dan tujuan tertentu, termasuk untuk melakukan perubahan-perubahan sosial.38

Wacana sebagai praktek sosial terlihat dari arah analisis. AWK menganalisis apa yang terjadi dengan memperhatikan apakah peristiwa itu mempertahankan struktur yang ada, atau memperbaiki atau mengubah kondisi yang lain. AWK tidak cukup mengidentifikasi ketidakadilan, ketidakberesan bahaya, penderitaan, atau prasangka, namun juga mencari jalan keluar dari manipulasi masyarakat yang penuh ketegangan dan konflik. AWK melatih instrumen untuk meningkatkan kesadaran dan mengarahkan perubahan agar tidak menyimpang.

Paul Ricoeur mendefinisikan wacana merupakan suatu proses transformasi yang mengandung empar unsure, yaitu pertama, ada subyek yang

37 Haryatmoko, Critical Discourse Analisis, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2017), hal.3 38 Haryatmoko, Critical Discourse Analisis, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2017), hal.4

44

menyatakan, kedua, kepada siapa disampaikan, ketiga, duniua atau wahana yang mau direpresentasikan, dan keempat, temporalitas atau kontek waktu. Sedangkan Foucault dan Wetherell mengatakan wacana sebagai praktek sosial karena wacana merupakan suatu tindakan. Wacana dapat dianalisis dalam kerangka kegiatan relasi sosial dan teknologi komunikasi.39

Kelahiran teks jenis apapun, termasuk teks dakwah tidak luput dari pengaruh sosial, politik, ekonomi dan budaya suatu tempat dan waktu. Sebuah teks atau ceramah keagamaan yang disampaikan ulama yang bersahabat dengan penguasa, yang dimanja dengan fasilitas politik dan harta istana tentu berbeda dengan ceramah atau tulisan dari ulama yang kritis terhadap istana bahkan terhegemoni penguasa.

Dalam upaya membedah wacana dakwah, maka diperlukan analisis wacana kritis. Analisa wacana kritis saat mau menunjukkan pemaknaan bahasa di dalam hubungan kekuasaan dan hubungan sosial diperlukan penelitian untuk mengetahui bagaimana proses konstruksi makna di dalam konteks tertentu, dan ditemukan adanya peranan dan tujuan penulis atau pengarang dalam konstruksi wacana.40

Untuk mewujudkan kedua tuntutan itu menurut Haryatmoko berlaku prinsip- prinsip analisa wacana untuk memahami situasi dan dimensi-dimensi obyek yang dianalisis. Prisnsip-prinsip itu adalah:

39 Ibid, 5

45

1. Teks dan konteks

Teks atau obyek harus merupakan data diambil dari realitas. Dapat berupa video (rekaman pembicaraan dan peristiwa), tape, atau teks yang digunakan dalam media massa (lisan , tulisan, visual). Data ini masih origional belum diedit, di amati seperti adanya, sedekat mungkin dengan munculnya, atau digunakan dalam konteks aslinya. Konteks menunjukkan bahwa wacana/teks diamati sebagai bagian melekat pada kontek local, global, dan sosial budaya 2. Keterurutan dan intertektualitas

Keberurutan disini bahwa pelaksanaan wacana dianggap linear dan berurutan artinya urutan tatanan itu terjadi saat produksi dan pemahaman yang berupa pembicaraan maupun teks. Tata urutan ini (kalimat. proposisi, atau tindakan) harus dideskripsikan atau ditafsirkan sesuai dengan yang mendahuluinya. Artinya hubungan wacana seperti ini mengutamakan fungsi, artinya unsur berikutnya punya fungsi dalam kaitannya dengan yang mendahuluinya. Sedangkan intertektualitas adalah kehadiran unsur-unsur dari teks lain dalam dalam suatu teks. Di mana teks atau ungkapan yang dibentuk oleh teks yang datang sebelumnya saling menanggapi, dan salah satu dari teks tersebut mengantisipasi lainnya. Intertektualitas itu bisa berupa kutipan, acuan atau isi.

46

AWK mengkalim bahwa wacana merupakan hasil konstruksi. Bagian-bagian pokok yang secara fungsional digunakan , dipahami dan dianalisis sebagai unsure-unsur yang lebih luas. Penggunaan kata/kosa kata metafora atau unsur –unsur bahasa yang lainnya akan menentukan makna yang di kehendaki. Artinya pembicaraan di masjid tentu berbeda dengan ketika di mall, pembicaraan di rumah tidak sama dengan di tempat kerja. Bukan saja pada struktur wacana, apa yang dibicarakan, namun juga pemakaian bahasa yang berbeda pula. Unsur-unsur tersebut diterapkan untuk membentuk makna dan interaksi. Aspek konstruksi ini menunjukkan bahwa orang yang menggunakan bahasa (order of discourse) untuk membangun versi dunia sosialnya. Sedangkan strategi maksudnya adalah pengguna bahasa (order of discourse) mengetahui dan menerapkan strategi interaksi supaya pemaknaannya efektif dan perwujudan tujuan-tujuan komunikasi dan sosial tercapai.

