• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HAK ANGKET DPR TERHADAP PEMERINTAH

B. Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Hal Pengujian Undang-undang Nomor 17 Tahun

4. Analisis Kritis Terhadap Putusan

4.1 Analisis Yuridis terhadap Putusan

Dengan mengamati latar belakang peristiwa hukum lahirnya penggunaan hak angket DPR dengan ketentuan Pasal 79 ayat (3) UU MD3 melahirkan pendapat yaitu:

1. Penyidik KPK dalam kasus dugaan korupsi e-KTP sedang menjalankan sebagian tugas Pemerintah dalam pelaksanaan pemberantasan korupsi. Dalam UU No. 30 Tahun 2002 tentang KPK pada Pasal 6 huruf c disebutkan bahwa salah satu tugas KPK adalah melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi.Penyidikan oleh KPK untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Penyidik KPK menjalankan perintah UU KPK dan Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.

2. Penolakan KPK untuk tidak membuka rekaman hasil pemeriksaan Miryam yang tertuang dalam BAP seperti yang diminta oleh anggota DPR bukan pula kejahatan atau pelanggaran undang-undang. Permintaan DPR tidak terkait dengan sesuatu hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Terkecuali kepentingan orang-perorang anggota DPR kemudian dilembagakan untuk “melawan” balik KPK karena banyaknya anggota DPR yang terlibat dalam kasus e-KTP. Konflik kepentingan sangat mengemuka diajukannya hak angket guna meredam penyidikan lebih lanjut dengan dugaan keterlibatan Setya Novanto yang juga sebagai Ketua DPR.Berita Acara Pemeriksaan sangat penting dalam proses pro justisia karena dapat diajdikan sebagai alat bukti sah di depan pengadilan. Dalam sistem peradilan yang menganut prinsip inquisitor atau non-advesary system seperti Indonesia, BAP bersifat rahasia dan tertutup. Atas dasar ini, penolakan pemberian rekaman hasil pemeriksaan KPK sangat beralasan, apalagi kepada lembaga yang tidak memiliki hubungan dengan kasus yang sedang disidangkan dan/atau bukan pihak dalam perkara kasus korupsi e-KTP. Penyebutan nama anggota DPR dalam pemeriksaan tindak pidana merupakan hal biasa untuk merangkai suatu peristiwa pidana agar dapat menemukan pelakunya. Bukan berarti nama yang disebut terlibat dalam kasus yang sedang disidikoleh penegak hukum.

3. Alasan yang menjadi dasar usulan hak angket DPR melalui Komisi III DPR yaitu disamping penolakan KPK membuka rekaman pemeriksaanMiryam juga dengan dalih ingin menyelidiki kinerja KPK dan urusananggaran belanja.

Anggaran belanja dimaksud adalah laporan hasilpemeriksaan (LHP) kepatuhan

KPK tahun 2015 mengenai tata kelolaanggaran yang dianggap menyimpang seperti kelebihan pembayaran gajipegawai KPK, perjalanan dinas kedeputian penindakan dan perencanaangedung KPK yang tak cermat sehingga mengakibatkan kelebihanpembayaran.Dari alasan yang dikemukan di atas, saya tidak melihatrelevansinya dengan pengajuan hak angket yang sedang bergulir di Senayan dengan proses penyelidikan kasus korupsi e-KTP maupun dalam persangkaan pemberian keterangan palsu Miryam. Hal yang disoal DPR lebih bersifat teknis operasional penggunaan anggaran dan kinerja yangbisa diselesaikan melalui rapat kerja antara KPK dengan DPR dan tidakperlu dengan mekanisme pengajuan hak angket. KPK sejauh ini masihdalam koridor hukum dan perundang-undangan dalam penanganan kasus Miryam S Hariyani yang menjadi pemicu digulirkannya hak angket.

