• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kenaikan secara drastis terjadi berhubungan dengan arus masuk orang-orang yang berusaha mencari akses untuk memasuki kawasan Eropa, menurut UNHCR, pada berjalannya tahun 2015 lebih dari 590,000 orang telah tiba dengan melewati jalur laut, dimana jumlah tersebut naik dua kali lipat dari keseluruhan jumlah pada tahun 2014.99 Dari hampir 630,000 jumlah klaim suaka yang diajukan ke negara anggota UE pada tahun tersebut.100 Dibandingkan dengan tahun 2013 yang hanya berkisar 430,000.101 Dari data tersebut terlihat bahwa arus perpindahan massa menuju kawasan Eropa mengalami peningkatan. Alasan orang-orang yang mengungsi atau melakukan perpindahan dari satu negara ke negara lain pun dilatarbelakangi oleh beberapa alasan yang berbeda umumnya karena terjadinya berbagai peristiwa penyebab permasalahan dan ketidakstabilan di berbagai negara-negara di dunia utamanya negara dunia ketiga.

99 Victoria Metcalfe-Hough, 2015, “The Migration Crisis? Facts, Challenges And Possible Solutions”, Overseas Development Institute, diakses dari https://www.odi.org/sites/odi.org.uk/files/odi-assets/publications-opinion-files/9913.pdf

(04/12/2019. 15:19 WIB)

100 EC 2015a, “Asylum in the EU”, Brussels:European Comission, dikutip dalam Victoria Metcalfe-Hough, 2015, “The Migration Crisis? Facts, Challenges And Possible Solutions”, Overseas Development Institute, diakses dari https://www.odi.org/sites/odi.org.uk/files/odi-assets/publications-opinion-files/9913.pdf (04/12/2019. 15:19 WIB)

101 Ibid

55 Gambar 2.1 Top 10 Negara Asal Para Pemohon Suaka ke Uni Eropa.102

Data diatas menunjukkan tingkatan 10 negara asal imigran yang paling banyak mengajukan aplikasi suaka sepanjang tahun 2015 ke Uni Eropa.

Presentase terbesar permintaan suaka berasal dari negara Suriah, dimana karena konflik yang terjadi di negara tersebut mengakibatkan imigrasi besar-besaran, kemudian kekejaman kekerasan yang terjadi di Afghanistan dan Irak, masalah kemiskinan di Kosovo, penyiksaan di Eritrea.103 Umumnya para pencari suaka yang mengungsi ke Eropa datang dari negara dengan situasi perpolitikan yang tidak stabil seperti beberapa negara dari grafik diatas yakni negara kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika. Sehingga karena adanya persoalan-persoalan demikian turut menjadi alasan orang-orang yang mengalami hal tersebut memilih untuk pergi dari negara asal dan mencari kehidupan di wilayah lain yang cenderung aman.

102 “Migrant Crisis: Migration To Europe Explained In Seven Charts”, BBC, 2016, diakses dari https://www.bbc.com/news/world-europe-34131911 (06/03/2020. 16:01 WIB)

103 Ibid

56 Jerman yang merupakan salah satu negara di Eropa yang menjadi tujuan utama bagi para pengungsi asal Timur Tengah dipandang sebagai tempat yang layak untuk mengungsi. Hal tersebut dikarenakan kondisi perekonomian yang cukup stabil di kawasan Eropa. Jerman menjadi negara di Eropa yang paling banyak mengabulkan permintaan suaka dari para imigran, sebesar 39,965 permintaan suaka pada tahun 2012 sampai dengan 2014, kemudian tahun 2015 sendiri, Jerman sudah mengabulkan permohonan suaka sebanyak 140,910, sementara menurut data terakhir, Jerman menerima permintaan suaka sebesar 476,510 dua kali lebih banyak dari permintaan suaka yang masuk di tahun 2014.104 Dari data tersebut maka dapat dilihat Jerman dinilai sebagai negara yang cukup ramah dan terbuka terhadap para imigran. Pada saat gelombang pengungsi di Eropa akibat konflik di Timur Tengah semakin meninggi, Pemerintah Jerman turut berperan dalam menerima para pengungsi. Jerman justru menjadi negara terbesar penerima gelombang pengungsi di Eropa.

Sejarah imigrasi Jerman sendiri terbagi ke dalam beberapa fase, dimana jika dilihat pada tahun 2000-an dikategorikan sebagai fase konstan dengan total jumlah foreigners yang tinggal di Jerman berada pada angka 6,7 juta, sedangkan mulai tahun 2010 arus migrasi kian meningkat, yakni dari 2,4 juta ke total angka 9,1 juta foreigners pada desember 2015.105 Selanjutnya angka klaim suaka di Jerman melambung pesat hingga mencapai 10 kali lipat, untuk tahun 2015 sendiri

104 “Asylum and First Time Asylum Applicants by Citizenship, Age and Sex Annual Aggregated

Data (Rounded)”, Eurostat, diakses dari

http://appsso.eurostat.ec.europa.eu/nui/show.do?dataset=migr_asyappctza&lang=en (06/03/2020.