4. Peran kognisi sosial

Peran ini terkait dengan proses mental dan representasi dalam produksi dan pemahaman teks serta pembicaraan. Peran sosial-cognitif ini mengarah pada persinggungan wacana antara mind, interaksi wacana dan masyarakat. Segitiga menghubungkan representasi mental dan proses pengguna bahasa ketika memproduksi/memahami wacana

47

5. Prinsip pengaturan kategori-kategori.

Dalam AWK ada yang harus dihindari.yaitu penganalisis tidak boleh memaksakan pengertian-pengertian dan kategori-kategori. Agar memperoleh pemahaman yang mendalam dan krtis, perlu memerhatikan dan menghormati cara anggota-anggota masyarakat menafsirkan, mengarahkan dan mengkategorikan cirri-ciri dunia sosial dan perilaku mereka. Penggunaan teori ataupun kategori dalam common sense pengguna bahasa dapat mempengaruhi hasil analisis. Dengan asumsi bahwa analisis wacana kritis tidak bebas nilai.

6. Interdiskursivitas. Prinsip ini menjelaskan bahwa suatu teks mengandung banyak ragam diskursus.Dari aspek ini kelihatan peran genre,wacana, style ,agar ketiganya berperan dalam suatu artikulasi tertentu. Kelima prinsip diatas yang menjadi pembeda antara analisis wacana kritis dengan bentuk lain analisis wacana. Dari prinsip-prinsip itu analisis wacana kritis, kita bisa mengetahui bahwa tujuan akhir analisis wacana kritis secara ilmiah adalah untuk perubahan sosial dan politik. Maka penganalisis AWK diharapkan menjadi agent of

change dan solider dengan mereka yang membutuhkan perubahan.

a. Metodologi Analisis Wacana Kritis

Setiap penelitian memiliki tujuan untuk memperoleh pengetahuan atau pemahaman dari obyek yang diteliti, serta bagaimana pemahaman atau

48

pengetahuan itu memenuhi tujuan penelitian.41Setiap jenis penelitian untuk memperoleh pemahaman dan pengetahuan itu memiliki metodologi yang berbeda.

Menurut Haryatmoko analisis wacana kritis (dapat dilakukan dengan ) lima cara ( yaitu: pertama, bisa melakukan analisis konteks, kedua, bisa menggunakan tehnik pengamatan wawancara, yang menekankan cara merekam dan menerjemahkan bahasa alamah, ketiga, dengan model pengamatan partisipatoris, yang menuntut peneliti berperan di komunitas sehingga dapat mempelajari proses wacana, keempat, menggunakan informan atau pakar untuk menjelaskan atau menterjemahkan apa yang terjadi di komunitas dengan tetap menghormati praktek wacana yang ada, kelima dapat menggunakan metode framing, atau bahkan metode etnografi.

Dalam AWK sangat focus dalam menentukan konstruksi makna, maka di sana harus diperhitungkan siapa yang terlibat dalam produksi teks, misal produser, pengarang, penulis atau pembicara. Kedua, pada level teks ini harus dianalisis secara structural atau tingkat relasi. Ketiga, masalah penerimaan teks. Penerimaan teks ini menyangkut penafsiran pembaca dan pendengar. Pada AWK menolak adanya otonomisasi teks yang mengabaikan produktor dan cakrawalanya. Selain itu agar AWK semakin tajam analisis perlu diarahkan ke hubungan dengan luar teks yang meliputi, peristiwa sosial (

49

praktek sosial dan struktur sosial), serta hubungan antara teks dengan teks

lain (intertekstualitas).

Pada penelitian ini penulis menerapkan analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Dalam model ini Fairclough menawarkan empat langkah yang harus ditempuh dalam analisis wacana kritis yaitu:

1. Memfokuskan, pada ketidakberesan sosial, dalam aspek semiotiknya. Ketidakbersan ini dipahami sebagai aspek-aspek system sosial, bentuk dan tatanan yang merugikan atau merusak kesejahteraan bersama. Ketidakberesan itu meliputi kemiskinan ketidaksetaraan, kemiskinan, diskriminasi, kurangnya kebebasan atau rasisme.

2. Mengidentifikasi hambatan-hambatan untuk menangani ketidakberesan sosial itu. Identifikasi ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut analisis hubunan dialektik antara semiosis dan unsure-unsur sosial lainnya. Langkah selanjutnya menyeleksi teks dan memfokuskan ada analisis teks. Cara identifikasi selanjutnya dengan cara melakukan analisis teks , baik interdiskursif, maupun linguistic dan semiotic.