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat di analisa bahwa pokok materi angket merupakan kewajiban DPR untuk menjaga keberadaan KPK agar takhanya kuat dalam melaksanakan tupoksinya namun juga KPK cermat dan memperhatikan seluruh ketentuan hukum maupun HAM dan menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang benar dalam tata kelola termasuk terkait penggunaan anggaran. Serta adanya penyempurnaan terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang KPK dalam penegakan hukum yang adil, transparan, akuntabel, profesional, proporsional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Usul angket ini telah diketok oleh Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meski mendapat penolakan lisan lewat interupsi anggota dari Fraksi Gerindra, PKB dan Demokrat.

Setelah usulan tersebut disetujui, fraksi-fraksi akan diminta mengirim perwakilan untuk pansus angket KPK.

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. DPR sebagai lembaga legislatif mempunyai fungsi pengawasan terhadap eksekutif yaitu Hak Interpelasi, Hak Angket dan Menyatakan pendapat dan secara konstitusional diatur di dalam Pasal 20A UUD NRI Tahun 1945. Hak-hak tersebut digulirkan jika kebijakan Pemerintah diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

2. Pengaturan Hak angket DPR terhadap Pemerintah Sebelum Amandemen UUD NRI 1945 diatur dalam Pasal 70 UU No. 7 Tahun 1950 dan UU No. 6 Tahun 1954 tentang Penetapan Hak Angket DPR dan sesudah amandemen diatur didalam perubahan UUD NRI 1945 pada Pasal 20A UUD NRI Tahun 1945, UU Nomor 42 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR, DPD, dan Peraturan DPR Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib

3. Putusan MK mengenai penggunaan Hak Angket DPR terhadap KPK adalah berupa penjelasan posisi Independen KPK sebagai Lembaga Negara dalam struktur ketatanegaraan Negara Republik Indonesia. Dalam putusannya, Majelis Mahkamah Konstitusi menyatakan posisi KPK merupakan lembaga di ranah eksekutif sama seperti Lembaga Kejaksaan dan Kepolisian, yang

melaksanakan fungsi-fungsi dalam domain eksekutif, yakni penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan. KPK jelas bukan ranah Yudikatif, karena bukan badan pengadilan yang berwenang mengadili dan memutus perkara, KPK juga bukan lembaga legistlatif karena bukan organ pembentuk undang-undang, KPK merupakan lembaga Negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun namun dalam domain eksekutif.

B. SARAN

1. DPR sebagai wakil rakyat diparlemen harus betul-betul memperjuangkan aspirasi rakyat, perlu dipertegas juga DPR harus meningkatkan pengawasannya terhadap pemerintah.

2. Kedepannya untuk menghindari adanya celah kekosongan hukum, beberapa pengaturan dalam UU Angket yang telah dibatalkan harus diatur secara komprehensif lagi dalam revisi UU MPR, DPR, DPD dan DPRD.

3. Putusan Mahkamah Konstitusi telah mengkonstruksikan hak angket dalam dalam kerangka pengawasan dan juga mengkonstruksi KPK sebagai lembaga negara penunjang dalam ranah eksekutif yang independen, namun tetap dapat menjadi objek hak angket DPR oleh karena itu perlu kiranya masing-masing lembaga negara baik DPR ataupun KPK untuk kembali mengkaji terkait keberadaan Hak Angket KPK tersebut baik mengenai kesesuaian mekanisme yang saat ini telah berjalan dengan ketentuan yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

A. Daim, Nuryanto. (2014). Hukum Administrasi (Perbandingan Penyelesaian Maladministrasi oleh Obudsman dan Pengadilan tinggi Tata Usaha Negara). Surabaya: Laksbang Justitia.

Alrasid, Harun. (1999). Pengisian Jabatan Presiden, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.

Asshiddiqie, Jimly. (2008). Menuju Negara Hukum yang Demokratis. Jakarta:

Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.

. (2010). Konstitusi dan konstitusionalisme Indonesia.

Jakarta:Sinar Grafika.

.(2010), Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: Rajawali Pers.

Ayunita, Khelda. (2016). Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Boboy, Max. (1994). DPR RI Dalam Perspektif Sejarah dan Tatanegara.

Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Budiardjo, Miriam. (1982). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

Cipto, Bambang. (1995). Dewan Perwakilan Rakyat Dalam Era Pemerintahan dan Industrial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Fatwa, A.M. (2004). Melanjutkan Reformasi Membangun Demokrasi. Jakarta:

Raja Grafindo Persada.

Handoyo, Hestu Cipto. (2014), Prinsip-prinsip Legal Drafting dan Desain Naskah Akademik. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

Harjono. (2008). Konstitusi sebagai Rumah Bangsa. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.

Huda, Ni‟matul. (2008). UUD 1945 dan Gagasan Amandemen Ulang. Jakarta:

Rajawali Press.

. (2011). Dinamika Ketatanegaraan Indonesia Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi. Yogyakarta: FH UII Press.

. (2014). Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

Indrayana, Deny. (2007). Amandemen UUD 1945 : Antara Mitos dan Pembongkaran. Bandung: Penerbit Mizan.

Isra, Saldi. (2010). Pergeseran Fungsi Legislatif Menguatnya Model Legislasi Parlementer DalamSistem Presidensial Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005, Hlm. 69

Kansil, CT. (2008). Hukum Tata Negara Republik Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Kristanto, Tri Agung. (2009). Jangan bunuh KPK (Perlawanan terhadap Usaha Pemberantasan Korupsi), Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Handoyo, Hestu Cipto. (2014). Prinsip-prinsip Legal Drafting dan Desain Naskah Akademik. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

Husen, La Ode. (2009). Negara Hukum, Demokrasi dan Pemisahan Kekuasaan:

Makassar: Social Politic Genius.

HR. Ridwan (2008). Hukum Administrasi Negara. Jakarta: Raja Grafindo.

Legowo, T.A. (2005). Lembaga perwakilan Rakyat di Indonesia Studi dan Analisis Setelah Perubahan UUD 1945 (Kritik, Masalah, dan Solusi).

Jakarta: FORMAPPI.

Lubis, M. Solly. (2008). Hukum Tata Negara. Bandung: Mandar Maju.

M. Hadjon, Philipus. (1998). Tentang Wewenang Pemerintahan (bastuurbevoegheid). Pro Justitia Tahun XVI Nomor 1.

Manan, Bagir. (2001). Teori dan Politik Konstitusi, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

____________. (2005). DPR, DPD, dan MPR dalam UUD 1945 Baru.

Yogyakarta. FH Uii Press, Cet III.

____________. (2014). Memahami Konstitusi Makna dan Aktualisasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Marbun, B.N. (1992). DPR-RI Pertumbuhan dan Cara Kerjanya. Jakarta:

Gramedia.

Maria Farida Indrati Soeprapto. (1998). Ilmu Perundang-undangan Dasar-Dasar Pembentukannya. Yogyakarta: Kanisius Media.

Mawardi, Arsyad. (2013). Pengawasan dan Keseimbangan antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia. Semarang: Rasail Media Group.

Purnomowati, Reni Dwi. (2005) Implementasi sistem bicameral dalam Parlemen Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Soemantri, Sri dkk. (1993). ketatanegaraan Indonesia dalam Kehidupan Politik Indonesia: 30 Tahun kembali ke Undang-undang Dasar 1945. Jakarta:

Pustaka Sinar Harapan.

Surbakti, Ramlan. (2010). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo.

Subekti, Valina Singka. (2008). Menyusun Konstitusi Transisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Syahuri, Taufiqurrohman. (2004): Hukum Konstitusi :Proses dan Prosedur Perubahan UUD di Indonesia 1945-2002. Bogor: Ghalia Indonesia.

Thaib, Dahlan. (2010). Teori dan Hukum Konstitusi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

____________. (1990). Pancasila Yuridis Ketatanegaraan. Yogyakarta: UU AMP YKPN.

Tutik, Titik Triwulan. (2010). Konstruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945. Jakarta: Prenadamedia Group.

Tambunan, A.S.S. (1997). Fungsi DPR RI Menurut UUD 1945 Suatu Studi Analisis Mengenai Pengaturannya.

Widodo, Hananto. ”Penggunaan Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Pasca Amandemen Undang-Undang Dasar 1945”, Makalah pada Simposium, “Satu Dasawarsa Perubahan Undang-Undang Dasar 1945: Indonesia Menuju Negara Konstitusional?”. Bandung: FH Universitas Padjajaran.

Yani, Ahmad. (2011). Pasang Surut Kinerja Legislasi. Jakarta: Raja Grafindo.

Yuhana, Abdy. (2009). Sistem Ketatanegaraa Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945. Bandung: Fokusmedia.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226)

Undang –Undang Nomor 27 Tahun 2009 Tentang Majelis Permusyawarata Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5043)

Undang –Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawarata Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568)

Undang –Undang Nomor 42 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 383, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5650).

Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib.

C. JURNAL

Andi Ippeh. (2014). Keberadaan Hak Angket dalam Melaksanakan Fungsi Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat terhadap Pemerintah. Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion, 3(02):02.

May LimCharity. (2017). Implikasi Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi. Jurnal LEGISLASI INDONESIA, 14(03): 245.

Mei Susanto. (2018). Hak Angket DPR, KPK dan Pemberantasan Korupsi. Jurnal INTEGRITAS, 04(02): 102.

Novianto M. Hantaro. (2017). Urgensi Pembentukkan Undang-Undang Hak Angket DPR RI. Jurnal Negara Hukum, 08(02): 178.

Putra Diyan Novlarang. (2017). Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat Terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi. Jurnal Hukum, (_)_.

Sulkaris S Lepa Ratu. (2017). Mimbar Keadilan. Jurnal Ilmu Hukum, (_): 215.

D. INTERNET

Ana. 2011.MK peringan syarat hak menyatakan pendapat, [Internet]. Tersedia di https://nasional.kompas.com/read/2011/01/13/03012277/mk.peringan.syar at.hak.menyatakan.pendapat. (Diakses pada 04 Juli 2019).

DPR RI 2017. Fungsi DPR. [Internet]. Tersedia di https:/m.facebook.com/DPRRI/posts/579551028812393 (diakses tanggal 20 maret 2017).

KPK Bagian Eksekutif atau Yudikatif? ini Jawaban MK. [Intenet]. Tersedia di https://m.detik.com/news/berita/d-3559954/kpk-bagian-eksekutif-atau-yudikatif-ini-jawaban-mk (diakses pada 31 juli 2019, Pukul 14.08 WIB).

Lizsa Egeha. 2017. Sidang E-KTP Berbuah Hak Angket KPK. [Internet]. Tersedia di http://news.liputan6.com/read/2935261/sidang-e-ktp-berbuah-hak-angket-kpk (diakses tanggal 10 Desember 2017).

Lutfi Hakim. (2011) Penggunaan hak menyatakan pendapat, [Internet]. Tersedia di http://www.lutfichakim.com/2011/12/penggunaan-hak-menyatakan-pendapat.html. (Diakses pada 04 Juli 2019).

Perjalanan Hak Angket KPK. 2017 .[Internet]. Tersedia di https://news.detik.com/berita/3486565/perjalanan-hak-angket-kpk-hingga-disetujui-paripurna-dpr (diakses tanggal 07 Juli 2019).

Ihwal Revisi UU MD3. 2014 [Internet]. Tersedia di nasional.kompas.com/read/2014/11/26/14000041/Ihwal.Revisi.UU.MD3?

page=all. (diakses tanggal 05 Juli 2019).

Yusril. 2017. kedudukan KPK dalam Sistem Ketatanegaraan Berada di Eksekutif.

[Internet]. Tersedia di Telusur.co.id/2017/07/yusril-kedudukan-kpk-dalam-sistem-ke-tatanegaraan-berada-di-eksekutif. (Diakses pada tanggal 31 juli 2019, Pukul 2.45 WIB).

Dokumen terkait