13:41 WIB)

105 Fabian, T Dehos, 2017, “The Refugee Wave To Germany And Its Impact On Crime” RUHR Economic Papers, Working Paper No,737, Ruhr-Universität Bochum, hal 13

57 ada sekitar lebih dari 477,000 aplikasi permintaan suaka.106 Pada tahun 2010-2015 dari keseluruhan aplikasi suaka ke Jerman, terdapat sekitar 48% orang-orang dengan negara asal merupakan negara yang menempati 5% rekor terbawah dari indeks perdamaian global dengan contoh beberapa negara dari timur tengah seperti Suriah, Iraq, maupun Afghanistan.107 Yang mana seperti diketahui bahwa negara-negara tersebut merupakan negara dengan tingkat konflik dan perang yang terjadi terus menerus, dengan imbasnya merugikan masyarakat sipil. Akhirnya mereka melarikan diri dari negara asalnya yang mengakibatkan para imigran mulai meningkat secara drastis di kawasan Eropa dimana seperti kasus di Jerman, mereka umumnya berasal dari negara-negara berbahaya seperti yang telah disebutkan.

Perang dan konflik seperti contohnya yang terjadi di Suriah telah membawa luapan para imigran tersebar bermigrasi ke negara lain. Adanya Jerman dan beberapa negara lain yang menjadi pilihan para imigran suaka pada umumnya menurut penelitian telah membuktikan dalam kasus ini terdapat beberapa faktor penarik seperti level kesejahteraan dan kelompok sosial berdasarkan asal negara yang telah eksis yang menjadi latar belakang imigran memilih Jerman.108 Sudah terdapat komunitas besar dari bangsa yang berasal dari Suriah contohnya telah ada di Jerman, dan ini juga yang menjadi alasan mengapa di Jerman terdapat lebih banyak imigran Afghanistan, Suriah dan lain sebagainya dibandingkan negara anggota UE lain.109 Fakta yang terjadi mengenai para imigran suaka di Jerman

106 Ibid

107 Ibid

108 Marcus Engler, 2016, “Germany in The Refugee Crisis – Background, Reactions, And Challenges” . Instytut Zachodni, Hal 34 Diakses dari https://pl.boell.org/en/2016/04/22 /germany-refugee-crisis-background-reactions-and-challenges (08/01/2019. 17:11 WIB)

109 Ibid

58 adalah kebanyakan mereka berasal dari negara dengan indeks perdamaian global rendah dan mayoritas negara asal para imigran adalah negara-negara berpenduduk muslim maka dari itu tulisan ini akan membahas bagaimana penolakan yang terjadi atas peristiwa tersebut dimana berhubungan dengan imigran dengan asal negara seperti Suriah, Afghanistan dan beberapa negara dari Timur Tengah dan Afrika yang telah menjadi representasi utama sebagian besar jumlah imigran suaka di Jerman. Penolakan tersebut semakin besar ketika para imigran yang mayoritas muslim dipandang sebagai kriminal karena terlibat dalam kasus kejahatan di lingkungan sosial masyarakat Jerman pasca krisis imigran semakin menambah skeptikal utamanya dari kalangan populis sayap kanan.

Kasus pemerkosaan, kekerasan seksual dan pencurian yang terjadi pada malam pergantian tahun baru 2016 di stasiun kereta kota Cologne yang melibatkan para pelaku berpenampilan Arab dan Afrika Utara dilaporkan kepada pihak kepolisian oleh saksi mata.110 Kritik kemudian banyak tersampaikan dengan menyudutkan kebijakan penerimaan suaka yakni open door policy oleh Kanselir Merkel bertanggung jawab karena telah membolehkan para pelaku masuk ke Jerman.111 Selain itu pada 19 juli 2016 terjadi penyerangan terhadap 20 penumpang dalam kereta dekat kota Wurzburg dimana penyerangan dilakukan oleh seorang imigran suaka berusia 17 tahun asal Afghanistan, dan pada 19 desember terjadi dengan sengaja penabrakan truk yang menewaskan 12 orang dan 56 terluka di pasar natal kota Berlin dimana pelaku teridentifikasi bernama Anis

110 “Two Years Since Germany Opened Its Borders To Refugees: A Chronology”, Deutsche Welle, 2017, Diakses dari https://amp.dw.com/en/two-years-since-germany-opened-its-borders-torefugees-achronology/a40327634 (10/04/2021. 11:31 WIB)

111 Ibid

59 Amri merupakan imigran asal Tunisia yang gagal mendapatkan klaim suaka, ia kemudian terbunuh setelah aksi penembakan di dekat kota Milan, Italia.112 Selain itu aksi terorisme islam juga menjadi bahaya besar, BfV telah mengidentifiaksi sekitar 650 kasus ancaman terorisme islam tahun 2019.113 Peningkatan kasus kejahatan imigran dan teror islam selanjutnya oleh AfD dimanfaatkan dalam mengkampanyekan agenda anti imigran dan anti islam kepada masyarakat.

Disamping menentang sistem Uni Eropa dengan kebijakan serupa yang memiliki mekanisme share the burden suaka bagi negara-negara anggota.

2.3.5 Penolakan AfD Terhadap Regulasi Suaka dan Pengungsi Di Jerman