3. Mempertimbangkan apakah tatanan sosial itu membutuhkan ketidakberesan sosial tersebut. Kita melihat ketidakberesan sosial melekat pada tatanan sosial apakah dapat ditangani dengan system yang ada, atau harus dengan di ubah, ini dapat kita lihat dengan

50

cara menghubungkan antara yang factual dan yang seharusnya, jika suatu tatanan sosial dapat ditunjukkan menghasilkan ketidakberesan sosial yang besar, maka sangat mungkin untuk diubah.

4. Mengidentifikasi cara-cara yang mungkin untuk mengatasi hambatan-hambatan itu. Analisis pada tahap ini yang dilakukan adalah mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan dalam proses sosial yang ada untuk mengatasi hambatan-hambatan menangani ketidakberesan sosial.

b. Tiga Dimensi AWK Menurut Fairclough

Analisis wacana kritis menganalisisi bagaimana wacana memproduksi dominasi sosial, mendorong penyalahgunaan kekuasaan suatu kelompok terhadap yang lain dan bagaimana kelompok yang didominasi melalui wacana melawan penyalahgunaan kekuasaan.42 Keberaagaman aspek obyek pengamatan membutuhkan pendekatan yang multidisiplin dari berbagai ilmu. Sikap kritis perspektif dan posisi dari peneliti juga mengekang obyek pengamatan, karena peneliti AWK memiliki komitmen untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Melalui pendekatan multidisiplin itu diantaraanya adalah ilmu linguistic dan ilmu-ilmu sosial. Ilmu Linguistik berperan menganalisa gramatika, semantic, fonetik dan percakapan. Jadi pakar Linguistik dan psikologi akan focus pada penggunaan bahasa dan pikiran

51

yang tampak dalam interaksi wacana. Sedangkan ilmu sosial akan menganalisis dan mengamati struktur sosial dan masalah-masalah sosial misalnya ketidakadilan.

Wacana sebagai praktek sosial memfokuskan untuk menganalisis institusi, organisasi, relasi kelompok, struktur proses sosial-politik untuk dipelajari pada tingkat wacana komunikasi dan interaksi. Analisis wacana kritis menjelaskan hubungan antara komunikasi dan interaksi, termasuk hubungan local global, serta struktur wacana dan struktur masyarakat. Hubungan –hubunan itu merupakan bagian dari proses semiotic.

Tiga dimensi yang sodorkan Fairclough itu adalah. Pertama teks, yaitu semua yang mengacu pada wicara, tulisan,, grafik, dan kombinasinya atau semua bentuk linguistic teks (kosa kata, gramatika, syntax, metafora,retorika). Kedua, praktek wacana (discourse practice), semua bentuk produksi dan konsumsi teks. Dalam dimensi ini ada proses menghubungkan produksi dan konsumsi teksatau sudah ada interpretasi. Pada dimensi ini produksi dan konsumsi dapat bersifat massal atau personal.

Ketiga, praktek sosial budaya (socialcultural practice). Biasanya tertanam

dalam tujuan, jaringan yang luas. Dalam dimensi ini sudah terlihat pemahaman intertektual, peristiwa sosial di mana kelihatan teks dibentuk olek dan membentuk praktik sosial. Berikut model yang dikembangkan oleh Fairclough dalam AWK.

52

Tabel 1. Analisis Wacana kritis Model N. Fairclough

Tabel di atas dapat di jelaskan bahwa hal yang mendasar yang perlu dipahami dalam analisis teks adalah penggunaan kosa kata yang terkait dengan makna tertentu, pemakaian istilah, metafora karena ingin mengacu pada makna dan tindakan tertentu. Penggunaan kosa kata meliputi makna kata, satu kata dapat mengandung banyak makna, dan banyak makna tergantung dari konteksnya. Oleh karena itu analisis harus dilakukan dengan jeli. Penggunaan istilah untuk memudahkan kelompok pembaca mengidentifikasi diri dengan penulis dan menetapkan trust di dalam opininya43.

Selanjutnya dimensi discourse practice, melihat kekuatan pernyataan, sejauh mana pernyataan itu mendorong tindakan atau kekuatan afirmatif. Pada dimensi ini akan melihat bagaimana teks diproduksi dan bagaimana pula teks

43 Ibid, 24. DESKRIPSI (mikro) Analisis teks DISCOURSE PRACTICE

PROSES PRODUKSI TEKS

PROSES KONSUMSI TEKS

INTERPRETASI

Analisis produksi

TEKS

EKPLANASI (makro)

53

dikonsumsi, karena wacana diproduksi bukan dalam ruang hampa, banyak institusi yang berdiri mengelilingi produksi teks tersebut.44

Pada dimensi sosiocultural practice, ini berhubungan konteks di luar teks, misal konteks situasi, institusi. Selain itu kita juga perlu melihat discourse practice dari pemakai bahasa (order of discourse) yang berbeda sesuai dengan discoursifnya. Bahasa di ruang kelas berbeda dengan bahasa yang dipakai di pasar.45 Haryatmoko melihat praksis sosial (social practice), menggambarkan aktifitas sosial dalam praksis, misalnya menjalankan profesi (wartawan, advokat, dokter dan sebagainya) selalu menggunakan bahasa khusus.46

Tiga dimensi AWK terkandung dalam empat langkah penelitian versi Fairclough. Jika dikaitkan, maka dimensi teks membantu kita agar tidak ada kesewenang-wenangan dalam proses penafsiran. Dimensi teks juga menyiratkan pentingya ketajaman dalam analisis teks, yang meliputi, penggunaan kosa kata, terkait dengan makna istilah dan metafora. Makna kata patut dianalisis karena satu kata dapat memiliki banyak makna, dan makna dapat berbeda tergantung konteksnya.

Fairclough membangun model analisis yang menggabungkan secara bersama-sama analisis yang berdasarkan pada linguistic dan pemikiran sosial

44 Eriyanto, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LKiS, 2008), hal.287

45 Ibid, 288

54

politik, dan secara umum diintergrasikan dengan perubahan sosial. Sehingga model yang diciptakan Fairclough disebut juga dengan model perubahan sosial (social change).47

c. Perspektif Foucault

Media massa merupakan mediator atau alat yang efektif dalam publikasi ideology baik ideology pro maupun kontra terhadap suatu wacana. Wacana secara khusus merupakan percakapan atau tuturan. Wacana dapat pula dikatakan keseluruhan percakan yang membentuk satu kesatuan karangan sehingga menjadi makna yang utuh. Sebagai sebuah percakapan, wacana berasal dari ide, gagasan, konsep, pikiran yang dapat dipahami oleh pendengar atau pembaca.

Struktur sosial dapat diketahui dari teks yang muncul dalam suatu media. Teks tak hanya menggambarkan peristiwa yang ada, tetapi didalamnya tersembunyi maksud tertentu. Kondisi ini terlihat dari koherensi dan kohesi suatu anak kalimat kemudian menjadi suatu paragraf. Paragraf berhubungan dengan paragraph yang lain sehingga membentuk sebuah wacana.

Pemikiran Foucault sangat kental mempengaruhi dalam mendeskripsikan sebuak teks. Ketika Fairclough melihat bahasa sebagai praktek kekuasaan, disinilah pemikiran Foucault banyak mempengaruhi dalam analisisnya. Menurut Foucault wacana merupakan sesuatu yang

47 Eriyanto, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: LKiS, 2008), hal. 17

55

memproduksi yang lain. Wacana dapat dilihat karena secara sistematis suati ide, konsep, pandangan hidup dibentuk dalam suatu konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak tertentu.

Selanjutnya Foucault melihat ada hubungan antara kekuasaan dan pemngetahuan. Term kekuasaan tidak dimaknai dalam “kepemilikan” di mana seseorang mempunyai sumber kekuasaan tertentu. Menurutnya kekuasaan tidak untuk dimiliki tetapi dipraktekkan.48

Strategi kekuasaan berlangsung di semua sendi kehidupan termasuk dalam dunia dakwah. Di mana saja terdapat susunan, aturan, system regulasi, di mana ada manusia mempunyai hubungan sesuatu dengan yang lain di situ kuasa sedang bekerja. Lebih lanjut bagi Foucault, kekuasaan selalu terakulasi lewat pengetahuan, dan pengetahuan selalu mempunyai efek kuasa. Penyelenggara kekuasaan selalu memproduksi pengetahuan sebagai basis kekuasaannya. Kuasa memproduksi pengetahuan, bukan saja karena pengetahuan berguna bagi kuasa. Tidak ada pengetahuan tanpa kuasa dan tidak ada kuasa tanpa pengetahuan. Karena setiap kekuasaan disusun, dimapankan, dan diwujudkan lewat pengetahuan dan wacana tertentu.

Kekuasaan selalu ditopang dengan ekonomi politik kebenaran. Kebenaran menurut Foucault bukan dipahami sebagai sesuatu yang datang dari langit, juga bukan sebuah konsep yang abstrak, akan tetapi kebenaran – kebenaran itu diproduksi dari setiap kekuasaan yang berlangsung. Dalam

56

kekuasaan itu khalayak digiring supaya memahami, menyadari dan mengikuti kebenaran yang telah ditetapkan oleh kuasa. Di sini kekuasaan selalu berpretensi menghasilkan rezim kebenaran tertentu yang disebarkan lewat wacana yang dibentuk oleh kekuasaan .

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait